Chapter 9 — Retribution
Kanto Special Prison, 20:23.
Banyak orang mengenal Hatake Kakashi sebagai tipe laki-laki yang tidak pernah bersikap serius jika tengah menjalankan tugas. Senyum yang tersembunyi di balik penutup mulut serta sorot mata yang terkesan bermain-main menjadikan banyak orang mengira bahwa pria itu tidak bisa serius melakukan pekerjaannya. Hanya beberapa orang yang tahu bagaimana sebenarnya pribadi sang agen FBI tersebut.
Kakashi menutup bukunya dengan pelan begitu merasakan keberadaan seseorang yang mendekatinya. Tidak ada senyum yang diperlihatkan laki-laki itu kepada sosok Mitarashi Anko, sang kepala penjara. Ia hanya menganggukkan kepala ke arah wanita itu.
"Hatake Kakashi, kurasa?" Mitarashi Anko bertanya sembari menyilangkan tangan di depan dada. "Aku sudah diberitahu mengenai kedatanganmu ke sini. Ikut aku. Akan kutunjukkan jalannya."
Kakashi mengikuti dalam diam ketika wanita itu membawanya ke arah bagian penjara yang lebih dalam. Seperti namanya, Penjara khusus yang berada di Perfektur Kanto ini hanya dihuni oleh kriminal-kriminal yang mendapat perlakukan khusus dari Kepolisian Jepang. Bukan karena mereka akan mendapat fasilitas mewah dibandingkan dengan penjara-penjara pada umumnya yang ada di Jepang, tapi karena tempat ini memiliki sistem penjagaan yang lebih ketat. Kebanyakan tahanan di tempat ini adalah mereka yang dianggap sebagai penjahat nomor satu di Jepang. Entah itu pembunuh, penyelundup senjata ilegal ataukah koruptor sekalipun.
Dan tidak seperti penjara kebanyakan pula, tahanan-tahanan di tempat ini mempunyai sel sendiri-sendiri yang memungkinkan mereka tidak bisa berinteraksi dengan tahanan lain. Ada beberapa tahanan yang tubuhnya bahkan selalu diikat di kursi agar mereka tidak mencoba melarikan diri. Kebanyakan orang-orang itu adalah penjahat yang tidak segan-segan untuk membunuh demi keluar dari tempat ini.
"Aku rasa kau tidak keberatan menunggu sejenak," Mitarashi Anko tiba-tiba berkata, melirik dari balik bahu sembari mencoba membuka sebuah pintu yang terbuat dari besi. "Aku baru saja melakukan sesuatu kepada tahananku sehingga mungkin saat ini dia tidak bisa berbicara dengan normal."
Kakashi yang pada awalnya tidak mengerti maksud dari wanita itu tidak mengatakan apapun. Namun setelah melihat keadaan di ruangan yang dimasukinya, mau tidak mau laki-laki dengan dua iris mata berlainan itu mengernyit.
Tubuh yang terikat pada kursi dengan pergelangan tangan dan kaki dalam keadaan yang serupa adalah pemandangan yang dilihatnya di dalam sel tahanan—yang lebih menyerupai ruang interogasi kepolisian—itu. Kedua matanya bisa melihat bagaimana setiap helai rambut Hidan terkulai begitu saja karena basah oleh keringat. Kedua mata pria itu terpejam sambil berusaha menggigit bibir agar tidak satupun suara yang keluar. Kakashi menatap pemandangan itu dalam diam, mencoba menerka apa yang sudah dilakukan Mitarashi Anko kepada pria itu.
"Masih tidak mau bicara?" sang kepala penjara tersebut bertanya kepada seorang petugas polisi yang duduk di seberang Hidan. Petugas polisi itu menganggukkan kepala. "Tambah lagi dosisnya. Mungkin dengan begitu orang ini mau membuka mulutnya."
Petugas polisi itu terlihat tidak menyukai apa yang dikatakan Mitarashi Anko. Namun ketika mendapat tatapan tajam dari wanita itu, dengan cepat, petugas polisi tersebut mengiyakannya. Geraman marah segera menggema di sel sempit tersebut ketika sebuah kalung—dilengkapi dengan kabel-kabel—yang terpasang di leher Hidan mengirimkan aliran listrik bertegangan menengah ke seluruh tubuh pria itu.
