Chapter 3.
DUAAKK!
Tubuh Kibum membentur permukaan keras. Tubuhnya terasa remuk. Sepertinya jarak dari dasar lubang ini dengan permukaannya sangat jauh. Dia tak bisa menggerakkan tubuhnya untuk beberapa saat, dia hanya bisa terbaring kaku dipermukaan curam dan dingin itu. semuanya gelap, apalagi setelah namja itu menutup pintu tadi dengan keras. Tapi setelah beberapa saat, ternyata tak segelap awalnya, dia hanya perlu membiarkan pupil matanya terbiasa dengan gelap. Dan semuanya terlihat jelas walaupun seperti melihat dalam ruangan berlampu 5 watt. Setelah memastikan tak ada tubuhnya yang patah, dia perlahan bergerak bangkit. Ketika melihat kesamping kanan, dia melihat sesosok tubuh tergelak tak bergerak.
"Siwon?!" dia berusaha secepat mungkin untuk mendekati tubuh Siwon. Kondisi Siwon sangat memperhatinkan, terdapat beberapa lebam diwajahnya. Tubuh altletis yang terbalut sweater abu-abu itu terkuali lemah tak berdaya. Dia benar-benar tak tega melihat kondisi namja tampan itu. dia membuka penutup matanya perlahan, tak ada respon dari Siwon. Tiba-tiba terdengar langkah besar dari atas, dan pintu diatas kepalanya terbuka. Dia segera berbaring dan berpura-pura pingsan. Ketika itu dia baru menyadari kalau ada sebuah tangga yang menempel di dinding. Terdengar suara dua orang namja yang saling berkomunikasi, setelah itu seorang dari mereka turun. Jantungnya berdegap kencang, berharap tak terjadi apa-apa pada dirinya. Dia merasakan langkah besar melewati pinggakngnya. Dia mengintip dari celah matanya, namja itu mengangkat tubuh Siwon dengan susah payah.
"Duhh. kayaknya mati beneran nih bocah!" Ucap namja itu pada temannya setengah berteriak.
"Biarin aja! Kan lebih gampang ngebuangnya." Ucap namja yang diatas lubang santai.
"Serius kamu? Trus, nih namja mau diapain?" Tanya namja pertama tadi lagi.
"Udah, nggak usah dipikirin. Biarin aja dia membusuk disini." Ucap namja kedua, lalu melemparkan seutas tali kebawah. Namja pertama mengikatkan tubuh Siwon pada tali dan membiarkannya naik keatas, lalu dia naik melalui tangga. Tak lama kemudian terdengar bantingan pintu dan semua kembali gelap.
_o0o_
Tittle: Another Love Story.
Author: Hannaevani.
Editor: Bluedevil9293.
Disclaimer: This story belong to Hannaevani.
Main Cast:
SiBum.
Other Cast:
HyunMin as Ortu Kibum.
GDTOP as Ortu Siwon.
Kim Jaejoong.
Kim Heechul.
Park Jungso.
Chap: 4 of 4.
Genre: Romance, Drama, Little Hurt, Dead Chara, Ghost, Family.
Rated: T.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read. No bashing and flame, Like and comment if you like this fanfic.
Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publis, no plagiat, yes to like and comment.
Summary: Kibum seorang namja berumur 17 tahun yang kabur dari rumah dan tinggal sendiri bertemu dengan seorang namja tampan di sebuah toko CD yang membawanya ke dalam sebuah kejadian-kejadian tak terduga.
_o0o_
Chapter 4.
Author Pov…
Kibum membuka matanya perlahan, dia segera bangkit dan meraba-raba mencari tangga tadi. Dengan hati-hati dia memanjat tangga. setelah tiba di puncak tangga, dia berusaha membuka pintu dengan kepala dan sebelah tangan. Bersyukur pintu itu tidak dikunci atau di tahan oleh apapun. Dia segera keluar dari lubang dengan hati-hati. Ketika itu dia baru menyadari tangan dan kakinya lecet di beberapa tempat. Setelah memastikan lingkungan aman, dia melangkah cepat keluar dari hutan.
