Chapter 7 — Distraction


Tokyo, 14:32.

Tubuh Haruno Sakura tidak henti-hentinya bergetar. Ia bahkan sampai memeluk dirinya sendiri untuk menghentikan apa yang ia rasakan sekarang, mengabaikan rasa sakit ketika tidak sengaja tangan kanannya memeluk erat lengan kirinya yang terkilir. Kedua matanya menatap datar sebuah telepon selular di tangan kirinya. Telepon yang sejak tadi terus menerus menghubungi nomor yang sama; berharap bahwa orang yang tengah dihubunginya menjawab panggilan tersebut. Akan tetapi, walau berulang kali melakukan hal yang sama, Sakura tidak juga mendengarkan suara dari seberang telepon—hanya terdengar nada panggilan panjang yang membuat telinganya berdenging.

Wanita berambut merah jambu itu mendesis pelan saat seorang paramedis memasangkan perban putih di kepalanya yang terluka dan mencoba mengobati luka-luka di tubuhnya. Berusaha untuk memperlihatkan senyum setelah paramedis itu selesai mengobatinya. Senyum lelahnya dibalas tepukan pelan di bahu dari paramedis tersebut.

"... Kau baik-baik saja?"

Sakura tidak tahu harus menjawab seperti apa atas pertanyaan Kakashi. Apakah ia baik-baik saja? Sakura menanyakan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. Ia baru saja menyaksikan hal mengerikan dan hampir saja kejadian itu membuat nyawanya melayang. Belum lagi, ia baru saja kehilangan rekan kerjanya dalam kejadian itu.

Kehilangan Sai. Rekannya...

Sang agen federal itu kembali mempererat pelukan pada tubuhnya. Perlahan mendongak setelah menyadari Kakashi baru saja menyampirkan mantel di bahunya. Pandangannya yang sedikit nanar oleh air mata yang sewaktu-waktu akan meluap teredar ke sekitar. Ia bisa melihat mobil-mobil polisi dan ambulance berlalu-lalang di sekitarnya. Terlihat pula beberapa mobil pemadam kebakaran yang tengah berusaha memadamkan api yang muncul di salah satu gedung bangunan.

Sakura merasakan perutnya bergolak tidak nyaman hanya dengan melihat kekacauan di sekitarnya.

Melihat kantong-kantong plastik hitam berisi potongan tubuh korban ledakan yang dijejerkan di pinggir jalan membuatnya ingin muntah.

Ia sungguh tidak bisa mengerti mengapa hal seperti ini terjadi. Siapapun pelaku peledakan itu sungguh tidak mempunyai belas kasihan dengan meledakkan gedung sementara di dalam sana masih ada penduduk sipil.

Tapi, sebagai seorang anggota FBI, Sakura harusnya sangat tahu sekali bagaimana sifat orang-orang itu. Menghilangnya nyawa seseorang di mata penjahat itu sangat mudah seperti membalikkan telapak tangan. Sakura mendesis atas pemikiran itu. Sungguh naif sekali jika ia berpikir jika pelaku peledakan akan merasa menyesal atas apa yang terjadi.

Ya. Sakura sungguh naif.

"Sakura..."

Wanita berambut merah jambu itu memejamkan matanya dan membiarkan emosinya meluap dalam diam selama beberapa saat sebelum menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Beberapa kali melakukan hal itu untuk menenangkan dirinya.

"Aku baik-baik saja," kata Sakura yang kini menatap Kakashi. Tidak ada lagi emosi terguncang atau terkejut di mata wanita itu. Kedua iris hijaunya kini memperlihatkan kesungguhannya sebagai seorang agen FBI. Mengabaikan luka-luka pada tubuhnya, wanita itu turun dari mobil ambulance dan menatap kembali bekas gedung apartemen tempatnya tinggal. Ia berusaha mengabaikan pemikiran mengenai Sai.

"Kau mau ke mana, Sakura?"

