9 years ago...


Uchiha Sasuke tahu ada yang tengah disembunyikan Naruto kepadanya. Ia bisa melihat itu hanya dengan mengamati tingkah laku si pirang yang berbeda dibandingkan biasanya. Dan itu bukanlah sesuatu yang baik—terutama setelah tahu bahwa Naruto sering menyelinap keluar dari panti asuhan menjelang tengah malam.

"... Kau mau pergi lagi, huh?"

Sepasang iris oniks Sasuke dengan jelas melihat bagaimana Naruto terlonjak pelan dengan bahu yang menegang. Kedua tangan kecokelatan si pirang yang sebelumnya tengah sibuk mengikat tali sepatu terhenti seketika. Pemuda itu melihat sosoknya yang tengah bersandar pada dinding selama beberapa saat. Tidak mengatakan apapun dan memilih untuk kembali mengikat tali sepatu. Sebuah tas ransel berukuran sedang terlihat teronggok begitu saja di dekat kaki Naruto. Sasuke yang melihat hal itu memutar bosan kedua matanya.

"Kau akan mendapat detensi jika Robert tahu kau sering menyelinap saat tengah malam dan baru kembali besok pagi."

Sasuke bukannya ingin mencampuri urusan apa yang akan dilakukan Naruto. Bukan tempatnya untuk melarang apa yang berhak dan tidak dilakukan oleh si pirang. Ia bahkan ingin bersikap tidak peduli. Hanya saja, entah mengapa, setiap kali melihat Naruto menyelinap keluar dari jendela kamarnya, ada pemikiran bahwa Naruto tidak akan kembali keesokan paginya. Ada pemikiran bahwa Naruto tengah terlibat dalam sebuah masalah.

What the hell?! Sasuke tidak pernah mengerti apa yang membuatnya berpikir demikian.

"Yeah. Tentu. Kau tidak perlu mengatakannya." Suara Naruto membuyarkan pemikiran Sasuke. "Lagi pula Robert tidak akan tahu jika kau tidak mengadukannya, bukan? Ya 'kan, Sasuke? Kalau kau peduli padaku, kau pasti tidak akan mengadukannya."

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Tidak melaporkan perbuatanmu yang menyelinap bukan berarti aku peduli padamu, Usuratonkachi," Sasuke mendesis pelan. Keningnya berkerut menyadari bahwa saat ini Naruto tengah berjalan mendekatinya sembari menyunggingkan senyum lebar. Sungguh, Sasuke ingin melenyapkan cengiran bodoh yang ada di wajah Naruto.

"Ne~! Jangan malu jika kau memang cemas padaku, Sasuke! Terlukis jelas di wajahmu, kau tahu?!" Naruto berseru, melebarkan kedua seraya mendekat seperti ingin memeluknya. Dengan cepat, Sasuke menghindar. Memukul puncak kepala si pirang dengan tangannya.

"Damn it, Sasuke!"

"Hn."

Sudah sangat terbiasa melihat Naruto merenggut, Sasuke sama sekali tidak berkomentar. Ia mengerling ke arah tas ransel yang kini sudah tersampir di bahu kiri si pirang.

"Kau mau pergi ke mana?"

Ekspresi wajah Naruto seketika berubah menjadi serius. Tidak ada cengiran bodoh atau rengekan yang terdengar dari si pirang. "Hanya pergi untuk membantu seseorang," kata pemuda itu. Segera membuang pandangan ke arah lain begitu Sasuke menatap lekat si pirang; mencoba untuk mencari tahu kebohongan di balik penjelasan tersebut.

"Menjelang tengah malam seperti sekarang? Kaupikir aku akan memercayai alasan konyol itu?"

"Aku tidak memintamu untuk percaya," Naruto berujar. "Aku mengatakan apa yang sebenarnya. Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatku terlibat dalam suatu masalah, oke? Nah, berhentilah menatapku dengan pandangan seorang anak baik seperti itu karena saat ini Asuma sudah menungguku. Aku akan kembali bahkan sebelum kau membuka matamu besok pagi. Oke, Teme?"