Siwon pasti sudah dibawa ke jurang itu, tapi dia tak mungkin datang kesana dengan tangan kosong. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke gedung tua itu untuk mengambil tas, itu pun jika para namja itu tidak membuang tasnya. Dia melangkah perlahan menuju gedung tua sambil menahan sakit di kakinya. Dia bersembunyi dibalik sebuah pohon sambil memperhatikan keadaan gedung, tak terlihat ada orang disana. Sepertinya kedua orang tadi tidak ada, dia segera melangkah masuk ke gedung dan mencari tasnya. Ternyata tas berwarna hitam itu masih berada di tempat ketika dia jatuh.
Dengan cepat dia membuka tas dan mengluarkan pistol serta handphone Siwon. Sambil melirik kanan dan kiri dia memasukkan handphone Siwon ke saku celana, lalu berjalan keluar dengan memegang pistol. Meskipun tak pernah menggunakannya, tapi dia sudah biasa melihat dalam adegan di film. Paling tidak dia tahu bagaimana cara untuk menggunakannya. Dia menelusuri hutan sambil tetap was-was. Dengan sigap dia segera bersembunyi di balik sebuah pohon ketika melihat dua orang namja besar tadi diujung jalan.
"Si bos aneh banget! Ngapain ngebiarin tuh bocah disana. Tinggal di lempar ke jurang kan beres, gak ada bukti lagi kalau kita yang udah nyulik dia." Ucap Seorang namja ketika berlalu.
"Iya, kalau gini ceritanya keburu ketangkep kita." Ucap yang satu lagi. Kibum lega mendengar itu, berarti tubuh Siwon belum dibuang kejurang, dia harus bergerak cepat agar tidak terlambat. Dia segera menyelinap diantara pohon menuju pinggir jurang. Jurang itu sangat dalam, jika terjatuh kedalam mungkin akan langsung mati. Dari kejauhan dia bisa melihat tubuh Siwon yang tergeletak beberapa inci dari pinggir jurang. Disana hanya satu orang yang berdiri memandang kearah langit-langit jurang, namja bertubuh atletis itu terlihat sangat tenang sambil memasukkan kedua tangannya disaku. Dari belakang namja itu terlihat familiar dimatanya. Dia menggenggakm erat pistol sambil berjalan mendekati namja itu.
"Kenapa kamu nyulik Siwon?" Tanya Kibum pelan. Namja itu tak terlihat kaget mendengar suara Kibum. Dia berbalik pelan dan memandang namja cantik itu. Kibum terkejut melihat namja itu. namja yang tak asing dimatanya. Jaejoong, bosnya di toko kaset. Dia memandang namja tampan itu tak percaya, "Jaejoong?" Jaejoong tersenyum.
"Hei Kibum, datang untuk melihat-lihat?" Kibum benar-benar tak percaya Jaejoong ada dibalik penculikan Siwon, seseorang yang menurutnya ramah dan hangat.
"Jaejoong, kamu bos orang-orang itu?" Jaejoong tersenyum bangga, seperti seorang anak kecil yang baru saja menjuarai sebuah perlombaan.
"Ya, keren kan." nada bicaranya masih seperti biasa, sangat akrab dan suka membuat beberapa lelucon.
"Tapi kenapa?" Tanya Kibum. Jaejoong mengeluarkan kedua tangannya dari saku dan melipatnya didada.
"Hmm. tentu ada alasan kan."
"Apa alasannya? Kenapa kamu nyulik Siwon? Salah dia apa?" Tanya Kibum lagi. Jaejoong memandang Kibum lembut.
"Kibum, terkadang kita harus berpura-pura tidak tau agar selamat. Kamu ngerti kan maksud aku?" Kibum mengerti, Jaejoong memintanya untuk tetap diam dan tidak ikut campur. Dia memandang tubuh Siwon.
"Kibum, kamu udah masuk terlalu dalam. Jadi aku mohon jangan melangkah lagi, segera mundur dan hidup seperti biasa. Kamu tau, aku nggak bisa ngeliat namja manis kayak kamu terluka."
