"Is hatred in the future? Or is love in the future?"
— Bloody Monday Live Action, episode 3.
9 years ago...
Dari tempatnya berdiri sekarang, Sasuke bisa mendengar teriakan protes dari si pirang. Sambil menaikkan sebelah alis ketika samar-samar dirinya juga mendengar suara Robert, Sasuke membuka pintu di hadapannya dengan perlahan. Ekspresi wajahnya tidak berubah melihat sosok Robert yang mengacungkan jari telunjuk ke arah Naruto yang tengah menyandarkan tubuh pada kepala tempat tidur. Perban berwarna putih terlihat membelit perut dan pinggang tubuh kecokelatan itu.
"Sasuke!" Naruto berseru dengan kedua iris safir itu bersinar penuh kesenangan. Terlihat jelas ingin tidak mengacuhkan sosok Robert yang berdiri di samping tempat tidur pemuda itu. Sasuke juga tidak luput menyadari bagaimana si pirang idiot itu mengernyit sebelum mendesis. "Ne, apa kau datang untuk menjengukku? Apa kau membawakan sesuatu untukku?"
Bukankah itu adalah pertanyaan yang bodoh? Sasuke memutar bosan kedua matanya atas pertanyaan tersebut. Untuk apa lagi dirinya menghabiskan waktu datang ke rumah sakit jika bukan untuk menjenguk Naruto?
"Naruto! Bisakah kau berhenti bermain-main dan mulai mendengarkan apa yang kukatakan!?"
Suara Robert menggema di ruangan sempit itu. Sekali lagi Sasuke melihat Naruto mengernyit dari tempat tidurnya. Tidak berniat untuk mencampuri perbincangan kedua orang itu, Sasuke memilih untuk menyandarkan tubuh pada dinding terdekat, mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat di mana si pirang dirawat sejak kemarin.
Ruangan itu hanya dihuni oleh Naruto seorang. Di atas sebuah meja nakas di samping tempat tidur, sebuah karangan bunga menghiasi ruangan serba putih itu. Sasuke menahan diri untuk tidak mengeluarkan geraman setelah melihat nama Sarutobi Asuma tertulis di sebuah kartu ucapan. Sampai sekarang pun ia masih belum bisa menghilangkan kekesalan di dalam dirinya atas apa yang terjadi kepada Naruto.
Tapi kenapa?
Sasuke masih belum mengetahui penyebab mengapa dirinya bersikap aneh seperti ini. Ia hanya tahu bahwa saat ini, menyalahkan pria itu adalah yang bisa ia lakukan. Adalah kesalahan Sarutobi Asuma sehingga si pirang bisa terkena tusukan pisau. Salah pria itu juga Naruto harus menjalani operasi selama empat jam lebih dua hari lalu. Si pirang bahkan hampir tidak bisa diselamatkan jika tusukan pisau itu berhasil mengenai ginjal.
"Sasuke...?"
Pemuda berambut raven itu mengerjap sekali. Tidak menyadari jika Robert sudah pergi dari ruangan itu. Ia tertegun sejenak menyadari bahwa entah sejak kapan kedua telapak tangannya mengeluarkan keringat. Ia mengeluarkan decakan pelan. Berjalan perlahan mendekati si pirang. Betapa ingin sekali Sasuke menghapus cengiran lebar di wajah Naruto sekarang. Bagaimana bisa pemuda itu bersikap biasa-biasa saja seperti tidak sedang terjadi sesuatu? Mungkin... mungkin sampai kapanpun dirinya tidak akan bisa mengerti jalan pikiran Naruto.
"Aku sungguh tidak mengerti apa yang ada di kepalamu, Usuratonkachi," Sasuke angkat bicara setelah keheningan yang tidak nyaman menggantung di ruangan itu. Sepasang oniks miliknya melihat bagaimana Naruto mengerutkan kening sebelum mengalihkan pandangan agar kedua mata mereka tidak saling bertemu.