Malam itu, Sasuke hanya diam di ambang jendela kamar Naruto dan mengamati bagaimana si pirang dengan mudahnya memanjat tembok tinggi panti asuhan dan menghilang di antara kegelapan malam di luar sana. Ia berusaha keras untuk mengenyahkan desir aneh yang dirasakan pada dadanya ketika mengamati punggung lebar Naruto barusan. Mendecakkan lidah, Sasuke memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Persetan dengan apa yang dilakukan Naruto malam ini.

Namun keesokan paginya, Sasuke berharap jika dirinya tidak membiarkan Naruto pergi malam itu jika melihat keadaan pemuda pirang itu setelah kembali ke panti asuhan. Ia ingat bagaimana dirinya menahan napas begitu melihat sosok Naruto yang terduduk di sudut kamar mandi, mencengkeram erat buntalan pakaian dengan ekspresi wajah yang menahan sakit.

Darah segar merembes melalui serat-serat pakaian tersebut. Keluar tanpa henti dari luka yang menganga lebar di pinggang Naruto. Sebuah luka yang diakibatkan oleh tusukan pisau. Luka itu terkesan dalam sehingga membuatnya bisa melihat lapisan daging yang dilumuri darah berwarna merah pekat. Sasuke bisa tahu hanya dengan melihat darah yang mengotori pakaian yang digunakan Naruto agar darah tidak terus menerus keluar. Sasuke menyadari jika saat ini wajah si pirang terlihat pucat. Bahkan lebih pucat dari warna kulitnya.

Sasuke sangat ingat apa yang terjadi pagi itu. Ia mengingat jelas bahwa dirinya segera berlari mencari Robert dan memberi tahu pria itu mengenai keadaan Naruto. Ia juga ingat bagaimana dirinya yang hanya diam mengamati bagaimana paramedis yang datang dengan ambulance membawa pergi pemuda itu ke rumah sakit.

Ia juga mengingat jelas mengenai dirinya yang melayangkan tatapan tajam kepada sosok Sarutobi Asuma yang datang ke panti asuhan setelah mendengar apa yang menimpa Naruto. Tidak tahu mengapa dirinya ingin sekali memukul wajah pria itu.

Apa karena Asumalah terjadi hal seperti itu pada Naruto?

Mungkin... mungkin seperti itu karena Sasuke sendiri tidak yakin.


Chapter 7 — Fragmentation


Osaka, 19:21.

"... Aku tahu jika aku bisa mengandalkanmu, Sasuke-kun."

Sasuke dengan cepat menarik tubuhnya menjauh saat menyadari Orochimaru tengah mencoba untuk mengulurkan tangan ke arah wajah pucatnya. Ia mencoba untuk tetap berwajah datar dan tidak menembak kepala pria itu dengan pistol yang terselip di punggungnya setiap kali melihat Orochimaru menjilat bibir dan tidak lepas memandangnya. Sasuke mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa Orochimaru terlihat begitu menaruh minat padanya. Tidak. Ia tidak mau memikirkan alasan tersebut karena sudah bisa menebak apapun alasan Orochimaru, bukanlah sesuatu yang membuatnya senang.

"Apa ada sesuatu yang kauinginkan lagi?" Sasuke bertanya. Sepasang oniks miliknya mengamati setiap gerakan Orochimaru yang tengah menuangkan anggur merah ke dalam gelas kaca.

Senyum tersungging di wajah pucat Orochimaru. "Bagaimana jika malam ini kau menemaniku minum, Sasuke-kun?" pria itu bertanya sembari berjalan mendekatinya. Akan tetapi, sebelum Orochimaru berhasil mendekat, Sasuke sudah terlebih dahulu meraih pistol miliknya dan mengacungkan benda itu ke arah pria berkulit pucat tersebut.

"Kau tidak akan menarik pelatuk itu, bukan?" Tanpa rasa takut, Orochimaru menyentuhkan ujung jari telunjuk ke arah ujung pistol miliknya sebelum mengarahkan benda itu ke arah lain. "Kau masih membutuhkanku, Sasuke-kun. Menarik pelatuk itu hanya akan membuatmu rugi."

