13 years ago.
Selama setengah jam terakhir, sepasang oniks miliknya hanya menatap langit-langit bercat putih pucat di kamar itu. Tarikan napasnya yang teratur menjadi pengiring suara jam yang berdetak di meja nakas di samping tempat tidurnya. Kelopak matanya terpejam beberapa menit kemudian, namun kembali terbuka begitu ingatan sialan itu seperti kembali terputar di balik kelopak matanya.
Uchiha Sasuke membenci saat-saat seperti ini. Ia benci jika harus terbangun di tengah malam karena mimpi buruk dan berakhir tidak bisa tidur lelap sampai keesokan paginya. Ia benci jika harus menghabiskan waktunya seorang diri di dalam kamarnya yang dingin.
Ia membenci semua itu.
Sasuke mendecakkan lidah dan berangsur menegakkan tubuh begitu menyadari jika ia tidak akan bisa tidur kembali. Dikeluarkannya sesuatu dari laci meja nakas di sampingnya. Menatap tanpa berkedip kepada sebuah foto usang yang ada di tangannya.
Selembar foto yang nyaris menguning itu memang terkesan usang apalagi setelah melihat pinggiran foto tersebut yang robek di beberapa tempat. Namun, gambar yang ada di foto itu masih bisa terlihat jelas; memperlihatkan sebuah keluarga kecil—seorang ayah, ibu dan dua anak laki-laki—yang berdiri di depan bangunan kuil. Senyum tipis tersungging di wajah sang ibu; membuat Sasuke menyadari alasan di balik senyum yang diperlihatkan wanita berambut hitam tersebut.
Dan Sasuke bisa merasakan perutnya terasa tidak nyaman hanya dengan mengamati foto yang diambil enam tahun lalu.
Dengan cepat, ia meletakkan kembali foto itu ke dalam laci, membenamkan wajahnya pada permukaan bantal sebelum berteriak frustrasi sembari berusaha mengabaikan sensasi panas di matanya. Tidak. Ia sudah pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan menangis hanya karena mengingat kenangan itu.
Sungguh, ia benar-benar terlihat sangat menyedihkan. Masih saja selalu bersikap seperti ini ketika teringat betapa lugunya dirinya di foto itu. Betapa apa yang dialaminya lima tahun terakhir sangat berbeda dengan apa yang ada di foto itu.
Saat ini, dirinya yang hanya berusia sepuluh tahun, bukanlah dirinya yang seperti di dalam foto usang itu. Ia bukanlah anak laki-laki yang mengagumi sosok sang kakak dan ingin seperti seorang Uchiha Itachi—prodigy dari keluarga Uchiha—di masa depan. Ia juga bukan lagi anak kesayangan sang ibu yang akan selalu membela dirinya walau sudah membuat kenakalan dengan menyembunyikan surat kabar ayahnya.
Saat ini, ia adalah Uchiha Sasuke. Seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan; bersembunyi di balik kejamnya dunia di luar sana.
Tubuh anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu sempat terlonjak setelah mendengar ketukan pelan dari pintu kamarnya. Ia yang sedang tidak ingin tahu atau peduli siapa yang sepertinya berniat mengganggu di tengah malam seperti ini semakin menenggelamkan kepalanya pada permukaan bantal. Mendesis pelan setelah beberapa menit berlalu namun ketukan itu belum berhenti juga. Sasuke menaikkan sebelah alisnya mendapati sosok pirang berdiri di depan kamarnya begitu ia membuka pintu.
Terlihat Uzumaki Naruto membuka mulutnya, namun setelah beberapa saat berlalu, anak laki-laki itu tidak juga berniat berbicara; membuat Sasuke menggeram pelan dan berniat membanting pintu di hadapannya. Tidak tahukah si pirang jika saat ini ia tidak ingin diganggu oleh siapapun?
"... Tunggu!"
Kening Sasuke berkerut menyadari bagaimana Naruto mencoba menahan dirinya agar tidak menutup pintu kamar itu. Kedua oniks miliknya menatap datar sosok Naruto yang saat ini menggigiti bibir bagian bawah sembari meremas pelan pinggiran daun pintu.
Sasuke menghela napas, tidak lagi mencoba menutup pintu kamarnya. "Apa yang kauinginkan di tengah malam seperti ini, huh?" Sasuke bertanya. Ia bisa melihat ekspresi bingung tersirat di wajah tan Naruto.
