xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

-EPISODE 2-

1ST MISSION: DECORATING THE NEW HOUSE

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"SELAMAT MALAM KONOHAAAAAAAAAA!!!!!!' teriak kakek-kakek lincah berambut putih panjang.

"HUUUUUUUUUUU.." koor mencela terdengar dari arah penonton.

"Ah, kok gitu sih!!" kakek lincah alias Jiraiya-chan itu merengut dengan gaya yang sok imut.

"Yee, memang kamu tidak pernah diharapkan di acara ini." Maki Nisi –Nini Seksi- yang merupakan partner si kakek lincah dalam mebawakan acara tersebut.

"Kalau mau nyapa penonton, gini nih.."

"SELAMAT MALAM KONOHAAAAAAAAA!!!!!!! APA KABAR SEMUANYA???" teriakan sang Nisi mengelegar di seluruh ruang studio tempat mereka syuting.

"YEEEEEY.." terdengar teriakan antusias disertai tepukan tangan dari penonton. Sangat berbeda dengan respon yang diberikan penonton pada Jiraiya.

"Iiih, gitu ih, sama nini-nini seksi aja kenceng ngejawabnya. Bagian gue, digebugin." Gumam Jiraiya-chan yang sedang jongkok madesu di pojokan panggung dan dilengkapi oleh latar suasana suram.

"Huh, gimana amal-amalan sih. Makananya sadar umur, kek." Jawab kakek cool alias Orochimaru.

"Heh, kurang jara, eh ajar!! Lo tuh yang sadar umur!! Seenggaknya gue masih lebih muda beberapa bulan dibandingkan lo."

"Pantesan kelakuannya juga kaya yang lebih muda, ya lebih muda 50 tahun lah dariku." Gumam Orochimaru kalem.

"Huh, kurang ajar. Lo tuh yang sadar umur!! Waktu kecil, gaya sok dewasa. Udah tua juga gaya sok senior. Eeeerrrrgggghhh..."

"Setidaknya kata dewasa lebih cocok untuk seseorang yang sudah menginjak usia 50 tahu dibandingkan kata kekanak-kanakan."

"APA LO BILANG?? NGAJAK RIBUT!!!"

"Apa?? Mau ribut?? Sini gue ladenin."

"YEEEEY, BERANTEM!! BERANTEM!!! BERANTEM!!" teriak penonto dengan semangat.

"BAKAAAAAAAA!!!" teriak Nisi sambil menjitak kedua kakek tersebut.

"Ehm, malu-maluin aja. Dua-duanya gak sadar umur." Teriak Nisi. Tsunade, yang notabene telah bersahabat dengan mereka selama lebih dari empat puluh tahun, masih heran dengan ketidakakuran mereka berdua. Hallo, mereka bertiga sudah bersahabat sejak mereka tergabung dalam trio kwek-kwek, grup vokal yang ngetop pada empat puluh tahun kebelakang.

"Huh, sendirinya juga gak sadar umur, udah rayut masih sok seksi." Gerutu Jiraiya.

"APA LO BILANG??"

Satu jitakan lagi mendarat di kepala Jiraiya.

"Huh, walo gue rayut, ngapain juga lo masih mau sama gue. Udah ah, malu-maluin aja semuanya." Tsunade berhenti sebentar sebelum melanjutkan cuap-cuapnya.

"Pemirsa, minggu lalu kita telah melihat keempat pasangan heboh ini bertemu untuk pertama kalinya."

Sekarang kamera terlihat menyorot empat pasang cowok dan cewek cantik dari Konoha yang –seperti biasa- berada dalam balutan busana pengantin.

"Dan sekarang, mereka mendapatkan misi untuk pertama kalinya."

"YEEAAAAAAAAAAAH!!" teriak penonton.

"Misi apakah yang mereka dapat, ayo kita lihat bersama-sama."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Sai – Ino

White Day

Bara Road,

"Suamiku..masih lama gak nih??" Ino mulai merajuk seperti anak kecil.

"Tenang istriku. Sebentar lagi kita sampai. Sabar, babe!!" kata Sai berusaha tersenyum.

"Lama..Gue cape nih. Kenapa gak pake taksi aja sih?? Lo juga kenapa gak bawa mobil?? Males kalau jalan." Keluh Ino.

"Iya, sebentar lagi udah sampai kok. Just be patient, my babe!!" Kata Sai. Mereka terus berjalan hingga Sai tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Kenapa, suamiku??" tanya Ino kebingungan. Dia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Mereka sudah berada di depan sebuah apartemen mewah berjudul The Green Leaf Apartment. Ino mendongkakan kepalanya, berusahan menghitung jumlah lantai apartemen tersebut.

"Whaddya think, babe??"

"Waaah, keren."

"Yeah, it's so damn cool." Kata Sai. "Wanna get in??"

"Yeah."

"Come on."

Tetapi Ino tidak bergerak sedikitpun dari tempat berdirinya.

"What's up, babe??"

"Kita jalan lagi??"

"Iya."

"GAK MAU!!!" teriak Ino.

"Eh, kenapa?"

"Cape."

"Ayo babe."

"Gendong."

"HAH??!!" pekik Sai.

"Gendong." Kata Ino sambil menghentakan kaki.

Sai menghela nafas. Ternyata nih anak satu masih childish banget. Pikir Sai dalam hati dan agak gondok.

