Disclaimer : Bapaknya tenipuri siapa hayo

Disclaimer : Bapaknya tenipuri siapa hayo??

Wai !! Selene's here!! Aiih, akhirnya nyampe juga chapter 6!! Let's meet Shiraishi and other here!! Ehe he.. lagi seneng nih!! Saya naik kelas loh!! Sekarang sy udah kelas 12 SMA!! Yeii!! (ga ada yg tanya!!)

Okay, okay, balik lagi ke fic, kita pindah lokasi, and KinKin ga ikut lagi.. aih.. tapi karena bisa ketemu Shiraishi lagi, jadi yah oke lah...

Bagi yang mau baca!! Sori bgt bwt tulisan2 yg salah ketik ato disingkat2 ya... malez ngedit nie.. Ada yg mau ngedit-in? (dikemplang)

Dan, dan, makasi banget bagi yang udah ngereview!! Seneng banget nih!!

Eu9eNi3-chan : thanks berat nie, dah mau ngereview!! Makasi ya.. agak ga percaya diri nie, ni fic kan jayuz abiez.. tapi inilah chap 6! Dibaca ya!! BTW, Koishikawa-chan tuh, nama kecilna siapa? Tau nggak?

Epitsu Onna-chan : stare kamu mau nyipok Chouta ampe kering?! OMG!! Shishido, cepet sembunyiin Chouta jauh2!! lempar Chouta ke Shishin

Gila.. 70 milyar dollar buat beli oksigen?! Fic dudutz ni bisa seberbahaya itu kah?! Kalo gitu moga2 pengeluarannya buat beli O2nya kali ini berkurang ya.. soalnya di chap ini g semuanya yg konyol2 kok! Ada yg.. hi hi hi, baca aja ya!!

Gin kayak yg di yakitake japan?? Alamakjan.. Seru banget tuh! tampangnya agak mesum2 gitu! Gw sih, waktu nuliz mikirnya wig na si Koharuuu teruz, makanya si Gin jadi kayak gitu. ditabox Takeshi Konomi and pengarangny Yakitake sekaligus

Ah, kebanyakan bacot nie gw!

Okay, enjoy reading!!

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

CHAPTER VI : SHIRAISHI AND CHITOSE

Location : Rumah Sakit Umum Cerberus

"Aku pingin ketemu Yuu-kun!!" teriak Koharu kenceng sambil mengebrak meja resepsionist rumah sakit. Mbak suster yang kebagian piket ngejaga tuh meja cuma bisa memandang Koharu curiga sambil dalam hati berpikir : Ja.. jangan-jangan, ini si pasien gila yang barusan kabur dari bangsal penyakit jiwa?

Tetapi, bukan suster rumah sakit terkenal namanya kalo menghadapi pasien sakit jiwa aja ga bisa. Sambil membulatkan tekat dan mengunakan semua daya tariknya, si mbak bertanya dengan suara yang mendesah-desah, "Yuu-kun siapa.. ya?"

"Itu loh.. Yuu-kun-ku, double pair aku dari Shitenhou.. heh? Kenapa mbak?" tanya Koharu heran pada si suster, yang makin mendekat padanya.

"Daripada sama si Yuu-kun itu.. gimana kalau kamu.. ikut aku aja? Ya?" rayu mbak suster. Bukan dengan maksud apa-apa kok.. tuh suster cuma bermaksud ngembaliin Koharu ke bangsal penyakit jiwa adza..

Tapi, kali ini giliran Koharu yang curiga sama tuh embak. Ih jangan-jangan nie suster naksir gw lagi? Ih, ga banget la yaww..

"Sori mbak, saya nggak minat sama situ. Saya udah punya cowok." tolak Koharu pede.

Ting! Tuh suster langsung memerah dari ujung jidat ampe ujung jempol. Tengsin abizz dong!!

"Enak aja!! Siapa juga yang mau sama kamu hah?! Dasar kakek-kakek hentai lu!!" semprot si suster. Koharu kita? Jelas ga terima..