"A—aku... aku bermimpi buruk. Bisakah untuk malam ini... uh, aku menginap di kamarmu, Sasuke? Hanya untuk malam ini saja! Aku janji tidak akan mengganggu tidurmu lagi!"
Tidak perlu waktu lama bagi Sasuke untuk berpikir atau mencoba mendengarkan mengapa tiba-tiba saja di pirang ingin menginap di kamarnya. Tidak. Sasuke tidak akan pernah peduli dengan semua itu. Ia juga tidak peduli jika Naruto bermimpi buruk ataukah ketakutan di kamarnya sendiri karena ditakuti oleh Lionel. Hal yang dipedulikannya hanyalah jika si pirang menginap di kamarnya, itu berarti Naruto akan melihat sisi lemah dirinya yang akan berteriak ketika bermimpi buruk. Tidak akan pernah hal itu akan terjadi.
"Aku tidak suka berbagi tempat tidur, Usuratonkachi," desis Sasuke. "Kau bisa mencari orang lain untuk tidur bersama denganmu."
Tanpa menunggu tanggapan dari anak laki-laki di hadapannya, Sasuke dengan cepat menutup pintu sebelum Naruto kembali mencoba menghalangi apa yang dilakukannya. Mendecakkan lidah sebelum menaiki tempat tidurnya dan kembali memandang langit-langit kamar itu.
Hanya saja, tidak sampai sepuluh menit kemudian, Sasuke mengumpat kesal setelah menyadari sensasi aneh di dadanya setiap kali mengingat ekspresi yang terukir di wajah Naruto. Bagaimana anak laki-laki itu terlihat bingung, cemas dan ketakutan. Sasuke seolah-olah seperti bercermin dan melihat dirinya sendiri yang selalu terbangun dengan kecemasan dan ketakutan yang sama. Cemas jika ia tidak akan pernah terbangun dari mimpi buruk itu dan takut jika mimpi tersebut akan kembali menghantui kehidupannya yang sekarang.
Sebelum Sasuke dapat mencerna apa yang dilakukannya, kakinya sudah bergerak mendekati pintu kamarnya untuk melihat keadaan si pirang. Terkejut mendapati Naruto masih berdiri di pintu kamarnya sambil meremas ujung pakaian yang dikenakan anak itu. Tidak ingin mengatakan apapun, Sasuke hanya mengisyaratkan si pirang untuk masuk ke kamarnya.
Dan malam itu, Sasuke menghabiskan sisa malamnya dengan mendengar deru napas Naruto. Kedua tangan si pirang mencengkeram erat bagian depan T-shirt yang dipakainya; tidak membiarkannya untuk pergi ke manapun.
Chapter 5 — Obligation
Osaka, 20;23.
Desir angin malam berhembus memasuki ruangan itu dari sebuah pintu balkon yang terbuka; menggantikan aroma rokok pekat yang menggantung di ruangan itu dengan udara yang lebih segar. Angin yang berhembus sedikit kencang itu juga membuat beberapa lembar kertas terhempas dari tempatnya sebelum berserakan di atas permukaan permadani tebal yang terpasang di ruangan tersebut.
Sang pemilik ruangan, yang duduk di atas sebuah sofa panjang, tidak terlihat memedulikan kertas-kertas yang berserakan karena tertiup angin. Toh hal itu tidak merubah keadaan ruangan yang dipenuhi kertas-kertas yang tertempel di salah satu dinding ruangan atau menumpuk tinggi di atas meja. Pemuda berkulit pucat itu lebih memilih menyibukkan diri dengan sebuah buku bersampul hitam di tangannya. Tangan pucatnya bergerak meraih sebuah pena di atas meja; membentuk garis berwarna merah saat ia menggoreskan tinta itu di permukaan kertas. Tepat di atas dua kata yang tertulis di sana.
Ia terdiam cukup lama mengamati hasil kerjanya sebelum menutup buku itu dan meletakkannya di sisi tubuhnya. Kali ini, kedua matanya terfokus pada senjata api semi otomatis di atas meja. Ia meraih benda itu dan mulai membersihkannya dengan saputangan. Berkutat dengan benda berwarna hitam itu sebelum ketukan pelan terdengar dari pintu apartemennya.
Ia sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi apapun melihat Yakushi Kabuto berjalan memasuki ruangan.
