13 years ago.
Cengiran lebar tidak henti-hentinya terukir di wajah Naruto. Anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu juga terlihat tidak berhenti untuk bersenandung sembari berlari kecil menuju sebuah gedung tua bercat putih pucat. Sesekali ia melambaikan tangannya kepada anak-anak lain yang ditemuinya. Cengiran di wajahnya menjadi semakin lebar saat mendapati Sasuke yang tengah mendudukkan diri di ruang aula—sebuah tempat di mana anak-anak biasanya berkumpul. Naruto melihat Sasuke menaikkan sebelah alis menyadari keberadaanya.
"... Lihat! Aku mendapatkan cokelat dari Ivy!" Naruto berseru, memamerkan sebuah kotak berpita merah kepada Sasuke. Si pirang mendudukkan diri di samping anak laki-laki berkulit pucat itu; menggembungkan pipinya setelah menyadari Sasuke tidak mengatakan apapun. Anak laki-laki itu malah sibuk membaca buku yang terbuka di atas meja.
"Apa kau mendengarkanku, Sasuke?"
"Hn."
Si pirang mengerucutkan bibir. Ia berniat menanggapi kata-kata anak laki-laki di sampingnya sebelum melihat sebuah lengan melingkar di bahunya. Menaikkan sebelah alis mendapati seorang anak laki-laki berambut cokelat lumpur tersenyum padanya. Naruto tentu saja mengenal anak laki-laki itu. Lima tahun tinggal di panti asuhan yang dikelola Robert mempunyai mengenal mereka. Ia bahkan sudah bisa berkomunikasi dengan penghuni tempat ini. Terima kasih kepada Sasuke yang mengajarinya bahasa mereka.
"Kau tidak akan mendapatkan tanggapan apapun dari Uchiha, Blondie," anak laki-laki seusianya itu berkata, masih tersenyum ke arahnya. "Dia bahkan sepertinya tidak akan peduli walau kau mendapatkan lusinan cokelat sekalipun dari anak-anak perempuan."
Naruto menyetujui dalam diam. Ia tahu apa yang dikatakan Mark—anak laki-laki di sampingnya—memang benar. Lima tahun mengenal Sasuke, Naruto tidak pernah melihat anak laki-laki berkulit pucat itu mau menerima cokelat di hari Valentine. Ia juga sangat yakin jika Sasuke pasti akan membuang cokelat-cokelat itu ke dalam tempat sampah daripada memakannya. Ah, malangnya anak perempuan yang sudah bersusah payah membuatkan cokelat untuk Sasuke.
"Setidaknya kau harus memakannya walau hanya satu saja, Sasuke. Tumpukan cokelat itu maksudku."
Sepasang iris oniks Sasuke meliriknya sekilas sebelum kembali berkutat dengan buku tebal di atas meja. "Kalau kau mau, kau boleh memakannya. Aku tidak akan peduli," kata Sasuke. "Aku bukan anak yang akan girang dan bertingkah seperti idiot hanya karena mendapat sebuah hadiah Valentine konyol seperti kau."
Naruto kembali menggembungkan pipinya. Ia mendesis pelan atas komentar Sasuke. "You're an asshole, Sasuke," katanya sebelum sempat memikirkan apa yang telah diucapkannya.
Terlihat salah satu alis anak laki-laki itu terangkat sebelum seringai sinis tersungging di wajah pucat Sasuke. "You're an idiot, then," bisik Sasuke, menatap bosan ke arah si pirang.
"Bastard," Naruto mendesis.
"Ramen-freak."
"Jerk!"
"Dumbass."
Sepasang iris safir Naruto melebar, terlihat tidak peduli lagi jika hampir semua pasang mata penghuni aula kini tertuju padanya. Beberapa dari mereka bahkan membelalakkan mata menyadari kata-kata yang dilontarkan Naruto.
"D—dumbass...? C—chicken butt!"
"Moron."
