ROOMMATE

Disclaimer : Belong to SM, God, and theirselves :D This story is mine.

Author : Lee Rae Ra / Iqlima

Genre : General, Romance

Rate : T

Length : Sequel

Summary : Kehidupan Jung Siwon, seorang pemuda yang tegas namun berhati lembut, di sekolah asramanya, dengan teman sekamarnya yang baru Kim Kibum yang sangat polos. RnR?

AN : Author udah post fanfic baru, Kyumin. Judulnya HARD LIFE and LOVE. Part dua nya akan di post hari ini juga. Semoga suka yaaah ^^

ROOMMATE

"Pernah! Tiada jauh dari Valensia ada sebuah villa dan kalau masih berdiri sekarang, bisa mengembalikan kenangan-kenangan yang manis. Saya pernah tinggal beberapa musim di sana. Tapi sudah lama lampau. Villa itu dekat laut, tersembunyi antara pohon jeruk. Mereka menyebutnya ... ah ... lupa ... O ya, Villa Maricella." Kata Kibum sambil menerawang jauh.

"Maricella?" ulang Siwon kaget.

"Maricella. Apa tuan pernah mendengarnya?" tanya Kibum bersemangat.

"Tak asing lagi nama itu ... ah, kita tambah tua tambah pelupa ... di Villa itu dulu ada seorang wanita paling cantik yang pernah saya lihat dan saya kenal. Dan namanya ... O ya, Laura Liorento!"

"Laura Liorento?" tanya Kibum kaget.

"Benar."

Siwon dan Kibum saling tatap. Sedangkan di ambang pintu, Minho dan Kris memperhatikan mereka berdua yang sedang latihan.

"Sialan, mereka berdua hebat sekali." Kata Minho sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kris tertawa kecil. "Mereka berdua itu, harusnya sudah jadi aktor kelas internasional. Mungkin sudah dapat Oscar." Timpal Kris.

"Untunglah aku tak jadi memilihmu. Setelah melihatmu berakting dulu ternyata kau payah sekali dalam berakting. Kalau kau yang jadi Gonzalo, sebelum mendaftar pun kita sudah ditolak." Ejek Minho.

"Yaa! Aku memang tak jago berakting, tapi kalo dalam rap, aku hebat!" sergah Kris tak mau kalah.

"Kau dengan Chanyeol saja masih hebat Chanyeol. Dasar kau, terlalu pede!"

"Yaa! Aku dan Chanyeol berbeda!"

: ROOMMATE :

"Wonnie, aku masih kesusahan membaca syair puisinya.." keluh Kibum ketika dia dan Siwon berjalan menuju kamar mereka.

"Kau kan hanya membaca syair sedikit. Cobalah lagi, ini sudah H-20." Kata Siwon menyemangati.

"Membaca puisi saja aku tak bisa, sekarang malah disuruh membaca puisi." Keluh Kibum.

"Yaaa.. Hanya sedikit! Kau pasti bisa!"

Kibum menatap Siwon. "Wonnie.. Wajah Wonnie pucat, kau sakit?" tanya Kibum khawatir.

Siwon menggeleng. "Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir. Paling hanya kecapekan saja. Sudah biasa."

"Waktu kenapa cepat sekali berlalu ya.. Tak kusangka sudah cukup lama aku bersekolah di sini. Bertemu dengan teman-teman yang baik. Dan Ibu juga semakin lama semakin mempercayaiku. Apakah ini keajaiban karena aku bertemu Wonnie?" kata Kibum sambil tersenyum.

Siwon tersenyum dan mengacak rambut Kibum.

"Kalau bagimu keajaiban adalah bertemu denganku, keajaibanku adalah bertemu denganmu."

Muka Kibum menjadi merah karena malu.

"Yaa, mukamu merah." Kata Siwon geli.

"Habisnya Wonnie sih.."

Siwon memasukkan kunci ke dalam pintu kamar. Mereka berdua masuk ke kamar. Kibum langsung ke lantai atas, tiduran di tempat tidurnya.

"Tidak mandi dulu? Kau kan tadi belum mandi." Tanya Siwon.

"Tidaaak.. Aku capek sekali. Malas mandi, lagi pula besok hari Sabtu. Kita bebas.." kata Kibum senang.

"Kau jorok sekali."

"Biar saja."

Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi.

: ROOMMATE :

Suasana kamar 525 sunyi senyap. Satu penghuninya sedang mandi dan sesekali hanya terdengar suara gebyuran air, sedangkan satu penghuninya yang lain sedang tidur pulas.

