18 years ago.


Naruto sungguh tidak tahu apa yang tengah terjadi di sekitarnya. Ia tidak tahu mengapa orang-orang dewasa yang berada di ruangan yang sama dengannya tidak pernah berhenti menatapnya. Naruto mengetahui arti tatapan orang-orang itu dan ia membencinya. Ia tidak suka jika orang dewasa yang tidak dikenalnya menatapnya dengan tatapan penuh belas kasihan.

Ya. Naruto bukanlah anak yang bodoh untuk tidak menyadari arti tatapan itu.

Mengapa mereka menatapnya seperti itu? Naruto kecil bertanya kepada dirinya sendiri. Apa yang sudah dilakukannya sampai ia mendapatkan perlakuan aneh tersebut? Dan... dan di mana ayahnya? Di mana ibunya? Mengapa ia tidak melihat keberadaan kedua orang tuanya? Mengapa hanya seorang paman yang hobi merokok yang selalu menemaninya?

"... Naruto?"

Naruto kecil dengan cepat mendongakkan kepalanya. Kedua iris safirnya menatap bingung ke arah Sarutobi Azuma. Ia dengan cepat bersembunyi di belakang kaki pria itu saat merasakan ada seseorang yang mendekati mereka; mencengkeram erat kain celana yang dipakai Asuma dengan kedua tangan mungilnya. Ia mengintip dan mendapati seorang pria asing berjongkok tidak jauh darinya. Pria itu mengatakan sesuatu kepada Asuma dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti Naruto.

Dan sebelum Naruto dapat mengetahui apa yang terjadi di sekelilingnya, ia sudah mendapati Asuma meninggalkannya di sebuah panti asuhan yang dikelola oleh pria asing itu.

Bukanlah hal yang aneh jika Naruto menangis saat tahu Asuma meninggalkannya di tempat yang sangat asing baginya. Di hari pertamanya, Naruto yang tidak mengetahui harus berbuat apa, hanya bisa duduk diam di sudut ruangan. Berkali-kali mengerjapkan kedua matanya agar tidak ada air mata yang mengalir lagi. Ia ingat jika ibunya selalu mengatakan jika anak laki-laki yang kuat tidak boleh menangis. Naruto tentu mengingat apa yang dikatakan ibunya. Ia adalah anak laki-laki yang kuat, anak laki-laki yang suatu hari nanti akan bisa melindungi orang-orang yang disayanginya.

Anak laki-laki berambut pirang cerah itu segera mengusapkan matanya yang berair dengan punggung tangan. Ia mengerjap beberapa kali dan mulai mengamati apa yang ada di sekelilingnya. Hanya dirinya yang terlihat sendirian di tempat itu. Anak-anak lain yang ada di panti asuhan tersebut terlihat bersenang-senang dengan teman mereka. Naruto hanya bisa menatap bingung saat seorang anak laki-laki mendekatinya dan mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti Naruto. Beruntung, anak laki-laki itu dengan segera meninggalkannya lagi.

Di mana dirinya berada sekarang? Naruto bertanya. Mengapa ia tidak bisa mengerti apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya? Tidak adakah yang mengerti apa yang diucapkannya?

Naruto kecil hampir saja kembali menangis saat kembali merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Keningnya berkerut mendapati seorang anak laki-laki berkulit pucat berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Naruto menelengkan kepala ke kanan; tidak mengerti mengapa anak laki-laki itu tidak berniat mengatakan sesuatu.

"Siapa namamu?"

Naruto sedikit terkejut dan senang setelah mendengar pertanyaan anak laki-laki asing tersebut. Akhirnya! Batin Naruto bersorak. Akhirnya ada seseorang yang kata-katanya bisa dimengerti Naruto!

"Uh," Naruto bergumam pelan sembari memainkan ujung pakaian yang dikenakannya. "Namaku Naruto. Nam—Uzumaki Naruto."

Anak laki-laki asing itu menaikkan sebelas alis. Terdiam beberapa saat sebelum mengulurkan tangan pucatnya ke arah Naruto. "Namaku Sasuke. Uchiha Sasuke."


Chapter 2 — Undercover


Present day, 09:37.