"Gah! Teme!"
"Dobe."
"You—"
"—Uzumaki!"
Naruto mau tidak mau meneguk ludahnya sendiri setelah menyadari keberadaan Mr. Robert yang berdiri di ambang pintu aula dengan kedua tangan di pinggang, meneriakkan kepadanya untuk datang ke kantor pria itu. Tentu saja ia cukup beruntung tidak harus menjalani detensi yang diberikan pria itu seorang diri. Selama mendengar ceramah Mr. Robert yang tidak menyukai ada anak-anak di tempat ini yang memakai kata-kata seperti tadi, Naruto tidak henti-hentinya melayangkan tatapan tajam pada Sasuke.
Ia mendecakkan lidah menyadari ekspresi datar yang diperlihatkan anak laki-laki itu sepanjang detensi. Sama sekali tidak terlihat terlalu memersalahkan hukuman apa yang diberikan Mr. Robert kepada mereka.
"Ini semua salahmu, kau tahu?" Naruto bergumam pelan sembari melangkahkan kaki memasuki bangunan panti asuhan setelah dua jam lebih membersihkan halaman belakang tempat itu. Di sampingnya, Sasuke hanya bergumam pelan dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Naruto segera membuka mulutnya dan berniat mengatakan sesuatu sebelum televisi yang menyala di dapur panti asuhan menarik perhatiannya.
Si pirang merasakan ada yang aneh padanya saat mendengarkan seorang penyiar berita memberitakan mengenai kebakaran di sebuah pabrik tua di bagian utara London. Terpaku di tempat ketika matanya menatap lekat gambar bangunan yang tengah dilalap api. Melihat bagaimana kobaran api itu mengelilingi seluruh bangunan membuat tubuhnya bergetar. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sudah menahan napas selama beberapa saat.
Dan sebelum Naruto dapat mengerti apa yang terjadi dengannya, ia mendengar seseorang berteriak kencang; meneriakkan sesuatu yang tidak bisa dimengertinya. Tapi... ada satu hal yang kemudian ia mengerti. Ia mengerti jika bukan orang lain yang didengarnya berteriak. Dirinyalah yang saat ini berteriak kencang dengan kedua mata yang membelalak sempurna. Kedua tangannya meremas helaian rambutnya sebelum sekelilingnya berubah menjadi gelap.
Chapter 4 — Investigation
Present day, 07:24.
Kerutan di dahi dan tatapan tajam adalah hal pertama yang diterima Naruto saat pintu di hadapannya terbuka; memperlihatkan sosok Sakura yang berdiri dengan kedua tangan disilangkan di depan dada. Sebelum Naruto sempat mengatakan apapun, wanita berambut merah jambu itu menarik bagian depan jaket yang dikenakannya dan menyeretnya memasuki ruangan.
"... Apa kau lupa kalau kau tidak boleh menghubungi kami, Naruto?" desis wanita itu, menempelkan jari telunjuk ke dadanya. "Penyamaranmu bisa—"
Naruto dengan cepat mengangkat tangannya, mengisyaratkan Sakura untuk diam. Pemuda berambut merah itu menggelengkan kepala, membalikkan tubuh dan berjalan menjauhi wanita itu. Menganggukkan kepala untuk menyapa sosok Sai yang terlihat tengah berkutat dengan tumpukan berkas-berkas di atas meja. Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Kakashi; menaikkan sebelah alis ketika pria itu tidak berkomentar mengenai kedatangannya ke tempat itu.
"Ada yang ingin kubicarakan." Naruto bergumam sembari menghempaskan tubuh pada sofa di ruangan itu. Samar-samar, telinganya menangkap kilasan berita yang berasal dari televisi yang menyala di sudut ruangan. Ia tidak memberikan komentar apapun setelah menyadari penyiar wanita dari stasiun televisi lokal itu tengah memberitakan mengenai insiden penembakan yang menewaskan Danzō di depan gedung parlemen Jepang.
