Arigatou gozaimasu bagi yang udah bersedia baca, mengunjungi, dan mereview fic ini, ini untuk chapter dua-nya semoga nggak bosen yah? Soalnya konflik mulai chapter tiga, udah di buat kok. Jadi mohon maaf bagi yang merasa bosan dengan fic ini.

Bales review dulu:

Salty Orange Cake: Oke, thx yap! Ini udah di bikin lagi XD

Alluka Niero: Aduh, cuma baca lemon doang, tapi ga apa-apa deh, udah visit dan review aja alhamdullilah banget. Gimana saya di terima nggak di Ero Dojo? wkwkwkw

Perut-saia-Bundar: Aku tau kamu kok, hehe. Aku liat di metrolyrics done kok dan Katy juga nyanyiinnya done. Tapi makasih banget ya udah ada niat untuk betulin saya. Thx thx banget!

kakkoii-chan: Ah, kakkoii-nee, makasih udah review. Aku buat lemon juga takut-takut ini aja karena ada niat -dikemplang- Makasih ya!

himura kyou: Hei, nee, thx udah review. Hem, sepertinya aku lupa cantumin OOC di summary deh -benerin summary dulu-, oke udah aku cantumin OOC sekarang. Emang Sakura sombong 'kan? Menurutku sih gitu, tapi menurut nee-san OOC oke deh no prob. Sasukenya aja emang sengaja aku begituin (?) thx ya!

MixMiu cHichiCui RokawaZu: Yah, cuma liat lemon doang, tapi ga apa-apa kok yang penting udah mau review dan visit. Thx a lot ya!

dilia shiraishi: Hohoho, makasih udah mau review, ceritanya ngebosenin 'kan? Tapi emg sih, 'kan belum ada konflik. Thx ya!

sabaku no panda-kun: Itu artinya semaunya sendiri, eheh. Oke thx! Sasuke emang sengaja aku gituin soale ada maksud tersembunyi hehe. Thx ya!

.hAruHi-kAoRu.: Hoho, thx ya! Lemon abal gitu haha. Makasih ya!

Senritsu no Kaze: Iya jarang yak? Hehe, oe thx udah mau review, aku suka ficmu yang Yes. I do itu looh keren hehe. Miss typo ya? cob cek yang ini ada nggak? XD. Thx ya!

blackpapillon: Masya Allah, lama amet nee, empat hari bujug dah. Apa hubungannya ama lemon jadi susah scroll ke bawah? *bingung* Ehm, Untitiled ini sebenernya ada maksud tersembunyi sih, bukan sembarang judul, hhe. Ngeflow apaan lagi? Oke thx udah di koreksi, lain kali aku pasti hati-hati kok. Hoho, Sasunya OOC yah? Mesum gitu haha. Chapter satu dan dua emang masih belum ada konflik, mulai chapter tiga pasti ada. Thx ya nee-san!

useless: Ho? Bukan cuma Ferarri, Faber Castel dan Polo juga enggak mau kalah pake logo kuda jingkrak, hehe XP Thx ya!

Warning chapter ini belum ada konflik jadi maaf ya bila ada yang bosen, hehe XP

"UNTITLED"

Original story by

Kristi Tamagochi

Rated

M

Side

White: Romance/fluff

Chapter two

Photograph

Disclaimer

Naruto by Masashi Kishimoto

Thinking of You by Katy Perry-my beloved sista, hoho-

Beta Reader

dilia-shiraishi

Challenge by

Blackpapillon


Siang ini aku mengambil mobilku di McD, bersyukur mobil itu masih ada di tempat. Kemari aku meninggalkan mobil itu saat mau berjalan ke dekat menara Eiffel. Niatnya sih, pulang dari sana mau ambil mobil. Eh, ternyata aku malah minum-minum dan tidak pulang semalaman. Akhirnya kuambil sekarang, dan yang kudapati kondisi mobilku basah dan sangat kusam. Cih, terpaksa besok kubawa ke tempat pencucian mobil.

Hari ini Minggu. hari dimana aku harus bekerja di depan laptop. Sebenarnnya malam kemarin aku bisa saja menyelesaikan dua chapter sekaligus. Tapi aku malah menuruti ajakan Sasuke untuk bersenang-senang. Huh, harusnya hari ini aku bisa tidur, mandi, makan, nonton TV, ber-chatting ria, dan lain-lain.

