Disclaimer : SMEnt
Main cast : Kim Kibum & Choi Siwon
Gendre : Suspense, Romance, Mystery.
Theme : Winter shines.
Warning : Tema berat. Penuh typo. Alur berantakan. Bikin sarap kepala jadi tegang. Dan, DON'T LIKE DON'T READ. NO BASH my character in my fic.
Flame jangan tapi kalu konkrit sangat boleh. ^^
Shin SeounRa| Choco Momo
[Sweet Apple]
Presented
An Alternative Universe Fanfiction
Taste of Desire
Story presented by © Sora Yagami
Inspired by © Dangerous Mind_DBSK
Cast and anything in this story © They self and they parent
Chapter 3.
"Seraaaanggg…" suara Kibum bagaikan komando tanda dimulainya perang yang akan berlangsung.
Puluhan bahkan ratusan makanan berupa hot-dog, hamburger sampai sepatu dan botol kecap ikut berterbangan di udara. Terdengar suara riuh teriakan yang menggema dan juga canda dan tawa yang mendominasi perang makanan yang sedang berlangsung didepan mata. Botol kecap dan tomat yang terinjak hingga menyebabkan lantai yang awalnya bersih mengkilat sekarang menjadi sangat kotor akibat cipratan sambal. Membuat para karyawan dan petugas kebersihan disekolah terpaksa meratapi nasib sial mereka yang harus membersihkan cafetaria yang sangat besar itu berulang kali, sebagian lagi sibuk merutuki oknum utama pelaku kekisruhan ini terjadi.
Sementara anak-anak sibuk menghindari lemparan pihak musuh ataupun balas melempar balik—yang ternyata tidak terlalu berhasil—hingga sukses mendarat diwajah ataupun seragam mereka, Kibum justru malah sibuk merekam adegan tawuran ala para demonstran bengal itu dengan menggunakan handy-came berkualitas terbaik dari bawah meja sambil terkikik. Selain itu dia bersembunyi juga sekalian menghindari lemparan makanan itu mengenai salah satu bagian tubuhnya. Sorak sorai para supporter yang menonton memberikan semangat di pingir-pinggir cafetaria segera berubah menjadi euoforia begitu makan yang dilemparkan oleh para penyerang mendarat di tubuh mereka. Tawuran makanan yang awalnya sudah sangat rusuh itu menjadi semakin kacau begitu semakin banyaknya siswa yang juga ikut terjun kelapangan membela teman ataupun kubu yang mereka perjuangkan.
Kibum mengikik pelan tanpa menyadari adanya tangan besar yang terjulur kearahnya dan kemudian menjewer telinga gadis itu hingga Kibum memekik kesakitan. Suara baritone Lee So Man yang sanggup merontokkan kaca berhasil menghentikan aksi brutal para demonstaran kesasar itu.
"Apa-apan kalian?" hentikan!"
Para guru ternyata sudah mengantisipasi para siswa mereka melarikan diri dengan mengunci semua akses keluar dari cafetaria. Para siswa seketika menjadi panik dan berkeringat dingin.
"Kalian semua dihukum membersihkan tempat ini seperti semula. Dan Kim Kibum. Kau aku hukum berlari di lapangan sebanyak sepuluh kali."
Kibum meringis sakit memegangi telinganya yang terasa panas karena dijewer oleh Park Yoochun yang juga adalah kakak sepupunya sendiri. Sementara pemuda berusia dua puluh tahun itu mengetatkan pegangannya pada telinga adik sepupu kesayangannya. "Ampun seonsaengnim. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Berarti kau mengaku kalau kau pelakunya 'kan?" pertanyaan Lee So Man lebih terdengar seperti perintah mutlak ditelinga Kibum, percuma saja membela diri kalau dia sendiri sudah kelepasan bicara seperti itu.
Senjata makan Tuan. Sial!
Kibum meletakkan tangannya diatas lutut untuk meredam suara detak jantungnya yang berpacu tidak stabil pasca berlari sebanyak sepuluh putaran. Kibum memijit pelipis dan pangkal hidungnya yang terasa sakit seperti dirajam batu besar. Entah kenapa belakangan Kibum menjadi lebih sering merasa lemas dan kelelahan tanpa alasan yang jelas. Gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengenyahkan kabut yang mulai menutupi matanya dan kemudian semua menjadi gelap seketika. Ryeowook dan Sungmin yang melihat teman mereka terkapar tidak berdaya di tengah lapangan seketika menjadi panik.