Terlihat Hatake Kakashi mendongak sedikit dari buku yang sedang dibaca pria itu; menatap Naruto dengan dua irisnya yang berlainan. Kakashi bergumam pelan, meletakkan bukunya di atas meja dan menumpukan dagu pada tangannya yang terlipat. Pria itu tidak mengatakan apapun dan lebih memilih untuk menunggu apa yang akan dikatakan Naruto.
"Apa yang ingin kaubicarakan, Naruto?" Sakura bertanya kepadanya. Naruto masih bisa melihat ekspresi tidak senang di wajah wanita itu selama ia mengatakan apa maksud kedatangannya ke tempat ini.
"Jika hal itu yang membuatmu datang ke sini, kurasa sepertinya kita tidak perlu membicarakan masalah ini. Kau tidak perlu khawatir Kepolisian Jepang sudah mendapatkan petunjuk mengenai siapa pelakunya karena—"
"—memang bukan aku yang melakukannya."
Naruto yang sekali lagi memotong kata-kata yang diucapkan Sakura berhasil membuat ketika agen FBI di ruangan itu menatapnya dengan bingung. Setelah menghela napas panjang, Naruto melemparkan sebuah flash drive miliknya kepada Sai, mengisyaratkan pria itu melihat apa yang ada di sana.
"Bukan aku yang sudah membunuh Danzō," kata Naruto setelah tiga rekan kerjanya mengamati rekaman video pengamat yang berhasil diretasnya dari pos keamanan di gedung parlemen. Ia bisa melihat kedua mata hijau Sakura melebar menyadari apa yang ada di rekaman kamera pengamat itu. Tersenyum miris setelah bertukar pandang dengan Sakura.
"Tapi bagaimana mungkin? Sasuke? Bukankah Sasuke seharusnya berada di Cina?"
Bahkan, Naruto sendiri pun tidak bisa menjawab pertanyaan wanita itu. Selama dua jam lebih Naruto juga memikirkan pertanyaan itu dan sama sekali tidak menemukan jawabannya. Ia memang belum memastikan apakah Sasuke benar-benar berada di Cina seperti apa yang ada di informasi yang ditinggalkan Kakuzu. Namun mengingat bahwa seorang pembunuh bayaran pasti sudah memiliki informasi yang akurat, Naruto tidak akan meragukan informasi tersebut.
Ia sungguh tidak menyangka jika ternyata Sasuke—orang yang dicarinya selama lima tahun—justru berada di Jepang; bukan di Cina.
Dari informasi Kakuzu, Naruto tahu jika selama dua tahun terakhir Sasuke bekerja kepada Orochimaru. Karena itulah ia sangat bersemangat untuk menyusup ke dalam organisasi yang dipimpin oleh Orochimaru; berharap dengan demikian ia bisa bertemu Sasuke tanpa harus menarik perhatian anak buah pecinta ular itu. Ia sama sekali tidak menduga apa yang terjadi semalam. Tidak menduga bahwa Sasuke ada di Jepang dan membunuh Danzō.
Lalu mengapa Orochimaru memerintahkan Kabuto untuk mencarinya dan memintanya menghabisi Danzō jika pria itu sudah mengerahkan Sasuke? Hal itulah yang sampai sekarang tidak bisa dimengerti Naruto. Jika Orochimaru sudah menyuruh Sasuke, lalu untuk apa pria itu membutuhkan jasanya.
Untuk pembuktian mengenai kinerjanya sebagai seorang assassin?
"Tetap pada rencana semula, Naruto."
Sepasang iris merah Naruto menatap Kakashi selama beberapa detik. Kedua alisnya bertaut satu sama lain. Ia melihat pria berambut keperakan itu menyerahkan sesuatu kepada Sai sebelum kembali meraih buku di atas meja; menuai tatapan bosan dari Sakura.
