ROOMMATE
Disclaimer : Belong to SM, God, and theirselves :D This story is mine.
Author : Lee Rae Ra / Iqlima
Genre : General, Romance
Rate : T
Length : Sequel
Summary : Kehidupan Jung Siwon, seorang pemuda yang tegas namun berhati lembut, di sekolah asramanya, dengan teman sekamarnya yang baru Kim Kibum yang sangat polos. RnR?
ROOMMATE
Siwon termenung diam di kamarnya. Orang tuanya memesankan kamar VIP untuknya karena mereka ingin Siwon mendapatkan kenyamanan yang maksimal.
Siwon akan masuk kamar operasi sejam lagi. Saat ini orang tuanya sedang mengurusi administrasi, jadi Siwon hanya berdua di kamar bersama Kyuhyun.
"Hyung, noona titip salam. Katanya semoga operasinya sukses. Noona sedang ada tugas, jadi tidak bisa kesini. Tapi katanya dia akan berusaha datang." Kata Kyuhyun setelah membaca pesan dari Sungmin.
Siwon menggigit sebuah apel. "Bilang pada noona, kumohon dia datang. Aku butuh noona. Seharusnya Sabtu besok aku ketemuan dengan noona, tapi karena sakit, aku jadi tidak bisa. Bilang pada noona, kumohon, datang." Pinta Siwon.
"Untuk apa kau mau ketemuan dengan noona?" tanya Kyuhyun curiga.
"Ya! Apa adik bertemu dengan kakaknya itu hal yang aneh?"
Kyuhyun menggeleng. "Tapi, kau terlihat mencurigakan.."
Siwon melempar kepala Kyuhyun dengan anggur.
"Yaa! Hyung! Kau ini kenapa sih?! Anggur itu untuk dimakan bukan untuk dilempar!" seru Kyuhyun kesal.
Siwon nyengir. "Hei, kenapa kau marah-marah padaku? Aku mau operasi sejam lagi. Kalau nanti kakiku tidak bisa sembuh, bagaimana?" tanya Siwon menggoda.
Ruat wajah Kyuhyun berubah. "Yaa.. Hyung jangan begitu. Kaki hyung kan cuma retak, pasti bisa sembuh kok.."
"Tapi kalau tidak?" goda Siwon lagi.
"Yaaa! Hyung! Pokoknya kaki hyung harus sembuh! Pokoknya waktu liburan nanti hyung harus sudah sembuh! Kan tidak seru kalau aku main basket sendirian.. Kalau sama noona, dia kan tidak bisa main basket!"
Siwon nyengir lagi. "Hahaha! Aku tenang saja, kakakmu ini kan super, pasti aku akan cept sembuh!" katanya sambil mengacak-acak rambut Kyuhyun.
"Hyung, noona nih." Kata Kyuhyun sambil menyerahkan ponselnya pada Siwon.
Siwon menerima ponsel Kyuhyun. "Annyeong, noona.."
"Kyaa! Siwon bagaimana keadaanmu? Sungguh, noona sangat ingin kesana! Tapi noona sedang tugas lapangan! Noona sedang berusaha untuk kabur agar bisa mendampingimu operasi! Kyaaaa noona sangat khawatir!"
"Noona, rileks, rileks. Noona, datang kesini ya, aku mohon." Pinta Siwon.
"Noona usahakan, kau yang sabar ya, noona akan kesana jika bisa. Sudah ya, noona mau berusaha kabur lagi. Bye, Siwon!"
Siwon mengembalikan ponsel Kyuhyun pada yang punya. Pintu kamar terbuka dan masuklah orang tua Siwon.
"Hai, Ayah, Ibu.." sapa Siwon sambil tersenyum.
"Hai sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Ibunya.
"So far so good, hmm.." balas Siwon.
Ayahnya mengelus rambut Siwon. "Hei Siwon, sebenarnya kau ada hubungan apa dengan Kibum?" tanya Ayahnya.