"Ya udah." Sai berjalan mendekati Ino, membungkuk di depannya sambil menyodorkan punggungnya.

"Ayo, cepet naik."

"Yeee. Emang suami gue banget. Paling baik sedunia." Sedikit kata-kata dari Ino mampu melumerkan kegondokan yang Sai rasakan.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Suamiku, rumah kita dilantai berapa??" tanya Ino dari balik punggung Sai. Sekarang mereka sedang berada di dalam lift dengan semua mata tertuju pada mereka. Mereka sudah menjadi pusat perhatian sejak pertama mereka memasuki apartemen, ya tanggung malu lah.

"Sabar, istriku. Rumah baru kita di lantai tiga puluh lima."

"Hooo." Kata Ino. Mata birunya melirik ke arah pintu lift dan ternyata mereka baru berada di lantai 30.

Ting..

Pintu lift terbuka tepat di lantai 35. Sai –yang masih menggendong Ino- berjalan keluar dari lift dan berjalan menuju kamar di pojokan lantai 35. Sai membuka pintu apartemen tersebut. pemandangan sebuah apartemen mewah nan minimalis terpampang di depan mereka. Ino berguman penuh kekaguman melihat rumah barunya.

"Waaah, sayang, keren banget." Kata Ino.

"Hehehehe."

Ino turun dari gendongan Sai. Dan berjalan melihat-lihat rumah barunya. Apartemen tersebut terdiri dari ruang TV, kamar mandi, ruang makan dan dapur mini, dua kamar tidur, master bedroom, dan tak lupa balkon yang menyajikan pemandangan Konoha dari ketinggian ratusan meter.

"Ini keren, suamiku."

"Yo. Ayo kita lihat ke dalam kamar kita."

Sai menarik tangan Ino dan membimbingnya menuju master bedroom. Ruangan yang cukup simpel, hanya terdapat tempat tidur double size, meja rias, lemari pakaian yang besar, dan pintu yang menghubungkan mereka ke kamar mandi pribadi.

Pandangan Ino tertuju pada sebuah amplop berwarna merah muda yang tertempel di pintu kamar mandinya. Dia dan Sai sama-sama membuka amplop tersebut.

"Misi pertama: beres-beres rumah bareng." Mereka membacakan isi pesan dalam amplop tersebut.

"Wakh, jadi kita harus beres-beres rumah bareng neh??" tanya Ino.

"Iya, sepertinya." Jawab Sai.

Ino berjalan ke dalam kamarnya dan dia menyadari sesuatu,

"Loh, kok warnanya cowok banget?" tanya Ino.

"Kenapa memang, babe?"

Sai meneliti kamar yang telah di disainnya. Tidak ada yang salah kamar tersebut di dominasi warna hitam, putih dan abu-abu yang merupakan warna favoritnya.

"Warnanya gak suka. Ganti semuanya jadi ungu." rengek Ino.

"HAH??"

"Ganti!!!" perintah Ino.

"Tapi.."

"Babe, ganti yah.." Ino mengeluarkan puppy eyes andalannya. Mau tidak mau Sai lumer seketika. Memang Sai adalah tipe orang yang gampang lumer pada jurus andalan wanita tersebut.

"Baiklah." Kata Sai pelan. Ino langsung menjerit penuh kemenangan dan meninggalkan Sai yang berkutat dengan kamarnya.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Sasuke – Sakura

White Day

Sebuah daerah elit di daerah perbukitan Konoha,

"Sasuke-kun, masih lama tak??" tanya Sakura penasaran.

Bagaimana tidak, setelah selesai mengobrol –ya, 'hn' Sasuke itung aja, masukin jadi obrolan- di Cherry Bakery, tiba-tiba Sasuke bilang kalau mulai dari sini Sakura harus menutup matanya. Sasuke memimbingnya memasuki sebuah mobil dan membawanya entah-kemana-hanya-Tuhan-yang-tahu.

"Hn."

"Sasuke-kun.."

"Tenang." Kata Sasuke sambil tertawa tersenyum kecil dan kembali fokus dalam mengemudikan mobilnya.

Mobil Sasuke terus melaju sampai melewati batas kota Konoha. pemadangan toko-toko mewah dan gedung-gedung besar telah tergantikan dengan deretan pohon pinus dan hutan disekeliling mereka. Setelah mengemudikan mobilnya selama hampir setengah jam, Sasuke menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di depan sebuah villa. Kemudian Sasuke membimbing Sakura untuk kelur dari mobil karena mata Sakura masih ada dalam keadaan yang tertutup rapat.

"Sabar yah." Pinta Sasuke.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Sasuke membuka penutup mata yang dikenakan Sakura.

"Jangan buka matamu dulu."

"Ya. Baiklah."

Sasuke membimbing Sakura lagi menuju rumah baru mereka.

"Sekarang buka matamu yah, one, two three."

Sakura membuka matanya, beradaptasi sebentar dengan cahaya dan langsung terkaget-kaget begitu melihat sebuah rumah, ehm tepatnya villa, indah di depan matanya. Villa tersebut di dominasi dengan kayu-kayu sehingga menimbulkan suasana hangat ditengah daerah pergunungan yang dingin.

"Ayo masuk." Ajak Sasuke.