Sakura menatap Kakashi dengan bingung. Keningnya berkerut. "Apa maksudmu? Tentu saja melakukan penyelidikan, Kakashi! Apa kau hanya akan diam saja dan menunggu polisi Jepang untuk bekerja? Tidak, bukan? Sai—" Sakura meneguk ludahnya dengan paksa dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "—Sai menjadi korban dalam ledakan ini. Dia berada di dalam sana saat ledakan terjadi. Tidakkah kau ingin mengetahui apakah... apakah kita bisa menemukan jasadnya?"

Sakura cukup terkejut ketika Kakashi menggelengkan kepala. "Kita tidak akan ikut dalam penyelidikan mengenai ledakan ini," atasannya berkata. Sakura berniat melayangkan protes sebelum melihat tangan Kakashi terangkat. "Kita tetap pada rencana semula. Kau akan kembali ke Amerika Serikat dan bertugas di sana. Bahkan, aku akan mempercepat keberangkatanmu. Pesawat yang akan kautumpangi akan berangkat satu setengah jam lagi."

Ekspresi panik dengan cepat terukir di wajah Sakura. "Tunggu sebentar, Kakashi. Kau tidak sedang bercanda, bukan? Mengapa bisa-bisanya kau mengatakan seperti itu sementara... sementara terjadi sesuatu yang buruk terhadap Sai. For the God's sake, Kakashi! Kau mengharapkanku untuk kembali ke Amerika?" Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak akan melakukan hal itu. Dan... dan apa maksudmu dengan berkata bahwa pesawat yang akau kutumpangi berangkat satu setengah jam lagi? Bagaimana dengan kau sendiri, huh?"

"Aku akan mengurus apa yang terjadi di sini," Kakashi berkata, mengedarkan pandangan ke sekitar sebelum menatap lekat ke arahnya. "Kau kembalilah terlebih dahulu. Katakan pada Direktur bahwa aku akan mengurus segalanya. Aku akan menyusulmu begitu urusan di sini sudah selesai."

Sakura tidak bisa mencegah dirinya untuk tidak menggeram pelan, melayangkan tatapan ketidaksetujuannya atas apa yang dikatakan Kakashi. Bagaimana mungkin pria itu bisa menyuruhnya untuk kembali ke Amerika dan menganggap seolah-olah insiden yang terjadi sama sekali tidak memengaruhi semuanya?

"Kakashi!" Sakura membentak. Tidak lagi memedulikan bahwa Kakashi adalah atasannya yang bisa saja melakukan sesuatu yang tidak ia duga. Ia sudah lelah dengan apa yang terjadi. Seluruh otot tubuhnya seperti berteriak memprotes apa yang ingin ia lakukan. Namun Sakura berusaha mengabaikan itu semua.

Sakura cukup terkejut mendapati pria dengan iris mata berlainan itu menarik tangannya dan membuatnya terduduk kembali di dalam mobil ambulance. Keningnya berkerut setelah menyadari ekspresi wajah Kakashi terlihat lebih serius dari biasanya.

"Kau harus kembali ke Amerika," kata pria di hadapannya dengan suara berbisik. "Keadaan di sini sudah tidak seperti yang kupikirkan lagi. Terlalu berbahaya jika kita hanya melanjutkan penyelidikan berdua saja setelah apa yang terjadi kepada Sai. Aku ingin kau kembali ke sana bukan tanpa alasan, Sakura. Lakukan saja apa yang aku katakan jika kau masih ingin terlibat dalam penyelidikan ini."

Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Kau mengancamku, huh?"

"Tidak," Kakashi menyanggah sembari menggelengkan kepala. "Dengarkan aku. Aku menduga ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat Direktur mengambil keputusan seperti ini. Direktur bukan orang yang akan membuat keputusan tanpa pertimbangan. Aku ingin kau menyelidiki hal itu. Mungkin dengan demikian kita akan menemukan sesuatu. Sekarang berhentilah membantah dan lakukan tugasmu sebagai bawahanku. Kita harus segera ke bandara."