"Sampai kapan kau akan mengurung diri di tempat ini, Sasuke-kun?" kata Yakushi Kabuto setelah meletakkan sebuah tas plastik di atas meja konter. Senyum masih terpatri di wajah pria itu walau ia tidak memberikan tanggapan apapun. "Orochimaru-sama tidak pernah berhenti untuk menanyakan kapan kau akan berkunjung, kau tahu?"
Uchiha Sasuke sekali lagi tidak memberikan tanggapan apapun atas komentar dari Kabuto. Kedua oniks miliknya sempat melirik sekilas ke arah pria itu yang mulai memunguti kertas-kertas yang berserakan di atas lantai, terlihat berhenti melakukan pekerjaannya ketika hendak memungut sebuah surat kabar. Matanya menyipit melihat bagaimana pria itu mencuri pandang ke arahnya.
"Masih memikirkan teman masa kecilmu, Sasuke-kun?"
"Kurasa itu bukan urusanmu," Sasuke berkata. Nada suaranya memang terkesan datar dan seolah-olah tidak peduli. Akan tetapi, jika diperhatikan, Sasuke sedikit mengernyit setelah matanya menangkap headline berita yang tercetak tebal di permukaan kertas; tanpa sadar menggenggam sebuah kalung yang melingkar di lehernya. "Aku tidak punya hubungan apapun dengan orang itu."
Ah, benarkah? Suara di dalam kepalanya bertanya; membuat Sasuke dengan cepat mengalihkan perhatian pada langit malam di luar sana.
Benarkah kau sama sekali tidak peduli? Tidak peduli bahwa seseorang yang pernah menjadi masa lalumu diberitakan tewas tertembak?
Sasuke tahu pertanyaan itu adalah pertanyaan retorikal. Ia masih ingat bagaimana dirinya mencoba untuk tidak memperlihatkan ekspresi apapun setelah mendengar berita bahwa satu agen federal Amerika Serikat tewas tertembak di depan gedung NPA Jepang. Selama dua hari terakhir, ia ingat bagaimana dirinya mencoba untuk fokus kepada pekerjaannya walau ia tidak pernah berhenti memikirkan apa yang terjadi pada agen FBI itu.
Benarkah Naruto sudah meninggal?
"Idiot," geram Sasuke pelan namun tidak sampai terdengar oleh Kabuto. Ia sungguh terdengar bukan seperti dirinya dengan terus menerus memikirkan apa yang terjadi pada si pirang. Bukankah ia sudah pernah berjanji bahwa apa yang dilakukan Naruto bukan lagi urusannya? Mereka sudah tidak lagi berada di jalan yang sama. Tidak lagi mempunyai tujuan yang sama.
Mereka mempunyai takdir yang berbeda dan Sasuke seharusnya tidak perlu memikirkan itu lagi. Persetan jika berita yang ada di surat kabar itu memang benar. Bukan salahnya pula jika sampai terjadi hal yang buruk kepada Naruto. Itu adalah konsekuensi dari pekerjaan yang mereka jalani, bukan? Dan lagi, Sasuke sudah pernah memperingatkan Naruto untuk tidak terlibat dengan sesuatu semacam organisasi mafia atau triad Cina. Sasuke sudah pernah memperingatkan hal itu dan sepertinya Naruto tidak mendengarkan nasehatnya.
Sasuke kembali memfokuskan perhatiannya kepada tangan kanan Orochimaru. "Apa yang kauinginkan dengan datang ke sini?" tanyanya sembari beranjak dari tempat duduknya. Menyulut sebatang rokok dengan tubuh yang bersandar pada pinggiran pintu balkon.
"Kau sepertinya tidak dalam suasana hati yang senang, Sasuke-kun? Tidakkah kematian Danzō bisa membuatmu gembira, hmm?" Sasuke tidak mengatakan apapun; hanya diam dan sibuk berkutat dengan rokoknya. "Well, aku datang ke sini hanya ingin menyampaikan jika Orochimaru-sama ingin bertemu denganmu. Ada pekerjaan yang harus kauselesaikan."
"Katakan padanya aku sama sekali tidak tertarik."
Sasuke mencoba mengabaikan senyum di wajah Kabuto.