Tentu saja Kakashi dengan cepat mengenali bagaimana cara kerja Mitarashi Anko dalam menginterogasi Hidan. Bagaimanapun juga, membuat tersangka berbicara dengan kursi listrik dan serum khusus adalah hal biasa yang dilakukan para anggota FBI. Ia hanya tidak menyangka bahwa sekarang polisi Jepang sudah menerapkan cara penginterogasian seperti di negaranya.
"... Kalian tidak akan bisa membuatku berbicara hanya dengan mainan seperti ini," geram Hidan setelah sepuluh detik kemudian. Tubuh pria itu masih bergetar pelan. Menyeringai kecil dengan mata yang masih tertutup ketika mendengar Anko mendecakkan lidah. "Kalian tahu, apa yang kalian lakukan tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang bisa mereka lakukan jika aku buka mulut."
Terdengar kembali Mitarashi Anko mendecakkan lidah. Wanita itu berjalan cepat ke arah petugas polisi yang duduk di seberang Hidan, menyuruh petugas itu menjauh sebelum menaikkan tegangan listrik sampai tingkat paling tertinggi yang ada pada sebuah kotak di atas meja. Dengan seringai di wajah, wanita itu menekan sebuah tombol berwarna merah di sudut kotak; membuat Hidan berteriak setiap kali aliran listrik menyerang saraf-saraf tubuhnya. Tidak sampai lima belas detik kemudian, kepala laki-laki itu terkulai di sandaran kursi. Mengumpat dengan napas yang memburu.
"Jangan membuatku melakukan hal yang lebih menyakitkan dari ini." Mitarashi Anko mencondongkan tubuh ke arah Hidan. Mata tanpa pupil itu berkilat melihat jejeran jarum suntik berbagai ukuran yang tersusun rapi di dalam kotak hitam. Siapapun yang melihat bisa dengan cepat menyimpulkan bahwa wanita itu sangat ingin menggunakan salah satu jarum tersebut.
Tapi tidak ada yang menyangka jika Hidan masih bisa tertawa keras walau tubuh laki-laki itu sudah berkali-kali dihujani oleh aliran listrik; membuat Mitarashi Anko berniat menyuntikkan serum pada tubuh Hidan sebelum Kakashi menahannya.
"Ma~! Jangan terlalu keras padanya," Kakashi berkata dengan senyum lebar yang tersembunyi di balik masker yang menutupi setengah wajahnya. Sang agen FBI itu tidak memedulikan geram pelan dari Mitarashi Anko dan memilih untuk berjalan mendekati kursi Hidan. Sepasang iris matanya yang berlainan sempat melihat sang pembunuh bayaran itu mengintip dari balik kelopak mata yang setengah terpejam sebelum membuang pandangan ke arah lain.
"Kudengar kalau kau berasal dari Rusia." Pria dengan iris berlainan itu tidak mengacuhkan dengus pelan dari sang tahanan. Menyunggingkan senyum tipis yang tentu saja tersembunyi di balik masker kepada sosok Hidan sembari mengeluarkan sebuah revolver dari balik jaketnya, mengacungkan benda tersebut ke arah Hidan. "Apa kau pernah bermain Russian Roulette, hmm?"
Hakate Kakashi tidak akan berbohong jika ia mengatakan bahwa dirinya menyukai ekspresi yang terukir di wajah pria di hadapannya—bagaimana Hidan dengan cepat memutar kepala dan menatapnya dengan kedua pupil yang melebar. Tanpa melihat pun, ia yakin jika saat ini pria itu tengah mengamati dirinya yang memasukkan sebuah butir peluru ke dalam selongsong dan memutar selongsong itu dengan cepat, kembali mengarahkan ujung revolver tepat ke kepala Hidan.
"Kau punya enam kesempatan untuk mulai bicara," Kakashi kembali berkata sembari mengerling sosok Mitarashi Anko dan tersenyum samar. "Tentu saja itu adalah perhitungan kasarnya karena aku sendiri tidak yakin apakah tidak ada peluru yang akan menembus kepalamu jika aku menarik pelatuknya."
Hidan mendesis marah, "Kau tidak akan berani. Aku masih berguna bagi kalian."