Begitu memasuki villa tersebut, Sakura langsung menyadari kalau ternyata Sasuke adalah orang dengan selera yang tinggi. Rumah yang dipilihnya benar-benar seperti istana mini yang selalu Sakura mimpi-mimpikan sejak masih kanak-kanak. Dari setiap sudut villa tersebut di desain dengan interior yang agak klasik dan warna-warna yang kalem.

"Sasuke-kun, ini indah sekali."

"Kau suka?"

"Sangat."

Sasuke membimbing Sakura untuk mengelilingi villa tersebut. Pertama Sasuke membawanya menuju teras belakang villa tersebut. Dari teras yang berhubungan langsung dengan ruang TV, Sakura mendapatkan pemandangan kota Konoha yang menyerupai sebuah cekungan mangkok besar. Belum lagi ditambah pemandangan hutan-hutan yang semakin memimbulkan kesan natural. Pandangan Sakura tertuju pada sebuah benda yang bertengger manis balik yang kaca memamerkan keindahan Konoha dari atas bukit.

"Wow, ini grand piano sungguhan??"

"Ya."

"Waah, kau bisa memainkannya? Wow aku akui ini sangat keren. Aku penasaran karena aku sangat suka dengan suara piano walau aku tidak bisa memainkannya."

"Tenang saja, nanti akan aku tunjukan hal yang bagus."

"Benarkah??"

"Ya, sekarang tutup matamu lagi."

"Kejutan apa lagi??"

"Lihat saja."

Sasuke kembali membimbing Sakura menuju kamar utama villa tersebut.

"Sekarang buka matamu."

Untuk kesekian kalinya untuk Hari ini Sakura tercengang. Ruang tidur yang ada di hadapannya benar-benar merupakan sebuah kamar tidur impian yang selama ini dia inginkan. Entah bagaimana caranya Sasuke tahu kalau pink adalah warna favoritnya. Semua benda yang berada di ruangan tersebut didominasi oleh warna pink. Sebuah tempat tidur king size, lemari baju, meja rias, hingga pintu kamar mandi bergaya klasik seperti ruangan di kastil-kastil eropa jaman dahulu dan yang paling menyenangkan semuanya adalah warna pink, tentu saja.

"Sasuke-kun. Terima kasih." Pekik Sakura sambil memeluk Sasuke.

"Hei, Sakura, tenang. Kita masih punya misi." Kata Sasuke sambil mengacungkan sepucuk amplop yang dia temukan tertempel pada pintu master bedroom.

"Apa??" tanya Sakura penasaran.

Mereka segera membuka amplop misi dan isi dari amplop tersebut adalah..

Misi pertama: beres-beres rumah bareng

"Ehm, bagaimana kaau kita beres-beres rumah sekarang?" ajak Sakura.

"Hn." Jawab Sasuke singkat.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Shikamaru – Temari

White Day

Shinzui Road.

"Hei, Shikamaru, kita mau kemana??" tanya Nyonya Nara Junior Sabaku no Temari.

"Sudah, ikuti saja."

"Kemana??? Jawab tidak." Ancam Temari. Huh, merepotkan, pikir Shikamaru.

"Iya, iya, ke rumah baru kita. Puas? Dasar merepo—"

"Ehm, kau bilang sesuatu??" bentak Temari dengan galak.

"Ti-tidak." Shikamaru terlihat mati kutu di depan wanita yang satu ini. Merepotkan, Shikamaru mengumamkan kata favoritnya yang mulai sekarang hanya dia bisa ucapkan dalam hati.

"Ehm, ngomong-ngomong."

"Apa?"

"Sekarang aku rasa lebih baik kita saling menghargai pasangan masing-masing, ya, harus saling menerima karena sekarang.."

"Apa?"

"Ya, bisa dibilang aku suamimu dan kau adalah istriku."

Temari tampak berpikir sejenak, sebelum dia mengatakan, "Ya, boleh juga."

"Benarkah?"

"Yah."

"Huh, baiklah kalau begitu." Shikamaru langsung mengambil sebungkus rokok dari saku celana jeansnya dan mulai menyalakan pematik saat tiba-tiba Temari mendekatinya dan menarik rokok yang baru mau disulut oleh Shikamaru.

"Hei, tadi lo udah setuju kalau kita harus saling ngehargain privasi masing-masing." protes Shikamaru.

"Ya, TAPI TIDAK UNTUK YANG SATU INI!!" bentak Temari. "Gue benci perokok dan tentu saja rokok itu sendiri."

"Hei, gak adil bange—"

"Ada yang protes??" Temari mengeluarkan aura pembunuh miliknya.

"Tidak. Me—" huft, Shikamaru menarik nafas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia sangat merindukan Nyonya Nara Senior. Walaupun ibunya bossy dan tukang marah, tapi setidaknya ibunya tidak memicingkan mata setiap mendengar Shikamaru berkata 'merepotkan' atau menarik rokoknya saat Shikamaru hendak merokok.

"Ya sudah, sekarang kita akan tinggal dimana??"

"Ya, lihat saja nanti."

Mereka terus berjalan menyusuri jalanan di Shinzui Road, menatapi gedung-gedung tinggi dengan gaya modern.

"Hei, masih jauh gak??" tanya Temari lagi.

"Santai. Sudah sampai." Kata Shikamaru malas.

