15 years ago.
Ada banyak sekali pertanyaan yang ada di kepala Naruto yang ingin ditanyakannya kepada sosok Sarutobi Asuma. Ia ingin tahu mengapa pria itu meninggalkannya di tempat ini. Ia ingin tahu di mana kedua orang tuanya, mengapa mereka tidak menemuinya dan membawanya pulang. Atau mengapa Asuma menyuruhnya untuk mengatakan kepada setiap orang yang menanyakan namanya bahwa namanya adalah Uzumaki Naruto; bukan Namikaze Naruto.
Dan saat Asuma datang ke panti asuhan setelah tiga tahun lebih, Naruto pun menanyakan semua pertanyaan yang dipendamnya selama ini.
"... Aku tidak bisa mengatakannya, Naruto," kata Asuma padanya. Walau Robert—pengelola panti asuhan—menyuruh Asuma untuk tidak merokok di lingkungan panti asuhan, pria itu tidak mengindahkan apa yang dikatakan Robert. "Setidaknya sampai kau sedikit lebih besar. Kau masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi, Gaki."
Naruto jelas tidak menyukai apa yang dikatakan Asuma. Ia mengerucutkan bibirnya dan menendang kasar butiran pasir di bawah sepatu mungilnya. Kedua matanya menyipit saat mendengar Asuma terkekeh pelan. Naruto kecil semakin kesal setelah pria itu mengacak helaian rambut pirangnya sebelum kembali merokok. Kedua mata pria itu terlihat memandang jauh ke depan.
Anak laki-laki berumur delapan tahun itu sungguh tidak mengerti. Selama tiga tahun tinggal di panti asuhan ini, tidak sekalipun ia pernah berhenti untuk memikirkan mengapa dirinya berada di tempat ini. Naruto bukan anak yang bodoh. Ia tahu bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan adalah anak yang tidak mempunyai orang tua atau kerabat. Kebanyakan dari mereka ditinggalkan di tempat ini bahkan sejak mereka masih kecil.
Tapi Naruto masih memiliki orang tua, bukan? Ayahnya masih hidup—ia tahu itu—begitu juga dengan ibunya. Tapi mengapa ia harus berada di tempat ini? Ia bukanlah Lionel yang dimasukkan ke panti asuhan karena kedua orang tua anak laki-laki itu meninggal akibat kecelakaan. Ia juga bukan Marie yang saat masih bayi ditinggalkan di depan panti asuhan ini oleh ibu yang tidak bertanggungjawab.
Ia ingin menanyakan alasan itu akan tetapi urung karena ia bisa menduga bahwa Asuma tidak akan mengatakannya.
"Apa yang sedang kaupikirkan?"
Naruto dengan cepat mendongakkan kepala saat mendengar suara yang sangat dikenalnya. Cengiran lebar terukir di wajahnya ketika mendapati sosok Sasuke yang berdiri di sampingnya setelah kepergian Asuma beberapa saat yang lalu. Naruto menggelengkan kepala, mencengkeram erat tali ayunan yang didudukinya sebelum mengayunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. Di sampingnya, Sasuke lebih memilih untuk mendudukkan diri di ayunan yang sebelumnya ditempati Asuma.
"Siapa pria yang baru saja menemuimu?" Sasuke bertanya kepadanya; membuat Naruto memutar bosan kedua mata mendapati Sasuke menatapnya dengan ekspresi datar. Tsk! Apa Sasuke tidak bosan memperlihatkan ekspresi yang sama setiap harinya?
"Dia Sarutobi Asuma. Orang yang membawaku ke tempat ini."
Masih menyibukkan diri dengan bermain ayunan, Naruto menyempatkan diri untuk mencuri pandang ke arah Sasuke dan melihat anak laki-laki itu menaikkan sebelah alis. Naruto menghela napas panjang setelah menyadari jika sepertinya Sasuke tidak tertarik dengan apa yang dikatakannya.
"Ne, Sasuke, di mana orang tuamu?"
Selama tiga tahun tinggal di panti asuhan ini, baik Sasuke dan dirinya tidak sekalipun pernah menanyakan mengenai keluarga mereka setelah Naruto menyadari bahwa anak laki-laki berkulit pucat itu selalu menghindari pertanyaan yang diajukan dari anak-anak lain di tempat ini. Naruto belajar untuk tidak pernah bertanya jika tidak ingin mendapat tatapan tajam dari Sasuke. Bagaimanapun juga, Sasuke terlihat ingin marah jika ada yang menanyakan hal itu.