"Tapi kau tidak dalam posisi untuk menolak, Sasuke-kun," kata pria itu sembari menyodorkan sebuah amplop cokelat kepadanya. "Ini adalah kesepakatan kita. Orochimaru-sama bersedia membantumu dan sebagai balasan, kau bekerja untuknya, ingat? Aku tahu jika kau tidak mempunyai kesetiaan yang sama sepertiku terhadap Orochimaru-sama. Tapi ingatlah, hanya karena kau menarik di matanya, bukan berarti selamanya kau bisa bertindak sesukamu, Sasuke-kun. Kau juga sebaiknya ingat siapa yang selalu melindungi dan membereskan masalah yang kaulakukan selama empat tahun terakhir."
Wajah pucat Sasuke masih terlihat pasif setelah apa yang dikatakan Kabuto. Kedua matanya menatap bagaimana pria itu tertawa pelan sembari meletakkan amplop cokelat itu di atas meja setelah menyadari jika dirinya sama sekali tidak terlihat ingin menyentuh benda itu.
Dalam diam, Sasuke mencoba untuk tidak meraih pistolnya dan menembak kepala pria itu. Tidak. Bagaimanapun juga, Yakushi Kabuto masih sangat bisa dimanfaatkan olehnya.
"Ah, ya. Aku lupa mengatakan padamu. Untuk misi kali ini, kau tidak sendiri. Orochimaru-sama mendapatkan seorang rekan untukmu. Dia berharap jika kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik. Semoga saja demikian karena orang itu terlihat tidak senang setelah tahu jika kau mencoba untuk merebut pekerjaannya."
Shimura Resident, Tokyo, 08:33.
"... Apa kau menemukan sesuatu?"
Sebuah gelengan pelan dari Tenten sudah cukup membuat Sakura mengerang pelan. Tangannya mencengkeram pinggiran papan plastik di tangannya seperti ingin menghancurkan benda itu. Ia berusaha tidak mengacuhkan tatapan penuh minat dari petugas-petugas kepolisian yang berada di ruangan itu.
"Tidak ada apapun di sini, Haruno-san," kata Tenten yang terlihat kembali berkutat dengan sebuah komputer menyala di atas meja. "Sepertinya Shimura Danzō tidak meninggalkan apapun di rumah ini. Atau mungkin memang tidak ada sesuatu yang penting? Bagaimanapun juga, Danzō tidak lagi terlibat ke dalam organisasi hitam di negara ini, bukan? Pengadilan dan Kepolisian Jepang sudah mengkonfirmasikan hal itu sejak dua tahun terakhir."
Sakura sungguh ingin memercayai apa yang dikatakan petugas forensik kepolisian itu. Hanya saja, setelah memeriksa berkas-berkas mengenai mantan anggota Parlemen Jepang itu, Sakura tidak mau mempercayainya semudah itu. Ia jauh lebih tahu jika Danzō tidaklah 'sebersih' yang dikira semua orang selama ini. Danzō mungkin memang terlibat dalam usaha pembunuhan Sarutobi Hiruzen dan bukannya terlibat dalam organisasi 'Root' yang pernah berkembang di negara ini.
"Bisakah kau menemukan hal lain di tempat ini?"
Sakura bisa melihat wanita di sampingnya terlihat tidak yakin. Namun pada akhirnya, Tenten menganggukkan kepala; membuat Sakura menggumamkan terima kasih kepada wanita itu. Dalam diam, ia berjalan menjauhi ruang kerja milik Danzō, berjalan mengelilingi rumah yang tidak lagi dihuni sebelum berhenti di serambi rumah itu.
Sakura masih ingat mengapa dirinya berkeras ingin menggeledah kediaman Shimura Danzō dan memaksa Hyuuga Neji untuk mengeluarkan surat perintah penggeledahan di rumah ini. Ia ingat bagaimana kesalnya dirinya saat tidak menemukan sebuah petunjuk mengenai Danzō di berkas-berkas milik Kepolisian. Apa yang diberikan Nara Shikamaru padanya hanyalah berkas-berkas yang tidak ada arti di mananya. Berkas-berkas itu hanya berisi beberapa hal mengenai keterlibatan Danzō di Root dan latar belakang pria itu.
Tidak puas atas hasil yang didapatkan membuat Sakura menggigiti kuku jemarinya sampai tidak menyadari jika seseorang tengah mendekat ke arahnya. Ia terlonjak pelan merasakan sentuhan pada bahu kanannya. Kening wanita berambut merah jambu itu mengerut mendapati sosok Yamanaka Ino berdiri di belakangnya. Tidak jauh dari si pirang, Nara Shikamaru terlihat sedang terlibat pembicaraan serius dengan Tenten. Huh? Ini baru kali pertamanya Sakura melihat pria itu sangat jauh dari kata 'malas' dan 'tidak kompeten'.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Sakura bertanya; menuai decak pelan dari wanita di hadapannya.