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum memandang nanar ke arah langit-langit kamar yang ditempatinya. Ia terdiam cukup lama. Tidak tahu apa yang harus dilakukan lebih tepatnya; membuatnya enggan untuk turun dari tempat tidur dan menemui kedua rekan satu timnya. Ringis pelan meluncur dari bibirnya saat ia menyentuh kepalanya yang terbalut perban. Merutuk karena teringat bagaimana Sakura dengan—agak—kasar mengganti perban di kepalanya semalam.

Pemuda pirang itu termenung dengan tangan kanannya yang memegangi dada di mana tulang rusuknya yang retak berada. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja dirinya bermimpi mengenai apa yang pernah dialaminya belasan tahun yang lalu. Ia tidak mengerti mengapa kenangan itulah yang justru hadir di dalam mimpinya.

Delapan belas tahun sudah berlalu, pikir Naruto. Ia sungguh tidak menyangka jika waktu akan berlalu dengan begitu cepat. Malah baginya, pertemuan pertamanya dengan Sasuke seperti baru terjadi kemarin. Ia bahkan masih ingat apa saja yang dilaluinya di salah satu panti asuhan di Inggris itu sebelum kehidupannya di Amerika Serikat dimulai.

Ah, betapa Naruto merindukan masa-masa kecilnya di panti asuhan.

Suara ketukan pelan dari pintu kamar memaksa Naruto untuk menegakkan tubuh. Salah satu alisnya naik setelah melihat kepala Sai yang terjulur dari balik ambang pintu dan mengatakan bahwa ia harus segera keluar dari kamarnya.

"Ada masalah serius," kata pria itu sebelum meninggalkan kamarnya.

Dan Naruto sama sekali tidak menyangka jika masalah serius yang dikatakan Sai adalah mengenai tubuh Kakuzu ditemukan tidak bernyawa di dalam sel tahanan. Terlebih lagi, ia tidak menyangka akan mendapati sosok Hatake Kakashi di ruang tamu apartemen yang ia sewa. Duduk dengan santai sambil sibuk membaca Icha-Icha Series terbaru. Naruto mengerang pelan melihat Kakashi tersenyum di balik masker berwarna hitam.

"Yo!" Kakashi menyapanya. "Memutuskan untuk keluar dari persembunyianmu, eh, Naruto?"

Si pirang memutar bosan kedua matanya dan menghempaskan tubuh pada sofa terdekat. Samar-samar mencium bau lezat dari arah dapur; membuat perutnya bersuara keras atas makanan yang sedang disiapkan Sakura. Ia mencoba mengabaikan hal itu ketika Kakashi menutup buku bersampul oranye di tangan. Ia tahu, di saat Kakashi bersikap demikian, pria berambut abu-abu itu tengah serius. Tidak jauh darinya, Sai yang saat itu berkutat dengan laptop di atas meja segera mengalihkan perhatian ke arahnya; bertukar pandang penuh rasa ingin tahu mengenai apa yang dipikirkan Kakashi.

"Kita perlu melakukan perubahan rencana," Kakashi memulai sembari menyesap secangkir kopi panas di atas meja. "Aku tidak menyangka jika seseorang akan menyusup ke tempat di mana Kakuzu berada dan membunuh pria itu."

Dalam diam, Naruto mendengarkan apa yang dikatakan Kakashi kepada timnya. Kedua matanya tidak pernah berhenti mengamati berkas-berkas yang sebelumnya diberikan pria itu.

Keningnya berkerut melihat foto-foto tempat kejadian di mana Kakuzu ditemukan tidak bernyawa dengan sebuah luka tembak di dada. Foto-foto lain menunjukkan dua polisi yang menjadi korban penembakan. Hasil otopsi sementara juga terlampir di berkas itu.

"Ini seperti dilakukan oleh penembak profesional," Naruto menyuarakan pemikirannya; mendapatkan anggukan setuju dari Sai. Sementara Kakashi terlihat tengah berpikir keras. "Yeah. Aku tidak salah. Dari cara penembakan sampai tempat kejadian yang terlihat 'bersih', ini bukan dilakukan oleh sembarang orang, bukan?"

"Pendapatmu sama seperti yang dikatakan Hyuuga." Naruto mengernyit mendengar nama polisi Jepang itu. "Dan aku juga pemikiran yang sama. Hal itu jugalah yang membuatku sedikit cemas sehingga memutuskan untuk terbang dari Pentagon ke tempat ini."

"Apa maksudmu, Kakashi?"