Sasuke tahu apa yang dikatakan Orochimaru memang benar. Saat ini, ia masih memerlukan pengaruh Orochimaru dan bukan keputusan yang baik jika pria itu sampai mati di tangannya. Perlahan, Sasuke menarik tangannya. Melirik sekilas ke arah Orochimaru sebelum berjalan meninggalkan ruangan. Ia sempat mendengar pria itu mengatakan ada tugas yang harus dilakukannya besok malam. Sasuke tidak peduli dengan hal itu. Ia tidak peduli dengan apapun yang ada hubungannya dengan triad tempat di mana dirinya bergabung selama ini.

Dalam diam, Sasuke berjalan menyusuri koridor kediaman Orochimaru. Tidak mengindahkan lirikan dari pelacur-pelacur yang ada di tempat itu. Kedua matanya hanya menatap ke depan tanpa peduli dengan sekitarnya. Sasuke baru melepaskan topeng angkuh itu saat sampai di sebuah ruang bawah tanah yang khusus dibuat sebagai tempat latihan menembak.

Tangan pucatnya meraba dinding batu yang dingin, mencoba mencari tombol untuk menyalakan lampu di tempat itu. Ia bersyukur jika kali ini tidak ada sosok Karin yang biasanya bertugas mengawasi tempat tersebut. Sasuke terdiam beberapa saat di depan deretan meja. Mengamati deretan senjata api dan lusinan peluru berbagai ukuran yang tersusun rapi di atas meja.

Sebuah barreta adalah pilihannya sekarang. Dikenakannya penutup telinga sebelum mengisi magasin dengan beberapa butir peluru. Memasang kuda-kuda untuk menembak sasaran yang berdiri di ujung ruangan. Segera saja, suara letusan tembakan menggema di tempat itu; terpantul oleh dinding-dinding batu berwarna hitam. Di ujung ruangan, sebuah sasaran dari kayu terlihat menjadi amukan dari tembakan pemuda itu.

Sasuke sudah terbiasa meluapkan apa yang ia rasakan di tempat ini. Tanpa belas kasihan menghancurkan sasaran yang berdiri di tempat itu. Dan saat ini, ia ingin meluapkan amarah, keraguan dan kekecewaan yang ia rasakan.

Ia merasa marah. Marah kepada dirinya yang terlihat tidak berdaya hanya karena mendengar penjelasan Akimichi Chōji yang mengatakan bahwa Uzumaki Naruto memang benar-benar menjadi korban di penembakan gedung NPA. Sasuke ingat bagaimana dirinya tidak percaya akan apa yang dikatakan pria tersebut. Namun saat Akimichi Chōji mencarikannya informasi yang mendukung bahwa jasad yang dikremasikan di rumah sakit adalah jasad Naruto, Sasuke tahu bahwa semuanya sudah berakhir. Si pirang idiot itu sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Mati...

Pergi meninggalkannya sama seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang disebutnya 'keluarga'.

Apakah setiap orang yang ada di dalam hidupnya akan selalu pergi meninggalkannya sendirian? Tidak adakah seseorang yang tidak akan meninggalkannya?

"Fuck!" Sasuke mengumpat, memukul keras dinding batu berkali-kali sampai membuat tangan kanannya terluka. Ia tidak peduli akan darah yang mulai mengalir dari luka di tangannya. Hal yang ia pedulikan sekarang hanyalah rasa sakit pada tangannya. Rasa sakit yang mampu membuatnya untuk tetap fokus pada tujuan hidupnya.

Ya. Saat ini Sasuke tidak boleh tidak fokus akan apa yang harus dilakukannya. Ia harus tetap pada tujuannya semula. Tujuan itu tidak boleh ia tinggalkan karena sudah banyak hal yang sudah dikorbankannya. Tinggal sedikit lagi. Hanya tinggal beberapa langkah lagi tujuan itu akan selesai.

Tujuan untuk membalas apa yang dialaminya selama delapan belas tahun terakhir.


Ikebukuro, 07: 44.