Naruto segera menutup mulutnya dengan tangan setelah menyadari pertanyaan yang tiba-tiba terlontar dari bibirnya tanpa ia sadari. Memekik pelan saat ia hampir terjatuh dari ayunan karena pegangan tangannya terlepas. Dengan sedikit takut, Naruto melirik ke arah Sasuke; menunggu reaksi dari anak laki-laki itu.
Si pirang cukup terkejut melihat kedua iris oniks Sasuke melebar dengan tubuh yang bergetar. Dan sebelum Naruto sempat mengatakan sepatah kata, anak laki-laki membalikkan tubuh lalu berjalan meninggalkannya; membuat Naruto termenung di tempat.
Perlu waktu beberapa hari bagi Naruto agar Sasuke kembali mau berbicara kepadanya dan perlu dua tahun baginya sebelum Sasuke akhirnya mau menceritakan mengapa anak laki-laki itu berada di panti asuhan yang jauh dari kampung halaman mereka.
Dan setelah Naruto mengetahui hal itu, ia juga menyadari jika Sasuke dan dirinya memiliki latar belakang yang tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama adalah anak yatim piatu yang tidak lagi mempunyai orang tua.
Naruto mengetahui kebenaran itu saat usianya menginjak sepuluh tahun.
Chapter 3 — Mission
Present day, 23:56.
Suara air yang mengalir dari keran memenuhi kamar mandi berukuran kecil itu. Kedua iris safirnya menatap datar kepada aliran air yang mengandung sisa-sisa bahan pewarna rambut. Ia menghela napas panjang dan mendongakkan kepala, melihat pantulan dirinya dari cermin di hadapannya. Menghela napas saat matanya menangkap sebuah kalung yang melingkar di lehernya.
Tidak ada helaian rambut pirang cerah yang membingkai wajahnya. Warna rambut aslinya itu kini digantikan oleh helaian rambut berwarna merah gelap—nyaris menyerupai warna darah—dengan sedikit highlight oranye di dekat dua telinganya yang akan muncul setelah rambutnya kering. Tangan kecokelatannya kini bergerak meraih tas besar pemberian Sakura; mengambil foundation untuk menutupi tiga buah bekas luka di masing-masing pipinya dan sisa lebam akibat apa yang dilakukan Hidan tempo hari. Kontak lensa berwarna merah tidak lupa ia gunakan sehingga berhasil menutupi kedua iris safirnya.
Naruto meringis pelan saat ia mencoba mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disediakan Sakura. Dari pantulan di cermin di hadapannya, ia segera merutuk setelah mendapati ada empat bekas luka lebam di permukaan kulit dadanya. Damn that pervert, batin Naruto. Ia sungguh tidak percaya bahwa dirinya dengan mudah menyetujui untuk tidak memakai rompi anti peluru saat Sai menembak tubuhnya dengan peluru tiruan. Walau tidak sampai membuatnya terluka, tapi tetap saja peluru itu mampu meninggalkan bekas biru keunguan di tubuhnya.
Dalam diam, Naruto mengganti pakaiannya. Handuk putih melingkar di leher kecokelatannya. Naruto segera mematikan keran dan berjalan meninggalkan kamar manti itu. Mengerang dengan wajah yang ditenggelamkan pada handuk ketika mendengar komentar yang diberikan Sakura padanya.
Walau Sakura mengatakan bahwa wanita itu menyukai dirinya dalam penampilan seperti sekarang, hal itu tidak berlaku bagi Naruto. Ia membenci penampilan ini. Sangat. Jika bisa, ia bahkan tidak berniat untuk menatap pantulan dirinya yang seperti ini. Karena baginya, Kurama Kyuubi adalah sebuah dosa. Dosa yang tercipta di luar kuasanya. Dosa yang ingin disembunyikannya dalam-dalam dari dunia ini.
"... Kau sudah tahu apa yang harus kaulakukan setelah ini, bukan?"
Naruto mengangguk singkat, mendudukkan diri di pinggir sembari mengeringkan rambutnya. Mengerutkan kening saat sebuah amplop cokelat tersegel diulurkan Sakura kepadanya. Agen FBI itu dengan cepat mendongakkan kepala dan menatap wanita itu dengan bingung.