Pintu kamar 525 yang tidak terbuka. Masuklah Eunhyuk, tubuhnya penuh keringat karena baru selesai latihan dance. Wajahnya panik. Eunhyuk langsung naik ke lantai dua.

"'Bum, ireona.. Ireona.." Eunhyuk membangunkan Kibum.

Kibum melenguh. "Ada apa, hyung.. Aku lelah sekali.." tanya Kibum lelah.

"Ibumu kecelakaan."

Spontan Kibum langsung duduk tegak. "Apa? Hyung tadi bilang apa?" tanya Kibum panik.

"Ibumu kecelakaan. Tadi saat dia menyetir ditabrak truk. Sekarang dia ada di rumah sakit." Jelas Eunhyuk.

"TIDAK!" seru Kibum keras.

"Pakai jaketmu! Kita harus segera ke rumah sakit! Jonghyun hyung sudah minta izin dan kita tinggal pergi ke rumah sakit!" seru Eunhyuk.

Kibum langsung menyambar ponsel dan jaket hitam kesayangannya. Setelah itu, tanpa meninggalkan jejak apa-apa, mereka berdua segera pergi.

Satu menit setelah mereka pergi, Siwon keluar dari kamar mandi. Dia melirik ke atas dan mendapati tempat tidur kosong. Siwon bergegas memakai bajunya dan menuju kamar Jonghyun. Tapi kamar Jonghyun kosong. Siwon beralih menuju kamar Eunhyuk dan mendapati Donghae sedang latihan dance sendirian.

"Kau lihat dimana Kibum?" tanya Siwon langsung.

"Ibunya kecelakaan. Kibum, Jonghyun, dan Eunhyuk pergi ke Seoul Hospital." Jawab Donghae.

"Bibi Leeteuk?" tanya Siwon tak percaya.

"Tentu saja, memang Ibu Kibum ada berapa?"

Siwon tak menjawab. Dia bergegas kembali ke kamarnya. Memakai jaket, menyambar ponsel dan dompet, lalu segera keluar, tak lupa mengunci kamarnya.

Siwon berlari menuju bangunan piket yang ada di dekat gerbang.

"Jung Siwon. 2A, izin pergi ke Seoul Hospital." Kata Siwon cepat.

Petugas piket menatap Siwon heran. "Baru saja seorang anak minta izin untuk dia dan dua saudaranya, ke Seoul Hospital juga."

"Nah! Tujuanku sama dengan mereka! Cepatlah, aku tidak punya waktu lagi! Ini DARURAT!"

Petugas piket segera menulis data yang tadi disebutkan Siwon di atas surat izin. Siwon segera menyambar kertas itu dan keluar. Untung saja ada taksi lewat, sehingga Siwon langsung masuk.

"Seoul Hospital. Tolong mengebut. Ini darurat."

: ROOMMATE :

Speedometer mobil menunjukkan angka 80 km per jam, tapi sepertinya kecepatan itu belum cukup untuk Kibum. Dia terus menerus meminta supir keluarga Jonghyun untuk menambah kecepatan.

"Pak! Tolong lebih cepat lagi!" seru Kibum panik.

"Tidak bisa Tuan, jika lebih cepat lagi kita akan ditangkap polisi." Jawab Supir tak kalah paniknya.

"Aku harus cepat bertemu Ibu.." kata Kibum hampa.

Jonghyun memeluk sepupunya. "Bibi akan baik-baik saja. Aku tahu, dia adalah wanita yang tangguh."

Kibum menangis sesenggukan dalam pelukan Jonghyun. Jonghyun maklum, siapa juga yang tidak akan sedih jika Ibunya kecelakaan.

"Aku.. Aku takut Ibu kenapa-napa.."

"Tidak! Sudah kubilang Bibi akan baik-baik saja! Kau harus berpikir positif, Kibum! Pikir positif!" seru Jonghyun keras.

Akhirnya mereka sampai di Seoul Hospital. Rumah sakit yang sama seperti tempat Siwon dirawat dulu. Mereka bertiga berlari memasuki rumah sakit dan menemukan Ayah Kibum duduk sendiri di depan ruang Unit Gawat Darurat.

"Ayah.." panggil Kibum.

Ayah Kibum mendongak. "Kibum!"

Kibum segera berlari menghambur memeluk Ayahnya. Keduanya menangis sesenggukan.