"Aku cukup terkesan dengan bagaimana kau menangani luka tembakan yang mengenaimu. Tapi tetap saja akan lebih baik jika kau segera meminta orang yang berpengalaman untuk menangani luka ini. Kau beruntung sampai saat ini tidak ada infeksi yang terjadi."

Sambil menahan ringis meluncur dari bibirnya, Naruto melirik sosok dokter yang saat ini tengah menjahit luka di bahu kanannya. Menatap pria dengan luka melintang di wajah itu selama beberapa saat sebelum kembali mengamati deretan obat-obatan yang berada di rak kaca tidak jauh darinya. Otot tubuhnya menegang setiap kali jarum kecil menembus lapisan kulitnya. Walau dokter itu sudah menyuntikkan anestesi sebelumnya, tidak berarti Naruto tidak akan merasakan rasa sakit.

Dalam hati, ia berterima kasih kepada Chōji yang sudah memberitahunya tempat praktek seorang dokter yang sudah terbiasa menangani pasien-pasien semacam Naruto; pasien dengan luka yang tidak biasanya.

Umino Iruka adalah seorang dokter yang sudah lama bergelut mengobati orang-orang yang terluka yang tidak bisa memeriksakan diri di rumah sakit jika tidak ingin nantinya berurusan dengan pihak kepolisian. Luka tembakan, luka karena terkena tusukan benda tajam atau menangani operasi karena terluka sudah sangat sering ditangani Umino Iruka. Pria itu tidak akan menanyakan alasan dari mana asal luka-luka itu atau menanyakan di mana orang-orang yang datang ke tempat ini tinggal.

"Bisakah selama beberapa hari kau tidak membasahi lukamu? Aku juga ingin kau kembali ke tempat ini tiga hari lagi untuk menyakinkanku jika tidak terjadi infeksi. Kurasa mengganti perban bukanlah sesuatu yang tidak bisa kau lakukan, bukan?"

Naruto mengangguk singkat sebelum memakai kembali pakaiannya. Setidaknya sekarang ia tidak perlu mengkhawatirkan luka di bahu kanannya akan terbuka atau terkena infeksi. Diraihnya topi baseball miliknya dan memakainya; menyembunyikan rapat-rapat helaian rambut merahnya.

"Terima kasih atas bantuanmu, Umino-san," kata Naruto. Membungkukkan tubuhnya sedikit. Umino Iruka tersenyum tipis dan menyerahkan bungkusan berisi obat kepadanya. Naruto baru saja keluar dari tempat praktek Umino Iruka—sebuah rumah sederhana yang berada di antara bayang-bayang tinggi gedung di Ikebukuro—sebelum ponsel di saku celananya memutuskan untuk mengeluarkan getar pelan. Keningnya berkerut melihat ikon pesan terpampang di layar tersebut.

Sang agen FBI itu ama sekali tidak membuang waktunya begitu selesai membaca pesan tersebut. Berjalan cepat menyusuri jalanan Ikebukuro yang masih sedikit lebih sepi dibandingkan biasanya, ia berusaha menghindari beberapa pejalan kaki yang melintas di sekitarnya. Berharap jika apapun alasan Chōji memanggilnya adalah sesuatu yang penting.

Naruto tiba di Otome Road tidak sampai lima belas menit kemudian. Menganggukkan kepala singkat kepada seorang pria bertubuh kurus yang tengah membersihkan meja-meja di pub milik Chōji.

"... Setidaknya sekarang kau terlihat lebih baik dari sebelumnya," Chōji berkata sembari melemparkan sebuah kaleng minuman bersoda kepadanya. "Aku mendapatkan informasi yang sedang kau cari. Berterima kasihlah kepadaku karena aku mendapatkan informasi itu lebih cepat dari yang seharusnya. Kami-sama, aku sampai harus menggunakan semua koneksi yang kumiliki untuk membantumu, kau tahu?"

"Yeah, yeah. Kau memang informan yang terbaik yang pernah kutemui," kata Naruto dengan nada bosan. Dibukanya kaleng minuman di tangannya dan meneguk sampai setengah habis. "Lalu, informasi apa yang kaudapat?"