"Di dalamnya ada identitasmu yang baru. Lengkap dengan pasport, surat ijin mengemudi, kunci sebuah mobil, visa, kartu kredit dan ponsel. Kakashi yang menyiapkan semua itu dan gunakan dengan baik. Kau mungkin harus mencari tempat tinggal yang baru."
Naruto tidak mengatakan apapun. Diperiksanya apa yang ada di dalam amplop di tangannya. Ia mendesis pelan melihat foto wajahnya—yang dalam penyamaran—terpampang di pasport, lengkap dengan identitasnya sebagai seorang Kurama Kyuubi.
Kurama Kyuubi, seorang pembunuh bayaran yang cukup terkenal di dunia bawah.
Naruto menciptakan image itu empat tahun yang lalu. Empat tahun di mana dirinya mulai mengotori tangannya dengan darah. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak nyawa yang meregang di tangannya hanya untuk menciptakan sosok seorang Kyuubi. Sudah tidak terhitung lagi berapa uang yang masuk ke rekeningnya setelah ia menjalankan misi yang datang padanya; misi untuk membunuh, misi untuk menghabisi nyawa seseorang. Dan Naruto tidak akan menyesal atas apa yang dilakukannya.
"Dan setelah ini aku tidak boleh menghubungi kalian, bukan?" Naruto bertanya, mendapatkan anggukan dari Sakura. Rekan satu timnya itu mendesah pelan dan mendudukkan diri di sampingnya. "Aku juga tidak boleh bertemu dengan kalian dan bertukar informasi jika keadaan belum aman. Aku hanya boleh melakukannya jika mereka sudah benar-benar percaya bahwa Uzumaki Naruto sudah mati."
Sekali lagi, Sakura menganggukkan kepala.
"Well, hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang," kata Sakura sembari mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Selama beberapa saat, kau hanya harus memfokuskan diri dengan penyamaran ini. Mencoba masuk ke dalam organisasi di mana Kakuzu bergabung. Bukan sebagai Uzumaki Naruto, sang agen FBI, tapi sebagai Kurama Kyuubi—pembunuh bayaran. Kau juga tidak boleh melupakan bahwa dirimu yang sekarang adalah Kyuubi. Bukan Namikaze Naruto atau Uzumaki Naruto. Naruto yang kukenal—"
"—sudah mati sore tadi. Yeah, I already knew that, you know?" potong Naruto, menuai senyum ragu dari wanita di sampingnya.
"Good luck dan take care, Kyuubi-san."
Keheningan melanda kamar hotel itu begitu Naruto melihat sosok Sakura menghilang di balik pintu. Selama beberapa saat, Naruto memilih untuk terdiam di dalam kamarnya dan tidak memedulikan jika penerangan di tempat itu hanya berasal dari lampu di atas meja nakas. Kedua matanya terasa berat dan empuknya tempat tidur yang di duduki sama sekali tidak membantu. Jika saja bisa, Naruto sangat ingin merebahkan tubuh dan menutup mata selama beberapa jam. Tubuhnya terasa sangat lelah. Siraman air hangat di kamar mandi tadi tidak cukup untuk membuat otot-otot tubuhnya santai. Sungguh, ia sudah lupa kapan terakhir kali dirinya berlibur dan menikmati kehidupannya tanpa harus memikirkan pekerjaan.
Mungkin... mungkin jika kasus yang ditanganinya sekarang bisa selesai, ia bisa mengajukan cuti kepada Kakashi.
Agen FBI—dalam penyamaran—itu termenung dalam kesendiriannya selama beberapa saat sebelum teringat bahwa dirinya tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Dengan cepat ia mengumpulkan kembali barang-barangnya dan memasukkan begitu saja ke dalam tas ransel yang ditinggalkan Sakura untuknya. Dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut setelah memastikan tidak ada apapun yang tertinggal di sana—termasuk sidik jarinya sekalipun.
Ya. Tidak ada yang boleh menyadari bahwa Uzumaki Naruto masih hidup.
Tidak perlu waktu lama bagi Naruto untuk keluar dari hotel tersebut. Hanya dalam hitungan beberapa belas menit, dirinya sudah berada di antara keramaian kota Shibuya; berusaha untuk tidak menarik perhatian pejalan kaki di tempat itu. Topi baseball yang ditemukannya di dalam tas ransel setidaknya mampu menutupi wajahnya dari orang-orang sekitar. Walau tentu saja orang-orang di sekitarnya mungkin tidak mengenalinya, tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga.