"Tapi sama saja artinya jika kau tidak mau bicara apapun, bukan?" Kakashi memposisikan jari telunjuk tangan kanan pada pelatuk revolver kesayangannya. "Jadi kusarankan kau mulai bicara sekarang atau aku akan menarik pelatuknya."
Senyum yang tersungging di wajah Kakashi sama sekali tidak memudar walau saat ini Hidan tiba-tiba saja tertawa dengan keras. "Apa ini tidak terlalu berlebihan, huh?" tanya Hidan di sela-sela tawanya. "Kau sampai mengancam akan meledakkan kepalaku hanya untuk informasi yang tidak akan pernah kuberitahukan? Apa kau tidak menyalahi aturanmu, FBI-san? Apa—"
KLIK
Kedua pupil mata pembunuh bayaran itu melebar mendengar suara tarikan pelatuk dari agen FBI di hadapannya. Tunggu! Apa pria itu benar-benar ingin membunuh dirinya? Hidan menatap nyalang ke arah sosok Kakashi, mendesis setelah menyadari bahwa pria itu seperti ingin kembali menarik pelatuk.
Hidan tidak penah merasa takut selama ia berada di dalam tahanan kepolisian Jepang. Bagaimanapun, apa yang mereka lakukan untuk membuatnya bicara tidak akan sampai membuat nyawanya melayang. Orang-orang yang selama ini menginterogasinya hanya bisa membuat tubuhnya terluka dan dipenuhi rasa sakit tanpa berniat membuatnya mati. Hidan tahu akan hal itu dan malah merasa senang. Ia menikmati setiap kali melihat ekspresi geram dari orang-orang yang kesal karena dirinya tidak mau bicara.
Tapi, jika dirinya dihadapkan pada kematian dengan peluang hidup yang hanya seper sekian bagian, tentu saja ia harus mulai berpikir. Hidan sadar ketika pertama kali pria berambut keperakan itu memasuki sel tahanannya, ada sesuatu yang membuat permukaan kulitnya meremang. Sang agen FBI itu tidak bisa dibandingkan dengan Morino Hibiki atau Mitarashi Anko.
KLIK
"Peluangmu masih satu per empat lagi, Hidan," sang agen FBI itu berkata—masih dengan tersenyum. Hidan mengumpat dalam hati melihat sosok Mitarashi Anko yang berdiri di belakang Hatake Kakashi. Bisa-bisanya wanita sialan itu tersenyum lebar di saat seperti ini. "Bicaralah sebelum peluang hidupmu menguap."
Dan Hidan hanya bisa mengumpat dengan bahasa ibunya, membenci keadaannya yang terpojok seperti seekor tikus got.
Kanto Highway, 23:31.
Sasuke melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi; membelah jalanan Perfektur Kanto. Kedua matanya tidak pernah berhenti mengamati jalan raya di depannya sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan sesampainya di tempat yang ia tuju.
Mengeluarkan Hidan dari penjara khusus Kanto adalah misi yang diberikan Orochimaru malam ini kepadanya. Walau enggan atas pekerjaan yang diberikan Orochimaru kepadanya, mau tidak mau ia harus melakukan hal itu. Orochimaru sudah menjanjikan sesuatu yang pantas bagi bayarannya malam ini.
Sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membalaskan apa yang telah dialaminya selama belasan tahun terakhir.
Pemuda Uchiha itu mencengkeram kemudi mobil hingga membuat buku-buku jemarinya memutih, berusaha memfokuskan pikiran atas apa yang harus dilakukannya malam ini.
Perlu tiga puluh menit lebih bagi Sasuke untuk tiba di luar pagar tinggi di bagian selatan penjara khusus Kanto. Tidak bisa menghapus ekspresi sedikit terkejutnya melihat sosok Kurama Kyuubi yang menyandarkan tubuh pada dinding pagar. Sepasang oniks miliknya dengan cepat mengenali sosok itu walau saat ini sebuah telapak tangan menyembunyikan wajah Kurama Kyuubi karena terkena sorotan lampu mobilnya.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Sasuke, menyandarkan tubuh pada pintu mobil. Terlihat sekilas pemuda berambut merah itu juga terkejut mendapati keberadaan dirinya. Namun ekspresi itu dengan cepat menghilang; digantikan oleh raut wajah datar.
