ROOMMATE

Disclaimer : Belong to SM, God, and theirselves :D This story is mine.

Author : Lee Rae Ra / Iqlima

Genre : General, Romance

Rate : T

Length : Sequel

Summary : Kehidupan Jung Siwon, seorang pemuda yang tegas namun berhati lembut, di sekolah asramanya, dengan teman sekamarnya yang baru Kim Kibum yang sangat polos. RnR?

ROOMMATE

Siwon mengambil tas Kibum dan menggendongnya di punggungnya, sedangkan Kibum dia gendong ala brydal style. Dengan langkah pelan Siwon berjalan. Siwon meringis menahan sakit pada kaki kanannya yang tadi membentur meja dengan sangat keras. Apalagi meja yang tadi dibenturnya itu adalah meja besi.

"Wonnie.. Kibum.. Aku, aku takut." Kata Kibum pelan.

"Sejak kapan kau menyebut dirimu dengan "aku"?" tanya Siwon heran.

"Baru saja, sejak orang itu menyebutku pengecut. Aku bukan pengecut, dan aku tidak lemah seperti apa yang dia bilang."

Siwon menaikkan satu alisnya. "Jadi, singkatnya, acara penyergapanmu ini membuatmu lebih dewasa, begitu?"

Kibum mengangguk pelan. "Ne, Wonnie.. Entah mengapa, saat tadi aku dibentak-bentak oleh orang itu, aku merasa ada sesuatu kekuatan yang masuk dalam tubuhku. Dan.. Aku merasa malu."

"Malu? Wae?"

"Ketika aku merasa kekuatan itu masuk ke dalam tubuhku, sekilas terlintas dalam benakku tingkah dan sikapku selama ini. Ternyata, aku kekanak-kanakan sekali ya? Seperti idiot. Semua gara-gara Ibuku. Hehehe.." Kibum terkekeh pelan.

"Kalau dengan disergap dan dipukuli seperti tadi bisa membuatmu menjadi lebih dewasa, apakah aku harus memukulimu terus?" gurau Siwon.

Kibum memukul pelan dada Siwon. "Aniya.. Hanya saja, aku ingin belajar agar aku bisa menjadi lebih dewasa. Wonnie.. Eh, Siwon, kau bisa bantu aku kan? Sungguh, aku ingin menjadi lebih dewasa. Orang tadi memberiku banyak pelajaran." tanya Kibum penuh harap.

"Panggil Wonnie saja juga tidak apa-apa kok. Tentu saja, aku akan membantumu." Kata Siwon penuh sayang.

Mereka menyusuri taman. Sepi sekali, tidak ada orang. Tentu saja, jam-jam segini jika tidak kegiatan ektrakulikuler ya olahraga main basket atau sepakbola. Biasanya, taman ramai kalau sudah menjelang matahari tenggelam.

"Wonnie.. Apa tidak capek menggendongku begini? Apalagi Wonnie juga luka-luka seperti itu.." tanya Kibum.

Siwon menggeleng. "Aku sudah berjanji akan menjagamu kan." Katanya datar, menahan sakit di kaki kanannya.

Sisa perjalanan mereka habiskan dalam keheningan. Sampai akhirnya mereka sampai di gedung asrama dan naik ke lantai enam.

"KIBUUUUUMM!"

Spontan Siwon mengernyitkan keningnya. Suara Jonghyun yang tinggi benar-benar menyakitkan telinga. Siwon sangat tahu jika Jonghyun bernyanyi dengan suara tingginya, suaranya akan terdengar sangat bagus. Tapi jika Jonghyun menjerit dengan suara tinggi dan tidak beraturan, sungguh sangat menyakitkan telinga.

Jonghyun langsung berlari menghampiri Siwon dan Kibum. Siwon menurunkan Kibum dari gendongannya.

"Yaaa! Ada apa dengan mukamu?! Kenapa lebam begini? Kenapa bibirmu sobek?" seru Jonghyun khawatir.