Naruto baru saja berniat untuk mencari sebuah apartemen di sekitar Shibuya sebelum ponsel miliknya bergetar. Mendesah pelan saat menyadari ada beberapa pesan masuk di ponselnya.
Well, sepertinya tidak ada waktu istirahat sekarang, batin Naruto setelah membaca semua pesan masuk itu.
Tokyo Tower, 11:57.
Yakushi Kabuto menatap pengunjung Tokyo Tower dari balik kacamata yang digunakannya. Kedua matanya tidak pernah berhenti untuk mengawasi orang-orang itu seolah-olah jika sekali saja pertahanannya melemah, nyawanya menjadi taruhan. Ia juga tidak pernah terlihat mengeluarkan tangannya dari balik saku jaketnya.
Ia merutuk pelan saat tubuhnya tersentak setelah mendengar bunyi jam besar yang berdentang keras di menara tinggi itu; membuatnya lebih menyiagakan dirinya. Terbunuh di tempat ini bukanlah hal yang diinginkan Kabuto untuk terjadi. Bagaimanapun juga, masih banyak hal yang diinginkannya.
"Yakushi Kabuto?"
Pria berambut abu-abu itu kali ini tidak terlonjak dari tempatnya setelah mendengar suara bernada berat dari belakangnya. Perlahan, ia memutar tubuhnya sehingga bisa melihat jelas sosok yang sudah ditunggunya. Ekspresi serius di wajahnya perlahan berubah; membentuk senyum tipis di wajah pucat pria itu.
"Kyuubi-san?"
Kabuto mendapati pria berpakaian hitam dan memakai kacamata bergagang perak di hadapannya mengangguk singkat sebelum berjalan menyandarkan tubuh di dekat jendela kaca. Hampir setengah wajah pria itu tertutup oleh kerah tinggi dari pakaian yang dikenakan. Kedua matanya mengamati sosok itu dalam diam; berusaha menerka apa yang sedang dipikirkan sosok itu.
Bohong jika ia mengaku tahu banyak mengenai seorang Kurama Kyuubi. Tidak. Justru sebaliknya, selain nama dan bagaimana cara menghubungi pria itu, Kabuto tidak mengetahui apapun. Kurama Kyuubi seperti hantu di dunia bawah; tanpa latar belakang dan lebih suka bekerja di balik bayang-bayang. Tidak banyak yang tahu bagaimana wajah pembunuh bayaran itu. Jika ada yang tahu atau pernah melihat pun, orang-orang tersebut lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun. Itulah salah satu kesepakatan jika ingin menggunakan jasa pria tersebut.
Dan itu membuat Kabuto sangat ingin menguak apa yang disembunyikan seorang Kurama Kyuubi. Ia dan tuannya sangat tertarik dengan reputasi yang membayangi Kyuubi; membuatnya ingin menjadikan pria itu sebagai salah satu rekan kerjanya. Kyuubi akan lebih baik jika menjadi kawan—bukan lawan.
"Kau sudah tahu bagaimana kesepakatannya, bukan?" Kyuubi berkata. Sepasang iris merah milik pria itu cukup mampu membuat Kabuto menegak ludahnya sendiri. Walau bukan pertama kali melihat tatapan seperti itu, Kabuto terkadang masih tidak bisa mencegah perasaan tidak nyaman yang didapatnya. Tatapan Kyuubi mengingatkannya kepada sosok tuannya.
"Ya. Dan aku sudah membawa apa yang kauperlukan." Kabuto menyerahkan sebuah amplop tebal kepada pria itu. "Sisa bayaran dari pekerjaanmu akan dibayarkan begitu aku memastikan pekerjaan yang kaulakukan berhasil."
Kabuto melihat Kyuubi menaikkan sebelah alis. "Kau seperti ingin mengatakan jika aku tidak bisa melakukan pekerjaanku dengan benar."
Senyum tersungging di wajah Kabuto.
"Aku bukan bermaksud seperti itu, Kyuubi-san," katanya sembari mencoba tidak mengacuhkan tatapan dari sepasang iris merah itu. "Aku sudah banyak mendengar mengenai reputasimu di dunia bawah dan aku tidak akan meragukannya. Hanya saja aku ingin memastikan kalau kau melakukan pekerjaanmu. Aku tidak mau kepalaku menjadi taruhan setelah apa yang gagal dilakukan Kakuzu."