Tapi tidak masalah juga, sebab kemarin memang malam yang paling menyenangkan bagiku. Terlebih kejadian memalukan saat aku stripteace di depan banyak orang. Huaaa! Malunyaaaa~ Semalam aku memang sedang mabuk berat, sih. Saat Sasuke bercerita tadi pagi di kamar motel saja, aku hanya bisa blushing tidak jelas dan meneriakan 'malu' berulang kali. Sialan.

Yah, sudahlah. Yang penting besok Naruto akan kembali ke Paris, aku sangat merindukannya walaupun aku sedang mejalani hubungan dengan Sasukeya, akibat kejadian malam kemarin. Tapi bagaimana pun, aku juga masih membutuhkan kehangatan tubuh Naruto yang sangat ingin ku miliki seutuhnya. Egois? Sepertinya begitu.

Aku kemudian masuk ke dalam mobil, lalu duduk dan melempar tas merah mudaku ke jok sebelah. Memakai sabuk pengaman dan menjalankan mobil itu dengan semestinya. Haah... hari ini pokoknya aku harus menyelesaikan pekerjaan. Tidak boleh ada yang kurang, dan awas kalau sampai Sasuke sialan itu mengajakku pergi lagi. Akan kutolak sementah-mentahnya mentah.

Setelah puas menggerutu, aku memerhatikan sekeliling. Jalan yang kulalui tidak begitu ramai, kebanyakan orang di sini tidak mengemudikan mobilmereka lebih suka berjalan atau naik bis, dan angkutan umum lainnya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa punya mobilseperti akumaka dari itu aku sangat bangga dengan mobil ini.

Kulihat lampu lalu lintas berwarna merah, membuatku berhenti perlahan tepat sebelum melewati zebra cross yang terpeta jelas di jalan. Banyak orang yang mau menyebrang secara berbondong-bondong. Akan lama kalau begini. Maka tanpa membuang kesempatan, aku mengambil bungkus rokok di tasku. Kusulut, seraya membuka jendela.

Aku merokok dengan santai—melepaskan stres yang akhir-akhir ini menyerangku. Kenapa? Memang tak boleh? Yang penting 'kan, aku tetap mematuhi rambu lalu lintas. Tidak menerobos lampu merah seperti ini layaknya remaja-remaja bodoh itu. Aku menghela napas di sela-sela hembusan asap rokokku, tak lupa kusetel lagu dari CD yang aku beli dua hari yang lalu. Isinya hanya instrumen yang dimainkan dengan biola dan piano, tapi kedua alunan ini saja sudah berhasil membuatkku merasa tenang.

Aku menikmati lagu Ave Maria itu sampai akhirnya kusadari mobilku telah sampai di apartemen. Memang tidak mewah dan letaknya pun tidak di tengah kota persis. Aku tak mementingkan kemewahan, karena yang kubutuhkan adalah tempat tinggal yang lokasinya dekat tempat kerjaku.

Comparisons are easily done

Once you've had a taste of perfection

Like an apple hanging from a tree—

"Alo, Franz. Ya ada apa?" aku menjawab telepon dari Franz—editor gila yang fashionable sekali dan kupikir gay. Aku heran kenapa dia tidak jadi designer saja, ketimbang editor di majalah. Tentu penghasilannya akan lebih besar, lagipula kulihat dia berbakat di bidang itu.

"Miss, apa kau sudah menyelesaikan dua chapter novelmu?" tanyanya penuh selidik, suaranya yang aneh membuat telingaku geli.

"Belum," jawabku pasrah, namun aku kembali melanjutkan ketika mendengar gelagat ia akan mengomel. "Jadi, kemarin Mr. Uchiha mengajakku jalan-jalan. Tolong jangan salahkan aku, marahi saja pimpinanmu itu. Aku akan mengusahakan dua chapter itu selesai hari ini, dan akan langsung kukirim padamu, Franz. Tenhang saj—"

"Berhentilah mengoceh Miss. Haruno. Aku bukan ingin memarahimu, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu," ia memotong ucapanku semmbari menarik nafas. "Sebenarnya aku tidak suka ini—tapi mereka memintamu, dengan sangat terpaksa akan kubberitahukan padamu. Tapi aku tidak pernah suka kau akan melakukan hal ini, tugasmu di sini hanyalah seorang penulis cerpen dan cerbung. Tidak lebih. Sungguh, aku tidak suka mengatakan hal ini padamu, tapi mungkin kau akan menyukainya. Tapi sungguh aku tekankan sekali lagi, aku tidak suka kalau kau— "

"Berhentilah mengoceh Franz. Tak usah bertele-tele, langsung pada intinya saja." Gantian aku yang memotong ucapan berbelit-belitnya itu Ribet sekali sih, orang ini?