Temari meneliti sebuah apartemen, Shizuka Apartment begitulah judulnya.

Shikamaru sambil berjalan santai mendahului Temari. Mereka langsung menuju lift dan meluncur ke kamar mereka di lantai 27. Selama di dalam lift –yang hanya diisi oleh mereka berdua-, Shikamaru dan Temari tidak saling berbicara atau bahkan mengeluarkan suara. Terlalu sibuk merenungi nasib masing-masing. Shikamaru meretapi nasib kalau dia harus hidup dekat-dekat wanita yang sangat amat teramat jauh lebih bossy dibandingkan ibunya sedangkan Temari meratapi nasib karena harus menjadi baby sitter seorang pemalas.

Setelah keheningan yang cukup lama, ya, cukup lama hingga mereka mencapai rumah baru mereka. Sebuah apartemen yang sangat tenang.

"Ehm, selera lo milih rumah boleh juga." gumam Temari.

"Ya ya. Sudah yah, aku mau tidur." Shikamaru segera meluncur ke kamar utama, merebahkan diri di atas kasur baru nan empuk dan bersiap-siap untuk pergi ke alam mimpi.

"Heh, jangan tidur mulu!!" teriak Temari.

"Huh, apa lagi ini?" gerutu Shikamaru.

Dalam hitungan detik, Temari sudah ada di dalam kamar tersebut sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Apa lagi??"

"Hei, ini hari pertama kita pindah. Beres-beres kek, benah-benah barang kek. Jangan tidur mulu yang dipikirin. Lagian nih, dapet misi dari Jiraiya-sama. Misi pertama di rumah baru, beres-beres rumah." Seru Temari sambil mengacungkan sebuah amplop mereh muda.

"Hah? Sialan, mereka gak ngasih tau kalau akan ada misi merepotkan macam ini." Keluh Shikamaru.

"Dasar, pasti lo aja yang ketiduran pas deskripsi acara ini."

"Ya ya ya, merepotkan."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Temari meneliti setiap sudut rumah barunya. Lumayan bagus juga dengan warna putih dan sedikit sentuhan hijau. Dipikir-pikir selera si nanas bagus.

"Hei Shikamaru, selera lo memilih rumah bagus juga." kata Temari yang untuk pertama kalinya memuji Shikamaru secara terang-terangan.

"Oh, begitu yah?" balas Shikamaru.

"Iya."

"Oh begitukah? Lo senang kan?"

"Tentu saja."

"Ya sudah, karena lo seneng jadi sekarang biarkan gue tidur dengan tenang." Kata Shikamaru lagi. Temari menghela nafas dan memutar otak dengan cepat. Bagaimana seorang pemalas seperti ini bisa menjadi pengacara terkenal seantero Konoha. Jika Temari melihat kasus-kasus yang ditanganinya di berita, Temari tidak akan yakin kalau Nara Shikamaru, sangan Mr. Lawyer adalah pemalas yang sekarang tinggal satu rumah dengannya.

"Tidak bisa. Kau juga harus beres-beres rumah."

"Huh. Tapi tolong, ini adalah jam tidur siangku."

"So??"

"Aku tidak mau tahu. Kau lihat tumpukan kardus itu? Sekarang keluarkan isinya dan rapikan."

"HAH??"

"Jangan lupa kau belanja untuk persiapan makanan selama seminggu."

"Hah?? Belanja?? Jangan bercanda."

"Dan jangan lupa juga untuk membersihkan kamar mandi."

"Merepo—"

"LAKUKAN SEKARANG!!!"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Neji – Tenten

White day

Miyori Street.

"Wow, inikah rumah baru kita?" tanya Tenten dengan takjub saat melihat sebuah rumah mungil di depannya. Rumah yang sangat terlihat modern tersebut cukup menarik perhatian Tenten.

"Ya, begitulah. Suka??"

"Well, kalau lihat luarnya sih suka."

"Mau lihat ke dalam??"

"Sure."

Dan mereka berdua berjalan memasuki rumah tersebut. Tenten terpana saat memasuki rumah barunya. Dia memang tidak begitu mengerti mengenai dunia arsitektur dan disain interior, tapi dia dapat merasakan bahwa orang yang mendisain rumah ini mengerti keindahan suatu tempat tinggal. Rumah tersebut berada di lahan yang lumayan sempit tetapi penataan segala aspek dalam rumah tersebut terlihat sangat apik sehingga tidak menimbulkan kesan sempit atau sumpek. Terdiri dari dua lantai. Di lantai dasar terdapat ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja, ruang makan, kamar tidur tamu, toilet serta kamar mandi dan tak lupa dapur yang berhubungan dengan laundry. Sedangkan di lantai atas, hanya terdapat sebuah ruangan besar tanpa sekat mirip loteng. Atapnya berbentuk miring dengan sebuah jendela segitiga yang memenuhi salah satu dinding ruangan tersebut. lantai atas tersebut telah berubah fungsi menjadi kamar tidur utama dengan segaa fasilitas yang mendukung.

"Bagaimana??"

"Bagus sekali Neji!! Aku suka rumah ini."

"Ehm, syukurlah kalau kau suka."

"Kau baru membangun rumah ini?"

"Tidak juga. rumah ini sudah ada sejak lima tahun lalu, tetapi aku baru merenovasi secara keseluruhan dua tahun lalu."