Mendengarkan alasan yang diberikan Kakashi membuat Sakura pada akhirnya tidak mampu untuk membantah kata-kata pria itu. Ia menyadari—satu jam kemudian—jika saat ini dirinya tengah berdiri di bandara dengan pasport dan tiket pesawat di tangannya. Sebuah tas berisi beberapa lembar pakaian tersampir di pundaknya. Wanita itu tidak ingin memikirkan bagaimana bisa Kakashi menyiapkan pasport untuknya seperti sekarang. Bukankah semua barang-barangnya sudah hancur karena ledakan?

Sakura menggelengkan kepala. Mengerjapkan mata ketika mendengar suara panggilan yang memberitahu dirinya bahwa pesawat yang membawanya kembali ke Amerika Serikat akan lepas landas dalam sepuluh menit. Mendesah pelan, Sakura melirik ke arah di mana Kakashi berdiri. Menganggukkan kepala sebelum menuju pintu terminal keberangkatan. Tidak sekalipun melihat ke belakang. Ia juga tidak sempat menyadari jika Hatake Kakashi terlihat menghela napas lega sebelum kembali berkutat dengan buku kesukaan pria itu; berjalan dalam diam meninggalkan kawasan bandara.

Ia hanya berharap jika kedua rekannya—Kakashi dan Naruto—akan baik-baik saja.

Setidaknya masih ada yang bisa ia lakukan walau berada sangat jauh dari negara ini.


Tokyo Metropolitan Police Department, Tokyo, 17:34.

"... Apa yang seorang Kepala Departemen Organisasi Kriminal lakukan dengan berada di tempat ini?"

Hyuuga Neji berusaha untuk tidak memutar bosan kedua matanya mendengar komentar yang dilayangkan Nara Shikamaru. Pria beriris lavender itu hanya mengedikkan bahu dan memposisikan dirinya agar nyaman di kursi di depan meja Shikamaru. Ia tidak mengacuhkan pandangan penuh minat dari petugas polisi di tempat itu dan hanya mengamati bagaimana Shikamaru mendecakkan lidah sebelum mendudukkan diri di hadapannya.

"Aku perlu bantuanmu," kata Neji dengan singkat.

Tidak memedulikan pandangan beberapa pasang mata di tempat itu, Nara Shikamaru menaikkan sebelah alis dan menyulut sebatang rokok; membuat aroma nikotin menguar di sekitarnya. "Tidakkah kau tahu jika aku sedang sibuk, Neji?" kata sang detektif. "Aku baru saja dipindahkan ke tempat ini untuk ditugaskan menyelidiki kematian Danzō. Aku mungkin tidak punya waktu untuk membantumu. Lagi pula bukanlah kau memiliki banyak anak buah yang bisa kauperintahkan?"

"Ini bukan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh sembarang orang, kau tahu?"

Nara Shikamaru mendecakkan lidah sembari kembali menghisap batangan tembakau di tangan. Menatap bosan ke arah Neji sebelum pria itu mendesah pelan. "Merepotkan," gumam pria berambut nanas itu setelah menyadari Neji tidak juga bergeming dari tempatnya. "Oke. Katakan saja apa urusanmu dengan mencariku di sini. Kita akan lihat apa ada yang bisa kubantu."

Hyuuga Neji menyinggingkan senyum tipis di wajah pucatnya. Menegakkan tubuh dengan dagu bertumpu pada tangannya. "Aku menduga kau sudah mendengar mengenai ledakan yang terjadi tidak jauh dari gedung NPA." Shikamaru mengangguk dengan enggan dan mengatakan bahwa salah satu rekan pria itu ditugaskan menyelidiki kejadian itu. "Salah satu agen FBI yang datang ke sini menjadi korban dalam peristiwa itu."

"Ah, rekan dari Haruno Sakura?"

Neji mengangguk. "Yeah. Namanya Sai. Beberapa hari lalu, saat kasus penembakan di depan gedung NPA, Uzumaki Naruto tewas tertembak. Dengan demikian, sudah dua agen FBI yang tewas dalam insiden yang belakangan ini terjadi. Aku mempunyai dugaan bahwa mereka menjadi korban karena tengah menyelidiki kasus mengenai organisasi yang belakangan ini tengah berkembang bukan hanya di Jepang tapi beberapa bagian di dunia."