Siwon terbelalak. "Mengapa Ayah bertanya seperti itu?"
"Kangin. Dia itu sahabatku sejak SD. Aku tadi sangat terkejut melihatnya karena aku jarang bertemu dengannya, kecuali saat kami berkerja sama dalam bisnis. Aku mau ngobrol dengannya tapi karena kita harus cepat ke rumah sakit jadi ya tidak sempat. Aku tahu dari tatapan matamu padanya. Aku sudah sangat berpengalaman dalam hal ini, kau tahu."
Wajah Siwon bersemu merah. Kyuhyun tertawa terbahak-bahak sedangkan Ibunya hanya tersenyum.
"Waaa, ternyata hyung suka sama Kibum hyung ya? Dia manis juga sih hyung, boleh juga.." goda Kyuhyun.
"Gyaaa! Anak kecil! Diam!" seru Siwon kesal.
Kyuhyun tertawa lagi. "Huahahahaha! Hyung pasti cemburu ya?! Hahaha, tenang saja hyung, aku tidak akan merebutnya. Dia lebih cocok denganmu."
Siwon cemberut. "Ah, diamlah!"
: ROOMMATE :
"Makan malam datang.." kata suster sekolah.
Kibum yang sedang asyik ngobrol bersama Key pun mendongak. Suster sekolah meletakkan nampan di meja.
"Wah, asyik! Lalu Key, kau makan apa?"
"Aku akan ke ruang makan sekarang. Kau sendirian bisa?" tanya Key.
Kibum menggeleng. "Aku tidak suka sendirian. Kau disini saja, kita bisa makan berdua. Lihat, porsinya banyak!"
Key tertawa kecil. "Makanku banyak, Kibum. Kurang jika segitu. Aku ke ruang makan saja, nanti aku kembali lagi."
Kibum menggeleng kuat. "Jika Key tidak makan disini, aku juga tidak akan makan. Aku tidak suka sendirian."
"Kau tidak akan sendirian!"
Kibum dan Key sama-sama menoleh ke arah pintu masuk. Jonghyun masuk sambil menenteng sebuah bungkusan.
"Aku sudah bawa makanan untuk aku dan Key, jadi kita bisa makan bertiga dan kau tidak perlu sendirian."
Kibum tersenyum senang. "Yaaa! Gomawo hyung!" seru Kibum senang.
Jonghyun duduk di samping Key. Jonghyun mengeluarkan kotak makanan dari plastik dan memberikannya pada Key.
"Kamsahamnida.." kata Key sambil menerima kotak makanan yang diberikan Jonghyun padanya.
"Tidak usah begitu formal lah." Kata Jonghyun sambil membuka kotak makanannya sendiri.
Jonghyun mengambilkan nampan makan Kibum dan memberikannya pada Kibum.
"Gomawo hyung.. Eunhyuk hyung mana? Kenapa dia tidak datang?"
"Eunhyuk bersama Donghae. Kau tahu kan Eunhyuk itu sangat pintar dalam dance? Nah, tadi dia langsung diterima. Klub dance akan ikut lomba seminggu lagi. Dan tadi salah seorang anggota mereka cidera, yang ada di pojok itu, lihat? Jadilah Eunhyuk menggantikannya dan dia harus berlatih." Jelas Jonghyun.
"Eunhyuk hyung kan hebat sekali, dia pasti bisa menang." Kata Kibum.
"Klub dance sekolah kita hebat sekali. Jika ditambah Eunhyuk, pasti bisa menang lagi." Komentar Key.
"Kalau kau ikut ekskul apa?" tanya Jonghyun pada Key.
Key menelan makanannya. "Aku tergabung dalam klub fashion. Tugas kami yaitu mengatur fashion untuk semua klub di sekolah. Misalnya, jika klub drama akan tampil, kami yang mengurus kostumnya. Klub dance juga begitu. Pokoknya semua klub yang butuh kostum, tentang fashion deh, kami klub fashion akan selalu siap sedia." Jelas Key.