Kakashi menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. Sempat mengerling sekilas ke arah Sai yang mengajukan pertanyaan. "Aku tidak terlalu mencemaskan mengenai kematian Kakuzu," Kakashi berkata. "Ini bukanlah sesuatu yang tidak kuduga akan terjadi. Yang membuatku cemas adalah, bagaimana cara pembunuh itu tahu bahwa Kakuzu berada di gedung NPA. Saat Hyuuga menghubungiku bahwa kalian bertindak sendiri dan berhasil menangkap Hidan dan Kakuzu, aku memintanya untuk menyebarkan berita palsu di mana kedua orang itu ditahan."

Baik Sai dan Naruto tidak mengatakan apapun; menunggu Kakashi untuk kembali melanjutkan.

"Aku meminta Hyuuga mengatakan bahwa Kakuzu dan Hidan akan ditahan di salah satu kantor polisi di Kanto dan bukannya di gedung NPA," Kakashi melanjutkan. "Itu untuk menghindari hal seperti ini terjadi. Tapi nyatanya, perkiraanku salah. Dan aku menduga—"

"—ada seseorang dari pihak kepolisian yang membocorkan di mana sebenarnya Kakuzu dan Hidan berada," Naruto memotong kata-kata Kakashi. "Damn... seharusnya kita memikirkan hal itu sebelumnya. Aku sudah tidak setuju saat Hyuuga hanya menempatkan dua polisi untuk menjaga tempat di mana Kakuzu ditahan."

Naruto melihat Kakashi menganggukkan kepala dan mengatakan jika mereka seharusnya sudah mengantisipasi bocornya informasi ke luar tubuh kepolisian. Bagaimanapun juga, sepertinya Hyuuga masih terlihat kesal dengan operasi ilegal yang dilakukan Naruto sehingga tidak mau mendengarkan pendapat pemuda pirang itu. Naruto sungguh berharap jika saat kembali bertemu dengan Hyuuga, ia akan melihat wajah tegang pria itu karena tidak mendengarkan nasehatnya. Sungguh, ia tidak tahu jika seorang Hyuuga bisa bersikap keras kepala hanya karena kesal.

Stupid jerk, that Hyuuga!

Naruto mendesah pelan sambil memijat kening. Bohong jika ia mengatakan tidak terkejut saat mendengar apa yang terjadi kepada Kakuzu. Ini bukanlah apa yang ia harapkan terjadi apalagi sebelum ia dapat menginterogasi pria itu untuk kasus yang tengah ditangani timnya. Ini seperti kembali dari nol, batin Naruto. Apa yang dilakukannya selama tujuh bulan terakhir di Jepang terlihat menjadi sia-sia belaka.

"Bagaimana dengan Hidan?" Naruto bertanya ketika teringat bahwa hanya Kakuzu yang dilaporkan ditemukan tewas di dalam sel tahanan. "Apa terjadi sesuatu dengannya?"

Naruto mendapati Kakashi menggelengkan kepala. "Tidak. Beruntung bagi kita bahwa Morino Hibiki sempat memindahkan Hidan untuk diinterogasi di tempat yang terpisah. Untuk mengantisipasi terjadi sesuatu kepada Hidan, Hyuuga meminta Ibiki untuk menyembunyikan pria itu. Di mana tempatnya, sayangnya aku tidak tahu. Kita akan membicarakan hal itu dengan Hyuuga nanti."

"Jadi Hyuuga sudah mengijinkan kita untuk kembali bergabung dalam penyelidikan, huh?"

Kakashi tersenyum di balik masker. "Ma~! Jangan berkata sinis seperti itu, Sakura," pria bermasker itu mengerling ke arah Sakura yang muncul dari dapur. "Bersikap baiklah sedikit padanya. Bagaimanapun juga, karena pengaruh Hyuuga kita bisa melakukan penyelidikan di sini."

Naruto mendengar Sakura mendecih pelan sebelum mendudukkan diri di sampingnya, mencoba kembali fokus terhadap kasus mereka. "Dan apa yang harus kita lakukan sekarang, Kakashi? Kupikir mungkin kita harus menginterogasi Hidan tanpa adanya keberadaan polisi Jepang. Bukan berarti kali ini aku tidak memercayai polisi Jepang, hanya saja..."