"Kabuto menghubungiku tadi pagi," kata Kyuubi yang entah mengapa segera membuang muka ketika pandangan mereka bertemu. "Dia mengatakan padaku apa yang harus kulakukan malam ini. Aku tidak tahu jika kau yang menjadi partner-ku lagi malam ini."
"Hn."
Sasuke yang sama sekali tidak mempunyai niat mengatakan apapun hanya menganggukkan kepala sebelum kedua oniks miliknya mengamati dinding tinggi yang membatasi lingkungan luar dengan penjara khusus Kanto. Sudah dipastikan ia tidak bisa memanjat pagar tinggi dengan duri-duri besi di atasnya. Belum lagi lampu-lampu sorot yang setiap saat bergerak menyinari lingkungan sekitar. Sepertinya tidak ada pilihan lain baginya selain apa yang disarankan Kabuto sebelum ini.
"... Kau tidak berpikir ini adalah sebuah misi bunuh diri, huh?"
Sudut mata Sasuke melihat sekilas ke arah sosok Kurama Kyuubi yang sejak beberapa saat lalu berdiri di sampingnya. Laki-laki itu berkata tanpa mengalihkan pandangan dari pagar tinggi yang menjulang. Sasuke hanya menaikkan sebelah alis; bertanya dalam diam maksud dari kata-kata sosok di sampingnya.
"Maksudku," laki-laki itu berkata disertai helaan napas pelan, "ini adalah penjara khusus Kanto yang kita bicarakan. Ada lebih banyak penjaga yang ditempatkan di tempat ini terutama setelah Hidan ditahan di sini. Dan Kabuto menyuruh kita mengeluarkan Hidan dengan hanya kau dan aku? Hah! Ini terdengar seperti misi bunuh diri bagiku."
Sasuke menaikkan sebelah alis sembari menyelipkan dua buah Glock 17 pada pinggangnya, memainkan sebentar sebuah katana pendek sebelum menyelipkan benda itu di samping senjata apinya. "Siapa yang mengatakan jika kita hanya berdua?" ujarnya. Melirik jam yang melingkar di tangannya.
Pemuda Uchiha itu tidak mengacuhkan bagaimana Kyuubi menatapnya dari balik kacamata yang bertengger di hidung laki-laki itu. Tidak mengatakan apapun kepada laki-laki itu, Sasuke berjalan beberapa meter dari tempat di mana mobilnya berada, menarik sebuah pintu menuju terowongan bawah tanah yang berada tepat di bawah penjara khusus Kanto. Tidak perlu melihat ke belakang, ia sudah bisa menduga jika Kurama Kyuubi tengah mengikutinya dengan langkah kaki lebar.
Hanya terdengar langkah kaki di terowongan itu. Sesekali Sasuke mengerling jam tangannya. Kurang dari tiga menit sebelum tengah malam. Selama tiga menit itu, tidak satu pun dari dirinya atau Kurama Kyuubi yang berbicara. Walau tidak mengatakan apapun, ia bukanlah orang yang bodoh untuk tidak menyadari jika selama ini laki-laki di belakangnya tidak pernah mengalihkan pandangan dari sosoknya. Sasuke berusaha tidak mengacuhkan hal itu. Hanya diam sembari menyiagakan Glock 17 miliknya sampai ketika ia tiba di depan sebuah pintu besi yang tertutup rapat. Sekali lagi, Sasuke melirik jam tangannya.
Menunggu sampai jam itu menunjukkan waktu tengah malam.
Dan dua belas detik kemudian, bersamaan dengan matinya lampu-lampu yang menyinari terowongan, jam tangannya menunjukkan waktu tengah malam. Samar-samar, terdengar pula suara sirine dari kejauhan. Sasuke menatap pintu besi di hadapannya yang perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah koridor lenggang di mana seorang wanita berambut pirang berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pinggang. Senyum senang terukir di wajah wanita itu.
"Kau tepat pada waktunya, Sasuke-kun."
"Hn."
Wanita pirang itu memutar bosan kedua matanya. "Masih irit bicara seperti terakhir kali kita bertemu? Tapi aku tidak keberatan. Aku lebih suka dengan sikapmu yang seperti itu, kau tahu?" wanita itu berkata sementara kedua iris birunya menatap ke belakang bahu Sasuke. Tersenyum lebar melihat sosok Kurama Kyuubi yang sejak tadi memerhatikannya. "Ah, kau membawa teman! Keberatan jika aku bersenang-senang sebentar?"