Kibum menggeleng lemah. "Dipukul." Jawab Kibum singkat.

"Dipukul siapa?" tanya Jonghyun.

"Aku.. Aku tidak tahu siapa dia. Coba hyung tanya Wonnie, mungkin dia tahu."

Jonghyun menatap Siwon. Sama sekali tidak peduli kalau wajah Siwon juga babak belur, bahkan lebih parah dari Kibum.

"Katakan, Siwon. Siapa yang telah memukul Kibum?" tanya Jonghyun serius.

Siwon menghela nafas. "Lee Jinki, biasa dipanggil Onew. Kelas 2F." Jawab Siwon.

"Sialan. Akan kucari dia sekarang. Kau kembalilah ke kamar, panggil Eunhyuk. Dia bisa mengurus Kibum. Aku akan mengurus Onew itu sekarang juga." Kata Jonghyun sambil bergegas pergi.

Siwon dan Jonghyun mengawasi kepergian Jonghyun sampai Jonghyun sudah tidak terlihat lagi.

"Kau bisa berjalan ke kamar?" tanya Siwon khawatir.

Kibum mengangguk lemah. "Tentu. Tapi papah aku ya.. Aku takut jatuh."

Siwon mengangguk. Kibum mengalungkan lengan kanannya ke leher Siwon dan mereka berdua berjalan menuju kamar.

"Kaki kanan Wonnie kenapa?" tanya Kibum.

Siwon menggeleng. "Tidak apa-apa."

"Tapi, tapi Wonnie jalannya pincang begitu! Kaki kanan Wonnie pasti sakit ya!" seru Kibum keras.

Siwon tersenyum. "Sudah, aku tidak apa-apa."

Sesampainya di kamar, Siwon langsung membaringkan Kibum di tempat tidurnya. Kibum tidak mau ambil resiko dengan naik tangga, Kibum juga tidak mau merepotkan Siwon lagi. Maka dari itu dia memilih untuk berbaring di tempat tidur Siwon.

Siwon menatap wajah Kibum yang memar. "Ya.. Aku tidak bisa mengobati lukamu.. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit sekolah saja?"

"Muka Wonnie juga seperti itu, Wonnie juga harus ke rumah sakit." Kata Kibum, menatap wajah Siwon yang lebam dan luka-luka, bibir Siwon juga robek sama seperti bibirnya.

Siwon menggeleng. "Aku bisa mengurus diriku. Luka-luka ini akan sembuh. Yang penting adalah kau, kita ke rumah sakit ya?"

Kibum menggeleng. "Aku tidak akan ke rumah sakit kalau Wonnie tidak ke rumah sakit." Kata Kibum ngototot.

Siwon menarik nafas panjang. "Aku bilang Eunhyuk dulu." Kata Siwon, lalu keluar dari kamarnya.

Siwon masuk ke kamar 526 dan menemukan Eunhyuk sedang sendirian membaca buku. Suara gebyuran air terdengan di kamar mandi, pastilah Donghae sedang mandi.

Suara pintu yang dibuka membuat Eunhyuk menoleh. "Eh Si.. Ada apa dengan wajahmu?!" pekik Eunhyuk.

Eunhyuk bergegas berdiri dan mengamati luka di wajah Siwon. "Lebam-lebam begini.. Bibirmu sobek.. Ada apa?"

"Keadaan Kibum tak jauh beda denganku." Kata Siwon datar.

"Kibum APA?!"

Eunhyuk bergegas keluar dari kamarnya. Siwon mengikuti Eunhyuk dengan langkah yang tertatih-tatih.

"Gyaaa! Kibummieeee! Kenapa dengan wajahmu?!" seru Eunhyuk.

"Aku dipukul hyung.." jawab Kibum.

"Siapa, siapa yang memukulmu?!"

"Kata Wonnie sih, namanya Onew."

