Chapter 2.
"Woooi! Berhenti KAMU!" seru namja tadi.
"Ayo Kibum! Jangan berhenti! Jangan liat kebelakang!" Ucap Siwon. Kibum terus berlari. Terdengar suara tembakan dari gedung tadi. Beruntung peluru-peluru itu tidak mengenainya, hanya sempat nyaris melukai tubuhnya jika dia tidak terpeleset dan terjatuh sesaat hingga peluru itu mengenai pohon besar di sebelahnya. Dia tak membuangkan waktu untuk berlari lagi.
Tanpa disadari dia sudah berlari sampai ke jalan dimana dia melihat Siwon diseret oleh orang bertubuh besar itu, yang berarti dekat dengan rumah kontrakannya. Dia berhenti sejenak untuk menghela nafas sambil memandang kebelakang, namja bertubuh besar tadi tak terlihat lagi.
"Kibum! Kibum!" Panggil seseorang dari arah belakang Kibum. Kibum memandang kearah belakang, matanya membesar melihat seorang namja yang tadi pagi membuatnya lari dari kontrakan.
"Itu siapa?" Tanya Siwon heran.
"Appa-ku!" Ucap Kibum pelan, lalu langsung berlari melarikan diri lagi.
"Lho, kenapa kamu kabur?" Siwon mengikuti Kibum.
_o0o_
Tittle: Another Love Story.
Author: Hannaevani.
Editor: Bluedevil9293.
Disclaimer: This story belong to Hannaevani.
Main Cast:
- SiBum.
Other Cast:
- HyunMin as Ortu Kibum.
- GDTOP as Ortu Siwon.
Chap: 3 of 4.
Genre: Romance, Drama, Little Hurt, Dead Chara, Ghost, Family.
Rated: T.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy. Please, Don't Like Don't Read. No bashing and flame, Like and comment if you like this fanfic.
Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publis, no plagiat, yes to like and comment.
Summary: Kibum seorang namja berumur 17 tahun yang kabur dari rumah dan tinggal sendiri bertemu dengan seorang namja tampan di sebuah toko CD yang membawanya ke dalam sebuah kejadian-kejadian tak terduga.
_o0o_
Chapter 3.
Author Pov…
"Oh! jadi gitu?" Ucap Siwon setelah mendengar alasan Kibum kenapa kabur dari appanya tadi. Kibum menunduk memandangi jemarinya. Dia dan Siwon berada dibawah sebuah terowongan yang sering dia datangi ketika merasa tak mempunyai tempat untuk sendiri. Hari sudah gelap, hujan turun perlahan membasahi bumi. Dia memandangi rintik-rintik hujan yang turun semakin deras sambil memeluk kedua kakinya. Udara malam yang dingin mulai menusuk kulitnya. Berkali-kali dia merapatkan jaket.
"Tapi kenapa kamu kabur? Mungkin aja appa-mu datang untuk minta maaf karena dia udah menyadari kesalahannya atau mau menyampaikan hal penting lainnya." Ucap Siwon. Kibum memandang Siwon.
"Hmm… kemungkinan itu Cuma 5% akan terjadi." ucapnya, "Kamu nggak pernah tau gimana dia udah nyakitin aku. Bukan hanya hati aku. Tapi seluruh masa depan aku."
"Kibum, 5% tetap saja peluang." Ucap Siwon.
"5% itu sangat kecil! Aku nggak mau mengambil resiko hanya untuk 5%." Ucap Kibum.
"Bukan hanya 5%. Tapi kamu masih mempunyai 5% kan." Ucap Siwon. Secara tidak langsung dia ingin memberi motivasi pada namja cantik itu. Kibum senang mendengar ucapan Siwon, paling tidak ada yang menghibur hatinya saat ini.
"Umur kamu berapa?" Tanya Siwon.
"17 tahun, kenapa?" Tanya Kibum penasaran. Siwon agak terkejut mendengar jawaban Kibum.
"Waktu aku ketemua kamu di toko kaset sekitar jam 10 pagi, seharusnya jam segitu kamu ada di sekolah kan?" Tanyanya. Kibum mengerti maksud Siwon.
"Hmm… memang seharusnya begitu. Tapi bagaimana aku bisa sekolah kalau setiap hari aku harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri?"
"Jadi, setelah kamu kabur, kamu nggak tinggal sama saudara atau siapa gitu?" Tanya Siwon lagi.