"Ini bukan waktu yang tepat, Yamanaka," Sasuke berujar pelan, berjalan melewati wanita itu. Tidak sekalipun ia memedulikan helaan napas panjang dari wanita tersebut atau beberapa tubuh tidak bernyawa polisi-polisi Jepang yang ia yakini adalah hasil perbuatan seorang Yamanaka Ino. "Di mana Hidan?"
Sasuke menangkap suara dari hak sepatu yang beradu dengan lantai sebelum mendapati sepasang lengan melingkar pada pinggangnya dari belakang. Ia mencoba tidak memedulikan hembusan napas yang menggelitiki tengkuknya atau gumam pelan dari sosok Yamanaka Ino. Dengan kasar, mencoba melepaskan diri dari dekapan wanita itu. Sempat mendapati bagaimana Kurama Kyuubi membuang pandangan ke arah lain.
"Masih di sel di mana dia ditahan," kata Yamanaka Ino sembari mendecak pelan atas sikap yang diberikan Sasuke. "Aku hanya bisa membantu kalian dari sini. Tidak mungkin aku membereskan penjaga-penjaga yang ada di lantai atas, bukan? Apalagi jika masih ada kemungkinan Mitarashi Anko di sana. Dia bisa mengenaliku, kau tahu? Nah, untuk selanjutnya, kuserahkan kepada kalian berdua. Semua kamera pengawas dan sistem keamanan di tempat ini sudah kubereskan. Kau hanya perlu menyelesaikan sisanya."
Dan tanpa mengatakan apapun lagi, Yamanaka Ino pun berjalan ke arah yang berlawanan, segera menghilang dari pandangan. Sementara Naruto, yang sejak tadi mengamati apa yang terjadi di sekitarnya, tidak mampu mengatakan apapun. Ia hanya bisa mengamati bagaimana Sasuke yang tanpa memperlihatkan ekspresi apapun menembak satu per satu polisi-polisi yang mereka temui, membiarkan tubuh-tubuh mereka merosot pada dinding atau tergeletak begitu saja di atas lantai yang dingin dengan beberapa luka tembak di tubuh.
Siapa sosok yang tengah dilihatnya sekarang? Naruto bertanya kepada dirinya sendiri setelah melihat bagaimana Sasuke tidak memberi ampun dan terus-menerus menembakkan peluru-peluru kepada siapapun yang menghalangi jalan.
Sosok pemuda berkulit pucat itu seperti bukan Uchiha Sasuke yang selama ini dikenalnya. Sasuke yang ia kenal adalah orang yang bahkan enggan untuk berkelahi atau melakukan sesuatu yang sia-sia. Sasuke yang ia kenal bukanlah orang yang tanpa pikir panjang menarik pelatuk dan menyarangkan beberapa peluru ke arah sosok tubuh yang sudah tidak lagi berdaya.
Sosok yang dilihatnya sekarang seperti bukan Sasuke. Bukan pemuda yang menghilang dari kehidupannya lima tahun silam. Naruto tidak mengerti apa yang membuat Sasuke seperti sekarang.
"Dia sudah mati, Sasuke. Tidak ada gunanya kau menembaknya berkali-kali."
Sepasang oniks yang menatap tajam ke arahnya adalah hal pertama yang dilihat Naruto saat ia meletakkan tangan kanannya pada senjata api yang diacungkan Sasuke ke arah sosok tidak bernyawa seorang polisi yang bersandar di sebuah sel penjara. Kedua matanya sempat melebar ketika pemuda berkulit pucat itu menghentakkan tangan untuk melepaskan diri. Tanpa mengacuhkan keberadaannya, Sasuke mulai berjalan menjauh, membuka pintu sel di mana sosok Hidan terlihat berdiri dengan angkuh. Senyum lebar terukir di wajah lebam pria itu.
"Orochimaru yang mengirimmu?"
"Hn."