"Dan aku menduga kalau kedatanganmu ke sini adalah untuk membantu menyelidiki kasus itu."

Neji menganggukkan kepala dan menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kau benar. Entah mengapa ada yang terus mengusik pikiranku. Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja agen FBI yang berada di bawah yuridiksi-ku diburu satu per satu. Pertama Uzumaki dan kemudian Sai. Hatake Kakashi—atasan ketiga agen FBI itu—menduga bahwa mungkin saja Haruno Sakura akan menjadi incaran mereka berikutnya. Untuk itulah pria itu sepertinya terburu-buru memulangkan Haruno kembali ke Amerika. Setidaknya itulah pemikiranku."

Shikamaru bergumam pelan, mematikan rokok di tangannya yang sudah memendek sebelum menyulut sebatang rokok kembali; kebiasaan yang dari tahun ke tahun tidak bisa dihilangkan pria bermarga Nara itu.

Sepasang manik hitamnya mengamati sosok Hyuuga Neji selama beberapa saat. "Aku akan mencoba melihat apakah aku bisa membantumu dalam masalah ini," kata Shikamaru. "Tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun. Kasus Danzō sama sekali belum menemukan titik terang apalagi setelah kamera pengaman yang terpasang di beberapa tempat di depan gedung parlemen yang mungkin merekam pelaku penembakan sepertinya diretas seseorang. Semua rekaman itu hilang dan bahkan ahli teknologi milik kepolisian sekalipun tidak bisa memperbaikinya."

"Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi?"

Shikamaru mengedikkan bahu. "Jangan tanyakan hal itu padaku, Hyuuga," katanya. Berada di dalam posisi tidak mengetahui apa yang terjadi—bahkan untuk orang jenius semacam dirinya—bukanlah sesuatu yang ia suka. Shikamaru tidak suka berada di tempat gelap; membuatnya tidak tahu harus melakukan apa atau tidak mengetahui dari mana musuh akan menyerangnya.

"Aku sempat menduga ada suatu hal yang besar tengah terjadi. Sesuatu yang besar dan bahkan membuatku tidak yakin apakah kita akan bertahan menghadapi hal itu," Shikamaru berkata lagi dan menuai tatapan tidak mengerti dari pria di hadapannya. Mengabaikan hal itu, Shikamaru lebih memilih untuk menatap langit sore yang menggantung di luar gedung. Sampai sekarang ia sungguh tidak mengerti mengapa dirinya menyetujui permintaan ayahnya untuk bergabung di kepolisian. Sungguh, pekerjaan ini jauh lebih berat daripada yang pernah dibayangkan pria itu.

Seakan mengerti apa yang disampaikan Shikamaru, Neji terlihat tengah berpikir keras. Tangan pucat pria itu bergerak memijat bagian belakang lehernya. Sama tidak mengertinya dengan pria bermarga Nara itu, Neji berusaha untuk memilah-milah apa yang tengah terjadi.

Bukanlah sebuah kebetulan belaka terjadi kasus-kasus yang tidak pernah ia duga akan dihadapinya. Mulai dari kedatangan tim Hatake Kakashi ke Jepang dan mengatakan kepadanya bahwa mereka bermaksud menyelidiki kelompok mafia yang dicurigai berada di negara ini kemudian dilanjutkan dengan penangkapan Kakuzu dan Hidan sampai terbunuhnya Kakuzu di dalam sel kepolisian. Serta peristiwa penembakan di depan gedung NPA yang sampai menewaskan Uzumaki. Disusul kemudian terbunuhnya Danzō dan peledakan bom tepat di depan hidung Kepolisian Jepang. Semuanya terdengar... ganjil.

"Apa kau berpikir jika kasus pembunuhan Danzō ada hubungannya dengan semua yang terjadi?" Neji melayangkan pertanyaan kepada Shikamaru. "Maksudku, Danzō pernah dicurigai dan bahkan terlibat dalam pembentukan Root. Kudengar bahkan tidak banyak yang menyukai keberadaan pria itu. Tidakkah kau berpikir bahwa mungkin saja ada kelompok lain yang ada di belakang semua kejadian ini?"