"Bummie…" Ryeowook menggoncangkan tubuh gadis itu dengan perlahan. Mencoba mengembalikan kesadaran temannya. Tidak ada respon. Ganti wajah Sungmin yang menjadi pucat sekarang. Mereka sangat khawatir.
Kedua gadis itu terdiam saat Siwon dengan sigap mengambil alih tubuh Kibum yang tidak berdaya dengan cekatan, menyelipkan lengannya dibawah tubuh gadis itu kemudian mengendongnya menuju ke UKS. Banyak gadis yang berbisik-bisik tidak senang sekaligus iri dan juga takjub melihat pemandangan romantis yang disuguhkan didepan mata mereka.
Saat pertama kali Kibum membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah wajah angkuh seorang Choi Siwon yang sedang duduk disamping tempat tidur sambil menatap matanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" suara sinis Kibum memecah keheningan yang terasa menguasai.
Sebelah kening Siwon terangkat. "Seharusnya kau berterimakasih karena akulah yang telah menolongmu. Dan kau juga masih berhutang maaf padaku."
Kibum menyipitkan matanya tanda tidak senang. Dia sangat benci diperintah dan dituduh bersalah. "Aku tidak berhutang apa pun padamu!" seru gadis itu penuh permusuhan.
Merasa percuma berdebat dengan Siwon di saat kondisinya yang seperti ini, Kibum buru-buru bangkit dari berbaringnya dan kemudian melompat turun dari tempat tidur, belum lagi gadis itu berhasil mendapatkan keseimbangan tubuhnya, Kibum sudah lebih dulu oleng karena tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit.
Siwon bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Kibum yang sedang memegangi kepalanya. Pemuda itu berjongkok didepan Kibum, mensejajarkan wajah mereka dan menatap sepasang iris coklat yang ada dihadapannya, sementara Kibum menatap Siwon dengan padangan nanar. "Kau akan tetap seperti itu, kalau kau terus berusaha menolak keberadaanku."
"Apa maksudmu?" suara Kibum bergetar saat mengucapkan sebaris pertanyaan itu. Dia tahu, dan dia sangat mengerti dengan semua yang Siwon ucapkan. Meski kebenciaannya pada pemuda itu tetap tidak beralasan.
Siwon memberikan seulas senyum tipis yang menawan. "Bukankah ini adalah takdir."
Kibum tertawa getir. "Takdir kau bilang! Bertemu denganmu bukanlah pilihan terbaik."
"Seiring dengan berjalannya waktu kau akan mulai terbiasa!"
Gadis itu menutup kedua telinganya dengan menggunakan telapak tangan. Menutup kedua matanya rapat-rapat, mencoba menghetikan sentakaran rasa bersalah dan gelisah yang mengaliri relung hatinya. "Hentikan semua ini! Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau ucapkan." Kibum berteriak frustasi.
Siwon mengamit pelan dagu Kibum dan memaksa gadis itu membuka kedua matanya. "Terima saja! Kau akan membutuhkanku." Terdengar seperti perintah yang tidak akan sanggup dia bantah dengan kesadaran.
Tanpa sadar Kibum menggelengkan kepalanya keras-keras. Ini tidak mungkin, yang seperti itu tidak pernah ada. Semua legenda tentang pangeran kegelapan dan seorang gadis yang menyegel kekuatanya itu tidak ada. Yang namanya reinkarnasi itu juga tidak pernah ada, lalu kalau semua ini memang tidak nyata, bagaimana Siwon bisa ada dihadapannya sekarang?
"Kau yang memulai. Dan kau juga yang harus mengakhiri segalanya." Siwon berucap seolah dapat mendengar semua yang ada di dalam pikiran Kibum.
Kibum menatap nyalang kedua obisidian Siwon dengan pandangan tidak focus. Airmatanya merebak. Akal sehatnya tidak menerima semua fakta yang disuguhkan didepan kepalanya saat semua ingatan yang coba dia tepis dari benaknya mengalir di dalam kepalanya seperti air hujan yang tidak dapat dihalau. Bagaimana Kibum bisa tidak menyadari hal itu sejak awal, sementara Sungmin terus mempertanyakan apa yang selama ini dia lakukan dengan menerobos banyak tempat dan mencari sesuatu yang tidak dia mengerti. Apa yang sebenarnya kau cari selama ini? Pertanyaan yang pernah terlontar dari mulut Sungmin terngiang-ngiang dikepalanya. Jawabannya ada didepan mata. Siwon-lah yang selalu hadir disetiap mimpi yang tidak bisa dia ingat, dan pemuda itu juga-lah penyebab dia bisa berada disini sekarang.
