10 years ago.
"... Kau melakukannya lagi."
Naruto mengerang pelan atas pernyataan yang dilontarkan untuknya. Ia berusaha tidak memedulikan apa yang dikatakan Sasuke namun tidak berhasil saat menyadari sepasang oniks pemuda itu tertuju padanya. Si pirang kembali mengerang, membenamkan kepalanya pada tangan yang terlipat di atas meja. Ia meringis saat sudut bibirnya tidak sengaja mengenai pinggiran meja.
Sungguh bukan keinginannya untuk memulai perkelahian di sekolah. Bukan keinginannya pula untuk menghantamkan tinjunya kepada salah satu senior di sekolahnya. Ia juga tidak pernah berniat seperti itu jika pada akhirnya dirinya harus menjalani detensi sepanjang sore dan pihak sekolah yang memanggil Robert. Damn... sudah cukup dua jam lebih dihabiskannya mendengarkan ceramah dari pria itu.
"Mengapa kau sampai memukul Underwood, Dobe?"
Naruto memilih untuk diam, menolak menjawab pertanyaan itu sampai telinganya menangkap helaan napas dari Sasuke. Dengan sedikit ragu, Naruto mendongakkan kepala dan melihat pemuda itu kini tengah mendudukkan diri di kursi kosong di hadapannya. Si pirang berusaha tidak mengacuhkan pandangan penuh minat dari beberapa anak di panti asuhan yang duduk tidak jauh darinya.
"Naruto...," Sasuke berkata setelah mendecakkan lidah. "Ini sudah dua kalinya dalam seminggu kau berkelahi dengan Underwood, kau tahu? Dan kau sama sekali tidak mengatakan alasan mengapa memukulnya. Berhentilah bersikap kekanakan dan katakan alasannya. Dengan begitu mungkin Robert akan—"
"Oh, shup up, Sasuke!" Naruto berseru sembari memukul meja kayu di hadapannya. Iris safirnya berkilat penuh amarah ke arah Sasuke. Ia terlihat tidak peduli jika semua mata di aula panti asuhan kini menonton apa yang terjadi.
"Just... just shut the hell up, okay? Aku tidak perlu mengatakan mengapa aku memukul Underwood. Aku memukulnya lebih dulu, itu adalah fakta. Walaupun aku mengatakan alasannya, tidak akan merubah apapun."
Si pirang yang terlihat tidak ingin mendengar apapun dari Sasuke berjalan meninggalkan aula. Langkah kakinya yang lebar dengan cepat membawanya ke halaman belakang panti asuhan. Tanpa pikir panjang memukulkan kepalan tangannya pada batang pohon di tempat itu. Setelah puas, dan tangannya yang seolah-olah berteriak atas rasa sakit, Naruto mendudukkan diri di atas permukaan tanah yang tertutup salju. Batang pohon yang kasar menopang kepalanya agar tidak terkulai.
Bukan suatu hal yang aneh lagi jika Naruto terlibat perkelahian dengan murid-murid lain di sekolah. Ia bukanlah Sasuke yang terkenal sebagai anak jenius, stoic, dan disukai gadis-gadis. Hell no, image itu sama sekali tidak cocok untuknya. Ia adalah Uzumaki Naruto, anak—
"—Robert mencarimu, Usuratonkachi."
Naruto tidak bisa mencegah tubuhnya untuk tidak terlonjak mendengar suara dari sampingnya. Dengan cepat mendongakkan kepala. Menggeram pelan menyadari sosok Sasuke yang berdiri menjulang di sampingnya. Tidak. Melihat pemuda pucat itu adalah hal terakhir yang akan dilakukannya.
"Bagaimana kau bisa menemukanku di sini, huh?"
"Hn. Tempat persembunyianmu sama sekali tidak pernah berubah. Hanya idiot yang memilih tempat seperti ini untuk menyendiri."
"Gah! Kau benar-benar menyebalkan, Teme!"
"Hn."