Dari seberang terdengar helaan napas panjang, "Bagian modelling memintamu untuk menjadi cover girl edisi 45," akhirnya ia menjawab. Terdengar sedikit terpaksa

Aku diam.

"Miss. Haruno? Still alive?" ia kembali bicara ketika tak mendengar respon apa pun dariku.

"Oh? Ah, iya tentu. Tapi memangnya kemana model majalah itu? Dia dipecat? Atau ada sesuatu yang terjadi padanya?" tanyaku panik.

"Gadis asia berwajah angkuh bernama Moe itu mengalami kecelakan mobil kemarin malam. Wajar saja sih, mengingat dia mengendarai mobil sambil minum-minum bersama temannya." Jawab Franz dengan suara tenang. "Kakinya patah dan wajahnya luka parah, padahal pengambilan gambar harus di lakukan besok. Sedangkan satu-satunya gadis asia berwajah angkuh yang di kenal bagian modelling adalah kau!"

Aku mengernyit mendengar ia mengataiku 'angkuh secara tidak langsung, "Aaa—jadi bagaimana? Kalau aku menolak?" tanyaku takut-takut.

"Gajimu akan dipotong." Jawabnya dengan singkat dan menusuk. Cih, dasar banci.

Aku mendesah berat sebelum berkata, "Eeh?! Ah, baiklah. Tapi bagaimana dengan kerjaanku?" tanyaku lagi—kali ini dengan nada pasrah dan menyerah.

"Tetap di kerjakan. Langsung kirim kepadaku, oke? Besok kau harus sampai kantor jam delapan tepat, tidak ada acara terlambat. Mengerti!?" ujarnya keras.

"Mengerti." Balasku singkat.

"Bagus, ingat ini hanya keberuntungan semata!" lalu dia memutuskan sambungan. Idiot, yang benar saja aku akan menjadi model?! Aku sudah cukup tenar dengan menulis, tak perlu jadi model segala. Tapi kalau aku sampai ditawari begitu, artinya benar-benar cantik ya?

Haha, beruntungnya aku mempunyai kesempurnaan seperti ini. Terlebih mataku yang hijau zambrud—sangat menawan. Bahkan mungkin aku bisa mengalahkan harga zambrud yang ratusan juta. Haha, akulah wanita paling sempurna di dunia.

***

Pagi hari yang begitu menyiksa, kupasang alarm di ponsel jam enam pagi. Padahal aku baru tidur jam tiga, aku akui aku memang bodoh. Kemarin aku sudah sampai rumah jam satu siang, dan tak langsung mengerjakan pekerjaanku dan justru tertidur. Terbangun jam empat sore karena Sasuke menelepon—yah, dia kekasihku jadi harus aku ladeni—lalu aku melakukan satu kegiatan saja dalam waktu lama.

Dan aku baru mulai mengerjakan tulisan jam tujuh, sungguh bodoh. Jadi pagi ini aku tersiksa dengan bunyi alarm yang sengaja kupasang pagi karena aku ada janji pemotretan sialan itu. Aku harus menyiapkan sarapan, bersih-bersih dan lain sebagainya.

Maka aku segera melakukan hal pertama yang melintas di pikiranku, melakukan ritual mandi ala kadarnya, menggosok gigi, dan berganti pakaian. Standar saja. Hari ini aku memakai celana warna hitam, tank-top putih yang di tutupi dengan blazer hitam. Serta tak lupa bando dengan tali warna hitam

Setelah bersih-bersih singkat di kamar, kulirik jam di tanganku—ia menunjukkan pukul 07.16, aku harus bergegas. Ku minum susu langsung dari kotaknya tanpa dituang terlebih dahulu ke gelas, lalu menyambar roti tawar yang tidak kuberikan selai stroberi seperti biasa. Kini jam menunjukkan 7.20, ketika kulahap roti ketigaku. Huh, tenang Sakura, perjalanan dari apartemen ke kantor hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Tenang, habiskan sarapanmu, jangan lupa makan buah, ingat jangan lupa pakai pemoles bibir. Setelah potongan roti ke empat, dengan buru-buru aku mengambil pemoles bibir di dalam tas hitam yang terletak di meja makan.