Terlihat Shikamaru menganggukkan kepala dan menikmati rokok di tangannya. "Tentu saja aku pernah memikirkan peluang itu," ujar Shikamaru. "Hanya saja, satu pertanyaan muncul di kepalaku. Siapa atau apa kelompok itu? Sejak dihancurkannya Root delapan belas tahun lalu, tidak ada lagi mafia yang terdengar terbentuk di negara ini. Abaikan yakuza-yakuza yang ada. Orang-orang seperti itu mempunyai cara kerja yang berbeda dengan mafia atau triad."

Baik Neji dan Shikamaru tidak ada yang mampu menjawab satu pertanyaan yang menggantung tersebut.


Naruto's apartment, 20:56.

Mendapatkan luka tembakan di tubuhnya bukanlah sesuatu yang baru dialami Naruto. Sebagai seorang agen FBI—apalagi bertugas di New York, kota dengan tingkat kriminalitas tinggi—ia sudah mengerti bahwa mungkin suatu hari dirinya akan berada di dalam kondisi seperti itu. Dan bukan kali pertamanya Naruto terkena tembakan. Ia masih ingat dirinya pernah tertembak di tempatnya bertugas. Bekas luka itupun sampai saat ini masih bisa terlihat jelas di pinggangnya.

Pemuda berambut merah itu menghela napas. Mengernyit saat berusaha menegakkan tubuh. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengadaptasikan dengan keadaan ruangan yang gelap; merutuk karena tidak menyadari dirinya sudah tertidur lebih lama dari yang diinginkannya.

Salahkan demam yang menyerangnya semalam. Sejak setelah dirinya mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam tubuhnya, demam tinggi mulai menyerangnya; membuatnya tidak mempunyai keinginan untuk turun dari tempat tidur. Ia bahkan tidak sempat membereskan sisa kapas dan perban yang ia gunakan semalam. Selongsong peluru yang pernah tertanam di tubuhnya pun masih terlihat teronggok di atas meja; terendam di dalam sebuah mangkuk besi oleh sisa-sisa alkohol yang belum menguap bersama penjepit yang ia gunakan untuk mengeluarkan timah tersebut. Di atas lantai kamar tidurnya terlihat pula dua buah kantong plastik bekas darah beserta selang tipis berisi untuk transfusi darahnya kemarin.

Naruto mendesis pelan merasakan bekas luka di bahu kanannya berdenyut sakit. Melihat dari cermin tidak jauh darinya, sepasang iris safirnya bisa melihat darah merembes pada perban yang menutupi luka itu. Ia merutuk, mengingat jika sudah saatnya harus mengganti perban itu.

Mengganti perban bukanlah sesuatu yang disukai Naruto. Ia bukan orang yang ahli melakukan hal seperti ini mengingat saat dirinya terluka, Sakura atau paramedislah yang biasa mengerjakan semua itu. Diseretnya kakinya dengan enggan sambil meraih perban, alkohol dan painkiller yang berada di atas meja.

Naruto menatap pantulan dirinya di cermin dan mendapati sepasang iris safir balas menatapnya. Ia menghela napas dan mengernyit pelan melihat wajahnya yang tampak lebih pucat dari biasanya. Ia juga menyadari darah segar kembali merembes di antara serat-serat perban yang menutupi lukanya. Tanpa penanganan dari dokter atau tenaga medis, Naruto hanya bisa menahan rasa sakit dan pasrah menangani bekas luka itu seadanya. Mungkin sebaiknya ia mencari seorang dokter untuk menjahit lukanya.

Perlu waktu setengah jam lebih bagi Naruto untuk mengganti perban di bahu kanannya dengan yang baru. Mengangguk atas pekerjaannya yang tidak terlalu buruk, Naruto kembali menyeret kakinya menuju ke ruang tamu. Mendudukkan diri di sebuah kursi berlengan. Remote televisi hampir saja lepas dari tangannya setelah melihat berita yang dibacakan seorang penyiar di dalam sebuah berita sore hari.