"Enak aja ngatain aku!! Ntar aku bilangin Yuu-kun loh!! Tau nggak, tampang gini banyak yang naksir tauk!!" bales Koharu.

"Banyak yang naksir dari hongkong!! Mimpi luh!" seru si suster.

"Ih , situ iri ya? Situ ga punya gebetan ya? Ga ada yang naksir ya? Cucian deh !!" bales Koharu semena-mena.

"Eh eh eh, situ ngatain saya nggak laku ya?" tanya mbak suster shock.

"Ya iyalah, masa ya iya dong!! Budeg ya? Budeg?" serang Koharu.

"A.. aku ini.. banyak yang naksir tau.." si suster berusaha membalas, walau matanya terlihat berkaca-kaca.

"Banyak yang naksir dari hongkong!! Mimpi luh!" seru Koharu mengcopy kata-kata mbak suster sebelumnya.

"Hik.. hik..."si Suster udah mulai terisak-isak. Ngenes banget dia. Kasian, ga ada angin ga ada hujan, si mbak kok bisa ketemu ada Koharu. Hari tersialnya dalam sejarah.

"Eh pake nangis lagi!! Udah! Cepetan kasi tau dimana Yuu-kun!" paksa Koharu kedzam.

"Koharu!"

Shihan kita akhirnya bisa menyusul Koharu. Dengan napas terengah-engah habis lari, dia segera mendekati Koharu.

"Kamu cepet banget... Aku sampai ga bisa ngejar.." kata Gin sambil terengah-engah.

"Kalau demi Yuu-kun, dengan kekuatan cinta, aku bisa lari dengan kecepatan cahaya tauk! Shihan! Tolongin aku dong! Nih, suster dudutz, ga mau ngasi tau dimana Yuu-kun-ku dirawat!!" adu Koharu pada Gin. Gin, yang sudah menduga ada sesuatu yang gak berez telah terjadi, berusaha mengamankan keadaan. Didekatinya meja resepsionis.

"Permisi, sus. Apa suster bisa memberitahu saya dimana tempat murid-murid Shitenhouji dirawat? Kalau tidak salah, mereka baru masuk rumah sakit kemarin." tanya Gin sopan. Sayangnya, mbak suster kurang memperhatikan kata-kata Gin, dia nya malah terhipnotis dengan 'sesuatu' diatas kepala Gin.

"Sus?" panggil Gin.

"Oei!! Pake ngelamun lagi!!" bentak Koharu. Thanks to his yell, mbak suster sadar dan kembali ke bumi.

"Eh, maaf..." si suster gelagapan, tapi bisa segera sadar. Dihapusnya airmatanya, dan kembali menampilkan profesionalismenya.

"Murid-murid Shitenhouji yang kemarin masuk.." tanya Gin lagi.

"Baik, sebentar ya..." kata suster itu sambil mengeklik-ngeklik computer di meja, "Eng.. Shiraishi, Chitose, Oshitari, Zaizen, dan.. Hitouji. Mereka ada di bangsal 13, (emang pilem?) silahkan ikuti saja koridor ini, lurus saja sampai melewati taman. Mereka ada di kamar nomor 1001 sampai1003."

"Kamar nomor 1001-1003.. Baik, terimakasih." balas Gin, "Ayo, Koharu."

Setelah pelototan-pelototan sebentar sama mbak suster, Koharu mengikuti Gin menuju tempat Shiraishi dkk dirawat. Waktu mereka hampir menghilang dari pandangan, tuh suster manggil.

"Eng... bentar bentar, mas yang.. agak kribo?" panggil si suster. Gin, yang lupa kalo sekarang dia punya rambut, cuma melongo sampai disadarkan Koharu.

"Shihan, dipanggil tuh.." panggil Koharu.

"Eh? Oh iya.." ahirnya Gin sadar juga. Kemudian dia ngeloyor ngedeketin meja resepsionist lagi.