"Just stick with the plan," kata Kakashi lagi. "Kau jangan memikirkan mengenai mengapa Uchiha Sasuke berada di sana dan menyelesaikan pekerjaan yang harusnya kau selesaikan. Berapa lama pun memikirkannya, kurasa tidak akan berhasil selama ada bagian puzzle yang belum lengkap. Aku menduga mungkin saja Kabuto akan menghubungimu. Dan kalaupun tidak, baru kita akan mencari cara lain. Kami di sini masih harus menyelidiki mengenai kematian Kakuzu dan juga menginterogasi Hidan."
Naruto terdiam sejenak sebelum menghela napas. "Aku mengerti," ujar Naruto pada akhirnya. "Gezz... aku hanya bingung, Kakashi. Aku tidak mengerti apa maksud dari Kabuto yang meminta jasa Kyuubi tapi kemudian Sasuke datang dan membunuh Danzō. Ini terdengar aneh dan membuatku berpikir jika apa yang dilakukan Kabuto adalah untuk menjebakku."
Naruto melihat Sakura bertukar pandang dengan Sai. Wanita berambut merah jambu itu baru ingi mengatakan sesuatu sebelum terdengar suara ketukan pelan dari pintu apartemen. Secara refleks, Naruto menarik pistol semi otomatis yang terselip di punggungnya. Ketika rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama sebelum Sai berjalan mendekati pintu apartemen, mengintip dari lubang di pintu tersebut.
"It's Hyuuga," kata Sai; menuai umpatan kasar dari Naruto.
Tidak mau membuang waktu sehingga membuat pria bermarga Hyuuga itu mencurigai sesuatu, Naruto segera menutupi kepalanya dengan topi sebelum memilih untuk pergi dari gedung apartemen itu melalui tangga darurat di luar jendela apartemen. Ia menganggukkan kepala kepada ketiga rekannya dalam diam, menghilang dari pandangan Kakashi dan Sakura bersamaan dengan Sai yang membuka pintu apartemen.
Naruto baru saja beberapa meter meninggalkan gedung apartemen tempat tinggal sementara ketiga rekan kerjanya dan berniat untuk menaiki sebuah taksi sebelum merasakan ponselnya bergetar pelan.
Organized Crime Department, 10:34.
Sakura tidak bisa tidak melayangkan tatapan herannya kepada sosok pria berambut mirip nanas yang disebutkan Hyuuga Neji kepadanya. Wanita dari keluarga Haruno itu menaikkan salah satu alisnya melihat bagaimana pria di hadapannya menaikkan kedua kaki di atas meja. Sebuah buku tebal menutupi wajah pria itu; menyamarkan suara dengkuran pelan dari pria di hadapannya.
Sakura berdeham pelan untuk menarik perhatian pria tersebut namun sayang, apa yang dilakukannya tidak cukup membuat perhatian detektif kepolisian itu tertuju kepadanya.
"Kau tidak akan berhasil membangunkannya dengan cara seperti itu." Sakura mengerutkan kening menyadari kehadiran seorang wanita berambut pirang yang berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan bosan sebelum berjalan ke arah sang detektif. Sakura menahan diri untuk tidak tertawa melihat bagaimana wanita pirang itu menendang kaki kursi yang diduduki Nara Shikamaru; membuat pria itu sedikit tersentak. Hampir kembali tertidur di atas meja jika saja si pirang tidak menarik kerah belakang pria itu.
"Kau mendapat kunjungan, Shika."
Sepasang manik hitam menatapnya dengan bosan dari balik kelopak mata yang setengah terpejam. Sakura merasa sedikit risih ketika kedua mata pria itu menatap lekat ke arahnya sebelum menyulut sebatang rokok.
"Jangan hiraukan sikapnya yang seperti ini. Dia bisa bersikap seperti layaknya seorang detektif jika keadaan memaksa," wanita berambut pirang itu berkata sembari mengulurkan tangan ke arahnya. "Yamanaka Ino, rekan Shikamaru."