Naruto sungguh berharap jika apa yang didengarkannya dari penyiar berita itu adalah sebuah kebohongan. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa tidak terjadi apapun pada apartemen tempat menginap rekan kerjanya. Gedung apartemen itu masih baik-baik saja. Bukan luluh lantak oleh sebuah ledakan bom seperti apa yang diberitakan. Ia ingin menyangkal semua itu. Namun ketika ia memindahkan stasiun televisi ke channel lain, tapi menemukan berita yang serupa, Naruto tahu bahwa apa yang terjadi bukan sekadar mimpi buruk atau sebuah lelucon.

Sebuah ledakan cukup hebat yang terjadi dan menimpa bangunan gedung apartemen yang dihuni Sakura dan Sai memang benar-benar terjadi. Ia bahkan bisa melihat puing-puing gedung yang masih berserakan di sekitar tempat itu.

Tanpa sadar, Naruto meremas telapak tangannya. Ia menggigit bibir bawahnya sampai membuat permukaan kulit bibirnya robek. Dengan cepat menyambar ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Hampir saja menekan nomor telepon Sakura sebelum teringat bahwa ponsel di tangannya bukanlah ponsel pemberian Sakura. Ponsel itu adalah milik Orochimaru. Ia tidak mau mengambil resiko jika ponsel itu ternyata dipasangi alat pelacak atau bahkan penyadap.

"Damn it!" Naruto melempar ponsel di tangannya dan berhasil mengenai kaki meja. Disambarnya jaket kulit dan topi baseball yang tersampir di sandaran kursi sebelum berjalan meninggalkan apartemennya. Mengabaikan bahunya yang kembali terasa sakit, Naruto berlari mencari salah satu telepon umum. Ia kembali mengumpat dan memukulkan tangannya pada kaca plastik telepon umum saat tidak bisa menghubungi Sakura atau Sai. Dan lebih sialnya lagi, ia juga tidak bisa menghubungi Kakashi.

Pemuda berambut merah itu berusaha meredakan kecemasan yang dirasakannya sekarang. Sampai saat ini, ia tidak tahu apakah ketiga rekannya baik-baik saja atau tidak. Naruto bahkan berniat untuk datang ke sana dan mencari informasi jika saja tidak ingat bahwa apa yang akan dilakukannya mungkin akan menarik kecurigaan. Naruto memijat pelan keningnya. Berniat untuk memikirkan cara lain sembari kembali ke apartemennya sebelum teringat akan sesuatu.

"Hei, Chōji. Ini Kyuubi," kata Naruto kepada seseorang di seberang telepon setelah berhasil mengingat nomor yang harus dihubungi. Pemuda itu menarik napas panjang mendengarkan gumam pelan dari seberang telepon sebelum berbisik, "Aku perlu bantuanmu."


Ikebukuro, 23:57.

Ikebukuro adalah salah satu kawasan yang tidak ingin dikunjungi Naruto. Bukan hanya karena tempat ini sangat ramai seperti Shinjuku atau Shibuya. Ia tidak ingin mengunjungi tempat ini karena dua setengah tahun lalu, hampir separuh yakuza di Ikebukuro menghendaki kepalanya dipenggal setelah ia membunuh pemimpin tertinggi yakuza di tempat itu. Dan sampai sekarang pun, Naruto masih menyalahkan Akimichi Chōji akan hal itu. Walau tentu saja tidak satu pun dari yakuza di Ikebukuro yang mengenali wajahnya, tapi salah seorang dari mereka pernah mencari tahu bagaimana ciri-cirinya. Karena alasan itulah, Naruto tidak pernah datang ke tempat ini tanpa memakai penyamaran.

Akimichi Chōji adalah seorang pria bertubuh gemuk yang mempunyai usaha pub di ujung Otome Road. Pria yang tidak pernah terlihat tidak membawa bungkusan berisi keripik kentang itu bukanlah orang yang berpengaruh di Ikebukuro. Bahkan sebaliknya, di mata orang-orang biasa, Akimichi Chōji hanyalah pria pemilik pub suram dan sepi. Mereka tidak pernah tahu jika pria itu mempunyai profesi lain. Profesi yang mampu membuat seseorang bahkan rela membayar berapa pun untuk jasa pria itu.