"Kakuzu?"
Kabuto terdiam sejenak. Salahkah ia jika mendengar nada suara Kurama Kyuubi terdengar sedikit tertarik? Ah, mungkin pria di hadapannya hanya ingin mendengar bagaimana kabar pria itu. Bagaimanapun juga, kedua orang itu bergelut di bidang yang sama—sebagai pembunuh bayaran.
"Ah," Kabuto bergumam. "Sejujurnya atasanku ingin Kakuzu menyelesaikan pekerjaan ini. Sayangnya, kami mendengar pria itu ditemukan mati di sel tahanan. Sayang sekali karena kami sudah membayar separuh lebih untuk pekerjaan yang akan dilakukan pria itu. Kami tidak ingin rugi, kau tahu? Aku juga sangat berharap kau bisa menyelesaikan pekerjaan ini karena... well, atasanku sangat tertarik untuk merekrutmu bekerja dengan kami."
Kabuto terdiam saat menyadari pria di hadapannya tidak mengatakan apapun dan hanya menatap ke arah lain. Ingin tahu apa yang membuat pria itu tidak mengacuhkannya membuat pria berambut abu-abu itu mengikuti ke arah mana pandangan Kyuubi. Keningnya berkerut melihat sekumpulan anak-anak yang sepertinya tengah mengadakan wisata ke tempat ini.
"Akan kupikirkan tawaran dari atasanmu. Mengenai pekerjaan ini, kau akan mendengar hasilnya secepat mungkin."
Dan sebelum Kabuto sempat mengatakan apapun, sosok Kurama Kyuubi sudah berjalan menjauhinya; menghilang di antara kerumunan pengunjung di tempat itu.
House of Representatives Building, 21:03.
Empat hari kemudian, Naruto mendapati dirinya berdiri di salah satu atap gedung di depan gedung parlemen Jepang dengan sebuah tas berukuran panjang di tangannya. Diletakkannya tas berwarna hitam itu di dekat kakinya, mengambil teropong dan mengarahkan benda itu tepat ke gedung di bawahnya. Terlihat kerumunan wartawan dan warga sipil yang berkumpul di depan gedung parlemen. Semua orang-orang itu tengah menunggu pintu gedung parlemen itu terbuka.
Dalam diam dan berusaha mengabaikan angin malam yang berhembus di atas atap itu, Naruto mulai merakit komponen senjata api laras panjang yang disembunyikannya di bawah biola di dalam tasnya. Tidak perlu waktu lama baginya untuk memasang teropong, magasin, gagang dan badan senapan di tangannya. Senapan api itu sempat dikokang sebelum Naruto memposisikan tubuhnya untuk menembak. Iris merahnya mengintip dari teropong yang terpasang; mengamati dalam diam pemandangan di depan gedung parlemen sementara jemari tangannya yang berbalut sarung tangan tertempel pada pelatuk senapan.
Naruto akan jujur mengatakan ia tidak menyukai pekerjaan ini. Ia tidak suka harus menggunakan senjata di tangannya untuk mencabut nyawa seseorang.
Ia benci dengan pekerjaan ini. Ia benci setiap kali jarinya menarik pelatuk sehingga selongsong-selongsong peluru itu mengenai target yang diinginkannya.
Bukankah dulu bukanlah seperti ini tujuannya belajar menembak?
Tapi Naruto sama sekali tidak mempunyai pilihan lain. Ini adalah satu-satunya cara cepat untuk masuk ke dalam jajaran organisasi hitam di negara ini; alasan yang membuatnya bertahan memerankan sosok Kurama Kyuubi selama empat tahun terakhir. Ia tidak boleh mundur sekarang, bukan? Sudah terlambat mengingat sebanyak apa darah yang telah melumuri tangannya.
Ia tidak boleh mundur karena ini adalah satu-satunya kesempatan yang terbuka lebar di hadapannya.
Naruto ingat bagaimana dirinya sedikit terkejut mendapatkan e-mail dari Yakushi Kabuto—yang sudah dikirim oleh pria itu setelah beberapa jam dari waktu kematian Kakuzu—di antara e-mail yang ditujukan untuk Kurama Kyuubi. Ia tidak pernah merasa seberuntung ini sebelumnya.