"Nggak, aku nggak punya siapa-siapa selain Umma dan appa-ku. Aku nggak kenal siapa pun yang bisa menolongku. Setelah kabur dari rumah, aku berusaha mati-matian melanjutkan hidup sendirian. Setahun sebelum aku dapet kerja tetap dan bisa nyewa kontrakan, aku tidur di mana aja. Aku kerja apa aja. Dan suatu hari ketika semuanya terlalu berat, aku hampir..." Kibum menahan kata-katanya. Siwon menunggu kata-kata selanjutnya, dia memposisikan dirinya sebagai pendengar yang baik. Dia bisa melihat kedua bola mata Kibum berkaca-kaca. Kibum menyibakan poninya yang menutupi wajah, lalu memandang Siwon dengan wajah tegarnya. "Aku hampir tergoda untuk menjadi pelacur. Karena aku nggak bisa ngelakuin apapun selain menjual diri." Siwon tampak tak percaya, dia memandang Kibum dari atas kebawah.
"Maksud kamu, kamu udah nggak..." Dia tak melanjutkan ucapannya.
"Tentu aja masih!" Seru Kibum, "Aku bilang HAMPIR!" Siwon lega mendengar itu, dia kembali diam dan mendengarkan.
"Tapi ingatan tentang almarhum Umma menyadarkanku. Kalau aku masih punya tangan, aku masih punya kaki. So, aku bisa berusaha dengan cara yang baik. Aku nggak mau suatu saat orang-orang ingat tentang aku sebagai pelacur yang udah menghancurkan rumah tangganya, atau lebih buruk dari itu. dengan usaha aku, akhirnya aku dapet pekerjaan di toko kaset itu." Cerita Kibum, sekaligus mengklarifikasi ucapannya tadi. Siwon mengangguk mengerti. Dia memandang Kibum kagum, tak menyangka namja cantik semuda itu telah mengalami hidup seberat itu. sedangkan dia tidak pernah merasa menderita seumur hidupnya.
"Kamu tau, sekarang umur kamu masih 17 tahun. Tapi kamu udah ngalamin hal yang seharusnya kamu rasain mungkin setelah umur 25 tahun. Aku salut kamu bisa melewati ini semua." Kibum tersenyum tipis. Tak tau harus tersanjung atau sedih manyadari kehidupannya yang menyedihkan.
"Kamu tau, sejak lahir. Aku nggak pernah kekurangan apapun. Dan aku bukan orang yang selalu meminta pada orang tua walaupun aku bisa. Sejak kecil halmonie-ku selalu mengajarkan untuk berusaha sendiri, tapi sekeras apapun aku berusaha, aku tetep aja menggunakan apa yang udah orangtua-kuberikan. Tapi aku nggak pernah ngerasa semua itu salah, karena aku anak mereka dan wajar mereka memenuhi kebutuhanku. Teman-teman aku juga ngelakuin itu, jadi kenapa aku nggak? Tapi, setelah aku ketemu kamu. Walaupun kondisiku bukan sebagai orang hidup, aku ngerasa malu banget! Aku malu pada diriku sendiri. Bulan depan aku pas 19 tahun, tapi apa yang udah aku perbuat untuk diri aku sendiri? Nggak ada! Sedangkan kamu yang lebih muda dari aku udah bisa menghidupi diri kamu sendiri." sorot mata Siwon menunjukkan dia benar-benar rasa salutnya. Kibum memandang Siwon sejenak. Lalu dia berkata,
"Pernah suatu hari, sehari sebelum aku kabur dari rumah, aku mikir. Kenapa aku nggak terlahir sebagai anak orang kaya yang mempunyai segalanya, kenapa aku nggak terlahir dikeluarga harmonis yang saling menyayangi. Aku nangis sepanjang malam sampai mataku bengkak. Tapi aku nggak pernah mendapatkan jawaban itu. setelah aku mengalami hal yang lebih berat dari itu, aku baru mendapatkan jawabannya." dia diam sejenak menunggu tanggakpan Siwon.
"Apa?" tanya Siwon.
"Aku nggak terlahir sebagai anak orang kaya bukan karena aku ditakdirkan miskin. Aku nggak terlahir dikeluarga yang harmonis bukan karena aku mempunyai appa yang kasar. Tapi karena aku diberi pelajaran tentang hidup yang sesungguhnya. Dimana aku harus berkerja keras untuk memperbaiki hidupku agar tidak terjadi lagi untuk keluargaku nanti. aku bisa belajar bagaimana caranya menjalani hidup yang keras sebelum aku tiba-tiba menemui itu." Ucap Kibum dengan senyum optimisnya. Siwon benar-benar tak menyangka kata-kata sedewasa itu akan keluar dari bibir mungil namja cantik itu.