"Mas, tuh rambut wig ya?" tanya si suster curious.

"Oh, tidak sus, ini ASLI." jawab Gin sambil memberi penekanan pada kata asli. "BTW sus, tolong jangan panggil saya mas, saya masih 14 tahun.." sambung Gin gokil.

"Eh, kirain... sori ya.. habis temen situ tampangnya kayak kakek-kakek hentai sih.." jawab si suster tanpa rasa bersalah, "kalau gitu.. adik punya nomor hape ga?"

"Punya sih.. Tapi untuk apa sus?" tanya Gin, "Apa.. teman-teman saya segawat itu?"

"Oh endzak, mereka baik-baik aja kok. Cuma mau kenalan aja sama situ, abis, situ keren banget sih!" jawab si suster menggoda.

TUING! Gin langsung memerah. Sementara itu, Koharu sedang sibuk mencari kantong muntah.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Di koridor menuju bangsal 13, dua orang aneh sedang bercakap-cakap.

"Nah, kau lihat tadi, Koharu? Berkat penampilan baruku ini, nona suster tadi mengajakku kenalan." kata Gin tenang penuh kemenangan.

"Puih, dia kan cuma ngajakin kamu kenalan, bukan ngajakin kawin." balas Koharu sewot. "Tapi, sombong banget kamu Shihan, bilang nggak bisa ngasih nomer hape, pake bilang sudah punya orang yang disukai lagi."

"Karena bagiku, cukup satu orang saja." jawab Gin bijak.

"Met be juang deh." sahut Koharu sambil lalu. Matanya tetap aktif mencari kamar tempat temen-temennya, especially his love, Yuuji, dirawat. "Eh itu, kamar no 1001 dan 1002 kan? Tapi kamar nomor 1003 dimana?" seru Koharu sambil menunjuk.

"Aku juga tak melihatnya." jawab Gin sambil ikut mencari, "Lebih baik kita jenguk dulu kamar no 1001 dan 1002, nanti kita tanya mereka."

"Tapi Yuu-kun-ku dimana?" rajuk Koharu. Eneg banget ngelihat dia kayak gini.

"Nanti kita tanya.." putus Gin sambil mengetuk pintu kamar 1001.

"Oke deh.." sahut Koharu ga puas tapi pasrah.

"Masuk." Terdengar suara dari dalam kamar. Koharu dan Gin berpandangan. Chitose toh.. pikir mereka.

Spontan Gin membuka pintu dan mempersilahkan Koharu masuk. (gentleman banget!!) Didalam kamar ada dua kasur, disalah satu kasur ada Shiraishi, buchou mereka yang, walau masuk rumah sakit tapi keliatan baik-baik aja. Dipinggir kasur Shiraishi duduk Chitose, yang notabene adalah pemilik kasur satunya yang kosong. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran Koharu saat melihat mereka berdua adalah :

"Kok kalian baik-baik aja? Katanya sakit?"

"Ini juga aku baru siuman tau.." jawab Shiraishi, "setelah pingsan sehari semalam."

"Ooo.." koor Gin dan Koharu serempak.

"Kalian.. datang bareng.. ya?" tanya Shiraishi menyelidik. Jelas curiga dong..

"Iya. Kenapa?" tanya Gin poloz.

"Kalian berdua.. jangan-jangan, jadia.." belum selesai kata-kata Shiraishi, Chitose menyela dengan pertanyaan yang nggak penting sama-sekali.

"Baitewei, kalian nggak bawa oleh-oleh nih?" tanya Chitose setelah menyadari Gin dan Koharu datang dengan tangan hampa.

"Maaf, tadi buru-buru kesini." jawab Gin bersalah.

"Chitose, apaan sih?! Ga papa kok Shihan.." kata Shiraishi menenangkan.

"Kuis hari ini!" teriak Koharu tiba-tiba, "Apa yang berbeda dari Shihan hari ini?!"