Naruto yang menyadari tatapan Sakura kini tengah tertuju padanya memutuskan untuk mengalihkan pandangan ke arah luar jendela. Menghela napas panjang sebelum terbatuk karena dadanya terasa sakit. Shit! Retak pada tulang rusuknya sungguh sangat mengganggu.

Terlihat Kakashi menggelengkan kepala. "Hidan bisa menunggu," kata pria itu. Kedua iris mata Kakashi yang berlainan menatap lekat ke arah sosok Naruto. "Ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan dan itu menyangkut nyawamu, Naruto."


NPA Building, 13:23.

Sepasang iris lavender pucatnya tidak pernah berhenti menatap ke dalam ruangan tempat di mana Kakuzu ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa bersama dua petugas polisi. Ia terlihat tidak memedulikan petugas forensik ataupun polisi yang berlalu-lalang di sekitarnya untuk memeriksa tempat itu. Hanya diam di tengah-tengah ruangan dengan kedua tangan tersilang di depan tubuh. Rahang pria bermarga Hyuuga itu mengeras saat matanya mengamati kapur putih yang dibentuk menyerupai bagaimana kondisi tubuh Kakuzu saat ditemukan.

"Hyuuga-san."

Neji melirik dari sudut matanya. Ia melihat sosok Tenten—petugas forensik kepolisian Jepang—berjalan mendekatinya. Wanita itu terlihat membawa papan putih berisi lembaran di salah satu tangan, menyodorkan papan putih itu kepadanya.

Dalam diam, Neji membaca hasil yang didapatkan Tenten dan timnya. Kerutan samar terlihat di keningnya setelah membaca laporan itu. Bukan karena ada yang kurang. Tidak. Neji sangat tahu bagaimana kinerja Tenten selama ini. Hanya saja, laporan dari wanita itu terlihat... aneh.

"Tidak ada sidik jari... tidak ada kerusakan pada fasilitas gedung? Tidak ada apapun?" Neji bertanya dan melayangkan tatapan skeptikalnya kepada wanita itu. "Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Dan... dan bahkan tidak ada rekaman dari kamera di gedung ini yang menangkap gambar pelaku? Kau pasti bercanda, bukan?"

Dengan ragu, Tenten menggelengkan kepala. "Aku tidak bercanda atau mengada-ada, Hyuuga-san," kata Tenten. "Hasil yang kuberikan memang seperti itu. Mengenai tidak ada kamera yang menangkap gambaran pelaku, memang terdengar sedikit aneh. Pasalnya, sepanjang malam karema memang tidak pernah dimatikan. Tidak terdapat juga kerusakan pada kamera di gedung ini atau ada kesan di-hack. Tidak. Semua kamera berfungsi normal."

Tapi bagaimana? Neji menyuarakan pertanyaan itu di kepalanya. Ia menutup laporan di tangannya dan menyerahkan kembali kepada wanita di sampingnya. Kembali mengamati ruangan di sekelilingnya.

Ini adalah penghinaan bagi seorang Hyuuga Neji. Tidak pernah dalam karirnya di kepolisian, hal seperti ini terjadi. Tidak pernah ada tahanannya yang terbunuh dan mereka bahkan tidak mendapat petunjuk satu pun mengenai pelakunya. Dan yang membuat Neji semakin geram, adalah kata-kata Hatake Kakashi yang sampai saat ini terngiang di kepalanya.

"Mungkin ada mata-mata di departemenmu, Hyuuga-san."

Tidak. Sampai sekarang Neji tidak mau menerima apa yang dikatakan Hatake Kakashi padanya. Hal itu terdengar konyol di telinganya. Mata-mata? Seperti polisi yang disuap oleh organisasi kriminal? Hah! Ini bukanlah film James Bond atau film semacam itu, ingat?

Tapi... bukankah dirinya berada di Departemen Organisasi Kriminal? Bukankah hal semacam itu mungkin terjadi jika mengingat organisasi-organisasi semacam apa yang pernah diselidikinya selama ini? Mafia dan Triad dari Cina bukankah sempat ia selidiki?

"Damn it!" Neji mengumpat dengan tangan yang terkepal memukul jeruji besi di hadapannya. Ia berusaha tidak mengacuhkan pandangan tidak nyaman dari Tenten. Disandarkannya dahinya pada jeruji besi. Ia perlu berpikir. Jika dugaan Hatake Kakashi itu benar, ia perlu mencari siapa di antara bawahannya yang telah menjual informasi kepada siapapun yang bertanggung jawab dalam pembunuhan Kakuzu.