"Jaejoong, aku datang kesini untuk membawa tubuh Siwon!" Seru Kibum. Jaejoong tak terkejut, malah terlihat kagum.
"Wow, kamu tau namanya."
"Jaejoong, berhenti bercanda! Kamu harus bawa Siwon pulang! Kamu tau kan betapa besarnya berita tentang penculikan Siwon! Apalagi kamu udah ngebunuh dia." Ucap Kibum. Jaejoong memandang Siwon.
"Sepertinya kamu nggak akan ngebiarin semua ini berlalu begitu aja." dia melirik Kibum, "Ya kan?"
"Tentu aja! Kamu bisa dipenjara karena udah ngebunuh orang!" seru Kibum. Jaejoong tertawa kecil.
"Ya, memang. aku pasti di penjara lama banget karena udah ngebunuh orang dengan sengaja. Tapi itu kan kalau ada yang tau aku dalangnya, kalau nggak ada? Aku bebas kan?" Jantung Kibum berdegup kencang, perasaannya mulai tidak enak. Jaejoong sudah mengancamnya. Dia memperat genggakmannya pada pistol. Perlahan Jaejoong melepas lipatan tangannya, tangan kanannya bergerak mengambil sesuatu dibalik bajunya. Ternyata senjata api laras pendek dengan peredam suara. Kibum segera mengcungkan senjatanya kearah Jaejoong sebelum kalah langkah. Mata Jaejoong membesar kagum.
"Wow! Reflek yang bagus. Kamu bisa masuk ke kelompok penembak pribadi aku kalau kamu mau."
"Jaejoong! Aku nggak tau apa alasan kamu menculik Siwon, tapi apa yang kamu lakuin ini salah!" Ucap Kibum berusaha menyadarkan Jaejoong.
"Kamu mau tau alasannya?" Jaejoong memandang langit dan menjawab sebelum Kibum bicara. "Karena aku juga anak dari seorang pengusaha Choi Seung Hyun! Seharusnya nama aku adalah Choi Jaejoong." Dahi Kibum berkerut.
"Apa?!"
"Dan kamu tau semuanya. Aku anak dari dari appa sebelum dia nikah dengan Umma-nya. Dan kamu tau, aku sama Umma aku dibuang gitu aja sama dia. Setelah itu Umma-ku bunuh diri, dan tinggal aku yang harus hidup sendiri ditengah cacian dan makian orang-orang. Hingga akhirnya aku berhasil ngebuka toko kaset. Hidup aku mulai teratur." Cerita Jaejoong. Semuanya mulai terlihat terang bagi Kibum.
"Jadi karena itu kamu dengan gampang nerima aku untuk kerja di toko kamu? Karena nasib kita sama?!"
"Yup! Betul banget! Baik banget kan aku, woow." Jaejoong tertawa manis. Pasti tak akan ada yang menyangka dia telah melakukan semua ini jika melihat wajahnya.
"Tapi Jaejoong, apa gunanya kamu ngebunuh Siwon? Dia nggak tau apa-apa." Ucap Kibum.
"Siwon memang nggak tau apa-apa. Tapi appanya kan tau, so aku mau bikin appanya, atau appa-ku itu, ngerasain gimana harapannya hancur seketika!" ucap Jaejoong. Air mata Kibum menetes, dia dapat merasakan kepedihan yg dirasakan Jaejoong meskipun dia memamerkan senyum manisnya.
"Jaejoong, sekarang udah selesai kan? Nggak ada gunanya kamu buang Siwon kejurang." Jaejoong tertawa kecil.
"Jadi kamu belum ngerti?" Kibum memandang Jaejoong tak mengerti.
"Siwon belum mati!" Ucap Jaejoong santai. Kibum terkejut.
"Hah?!" dia memandang tubuh Siwon, terlihat seperti mayat.
"Dan Kibum, aku rasa kamu mau mati disini sama adek TIRI-ku." Jaejoong mengangkat pistolnya dan menarik pelatuknya. Disaat yang bersamaan Kibum juga melakukan hal yang sama.