Setelah kupikir sempurna aku mengecek isi tasku—bedak, pemoles bibir, kaca, dompet, ponsel, rokok, tisu, pematik api, dan kunci mobil. Lengkap, tak ada yang terlupa. Sudah siap, pikirku. Kemudian aku mengambil kacamata hitam di rak dekat televisi lalu kusambar slayer hitam yang tergeletak di sofa.

Kupandang mobilku yang masih sangat kotor, kapan aku sempat mencucinya? Nanti saja setelah pemotretan lah. Aku pun masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengaman dan mengendarai mobil dengan semestinya.

Kuakui aku sangat nervous sekarang. Hei, ini pengalaman pertamaku dalam urusan pemotretan. Umh, apa nanti mereka akan menyukaiku? Apakah ini jalan besarku untuk menjadi model yang terkenal? Aku sempurna, dan aku yakin pasti aku akan menjadi penulis sekaligus model yang sangat terkenal.

Ah, ngomong-ngomong... kehidupanku di Paris ini membuatku lupa akan keluargaku. Tidak pernah aku mau repot-repot menelepon mereka. Dan hal yang sama terjadi pada mereka pula, mereka terlalu sibuk hanya untuk meneleponku. Yang penting sih, aku tetap dapat uang bulanan seperti pada saat aku sekolah dan menjadi mahasiswa. Mungkin mereka tidak tahu aku sekarang bekerja menjadi apa? Siapa kekasihku? Apa yang kuinginkan? Atau bahkan mereka tak peduli? Haha, aku pun tak peduli sama sekali. Aku sudah menemukan kebahagian tanpa kasih sayang keluarga.

Tak terasa aku sudah sampai di kantor. Sekarang tujuanku adalah ruang pemotretan di lantai tiga, ruang nomor tujuh. Aku sangat takut, tapi tetap aku pasang wajah angkuhku, itu 'kan yang mereka butuhkan? Wanita asia dengan wajah angkuh. Aku menaikki tangga dengan cepat, membuat sepatu hakku berbunyi begitu aku menginjak lantai dingin ini. Baiklah, ini dia ruangan nomor tujuh, tanganku membuka pintu dengan hati-hati. Apa?

"Miss. Haruno, ayo cepat sedikit. Pemotretan akan segera di mulai, kau harus di dandani dengan sempurna dulu." Kata laki-laki itu sambil bertepuk tangan dan berjalan ke arahku. Franz? Apa yang di lakukannya disini? Aku memandang heran pada laki-laki di depanku. Ya, inilah Franz, laki-laki setengah banci dengan rambut sedikit kecoklatan dengan mata berwarna senada. Begitu dia berjalan, gayanya yang sangat anggun bisa membuat semua wanita muntah, kesannya seperti mau melebihi aku saja. Padahal sudah pasti lebih hebat aku. Herannya ada saja laki-laki yang bersedia menjadi pasangan sehidup sematinya.

"Apa yang kau lakukan di sini Franz? Kau mau jadi managerku hah?!" tanyaku sambil berkacak pinggang, terang saja aku mengatakan hal itu. Dia selalu ada di dekatku saat aku melakukan suatu pekerjaan, aku saja sampai heran.

"Oh, Miss Haruno. Aku hanya ingin membantumu saja, siapa yang mau jadi managermu? Lagipula sangat percaya diri sekali kau bisa punya manager, tenar saja belum tentu." Katanya meremehkan sambil menyentuh daguku, tinggiku dengan dia tidak jauh beda. Aku lebih tinggi sedikit darinya.

"Cih," remehku sambil menyingkirkan tangannya dari dagu.

Dia memandang pergerakkan tadi sambil tersenyum sinis lalu tak lama dia berteriak. "Modelnya sudah tiba, ayo cepat make over dia dan lakukan pemotretan."

Dengan cepat aku di bawa ke meja rias, tas dan slayerku entah pergi kemana—yang jelas kalau sampai barang itu hilang, aku tidak segan-segan melapor ke polisi. Kuasakan wajahku di oleskan berbagai macam bahan kimia yang membuat wajahku semakin menarik, rambut merah mudaku di sasak sehingga membuatnya sangat kusut. Aku hanya memejamkan mataku, menikmati apa yang sedang di lakukan perias itu kepadaku.