Dan itu bukanlah hal yang mudah karena hampir semua polisi di departemennya mengetahui mengenai rencana di mana seharusnya Hidan dan Kakuzu ditahan.

"Ah, Hyuuga-san!"

Pria beriris lavender pucat itu mencoba untuk tidak mengerang mendengar namanya dipanggil. Ia menaikkan sebelah alisnya melihat sosok Hatake Kakashi yang berjalan memasuki ruangan. Di belakang pria itu, Haruno Sakura dan Uzumaki Naruto baru saja melintasi garis polisi yang terpasang di tempat itu. Mendecakkan lidah begitu menyadari Uzumaki yang segera membuang pandangan ke arah lain saat kedua pasang mata mereka bertemu.

"Apa yang kauinginkan, Hatake-san?"

Saat pertama kali bertemu dengan pria bernama Hatake Kakashi, Neji sudah menduga bahwa mereka tidak akan pernah mempunyai pendapat yang sama. Setidaknya itulah yang ia pikirkan. Ia juga merasa bahwa pria bermasker itu menyembunyikan sesuatu di balik senyum yang sering diperlihatkan. Neji tidak menyukainya. Ia tidak menyukai jika ada sesuatu yang tidak diketahuinya.

Sang kepala departemen itu harus kembali memfokuskan perhatian kepada agen FBI di hadapannya saat Kakashi menarik tubuhnya ke sudut ruangan.

"Kami menemukan petunjuk mengenai kasus Kakuzu."

Enam kata yang diucapkan Kakashi berhasil membuat tubuh Neji sedikit tersentak. Tanpa memperlihatkan ekspresi apapun di wajah pucatnya, Neji menatap lekat ke arah Kakashi; melihat pria itu tersenyum di balik maskernya.

"Tapi sebelum memastikan hal itu, kami perlu bertemu dengan Hidan. Apa kau bisa membawa kami ke sana?"

Entah karena ingin membuktikan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh bermain-main dengan Neji atau karena seorang Hyuuga mempunyai harga diri yang tinggi, Neji tidak memerlukan waktu lama untuk memutuskan. Langkah kaki lebar saat berjalan melewati atrium gedung NPA dengan ketiga agen FBI Amerika Serikat mengikutinya dari belakang. Ia baru saja ingin menunjukkan mobil mana yang harus mereka naiki, saat tiba-tiba saja terdengar suara letusan senjata api di depan gedung NPA.

Tiga letusan berturut-turut membuat Neji segera menyiagakan revolver miliknya sembari bersembunyi di balik salah satu mobil patroli. Kedua matanya mencari dari mana tembakan itu berasal. Di sekelilingnya, terdengar suara teriakan dan pekik histeris dari penduduk sipil yang melintas di sekitar gedung NPA. Terdengar pula seruan dari petugas keamanan yang berada di dalam gedung NPA.

Sniper, pikir Neji saat kembali mendengar suara tembakan. Dan sebelum ia bisa menemukan di mana pelaku penembakan bersembunyi, suara dari seseorang yang ia kenal membuat Neji mengalihkan perhatian.

"Naruto!"

Suara Haruno Sakura terdengar lebih keras dibandingkan dengan orang-orang di sekelilingnya. Kedua matanya melebar setelah menyadari ke arah mana wanita berambut merah jambu itu tertuju. Ia yakin jika jantungnya seperti berhenti berdetak saat matanya menangkap sosok si pirang yang berdiri di depan pintu masuk gedung NPA.

Ia pernah melihat seseorang tertembak sebelumnya. Ia pernah melihat kejadian itu saat masih berada di Biro Investigasi Kriminal. Bagaimana seorang perambok bank menembak kelima rekannya sendiri hanya untuk mendapatkan hasil rampokan lebih besar. Ia ingat bagaimana selongsong-selongsong peluru menembus permukaan kulit itu sungguh membuatnya mual.

Dan itulah yang dilihatnya sekarang.