"Waw! Kau hebat! Kau desainer ya?" tanya Jonghyun.
Key tersenyum. "Jangan salah mengartikan ya. Klub fashion tidak hanya terdiri dari desainer. Kami juga punya orang untuk menjahit semua baju. Ada juga yang tugasnya khusus bagian aksesoris. Pokoknya semua yang berhubungan dengan fashion."
"Lalu kau masuk yang mana?" tanya Jonghyun lagi.
"Aku di bagian desain."
"Lah! Kau ini bagaimana sih! Tadi kan aku sudah tanya apa kau itu desainer, tapi malah kau bilang aku salah mengartikan!" protes Jonghyun.
"Maaf, maaf.." kata Key.
"Key, bagaimana dengan Onew?" tanya Kibum tiba-tiba.
Key terdiam. "Tadi setelah Siwon pergi, aku menemuinya. Dia bilang dia sangat menyesal dan akan meminta maaf padamu dan Siwon. Mungkin dia akan datang nanti." Jelas Key.
"Aku ingin berterima kasih padanya." Kata Kibum.
Jonghyun dan Key terkejut.
"Dia membuatmu seperti ini dan kau malah mau berterima kasih padanya?! Apa kau sudah gila?" seru Jonghyun.
Kibum menggeleng. "Aniya.. Bukan seperti itu hyung. Saat itu, dia memakiku. Bahwa aku pengecut, bahwa aku lemah, pokoknya yang jelek-jelek deh. Saat itu juga aku tersadar. Karena seumur hidupku aku selalu berada dalam kungkungan Ibuku, itu menjadikanku lelaki yang lemah. Dan aku bertekad agar aku harus berubah hyung. Aku tidak ingin menjadi lemah selamanya." Kata Kibum sungguh-sungguh.
"Bagus! Aku akan membantumu, tentu saja!" seru Jonghyun senang.
Terdengar bunyi ringtone. Ternyata ponsel Key yang berbunyi. Key mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
"Hei, masalah ini sudah sampai ke telinga komite sekolah. Komite akan melakukan sidang pada Onew. Kibum dan Siwon juga harus datang sebagai korban." Kata Key.
"Bagus kalau begitu. Dia akan merasakan pembalasannya karena telah melukai Kibum dan Siwon." Kata Jonghyun berpuas diri.
"Aku tidak khawatir masalah Onew, dia bisa mengurus dirinya sendiri. Yang kutakutkan adalah Ayahnya."
Jonghyun menelan makanannya. "Urusan dia sendiri. Kenapa kau jadi takut?"
"Kau tahu Sparkle?" tanya Key.
Kibum dan Jonghyun mengangguk.
"Itu majalah yang selalu dibaca Ibu kalau di rumah. Memangnya ada apa?" tanya Kibum.
"Sparkle milik Ayah Onew. Onew anak laki-laki satu-satunya, dan dia sudah ditekankan bahwa dia akan mewarisi Sparkle. Jadi, jika Onew terkena masalah, sudah pasti dia akan habis di tangan Ayahnya. Dulu, dia pernah terlibat perkelahian juga, dan aku tidak melihatnya selama beberapa hari. Saat dia kembali, tubuhnya penuh luka." Jelas Key prihatin.
Kibum menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jonghyun menjatuhkan sendoknya.
"Ayahnya memukulinya?" tanya Kibum tidak percaya.
"Ayahnya sangat tegas. Makanya, aku sangat takut saat tahu Onew memukuli kalian. Aku.. Aku tidak bisa melihat Onew terluka lagi." Kata Key.
"Kau tidak bisa melihat Onew terluka lagi? Kau pacarnya ya?" tanya Jonghyun curiga.
Key menggeleng lemah.
"Tapi jika seperti itu, berarti kau dekat dengan Onew? Kenapa kemarin itu kau bilang kalau kau tidak punya teman sama sekali?" tanya Kibum.