Suasana hening, hanya terdengar suara dari perias wajahku dan juga suara-suara kru yang menyiapakan tempat untuk pemotretan dari luar. Tiba-tiba saja saat aku membuka mata, wajahku terlihat sangat pucat dan rambut merah mudaku menjadi hitam di sanggul. Dan tiba-tiba mereka membawaku begitu saja ke ruang kostum, aku dipakaikan kimono ala Hime di Jepang. Aku kini tampak sangat cantik—seperti Hime yang sangat disiplin dan angkuh. Ya benar, inilah aku, Hime-sama yang angkuh; disiplin; berani; dan tangguh.

"Modelnya sudah siap!!" ujar orang dari pintu begitu melihatku. Aku langsung di bawa ke tempat pemotretan.

"Oke, mulai! Chris, bereskan ini." Kata bapak-bapak berambut putih yang tampan kepada bapak-bapak satu lagi dengan kepala botak di tengahnya.

"Baik," jawab orang yang bernama Chris. "Siapa nama wanita ini?"

"Haruno Sakura, Sir." Jawab salah satu kru yang membawaku kemari.

"Baik, Mademoiselle Haruno, silahkan berdiri di sana!" perintahnya sambil menunjuk ke arah tempat yang yang telah di sinari lampu-lampu dengan background taman ala kerajaan Jepang, dan bunga Sakura yang berterbangan. Gambar itu sengaja di lukis, sengaja untuk di buat tidak seperti nyata. Aku berjalan ke sana, memang agak repot dengan memakai pakaian seperti ini, tapi akhirnya aku sampai juga.

"Oke, semua bersiap!" perintah Chris, semua kru sudah di tempatnya masing-masing. "Miss. Haruno, tolong tegakkan badanmu seperti orang yang angkuh. Tutupi mulut dan sebagian hidungmu dengan kipas itu. Oke baik, baiklah akan aku berikan tempat yang sempurna."

Chris menggeserku kesana- kemari, aku mengikutinya. Pada saat sampai di tempat yang pas, dia mengambil kameranya lalu mengambil berapa gambar, bunyinya sangat indah. Berulang kali ia mengubah posisiku, kadang mataku menatap sombong tidak kepada kamera. Kadang juga aku tidak menggunakan kipas untuk menutup sebagian wajahku. Beberapa gambar telah di ambil, wajah Chris terlihat begitu senang. Dia memasukkan memori card kameranya ke dalam laptop. Melihat foto-fotoku tadi serta mengeditnya agar terlihat lebih bagus. Chris bilang aku sangat pandai di bidang modelling, aku adalah model yang berbakat, aku begitu sempurna.

Aku tidak percaya apa yang di katakan Chris saat dia mengedit fotoku, dia terlihat begitu terpesona melihat hasil fotonya, terlebih objeknya aku—aku yang sangat cantik dan berbakat. Aku begitu senang dengan keadaan di tempat pemotretan. Setelah selesai pengeditan aku mengganti bajuku dan menghilangkan riasan tebal di wajahku; tak lupa mencuci rambutku agar kembali menjadi merah muda seperti yang kusuka. Warna rambut kebanggaanku, sebodo amat dengan orang-orang yang menanggapku warna rambutku aneh.

Aku berpakaian seperti semula dan begitu aku kembali ke ruang pemotretan sudah di sediakan hidangan lezat di meja. Para kru mengajakku untuk makan siang bersama. Siang? Oh, apakah ini sudah siang? Ya, ampun hari terasa begitu cepat ya. Aku menerima tawaran mereka untuk makan bersama, sambil berkenalan dengan para kru, aku berbicara dengan Chris mengenai masa depanku. Dia terus bertanya apa yang akan kulakukan selanjutnya? Apa pekerjaanku?

Dan begitu aku menyebutkan pekerjaanku, dia langsung memasang raut heran dan mengajakku untuk menjadi modelnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Di sisi lain aku suka bekerja di sini, aku menyukai ceritaku yang kutulis di majalah ini. Dan di sisi yang lainnya aku suka menjadi model—sangat menikmati ketika kamera itu membidik ke arahku.