"Percayalah. Kita akan saling menguntungkan satu sama lain! Kau akan mencintaiku." Siwon mengecup singkat bibir Kibum, sementara gadis itu sudah membeku di tempatnya bersimpuh. Kata-kata terakhir pemuda itu sanggup membuat kedua hazel Kibum terbelalak tidak percaya.
"Kau yang sudah melakukan semua ini padaku?" suara gadis itu bergetar, kedua manik matanya menatap nanar onyx Siwon yang berbinar jahil.
Siwon menggeleng. "Bukan. Tapi memang sudah seharusnya seperti ini. Karena itulah kita saling terikat."
"Kau bohong Choi Siwon!" tuding gadis itu. Teriakan Kibum menggema keseluruh ruangan.
Wajah Siwon yang semula bersahabat berubah menjadi bengis. Rahangnya terkatup rapat dan giginya bergemelatuk. Sepasang obisidian Siwon menatap hazel dihadapannya dengan penuh penekanan. "Percuma saja menghindar. Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
.
.
.
"Sepertinya kau senang sekali, Wonnie?" Donghae yang semejak tadi menemani Siwon berkomentar pelan.
Siwon melepaskan seonggok tubuh seorang gadis yang sekarang memucat tidak bernyawa dari cengkraman kedua lengannya dan kemudian menyeka lumuran darah disekitar wajah dan bibirnya. Tersenyum menatap iris milik sahabat baiknya. Menghela nafas pelan sebelum menjawab. "Dia akan segera menjadi milikku. Harus! Bagaimana pun caranya."
Donghae mendengus, seulas senyuman jahil terukur dibibirnya. "Kau memang sangat tidak sabaran."
"Aku sudah menunggu terlalu lama untuk ini." Siwon menghela nafas dan kemudian menghembuskannya dengan perasaan lega. Matanya menatap hampa pada seonggok tubuh seorang gadis yang telah menjadi santapannya.
"Apa kau tidak bertindak terlalu gegabah? Kau sudah melihat sendiri kalau dia sangat membencimu."
Kata-kata Donghae tidak sanggup membuat perasaan bahagianya menjadi rusak. Pemuda itu justru malah dengan santainya menanggapi semua komentar yang diutarakan oleh sahabatnya. "Justu inilah yang akan membuat segalanya menjadi semakin menarik."
Rasanya Siwon sudah menunggu selama seumur hidupnya untuk menyaksikan kembali kelahiran seorang gadis yang ditakdirkan untuk menjadi miliknya dan mengembalikan lagi semua kekuatan yang telah disegel gadis itu dan akhirnya, setelah dua ratus tahun semua penantian itu terbayar. Kibum masih secantik dengan yang dia ingat terakhir kalinya, seharusnya gadis itu telah menjadi miliknya sejak dulu. Jadi tidak salah kalau dia mengambil kembali apa yang memang telah ditakdirkan hanya untuknya.
.
.
.
Kibum berlari masuk ke dalam ruangan pribadi ayahnya dengan langkah tergesa-gesa dan kemudian menarik paksa sebuah buku bersampul hitam diantara barisan ratusan buku hingga keluar dari tempatnya. Lemari buku itu menggeser dengan sendirinya, menciptakan ruang yang tidak diketahui orang lain keberadaannya. Kibum mengedarkan pandangannya sejenak, memastikan kalau tidak ada orang yang disekitarnya. Gadis itu melangkah masuk dengan sedikit berlari.
Tempat ini adalah ruangan rahasia pribadi milik keluarganya, tempat di mana semua sejarah keluarganya disimpan. Memeriksa salah satu dari barisan buku yang berjejer di dinding. Dia yakin pernah melihat buku bersampul merah dengan tulisan berwarna emas, tapi dia tidak yakin dimana buku itu di letakkan.