"Eh? Jadi ini adalah rumah pribadimu?"

Neji mengangguk pelan.

"Kau yang mendisain semua ini?"

"Secara garis besar konsep rumah ini aku yang menentukannya, tapi dalam merealisasikannya aku dibantu oleh seorang teman yang arsitek."

"Ooh, pantas."

"Oh yah, ada misi baru dari Jiraiya-sama." Kata Neji.

"Eh?"

"Ya, katanya kita harus membereskan rumah baru ini."

"Baiklah."

Tenten dan Neji berjalan menuruni tangga kayu yang menghubungkan master bedroom dengan lantai dasar rumah tersebut. Di ruang keluarga, Tenten dan Neji dapat menemukan tumpukan kardus, yang sebagian besar adalah barang-barang milik Tenten.

"OK, kita mulai dari sini saja." Kata Tenten sambil membuka tumpukan karbus yang pertama.

Neji duduk bersila di sebelah Tenten sambil menengok ke dalam karbus yang sedang di buka oleh Tenten.

"Apa itu??" tanya Neji saat melongok ke dalam kardus.

"Koleksi boneka!!" kata Tenten dengan girang. Tenten membalikan kardus sehingga isinya tumpah ruah di lantai marmer ruang keluarga Neji.

"Wow, aku tidak menyangka kalau kau suka mengoleksi barang seperti ini."

"Ya tentu saja!! Mereka semua lucu!!" pekik Tenten.

"Hn."

"Ayolah!! Lihat, lucukan??" Tenten menyodorkan boneka sapi ke depan mata Neji.

"Iya."

"Aku masih punya kambing, singa, paus, lumba-lumba, monyet.." Tenten terus mengabsen semua binatang peliharaannya. "..dan terakhir Panda!!" kata Tenten sambil menunjukan sebuah boneka panda berukuran besar.

"Lucunya, panda ini." Teriak Tenten sambil memeluk panda tersebut.

Tanpa sadar bibir Neji membentuk sebuah senyuman tipis melihat kelakuan Tenten.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Sai – Ino,

Sai masih kebingungan karena harus merubah kamar tidurnya menjadi warna ungu. Aneh-aneh saja request dari Ino. Padahal dari penampilan di TV saat Ino menyanyi, Ino terlihat sangat dewasa di mata Sai tapi setelah tahu aslinya, lebih mirip anak kecil. Sai menghela nafas panjang.

Bruk-Bruk..

"Beuh, apa lagi ini??" keluhnya.

Sai mendengar suara ribut-ribut dari arah ruang tengahnya. Dengan sigap, Sai melesat menuju ruang tengah dan mendapati Ino sedang mengatur koleksinya.

"Hei, lagi apa babe??" tanya Sai.

Ino menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Sai.

"Hi, babe. Lagi ngatur my babies nih."

Sai segera menoleh ke arah Ino's babies yang ternyata adalah..

Beratus-ratus pasang sepatu!!!

"Babe, gak salah semua ini?" tanya Sai.

"Ya iyalah. Lucu kan?? I always love my babies." Kata Ino sambil memamerkan koleksi sepatunya.

"Tapi babe, mau ditaro dimana semua ini??"

"Ya di rak sepatulah." Jawab Ino.

"Bagaimana dengan sepatu-sepatuku??" tanya Sai panik. Hohoho, ternyata Sai juga mengoleksi sepatu.

"Tapi babe, punya kamukan sedikit." Kata Ino smabil menunjuk ke arah tumpukan box berisi seratus lima belas pasang sepatu milik Sai.

"Babe, jangan ditaro disana semua! Gak cukup. Nasib sepatu gue gimana?"

"Aah, enggak. Kalau di dalam dus, nanti my babies rusak." Kata Ino sambil memeluk koleksi sepatunya.

"Tapi babe nanti sepatu-sepatu gue juga bisa rusak."

"Oh, jadi kamu lebih cinta pada sepatu-sepatumu daripada kebahagian aku??" tanya Ino dengan nada memelas.

"Bukan begitu."

"Aku atau sepatumu?" tanya Ino.

"Aaah, jangan memberikan pertanyaan seperti itu."

"Aku atau sepatu??"

"Aku mencintaimu dan juga sepatuku, sulit."

Sekali lagi Ino mengelurkan tatapan mautnya yang melumerkan hati Sai hingga akhirnya Sai berkata dengan pasrah, "Ya udah. Semuanya buat your babies."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Sasuke – Sakura,

"Wow, Sasuke-kun!! Kau punya kamera polaroid??" Sakura kerkagum-kagum pada benda jadoel yang tidak sengaja ia temukan di dalam tumpukan barang milik Sasuke.

Sasuke hanya berbalik dan memjawab, "Hn."

Sasuke dan Sakura memang sedang membenahi barang-barang yang mereka bawa. Menyimpannya dan mengaturnya dalam tempat-tempat penyimpanan atau lemari-lemari pajangan di ruang keluaga.

"Waaa, aku mau mencobanya yah!!" Sakura segera berpose dan bergaya di depan kamera yang dia pegang.

Klik..

Klik..

Klik..

Dan tak lama kemudian keluarlah foto narsis milik Sakura. Sakura segera mengibas-ngibaskan hasil fotonya dan terkagum-kagum sendiri melihat hasil jepretannya.