"Haruno Sakura."
Agen FBI itu dengan cepat menyadari pandangan skeptikal yang diberikan wanita di hadapannya. "Haruno Sakura? Apa kau orang Jepang?" tanya wanita itu.
"Short of," Sakura bergumam. "Tapi aku bekerja untuk Biro Investigasi Federal Amerika Serikat."
"Dan apa yang dilakukan agen FBI di tempat ini?"
Sakura yang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Nara Shikamaru segera meraih berkas yang tersimpan di dalam tasnya; menyerahkan berkas itu kepada sang detektif. "Aku datang ingin meminta ijin melihat berkas-berkas yang ada hubungannya dengan kasus-kasus yang pernah diselidiki oleh Kepolisian Jepang. Hyuuga menyuruhku untuk menemuimu. Dia mengatakan kau bisa membantuku dalam hal ini."
Masih melayangkan tatapan bosan kepadanya, Nara Shikamaru menganggukkan kepala dan menegakkan tubuh. Pria itu tidak mengatakan apapun; hanya mengisyaratkan dengan tangan agar Sakura mengikuti. Di sampingnya, ia mendapati Yamanaka Ino tersenyum tipis kepadanya. Ah, apa polisi-polisi di tempat ini tidak serius dan kompeten seperti Nara Shikamaru? Sakura hanya berharap tidak semua orang-orang di tempat ini seperti ini.
"Lakukan apapun yang kauinginkan di tempat ini," Nara berkata setelah menunjukkan sebuah ruangan luas berlangit-langit tinggi di mana terdapat banyak kotak yang diletakkan di atas rak. "Hanya saja kau harus meletakkannya kembali setelah kau mendapatkan apa yang kaucari."
"Tidak bisakah kau mencarikan berkas dari kasus yang menyangkut Shimura Danzō?"
Sakura mendengar Nara Shikamaru bergumam 'merepotkan' yang menuai tawa pelan dari Yamanaka. Wanita itu mengedipkan sebelah mata kepadanya sebelum berjalan mengikuti Nara.
"Mengapa kalian para FBI tertarik pada kasus yang berhubungan dengan Danzō?" pria berambut nanas itu bertanya kepadanya sembari berjalan melintasi rak-rak besi tinggi dan mencari berkas-berkas yang dimaksud. "Apa karena apa yang terjadi kepada Danzō? Orang-orang yang menyelidiki kematian pria itu saja belum menemukan petunjuk apapun selain selonsong peluru dan sedikit ciri-ciri fisik pelaku. Jangan katakan padaku jika FBI sudah mencampuri tindak kriminal yang terjadi di negara ini."
Perlu beberapa saat bagi Sakura untuk mencari jawaban. "Ini tidak ada urusannya dengan Kepolisian Jepang, kurasa," gumam wanita itu. "Kami di sini untuk menyelesaikan kasus organisasi hitam yang ada di Jepang dan kebetulan bahwa Danzō mempunyai hubungan dengan itu."
"Tsk! Merepotkan," Nara berkata, berniat menyulut batang rokoknya yang kedua sebelum Yamanaka meraih terlebih dahulu batang rokok tersebut dan berteriak mengenai tidak boleh merokok di ruang berkas. Terdengar helaan napas dari Nara Shikamaru. "Kalian para wanita memang merepotkan. Berkas mengenai Danzō ada di ujung rak ini. Kau bisa mencarinya sendiri."
Sakura berusaha untuk tidak mengatakan apapun setelah Nara Shikamaru membalikkan tubuh dan meninggalkan ruangan. Diraihnya sebuah kardus yang ditunjuk pria berambut nanas itu dan mulai membongkar isinya. Menyadari jika Yamanaka masih berada di tempat itu membuat Sakura melayangkan tatapan bingungnya kepada wanita tersebut.