Naruto tidak mendengarkan apa yang dibicarakan kedua orang itu. Ia terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang. Menimbang apakah ia harus menghubungi Kakashi dan mengatakan bahwa Hidan akan melarikan diri atau tidak. Dicengkeramnya sebuah ponsel yang tersembunyi di dalam saku celananya sebelum mengeluarkan benda itu. Jika ia tidak menghubungi Kakashi, itu berarti kerja kerasnya untuk menahan Hidan akan sia-sia jika pada akhirnya pria itu meloloskan diri. Tapi jika ia menghubungi Kakashi, apakah pria itu bisa datang tepat pada waktunya? Bukankah ada kemungkinan bahwa Sasuke dan dirinya juga akan ikut tertangkap? Bagaimanapun juga, di mana Kepolisian Jepang, statusnya sama dengan Hidan. Ia adalah seorang penjahat.
"Kita harus pergi sekarang."
Naruto dengan cepat menghapus ekspresi terkejut di wajahnya melihat sosok Sasuke dan Hidan yang mulai berjalan menjauh. Ditatapnya sekilas ponsel di tangannya sebelum memasukkan benda itu kembali ke dalam saku celana. Dalam diam mengikuti kedua sosok yang berjalan beberapa meter di depannya.
Tokyo, 00:50.
Nara Shikamaru bukanlah orang yang suka dibangunkan di tengah malam di saat dirinya sedang menikmati istirahatnya yang tenang dan jauh dari gangguan seorang Yamanaka Ino. Tentu saja saat Hyuuga Neji menghubunginya sepuluh menit yang lalu, ia tidak bisa tidak menggumamkan 'merepotkan' beberapa kali sampai membuat pria Hyuuga itu mendecakkan lidah.
"... Apa yang terjadi?" Shikamaru bertanya setelah memasuki mobil yang dikendarai Neji, menyulut sebatang rokok dan membiarkan asapnya keluar melalui jendela mobil yang terbuka. "Apa yang membuatmu sampai membangunkan dan mengatakan ada masalah serius, huh?"
"Hidan baru saja melarikan diri dari penjara," kata polisi di sampingnya dengan disertai geraman pelan. "Dan aku juga baru mendapat laporan jika Morino Ibiki ditemukan tewas di rumahnya."
"Morino?"
Neji menganggukkan kepala. "Petugas forensik baru saja dikirimkan menyelidiki kematian Ibiki. Sementara itu, kita akan ke kantor pusat. Komisaris polisi ingin membicarakan masalah ini."
"Aku yakin jika pria itu pasti sudah menghabiskan beberapa batang rokok sementara menunggu kita."
Shikamaru tidak memedulikan Neji yang melayangkan tatapan tanya ke arahnya. Pria bermarga Nara itu lebih memilih untuk menatap pemandangan malam sementara mobil yang dikendarai Neji melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak sampai dua puluh menit kemudian, Shikamaru menyadari jika saat ini dirinya berada di gedung NPA, berdiri di hadapan Komisaris Polisi yang tidak berhenti untuk menghisap sebatang rokok.
"Sudah berapa batang rokok yang kauhabiskan, Asuma-san?" Shikamaru bertanya tanpa peduli bahwa pria di hadapannya sekarang adalah atasannya. Terdengar pria itu mendecakkan lidah pelan dan mengatakan kepadanya sudah menghabiskan satu bungkus rokok selama menunggu dirinya dan Neji.
"Tapi tentu saja bukan hal itu yang akan kita bicarakan di sini," Sarutobi Asuma berkata, mematikan puntung rokok di tangan dan bangkit dari tempat duduknya. Pria itu berdiri dengan bersandar pada pinggiran meja kerja dan menatap kedua laki-laki di hadapannya. "Kita perlu melakukan sesuatu atas apa yang terjadi belakangan ini. Setidaknya aku harus mencoba menyelamatkan wajahku jika tidak ingin dianggap tidak becus dalam pekerjaanku."
Shikamaru menaikkan alis, namun tidak mengatakan apapun.
"Aku ingin menjalankan kembali proyek Sektor 9."
"Sektor 9?"
Pria bermarga Nara itu menghela napas dan memijat kening. "Sektor 9 adalah sebuah Divisi khusus yang pernah didirikan oleh Perdana Menteri Jepang sebelumnya," kata Shikamaru menjawab pertanyaan Neji. "Divisi ini terpaksa ditutup sebelum Perdana Menteri Sarutobi kembali menjabat. Kau pasti pernah mendengar peristiwa peledakan di Tokyo Tower, bukan?"