Naruto yang melihat sudut bibir Sasuke sedikit terangkat memutar bosan kedua matanya. Entah sejak kapan pemikiran untuk tidak berbicara atau melihat Sasuke lenyap dari benaknya. Menyadari hal itu, Naruto menghela napas panjang dan mulai mencabuti rumput yang tertutup salju putih di sekitar kakinya.
"Kau tidak seperti dirimu. Memukul Underwood, maksudku."
Si pirang yang merasa muak mendengar kata-kata semacam itu—entah dari kepala sekolah dan Robert—melayangkan tatapan tajam ke arah Sasuke. Ia baru saja berniat meninggalkan tempat itu sebelum merasakan sesuatu menahan lengannya. Dan sebelum ia bisa menghentakkan tangan untuk melepaskan cengkeraman Sasuke padanya, Naruto merasakan pemuda berkulit pucat itu mendorong tubuhnya. Beberapa detik kemudian, Naruto menggeram pelan; mencoba menjauhkan Sasuke agar tidak lagi menahannya di antara batang pohon dan tubuh pemuda itu.
"Bastard," Naruto mendesis tepat di hadapan wajah Sasuke; tidak menyadari jika sekarang tubuhnya berada sangat dekat dengan tubuh pemuda itu. "Sudah kukatakan aku tidak mau membicarakan hal ini lagi."
"Hn."
"Lalu, bisakah kau melepaskanku, huh?"
Sasuke menaikkan sebelah alis. "Tidak sebelum kau mengatakan alasannya," pemuda itu berkeras dan membuat Naruto kembali menggeram. Ia sungguh tidak mengerti mengapa Sasuke tidak mau berhenti menanyakan mengapa ia memukul Underwod. Apa yang menjadi urusannya, bukanlah urusan Sasuke 'kan?
Tapi... Naruto yang sudah mengenal Sasuke sangat tahu jika pemuda di hadapannya pasti tidak akan pernah berhenti untuk mendesaknya. Percuma jika ia mencoba mengatakan bahwa alasan itu bukanlah sesuatu yang penting jika nantinya Sasuke pasti akan menanyakannya kembali.
Si pirang menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan cepat. Tangan kanannya yang bebas bergerak menyisiri helaian rambut pirangnya.
"Underwood mengatakan sesuatu yang membuatku marah," kata Naruto pada akhirnya; membuat Sasuke mengerutkan kening. "Dia... dia menghinamu dengan sebutan 'fag' hanya karena kau menolak ketua cheerleader sekolah."
Selama beberapa saat, Sasuke menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat ia artikan sebelum pemuda itu mendesah pelan, menarik tubuh untuk memberikan ruang untuknya. "Idiot," gumam Sasuke. "Kau tidak seharusnya menyulut perkelahian hanya karena Underwood menghinaku, kau tahu?"
"But he pissed me off!" bentak Naruto, tidak menerima pemuda di hadapannya menganggapnya idiot. "Aku... aku tidak suka ada orang yang menghinamu."
"Hn. Tapi tetap saja kau adalah orang yang idiot."
Naruto sangat ingin membalas ejekan yang dilontarkan Sasuke padanya. Namun saat sepasang iris safirnya menangkap sudut bibir Sasuke terangkat membentuk senyum tipis, Naruto menyadari jika saat ini ia tengah menahan napas dengan mulutnya yang terbuka.
Senyum pertama yang diberikan Sasuke untuknya.
Chapter 6 — Temptation
Shimura Resident, Tokyo, 00:12.
"... Bisakah kau menjawab pertanyaanku? Apa. Kau. Kurama. Kyuubi?"
Naruto mengerjapkan matanya mendengar bagaimana Sasuke mendesis kepadanya. Ditatapnya kembali sosok pemuda berkulit pucat tidak jauh darinya sebelum menghela napas panjang. Ia mencoba memperbaiki ekspresi wajahnya; mencoba untuk meredakan perasaan bergemuruh di dadanya. Rahang Naruto mengeras dengan telapak tangan yang terkepal di kedua sisi wajahnya saat sepasang iris sekelam malam itu menatapnya dengan tajam.
"Ya. Dan siapa kau?" Naruto bertanya.