"Kibum, kamu bisa nebak apa yang aku pikirin?"
Dahi Kibum berkerut, "Gimana aku bisa? Aku bukan peramal." Siwon tersenyum tipis.
"Aku mikir. Kalau aja sekarang kita mengobrol dalam keadaan normal." Kibum hanya diam, dia memalingkan wajahnya memandang hujan. Sebenarnya dia ingin menyembunyikan matanya yang mulai berair. Belum ada orang yang benar-benar menghargai keberadaan dirinya setelah ummanya meninggal. "Dan Kibum." Panggil Siwon.
"Hmm." Gumam Kibum tanpa memandang Siwon.
"Aku berharap, kamu akan hidup bahagia. Benar-benar bahagia. nggak perlu lagi lari dari apapun. Dan suatu hari nanti kamu akan meninggal dengan senyuman diwajah mu di kasur yang hangat, dikelilingi orang-orang yang menyayangi kamu." Ucap Siwon menghela nafasnya yang mulai berat, air mata menitik satu persatu. Namun dia segera menghapusnya, tak ingin Siwon menyadarinya.
Meskipun Kibum mencoba menyembunyikan wajahnya, Siwon dapat merasakan apa yang dirasakan oleh namja cantik manis itu. tangannya bergerak menyentuh rambut namja cantik itu. Berusaha untuk membelainya, tapi dia tak bisa menyentuh namja cantik itu. semua ini membuatnya hampir gila. Menjadi hantu yang bergentayangan mencari tubuhnya, itu akan menarik jika berada di sebuah film. Tapi dia tak senang jika mengalaminya. Dia memikirkan pembicaraan lain untuk melewati suasana, dan dia teringat ucapan namja tadi ditelpon.
"Kibum, apa menurut kamu, yang dimaksud orang tadi dengan 'anak itu'. itu aku?" Kibum membersihkan sisa air mata dan memandang Siwon.
"Aku rasa. Karena apa mereka akan menyulik banyak anak dalam waktu yang bersamaan?"
"Aku rasa juga begitu. Tapi, lubang apa yang mereka maksud?" Tanya Siwon. Kibum berpikir sebentar.
"Aku nggak begitu tau. Tapi aku rasa aku tau dimana tebing yang dia bicarain."
"So, besok kamu mau nyoba ke jurang itu?" Tanya Siwon.
"Hmm… sepertinya." Ucap Kibum. Siwon cukup puas mendengar ucapan Kibum. Dan pembicaraan selesai.
_o0o_
"Kamu yakin mau ke gedung itu lagi?" Tanya Siwon ketika dia dan Kibum mengendap-endap dibalik sebuah pohon sambil memperhatikan gedung kemarin.
"Iya, karena kita nggak tau apa tubuh kamu udah dipindahin atau belum sama mereka." Ucap Kibum sambil memperhatikan gedung itu.
Didepan gedung berdiri dua orang namja bertubuh besar dengan baju serba hitam disebelah sebuah mobil yang juga berwarna hitam. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu yang penting. Dari jauh Kibum bisa mengenali salah seorang namja yang berdiri disana adalah namja yang hampir menangkap dan menembaknya kemarin. Dia harus lebih berhati-hati. Tiba-tiba mata namja kemarin itu menyapu pepohonan dan tampak terkejut melihat pohon tempatnya bersembunyi, jantung Kibum sempat berdegup kencang. Dia takut jika ketahuan. Tapi ternyata namja itu tampak tidak curiga, dia melanjutkan pembicaraan. Beberapa saat kemudian, namja yang kemarin pergi meninggaklkan temannya. Lama Kibum menunggu namja kedua ikut pergi, hinggak dia bisa kembali menyelinap kedalam gedung.
"Kibum." Panggil Siwon sambil memandangi kedua tangannya. Kibum memandang Siwon, matanya langsung melotot melihat tubuh Siwon yang mulai menghilang.
"Siwon, kamu kenapa?" Bisiknya panik. Siwon menggeleng.
"Nggak tau, aku bener-bener nggak tau. kenapa bisa gini?" semakin lama tubuh Siwon menghilang hinggak tak ada yang tersisa.
"Siwon? Siwon!" Panggil Kibum. Tapi Siwon tak pernah muncul kembali, dia memandang kesekeliling. Namun ketika memandang kebelakang, betapa terkejutnya dia ketika menyadari namja yang kemarin sudah berdiri dibelakangnya.
"Apa kabar cantik?" ucap namja itu sambil tersenyum sinis. Kibum berbalik dan mencoba kabur, tapi namja itu dengan cepat menarik lengan dan menjambak rambutnya. Dia tak bisa berkutik lagi.