Shiraishi, yang walau perasaannya mengatakan ada yang beda dari Gin tapi belum menemukannya gara-gara otaknya jadi lola setelah error sehari semalam, cuma bisa melongo pongo. Sementara Chitose tetap bertampang datar sambil berkata sambil lalu, "Ganti gaya nih, Shihan?"

"Ganti gaya?" tanya Shiraishi gak 'dong'.

"Ho oh. Liat aja kepalanya."

"Kepala.." gumam Shiraishi sambil memandang kepala Gin. Setelah di zoom 100 X baru Shiraishi ngeh, "Tuh kepala kenapa?? Kamu pake wignya Koharu ya??"

Koharu + Chitose : "Lama deehh.."

"Tidak, tidak.. ini rambut asli." jawab Gin bangga, "Seperti kata Chitose, aku mencoba ganti gaya."

"Oh.. gitu.. rasanya agak.. agak.. gimana ya.. anu.." Shiraishi bingung memilih kata-kata yang lebih sopan selain aneh, ga cool, ga banget, jijay, ga cocok, kayak penyanyi dangdut, dll.

"Cocok kok, cocok.." kata Chitose yang dibarengi dengan tatapan tak setuju dari Shiraishi dan Koharu.

"Terima kasih.." jawab Gin sambil tersipu. "Yang lebih penting dari itu.." sambung Gin, "Kenapa kalian bisa masuk rumah sakit? Apa kemarin terjadi sesuatu?"

"Oh, itu." Shiraishi agak segan menceritakannya, "Yah.. singkat cerita, kemarin aku, Chitose, Kenya, Zaizen, dan Yuuji berada ditempat yang salah dan diwaktu yang salah, dan kami jadi korban situasi. Titik."

Koharu dan Gin kompak melongo. Maksudnya apa sih?

"Eng.. aku nggak gitu ngerti sih.." kata Gin kebingungan.

"Intinya," potong Koharu, "Detail kejadiannya segitu memalukannya sampai nggak bisa diceritakan."

Langsung Chitose dan Shiraishi yang merah. Tapi mereka tidak terpancing, mereka tetap memilih tutup mulut.

"Jadi.." Chitose berusaha mengalihkan topik pembicaraan, "Bagaimana disekolah?"

"Ya. Hari ini tidak ada latihan karena berbagai sebab, dan mungkin latihan akan dimulai lagi setelah kalian sembuh, dan.." belum selesai omongan Gin, Shiraishi langsung menyela.

"Apaaa?! Gak bisa!!" teriaknya sambil melompat turun dari kasur, "Kita harus berlatih keras, kita harus menang! Kita nggak boleh kalah lagi!!"

"Mau kemana?" tanya Chitose melihat Shiraishi bergegas menuju pintu.

"Pulang!! kita harus segera latihan!!" teriak Shiraishi sambil membuka pintu dengan kasar.

"Buchou?! Kamu kan sedang sakit?!" seru Gin khawatir, tapi di acuhin sama Shiraishi.

"Uke-mu tuh.." bisik Koharu pada Chitose. Yang dibisiki cuma senyum-senyum aja.

"Iya." jawab Chitose sedikit bersemu sambil tak melepaskan pandangan matanya dari punggung Shiraishi. "Manis banget ya?"

Koharu cuma memandang Chitose. Duh.. gini nih yang lagi kasmaran! begitu pikirnya. Jadi pingin ketemu Yuu-kun nih..

"Shiraishi, kata dokter kamu masih harus istirahat loh.." kata Chitose sambil beranjak dari tepi kasur, berjalan mendekati Shiraishi.

"Berisik!! Pokoknya kita haru.."

"Shiraishi.." bisik Chitose, yang sekarang sudah berdiri menjulang dihadapan Shiraishi. Dipegangnya tangan uke-nya itu dengan lemah lembut, "Aku nggak mau kamu sakit lagi. Jadi, istirahat sehari lagi saja ya?"