"Sasuke. Kabuto mengatakan jika rekanku malam ini adalah kau," Sasuke menjawab sembari menyelipkan sebuah revolver di belakang punggung. "Kurama Kyuubi, huh?"
Naruto mengutuk dalam hati menyadari bahwa telapak tangannya sedikit bergetar dan manahan napas melihat pemuda berkulit pucat itu berjalan melewatinya. Sasuke terlihat tidak menyadari siapa dirinya; membuat Naruto tidak tahu harus senang atau marah dengan sikap pemuda itu.
Di satu sisi, Naruto ingin agar Sasuke mengenali dirinya di balik penyamaran yang ia pakai sekarang. Ia ingin Sasuke tahu bahwa Kurama Kyuubi adalah dirinya—Naruto. Namun di sisi lain, ia tahu tidak bisa melakukan hal itu.
Tidak. Saat ini, dirinya adalah Kurama Kyuubi. Ia adalah seorang pembunuh dan buronan di mata hukum. Semua kerja keras yang dilakukannya beberapa tahun terakhir akan sia-sia jika sampai identitasnya terkuak—walau di depan Sasuke sekalipun.
Naruto juga tidak bisa menjamin jika di sekitar mereka tidak ada anak buah Orochimaru yang mengawasi apa yang ia lakukan. Bagaimanapun juga, ia menyadari jika pria berkulit pucat itu bukanlah tipe orang yang dengan mudah memercayai orang lain. Di dunia di mana kejahatan, pembunuhan dan bahkan kekerasan berada, memercayai orang lain adalah hal yang riskan. Hanya percaya pada diri sendiri, itulah ajaran yang melekat di kepala orang-orang semacam Orochimaru.
Sungguh, tidak ada yang tahu jika saat ini, detik ini, dirinya begitu ingin melangkahkan kaki mendekati sosok Sasuke dan mengatakan semua itu. Ia ingin Sasuke mengenali siapa dirinya. Ia ingin membawa pemuda itu keluar dari dunia hitam ini. Ia ingin mengakhiri ini semua.
Tapi bagaimana jika Sasuke menolak? Bagaimana Sasuke tidak ingin kembali? Bagaimana jika pemuda itu malah semakin menjauh darinya—menghilang kembali?
Naruto terpaksa harus kembali memfokuskan perhatiannya kepada sosok Sasuke ketika pemuda itu mengatakan sesuatu padanya. Dalam diam mengikuti langkah Sasuke yang sebelumnya mengatakan jika mereka harus segera bergerak.
Menyelinap ke dalam rumah yang kosong bukanlah hal yang susah untuk dilakukan Naruto. Dengan cepat ia sudah berada di balik tembok tinggi yang mengelilingi kediaman Danzō dengan pistol yang bersiaga di tangannya. Kedua iris merahnya tampak bersiaga mengamati sekeliling, mencoba bergerak di tengah kegelapan malam agar tidak menarik perhatian dua petugas polisi yang bersiaga di depan rumah.
Hanya perlu beberapa menit bagi Naruto untuk sampai di loteng rumah mantan anggota parlemen Jepang. Diamatinya dalam diam bagaimana Sasuke mengelilingi ruangan berdebu dengan banyak kardus-kardus berat yang disusun sebelum pemuda itu berhenti di sebuah sudut ruangan.
Naruto tidak begitu peduli apa yang ada di sini. Ia tidak peduli jika Danzō menyembunyikan tubuh tidak bernyawa sekalipun. Hal yang ia pedulikan hanyalah Sasuke.
Mengapa...? Padahal Sasuke hanya berjarak beberapa meter darinya. Mengapa ia tidak bisa melangkahkan kakinya mendekati lalu menyentuh sosok itu? Mengapa kakinya terasa berat untuk melangkah?
Lima tahun sudah berlalu, bukan? Ia sudah menunggu lima tahun untuk bisa menemukan Sasuke. Untuk bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang lima tahun ia simpan kepada pemuda itu. Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan bisa ia tanyakan? Hanya akan berakhir dengan jalan buntu?