Dor! Terdengar letusan besar, dari kedua pistol.
"Ahkkk!" Kibum memegang perut sebelah kirinya yang tertembus peluru, darah mengalir deras dari luka itu.
"Ahkkk!" Jaejoong tak sempat memegang bahunya ketika dorongan peluru dari pistol Kibum mendorong tubuhnya kebelakang, dia tak mampu melawan gravitasi bumi hinggak terjatuh ke jurang. Kibum terjerembab ke tanah, perutnya terasa sangat nyeri. Dia menyeret tubuhnya mendekati Siwon. Dengan tangan berlumuran darah dia memegang dada Siwon, ternyata benar jantungnya masih berdetak walaupun lemah. Nafasnya mulai terengah-engah, darah dari perutnya mengalir seperti mata air. Kakinya mulai mati rasa. Dia segera mengeluarkan handphone Siwon dan mengaktifkannya sebelum dia kehilangan kesadarannya, dia mencari dikontak panggilan. Akhirnya dia menemukan kontak umma Siwon. Segera dia memanggil kontak itu.
"Hallo! Siwon! Kamu dimana?" Ucap suara perempuan diseberang sana. Kibum mengumpulkan semua suaranya yang tersisa.
"Siwon sekarat. segera datang!" dia meletakkan handphone Siwon di tanah, suaranya tak sanggup keluar lagi. Mereka tentu bisa menemukan Siwon melalui GPS dari handphone Siwon. Dia berbaring disebelah tubuh Siwon sambil menahan darah yang terus keluar dari perutnya. Dia memandang wajah Siwon yang hanya beberapa senti dari wajahnya. Dia tak takut mati, juga tidak marah ini harus terjadi. Dia senang bisa membantu Siwon, namja yang dalam beberapa jam dapat mencuri hatinya.
_o0o_
Semuanya terasa tenang. Perlahan terdengar sedikit kebisingan yang tak mengganggu. Udara segar terus mengalir dihidungnya. Nahkan dia bisa mendengarkan denyut jantungnya sendiri, sekelebat cahaya menerobos kecelah matanya. Kibum membuka matanya perlahan, pandangannya buram. Terlihat seorang namja yang mendekat kesisinya, tapi dia tak tau itu siapa. Terdengar namja itu berbicara, tapi tak terdengar jelas. Beberapa saat kemudian, semua indranya sudah berfungsi baik. Dia dapat melihat dengan jelas bahwa namja itu adalah appanya.
"Kibum, kamu udah nggak apa-apa?" Ucap appa Kibum cemas. Kibum tak percaya meilhat appanya berbicara selembut itu padanya, dia mencoba untuk memberontak. Tapi dia tak bisa banyak bergerak karena nyeri diperutnya. Ketika itu dia menyadari dia berada di rumah sakit. "Kibum! Tenang! Appa tau kamu masih marah sama appa. tapi appa datang kesini untuk meminta maaf atas segalanya. Appa berusaha untuk mencari kamu setelah kamu kabur dari rumah, tapi baru beberapa bulan lalu appa mengertahui dimana kamu bekerja. Appa mencari kamu ketempat kamu kerja, ditoko kaset itu. bos kamu memberi tahu appa alamat kontrakan kamu. Tapi kamu malah kabur lagi ketika appa datang. Appa mohon, maafin appa. Appa benar-benar menyesal." Ucap appa Kibum dengan linangan air mata. Kibum teringat ucapan Siwon ketika mereka istirahat dibawah jembatan. Air matanya mengalir mengingat itu. tapi, dimana Siwon?
"Siwon mana?" tanyanya pelan. Dahi appa Kibum berkerut.
"Siwon? Namja tampan yang sama kamu di dekat jurang itu? dia ada di ruang ICU juga. Dua atau tiga kamar dari sini." Kibum lega mendengar ucapan appanya, berarti Siwon masih hidup. Dia meraba perut sebelah kirinya. Masih teringat betapa sakitnya ketika peluru dari senjata api Jaejoong menembusnya, dia memandang appanya.