"Well, selain apa yang kukatakan padamu semalam," Chōji memulai di tengah kegiatannya mengunyah keripik kentang. "Aku mendapatkan informasi mengenai pemilik Lexus perak yang diduga menjadi pelaku peledakan. Let's see... di mana aku meletakkannya benda itu ya?"

Dalam diam, Naruto mengamati Chōji mulai mengacak tumpukan kertas yang tersusun rapi di atas meja, melemparkan sembarangan kertas-kertas itu karena tidak menemukan apa yang dicari. Namun pria bertubuh gemuk itu tertawa keras begitu menemukan secarik kertas berwarna biru yang tersimpan di dalam laci meja. Chōji mengulurkan kertas itu bersama sebuah map merah ke arah Naruto; membuat sepasang iris merahnya mengamati beberapa baris tulisan yang ada di kertas tersebut.

"Itu adalah nomor plat polisi yang berhasil kuperoleh," Chōji berkata lagi. "Kau mungkin bisa menyelidiki apa yang kaucari mulai dari sana. Kemudian mengenai pria yang datang mencari informasi mengenai agen FBI yang tertembak, kau bisa melihatnya dari informasi yang ada di dalam map itu. Tapi aku menduga, kau tidak akan puas dengan informasi yang kudapatkan karena sulit sekali mencari informasi mengenai Uchiha Sasuke. Sepertinya informasi tentang orang itu seolah-olah sengaja disembunyikan."

Selama beberapa saat, Naruto menatap map merah di tangannya sebelum bergumam, "Aku mengerti. Terima kasih atas bantuanmu."

Akimichi Chōji mengangguk singkat. Menyunggingkan senyum lebar kepada Naruto. "Tentu. Walau aku tidak tahu alasanmu tertarik dengan beberapa hal yang terjadi belakangan ini, tidak ada salahnya aku mengatakan jika kau harus berhati-hati, Kyuubi."

Naruto tidak mengatakan apapun. Hanya diam namun tetap memikirkan apa yang dikatakan pria bertubuh gemuk itu.


Tokyo Metropolitan Police Department, Tokyo, 13:23.

"Jadi, apa pendapatmu mengenai apa yang terjadi, Mr. Hatake?"

Hatake Kakashi mengerling sekilas sosok Hyuuga Neji yang duduk beberapa kursi darinya sebelum kembali menekuni kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Tidak terlihat seperti biasanya dirinya yang selalu membawa ke mana-mana buku bersampul oranye, kali ini pemilik iris mata berlainan itu terlihat serius menekuni laporan-laporan yang diberikan kepadanya. Sesekali terdiam beberapa lama pada beberapa lembar foto yang ada di laporan tersebut.

Tidak jauh darinya, Hyuuga Neji yang sepertinya tengah menunggu Kakashi untuk mengatakan pendapatnya, berniat untuk mengatakan sesuatu sebelum Kakashi menegakkan tubuh, Merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan mencoba untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang kaku. Kedua matanya kini terfokus ke arah layar lebar yang tengah memperlihatkan kondisi tempat di mana ledakan terjadi.

"Bisakah kau menunjukkan gambar yang memperlihatkan calon tersangka kasus ini?" Kakashi bertanya kepada salah satu polisi yang berada di depan layar monitor komputer; mendapati polisi itu menganggukkan kepala. Tidak lama kemudian, gambar seorang pria yang berdiri di samping sebuah mobil terpampang di layar. Kakashi kemudian mengalihkan pandangan ke arah Hyuuga Neji. "Apa kau sudah menemukan identitasnya?"

Kakashi menyadari jika baru kali ini Hyuuga Neji memperlihatkan ekspresi puas belakangan ini. Pria itu menganggukkan kepala dan mengisyaratkan sesuatu kepada seorang pria berwajah malas yang sejak tadi hanya terlihat mengamati sekeliling tanpa sekalipun mencoba mengatakan sesuatu.