"Mau kemana manis? Apa kamu nggak mau main sama aku dulu?" Tanya Namja itu sambil tertawa.
"Lepasin! Awww! Sakit!" jeritnya ketika namja itu menarik rambutnya terlalu keras. Namja kedua muncul dari balik pohon.
"Jangan buang-buang waktu, bawa dia dan masukkan ketempat bocah ingusan kemarin! Kita nggak mungkin ngelepasin dia!"
"Ayo ikut!" Seru namja tadi sambil menyeret tubuh Kibum kedalam gedung.
"AAWW! Sakit!" Kibum terus memberontak, tapi semakin dia berontak, namja itu semakin erat memegang lengannya. Akhirnya dia tak bisa melakukan apapun selain mengikuti dua namja itu.
"Langsung aja bawa dia ke tempat anak itu!" Perintah namja kedua. Maksudnya Siwon? Batin Kibum.
"Baik bos." Ucap namja tadi. Kibum malah tak sabar ingin segera bertemu dengan tubuh Siwon, meskipun dia masih tak mengerti mengapa tiba-tiba arwah Siwon menghilang. Dia berpura-pura memberontak agar mereka tak ragu untuk membawanya ketempat tubuh Siwon. Tapi hal itu malah membuat tasnya terjatuh, dan.
PLAKKK!
Namja besar itu menampar Kibum hinggak sudut bibirnya pecah dan menyeluarkan darah. Namja cantik itu tak bisa memberontak lagi. Semuanya terasa seperti berputar. Namja itu membawa Kibum melewati hutan-hutan di sebelah gedung. Tak lama kemudian namja itu berhenti dan meraba-raba tanah yang ditutupi dedaunan kering, lalu dia menarik sesuatu yang ternyata pintu rahasia. Dengan satu tangan dia mendorong tubuh Kibum kedalam lubang dibalik pintu itu.
DUAAKK!
Tubuh Kibum membentur permukaan keras. Tubuhnya terasa remuk. Sepertinya jarak dari dasar lubang ini dengan permukaannya sangat jauh. Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya untuk beberapa saat, dia hanya bisa terbaring kaku dipermukaan curam dan dingin itu. semuanya gelap, apalagi setelah namja itu menutup pintu tadi dengan keras. Tapi setelah beberapa saat, ternyata tak segelap awalnya, dia hanya perlu membiarkan pupil matanya terbiasa dengan gelap. Dan semuanya terlihat jelas walaupun seperti melihat dalam ruangan berlampu 5 watt. Setelah memastikan tak ada tubuhnya yang patah, dia perlahan bergerak bangkit. Ketika melihat kesamping kanan, dia melihat sesosok tubuh tergelak tak bergerak.
"Siwon?!" dia berusaha secepat mungkin untuk mendekati tubuh Siwon. Kondisi Siwon sangat memperhatinkan, terdapat beberapa lebam diwajahnya. Tubuh altletis yang terbalut sweater abu-abu itu terkuali lemah tak berdaya. Dia benar-benar tak tega melihat kondisi namja tampan itu. dia membuka penutup matanya perlahan, tak ada respon dari Siwon. Tiba-tiba terdengar langkah besar dari atas, dan pintu diatas kepalanya terbuka. Dia segera berbaring dan berpura-pura pingsan. Ketika itu dia baru menyadari kalau ada sebuah tangga yang menempel di dinding. Terdengar suara dua orang namja yang saling berkomunikasi, setelah itu seorang dari mereka turun. Jantungnya berdegap kencang, berharap tak terjadi apa-apa pada dirinya. Dia merasakan langkah besar melewati pinggakngnya. Dia mengintip dari celah matanya, namja itu mengangkat tubuh Siwon dengan susah payah.
"Duhh. kayaknya mati beneran nih bocah!" Ucap namja itu pada temannya setengah berteriak.
"Biarin aja! Kan lebih gampang ngebuangnya." Ucap namja yang diatas lubang santai.
"Serius kamu? Trus, nih namja cantik mau diapain?" Tanya namja pertama tadi lagi.
"Udah, nggak usah dipikirin. Biarin aja dia membusuk disini." Ucap namja kedua, lalu melemparkan seutas tali kebawah. Namja pertama mengikatkan tubuh Siwon pada tali dan membiarkannya naik keatas, lalu dia naik melalui tangga. Tak lama kemudian terdengar bantingan pintu dan semua kembali gelap.
_o0o_ To Be Continue _o0o_