Neji mengangguk atas pertanyaan tersebut. Ia masih ingat peristiwa yang terjadi delapan belas tahun lalu di mana salah satu lambang kebanggaan kota Tokyo itu sempat hancur karena ledakan bom. Banyak orang yang meninggal kala itu termasuk perdana menteri yang menjabat di masa tersebut. Sampai sekarang pun, peringatan kejadian itu masih dilaksanakan setiap tahunnya. Setiap tahun, orang-orang akan datang ke tempat itu, meletakkan rangkaian bunga dan berdoa untuk para korban peristiwa itu.
Setiap tahun pula, Neji dan keluarganya akan pergi ke sana, mempersembahkan sebuah karangan bunga untuk mendiang ayahnya.
"Banyak yang menyesalkan apa yang terjadi," Sarutobi Asuma berkata untuk menarik perhatian kedua pria di ruangan itu. "Karena alasan itulah, Sektor 9 diminta untuk ditutup oleh parlemen yang saat itu menjabat. Mereka berpikir bahwa tidak ada gunanya divisi itu ada jika pada akhirnya tidak bisa menghentikan aksi teroris kala itu. Tapi sekarang, perdana menteri menginginkan Sektor 9 kembali dibentuk karena berpikir bahwa mungkin saja apa yang terjadi sekarang ada hubungannya dengan kejadian-kejadian delapan belas tahun silam."
"Bagaimana mungkin?"
Sarutobi Asuma mengedikkan bahu. "Jangan tanyakan padaku. Aku sendiri tidak tahu apa yang ada di pikiran pria tua itu. Dia hanya memintaku untuk mengatakan apa yang harus kita lakukan. Aku sudah mulai membentuk Sektor 9 sejak empat hari yang lalu dan aku meminta kalian ke sini karena kalian berdualah yang akan bertanggung jawab atas divisi tersebut."
Taiwan, 06:43.
Wanita itu mengedarkan pandangan begitu tiba di terminal kedatangan, mencoba meredam kebisingan suasana bandara dengan earphone yang terpasang di telinganya. Ia berjalan menyeret koper miliknya dan segera menyodorkan pasport pada petugas bandara. Melepaskan kacamata hitam untuk meyakinkan bahwa wajahnya memang seperti pada foto di pasport tersebut. Ia segera menganggukkan kepala setelah petugas bandara mempersilahkannya untuk pergi.
Taiwan bukanlah negara yang pernah ia kunjungi sebelum ini sehingga membuatnya berkali-kali harus memastikan bahwa dirinya tidak tersesat. Ia bahkan harus menyewa seorang penerjemah untuk membantunya memahami bahasa orang-orang di sekitarnya.
"Haruno Sakura?"
Mendengar seseorang yang memanggil namanya, membuat wanita berambut merah jambu itu menoleh; mendapati seorang gadis berambut indigo menyunggingkan senyum ramah kepadanya. Tangan gadis itu terulur. "Hyuuga Hinata. Aku di sini untuk memandumu."
"Hyuuga?" Sakura membeo. Pupilnya sedikit melebar setelah menyadari bagaimana kemiripan sosok di depannya dengan Hyuuga Neji. "Apa hubunganmu dengan Hyuuga Neji?"
Semburat merah samar muncul di pipi gadis itu. "Aku sepupunya. Kau mengenal Neji nii-san?"
Sakura menganggukkan kepala walau dalam hati mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana jika Hinata sampai menghubungi Neji dan memberitahu mengenai keberadaannya di tempat ini? Lalu bagaimana jika Kakashi sampai mendengar bahwa saat ini dirinya tidak berada di Amerika Serikat tapi malah di Taiwan?
"Haruno-san?"
Wanita beriris hijau itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan tersenyum melihat raut cemas di wajah gadis di hadapannya. "Ah, Neji sempat menjadi rekanku saat penyelidikan," kata Sakura pada akhirnya. "Dan kuharap kau tidak mengatakan apapun kepada Neji bahwa aku berada di sini."
Hyuuga Hinata mengangguk patuh, mengatakan kepadanya kalau itu bukanlah sebuah masalah. Gadis berambut indigo tersebut juga sempat menanyakan ke mana ia akan pergi sekarang. Dengan cepat, mengulurkan sebuah alamat yang tertulis pada lembaran kertas.