Perbincangan mengalir sangat mengasyikan sehingga aku lupa waktu dan lupa segalanya. Kulihat jam di tangan menunjukkan 17.45, bagus, aku belum mengecek ponsel daritadi, aku pun tidak tau dimana tas dan slayerku. "Permisi, apa kau lihat tas dan slayerku yang berwarna hitam?" tanyaku pada salah satu kru yang aku lupa namanya.

"Oh, ada di tempat rias, tadi Marrie meletakkannya di situ." Jawabnya sopan. Ya, Marrie siapa itulah, aku tidak kenal padanya. Ngomong-ngomong daritadi aku tidak melihat Franz, sudahlah lupakan saja dia.

Begitu aku sampai di tempat rias aku melihat tas dan slayerku tergeletak apik di sana. Ku ambil tasku lalu ku cari rokok dan pematik api.. Setelah mengeluarkan asap untuk yang kedua kalinya aku mengambil ponselku. Dan, kejutannya adalah limapuluh tujuh missedcall dan duapuluh lima pesan singkat. Aku membelalakkan mataku, ku cek siapa saja yang memanggilku—Sasuke yang paling banyak menelpon, ada nomor tak dikenal, dan juga teman-temanku. Tak lupa kubaca pesan-pesan singkat tadi. Sekali lagi aku membelalakan mataku, yang benar saja, aku sampai lupa kalau hari ini Naruto pulang. Aku menelepon Sasuke dengan cepat.

Tut…tut…tut…

Lalu diangkat.

"Sakura-chan, kau kemana saja? Aku sangat mencemaskanmu, Sayang. Kalau kau memang tidak bisa ikut menjemput Naruto setidaknya bilang padaku. Aku sudah beberapa kali meneleponmu dan mengirimimu pesang singkat. Tapi sama sekali tidak digubris olehmu, aku sangat mengkhawatirkanmu tahu?" Ujarnya dengan nada penuh kepanikan. Suara Sasuke yang menyebutku 'Sayang' berbeda dengan Naruto dulu, tapi tetap saja aku dapat merasakan bahwa pada saat dia mengatakan hal itu disertai dengan perasaan yang sama.

"Sasuke, tenang saja. Tadi aku hanya sangat sibuk, sangat-sangat sibuk, sampai-sampai aku tidak menyentuh ponsel sedari tadi." Kataku menenangkannya.

"Sibuk? Tapi kau tidak pernah sesibuk ini sebelumnya? Apa yang sedang kau lakukan, memangnya?" tanya Sasuke penasaran.

"Nanti kalau kita bertemu akan kujelaskan. Tenang saja, sehabis ini aku akan langsung ketempatmu. Aku sangat merindukan Naruto." Ujarku asal saja tanpa mempedulikan perasaan Sasuke.

"Kau merindukannya? Sangat?" ia bertanya dengan nada yang menyelidik.

"Ah, lupakan. Aku hanya merindukannya sebagai teman dan tidak lebih. Baiklah, sekarang kau dimana? Biar kususul." Tanyaku balik karena tidak mau memperpanjang masalah ini.

"Aku di rumah. Kau akan kujemput atau bagaimana?" tawarnya.

"Tidak, tidak usah. Aku bawa mobil kok." Jawabku memastikan bahwa aku baik-baik saja.

"Baiklah, hati-hati ya. Sampai jumpa, bye. I love you."

"Love you too." Telpon ku putus.

Lalu aku keluar dari tempat rias. Di luar sudah terlihat sepi—hanya ada beberapa kru saja. Chris juga sudah tidak ada. Aku memutuskan pergi menuju rumah Sasuke sekarang juga.

***

Begitu aku sudah dekat rumah Sasuke, aku mengirimnya pesan singkat mengabarkan bahwa aku sudah sampai, tolong bukakan pintu gerbang. Hari ini aku sangat lelah, terlebih besok aku harus menulis cerita lagi untuk chapter limapuluh satu dan beberapa cerpen. Aku melihat Sasuke sedang membukakan pintu garasi untukku, kupikir aku akan menginap di sini.

Masalahnya aku sampai di rumah Sasuke saat jam sudah menunjukkan angka sembilan. Belum lagi obrolan panjang dengan mereka berdua pasti tidak ada habisnya. Aku memarkirkan mobil dengan benar di garasi rumah Sasuke, mematikan mobil, lalu turun dari mobil merah yang belum sempat kucuci dari kemarin.