"Jangan terlihat terkejut seperti itu, Haruno-san." Yamanaka Ino mengibaskan tangan yang berbalut sarung tangan di depan wajah. "Cheer up! Aku dan Shika diperintahkan untuk membantu penyelidikan kasus Danzō dan karena alasan itu kami ke sini setelah mendengar dari Neji bahwa kau tengah melakukan penggeledahan di rumah ini."
Sakura berusaha untuk tidak memutar bosan kedua matanya. Agen federal itu hanya mengangguk singkat dan berjalan mengikuti Yamanaka Ino setelah wanita itu menyuruhnya untuk pergi ke dalam rumah.
"Kudengar jika salah satu rekanmu terkena tembakan di depan gedung NPA," kata Yamanaka Ino saat mereka berdua berjalan mendekati Shikamaru. Sakura mengangguk singkat atas perkataan wanita di sampingnya. "Itu berita yang sangat mengejutkan bagi pihak kepolisian. Tidak pernah ada insiden penembakan seperti itu terlebih di depan gedung NPA sebelum ini. Kudengar Komisaris Polisi bahkan sampai mengetatkan penjagaan di gedung itu. Well, apa kau baik-baik saja? Maksudku—"
"—Kami akan bertahan," Sakura sudah terlebih dahulu memotong kata-kata wanita di sampingnya. Ia tidak mencoba untuk menatap kedua mata Yamanaka Ino. "Hal seperti ini sudah konsekuensi dari pekerjaan seperti ini, bukan?"
"Kau tidak terlihat bersedih atas kematian rekanmu. Jika aku berada di posisimu, mungkin perlu waktu bagiku untuk bersikap seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi."
"Dan membiarkan penyelidikan akan semakin tidak tentu arah?" Sakura menyipitkan matanya, mendapat kedikan bahu dari si pirang atas pertanyaan itu. "Hanya dengan berdiam diri dan memikirkan apakah aku akan bernasib sama seperti Naruto bukanlah sifatku. Lagi pula, apa yang akan terjadi akan setimpal jika semua ini berakhir."
Sakura mengabaikan pandangan skeptikal yang dilayangkan Ino kepadanya, menganggukkan kepala kepada Nara Shikamaru begitu pandangan mereka bertemu.
"Kami menemukan sesuatu yang mungkin membantu," Tenten angkat bicara dan membuat Sakura memfokuskan perhatian kepada layar komputer yang menyala. "Aku menemukan bahwa Danzō merupakan penyandang dana terbesar di sebuah panti asuhan. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di sana. Tidak ada salahnya mencoba, bukan?"
"Benarkah? Lalu di mana panti asuhan itu?"
Kedua iris hijau Sakura melihat Tenten bertukar pandang dengan Nara Shikamaru sebelum wanita itu mengangguk singkat.
"Taiwan."
Orochimaru's Place, 11:12.
Sungguh ironis saat Naruto memikirkan jika pelaku tindak kriminal—terlebih orang-orang yang mempunyai pengaruh di dalam pemerintahan—bisa lolos dari hukum hanya dengan memberikan setumpuk uang. Ia sudah pernah melihat hal itu ketika masih menyamar dan bekerja untuk Kakuzu. Ya. Penyamaran yang dilakukannya agar bisa masuk ke dalam organisasi di mana dua pembunuh bayaran itu bergabung membuatnya bisa melihat bagaimana kehidupan para penjahat itu.
'Jika kau ingin membangun image seseorang, maka terjunlah langsung ke dalam kehidupan orang-orang seperti itu.'
Naruto masih ingat apa yang pernah dikatakan Sarutobi Asuma padanya sembilan tahun lalu dan membuatnya tidak pernah berpikir dua kali ketika Asuma menawarkannya untuk menyamar menjadi mata-mata di sebuah sindikat penjualan obat-obatan terlarang di pinggiran Inggris di saat usianya menginjak lima belas tahun; usia di mana kehidupannya yang hanya sebagai anak laki-laki di panti asuhan berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya. Sampai sekarang pun Naruto tidak pernah mengerti mengapa ia bersikap naif dengan melakukan pekerjaan beresiko itu.