Hyuuga Neji tidak bisa mengedipkan matanya ketika terdengar tiga buah suara tembakan bersamaan dengan tiga butir peluru yang menembus tubuh Uzumaki Naruto; membuat pemuda pirang itu terpaku di tempat dengan kedua mata yang melebar. Terlihat si pirang menyentuh tubuhnya yang terkena tembakan sebelum terbatuk dan mengeluarkan sedikit gumpalan darah dari bibir.

Uzumaki tidak mengatakan apapun. Hanya mendesis sebelum sebuah peluru kembali mengenai tubuh pemuda itu. Tidak lama kemudian, tubuh Uzumaki yang tergeletak di atas permukaan semenlah yang dilihat Neji.

Tidak satu pun suara tembakan terdengar setelah itu.

Hal terakhir yang dilihat Neji adalah tubuh Uzumaki yang dimasukkan ke dalam mobil ambulance dan Haruno Sakura—yang mencoba menahan air mata untuk tidak tumpah—terduduk dengan kepala tertunduk di samping sosok Uzumaki.

Apa yang tengah terjadi?


Tokyo Medical University Hospital, 22:21.

Haruno Sakura selalu menganggap bahwa Kakashi adalah atasan yang eksentrik. Selama enam tahun bekerja di bawah koordinasi pria itu, Sakura sudah kebal dengan segala komentar dari rekan-rekannya di markas FBI jika mendengar bahwa keputusan yang diberikan sangatlah riskan untuk diikuti. Gila atau terkadang terdengar tidak masuk akal.

Dan sama seperti sebelumnya, kali ini wanita itu juga tidak akan berkomentar terhadap rencana gila pria itu.

Sakura melangkahkan kakinya menyusuri koridor Tokyo Medical University Hospital yang terlihat lenggang di malam hari. Berkali-kali mengedarkan pandangan ke sekitar agar tidak menarik perhatian perawat di rumah sakit itu. Berkali-kali pula bersembunyi di salah satu pintu saat dirinya hampir berpapasan dengan petugas kebersihan atau dokter jaga.

Ia baru menghela napas lega saat matanya menangkap plang nama yang ditujunya.

Ruangan itu terlihat sepi dan mampu membuat tubuhnya sdikit tergidik karena udara dingin. Satu-satunya penerangan di tempat itu berasal dari sebuah lampu neon yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Sakura juga bisa melihat ranjang-ranjang besi berjejer rapi di tempat itu.

Sungguh, pekerjaan seperti ini harusnya diserahkan kepada Sai—bukan wanita sepertinya.

Karena takut? Hah! Sudah tidak terhitung lagi berapa kali ia menjumpai tubuh tidak bernyawa milik seseorang. Ia adalah seorang agen FBI, ingat? Sudah merupakan resikonya jika menemukan kasus di mana ia harus berhadapan dengan mayat-mayat. Ia bahkan pernah melakukan nekropsi terhadap salah satu korban di kasus yang ia tangani.

Dan mengunjungi ruang mayat di rumah sakit bukanlah hal yang perlu ia takutkan.

Sakura menghela napas panjang. Kedua matanya menyusuri nama-nama yang terikat di kaki mayat-mayat di ruangan itu sampai akhirnya ia tiba di salah satu ranjang di ujung ruangan. Dengan kasar, menyibak selimut putih pucat yang menutupi tubuh kecokelatan milik teman satu timnya.

Ia memutar bosan kedua matanya mendengar dengkur pelan dari sosok Uzumaki Naruto.

"Get up, Naruto!" Sakura mendesis. Saat tidak mendapatkan reaksi dari sosok di hadapannya, wanita berambut merah jambu itu terpaksa mendorong tubuh pemuda di hadapannya sehingga Naruto terjatuh ke atas lantai; menuai erangan proters darinya. "Jangan paksa aku melakukan sesuatu yang lebih buruk dari itu, Baka!"

"You're so mean to me, Sakura!" desis si pirang sambil mengusap puncak kepalanya dengan tangan. Tergidik saat udara dingin di tempat itu membelai tubuhnya. Kening Naruto berkerut mendapati Sakura menyodorkan sebuah tas besar yang sejak tadi dibawa wanita itu. "Aku benci melakukan hal ini, kau tahu?"