Naruto menggelengkan kepala dan mencoba mengenyahkan kegelisahan yang ia rasakan. Ingat, ia sudah berjanji kepada Kakashi dan Sakura untuk tidak membiarkan apapun mengganggu penyelidikan ini. Ia tidak boleh membongkar penyamaran dan mengacaukan semuanya. Ia adalah seorang agen FBI yang profesional, bukan?
"Apa itu?" Naruto berbisik pelan setelah melihat Sasuke membongkar papan lantai di sudut loteng dan mengeluarkan bungkusan persegi tebal. Plastik bening yang membungkus benda persegi itu terlihat penuh debu dengan beberapa bagian yang robek. Kembali memandang ke arah Sasuke, Naruto melihat pemuda itu mengedikkan bahu, menyimpan bungkusan plastik itu di balik jaket hitam dan berjalan melewatinya.
"Oi, aku ke sini bukan untuk datang dan melihatmu tidak mengacuhkanku, kau tahu? Apa kau tidak bisa menjawab satu pertanyaanku, huh?"
Sasuke melirik ke arahnya; membuat tubuh Naruto sedikit tersentak menyadari sepasang oniks pemuda itu mengamatinya. "Apapun itu, bukanlah urusanmu."
"Che, Bastard," Naruto bergumam pelan sebelum memilih untuk mengamati keadaan di luar sana dari jendela; tidak sempat melihat kedua mata Sasuke melebar sesaat. Si pirang mengintip dengan tubuh yang setengah bersembunyi di antara kegelapan loteng, menatap kegelapan malam sembari menggigit bibir bawahnya.
Mengapa ia merasa ada yang salah dengan berada di sini? Ya. Intuisinya mengatakan ada yang tidak beres. Ia merasa aneh dengan sekitarnya. Bukan karena tidak ada seorang pun di dalam rumah walau rumah ini adalah kediaman Shimura Danzō—seorang pria yang dulunya mempunyai pengaruh untuk mengembangkan mafia di Jepang.
Ini terlalu mudah. Sangat mudah, batinnya.
"Apa kau tidak berpikir ini sedikit aneh?" Naruto menyuarakan pemikirannya dan berhasil menarik perhatian Sasuke yang saat itu berniat untuk menuruni tangga loteng. Di antara keadaan tempat itu yang hanya diterangi oleh berkas lampu jalan di luar sana, Naruto melihat Sasuke terdiam di anak tangga teratas. "Masuk ke dalam rumah milik Danzō sepertinya sangat mudah, kau tahu? Jauh lebih mudah dari—"
Agen FBI itu tidak sempat menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkannya karena dikejutkan oleh suara jendela kaca yang pecah di sampingnya. Bersamaan dengan itu pula, ia merasakan udara berhembus cepat di pipinya disertai dengan suara sesuatu yang mengenai tembok loteng. Kedua iris merahnya melebar setelah merasakan perih di pipi kanannya yang tidak berselang lama segera mengucurkan darah segar.
"Damn it!" Naruto mendesis dan dengan cepat menunduk sembari meraih pistol dari punggungnya. Suara tembakan yang berasal dari luar rumah kembali terdengar dan berhasil mengenai jendela; membuat pecahan kaca berserakan dan mengenai kepalanya. Peluru-peluru yang ditembakkan ke tempat itu juga berhasil mengenai beberapa tempat. Naruto yakin polisi akan segera datang ke tempat ini jika Sasuke dan dirinya tidak segera pergi.
"Kita harus segera keluar dari sini."
Tanpa perlu diberitahukan terlebih dahulu, Naruto sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Sambil menghindari tembakan-tembakan beruntun yang diarahkan ke tempat itu, Naruto berusaha untuk mencari dari mana asal tembakan itu. Mengumpat kepada sebuah peluru yang hampir saja mengenai pelipisnya setelah ia mencoba mengintip dari jendela. Sial! Siapapun penembak itu, Naruto tahu mereka adalah penembak profesional. Hanya penembak profesional atau sniper yang bisa menembak di tengah penerangan yang minim seperti sekarang.