Sasuke menghela napas, mendudukkan diri di kursi kosong yang tersedia. "Kau membuat semua orang cemas atas apa yang terjadi, kau tahu? Tiba-tiba muncul di dengan luka di tubuh dan yang lebih bodoh lagi, bukannya mencari bantuan tapi kau malah bersembunyi di dalam kamar mandi. Kau hampir mati, Idiot!"
"Aku melakukan hal itu bukan tanpa alasan, Sasuke."
Pemilik iris oniks itu menggeram pelan, mengepalkan kedua tangan di pahanya. Amarah yang sama kembali meluap di dalam dirinya. "For WHAT!?" bentaknya tanpa memedulikan Naruto bergerak tidak nyaman di atas tempat tidur rumah sakit. "Mencoba untuk bunuh diri? Mencoba bersikap sok keren dengan melakukan hal berbahaya, huh? Apa kau—"
"—Mengapa kau peduli dengan apa yang kulakukan?"
Sasuke tidak bisa mencegah dirinya tidak terkejut saat Naruto memotong ucapannya. Selama beberapa saat, ia terdiam dan memandang sepasang iris safir di hadapannya; tidak tahu harus memberikan komentar seperti apa.
Mengapa ia peduli? Mengapa ia terdengar peduli dengan apa yang si pirang lakukan? Seperti bukan dirinya dengan mengatakan hal seperti itu. Sejak kapan dirinya seperti bersikap protektif terhadap Naruto? Pertanyaan-pertanyaan itu otomatis muncul di benaknya; meminta jawaban yang belum tentu bisa ditemukannya di saat seperti ini.
"Fine," Sasuke berkata dengan suara bisikan. Tidak suka dengan apa yang baru saja terjadi, ia memilih beranjak dari tempat duduknya. Berdiri dengan ekspresi datar yang biasa terpasang di wajahnya. "Lakukan apa yang kauinginkan, Uzumaki. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun."
Sasuke dengan cepat membalikkan tubuhnya; luput melihat kilat aneh di sepasang iris Naruto. Ia baru saja berniat untuk memutar kenop pintu di hadapannya sebelum mendengar si pirang memanggilnya dengan suara tertahan.
"Aku hanya ingin sedikit mengumpulkan uang, kau tahu?" Sasuke tidak bergerak dari tempatnya ataupun berniat membalikkan tubuh dan berhadapan dengan si pirang. "Asuma menawariku pekerjaan dengan mengumpulkan informasi mengenai pengedar obat-obatan tidak jauh dari panti asuhan dan aku menyetujuinya karena tahu berapa banyak uang yang bisa kukumpulkan hanya dengan menjual informasi kepada pihak Scotland Yard."
Kesunyian kembali menggantung di udara sebelum Naruto kembali berbicara. "Aku hampir saja menyelesaikan pekerjaan jika saja orang-orang itu tidak tahu bahwa aku bekerja untuk Yard. Salah satu dari mereka sempat memergokiku berbicara dengan salah satu detektif kepolisian. Dan ketika aku datang malam itu, mereka langsung berniat untuk menghabisiku."
Tanpa sadar, Sasuke mencengkeram kenop pintu dengan keras. "Mengumpulkan uang?" desisnya. "Kau melakukan pekerjaan berbahaya itu untuk mengumpulkan uang? Untuk apa?"
"Untuk tabungan setelah aku keluar dari panti asuhan?" Naruto terdengar tidak yakin. "Saat kita berumur tujuh belas tahun, kita harus keluar dari tempat itu, bukan? Aku hanya ingin saat keluar, paling tidak aku mempunyai sebuah tempat tinggal. Dan lagi... aku ingin kau tinggal bersamaku nanti."
Sasuke hampir saja tidak memercayai pendengarannya karena Naruto mengatakan kalimat terakhir dengan suara menyerupai bisikan. Saat membalikkan tubuh, ia mendapati Naruto memalingkan wajah dengan cepat. Tapi ia tidak buta untuk tidak bisa melihat bagaimana telinga si pirang sedikit memerah.
"You're an idiot, Uzumaki," desah Sasuke sembari kembali mendekati tempat tidur Naruto. Derit dari tempat tidur besi saat dirinya mendudukkan diri di pinggir ranjang berhasil membuat Naruto mengalihkan perhatian kembali kepadanya. Sasuke tidak tahu mengapa wajah Naruto merona merah setelah mengatakan kalimat konyol itu. "Sungguh sangat bodoh."