"Pelaku diketahui bernama Pain," Nara Shikamaru berkata dengan nada bosan. Kedua tangan detektif itu sesekali membolak-balik kertas yang tersusun pada sebuah papan kayu. "Seorang penyelundup dan pedagang senjata ilegal yang sudah lama dicari kepolisian. Dari informasi terakhir yang kami miliki, Pain terakhir bersembunyi di Hokkaido sebelum keberadaannya tidak diketahui."

"Apa orang ini ada hubungannya dengan teroris atau memasok bahan peledak?"

Nara Shikamaru mengedikkan bahu. "Hal itu masih diselidiki. Tapi dari data yang terakhir kami miliki, Pain hanya bergelut di bidang senjata ilegal. Polisi lalu lintas dan beberapa detektif saat ini tengah melacak di mana mobil yang dikendarai Pain berada."

Kakashi menggerakkan tangan dan memegangi dagunya. Kedua iris matanya yang berlainan menatap lekat gambar pria berambut oranye dengan banyak hiasan piercing di wajah.

Pain...

"Hyuuga, aku ingin meminta bantuan darimu," Kakashi tiba-tiba bicara sembari menegakkan tubuh dan meraih mantelnya yang tersampir di kursi. "Aku ingin kau menyelidiki Pain. Apakah orang ini ada hubungannya dengan pria bernama Akasuna Sasori atau tidak. Jika kau tidak keberatan, aku juga ingin kau menyelidiki asal-usul Pain."

Neji mau tidak mau menaikkan sebelah alisnya. "Akasuna Sasori?" tanyanya dengan nada heran. Kedua matanya mendapati Hatake Kakashi menganggukkan kepala. "Tapi siapa dia? Aku tidak—"

"—Kau akan tahu begitu berhasil mengetahui hubungan Pain dan Akasuna Sasori," potong Kakashi terlebih dahulu dan tanpa menunggu tanggapan dari Hyuuga Neji atau Nara Shimamaru segera berjalan cepat meninggalkan ruangan.

"Apa maksud orang itu dengan menyuruhku melakukan penyelidikan terhadap Pain?" Neji berkata sepeninggal Hatake Kakashi. Ia bertukar pandang kepada Shikamaru dan mendengus pelan begitu mendapati sang detektif mengedikkan bahu. Neji sungguh tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja agen FBI itu meninggalkan rapat tanpa mengatakan alasan yang jelas.

"Apapun maksud dari orang itu, kurasa sebaiknya kau mulai melakukannya, Hyuuga," Shikamaru berkata. "Kurasa kita akan menemukan petunjuk dari orang yang bernama Pain ini. Setidaknya dengan demikian kita tidak terus menerus berada di dalam kegelapan."

Neji ingin membantah. Namun pada akhirnya, kepala Departemen Organisasi Kriminal itu memilih untuk tidak mengatakan apapun. Ia mendecakkan lidah dan memberitahu beberapa polisi di tempat itu untuk keluar; meninggalkan hanya dirinya dan Shikamaru di tempat itu. Neji kemudian mendesah pelan, mengusapkan kedua telapak tangan pada wajahnya. Tidak lepas memandang gambar pria bernama Pain yang terpampang di layar.

"Apa kau pernah mendengar nama Akasuna Sasori sebelumnya?" Neji bertanya kepada sosok Shikamaru. Cukup terkejut melihat pria bermarga Nara itu menganggukkan kepala. Shikamaru tidak mengatakan apapun pada awalnya. Pria itu terlihat tengah sibuk mengetikkan sesuatu pada keyboard komputer sebelum memperlihatkan apa yang tengah dilakukan melalui layar lebar di dinding tempat itu.

Neji tidak memperlihatkan ekspresi apapun ketika layar tersebut memampangkan wajah seorang pria paruh baya berambut merah menyala yang tengah berdiri di depan sebuah patung wanita bertubuh langsing tanpa busana.