Naruto mencoba mengerling ke arah Sasuke, mendapati pemuda itu sedang berusaha menuruni tangga loteng sebelum berhenti dan memutar tubuh. Terdengar suara tembakan dari revolver yang teracung di tangan pucat pemuda itu.
"Ini jebakan!" Sasuke setengah berteriak kepadanya sembari melancarkan tembakan kepada siapapun yang berada di ujung anak tangga loteng itu. Dengan gerakan kasar menutup pintu loteng. Tidak perlu waktu lama bagi Naruto untuk mengatahui apa yang terjadi. Otaknya segera bekerja untuk mencari cara bagaimana agar mereka bisa keluar hidup-hidup.
Kedua iris merah Naruto teredar ke sekeliling sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat membentuk seringai. Merangkak pelan dari posisinya, Naruto berjalan menyeberangi ruangan dan menghancurkan jendela kecil—di mana tidak ada tembakan berasal dari sisi lain ruangan itu—dengan beberapa kali tembakan sementara tidak jauh darinya, Sasuke terlihat mencoba menahan pintu loteng agar tidak terbuka.
Tidak ada niat darinya untuk balas menembak karena tahu hal itu hanya akan berakhir sia-sia. Ia tidak bisa melihat jelas dari mana tembakan-tembakan itu berasal. Hanya dengan menerka pun hanya akan membuang peluru miliknya.
"Oi, Sasuke! This way!" seru Naruto. Ia mengedikkan kepalanya ke arah jendela yang hancur sambil melindungi diri. "Kita bisa keluar lewat sini."
Naruto membiarkan Sasuke untuk lewat terlebih dahulu. Tidak mengatakan apapun melihat pandangan yang diberikan pemuda berkulit pucat itu. Dari tempatnya, ia mengamati bagaimana Sasuke keluar dari rumah dengan memanjat pinggiran tembok sebelum meloncat ke arah halaman samping rumah Danzō. Ia baru saja berniat mengikuti langkah pemuda itu sebelum merasakan sesuatu menghantam bahu kanannya; membuat pistol di tangannya terjatuh ke lantai kayu. Desis kesakitan meluncur dari bibir Naruto setelah sensasi panas dan perih yang dihasilkan oleh timah panas merambat dengan cepat pada tubuhnya. Hanya perlu beberapa detik sebelum Naruto bisa merasakan bahwa pakaian yang dikenakannya basah oleh darah.
Mengabaikan rasa sakit di bahu kanannya, Naruto mencoba untuk meloloskan diri dengan menuruni melakukan apa yang dilakukan Sasuke sebelumnya. Ia meringis pelan sambil memegangi bahu kanannya yang tertembak. Mengutuk dalam hati setelah tiba di pintu gerbang rumah Danzō dan melihat tubuh petugas polisi yang berjaga di tempat itu tergeletak di atas tanah. Naruto tidak sempat memikirkan hal lain begitu mendengar suara deru mesin mobil mendekatinya. Memasuki mobil berwarna hitam itu setelah melihat sosok Sasuke yang berada di belakang kursi kemudi. Suara tembakan kembali terdengar olehnya bersamaan dengan pintu mobil tertutup. Menatap dari pantulan spion, ia bisa melihat lima orang berpakaian hitam berdiri di depan pintu gerbang rumah itu.
Naruto baru bisa menghela napas lega setelah ia tidak melihat lagi kelima orang tersebut. Perlahan menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Meringis ketika luka di bahu kanannya bersentuhan dengan permukaan kulit kursi itu. Ia berusaha mengabaikan Sasuke yang melirik ke arahnya sambil berusaha fokus kepada kemudi mobil.
"Kau tertembak."
"Yeah," Naruto bergumam pelan. Ia sedang tidak ingin membantah atau mengelak. Peluru yang masih bersarang di dalam tubuhnya membuat darahnya tidak berhenti mengalir. Ia tahu jika peluru itu tidak cepat dikeluarkan dari tubuhnya dan tidak segera ditangani, dirinya akan berakhir mati karena kehabisan darah. Dengan kasar, Naruto mulai menghapus sisa darah dari pipinya yang terluka. Memposisikan tubuhnya agar luka tembakan itu tidak mendapat banyak tekanan; berakhir dengan posisi menyamping. Pandangan pemuda itu terpaku ke arah jendela mobil berwarna hitam. Akan tetapi, bukan pemandangan kota Tokyo yang tengah diamatinya. Ia sedang mengamati sosok Sasuke yang terpantul dari jendela. Mengamati wajah yang jarang memperlihatkan ekspesi itu.