Panti asuhan yang akan dikunjunginya adalah sebuah tempat yang berada di pesisir pantai provinsi Yilan. Terletak di daerah yang tidak begitu terkena perkembangan teknologi di Taiwan. Wanita itu sama sekali tidak menyangka dirinya perlu waktu satu setengah hari untuk tiba di tempat ini.
Ditatapnya sebuah rumah luas dari balik pagar yang mengelilingi panti asuhan itu. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat sekumpulan anak-anak yang tengah bermain di halaman. Ia manarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan sebelum memutuskan untuk berjalan mendekati tempat itu. Di sampingnya, terlihat Hyuuga Hinata tersenyum tipis mengamati anak-anak tersebut.
Seorang wanita paruh baya adalah orang dewasa yang pertama kali mendatangi dirinya, tersenyum ramah sembari berbicara dalam bahasa setempat. Hinata yang menerjemahkan apa yang dikatakan wanita itu mengatakan bahwa wanita berambut hitam tersebut adalah orang yang bertugas mengurus tempat ini. Sakura bisa melihat ekpresi ragu di wajah wanita itu setelah ia menanyakan mengenai Shimura Danzō.
"Shimura Danzō adalah pemilik sekaligus orang yang mendanai tempat ini," kata Hinata yang menerjemahkan apa yang dikatakan wanita itu. "Tapi Shimura-san jarang datang ke sini. Terakhir kali berkunjung pun, sudah lebih dari lima tahun yang lalu."
Wanita pengelola panti asuhan itu mengajaknya memasuki bagunan rumah. Berkali-kali ia mengedarkan pandangan ke sekeliling sembari menanyakan pertanyaan kepada wanita itu. Dalam diam mendengarkan apa yang dikatakan Hinata sementara ia mengamati gambar-gambar yang terpajang di sepanjang dinding koridor.
Ada beberapa foto yang juga terpajang di dinding tersebut dan semuanya adalah foto-foto hitam putih. Satu per satu, ia mengamati wajah-wajah yang berada di foto-foto itu dan mendengarkan Hinata yang mengatakan bahwa itu adalah anak-anak yang pernah tinggal di panti asuhan ini. Sakura tahu bahwa dirinya saat ini tengah menahan napas ketika matanya menangkap foto sosok anak laki-laki berambut hitam yang berdiri di bagian paling belakang kerumunan; tengah tersenyum di samping sosok Shimura Danzō yang terlihat lebih muda.
Dengan cepat, ia mengalihkan pandangannya ke arah wanita pengelola panti asuhan, menanyakan siapa anak laki-laki itu dengan nada terburu-buru. Hinata menerjemahkan apa yang ia katakan kepada wanita itu. Perlu beberapa menit bagi wanita tersebut untuk mengingat anak laki-laki berambut hitam yang ada di foto itu sebelum wajahnya berubah cerah.
"Lee Tsai," wanita tersebut berbisik dan berkata dengan cepat sementara jari telunjuknya mengarah pada anak laki-laki yang ia maksud. Sakura segera menatap Hinata; meminta menjelaskan apa yang dikatakan wanita itu.
"Nama anak laki-laki itu Lee Tsai," Hinata berkata. "Dia anak laki-laki yang pintar dan sepuluh tahun lalu dibawa Danzō dari tempat ini."
"Lee Tsai?" Sakura memastikan dan mendapat anggukan kepala dari wanita di hadapannya. Kembali mengalihkan pandangan pada foto hitam putih tersebut.
Ia tidak akan salah mengenali jika Lee Tsai yang dimaksud wanita itu adalah orang yang sama yang menjadi rekannya selama ini.
Orang yang tewas beberapa hari lalu.
Orang yang membuat ia tidak mengacuhkan perintah Kakashi untuk kembali ke Amerika dan bukannya berada di tempat seperti ini.
Sai...
Tapi bagaimana bisa?
End of Chapter 9 — Retribution
Terima kasih banyak atas review-nya untuk rura, Namikaze Lin Chan, i need more, Aoi LawLight, Nasumichan Uharu, AnindyaCahya, evilsmirk Rizhuu, SasShin-chan, dan Rin Miharu-Uzu.
Maaf baru sempat update, orz #gegulingan malu sekali rasanya baru sempat update sekarang. Mau bagaimana lagi, RL benar-benar menyita waktu. No rambling, thank you for reading, minna-san~! Reviews and concrits are still welcomed ;)