"Akasuna Sasori. Dia adalah seorang ahli boneka dan pematung terkenal yang berasal Italia. Orang ini sangat sering menggelar pertunjukan di beberapa tempat di dunia. Dikatakan sebagai orang yang sangat jenius dan bahkan bisa dijajarkan dengan Donatello dan Auguste Rodin. Sayangnya, orang ini mempunyai catatan hitam yang membuatnya diburu oleh polisi internasional."

"Huh? Aku tidak pernah mendengar hal itu."

Neji berusaha tidak mengacuhkan kedua mata Shikamaru yang tengah menatapnya tanpa berkedip sebelum pria itu menghela napas panjang dan menyulut sebatang rokok. Membiarkan asap putih menyebar di ruangan tersebut.

"Di balik kejeniusannya sebagai seorang pematung, Akasuna Sasori dikenal sebagai salah satu pengusaha ganja dan kokain di wilayah Golden Triangle. Tidak ada yang tidak mengenal siapa Akasuna Sasori di sana," jelas Shikamaru. "Hampir sepertiga ganja dan kokain yang saat ini diselundupkan di seluruh dunia berasal dari kebun ganja milik Sasori. Tidak heran jika orang itu diburu sampai pada akhirnya berhasil ditangkap oleh CIA."

"Dan bagaimana kau bisa mengetahui latar belakang Akasuna?" Neji bertanya. Sedikit sulit mencerna jika pria bermarga Nara itu mempunyai ketertarikan kepada seorang pematung sekaligus pengusaha obat-obatan terlarang. Tapi, selama apapun Neji menunggu, tampaknya Shikamaru enggan menjawab pertanyaan tersebut, Sang detektif lebih memilih bungkam dan sibuk menyulut rokok di tangan.


Tokyo, 22:35.

Morino Ibiki tidak pernah menyangka akan mendapati dirinya berada di dalam kondisi yang sulit seperti sekarang. Walau tidak pernah sekalipun mengendurkan perhatiannya terhadap keadaan sekitar, tetap saja Ibiki dapat dipojokkan. Terlebih oleh seorang penjahat yang menyelinap ke dalam rumahnya tanpa ia sadari sebelumnya.

"Katakan padaku di mana kalian menyembunyikan Hidan."

Pria dengan dua buah bekas luka memanjang di wajah itu tidak sekalipun memperlihatkan ekspresi takut walau saat ini ia merasakan sensasi dingin di tengkuknya yang berasal dari ujung sebuah pistol. Ia hanya mendesis ketika sisi kanan wajahnya dihantamkan dengan keras ke permukaan lantai kayu. Matanya mencoba menatap tajam kepada sosok yang menahan tubuhnya. Ibiki meronta, mencoba melepaskan dirinya. Tapi sayangnya, usaha yang ia lakukan tidak membuahkan hasil apapun terlebih dalam keadaan kedua tangan yang diborgol. Ia tetap terbaring di atas lantai dengan sosok pria besar duduk di atas punggungnya.

"Ah, tidak mau mengatakan apapun rupanya?" penyerangnya berkata lagi. Menekankan ujung pistol dengan keras pada tengkuknya. Ibiki bisa merasakan hembusan napas panas di telinganya disertai dengan suara tarikan pelatuk. "Jangan mencoba menguji kesabaranku, Morino-san. Aku bukan tipe orang yang akan menunggu sampai kau mau membuka mulutmu dan mengatakan informasi yang kuminta."

Ibiki mendesis marah, memutar kepalanya ke arah sosok besar itu dan meludah. Menyeringai ketika apa yang dilakukannya hampir mengenai wajah sosok itu. Ibiki mencoba menahan diri untuk tidak mengerutkan kening mendengar tawa keras yang menggema di ruang tamu rumahnya.

"Sudah kukatakan jangan mencoba menguji kesabaranku, Sialan!" bentak sosok besar tersebut, memamerkan gigi-giginya yang tajam seperti taring di tengah keadaan ruangan yang cukup gelap. "Jika kau menyayangi nyawamu, lebih baik kau mau bekerja sama. Tidak sulit mengatakan di mana Hidan berada, bukan? Aku tahu jika kau adalah orang yang mengepalai interogasi Hidan dan Kakuzu."