"Uh, latihan.." Shiraishi bermaksud mengelak tapi yah.. gimana bisa mengelak coba? Chitose keliatan seksi banget kalau lagi begini..

"Nanti kita bakal berlatih lebih keras begitu keluar dari rumah sakit." kata Chitose menenangkan, "Hari ini, kita istirahat saja. Oke?"

"Uh.." Shiraishi tak bisa berkutik. Sambil bersemu dia bilang, "Oke.. Tapi, sehari ini aja.."

"Oke." jawab Chitose sambil tersenyum. Dibimbingnya Shiraishi kembali masuk kamar.

Sementara itu, Gin dan Koharu cuma bisa bengong meliat adegan didepan mereka. Koharu sih, sante2 aja, tapi Gin-nya udah memerah banget kayak tomat.

"Ka.. kalau gitu, ka.. kami pamit dulu ya!!" seru Gin tiba-tiba, mengagetkan semua orang, "Bi.. bisa mengganggu buchou dan Chitose is.. isti.. istirahat!!"

"Kenapa sih, Shihan?" tanya Koharu ga sensitif, "Sebentar lagi aja, aku mau.. woi!" Koharu keburu ditarik ama Gin.

"Iya, disini sebentar aja lagi, ada yang mau aku tanyain juga..'' bujuk Shiraishi.

"Pulang deh, pulang sana, ganggu orang berduaan aja kalian.." tambah Chitose, "Laen kali kalau kesini lagi bawa oleh-oleh ya.."

"Chitose!!" bentak Shiraishi sambil memerah.

"Kalau gitu kami permisi!!" teriak Gin, kemudian dia kabur sambil menyeret Koharu yang ogah-ogahan.

Begitu Koharu dan Gin cabut, Shiraishi cuma bisa melotot sebel pada Chitose, walau sebentar kemudian dia nggak bisa marah lagi pada Chitose. Yah... mana bisa sih dia marah pada orang yang disukainya?

"Kamu itu ya..." kata Shiraishi sambil menghela napas, "Padahal aku mau tanya pada mereka soal nembak itu.."

"Ooo.." jawab Chitose nggak jelas.

"Emang kamu nggak khawatir kalau Koharu dan Yuuji bubar? Sebagai teman dan juga sebagai sesama anggota reguler?" tanya Shiraishi curiga.

"Kawatir kok, kawatir.." jawab Chitose.

"Kok males-malesan gitu!?" bales Shiraishi sewot.

"Soalnya," jawab Chitose sambil menata selimut Shiraishi, "Aku lebih khawatir sama kamu yang nggak siuman juga dari kemarin."

He?

"Kata dokter kamu nggak mengalami luka luar. Tapi kenapa nggak siuman juga sih?" sambung Chitose datar, "Mungkin gara-gara kamu kecapekan di klub. Memang rasanya akhir-akhir ini kamu terlalu memaksakan diri."

"Me.. memaksakan diri?"

"Ya." jawab Chitose, "Karena itu, hari ini, aku ingin kamu istirahat dulu dari semua tugas buchou yang serba bisa. Istirahat dari semua kewajiban dan latihan-latihan yang super berat. Besok, akan aku turuti semua keinginanmu. Karena itu.."

"Karena itu.. apa?" tanya Shiraishi penasaran.

"Karena itu, hari ini.." kata Chitose tercekat. Kemudian, sambil memerah, disambungnya kata-katanya, "Turuti keinginanku yang satu itu. Ok?"

Shiraishi terhenyak. Jangan-jangan.. Chitose..

"Kamu.. khawatir ya?" tanya Shiraishi pelan-pelan.

Chitose menatap Shiraishi tajam. "Tentu saja."

"Sebagai teman dan juga sebagai sesama anggota reguler?" tanya Shiraishi.

Chitose masih menatap Shiraishi tajam, matanya tak lepas dari mata buchou Shitenhouji itu.