Key tersenyum tipis. "Aku masuk klub fashion dan menjadi desainer karena hanya pekerjaan itulah yang bisa membuatku sendirian. Kau tahu kan, aku selalu menarik diri dari pergaulan? Tapi Onew datang padaku, dia menawarkan sebuah persahabatan. Aku menolaknya karena aku tahu, Onew akan ikut terkucilkan juga bila dia dekat denganku. Citra yang sudah dibangunnya dengan susah payah akan jatuh. Sejak saat itu, aku selalu memperhatikan Onew. Aku mencari tahu semua tentang dia, dan itulah yang aku dapat. Dia kasihan sekali.." Jelas Key miris.
"Kau menolak tawaran dari Onew, tapi mengapa kau menerima tawaranku?" tanya Kibum.
"Kau berbeda, Kibum. Aku melihatmu sebagai orang yang sama. Selalu sendirian dan tidak punya teman."
Kibum tersenyum. "Ah, lupakan. Sekarang kan kita sudah berteman, jadi kau tidak sendirian lagi. Dan sudah, lupakan Onew dulu." Kata Kibum ceria.
"Hey Bummie, kau tidak menelepon Siwon? Dia kan mau operasi. Tadi waktu aku telepon dia bilang sejam lagi. Kalau sekarang, tinggal dua puluh menit lagi." Kata Jonghyun.
Kibum mengambil ponselnya. "Mana? Minta nomornya Wonnie dong." Pinta Kibum.
"Dia sudah menjadi teman sekamarmu selama seminggu dan kau bahkan belum punya nomornya?" tanya Jonghyun tidak percaya.
Kibum nyengir. "Aku lupa. Sudah, sini, bacakan nomor Wonnie!"
Jonghyun pun membacakan nomor Siwon. Setelah menyimpan nomor Siwon, Kibum segera meneleponnya.
"Yeoboseyo.."
"Gyaaa! Wonnie bagaimana keadaanmu?" seru Kibum langsung.
"Aku baik saja kok. Aku akan masuk kira-kira lima belas menit lagi. Bagaimana keadaanmu?"
"Aku akan keluar dari rumah sakit sekolah besok. Aku.. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus ada di kamar sendirian besok. Aku takut."
"Kau kan bisa ditemani Key, Eunhyuk, Jonghyun, atau Donghae."
"Tapi aku sudah terbiasa bersama Wonnie.. Rasanya aneh jika tidak ada Wonnie.."
"Hahaha, aku akan kembali secepatnya, oke? Wah, perawat sudah datang. Aku harus segera pergi, aku mau masuk ruang operasi."
"Wonnie! Wonnie pasti bisa, semangat ya! Hwaiting!"
"Doakan aku ya Kibum. Bye.."
Kibum menutup teleponnya. Dia memandangi layar ponselnya.
"Hei, ada apa?" tanya Jonghyun.
"Dia akan operasi. Kita doakan ya, semoga Wonnie cepat sembuh.."
: ROOMMATE :
Seorang gadis berlari memasuki Seoul Hospital. Dia mengenakan jas laboratorium dan menenteng sebuah tas besar. Dia mendekati resepsionis.
"Jung Siwon, kamar mana?" tanya gadis itu, Sungmin.
"Tunggu sebentar, nona."
Sungmin menunggu dengan tidak sabar. "Cepat sedikit."
"Jung Siwon, di kamar VIP 6 nona. Lurus terus belok kanan." Jelas resepsionis.
"Kamsahamnida!"
Sungmin berlari lagi, menyusuri arah yang telah diberikan resepsionis kepadanya. Akhirnya dia sampai di kamar VIP 6. Sungmin masuk, tapi kamar itu kosong.
Sungmin keluar dan menemukan seorang suster yang baru saja keluar dari kamar sebelah.
"Jung Siwon, VIP 6, dimana dia?" tanya Sungmin cepat.
"Dia baru saja dibawa ke ruang operasi."