"... Kau terlihat lebih pucat dari terakhir kali aku melihatmu, Kyuubi."

Dari balik kacamata hitam yang dipakainya, Naruto menatap datar sosok Chōji yang duduk di sebuah meja berpelitur sembari mengunyah beberapa keripik kentang sekaligus. Setelah menutup pintu kayu di belakangnya, Naruto mendekati salah satu jendela yang terbuka, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di bawah sana sebelum kembali memfokuskan perhatian kepada pria bertubuh gemuk itu.

"Aku memerlukan informasi," Naruto berkata tanpa berniat untuk berbasa-basi. "Informasi mengenai ledakan yang terjadi di dekat gedung NPA."

Terlihat Akimichi Chōji menganggukkan kepala—masih sibuk menikmati camilan di tangan—dan menyandarkan tubuh. "Oh? Kejadian itu?" Chōji bergumam. "Kudengar bahkan seluruh gedung hancur karena ledakan itu. Enam puluh lebih yang berada di dalam gedung dinyatakan meninggal dan ratusan orang terluka. Ledakan itu bukan ledakan yang tergolong besar. Informasi apa yang tepatnya ingin kau ketahui, Kyuubi?"

"Semuanya."

"Dan berapa yang bisa kau bayar kepadaku, Kyuubi?" Chōji bertanya sembari memasukkan beberapa keping keripik ke mulutnya. Namun ketika tidak mendapat tanggapan apapun dari Kyuubi (hanya tatapan tajam), Chōji segera mendecakkan lidah. "Oke, oke. Kau tidak perlu menatapku dengan tatapan seperti itu, kau tahu? Aku bukan orang yang akan melupakan kebaikan seseorang. Kau tenang saja. Aku akan memberikan informasi apapun yang kau minta dengan GRATIS! Tanpa membayar sepeser pun!"

Menahan diri untuk tidak tersenyum, Naruto mengangguk singkat. Berjalan mendekati meja Chōji setelah pria itu mengisyaratkannya untuk mendekat.

"Aku mendengar kabar angin yang beredar di sekitar tempat kejadian mengenai apa yang terjadi," pria itu kembali berbicara. Menarik keluar sebuah bungkus besar camilan dari laci. "Seseorang tidak sengaja merekam pelaku yang meledakkan tempat itu. Sayangnya hanya beberapa detik sehingga aku tidak mendapatkan gambar yang jelas. Tapi menurut yang kudengar, pria itu mengendarai mobil Lexus perak."

"Itu bukan informasi yang kuharapkan, Chōji."

Chōji mengibaskan tangan di depan wajah dan merenggut. "Aku tahu. Lagi pula, tidak banyak yang kuketahui mengenai kejadian itu. Setidaknya untuk saat ini. Aku perlu waktu mengumpulkan informasi. Jika kau mau menunggu, aku mungkin bisa melaporkan sesuatu dalam dua atau tiga hari."

"Apa kau bisa melakukannya?"

Pria bertubuh besar itu terlihat sedikit tersinggung dengan kata-kata yang diucapkan Naruto. Mencibir ke arahnya sembari menggumamkan sesuatu yang tidak bisa ditangkap Naruto. "Apa kau meremehkanku?" Chōji berbalik bertanya dan Naruto menjawab dengan mengedikkan bahu; menahan diri untuk tidak meringis. "Aku sudah menjadi informan lebih dari tiga puluh tahun, Kyuubi. Jangan remehkan jaringan informasiku."

Naruto menatap pria di hadapannya tanpa berkedip sebelum tertawa hambar. Tapi setelah beberapa detik, tawanya perlahan menghilang. "Apa kau mengetahui sesuatu mengenai korban dalam ledakan itu, huh? Mengenai tiga agen FBI yang tinggal di tempat itu."

Pemuda berambut merah itu bisa menyadari Chōji terlihat tertarik dengan apa yang ditanyakannya. Pria itu dengan cepat menegakkan tubuh dan menatapnya dengan tatapan menyelidik.