"Aku akan membawamu ke Kabuto. Dia akan mengobati lukamu."
"Kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa merawat lukaku sendiri," ujar Naruto tanpa melihat ke arah pemuda di sampingnya. "Kau hanya perlu mengantarku ke Stasiun Shinjuku. Aku akan mengurus semuanya sendiri. Bawa saja apapun yang diminta Orochimaru."
Dari pantulan jendela mobil, Naruto bisa melihat Sasuke menatapnya selama beberapa detik sebelum pemuda itu memilih untuk membiarkannya sendiri. Entah karena rasa sakit pada bahu kanannya atau hal lain, Naruto merasakan kelopak matanya terasa berat; membuatnya tanpa sadar tertidur di mobil Sasuke selama sisa perjalanan. Terbangun dengan refleks ketika pemuda berkulit pucat itu membunyikan klakson mobil dengan keras.
"Bisakah kau membangunkan seseorang dengan cara yang lebih halus, huh?" Naruto mendesis pelan.
"Hn."
Naruto hanya bisa memutar bosan kedua matanya dan menegakkan tubuh setelah menyadari di mana dirinya berada sekarang. Mencoba untuk tetap fokus kepada sekelilingnya dan mengabaikan rasa sakit di bahu kanannya, agen FBI itu turun dari mobil. Ia tidak mengatakan apapun kepada Sasuke; hanya menatap pemuda itu selama beberapa saat sebelum Sasuke meninggalkannya di pinggir jalan. Menghela napas panjang sembari memijat keningnya melihat mobil Sasuke yang perlahan menjauh.
"Fuck!" Naruto mengumpat begitu mobil Sasuke tidak terlihat lagi.
NPA Building — 3rd Floor, 10:21.
"... Apa maksudmu kita harus kembali ke Amerika?"
Suara bernada tinggi milik Sakura cukup membuat beberapa orang yang berada di sekitar tempat itu menatapnya sejenak sebelum kembali menekuni pekerjaan mereka.
"Kau pasti bercanda, Kakashi," Sakura kembali berkata. Kedua mata wanita itu menatap sosok atasannya seolah-olah mengisyaratkan pria berambut keperakan itu bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk bercanda. Akan tetapi, ketika Hatake Kakashi menggelengkan kepala, Sakura hanya bisa menatap bingung ke arah atasannya.
"Tapi kenapa?"
Hatake Kakashi mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu Direktur FBI menghendaki kita untuk meninggalkan kasus ini dan kembali ke Amerika. Dia mengatakan jika kita hanya membuang-buang waktu di negara ini mencari sesuatu yang tidak pasti. Lebih baik kembali ke Amerika dan mengurus kasus-kasus yang menumpuk di sana."
Sakura mematung di tempatnya dengan kedua mata yang membelalak. Tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar apa yang dikatakan Kakashi. Apa ini sungguhan? Semua yang dikatakan Kakashi terdengar seperti omong kosong. Mengapa tiba-tiba saja mereka diminta kembali ke Amerika dan meninggalkan penyelidikan ini? Penyelidikan yang mereka lakukan selama empat tahun lebih. Padahal... padahal mereka mungkin menemukan sesuatu. Lagi pula, bukankah penyelidikan mereka tidak sepenuhnya tanpa hasil? Mereka sudah berhasil menangkap Kakuzu dan Hidan. Mereka bahkan sudah menginterogasi Hidan.
Tapi mengapa tiba-tiba saja semuanya harus dihentikan?