"Dimana ruang operasinya?"
"Keluar dari lorong ini belok kanan, lalu belok kanan lagi. Lurus terus dan kau akan menemukan ruang operasi."
"Kamsamnida!"
Sekali lagi Sungmin berlari. Rambut panjangnya berkibar, begitu pula jas laboratorium yang dipakainya.
"Kyu!" seru Sungmin begitu melihat adiknya.
Kyuhyun menoleh. "Noona!"
Kyuhyun segera berlari memeluk Sungmin.
"Bagaimana keadaan Siwon?" tanya Sungmin langsung.
"Ya masih seperti tadi. Kaki kanannya retak dan sekarang sedang dioperasi." Kata Kyuhyun.
Sungmin beralih ke arah orang tuanya. "Ibu, dia akan baik-baik saja kan?" tanya Sungmin khawatir.
Ibunya mengangguk. "Tulang kaki kanan adikmu itu hanya retak, pasti bisa sembuh kok. Kau tenang saja ya."
"Katanya kau sedang tugas lapangan, kenapa bisa kesini?" tanya Ayahnya.
Sungmin menunduk menatap dirinya yang masih mengenakan jas laboratorium.
"Yah, tadi habis menerima telepon dari Kyuhyun, ketua kelompok menyuruh kami kembali ke sekolah untuk mengerjakan tugas selanjutnya di laboratorium. Baru lima menit di laboratorium, aku kabur kesini." Jelas Sungmin.
"Kau naik mobil sendiri?" tanya Ayahnya lagi.
"Ne. Kalau tidak naik mobil, aku naik apa?"
"Aku bisa asumsikan kau mengebut."
Sungmin nyengir. "Aku sudah tidak sabar ingin melihat Siwon, jadi aku ngebut saja agar aku cepat sampai."
Ayahnya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ayah sudah berkali-kali bilang jangan pernah ngebut."
"Mianhae, Ayah. Aku janji tidak akan kuulangi lagi."
: ROOMMATE :
"Hahahaha! Lucu sekali!" seru Kibum sambil tertawa terbahak-bahak.
Di sampingnya, Key pun ikut tertawa. Mereka berdua sedang menonton film komedi di kamar Kibum. Baru saja sekolah selesai, jadi Key menemani Kibum.
"Tok tok tok." Terdengar suara pintu diketuk.
Key bangkit berdiri dan membuka pintu. Salah seorang petugas sekolah berdiri di depan pintu.
"Surat untuk Kim Kibum." Kata petugas itu sambil mengulurkan dua buah amplop.
"Kamsahamnida. Surat untuk Jung Siwon mana?"
"Untuk Jung Siwon langsung dikirim ke rumah sakit. Saya permisi dulu."
Petugas itu pergi dan Key menutup pintu.
"Surat, dari komite. Pasti tentang sidang." Kata Key, memberikan surat Kibum.
Kibum membuka amplop dan membaca suratnya. "Disebutkan, sidangnya besok dan orang tua harus hadir."
"Besok? Tapi Siwon tidak mungkin bisa datang kan?" tanya Key terkejut.
"Tapi disini dituliskan wajib."
Key mengangkat kedua bahunya.
"Ayah, aku bisa jelaskan!" seru sebuah suara keras di luar.
Key menggigit bibirnya.
"Ada apa Key?" tanya Kibum heran.
"Itu suara Onew.."
Kibum bangkit dari duduknya dan membuka jendelanya. Benar saja, Onew sedang bersandar ke balkon. Ponsel menempel di telinganya. Key berdiri di samping Kibum, ikut mengintip.
"Ayah, benar, aku bisa jelaskan. Tolong Ayah, tolong. Jangan lagi Ayah, kumohon.. Aku sudah capek dipukuli terus. Aku tahu aku salah, tapi kumohon.. Ayah! Ayah!"
Key menatap Kibum. "Apa kubilang.."
.
.
To Be Continued...
.
.