Kibum mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Matanya menangkap keberadaan buku itu dipaling pojok rak buku, benar-benar berada disudut ruangan yang sedikit tersembunyi. Dengan agak kesulitan menggeser tangga yang diletakkan begitu saja dipojok ruangan dan menyeret benda itu ketempat buku itu diletakkan. Posisi buku yang berada dibagian paling atas rak membuat Kibum harus bersusah payah untuk menggapainya dengan menggunakan tanggannya.
Gadis itu membolak-balik bagian buku itu sambil memperhatikan sampul depan buku yang sudah sangat lusuh. Dia meletakkan buku itu diatas meja belajarnya dan menguatkan diri untuk melihat bagian dalamnya. Tapi saat membukanya, buku itu justu malah terbakar oleh sejenis api hitam yang aneh. Kibum refleks mendorong buku itu hingga terjatuh ke lantai, awalnya gadis itu berniat memadamkannya dengan menginjak buku itu, tetapi kemudian mengurungkan niatnya karena takut kakinya ikut terbakar. Dia mengambil gelas berisi air putih yang diletakkan di atas nakas di samping tempat tidur dan kemudian mengguyur benda terbakar itu. Tidak ada reaksi. Seluruh bagian buku sudah benar-benar hangus tidak bersisa dan baru padam setelah buku itu terbakar sempurna, tidak tersisa apa pun yang bisa dibaca.
Kibum menghela nafas berat dan kemudian menghembuskannya melalui mulut. Dia tidak menggerti apa yang terjadi, mana mungkin buku tiba-tiba terbakar tanpa sebab yang jelas. Tangan gadis itu mengaduk sisa-sisa dari buku yang terbakar, berusaha menemukan bagian yang mungkin masih bisa diselamatkan. Kibum tertegun sesaat, alih-alih menemukan potongan kertas yang masih bisa diselamtkan, gadis itu justru mendapati seonggok kalung dengan lambang hexagram berhiaskan batu permata yang harganya tidak ternilai.
Anehnya kalung itu terasa dingin dikulitnya saat disentuh dengan tangan telanjang. Padahal dia menemukan buku itu dari tumpukan kertas yang telah berubah menghitam seperti debu karena terbakar api hitam yang aneh. Gadis itu segera menyeret langkah kakinya menuju computer dan mulai men-search mengenai lambang hexagram melalui internet. Gadis itu menemukan beberapa fakta menarik, hexagram identik dengan lambang setan dan pemujaannya.
Hexagram adalah lambang terkuat dari semua lambang, untuk mistis. Terdiri dari 6 sisi, 6 poin dan 6 segitiga yang lebih kecil, menjadi 666. Disebut Hexagram karena berbentuk bintang segi enam.
Heksagram adalah: yang berkuasa dan lambang yang paling jahat dalam Setanisme dari semua dunia okultisme, digunakan untuk membangkitkan iblis ke dimensi manusia, untuk berkomunikasi dengan orang mati, untuk menggambarkan tindakan seks,dan mewakili palsu dan pagan.
Keenam pertama terbentuk oleh sisi setiap segitiga menghadap ke arah searah jarum jam. Enam kedua terbentuk oleh sisi-sisi setiap segitiga yang terbentuk menghadap ke arah berlawanan. Enam ketiga dibentuk oleh sisi-sisi segi enam batin.
Segitiga yang menunjuk ke bawah "merupakan simbol wanita yang sesuai dengan 'yoni' dan segitiga menunjuk ke atas adalah laki-laki, 'lingam'.
Ketika dua segitiga terjalin, hal itu merupakan penyatuan aktif dan pasif kekuatan di alam, melainkan merupakan unsur laki-laki dan perempuan. Berbicara dari konotasi seksual heksagram itu, penyihir lain mengungkapkan, "Ketika laki-laki menembus segitiga perempuan itu, menghasilkan puncak menunjuk enam atau heksagram Salomo, orang fasik simbol yang paling dalam ilmu sihir."
Dengan kata lain. Hexagram adalah lambang dari sex. Sedangkan Kata "hex" yang berarti tempat kutukan pada seseorang dan menyatukan Segitiga Air dengan Segitiga Api. Yang juga dikenal sebagai penutup Salomo.
Saat pikirannya benar-benar terfokus pada fakta yang disuguhkan didepan matanya, gadis bermata coklat madu menawan itu merogoh kantong celananya saat merasakan ponsel lipatnya bergetar, menandakan adanya panggilan masuk. Memperhatikan sejenak Nama yang tertera dilayar ponsel dan kemudian meletakkannya disekitar telinga.