"Wow!! Kesannya foto jadoel banget!!" pekik Sakura melihat ternyata fotonya diberi efek sephia sehingga membuatnya terlihat seperti foto puluhan tahun yang lalu.

"Sasuke-kun, ayo foto bareng!!" ajak Sakura.

"Tidak, kau saja."

"Ayolah!!!" Sakura segera menarik Sasuke yang sibuk dengan DVD koleksinya.

Sasuke ternyata pasrah-pasrah saja menerima ajakan Sakura. Pertama-pertama Sasuke mengartur timer kamera tersebut.

Klik..

Untuk pertama kalinya Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura berposen di rumah baru mereka. Ternyata foto pertama tersebut telah membawa mereka pada foto-foto selanjutnya dengan berbagai pose tentunya. Setelah itu Sakura dan Sasuke sibuk untuk mengabadikan semua momen pertama mereka dirumah baru.

"Sembilan delapan, sembilan sembilan, seratus." Kata Sasuke sambil menaruh tumpukan foto mereka di atas kasur.

"Wow, banyak sekali, Sasuke-kun."

"Hn."

"Hoaaaah!! Lucunya!!" komentar Sakura sambil melihat foto Sasuke yang sedang berpose seperti superman.

"Lihat." Sasuke menunjukan foto Sakura dalam ekspresi jelek.

"Hiii, buang saja. Jelek!!!"

"Biar." Kata Sasuke sambil menaruh kembali foto tersebut di tumpukan.

"Ini juga bagus." Sasuke memamerkan sebuah foto dengan mereka sebagai model dan pemandangan bukit sebagai background.

"Wow, ini semua akan menjadi memori yang indah." Pekik Sakura.

"Tentu saja." Jawab Sasuke singkat.

"Dan ayo mulai sekarang kita abadikan setiap momen yang kita lalui di rumah ini." Lanjut Sasuke.

Dan Sakurapun tercengang dengan sukses.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Shikamaru – Temari,

"Hei, Shikamaru. Kau sudah menyelesaikan tugasmu??" tanya Temari yang sedang sibuk mengatur pajangan-pajangan di ruang TV-nya.

"Ya lagi yang bisa aku lakukan?" tanya Shikamaru. Sebenarnya dia malas untuk melakukan tugas-tugas yang diberikan oleh Temari, tetapi mau bagaimana lagi, walaupun enggan mengakui tapi Shikamaru merasa segan pada istri barunya dan berusaha untuk tidak mencari masalah dengannya. Mengingat sifatnya yang lebih tempramen dan galak dibandingkan Nyonya Nara Senior.

"Ehm, bisa tolong pasangkan gordin di jendela ruang TV, ruang kerja, dan kamar tidur. Jangan lupa membereskan kamar tidur."

Shikamaru menghela nafas. Merepotkan, gumamnya dalam hati tentunya.

"Baiklah."

Shikamaru –dengan mengeluh tentunya- melesat menuju kamar tidur. Dia terlihat bingung dengan lembaran gordin. Seumur hidup ini adalah pertama kalinya Shikamaru melakukan pekerjaan seperti ini.

Sementara Shikamaru sibuk dengan tugas-tugas yang diberikan, Temari menyelinap ke dapur. Dia mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan yang dibeli oleh Shikamaru. Tangannya yang terampil mulai membersihkan sayuran, meracik bumbu, memotong Sayuran dan mengolah daging yang dibeli Shikamaru. Memang, pengalaman mengurus kedua adiknya telah membut Temari sangat expert dalam hal mengurus urusan rumah tangga.

"Shikamaru, sudah belum??" tanya Temari yang sedang menyurun sayuran yang sebelumnya telah ia potong-potong.

"Belum."

Shikamaru masih sibuk dengan urusannya di kamar. Sudah berkali-kali ia mencoba untuk memasangkan gordin, tetapi hasilnya gordin masih belum terpasang.

"Baiklah!!" teriak Temari.

Temari sekarang dengan sibuk membereskan dapur dan menata meja makan. Memasangkan kompor mini di meja makan dan menyusun makanan yang telah ia buat. Tak lupa Temari mengelurkan sake terbaik dari Suna yang diberikan oleh salah seorang adiknya. Persiapan selsesai tepat setelah Shikamaru akhirnya berhasil melaksanakan tugas yang Temari berikan.

"Lama sekali." Hardik Temari saat bepapasan dengan Shikamaru di ruang TV.

"Ya ya ya."

"Gue mau pergi menemuin manager, untuk ngebicarain soal pemotretan dengan majalah Female." Kata Temari pada Shikamaru.

"Baiklah."

"Eh, jangan lupa, bereskan dapur sekarang."

"Hah?? Masih ada tugas lain??"

"Sudah, jangan banyak ngeluh. Gue pergi yah? Bye." Temari melesat meninggalkan Shikamaru.

"Huh, dasar MEREPOTKAN."

Shikamaru berjalan ke arah dapur. Dia memutuskan untuk membereskan pekerjaannya dahulu. Hei, dia tidak bisa menjamin nasibnya masih selamatkan kau Temari mendapati dapur dalam keadaan berantakan.