"Ayah.. Apa yang terjadi.. Mengapa bisa seperti ini Ayah?" tanya Kibum sambil menangis.

"Ini semua salah Ayah.. Ibumu meminta Ayah mengantarkannya ke Key's, tapi karena Ayah sibuk jadi Ayah menolak. Ayah memintanya pergi bersama supir, tapi malah dia menyetir sendiri, tapi ternyata dia malah ditabrak truk, pengemudinya mabuk."

"Ayah.. Ayah.. Apakah Ibu akan sembuh?"

"Tentu saja, Ibumu adalah salah satu wanita terkuat yang pernah Ayah kenal. Dia akan sembuh.."

Tiba-tiba pintu Unit Gawat Darurat terbuka dan keluarlah seorang dokter.

"Keluarga Kim Leeteuk?" tanyanya.

Empat orang itu pun segera menghampiri dokter tersebut.

"Istri saya, bagaimana dia? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia membutuhkan sesuatu?" tanya Ayah Kibum cepat.

Sang dokter mengangguk pelan. "Dia kehilangan banyak darah. Golongan darahnya AB- . Sayangnya golongan darah itu langka dan persediaan rumah sakit sedang habis. Apakah ada yang bersedia mendonorkan darah?"

Hati Ayah Kibum, Kibum, Jonghyun, dan Eunhyuk mencelos. Golongan darah Ayah Kibum adalah B+ dan Kibum mewarisi golongan darah Ayahnya. Sedangkan Jonghyun A+ dan Eunhyuk O-.

"Tidak ada yang bergolongan darah AB-?" tanya dokter itu.

Ayah Kibum menggelengkan kepala putus asa.

"Apakah persediaan benar-benar sudah habis, dok?" tanya Ayah Kibum.

Dokter mengangguk. "Sudah habis sama sekali, Tuan. Kantong terakhir yang kami miliki tadi sudah ditransfer ke tubuh seseorang yang juga kecelakaan."

Air mata Kibum semakin deras. "Dokter.. Sembuhkan Ibuku, kumohon.." pinta Kibum sambil terisak.

"Satu-satunya cara hanyalah mendapatkan donor untuk golongan darah AB-, jika tidak ada, kami tidak bisa berbuat apa-apa."

"Saya AB-!" seru seseorang.

Kelima orang yang sedang galau itu pun menoleh ke arah suara. Kibum memekik tertahan begitu melihat Siwon.

"Wonnie.." katanya pelan sambil menatap Siwon tak percaya.

"Saya AB- dok, ambil saja darah saya." Kata Siwon mantap.

"Ikut saya."

Siwon mengikuti langkah dokter itu. Keempat orang yang masih berdiri itu menatap Siwon tak percaya.

"Siwon.. Sungguh baik sekali anak itu." Lirih Ayah Kibum.

Kibum memeluk Ayahnya. "Ayah.. Wonnie sudah menyelamatkan nyawaku dua kali. Dan sekarang dia menyelamatkan nyawa Ibu? Ayah.. Betapa aku berhutang begitu banyak padanya.." isak Kibum.

Ayah Kibum mengeratkan pelukannya. "Keluarga kita berhutang banyak pada Siwon, Kibum. Entah dengan apa kita harus membalasnya.. Ayah tidak tahu.."

: ROOMMATE :

Ibu Siwon sedang membaca majalah wanita sambil santai ketika ponselnya berbunyi dengan ringtone lagu Gangnam Style milik PSY yang mendunia itu.

"Yeoboseyo.."

"Jaejoong?"

"Ya, ini aku. Ada apa, Kangin? Ada urusan dengan Yunho? Dia belum pulang. Telepon saja ke kantornya."

"Sama sekali bukan tentang Yunho, Jaejoong. Leeteuk kecelakaan."

"APA? Leeteuk kecelakaan? Bagaimana bisa?" Ibu Siwon spontan bangkit dari duduknya.

"Ditabrak truk. Siwon.. Siwon baru saja datang dan dia mendonorkan darahnya untuk Leeteuk. Baik sekali, anakmu itu.."

"Kau dimana? Seoul Hospital?"
"Ya."

"Aku akan kesana sekarang! Tunggu aku!"

Ibu Siwon meletakkan majalah yang sedang dibacanya. Kyuhyun yang kebetulan lewat pun menyempatkan diri bertanya.

"Ada apa, Ibu?"

"Kau ingat Kibum kan? Ibunya kecelakaan dan kakakmu mendonorkan darah untuknya. Sekarang Ibu mau ke rumah sakit menyusul mereka."