Karena obsesi? Hasrat? Atau karena ia ingin mencari jati dirinya sendiri?
Entahlah.
"... Kau menikmati malammu di tempat ini, Kyuubi?"
Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum memandang sosok Orochimaru yang berjalan menaiki tangga paviliun di tempat itu. Terlihat pula dua wanita—pelacur, mungkin—dengan pakaian ketat dan belahan dada rendah bergelayut di lengan pria itu. Salah satu dari wanita tersebut mengedip manja padanya; membuat Naruto mengernyit dengan mata yang menyipit di balik kacamata yang bertengger di wajahnya.
Orochimaru yang menyadari gerakan tubuhnya menyeringai. Mata kuning pria itu berkilat penuh arti sebelum mendekatkan wajah ke arah telinga wanita berambut merah bata, berbisik di telinga wanita itu. Kikik pelan menggema di paviliun bersamaan dengan wanita itu yang berjalan mendekatinya. Saat Naruto menyadari apa yang terjadi, sebuah lengan kurus sudah melingkar di pinggangnya dan kepala wanita itu bersandar pada dadanya. Aroma parfum mahal segera saja menusuk hidung pemuda itu. Naruto kembali menyernyit dan mendesis.
"Don't. Touch. Me."
Penekanan di tiga kata yang keluar dari bibirnya sudah cukup membuat wanita tadi terkejut dan terpekik pelan. Berjalan dengan cepat mendekati Orochimaru sebelum bersembunyi di balik tubuh pria berambut panjang itu.
"Ah, aku mengerti. Kau ternyata mempunyai selera yang berbeda denganku, Kyuubi. Atau... well, kau sama sekali tidak tertarik dengan tubuh wanita dan memilih sesuatu yang lain, hmm?"
Naruto mendecak pelan. "Katakan saja jika saat ini aku tidak tertarik dengan semua itu."
Sang agen federal cukup terkejut mendengar Orochimaru mengeluarkan tawa bernada tinggi. Mata merahnya kembali menyipit menyadari jika pria pucat itu kini tengah berjalan mendekatinya. Naruto menolak untuk mundur begitu pria itu memasuki ruang pribadinya.
"You're an attractive person, Kyuubi," bisik Orochimaru tepat di depan wajahnya. Naruto bisa merasakan jemari pria itu menyapu lengan kanannya. "Aku sungguh beruntung bisa bertemu dengan orang sepertimu dan aku berharap jika kita tidak pernah berada di sisi yang berlainan. Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu dan organisasiku membutuhkan orang-orang sepertimu; bukan tikus-tikus got tanpa otak seperti yang lainnya."
Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Apakah aku harus senang atau takut dengan pujianmu?"
Orochimaru kembali tersenyum. "Kusarankan kau harus senang, Kyuubi. Aku adalah pria yang jarang memuji seseorang. Bahkan, bisa terhitung dengan jari berapa orang yang sudah kupuji."
Naruto mengangguk singkat, tapi tidak mengatakan apapun.
"... Anak buahmu mengatakan jika kau mempunyai pekerjaan yang harus kulakukan," Naruto berkata setelah tidak ada satu pun dari dirinya atau Orochimaru yang berniat bertanya. Sungguh, saat menatap sepasang iris kuning pria di hadapannya atau ketika Orochimaru tidak pernah berhenti melayangkan tatapan seduktif ke arahnya, Naruto sangat ingin segera pergi dari tempat ini. "Bisakah kau mengatakan apa yang harus kulakukan, huh? Aku tidak suka berdiam diri tanpa melakukan sesuatu yang berarti."
Sudut bibir Orochimaru sedikit terangkat, terlihat sedikit tidak sedang. "Kau harus belajar untuk sedikit lebih santai, Kyuubi," kata pria itu. Diamatinya Orochimaru yang perlahan memutar tubuh dan meraih sebuah amplop yang disodorkan wanita berambut merah bata tadi.
"Di dalam sana ada instruksi pekerjaan apa yang harus kaulakukan hari ini. Pesawat yang akan kautumpangi berangkat satu jam lagi. Semoga berhasil dan aku menunggu berita baik darimu."
Naruto hanya menganggukkan kepala dan menerima amplop yang disodorkan Orochimaru padanya. Pria itu tidak mengatakan apapun lagi dan hanya melemparkan seringai ke arahnya sebelum berjalan meninggalkan paviliun.