"Onew? Sialan, aku akan mencarinya sekarang." Kata Eunhyuk geram.

Siwon memegang bahu Eunhyuk. "Jangan. Jonghyun sudah mencarinya, sebaiknya kita bawa Kibum ke rumah sakit sekolah. Dia perlu perawatan."

"Yaaaa! Aku hanya dipukul sekali dan ditendang sekali! Sedangkan Wonnie berkali-kali! Lihatlah muka Wonnie yang hancur tak berbentuk itu! Ketampanan Wonnie sudah tidak ada sama sekali! Ayo ke rumah sakit!" seru Kibum keras.

Pintu kamar terbuka dan masuklah Donghae.

"Hei, ada apa dengan wajah kalian berdua?" tanyanya heran.

"Berterima kasihlah kepada Onew." Kata Siwon datar.

Donghae mengernyitkan keningnya. "Onew? Onew kelas 2F? Dia yang memukul kalian? Atas dasar apa?!"

"Sudah, jangan tanya-tanya dulu. Kibum dan Siwon perlu ke rumah sakit sekolah sekarang. Donghae, tolong papah Siwon. Sepertinya kaki kanannya sakit, dia berjalan pincang." Kata Eunhyuk sambil membantu Kibum berdiri.

Donghae bergegas mengalungkan lengan Siwon ke lehernya sendiri. Dan kemudian mereka berempat pun menuju ke rumah sakit sekolah.

: ROOMMATE :

"Yeoboseyo? Bibi? Ini, aku hanya mau mengabarkan, Kibum ada di rumah sakit sekolah sekarang. Aduh Bibi, jangan keras-keras, sakit. Kibum dipukuli orang. Bibi akan kesini sekarang? Baiklah."

"Yeoboseyo? Bibi? Iya ini Donghae. Ini, Siwon dirawat di rumah sakit sekolah karena dipukuli orang. Keadaannya parah. Bibi cepat kesini ya? Baiklah."

Eunhyuk dan Donghae sama-sama menutup telepon. Eunhyuk menelepon Ibu Kibum dan Donghae menelepon Ibu Siwon.

Kibum tak apa-apa, hanya wajah yang memar dan bibirnya sobek. Sedangkan Siwon lebih parah lagi.

Siwon menatap nanar hasil rontgen yang ada di tangannya. Suster sekolah baru saja memberikan itu padanya. Tulang kaki kanannya retak. Untungnya tidak terlalu parah. Tapi karena tadi Siwon menggunakan kakinya untuk berjalan terlalu jauh dan menggendong beban yang berat, sakitnya pun menjadi lebih terasa dan lebih pedih.

"Kenapa Wonnie memaksakan diri menggendongku tadi? Wonnie sudah tahu kaki Wonnie sakit, tapi Wonnie tetap memaksa.." kata Kibum penuh penyesalan.

Siwon tersenyum pada Kibum yang terbaring di ranjang sebelahnya.

"Sudah, tidak apa-apa kok. Yang penting kau baik-baik saja.." kata Siwon lembut.

Hati Kibum tersentuh. Baru beberapa hari dia mengenal Siwon, tapi sudah dua kali Siwon menyelamatkan nyawanya. Siwon amat baik padanya. Bahkan Siwon rela terluka hanya untuk menyelamatkan dia.

"Wonnie.. Gomawo, jeongmal gomawo.." kata Kibum.

Eunhyuk yang duduk di sampingnya mengelus-elus rambut Kibum pelan. Pancaran kasih sayang terlihat dari matanya.

"Siwon, sungguh aku mewakili seluruh keluargaku sangat berterima kasih padamu. Kau sudah menyelamatkan Kibum. Gomawo, Siwon, jeongmal gomawo." Kata Eunhyuk tulus.

"Sudah menjadi kewajibanku kan? Bukankah kau memintaku menjaganya? Aku melakukannya dengan baik kan?"