"Mobilmu belum kau cuci?" tanya Sasuke seraya menarikku dari mobil ke dalam pelukkannya. Aku tidak begitu menikmati tubuhnya yang memelukku, terasa dingin. Yah, tapi aku menikmati cara dia memelukku. Aku yang memang benar-benar lelah, kubenamkan kepalaku di dadanya yang bidang namun dingin, membuatku tak begitu menyukainya.

"Ehem," kudengar suara orang berdehem. "Sakura, huh?"

Ya, suaranya Naruto. Itu dia, tapi dia berbeda. Gaya bicaranya begitu dingin, meski suara yang di hasilkan tetap saja hangat. Aku melepaskan pelukan Sasuke untuk melihat Naruto. Naruto yang sudah pintar, dia baru kembali dari Amerika. Di sana dia mengambil S2. Dia semakin hebat, pintar, dan tampan. "Hai, Naruto, apa kabarmu?"

"Aku, baik. Kau?" tanyanya datar sambil menatap kami berdua bergantian.

"Baik, tentu saja." Kuberikan senyum termanisku untuknnya.

"Tidak enak mengobrol di luar, ayo kita masuk ke dalam." Ajak si pemilik rumah, Sasuke. Dia menggandengku dengan bangga di depan Naruto.

Begitu masuk rumah, Sasuke menuangkan sampanye untukku, Naruto, dan dia sendiri. "Jadi Sakura, apa yang kau lakukan hari ini sehingga kau sangat sibuk?"

"Begini, di bagian modelling, model untuk covernya mengalami kecelakaan. Jadi aku yang menggantikannya. Lagipula aku menyukainya, aktivitas yang menyenangkan tapi sangat melelahkan. Boleh 'kan hari ini aku menginap di sini?" jelasku panjang lebar kepada Sasuke sekaligus memohon dengan puppy eyes.

"Tentu saja boleh, mau tidur dengan siapa? Denganku atau dengan Naruto?" tanyanya menggoda. Sialan, dia selalu saja buat lelucon yang tidak lucu.

"Kau tidak lucu, Idiot!" hardikku kesal.

"Ayolah Babe, siapa yang kau pilih untuk menemani malammu?" pertanyaannya yang kurang ajar itu membuat wajahku memerah. Sialan, memang benar-benar sialan pria satu ini.

"Eh, Bodoh. Aku akan tidur di sofa jika kau terus memberikan pertanyaan aneh-aneh ini kepadaku." Jawabku ketus.

Sasuke memasang tampang menyesal, "Ayolah, Sakura sayang, jangan ngambek begitu. Minum dulu sampanye-nya."

Naruto hanya diam saja—padahal biasanya dia orang paling ribut dan paling suka menggodaku. "Hentikan. Huh, dasar kalian semua idiot." Ujar Naruto tiba-tiba padaku dan itu membuatku kaget, sedangkan Sasuke menatapnya sengit.

"Sialan kau! Berani-beraninya mengataiku idiot! Kau itu yang idiot!" Sasuke menyilangkan tangan di dada menatap Naruto yang hanya duduk tenang sambil menegak sampanyenya.

"Aku sudah S2, yang benar saja kalau idiot?" balas Naruto dengan datar tapi cukup membuat Sasuke berapi-api. Pemandangan yang aneh, ini benar-benar sangat janggal.

Aku, Naruto, dan Sasuke melanjutkan perdebatan tidak penting mengenai idiot dan kita bercerita tentang pengalaman masing-masing. Malam yang sangat seru, kami benar-benar sudah gila. Malam itu aku tidur dengan Sasuke. Rasa lelahku langsung hilang begitu meminum sampanye dan bercanda ria bersama kedua sahabatku. Aku mencitai mereka lebih dari segala apapun, kalau sudah berkumpul rasanya tidak ada yang kurang. Tapi malam ini aku merasakan adanya kejanggalan di antara mereka berdua.


Huaaah, masih nggak jelas, foto-foto itu juga ada maknanya lho! Bukan sembarang lewat. Ingat ini emang belum menarik untuk di baca tapi lihat chapter tiga entar hoho, anda pasti aka tertarik *promosi kepedean* *dibuang*

Thx for visiting, reading, and reviewing. Pengennya sih di review, biar tambah niat ngerjain chapter-chapter setelahnya.

Cerita di atas hanya fiksi belaka, apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, dan kejadian, semuanya hanya kebetulan semata.

With love,

Kristi Tamagochi

(words: 3,147)