Begitu sampai di dapur, Shikamaru tercengang. Dapur sudah dalam keadaan yang benar-benar bersih. Tidak ada lagi yang harus dibereskan lagi. Tetapi yang paling membut Shikamaru kaget adalah makanan dalam porsi besar yang tersedia di meja. Mulai dari sayuran, daging, udang, cumi, buah-buahan hingga sake. Di atas meja makan juga tersimpan sebuah pesan.

Thanks for everything today, Shikamaru.

With love,

Temari

Shikamaru tersenyum. Ternyata wanita galak itu bisa menjadi manis juga.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Neji – Tenten

"Neji, rak ini aku taruh di samping TV yah."

"Hn." Tanpa banyak omong, Neji langsung meninggalkan tumpukan bajunya dan membantu Tenten mengangkat rak kayu ke sebelah TV di ruang keluarga. Kemudian setelah posisi rak dianggap pas, Tenten mulai meneliti barang-barangnya akan ditaruhnya.

"Neji, bagaimana kalau di rak ini aku menaruh boneka milikku?"

Neji tampak berfikir sejenak sebelum berguman, "Boleh."

Tenten mulai mengelurkan koleksi bonekanya dan menyusunnya di dalam rak.

"Wow, banyak juga koleksi bonekamu." Kata Neji.

"Tentu saja. Semua ini aku kumpulkan dari hasil kerja selama hampir sepuluh tahun ini."

Neji tersenyum tipis dan meneruskan pekerjaannya membantu Tenten menyusun koleksi boneka miliknya.

"Woooaaaah, akhirnya ketemu juga." kata Tenten girang. Neji langsung menoleh ke arah Tenten yang memegang sebuah kostum boneka.

"Neji, lihat. Kostum boneka!!" pamer Tenten kepada Neji.

"Hn."

"Aku punya singa, beruang, macan, monyet, dan tentu saja panda!!!" kata Tenten lagi.

Tenten meninggalkan pekerjaannya dan mencoba kostum panda yang ditemukannya. Lucu juga, Tenten mamakai kostum panda dengan topi yang berbentuk kepala panda juga.

"Neji, bagaimana?" tanya Tenten-panda. Mau tidak mau Neji tersenyum melihat Tenten yang sejujurnya terlihat lucu dan imut dalam kostum panda.

"Neji, bagus tidak??"

"Bagus." Jawab neji akhirnya dan dengan tulus tentunya.

"Foto aku." Pinta Tenten sambil menyerahkan handphonenya.

Klik..Klik..

Neji mengambil foto Tenten-panda.

"Neji, ayo foto sama-sama!!"

Tenten menarik Neji untuk foto bersama. Mereka tertawa melihat foto-foto hasil jepretan mereka. Bagaimana tidak, foto seorang Hyuuga Neji dengan Tenten-panda, tampak agak bertolak belakang sepertinya.

"Neji, ayo kau juga pakai kostum. Bagaimana kalau kostum singa??"

"Hah??"

"Iya, ayo kau pakai juga kostum lalu kita foto-foto bersama lagi!!"

"Ti-tidak ah, kau saja—" tenten segera menarik Neji dan memaksanya untuk memakai kostum singa miliknya. Walaupun agak malu, tetapi akhirnya Neji pasrah terhadap keinginan Tenten. Dan sekarang, berdirilah seekor singat dengan warna mata keperakan.

"Woooaaaaaah, cute banget!!" pekik Tenten tak lupa dengan segera Tenten mejepret image Neji dalam kostum singa yang terlihat malu-malu.

"Aah, Neji, kau adalah singa paling cute yang pernah ada. Ayo kita foto bersama!!" ajak Tenten.

Klik, klik, klik.

"Lucunya!!!!" pekik Tenten. "Aku harus mencetak foto-foto ini!! Neji, ayo ganti kostum sekarang!! Kau yang memakai panda!!" teriak Tenten.

Neji –yang sudah terlanjur malu- mengikuti keinginan Tenten. Dalam waktu singkat, neji telah berubah menjadi panda bermata keperakan dan tenten sekerang memkai kostum monyet. Mereka melanjutkan sesi foto-foto. Kamera HP telah berubah menjadi kamera SRL milik Neji.

"Neji!!! Ini lucu banget!!!" Tenten terpana kepada sebuh foto dirinya dan Neji. Neji yang berada di dalam kostum panda terlihat sedang menggendong Tenten yang berada di dalam kostum monyet.

"Iya, ini bagus."

"Bagimana kau foto ini kita perbesar dan dipajang di runag TV??" tanya Tenten.

"Hah?!"

"Iya, foto ini kita perbesar dan kita pajang di ruang TV." Kata Tenten sekali lagi.

"Tidak." Kata Neji tegas.

"Mengapa??"

"Mamalukan."

"Neji.."

"Tidak."

"Yaaa, Neji.."

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Studio WGM,

Konoha TV,

"Yaaa, begitulah misi pertama yang mereka jalankan!!" teriak Jiraiya begitu selesai melihat video pasangan-pasangan Konoha yang tadi diputar.

"HAHAHAHAHAHA.." penonton tertawa setelah melihat video pasangan-pasangan Konoha.

"Hahaaha, aku masih tidak menyangka kalau Neji mau memakai kostum Panda!!" pekik Tsunade. Kamera segera mengarah ke Neji yang tampak merah padam karena malu, sementara Tenten tertawa disebelahnya.