"Kau melakukannya dengan baik, sangat baik, malah."

Pintu rumah sakit sekolah terbuka dan masuklah Key. Kentara sekali di wajahnya, dia khawatir.

"Kibum, Siwon, kalian tak apa?" tanya Key khawatir.

Kibum menggeleng. "Aku hanya luka di wajah saja. Tapi Wonnie kasihan, kaki kanannya retak."

Ekspresi penyesalan terlihat di wajah Key. "Siwon, sungguh aku minta maaf atas perlakuan Onew padamu."

"Aku tidak apa-apa. Sebenarnya apa yang terjadi sih, antara Onew dan Kibum?" tanya Siwon ingin tahu.

Key menghela nafas. "Tadi aku sedang ngobrol dengan Onew, aku sempat bertanya kenapa wajahnya lebam. Kemudian seseorang menghampiri kami dan langsung marah-marah pada Onew. Dia bilang sesuatu tentang memukuli Kibum dan Siwon. Orang itu lalu pergi, masih marah-marah sih. Dia bilang akan pergi melaporkannya ke guru. Lalu aku meminta penjelasan pada Onew dan dia bilang dia memukuli Kibum hanya karena dia cemburu Kibum ngobrol denganku tadi waktu di perpustakaan." Jelas Key.

"Kenapa dia harus cemburu? Dia bukan siapa-siapamu kan?" tanya Kibum.

"Yah, dia sudah lama naksir padaku. Tapi benar deh, aku tidak suka padanya. Dan aku sudah bilang padanya agar tidak menganggumu lagi." Kata Key sungguh-sungguh.

"Key, sampaikan ucapan terima kasihku padanya. Karenanya, wajahku hancur dan aku tidak tampan lagi." KataSiwon datar.

"Siwon, jeongmal mianhae, jeongmal mianhae." Kata Key.

Siwon tersenyum tipis. "Jangan lupa, sampaikan juga padanya, terima kasih karena membuat kaki kananku retak."

Ekspresi wajah Key berubah. "Sebagai permintaan maafku, aku akan membantumu berjalan, Siwon! Jika kau memakai kursi roda, aku akan mendorongnya! Jika kau memakai kruk, aku akan memegangimu dan menjagamu!" kata Key sungguh-sungguh.

Siwon tertawa. "Key, kau tidak punya salah apa-apa padaku. Jangan merendahkan dirimu dengan cara seperti itu. Kau tidak perlu minta maaf padaku."

"Tapi tetap saja, gara-gara aku, kalian berdua jadi seperti ini."

Pintu rumah sakit terbuka lagi. Jonghyun masuk, tangan kanannya menenteng ponsel.

"Aku mencari kalian di kamar tapi teman-teman bilang kalian ada disini! Aku sudah telepon Bibi dan dia sedang dalam perjalanan kemari!" seru Jonghyun.

"Aku sudah menelepon Bibi tadi." Balas Eunhyuk.

"Bibi kesini bersama Paman. Jadi, bersiaplah Kibum." Kata Jonghyun.

Kibum mengangguk lesu. "Jonghyun hyung, Eunhyuk hyung, aku tahu Ibu akan menarikku pulang ke rumah kalau dia melihatku seperti ini. Tapi aku tidak ingin pulang. Aku suka disini. Aku bahagia bersama Siwon, aku juga baru saja berteman dengan Key. Donghae juga baik padaku. Aku tidak ingin pulang, aku ingin ada disini. Bantu aku menyakinkan Ibu, tolong.. Jebal.." pinta Kibum.

Jonghyun menghela nafas panjang. "Kau tahu kami akan selalu membantumu, Kibum.."

Pintu rumah sakit terbuka. Seorang wanita menghambur masuk, diikuti seorang laki-laki di belakangnya.

"Kibum!" pekik wanita itu tertahan.

Langkahnya semakin cepat dan akhirnya sampai di samping Kibum.