Yakushi Kabuto adalah tangan kanan Orochimaru, seorang pimpinan Triad dari Cina yang selama ini diselidiki oleh FBI sebelum pria itu menghilang setelah penyergapan di Hong Kong dua tahun yang lalu. Orochimaru bahkan lebih licin dari seekor belut. Berkali-kali lepas dari cengkeraman FBI dan meloloskan diri tanpa seorang pun yang tahu keberadaan pria itu.
Tanpa mempertimbangkan apapun lagi, Naruto dengan cepat menyetujui tawaran pria itu apalagi Kabuto tidak sengaja mengatakan ingin mengajaknya bergabung.
Bukankah sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui?
Hah! Naruto ingin tertawa sekeras-kerasnya. Mengapa justru pekerjaan yang dibencinya justru membawanya semakin dengan dengan tujuannya?
Naruto mengerjapkan kedua matanya yang terasa perih. Menatap lewat teropong dengan lensa kontak yang terpasang di kedua matanya bukanlah pilihan yang bagus. Berkali-kali ia ingin menyingkirkan lensa kontak itu namun urung setelah memikirkan mungkin saja ada anak buah Orochimaru yang mengamati pekerjaannya.
Si pirang sungguh sangat senang saat matanya menangkap pintu lebar di gedung parlemen Jepang perlahan terbuka. Di depan pagar besi yang terpasang, kilatan kamera dari para wartawan segera menghiasi suasana malam itu bersamaan dengan munculnya sosok pria tua—dengan perban yang menutupi mata kanan—berjalan digiring oleh beberapa petugas polisi Jepang.
Shimura Danzō adalah seorang anggota parlemen Jepang yang terkenal dengan kritikan pedasnya kepada Perdana Menteri Jepang. Tentu saja sudah menjadi rahasia umum bahwa Shimura Danzō tidak menyukai pemerintahan yang dipimpin Sarutobi Hiruzen selama ini. Pria itu bahkan berusaha menurunkan Hiruzen dengan segala cara yang dapat dilakukan. Dan percobaan pembunuhan terhadap Perdana Menteri Jepang adalah salah satunya. Sayang, hal itu tidak sampai terjadi; membuat Shimura Danzō akhirnya diadili di depan parlemen Jepang dalam kejahatannya.
Tidak banyak yang tahu pula bahwa pria itu juga mempunyai pengaruh di dunia bawah. Shimura Danzō adalah salah satu sosok yang dulu pernah membentuk organisasi 'Root' yang merupakan tonggak perkembangan organisasi kriminal di negara ini. Walau sekarang organisasi itu sudah tidak terdengar lagi, tapi bukan berarti pengaruh Danzō hilang begitu saja.
Orochimaru ternyata merasa terganggu dengan keberadaan Danzō. Bagaimanapun juga, Danzō adalah orang yang meminta Orochimaru untuk membunuh Hiruzen. Tentu saja dengan dibongkarnya usaha pembunuhan Hiruzen itu, keberadaan Orochimaru akan dengan mudah diketahui jika Danzō membuka mulutnya. Naruto mengenal orang-orang seperti Danzō. Mereka adalah orang-orang yang tidak ingin menderita di balik jeruji besi sendirian.
Sungguh, terkadang Naruto tidak bisa mengerti dengan jalan pikiran mereka.
Naruto kembali mencoba memfokuskan perhatiannya pada pekerjaan yang harus dilakukannya sekarang. Kembali, ia mengamati kerumunan orang-orang yang berkumpul menunggu Danzō dimasukkan ke dalam mobil polisi yang sudah disiapkan di depan gedung parlemen. Bukan hal yang sulit bagi Naruto untuk sekadar menarik pelatuk di tangannya. Yang membuatnya tidak bisa bergerak gegabah adalah adanya polisi-polisi yang mengelilingi Danzō. Ia tidak ingin menembak petugas polisi atau warga sipil; membuatnya menunggu kesempatan.
Si pirang mengikuti sosok Danzō yang berjalan menuruni tangga gedung parlemen dengan polisi yang masih mengelilingi pria itu. Naruto tahu inilah kesempatannya. Hanya saja, saat ia ingin menarik pelatuk, matanya menangkap sosok yang berdiri di ujung kerumunan di depan gedung parlemen; tampak terpisah dari kerumunan sekitarnya.