"Jaejoong?" Appa Kibum tampak enggan menjawab, lalu menggeleng pelan. Menandakan Jaejoong tidak selamat dari ketinggian tebing itu. Kibum sedih mendengar itu. Jaejoong memiliki nasib yang sama dengannya. Appa Kibum memegang punggung tangan putranya.
"Kibum, appa nggak mau kamu hidup sepereti ini lagi. Kamu mau kembali pulang bersama appa? Umma kamu khawatir sekali dengan kamu, dia tidak pernah sekali pun melupakan kalau kamu tidak ada dirumah." Umma? Kibum menarik tangannya.
"Maksud appa Jungmin ahjumma?" Appa Kibum mengangguk pelan, dia kembali mendapat tatapan tajam dari putra semata wayangnya. Kibum memalingkan wajahnya, dia masih belum bisa menerima perlakuan appanya setelah adik tirinya lahir. "Nggak perlu! Aku bisa mengurus hidup aku sendiri! Appa bisa urus anak baru appa itu!" ucapnya ketus.
"Kibum?!" appa Kibum menatap Kibum, "Itu adik kamu, namanya Henry."
"Aku nggak peeduli!" Air mata Kibum mulai mengalir dari sudut matanya. Appa Kibum mengerti alasan perlakuan putranya itu.
"Appa ngerti kalau kamu kecewa, tapi kamu nggak pernah tau kan apa yang udah appa dan umma kamu alami setelah."
"Dia bukan UMMA-KU!" Potong Kibum.
"Oke! Jungmin ahjumma!" Ucap appanya memperbaiki, "Setelah kamu kabur dari rumah." lanjutnya, "Jungmin ahjumma sangat sedih dan merasa bersalah. Dia menangis setiap hari. Dia yang meminta appa untuk terus mencari kamu. Bahkan dia tidak memperhatikan anaknya sendiri! Henry mulai sakit-sakitan ketika memasuki satu tahun karena Jungmin ahjumma selalu stress memikirkan kamu! Dua bulan kemudian Henry meninggal!" Kibum terkejut, dia memandang appanya tak percaya.
"Apa?!" Air mata appa Kibum mulai menitik.
"Iya Kibum, Henry meninggal dunia! Apa kamu tidak bisa melihat itu sebagai bukti kalau kami memang menginginkan kamu kembali? Appa mohon Kibum." Kibum merasa bersalah. Semua pikiran buruknya selama masa pelarian, membuatnya penuh dengan kebencian pada wanita yang dia pikir adalah perusak kehidupannya. Dia tak menyangka kenyataan yang terjadi seperti ini. Jadi selama ini yang tersiksa bukan hanya dirinya, juga appa dan umma tirinya. "Kibum, Appa dan Jungmin ahjumma benar-benar ingin kamu kembali. Apa kamu tidak bisa memaafkan kami?" Tanya appa Kibum.
"Appaa." Panggil Kibum pelan dalam isak tangisnya.
"Iya sayang." ucap appanya lembut.
"Aku." Kibum tercekik oleh kata-katanya sendiri, "Aku. mau ketemu Jungmin ahjumma." Appanya tersenyum senang mendengar ucapan Kibum sambil mengelus rambut putranya.
"Benar sayang?" Kibum mengangguk.
"Iya, appaa. aku mau minta maaf untuk kepergian Henry, juga karena aku selalu memanggil dia ahjumma."
Appanya mengecup dahinya, "Iya sayang, kita akan segera ketemu Jungmin ahjumma." Kibum tak menyangka appanya akan berkata seperti ini, "Maafin aku appa. aku udah bikin appa susah."
"Nggak apa-apa sayang, yang penting sekarang kamu udah baik-baik aja. Itu yang terpenting!" Ucap appa Kibum.