Mata Kyuhyun melebar. "Benarkah? Ibu, aku ikut ya?"

"Cepat! Lima menit lagi kita bertemu di bawah!"

Kyuhyun segera berlari menuju lantai dua. Sedangkan Ibu Siwon langsung masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.

: ROOMMATE :

"Kangin!" seru Ibu Kibum.

Empat orang yang sedang duduk diam di depan Unit Gawat Darurat pun mendongak. Mereka melihat seorang wanita cantik berjalan setengah berlari ke arah mereka, diikuti oleh seorang pemuda.

"Bagaimana ceritanya?" tanya Ibu Siwon.

"Dia menyetir sendirian dan dia ditabrak truk. Kau tahu kan Leeteuk itu tidak begitu mahir menyetir.."

"Kalau kau tahu kalau istrimu tidak begitu mahir menyetir, mengapa kau membiarkannya menyetir?"

"Aku menyuruhnya pergi dengan supir. Tapi karena dia terlanjur kesal padaku, dia memutuskan untuk menyetir sendiri."

Jaejoong memeluk Kangin. Sekadar memberikan kekuatan dan keyakinan bahwa Leeteuk pasti bisa diselamatkan.

Sementara itu Kyuhyun menghampiri Kibum.

"Kibum hyung, dimana hyung ku?" tanya Kyuhyun.

"Dia ada di dalam, mendonorkan darah untuk Ibuku." Jawab Kibum sambil tersenyum menatap Kyuhyun yang lebih tinggi darinya.

Kyuhyun menghela nafas. "Aku selalu tahu bahwa hyung adalah orang yang baik. Aku selalu tahu itu."

"Aku juga." Timpal Kibum.

Pintu ruang Unit Gawat Darurat terbuka dan dokter yang tadi keluar lagi. Segera saja keenam orang tersebut langsung menghampiri sang dokter.

"Nyonya Kim Leeteuk baik-baik saja. Tapi beliau masih belum sadar. Tinggal tunggu beliau bangun saja. Baru saja Nyonya Kim kami pindahkan ke kamar VIP seperti yang diminta Tuan Kim tadi. VIP 3, Tuan." Jelas sang dokter.

"Kami bisa mengunjunginya?" tanya Ayah Kibum cepat.

Dokter mengangguk. "Silahkan saja."

Ayah Kibum, Jonghyun, Eunhyuk, Ibu Siwon, dan Kyuhyun bergegas meninggalkan Unit Gawat Darurat dan pergi menuju ruang VIP 3. Tapi tidak dengan Kibum, dia malah masuk ke ruang Unit Gawat Darurat.

Kibum masuk dan menemukan Siwon sedang berbaring di salah satu ranjang. Meja di sebelah ranjang Siwon penuh dengan buah dan susu.

"Wonnie.." panggil Kibum.

Siwon membuka matanya. Saat melihat Kibum, dia tersenyum kecil.

"Bagaimana Ibumu, Kibum?" tanya Siwon.

Air mata di wajah Kibum merebak. Melihat itu, Siwon jadi panik. Dia berusaha bangkit tapi tidak bisa karena tubuhnya terlalu lemas. Darah yang diambil darinya tadi cukup banyak dan itu cukup menguras energinya.

"Ah, Kibum! Ada apa? Ibumu baik-baik saja kan?"

"Ibu memang baik-baik saja.. Tapi bagaimana dengan Wonnie? Wonnie jadi kehilangan darah demi menyelamatkan Ibu.."

Siwon tersenyum. "Aku baik-baik saja. Lihatlah, aku segar bugar begini."

"Kalau Wonnie baik-baik saja, kenapa bangun dari tempat tidur pun tidak bisa?"

"Ini biasa, Kibum. Orang yang baru saja mendonorkan darahnya itu biasanya memang lemas, karena tubuh masih perlu penyesuaian. Ini tadi perawat sudah memberiku buah dan susu untuk mengembalikan energiku." Jelas Siwon.

"Wonnie, kau sudah menyelamatkan nyawaku dua kali, sekarang kau menyelamatkan Ibuku. Wonnie, dengan cara apa aku harus membalasnya? Kau begitu baik, Wonnie.."

Siwon menggeleng. "Kau ada di sisiku saja itu sudah cukup, Kibum.."

"Wonnie.. Terima kasih.." desah Kibum.

Kibum menundukkan badannya, dan...

Chup ~

.

.

To Be Continued...

.

.