"OI! Berhenti mengataiku bodoh dan idiot, Bastard!"
"Hn."
"Che. Teme."
Chapter 10 — Reverberation
NPA Building — Sector 9, 09:23.
Hatake Kakashi tidak bisa mengekspresikan apa yang dilihatnya sekarang selain dengan decak kagum. Senyum terukir dari balik masker yang menutupi wajahnya melihat ruangan besar berteknologi canggih di tempat itu. Apa yang dilihatnya sekarang hampir menyerupai gedung pertahanan Amerika Serikat di Pentagon. Hanya tentu saja dalam skala yang lebih kecil.
"... Kulihat kau memang tidak main-main untuk kembali mengaktifkan divisi ini, Asuma," Kakashi berkata kepada laki-laki yang berdiri di sampingnya; tampak tidak mengacuhkan aktivitas yang tengah berlangsung di lantai dasar tempat itu. Sepasang irisnya yang berlainan mengamati sosok Hyuuga Neji yang sedang berdiri di depan sebuah layar LCD yang terpasang di dinding. Laki-laki itu terdengar meneriakkan sesuatu kepada salah satu petugas polisi yang berada di belakang sebuah komputer.
Asuma mendecakkan lidah sembari menyulut sebatang rokok. Menghembuskan asap putih setelah tarikan napas panjang. "Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengoptimalkan anak buahku, Kakashi? Sudah waktunya menghentikan apa yang terjadi di negara ini, kau tahu? Sebelum semuanya semakin berlarut dan menjadi benang kusut yang tidak akan bisa diurai lagi."
"Kau benar." Kakashi mengangguk setuju, menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan pandangan yang masih terpaku pada ruangan di mana Sektor 9 berada. Kakashi mau tidak mau mengacungkan ibu jarinya kepada sang Komisaris yang bisa membentuk divisi ini dalam waktu yang singkat.
Selama bergelut dengan pekerjaannya sebagai seorang FBI, Kakashi sempat mendengar bahwa Kepolisian Jepang pernah membentuk satuan khusus yang bertugas untuk melakukan penyelidikan dan operasi yang berkaitan dengan organisasi teroris atau organisasi gelap di negara ini. Hanya saja, satuan khusus itu segera ditutup dan bahkan dibubarkan setelah anggota-anggotanya satu per satu menghilang sebelum ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Belum lagi, divisi itu dikatakan tidak melakukan tugas dengan baik. Banyak isu yang mengatakan bahwa di Sektor 9 yang dulu pernah terbentuk ada penyusup yang membocorkan rahasia ke pihak luar.
"Bagaimana keadaan anak itu?"
Kerutan muncul di dahi Kakashi mendengar Asuma menanyakan sesuatu kepadanya. Ditatapnya laki-laki di sampingnya selama beberapa saat; mengisyaratkan kepada sang Komisaris tersebut bahwa ia tidak mengerti apa yang ditanyakan kepadanya.
Asuma mendengus pelan dan kembali menghisap batang rokok di tangan. "Kau tahu sekali apa maksud dari pertanyaanku, Hatake Kakashi," Asuma berbisik tanpa memandang ke arahnya. "Apa yang dilakukan Naruto sekarang?"
"He's dead, Asuma."
Sang Komisaris Kepolisian Jepang itu menyunggingkan senyum sinis kepada Kakashi. "Dan kauharap aku akan memercayai apa yang kaukatakan? Aku adalah satu-satunya orang yang tidak akan dengan mudah memercayai bahwa bocah itu sudah mati, Kakashi? Mati tertembak? Apa tidak ada alasan yang lebih baik dari itu?"
Kakashi tidak mengatakan apapun. Kedua irisnya teredar ke sekeliling. Ia tahu bahwa tidak ada kamera yang terpasang di ruangan di mana dirinya dan Asuma berada.