"Aku tahu jika ini terdengar tidak masuk akal," Kakashi berkata sembari menyelipkan buku bersampul oranye di balik mantel. Iris berlainan pria itu tertuju padanya. "Tapi untuk saat ini kita tidak bisa melakukan sesuatu selain mengikuti apa yang dikehendaki Direktur. Kau boleh saja berkeras untuk tetap di sini, tapi kau harus menanggung resiko bahwa penyelidikan yang kaulakukan adalah penyelidikan ilegal."
"Tidak bisakah kita melakukan sesuatu?" Nada suara Sakura terdengar penuh harap. "Kau pasti tahu sendiri jika sudah banyak waktu dan tenaga yang kita habiskan untuk penyelidikan ini. Lalu... lalu bagaimana dengan Na—"
"—Dia akan tetap berada di sini," Kakashi berbisik pelan. "Di mana agensi, orang itu sudah mati. Aku sudah pernah mengatakan padanya bahwa dia hanya boleh kembali jika kedoknya terbongkar atau kasus ini sudah dinyatakan tuntas. Aku tahu jika mungkin saja setelah ini kita akan dilarang untuk menyelidiki kasus mengenai organisasi hitam, tapi dia masih bisa melakukan hal itu. Sementara aku berusaha mengubah keputusan yang diberikan, ada baiknya jika kita menuruti apa yang mereka inginkan."
"Ini terdengar tidak adil bagiku, kau tahu?"
Hatake Kakashi menganggukkan kepala. "Well, aku mempunyai pendapat yang sama denganmu, Sakura," kata pria itu. Menyunggingkan senyum penuh arti di balik masker, "Tapi Direktur hanya mengatakan jika kita harus kembali ke Amerika dan menghentikan penyelidikan di tempat ini. Tidak ada larangan bagi kita untuk melakukan penyelidikan di Amerika. Tentu saja jika kau berniat melakukan hal itu, berhati-hatilah agar tidak ada orang lain yang tahu."
Sakura terdiam cukup lama. Menimbang apakah yang dikatakan Kakashi itu adalah hal yang baik. Tapi setelah beberapa menit berlalu, Sakura menghela napas panjang untuk meredakan emosinya jika tidak ingin menghancurkan properti milik Kepolisian Jepang.
"Baiklah," kata Sakura pada akhirnya. "Aku akan melakukan apa yang kausuruh. Tapi berjanjilah keputusan memulangkan kita ke Amerika akan segera berubah. Kita tidak bisa membiarkan dia berada di sini sendirian."
Kakashi menganggukkan kepala. "Bisa kau menyampaikan berita ini kepada Sai? Katakan padanya untuk mengemasi semua barang-barang. Pesawat kita akan berangkat besok pagi."
Dengan decak pelan dan menggerutu mengenai apa yang terjadi, Sakura beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan pria berambut keperakan itu. Hanya perlu sepuluh menit mengendarai mobil bagi Sakura untuk tiba di apartemen yang disewa timnya.
Damn... padahal nanti malam Sakura sudah mempunyai rencana untuk terbang ke Taiwan bersama Nara Shikamaru dan Yamanaka Ino untuk memeriksa panti asuhan yang dikelola Shimura Danzō. Tapi rupanya rencana itu terpaksa dibatalkan. Sudah pasti ia tidak akan bisa mengikuti kedua detektif Jepang itu ke sana.
Sakura mendesah pelan. Kepalanya tiba-tiba berdenyut hanya dengan memikirkan keputusan sepihak dari atasannya. Ia sungguh tidak mengerti mengapa tiba-tiba penyelidikan yang dilakukannya harus dihentikan? Bukankah pada awalnya agensinya justru menyetujui dan mendukung apa yang dilakukan timnya?
Wanita berambut merah jambu itu kembali menghela napas untuk ke sekian kalinya. Mengetukkan ujung jemarinya pada kemudi mobil sembari menunggu lampu lalu lintas berganti menjadi hijau. Pandangan matanya beralih ke arah sebuah arsip tebal yang diletakkannya di kursi mobil di sampingnya. Keningnya berkerut menyadari ada hal yang aneh.
Bukankah arsip yang dimilikinya bukan hanya itu? Ia ingat tebal arsip yang dimilikinya bahkan tiga kali lipat dari arsip itu.