Naruto menyadari bahwa dirinya sedang menahan napasnya sendiri sambil mencoba meyakinkan bahwa matanya sama sekali tidak salah melihat sosok tersebut.
Apakah ia sedang berhalusinasi?
Tidak. Naruto menyakinkan dirinya setelah mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia bahkan mencoba melihat dengan teropong yang lebih besar.
Dan sosok itu masih berada di sana, berdiri sendirian dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
Naruto yang melupakan untuk apa ia bersembunyi di atas atap gedung dengan senjata di tangan memilih untuk mengamati sosok berkulit pucat itu. Kakinya terasa berat untuk melangkah dan membuatnya terdiam di tempat—senjata laras panjang miliknya terlupakan begitu saja.
Apa yang dilakukan Sasuke di sana? Naruto bertanya kepada dirinya sendiri. Kedua iris merahnya menatap lekat sosok pemuda itu dari balik lensa teropong. Haruskah ia meninggalkan tempat ini dan berlari mengejar pemuda itu? Tapi bagaimana dengan...
Naruto tidak sempat memikirkan hal lain saat matanya menangkap gerakan dari tangan kanan Sasuke yang bergerak mengambil sesuatu dari balik saku jaket. Kedua iris merahnya melebar sempurna saat menangkap benda apa yang diraih Sasuke.
"Fuck!" Naruto mengumpat mengamati bagaimana tangan pucat pemuda itu kini terulur ke depan dengan sebuah revolver lengkap dengan peredam teracung lurus. Naruto menyadari ke arah mana ujung revolver itu tertuju. Dan sebelum Naruto melakukan gerakan apapun, percikan api dan sisa bubuk mesiu muncul saat pelatuk revolver itu ditarik.
Hanya perlu beberapa detik sebelum teriakan histeris terdengar saat tubuh Shimura Danzō ambruk di atas anak tangga dengan sebuah tembakan mengenai dada pria itu.
Naruto seakan-akan melupakan semuanya. Ia melemparkan begitu saja teropong di tangannya, berlari menuju pintu atap dan segera menuruni ratusan anak tangga gedung itu.
Banyak pertanyaan berputar di kepala Naruto. Banyak hal yang tidak dimengertinya.
Mengapa Sasuke bisa berada di sini? Apa yang dipikirkan pemuda itu dengan membunuh Danzō di depan umum di mana siapapun bisa melihat wajahnya? Dan... dan mengapa Sasuke terlihat begitu tenang? Mengapa?
Semua pertanyaan itu tidak mampu dijawab olehnya. Berkali-kali ia mencoba mencari jawaban logis dari apa yang dilihatnya namun tidak satu pun ada alasan yang memuaskannya. Naruto kembali mengumpat ketika kakinya tidak sengaja terpeleset di ujung bawah anak tangga yang dituruninya.
Napas pemuda itu terputus-putus setelah menuruni ratusan anak tangga. Dadanya berdetak beberapa kali lebih cepat dari biasanya. Butiran-butiran keringat juga membasahi pelipis dan wajahnya. Akan tetapi Naruto tidak memedulikan itu semua. Ia tetap melangkahkan kakinya mendekati halaman depan gedung parlemen; menyeruak kerumunan yang berkumpul sedikit lebih jauh dari tempat di mana Danzō tertembak. Polisi terlihat mengepung tempat itu.
Naruto seolah-olah tidak peduli dengan sekitarnya. Kedua matanya bergerak liar mencari sosok Sasuke di antara orang-orang itu. Namun seberapa lama pun ia mencoba mencari, Sasuke tidak berada di manapun. Pemuda itu menghilang begitu saja. Tanpa meninggalkan jejak baginya.
"Damn it!" desis Naruto sembari meremas helaian rambut merahnya. Dadanya terasa terbakar karena berlari. Pandangannya berkabut namun ia berusaha untuk tidak menggosoknya. Dalam diam, Naruto meremas bagian depan pakaian miliknya; meremas sebuah kalung dengan lambang kipas yang melingkar di leher kecokelatannya.
End of Chapter 3 — Mission
Like always, thank you so much for itakyuu .red .devil, Rin Miharu-Uzu, rura, Azusa TheBadGirl, Aoi Lawlight, Nasumichan Uharu, and evilSmirk Rizu. See you on the next chapter, Pals!
Wanna review?