"Dia masih hidup, bukan?" Asuma kembali berbicara. "Aku tahu bahwa insiden yang menimpa bocah itu pastilah rekayasa kalian. Bocah yang kukenal selama ini bukanlah orang yang dengan mudah mati karena terkena tembakan, kau tahu? Jangan lupa bahwa akulah yang mengajarkan bocah itu menembak, bertarung dan bahkan menyusup sebelum dia bergabung dengan FBI. Uzumaki Naruto yang kukenal tidak akan bisa dilenyapkan begitu saja."
Kakashi tidak mengeluarkan komentar apapun. Ia hanya sedikit orang selain Asuma yang mengetahui latar belakang Naruto. Ia jugalah orang pertama yang melihat potensi Naruto ketika mendaftarkan diri sebagai salah satu agen federal.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja." Lewat sudut matanya, Kakashi mengerling sosok laki-laki di sampingnya. "Bagaimanapun juga, aku mempunyai janji kepada seseorang bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada anak itu."
"Kupastikan bahwa dia akan baik-baik saja."
Asuma menyunggingkan senyum samar, mematikan puntung rokok pada sebuah asbak di atas meja. Kakashi baru saja ingin mengeluarkan buku kesayangannya dari balik mantel sebelum mendengar telepon genggamnya bergetar. Keningnya berkerut melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Sakura?"
Dari seberang telepon, Kakashi menyadari jika nada suara anak buahnya terdengar sedikit panik dengan napas yang memburu. Berkali-kali, ia harus kembali menanyakan apa yang dikatakan Sakura karena suara wanita itu terdengar terputu-putus. Hanya penggalan-penggalan tidak masuk akal yang ditangkapnya dari pembicaraan dengan wanita itu.
"Di mana kau? Apa yang kau—Yilan!? Sakura—"
Wanita berambut merah jambu itu sudah terlebih dahulu memotong apa yang ingin ia katakan; membuat Kakashi memilih untuk diam. Kedua pupilnya melebar mendengar apa yang dikatakan Sakura. Bagaimana mungkin wanita itu tidak mengindahkan apa yang dikatakannya dan lebih memilih untuk pergi ke Taiwan dibandingkan kembali ke Amerika Serikat?
"Apa yang kaulakukan sekarang?" Kakashi berbicara dan kemudian menghela napas panjang ketika Sakura mengatakan bahwa wanita itu akan kembali ke Jepang. Kakashi tidak mengatakan apapun mengenai keputusan sepihak wanita itu. Segera menutup sambungan telepon setelah tidak lagi mendengar suara Sakura. Pria dengan iris berlainan itu menyadari jika di saat yang sama, Asuma juga tengah menerima panggilan telepon; berbicara dengan suara pelan dari sudut ruangan sebelum menyadari keberadaannya.
"Kita baru saja menemukan di mana posisi Hidan," sang Komisaris itu berkata dengan senyum kemenangan tersungging di wajah. "Apa kau mau ikut bergabung? Perjalanan menuju Osaka bukanlah perjalanan yang singkat kurasa."
Dan Kakashi hanya menjawab tawaran laki-laki itu dengan tawa pelan; tidak menyadari bahwa telepon yang diterimanya barusan mungkin adalah telepon terakhir dari Sakura.
Osaka, 10:43.
Kapal berukuran sedang itu perlahan merapat di sebuah dermaga. Terlihat seperti kapal-kapal yang ditambatkan di tempat itu jika saja sosok Yakushi Kabuto tidak berdiri di ujung dermaga dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Senyum culas terukir di wajahnya setelah melihat sosok Hidan yang perlahan keluar dari kabin kapal.
"Orochimaru-sama sudah menunggumu," Kabuto berkata sembari membungkuk hormat. Berusaha tidak memedulikan gumaman penuh ejekan yang dilontarkan Hidan kepadanya. Ia hanya menyunggingkan senyum palsunya kepada pria itu. "Orochimaru-sama juga sudah menunggu kalian, Sasuke-kun, Kurama-san."
Tidak ada tanggapan dari kedua orang itu dan Kabuto tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Dengan isyarat tangan, dua buah mobil hitam segera bergerak mendekatinya; menyuruh ketiga tamunya untuk memasuki mobil tersebut. Kabuto sempat mencuri pandang ke arah mobil yang dimasuki oleh Sasuke dan Kurama Kyuubi sebelum memasuki mobilnya sendiri.