Dan inilah kenyataan. Tak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan. Kibum kembali kepada keluarganya. Dia mendapat sambutan hangat dari umma tirinya, Jungmin. Ternyata umma tirinya sangat penyayang seperti umma kandungnya. Dia bahagia menjalani kehidupannya yang baru. Namun ada sesuatu yang menggaknjal hatinya. Dia tak sempat menemui Siwon ketika pulang dari rumah sakit, karena tanpa dia ketahui keluarga namja tampan bertubuh atletis itu membawanya keluar negeri untuk menjalani operasi patah tulang. Entah kapan dia bisa bertemu namja tampan itu secara hidup, tapi dia sudah merasa senang telah membantunya.
_o0o_
"Kibum, ayo. dagingnya udah masak nih." Panggil Jungmin dari pekarangan rumah dengan senyum ramah yang tak pernah disadari Kibum. Kibum yang duduk diteras rumah mengangguk dan segera menghampiri appa dan umma tirinya. Mereka mengadakan pesta BBQ kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan dirinya kerumah meskipun sudah lewat sebulan. Dia melangkah perlahan menuju perkarangan sambil memegangi perut sebelah kirinya yang maish nyeri. Jungmin menghampiri Kibum dan membantunya berjalan, "Hati-hati sayang. Nanti lukanya berdarah lagi." Kibum tersenyum.
"Ne, umma." Jungmin memandang Kibum senang. Matanya mulai berkaca-kaca. "Umma kok nangis?" Tanya Kibum bingung. Jungmin tersenyum sambil menggeleng.
"Umma nggak nangis sayang, umma Cuma senang karena kamu manggil 'UMMA'" ucapnya terharu. Kibum merasa sangat bersalah telah melukai hati wanita yang sangat lembut ini. Dia duduk dikursi disebelah Jungmin.
"Nahh. ini dagingnya udah matang." Appa Kibum meletakkan sepiring besar daging-danging yang sudah dia panggakng.
"Wahh. sausnya mana nih?" Tanya Jungmin heran.
"Yahh. masih dirumah, appa ambil dulu ya." Ucap appa Kibum.
"Eh. nggak usah appa, biar aku aja." Ucap Kibum sambil berdiri perlahan.
"Yakin sayang? Kamu kan masih sakit." Ucap Jungmin cemas.
"Nggak apa-apa umma. aku ambil dulu ya." Kibum melangkah menuju pintu masuk. Ketika itu sebuah mobil berhenti didepan jalan masuk rumah Kibum. Dia, Jungmin dan Appanya serentak memandang kearah mobil itu dengan tatapan penasaran.
"Siapa ya?" Gumam Jungmin. Pintu penumpang mobil berwarna hitam itu terbuka, turun seorang namja tampan memakai sweater coklat. Namja tampan itu bermata indah dan wajah bercahaya. Dia memandang Kibum dengan senyum manisnya.
"Kibum." Kibum tak percaya dengan matanya sendiri, dia hanya bisa menatap namja tampan itu tanpa bergerak. Air matanya menetes tanpa dia sadari.
"Siwon?" ucapnya pelan. Siwon melangkah cepat kearah Kibum. Dia memendang rindu yang sangat besar hinggak tak mampu di bendungnya sendiri. Kibum melakukan hal yang sama. Beberapa saat kemudian dia sudah terbenam dalam pelukan Siwon. Air matanya tak bisa berhenti mengalir. Siwon memegang kedua pipi Kibum, matanya memperhatikan setiap sudut diwajah namja cantik itu.
"Aku nggak percaya sekarang aku bener-bener nyentuh kamu." umma jarinya menghapus air mata dipipi Kibum dengan lembut. Kibum memandang kedua bola mata Siwon.
"Aku kira kamu nggak inget sama aku."
"Nggak mungkin aku nggak inget sama orang yang sangat berarti dihidup aku. Dan sekarang aku nggak mau ngelepasin orang itu lagi." Jawab Siwon. Kibum tak bisa menahan air mata bahagia dimatanya. Siwon memeluknya erat hinggak dia dapat mendengar denyut jantungnya. Jungmin dan appa Kibum bahagia melihat Kibum tersenyum dalam airmatanya. Tak ada yang sangat indah kecuali melihat kebahagian Kibum.
_o0o_ The End _o0o_