Sakura tidak mengacuhkan apa yang dikatakan Naruto. Ia menyuruh pemuda itu untuk memakai pakaian dan menutupi puncak kepala dengan tudung jaket sementara ia memeriksa berkas-berkas yang ada di dalam laci ruangan tersebut; segera mengganti laporan keterangan kematian Naruto dengan laporan yang sudah disiapkannya. Ia hanya berharap jika tidak ada yang mencurigai bahwa tubuh Naruto menghilang dari ruang mayat walau ia sudah memalsukan laporan kematian Naruto—menyatakan tubuh si pirang sudah dikremasi tadi sore.

Ya. Sakura tidak akan berkomentar mengenai rencana Kakashi yang ingin memalsukan kematian Naruto demi keamanan pemuda itu.

"Kita perlu menemukan kamar mandi," kata Sakura setelah keluar dari areal gedung rumah sakit. Bersama Naruto, ia segera memasuki mobil yang diparkirkannya di dekat pintu belakang rumah sakit sembari memeriksa jika ada yang mengawasi mereka. Kembali menghela napas lega begitu ia merasa bahwa mereka sudah aman. "Kau baik-baik saja, Naruto?"

"Yeah, kurasa," Naruto bergumam dari kursi penumpang. "Tapi Sai benar-benar serius. Dia sepertinya ingin membunuhku dengan menembak dadaku. Dadaku yang retak, for the God's sake! Walaupun hanya peluru tiruan, tapi sakitnya seperti peluru sungguhan. Aku ingin tahu di mana dia mendapatkan barang seperti itu."

Sakura tidak bisa menahan diri untuk tidak terkikik pelan. Ia juga ingin tahu di mana Sai mendapatkan peluru yang terlihat asli tapi merupakan peluru tiruan dan mampu membuat Naruto seperti tertembak sungguhan. Bukan peluru karet tentunya karena peluru karet tidak akan mampu mengeluarkan darah sehingga terlihat seperti penembakan sungguhan.

"Dari sini belok ke kanan, Sakura. Aku tahu ada sebuah hotel di daerah sana."

Wanita dari keluarga Haruno itu tidak membantah apa yang dikatakan rekan timnya. Begitu sampai di hotel yang ditunjuk Naruto, ia segera memarkirkan mobilnya dan memesan sebuah kamar sementara si pirang menyembunyikan diri agar tidak ada seorang pun yang melihat.

Kamar itu bukanlah kamar yang mewah seperti apartemen yang disewa Naruto. Hanya sebuah kamar sederhana berisi sebuah tempat tidur, lemari pendingin di sudut ruangan dan meja riah yang menjadi satu dengan lemari pakaian. Sakura segera merebahkan diri di atas kasur yang empuk setelah menyerahkan tas yang dibawanya kepada Naruto. Ia segera mendapati pemuda pirang itu memasuki kamar mandi.

Sakura menatap langit-langit kamar itu dan berpikir mengenai alasan Kakashi ingin memalsukan kematian Naruto. Karena kematian Kakuzu, atasannya mencemaskan jika organisasi di mana Kakuzu bergabung akan mengincar Naruto. Bagaimana pun, Naruto sudah menyusup di dalam organisasi itu selama tujuh bulan dan mencari informasi yang bisa dikirimkan ke markas FBI.

Nyawa Naruto berada di ujung tanduk apalagi setelah mereka berhasil menangkap dua anggota organisasi itu.

Sakura segera kembali terfokus ke sekelilingnya saat mendengar aliran air dari kamar mandi berhenti mengalir. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Ia tersenyum tipis saat kedua matanya menangkap sosok pemuda berambut merah—yang terlihat masih basah—dengan warna mata yang senada keluar dari tempat itu. Jaket kulit berwarna hitam melekat di tubuh sosok tersebut.

"Kau tahu, Naruto. Kau tidak terlihat buruk dengan penampilan itu. Well, tentu saja aku masih menyukai warna rambutmu yang pirang."

Sosok di depan kamar mandi itu mengerang pelan, menenggelamkan wajah pada handuk berwarna putih sebelum bergumam tidak jelas. "I hate you, Sakura. Apa kau lupa jika aku membenci penampilan ini?"

"Well, benarkah? Tapi kau terlihat mengagumkan dengan jaket kulit dan pakaian ketat itu, Kyuubi-san."

End of Chapter 2 — Undercover


Special thanks to: Rin Miharu-Uzu, Azusa TheBadGirl, rura, Nasumichan Uharu, itakyuu .red .devil and Aoi LawLight! See you on the next chapter, Pals!

Review?