"Kaupikir aku akan mengatakan hal penting semacam itu?" Ibiki menggeretakkan giginya untuk mencoba tidak berteriak ketika sekali lagi pria itu menghantamkan kepalanya ke lantai; membuat darah mengalir ke matanya dari luka di kepalanya. "Kau perlu mencoba sesuatu yang lain untuk membuatku membuka mulut, kau tahu?"

"Oh? Benarkah?" Tanpa melihat pun, Ibiki tahu jika seringai lebar tengah terukir di wajah penyerangnya. "Aku harap kau sama sekali tidak menyesal dengan apa yang kauminta, Morino-san."

Bersamaan dengan selesainya sosok itu berkata, suara tembakan terdengar di ruangan tersebut. Ibiki mendesis di antara giginya yang terkatup rapat ketika merasakan perih pada kaki kirinya yang tertembak. Pria itu hanya bisa melayangkan tatapan tajam kepada sosok penyerangnya yang tengah tertawa keras.

Morino Ibiki terkenal sebagai seorang polisi yang keras dan sadis jika berhubungan dengan menginterogasi seseorang. Siapapun yang diinterogasinya pasti akan selalu berbicara seperti burung pengicau jika berhadapan dengannya. Tidak ada seorang pun yang akan keluar dari ruang interogasi tanpa memperlihatkan wajah yang pucat pasi atau gemetar ketakutan setelah diinterogasi pria itu.

Hanya saja, walau dikatakan sebagai seorang polisi yang keras dan mempunyai pendirian yang tetap sekalipun, Ibiki tetaplah seorang manusia. Terkena satu atau dua kali tembakan bukanlah masalah besar baginya. Tubuh besarnya masih mampu menahan rasa sakit itu jika dibandingkan dengan luka-luka yang masih berbekas di tubuhnya. Tapi ketika empat buah selongsong peluru mengenai masing-masing kakinya dan tusukan tepat di bagian perut kanannya, Ibiki tidak bisa mencegah dirinya tidak berteriak dan menggenggam telapak tangannya sampai robek untuk menahan rasa sakit itu.

"Masih tidak mau bicara, hmm?"

Ibiki mendesis atas pertanyaan yang diajukan. Mencoba berbicara di tengah tenggorokannya yang terasa kering. "Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku. Hanya membuang waktumu saja dengan menyiksaku seperti ini."

"Hah! Membuang waktu katamu?" Kembali, Ibiki merasakan dinginkan ujung senjata api pada permukaan kulitnya. Namun kali ini bukan di tengkuk melainkan tepat di belakang kepalanya. "Mungkin aku memang membuang waktu denganmu. Tapi jika melihat bagaimana sikapmu walau apa yang kulakukan, itu bisa menjadi hiburan untukmu. Well, kau tahu aku tidak suka menunggu, bukan? Dan melihat kau sepertinya tidak ingin mengatakan apapun, lebih baik aku tidak perlu menunggu lebih lama. Ah, jangan dendam padaku di alam sana nanti, Morino-san. Dendamlah pada dirimu sendiri karena sikap setiamu itu. Kalian para polisi Jepang seperti seekor anjing peliharaan yang sangat setia pada majikannya. Membuatku muak."

Sang polisi Jepang itu hanya sempat mendengar suara pelatuk yang ditarik dan juga rasa sakit pada tengkorak kepalanya sebelum ia tidak bisa melihat apapun lagi.

Semuanya gelap tapi... tenang. Ibiki bahkan tidak mendengar decak pelan dari sosok besar yang sudah menembaknya.

End of Chapter 7 — Fragmentation


Terima kasih review-nya untuk Azusa TheBadGirl, rura, Infaramona, Ex Silent Reader, ca kun, Lily Uta Lawliet, Aoi LawLight, Rin Miharu-Uzu, evilsmirk Rizhuu, AnindyaCahya, dan Namikase lin chan.

Maaf atas keterlambatannya dan terima kasih atas concrit-nya. Sudah saya perbaiki kesalahan yang kemarin, orz ;) terima kasih juga sudah menyempatkan untuk membaca. Jaa~!