Dan beberapa jam kemudian, Naruto mendapati dirinya berada di dekat sebuah rumah yang dipasangi garis polisi dengan beberapa petugas berjaga di tempat itu. Sebuah revolver yang disiapkan Orochimaru terselip di punggungnya.
Instruksi yang diberikan Orochimaru cukup jelas. Ia hanya perlu masuk ke dalam rumah itu dan mencari sesuatu yang tersimpan di dalam loteng rumah itu. Apapun yang tersimpan di sana, Naruto tidak mau peduli. Ia hanya diminta untuk mengambil benda itu dan kembali ke Osaka. Tentu saja Naruto tidak pernah berpikir jika pekerjaan yang diberikan Orochimaru adalah pekerjaan yang mudah. Pria ular itu tidak akan meminta seorang pembunuh bayaran seperti Kurama Kyuubi melakukan pekerjaan seperti pencuri di sebuah rumah yang pernah dihuni oleh Shimura Danzō.
Pasti ada hal lainnya, batin Naruto.
Naruto baru saja ingin berjalan mendekati rumah besar itu saat nalurinya merasakan ada seseorang yang tengah mengamatinya. Tangannya bergerak perlahan meraih revolver di punggungnya sementara kedua iris merahnya mencoba mencari di mana pengamat itu berada.
Ia tahu jika itu bukan sekadar perasaan saja mengenai ada seseorang yang mengamatinya. Dan apa yang nalurinya rasakan memang benar saat ia mendengar suara gemerisik pelan dari arah sebuah gang sempit tidak jauh dari rumah itu. Bergerak secara naluriah, Naruto mengacungkan ujung revolver miliknya ke arah gang sempit tersebut. Matanya melebar menangkap kilat logam yang sempat memantulkan nyala lampu di pinggir jalan. Bersamaan dengan itu, bayangan seseorang perlahan muncul dari kegelapan.
"... Kurama Kyuubi?"
Kedua iris merah yang tersembunyi di balik kacamata itu melebar. Bukan karena ia bisa melihat jelas siapa yang sejak tadi mengamatinya. Hal yang membuatnya terkejut adalah bagaimana telinganya seperti mengenal suara itu; membuat tubuhnya sedikit bergetar. Akan tetapi, Naruto menolak untuk memperlihatkan ekspresi apapun.
"Apa kau Kurama Kyuubi?" tanya sosok itu lagi. Kali ini Naruto menyadari jika dirinya tengah menahan napas dengan kedua mata yang membulat setelah sosok itu keluar dari bayang-bayang dan berdiri di bawah sorotan lampu jalan.
Wajah pucat itu terlihat sedikit bersinar karena nyala lampu. Kedua oniks yang sudah lama tidak dilihatnya terlihat lebih gelap dari apa yang ada di ingatannya. Akan tetapi, wajah itu, tulang pipi itu, ataupun tubuh itu tidak banyak berubah.
Jika saja saat ini dirinya adalah Uzumaki Naruto dan bukannya Kurama Kyuubi, Naruto yakin dirinya pasti akan segera berjalan mendekati sosok itu. Memeluk sosok itu hanya untuk meyakinkan dirinya jika apa yang dilihatnya sekarang adalah kenyataan; bukan mimpi yang selama ini menghantui tidurnya.
Bukan juga sebuah ilusi yang sewaktu-waktu akan hilang tidak berbekas jika ia mencoba mengedipkan mata.
Tidak. Naruto menolak menganggap apa yang dilihatnya sekarang adalah sebuah ilusi. Matanya tidak sedang mengelabuinya.
Sosok yang berdiri di bawah lampu jalan itu adalah Sasuke. Uchiha Sasuke.
Sasuke-nya...
End of Chapter 5 — Obligation
Terima kasih untuk Infaramona, Azusa The BadGirl, Rin Miharu-Uzu, Nasumichan Uharu, itakyuu .red .devil, Moi, rura, evilSmirk Rizhu, Artemisaish, Aoi LawLight, dan cosmojewel atas reviewnya di chapter sebelumnya ;)
Nah, review dan concrit-nya masih saya tunggu ya? Kali saja silent reader yang selama ini hanya membaca mau meninggalkan review untuk saya #eh akan saya usahakan update ASAP untuk chapter selanjutnya, orz. Jaa~!