"Ibu, aku tidak apa-apa.." kata Kibum.

"Lihatlah wajahmu! Lebam seperti ini? Dan bibirmu juga sobek? Oh Kibum, memang tempat paling baik untukmu adalah rumah!" seru Ibu Kibum.

Kibum menggeleng cepat. "Tidak mau! Aku mau tetap ada disini! Disini ada Jonghyung hyung, Eunhyuk hyung, Siwon, Key, dan Donghae! Aku tidak mau pulang!" seru Kibum.

"Tidak! Kau harus pulang! Ibu sudah bilang, kau paling baik ada di rumah!" seru Ibu Kibum ngotot.

Laki-laki yang bisa dipastikan adalah Ayah Kibum, menepuk pundak Ibu Kibum.

"Teukie, chagi, jangan paksa Kibum. Berkelahi adalah hal biasa bagi anak laki-laki.." katanya membujuk.

"Biasa? Ini anak kita! Anak kita satu-satunya! Aku sudah menjaganya sepenuh hatiku dan sekarang saat dia terpisah dariku, dia jadi seperti ini?!" seru Ibu Kibum emosi.

"Bukan begitu, chagi. Aku sudah berkali-kali menjelaskan padamu, tapi kau tak mau mengerti."

"Sudah! Pokoknya Kibum harus pulang!"

"AKU TIDAK MAU PULANG!" seru Kibum keras.

Semua yang ada di ruangan itu terdiam.

"Aku sudah bilang aku TIDAK MAU PULANG! Aku punya Jonghyun hyung, Eunhyuk hyung, Wonnie, Key, dan Donghae. Aku akan baik-baik saja disini! Luka-lukaku ini hanya hasil dari sebuah kesalahpahaman!" seru Kibum.

"Tapi.." Ibu Kibum masih berusaha.

"Ibu, aku sudah mengatakannya baik-baik. Jika Ibu masih tidak mau dengar, apa aku harus mengatakannya dengan kasar? Aku lelah, Bu.."

Ayah Kibum maju dan membelai rambut putra kesayangannya.

"Kau akan tetap disini Kibum, Ayah berjanji."

Kibum tersenyum. "Gomawo, Ayah.."

Sekali lagi pintu rumah sakit terbuka. Kali ini masuklah Ibu Siwon, Ayah Siwon, beserta Kyuhyun.

"Siwon!" seru Ibunya.

Ibu Siwon bergegas menghampiri Siwon. "Kaki kananmu retak, Sayang? Kita ke rumah sakit ya sekarang? Agar kau bisa operasi, ya Sayang?"

Kyuhyun memeluk kakaknya. "Hyung.. Kenapa kau jadi seperti ini? Lihat wajahmu dan kakimu.." kata Kyuhyun sedih.

Ayah Siwon, sebaliknya malah diam saja. Dia menatap anaknya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

"Ayah, ada apa?" tanya Siwon.

"Seharusnya Ayah yang tanya, ada apa denganmu Siwon? Ayah tahu kau bukan tipe anak yang suka memukul tanpa alasan. Ada apa?" tanya Ayah Siwon.

"Aku menolong Kibum, dia dipukuli Onew." Jawab Siwon cepat.

Ibu Kibum terpekik. "Demi menolong anakku, wajahmu lebam dan kaki kananmu retak? Terima kasih, nak.. Terima kasih.." kata Ibu Kibum sambil mendekati Siwon.

Siwon tersenyum. "Sudah menjadi kewajibanku, Bibi.."

"Siwon, ayo ke rumah sakit nak. Kita periksakan kakimu, lalu kita operasi secepatnya ya? Ayo Sayang.." kata Ibu Siwon.

Siwon menoleh ke arah Kibum. "Maafkan aku Kibum, tapi sepertinya kau harus bermalam disini sendirian."

.

.

To Be Continued...

.

.