Dengan cepat, Sakura memarkirkan mobilnya tidak jauh dari apartemen tempatnya tinggal selama di Jepang. Tangannya bergerak cepat membolak-balik isi arsip itu.
Ternyata memang benar ada yang kurang, batinnya. Ia menyadari berkas-berkas milik Hidan dan Kakuzu tidak berada di antara berkas itu. Ia juga sadar bahwa hasil penyelidikan kematian Shimura Danzō yang diberikan Tenten kemarin tidak berada di sana.
Lalu di mana?
Tidak mengacuhkan arsip-arsip itu, kedua tangan agen FBI tersebut bergerak mencari ponselnya, mencoba menghubungi Sai. Mungkin pria itu melihat di mana arsipnya berada.
Perlu dua kali nada tunggu bagi Sai untuk mengangkat telepon darinya. Dengan cepat menanyakan mengenai arsip-arsip itu kepada rekan kerjanya. Menghela napas panjang ketika mendengar bahwa arsip-arsip itu tidak sengaja terbawa oleh Sai dan sekarang berada di apartemen mereka.
"Bisa kau memasukkannya ke dalam tasku?" Sakura berkata sembari menyandarkan tubuh pada sandaran empuk kursi mobil. Pandangan wanita itu tertuju pada pejalan kaki yang menyeberang di depan gedung apartemennya setelah keluar dari tempat itu; bergegas menghampiri sebuah mobil yang diparkirkan di seberang jalan. Sakura tertegun sejenak melihat bagaimana pria menatap lekat ke arah gedung apartemen sebelum memasuki mobil berwarna perak. Seulas senyum terukir di wajah pria tersebut.
Tidak tahu apa yang terjadi, Sakura merasakan tubuhnya sedikit bergetar. Ia mengabaikan kata-kata Sai di seberang telepon dan memfokuskan perhatian kepada pria itu; mengikuti ke arah mana pandangan pria itu tertuju.
Sakura tahu ada yang tidak beres tengah terjadi. Anggap saja itu intuisinya sebagai wanita yang membuatnya turun dari mobilnya dan berniat berjalan mendekati pria itu. Hanya saja, langkah kakinya terhenti menyadari gerakan tangan pria berambut oranye dengan piercing di beberapa bagian wajah yang menggenggam sesuatu.
Tidak cukup waktu bagi Sakura untuk memproses apa yang terjadi ketika suara ledakan terdengar tidak jauh darinya. Wanita berambut merah jambu itu merasakan tubuhnya melayang karena terhempas oleh udara panas sebelum punggungnya menghantam keras kaca depan sebuah mobil. Darah segar mengucur dari pelipis menuju matanya; membuat pandangannya sedikit kabur.
Suara teriakan, alarm mobil yang berbunyi nyaring dan tubuh yang tergeletak di atas permukaan jalan adalah hal pertama yang dilihatnya setelah mencoba menegakkan tubuh. Di sekitar tubuh-tubuh itu, bongkahan-bongkahan bekas dinding bangunan juga ikut menghiasi permukaan jalan; berserakan dalam bentuk bongkahan besar dan kecil.
Sakura tahu jika saat ini dirinya tengah berteriak ketika menyadari sebuah gedung yang sebelumnya menjulang tinggi di tempat itu kini tidak lagi berdiri kokoh. Hanya ada pondasi gedung itu yang masih tersisa.
Gedung itu... gedung apartemen tempatnya tinggal kini hanya berupa sisa puing-puing; hancur dalam ledakan yang terjadi.
Dan Sai berada di dalam bangunan gedung itu.
End of Chapter 6 — Temptation
Terima kasih atas review-nya untuk Kitsune Syhufellrs, Azusa TheBadGirl, Rin Miharu-Uzu, rura, evilsmirk Rizhuu, Namikaze lin-chan, itakyuu .red .devil, Aoi LawLight, Nasumichan Uharu, anindya .cahya dan Silent reader.
Adakah yang masih mau meninggalkan review untuk chapter ini?;)