"Walaupun bom yang sebelumnya dipasang di gedung itu hanya mempunyai ledakan yang mampu menghancurkan dua atau tiga gedung di sekitarnya, tapi tetap saja itu adalah sebuah bom, Kyuubi," Chōji berujar. "Apalagi kudengar jika bom itu dipasang di gedung apartemen yang kaumaksud, aku berani bertaruh bahwa siapapun yang berada di dalam gedung itu tidak akan selamat. Dan aku ragu orang-orang yang kautanyakan itu selamat jika saat itu mereka berada di dalam gedung."

Naruto bisa merasakan perutnya mencelos mendengar penjelasan Chōji. Sebagai seorang agen federal, ia sudah mengetahui tipe-tipe ataupun jangkauan ledak dari sebuah bom. Ia sudah menyadari bahwa pasti tidak akan ada yang selamat jika saat itu mereka berada di dalam gedung. Hanya saja saat mendengarkan penjelasan itu dari orang lain, Naruto kembali merasakan kecemasan. Ia ingin mengetahui dan memastikan jika Sakura, Kakashi dan Sai baik-baik saja. Ia mengumpat dalam hati menyadari betapa lambannya polisi Jepang untuk memberitakan dan mengidentifikasi korban-korban ledakan.

"Jika boleh tahu, apa yang membuatmu tertarik mengetahui keadaan agen FBI itu?" Naruto memilih untuk tidak berkomentar; membuat Chōji mencibir sifatnya. "Oke. Jangan katakan kepadaku. Aku memang tidak boleh mengetahui apapun mengenai seorang Kurama Kyuubi. Hanya saja, tidak bolehkah aku untuk tahu? Bagaimanapun juga, kau bukan orang pertama yang mendatangiku dan tertarik mengenai ketiga agen FBI yang datang ke negara ini."

Kening agen FBI itu berkerut. Kedua matanya menyipit dari balik kacamata yang ia gunakan. "Ada yang datang mencarimu dan menanyakan mengenai mereka?" Chōji mengangguk dalam diam, terlihat tertarik. "Apa... apa yang ditanyakan orang itu? Apa kau ingat bagaimana ciri-cirinya?"

Chōji terlihat berpikir sejenak. "Yeah. Orang itu datang kemarin siang dan menanyakan mengenai Uzumaki Naruto—agen FBI yang tertembak di depan gedung NPA."

Naruto bisa merasakan kecemasan melanda dirinya. Ia berusaha keras agar tidak memperlihatkan ekspresi itu di depan Chōji. Siapa yang datang mencari Chōji dan menanyakan sesuatu mengenai dirinya?

Tampaknya, sang informan di hadapannya mengetahui apa yang sedang dipikirkan Naruto.

"Orang itu tidak menyebutkan identitasnya tapi memberiku banyak uang. Kalau tidak salah, pria itu berkulit pucat dan berambut hitam kebiruan. Aku melihatnya sekilas dari topi yang dipakai pria itu." Chōji terlihat sama sekali tidak menyadari jika saat ini kedua mata Naruto melebar mendengar penjelasan tersebut. "Ah, ya, dia juga mempunyai mata yang menakutkan. Membuatku teringat pada tatapanmu. Hanya saja, jauh lebih mengerikan. Oi, Kyuubi? Kau baik-baik saja?"

Naruto tidak menjawab pertanyaan yang ditujukan untuknya. Pemuda itu terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri. Memikirkan mengapa Sasuke datang menemui Chōji dan menanyakan mengenai dirinya—mengenai Uzumaki Naruto.

Untuk apa...?

End of Chapter 7 — Distraction


Terima kasih atas reviewnya untuk: evilsmirk Rizhuu, Namikaze lin-chan, sheila-ela, Rin Miharu-Uzu, Azusa TheBadGirl, anindya .cahya, Nasumichan Uharu, rura, cosmojewel dan Lily Uta Lawliet #peluk

Seperti biasa, saya akan duduk manis menunggu review dan concritnya. coretsemakinbanyakreview, semakincepatupdatecoret #salah Jaa~!