Wanita pirang itu tersenyum kepadanya. "Aku sedikit ragu kau akan menemukan sesuatu mengenai apa yang kau cari di sini, Haruno-san. Tapi, kurasa tidak ada salahnya jika kau mencoba, bukan?" kata si pirang sebelum berjalan menjauhinya; menyusul Nara Shikamaru. Sakura menatap tanpa berkedip saat wanita itu kembali melayangkan senyum yang tidak bisa diartikan olehnya.
Shinjuku's Park, 10:54.
Naruto baru saja selesai menyantap es krim keduanya ketika Yakushi Kabuto berjalan menghampirinya, menarik kursi kosong di hadapannya dan mendudukkan diri. Ia mendongakkan kepalanya sekilas sebelum menyesap teh dari gelas plastik yang terhidang di atas meja. Ia memutar bosan kedua matanya mendapati senyum di wajah Kabuto.
"Senang kau datang lebih cepat dariku, Kyuubi-san."
Naruto tidak mengatakan apapun. Diletakkannya gelas plastik di tangannya kembali ke atas meja. Sepasang iris merahnya tidak pernah berhenti menatap pria di hadapannya; berharap Yakushi Kabuto tidak ingin berbasa-basi mengenai apa yang terjadi.
"Sepertinya semalam apa tidak sesuai dengan rencana. Bukan begitu, Kyuubi-san?" Naruto tidak mengatakan apapun; membuat Yakushi Kabuto tertawa pelan. Pria itu tidak mengacuhkan seorang pelayan wanita yang menghampiri meja mereka untuk menanyakan pesanan. "Well, tapi tenang saja, aku tidak akan meminta kembali uang muka yang telah kubayarkan kepadamu. Aku datang menemuimu ingin menawarkan sesuatu, kurasa."
Naruto hanya mengangguk singkat, menyuruh Yakushi Kabuto untuk melanjutkan.
"Mungkin kau tidak tahu, tapi ada sedikit masalah di dalam organisasi kami," kata pria di hadapannya. "Seharusnya semalam kau yang membunuh Danzō seperti rencana awal. Hanya saja ada sedikit perubahan rencana sehingga kami mengutus orang lain untuk menghabisi pria itu. Dan anggap saja bahwa uang muka yang kami berikan adalah sebagai permintaan maaf karena sudah menyita waktumu, Kyuubi-san."
Naruto menggeram pelan, menatap tajam Yakushi Kabuto lewat kacamata yang dikenakannya. "Kau tahu, aku menganggapnya sebagai penghinaan bagiku." Naruto memainkan pinggiran gelas plastik berisi teh miliknya. "Apa kau kira setelah ini kau bisa keluar dari tempat ini tanpa terluka sedikit pun, huh? Aku tidak pernah dihina seseorang sebelum ini. Terlebih orang sepertimu."
Senyum masih tersungging di wajah pucat Kabuto.
"Aku mengerti ini. Hanya saja, aku tidak bisa melawan apa yang dikatakan oleh atasanku, Kyuubi-san. Kepalaku bisa menjadi taruhannya."
"Kaupikir aku peduli?"
Kabuto menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku tidak berpikir kalau kau akan berbaik hati melepaskan nyawa orang-orang sepertiku," Kabuto terdiam sejenak. "Tapi untuk sementara, bisakah kita menyingkirkan pembicaraan ini sejenak? Aku datang untuk menyampaikan apa yang diinginkan atasanku."
Naruto memandang pria di hadapannya dengan kedua mata yang menyipit. Menerka-nerka apa yang ada di pikiran Kabuto. Setelah beberapa saat berlalu, Naruto menghela napas; berusaha tidak memperlihatkan ekspresi apapun di wajahnya. "Lalu apa yang ingin kaubicarakan? Aku berharap apapun itu, tidak membuang-buang waktuku di tempat ini."