"Ada apa Chullie-Ah?" tanya Kibum ketus.
Seseorang diseberang sana mendengus, lalu kemudian terkikik pelan. "Ketus sekali. Kau sedang bad-mood ya?"
Kibum memutar kedua bola matanya dramatis. "Katakan saja! Ada perlu apa kau menelponku?"
"Baiklah, baiklah. Kau memang paling sulit diajak basa-basi," Heechul menyandarkan tubuhnya di jendela, sama sekali tidak terganggu dengan sikap Kibum yang cenderung kasar. Gadis itu sudah terbiasa, dan Kibum terkenal dengan emosinya yang cenderung tidak stabil dan sangat moody. "Bagaimana kalau kau datang kerumahku sekarang? Minnie dan Wookie ada di sini dan kami berencana mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulanganku."
Kim Heechul yang juga adalah sahabat Kibum semenjak balita itu sepertinya baru saja kembali dari pertukaran pelajar di China selama setengah tahun.
"Aku sedang sibuk Chulie-Ah. Jadi tidak bisa." Kibum berniat memutuskan sambungan pembiacaraannya dengan gadis pirang yang telah selama seumur hidup menjadi sahabatnya, sebelum gadis itu mengeluarkan jurus rengekan mautnya dan membuat Kibum harus memenuhi keinginannya.
Benar saja, sekarang disinilah dia. Terjebak diantara kebisingan pesta yang diadakan Heechul dan Sungmin secara mendadak. Kalau Wookie sih, Sudah pasti tidak masuk hitungan. Gadis bertubuh mungil yang sangat hobi memasak itu adalah tipikal gadis penurut yang alim, jadi tidak mungkin dia terlibat. Kalaupun terlibat, sudah bisa dipastikan oknum pencucian isi otak Wookie adalah kedua orang itu, si Cinderela dan Princess of Aegyo. Kibum kembali mengedarkan matanya keseluruh ruangan, ini namanya bukan pesta kecil-kecilan, kedua gadis itu menjadikan rumah besar Heechul yang kosong melompong untuk mengadakan pesta liar. Orang-orang yang menari gila-gilaan di tengah ruangan yang disinari lampu temaram dengan musik yang menghentak mengguncang ruangan. Beberapa anak sudah ada yang mabuk dan beberapa menyeret pasangan mereka untuk bercumbu panas di pojok ruangan. Tempat ini sudah berubah menjadi seperti klub malam dadakan.
Chullie sepertinya sudah gila. Pikir Kibum.
Lihat saja gadis itu sekarang, Kim Heechul sedang menegak segelas corona dengan dua orang pemuda menghimpit tubuh sexynya ditengah-tengah ruangan. Gadis cantik yang memakai pakaian China super sexy itu tertawa-tawa menggoda, siapa yang tidak kenal dengan sibrunette pemimpin grup sorak di sekolah mereka yang terkenal sebagai biangnya pesta dan berbelanja. Cekikikan dengan suara mendesah yang sangat jelas hingga membuat kedua mata pemuda yang menghimpitnya melotot sempurna menatap tubuh gadis itu dengan sangat bernafsu. Belum lagi pakaian yang gadis itu kenakan malam ini. Benar-benar sangat mengundang.
Kibum samasekali tidak merasa heran kalau ketiga orang itu akan berakhir ditempat tidur.
Dari sudut mata, gadis itu menangkap siluet keberadaan Siwon dan Yesung yang dengan segera mengalihkan semua pandang mata para anak perempuan kearah kedua pemuda tampan itu. Ternyata Heechul juga mengundang gerombolan pemuda tampan itu untuk semakin menyemarakan suasana.
"Sendirian saja?" Kibum menolehkan kepalanya pada seorang pemuda yang entah bagaimana sudah ada disampingnya sekarang. Kibum memberikan seulas senyuman menawan dan sukses membuat pemuda itu tertegun sejenak, beruntung keadaan penerangan yang temaram menyembunyikan rona merah yang menghiasi wajahnya sekarang ini. Tapi sayanganya Kibum sudah mengetahui hal itu. Bukannya sombong, selama ini ada banyak pemuda yang mendekatinya dan tidak satupun yang sanggup membuat hatinya luluh.