"Hahaha, memang, Neji tampak lucu dengan kostum panda. Ya kan, Neji?" tanya Tenten pada makhluk disebelahnya.

"Terserah." Kata Neji pasrah.

"Hahaha, ya, Neji memang lucu."

"Tapi aku tidak menyangka hanya dua pasangan yang ingat untuk mengabadikan momen-momen pertama mereka di rumah baru. Selain Neji dan Tenten, Sakura dan Sasuke juga tampak mengabadikan momen-momen mereka di rumah, oh ya Sasuke, aku suka rumah barumu!!!" kata Tsunade panjang lebar.

"Ya, tentu saja. Perlu perjuangan untuk mengajak Sasuke-kun berfoto-foto. Walaupun akhirnya dia mau juga." kata Sakura.

"Dan, beda dengan Tenten dan Neji yang fotonya mirip foto-fotonya lebih mirip foto-foto untuk di taman kanak-kanak—"

"HAHAAHAHAHAHAA.." terdengar suara penonton yang tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Jiraiya.

"Hei, benarkan? Foto mereka lebih mirip foto untuk acara anak-anak!! Sedangkan Sakura dan Sasuke terlihat seperti foto-foto di film drama tahun 70-an." Lanjut Jiraiya.

Sakura melirik Sasuke, meminta Sasuke menjelaskan konsep foto mereka. Sasuke menghela nafas sebelum mulai bicara,

"Jadi, aku sengaja ngambil tema oldies. Foto diberi efek sephia sehingga menimbulkan kesan klasik."

"Wow, ide yang bagus, Uchiha." Puji Orochimaru.

"Ya, dan aku agak geli melihat Sai dan Ino. Pasangan yang unik. Hari pertama di rumah baru, rebutan lemari sepatu!!" kata Tsunade sambil tertawa diikuti koor tawa dari penonton.

"Hahaha, memang kami sama-sama mengoleksi sepatu, hal yang aneh bukan?? Aku tidak menyangka kalau Sai juga mengoleksi banyak sepatu."

"Ya, sampai gue dan Ino harus berebut lemari sepatu."

"Tapi akhirnya kau mengalah kan??" tanya Tsunade.

"Tentu saja. Bener dah, tatapan memelas Ino numero uno." Kata Sai sambil tersenyum.

"Dan sekarang, Temari dan Shikamaru. Untuk pertama kalinya aku melihat Temari melakukan sesuatu yang manis untuk Shikamaru!!" Orochimaru yang berbicara sekarang.

"Ya, akhirnya si galak ini bisa berlaku manis juga." kata Shikamaru malas.

"Hei, apa salahnya aku menyiapkan makan siang untuk suamiku yang sudah giat bekerja, betul begitukan, Tuan Nara??" kata Temari –tumben- dengan gaya formal.

"Ya, ya, ya, terima kasih." Balas Shikamaru.

"Tapi tetap saja, kalian masih ribut yah. Dan aku sangat mengagumi kemampuanmu untuk memerintah Shikamaru. Hahaha, memang seharusnya wanita menjadi majikan bagi lelaki." Gumam Tsunade.

"Tepat sekali." Jawab Temari pasti.

"Hai hai, tak terasa sudah habis waktu acara kita." Kata Orochimaru mengingatkan.

"Ya, tidak terasa." Gumam Tsunade

"Waktunya berpisah. Tapi tetap tunggu kehadiran kami di jam dan channel yang sama, minggu depan!!!"

"Benar sekali, Jiraiya. Masih penasarankan dengan kejutan-kejutan lain dari pasangan favorit kalian? Makanya, jangan lewatkan episode depan. Ok, saya Tsunade."

"Jiraiya."

"Orochimaru."

"Sampai Jumpa minggu depan!!!"

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Ni Hao,

Hahahaha, chap 2 is up!! Seminggu buat update, mangap kalau kelamaan. Mengingat kesibukan-kesibukan yang ngejar-ngejar. Oh yah. Maaf kalau chap kemaren banyak typo. Sejujurnya fic ini ditulis di sela-sela ngerjain tugas kuliah yang notabene tiap subuh dan gak pernah siang hari. Author gak ngeluangin waktu khusus untuk nulis, kapanpun ada ide, langsung ketik dan biasanya jam-jam brilian author nulis sekitar jam 1 sampe 4 subuh, hahahaahah. Jadi maaf banget kalau hasil tulisan author ngaco and gak sempet ngedit. Kayanya butuh editor dah, hahahaha. Yaudah, cukup sekian dan terima kasih atas sambutan yang diluar dugaan author. Gak nyangka kalau ada yang mau ngereview mengingat author udah gak eksis selama hampir setahun dan perasaan dari dulu juga emang gak pernah eksis, hahahaha.

Last not least.

Special thanx to:

biaaulia, ., kawaii-haruna, Myuuga Arai, MzProngs Eceu Iputz..muah-muah, hehehehe, Inuzumaki Helen, Yvne F.S. Devolnueht, dilia shiraishi, Amu hinamori,The Law Of Gege, uchiha ayashi, Chika the Deidara's Lover, Faika Araifa, lil-ecchan, kakkoii-chan, baddaytoday, and nozomi sora.

Cheers,

Aryagiza

Still not the brain of this manga and TV show