"Sebagai sesama anggota reguler, iya.." jawab Chitose sambil menghela napas. "Sebagai sesama orang yang skul di Shitenhouji juga oke, Sebagai sesama manusia, terserah. Tapi.." sambung Chitose, "Sebagai teman, aku tidak mau."

Hening sejenak. Shiraishi masih mematung, berusaha mencerna omongan Chitose, sehingga dia tak memperhatikan Chitose yang sudah bergerak menuju pintu, bersiap-siap keluar.

"Nah, aku keluar dulu. Met istirahat." kata Chitose.

"Kalau!" seru Shiraishi tiba-tiba, mengacuhkan omongan Chitose. Chitose yang kaget menunggu omongan Shiraishi, sambil mengira-ngira apa yang ingin dikatakan Shiraishi selanjutnya.

"Kalau?" ulang Chitose.

Shiraishi kelihatannya kesulitan mengucapkan kalimat selanjutnya. Bukan karena apa-apa, ditilik dari wajahnya yang bersemu, Chitose menebak kalau apa yang ingin dikatakan Shiraishi segitu memalukannya baginya. Sambil tersenyum, diam-diam dia menikmati ekspresi Shiraishi.

"Kalau ku anggap kamu khawatir sebagai.." Shiraishi menyembunyikan wajahnya yang bersemu dengan kedua tangannya, "..Chitose Senri?"

Chitose terbelalak. Tapi tak lama, dengan tersenyum, dia menjawab pertanyaan Shiraishi.

"Tentu saja aku senang." jawabnya. Seperti biasa, Chitose selalu berbicara dengan nada datar, sehingga orang harus memperhatikan ekspresinya saat bicara untuk mengetahui perasaannya. Tapi untuk Shiraishi, tanpa perlu melihat wajah Chitose pun, dia sangat mengerti bagaimana perasaan Chitose sekarang. Begitu juga dengan perasaannya. Gara-gara itu, dia makin memerah.

"Tadi kamu bilang, jika aku mau istirahat hari ini, kamu akan menuruti keinginanku kan?" kata Shiraishi sambil tetap menutup wajahnya.

"Ya." jawab Chitose. Dia sudah melupakan tujuannya untuk keluar, dan malah mendekati Shiraishi lagi.

"Kalau gitu, aku ingin," bisik Shiraishi lirih. Kalimatnya terpotong begitu dirasakannya tangan Chitose mengangkat dagunya. Sekarang, mereka berdua saling bertatapan.

"Ingin apa?"

"Aku ingin hari ini kamu ada disisiku. Temani aku." bisik Shiraishi sambil memejamkan matanya. Jaraknya dan Chitose semakin dekat.

"Tentu saja." balas Chitose sambil tersenyum. "Memang kapan aku pernah pergi dari sisimu?"

Bersamaan dengan itu, bibir mereka pun bertemu.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

selene : Kyaaaaaaaaaa! PG! PG! Padahal genrenya humor loh, kok jadi kayak gini!? Gara2 kalian sih!! (tendang2 ChitoKura)

Shiraishi : Apa salah kita sih??

Chitose : ini kan salah elo, author cabul!!

Duar!!

selene : (shock abiez, dibilang cabul) Sialan!! Gue pisahin elo dari Shiraishi loh, kalo macem2!! Dasar brengsek lo!!

Shira+Chito : jangan!! Ampyun (sembah selene)

selene : Huh! Berani macem2.. BTW, BTW, thankz bwt yg udah baca!! Asik juga nulis tentang ShiraishiChitose, ga nyangka mereka bisa mesra juga ya?! Ya.. anggap aja selingan. Konyol teruz kan ga asik.. Nah, Apakah pasangan selanjutnya bisa mesra juga?? Di chap selanjutnya giliran kamar 1002 nih, kira2 siapa yang disitu?? (hala.. paling juga udah ketebak..) Ehe he, makin ga beres aja nie fic, tapi chap selanjutnya ditunggu ya! Tenkyu barbekyu !! See you soon! And

Thanks for Reading!!