Perjalanan menuju tempat kediaman tuannya tidaklah terlalu lama. Hanya perlu tiga puluh lima menit melintasi jalan tol sebelum sampai di kawasan perumahan elit tidak jauh dari istana Osaka.
Hanya saja, walau sudah berulang kali melintas jalan yang sama, baru kali ini Kabuto merasa ada yang aneh. Tidak tahu mengapa, alam bawah sadarnya seperti mengatakan ada sesuatu yang salah. Dalam diam, ia mencuri pandang ke arah Hidan. Dilihatnya laki-laki itu sibuk melihat pemandangan di luar jendela mobil.
Kabuto mengenal siapa Hidan dan Kakuzu. Kedua laki-laki itu adalah salah satu rekan kerja Orochimaru. Jika saja Hidan dan Kakuzu bukanlah orang yang penting dalam organisasi mereka, tuannya pasti tidak mau repot-repot untuk membebaskan kedua orang itu. Cukup disayangkan sekali bahwa Kakuzu tidak selamat ketika ditangkap oleh pihak Kepolisian Jepang.
"Bos?"
Kabuto mengalihkan perhatian kepada sosok pria yang mengemudikan mobilnya. Ia menaikkan sebelah alisnya ketika pria bertubuh besar itu mengatakan ada yang mengikuti mereka. Kabuto juga tidak luput menyadari bahwa Hidan terlihat bergerak gelisah di sampingnya. Ingin memastikan apa yang dikatakan anak buahnya, Kabuto melirik ke arah belakang mobil. Ia mendecakkan lidah melihat dua buah mobil box berwarna hitam sekarang mengapit mobilnya. Pria berambut putih itu mencengkeram dengan erat pinggiran tempat duduk setelah mobil yang ditumpanginya dipaksa untuk menepi. Dengan cepat, ia meraih revolver miliknya. Ingin menembak orang-orang yang ada di dalam mobil itu sebelum telinganya menangkap suara pelatuk yang ditarik.
"Hidan," Kabuto mendesis melihat laki-laki di sampingnya menodongkan pistol ke arahnya. Kabuto tahu bahwa ia tidak akan menang melawan laki-laki itu. Seorang dokter pribadi tidak bisa disejajarkan dengan pembunuh bayaran, bukan?
"Sorry, tapi pihak kepolisian memberikanku tawaran yang lebih baik dari apa yang diberikan Orochimaru," Hidan berkata dengan seringai di wajah. "Kuharap kau tidak akan mendendam padaku, hmm?"
Dan Kabuto hanya bisa diam dengan ujung pistol menempel pada kepalanya melihat pasukan berseragam dan bersenjata lengkap mengelilingi mobilnya, memborgol kedua tangannya sebelum memasukkannya dengan paksa ke dalam mobil box. Dari percakapan di sekitarnya, ia tahu bahwa polisi-polisi itu juga tengah menyerang kediaman tuannya. Hanya saja, Orochimaru tidak berada di sana. Tuannya sudah terlebih dahulu melarikan diri sebelum polisi berhasil mencapai pintu kediaman rumah pria itu.
Di dalam mobil, Kabuto tidak mengatakan apapun. Hanya diam dengan senyum lebar tersungging di wajah. Ia tahu selama Orochimaru belum tertangkap, semuanya belum berakhir.
Osaka, 10:43.
Naruto menyadari ada sesuatu yang tengah terjadi hanya dengan melihat ada dua mobil box yang berada di belakang mobil yang ditumpangi Hidan dan Kabuto. Sempat melirik ke arah Sasuke, ia tahu bahwa pemuda di sampingnya juga menyadari hal yang sama. Tanpa terdengar panik, Sasuke memerintahkan Juugo—orang yang berada di belakang kursi kemudi—mempercepat laju kendaraan. Di saat yang sama, Naruto mendengar dengungan suara helikopter di atas mereka.