"Ah, kuharap juga tidak demikian. Well, aku bertaruh jika kau sudah mendengar bahwa Kakuzu sudah meninggal dan Hidan kini tengah berada dalam perlindungan Kepolisian Jepang; membuat orang-orang seperti kami semakin kesulitan mencari pembunuh bayaran yang mempunyai kredibilitas tinggi dan karena itu atasanku berharap agar kau mau bergabung dengan organisasi kami. Atasanku akan memberimu bayaran berapa pun untuk setiap misi yang diberikan."
Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Bukankah kalian sudah mempunyai orang yang bisa melakukan pekerjaan itu?" tanya Naruto. "Seingatku bukankah orang kalian sendirilah yang sudah membunuh Danzō? Aku cukup yakin jika orang suruhan atasanmu itu cukup hebat sebagai seorang pembunuh bayaran."
"Ini sedikit lebih rumit dari yang kaukira, Kyuubi-san," kata Kabuto. "Tapi orang yang atasanku kirim untuk membunuh Danzō bukanlah sepenuhnya anggota organisasi kami. Atasanku mempunyai kesepakatan dengan orang itu. Maaf, tapi aku tidak bisa menjelaskan hal itu di tempat seperti ini. Aku datang hanya ingin menyampaikan jika atasanku sangat tertarik membuatmu menjadi salah satu anggota kami. Bagaimanapun, kau satu-satunya orang di dunia bawah yang mempunyai kredibilitas tinggi sebagai assassin dan kuharap kau mau bergabung."
Walau saat ini juga Naruto ingin menganggukkan kepala dan menyetujui apa yang ditawarkan Yakushi Kabuto, ia mencoba menahan dirinya dengan berpura-pura berpikir selama beberapa saat sebelum menganggukkan kepala dan menyetujui tawaran pria itu untuk membawanya ke tempat atasannya—Orochimaru.
Dan, tiga jam kemudian, Naruto menyadari jika saat ini dirinya berada di teluk Tokyo; berdiri di sebuah pelabuhan kecil dengan sebuah kapal berukuran sedang yang ditambatkan di pelabuhan tersebut. Dalam diam mengamati orang-orang bersetelan serba hitam yang berjaga di sepanjang kapal itu ditambatkan. Salah satu dari mereja menganggukkan kepala kepada Yakushi Kabuto saat pria itu menaiki kapal. Pria itu mengisyaratkan Naruto dengan anggukan kepala untuk menaiki kapal tersebut.
"Kuharap kau menikmati perjalananmu kali ini, Kyuubi-san," kata Kabuto padanya sembari menyodorkan segelas anggur merah kepadanya. "Kau mungkin ingin beristirahat sejenak karena perjalanan kita masih sangat panjang, kurasa."
"Dan jika kau sama sekali tidak keberatan, ke mana kau akan membawaku, huh?"
Kabuto tersenyum tipis. Menyesap anggur merah dari gelasnya sendiri dan melayangkan tatapan pada jendela kapal itu. Naruto bisa merasakan kapal yang dinaikinya perlahan melaju dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana jika aku mengatakan kalau saat ini kita akan pergi ke Osaka?"
Osaka katanya? Naruto mencoba mengulangi kata-kata yang diucapkan Kabuto di dalam benaknya sendiri. Dalam hati mengumpat pelan. Pantas... pantas saja para FBI tidak pernah berhasil menemukan Orochimaru di seluruh pelosok Cina. Ternyata pria itu sama sekali tidak berada di sana dan malah bersembunyi di Jepang selama dua tahun terakhir.
Pintar, Naruto memuji pria itu dalam diam. Semua informasi-informasi yang beredar di dunia bawah hanyalah kamuflase, Naruto harusnya bisa menyadari hal itu. Rekan-rekannya sesama FBI seharusnya bisa mencari alternatif lain mengenai keberadaan pria itu dan bukannya mencari sampai ke pelosok Cina dengan membawa hasil nihil. Hah! Damn that snake. Sungguh, sekarang Naruto bisa mengerti mengapa orang-orang di dunia bawah menyebut Orochimaru sebagai seekor ular.