Dan dia sangat marah diperlakukan seperti seorang gadis lemah yang tidak berdaya dan terkesan menyenangkan untuk digoda. Tangannya bersiap untuk mendaratkan tinju kewajah pemuda itu kalau dia berani melakukan pelecehan. Pasalnya sekarang pemuda asing itu sedang mendekat kearahnya, tangannya bergeriliya mendekat kearah pahanya yang bebas tidak tertutupi apapun.
Coba saja kau menyentuhku, akan ku patahkan lehermu. Dasar cabul! Kibum mendengus kesal.
"Kau pikir dia bersama siapa?" suara baritone yang khas menyapa pendengaran Kibum. Gadis itu menoleh ke arah kanannya dan mendapati Siwon duduk sambil menegak wine-nya dengan santai.
Kibum melihat Siwon memegangi pinggiran meja dan kemudian meremasnya dengan sedikit tenaga hingga menyebabkan pinggiran meja menjadi hancur seketika. Pemuda itu menatap Siwon dengan tatapan ketakutan, wajah yang awalnya dipenuhi seringai mesum sekarang berubah menjadi sangat pucat.
"Maaf Siwon-Ssi." Pemuda itu segara menyingkir dengan teratur dari hadapan kedua remaja itu.
Kibum menatap Siwon sesaat dan kemudian mendengus meremehkan. "Apa maksudmu melakukan itu. Kau pikir aku tidak sanggup menanganinya?"
Siwon menegak minumannya dengan santai tanpa menatap mata Kibum yang memancarkan aura permusuhan. "Aku sama sekali tidak bermaksud merendahkanmu. Aku tahu kau hebat."
Kata-kata pujian bernada menyindir yang diucapkan Siwon justru malah membuat gadis itu semakin berang dan menganggap Siwon telah merendahkan harga dirinya. Dia benci harus bergantung pada orang lain. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Dan menangani seorang pemuda mesum setengah mabuk sama sekali bukan masalah yang besar.
Seriangai di wajah Siwon justru semakin lebar saat Kibum justru malah berlalu pergi begitu saja setelah melayangkan tatapan penuh dendam kesumat padanya. Pemuda itu menegak minumannya hingga tandas dan kemudian meletakkannya begitu saja diatas meja yang telah utuh kembali seperti semula tanpa adanya retakan.
Dasar sial! Kibum merutuk dalam hati. Kenapa justru disaat seperti ini Kibum harus mendapati ban mobil yang dikendarainya mengalami kempes, seperti dengan sengaja ditusuk dengan benda tajam.
Kibum menendang sembarangan semua benda yang berada dalam jarak pandangannya. Dan sialnya kali ini batu kerikil yang dia tendang dengan sekuat tenaga mendarat dibelakang kepala seorang pemuda berandalan yang sedang melintas tidak jauh darinya. Pemuda berandalan itu menoleh dengan wajah meringis kesakitan bercampur kemarahan tetapi kemudian menjadi dipenuhi seringai mesum saat menyadari siapa pelaku pelemparan terhadap kepalanya.
Melihat tatapan penuh nafsu pemuda berandalan dan gerombolannya itu membuat insting pertahanan diri Kibum bekerja dengan penuh. Gadis itu menyiapkan kuda-kuda untuk menjatuhkan mereka. Dan ternyata memang cukup mudah, gadis itu berhasil melumpuhkan dua diantara empat pemuda bertubuh besar dengan sekali hantam dan membuat ke-dua pemuda itu meringis. Sedangkan sisanya sudah pingsan tidak berdaya.
Kibum menarik nafas disela-sela udara dingin yang berhembus. Menghabisi gerombolan pemuda berandalan memang sangat tidak mudah, tubuh gadis itu dipenuhi keringat. Salah kalau gadis itu berpikir telah lolos dari cengkraman maut, rupanya seorang pemuda yang masih bisa mendapatkan kesadaran disela-sela rasa sakitnya mendapatkan sebuah balok kayu yang tergeletak begitu saja dan kemudian dengan sisa-sia kekuatan menghantamkan balok kayu itu kebagian belakang kepala Kibum saat gadis itu lengah. Tubuh Kibum terhempas jatuh ketanah dengan posisi telengkup saat kegelapan menguasai penglihatannya.
Kegelapan itu tidak sepenuhnya memudar, namun iris kedua bola mata hazelnutnya masih bisa melihat siluet seorang pemuda dan pekikan kesakitan yang membelah dinginnya malam.
To be continued!
R
E
V
I
E
W
If you don't mind?