Selama beberapa saat, Naruto berkutat dengan pikirannya sendiri sembari menatap pemandangan di luar jendela kapal. Ia tidak menurunkan kesiagaan dirinya walau saat ini ia tengah menahan diri untuk tidak tertidur. Naruto sungguh tidak ingat lagi kapan terakhir kali ia tidur dengan nyenyak dan bukannya hanya tidur tiga sampai empat jam sehari.
Beberapa jam di dalam kapal itu dilewatkan Naruto dengan berdiam diri sembari mengamati sekelilingnya. Di atas dek kapal, Kabuto terlihat berbicara dengan seseorang melalui telepon sambil sesekali melirik ke arahnya. Walau tidak melihat secara langsung, Naruto menyadari hal itu; membuatnya selalu menggenggam barreta miliknya untuk berjaga-jaga.
Ia tidak sadar telah menghela napas panjang begitu merasakan kapal yang ditumpanginya merapat di sebuah dermaga. Suara mesin kapal yang halus dan perbincangan dari beberapa orang di dermaga menjadi satu-satunya hal yang ia dengar di tengah malam di tempat itu.
Naruto menautkan kedua alisnya ketika mendapati Kabuto menghalangi jalannya untuk turun dari kapal.
"Maaf, Kyuubi-san, bisakah kau memberikan ponselmu? Kami tidak mengijinkan orang luar untuk memiliki ponsel di tempat ini."
Naruto menggeram pelan namun menyerahkan ponsel miliknya yang tersimpan di saku celananya. Kedua iris merahnya melebar ketika pria di hadapannya menjatuhkan ponselnya ke lantai kayu dermaga dan menembak benda elektronik itu sebelum menjatuhkannya ke dasar laut.
"Kaupikir berapa harga ponsel itu, huh?" Naruto mendesis sembari melihat ponsel itu perlahan menghilang di kedalaman laut.
"Atasanku akan menggantinya, Kyuubi-san. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu."
Naruto tidak membantah. Ia juga tidak mengatakan apapun saat Kabuto menyuruhnya untuk memasuki sebuah mobil hitam yang sudah dipersiapkan. Kembali, Naruto menyadari dirinya berada di dalam situasi di mana ia tidak tahu dirinya akan dibawa ke mana. Bosan untuk bertanya, Naruto memilih untuk diam sampai akhirnya kendaraan yang ditumpanginya tiba di sebuah rumah bergaya Jepang; mendapati seorang pria kurus berkulit pucat dan berambut panjang berdiri di depan serambi. Kedua mata kuning pria itu tidak pernah berhenti menatapnya; membuat Naruto merutuk dalam hati.
"Selamat datang di kediamanku, Kyuubi," sapa Orochimaru kepadanya dengan senyum mengerikan terpatri di wajah pria pucat itu.
End of Chapter 4 — Investigation
As usual, a big hug and kiss for Azusa TheBadGirl, rura, Rin Miharu-Uzu, anindya .cahya, Nasumichan Uharu, shouta Ryuuji, itakyuu .red .devil, Aoi LawLight, evilSmirk Rizhu and Infaramora.
Terima kasih atas reviewnya dan maaf satu pun belum sempat dibalas, orz. Akan saya usahakan dibalas jika sudah mempunyai waktu luang #ngumpet. Dan ah, jangan khawatir, walau—mungkin—akan ada scene saling bunuh antara Sasuke dan Naruto, death chara tidak akan berlaku untuk mereka ;). Untuk scene awal hubungan antara Chibi!SasukedanNaruto, semoga tidak ada yang keberatan. Saya ingin menghindari banyak flashback untuk cerita intinya, orz. Tidak akan sampai fanfiksi ini selesai. Hanya sampai sebelum Naruto bergabung dengan FBI saja. Okay, See you on the next chapter, Pals!
Wanna review?