Ia tidak bisa mencegah diri untuk tidak mengumpat melihat bahwa helikopter itu adalah helikopter milik Kepolisian Jepang.
"Apa yang terjadi?" Juugo bertanya, masih melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Berulang kali berusaha untuk menyalip kendaraan yang ada di jalan tol. "Kita diserang?"
"Sepertinya begitu," Naruto menjawab. Kedua iris merahnya tidak lepas mengamati helikopter yang terbang di atasnya. Di belakangnya, mobil yang ditumpangi Kabuto dan Hidan sudah diapit oleh dua mobil box sebelum mobil sedan hitam itu dipaksa untuk menepi. Naruto bisa melihat pasukan kepolisian keluar dari mobil box, menodongkan moncong senapan ke arah mobil. Terlihat pula sosok Hyuuga Neji keluar dari salah satu mobil kepolisian bersama... Asuma!?
"Damn it!" Naruto mencengkeram pistol di tangannya dengan erat. "Hei, bisakah kau mempercepat benda itu?"
Naruto merasakan laju kendaraan semakin meninggi. Sementara itu, helikopter yang terbang di atas mobil masih mengikuti mereka. Pemuda berambut merah itu mendengar Sasuke membisikkan sesuatu kepada Juugo sembari menunjuk ke arah layar GPS. Terlihat Juugo menganggukkan kepala sebelum melajukan mobil ke arah sebuah terowongan.
Sang agen FBI itu tidak membantah ketika Juugo menghentikan mobil di pinggir jalan dan menyuruhnya untuk keluar, menghentikan sebuah taksi dan memintanya serta Sasuke untuk masuk ke dalam.
"Apa yang akan dilakukannya?" Naruto tidak mencegah dirinya untuk bertanya—dengan suara bisikan—setelah melihat Juugo yang kembali memasuki mobil dan melajukan benda itu keluar dari terowongan. Ia sempat mendengar Sasuke mengatakan kepada supir taksi untuk membawa mereka menuju bandara. "Apa dia sudah gila!? Polisi-polisi itu bisa menangkapnya, kau tahu?"
"Hn."
Naruto memutar bosan kedua matanya namun tidak mengatakan apapun. Ia sudah cukup lelah dengan perjalanan dari Kanto menuju Osaka. Otaknya bahkan seolah-olah tidak mampu untuk memikirkan hal lain selain beristirahat dan tidur. Naruto memaksakan diri untuk menegakkan tubuh saat mendengar Sasuke tengah berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Apapun yang tengah dibicarakan Sasuke, Naruto tidak begitu peduli.
"Kita tidak bisa kembali ke tempat Orochimaru," Sasuke berkata setelah menyelesaikan percakapan dengan seseorang di telepon. Kedua iris merahnya menatap sosok pemuda berkulit pucat itu. "Polisi baru saja mendatangi rumah Orochimaru untuk menangkap pria itu."
"Apa mereka berhasil?" Naruto segera mengumpat dalam hati saat menyadari bahwa nada suaranya terdengar sedikit antusias sehingga membuat Sasuke menyipitkan kedua mata. "W—Well?"
"Tidak. Orochimaru sudah melarikan diri terlebih dahulu."
Well, that's bad. Naruto tidak menyuarakan apa yang ingin dikatakannya. Dalam diam mencuri pandang ke arah pemuda berkulit pucat itu. Terlihat jelas Sasuke tengah memikirkan sesuatu. Naruto hanya berharap jika Sasuke tidak sedang memikirkan untuk mencari Orochimaru dan bergabung kembali dengan pria itu. Tidak. Sudah cukup apa yang dilihatnya selama ini.
Selama perjalanan, Naruto menyadari jika Sasuke tidak berniat untuk mencoba berbicara dengannya; membuatnya lebih tertarik melihat pemandangan di luar jendela mobil. Perjalanan tanpa percakapan seperti ini membuat Naruto dengan cepat merasa mengantuk. Ia bahkan tidak sadar bahwa kelopak matanya perlahan terpejam sebelum pada akhirnya, ia menyerahkan diri kepada kantuk yang menyerangnya. Tidak menyadari bahwa tubuhnya bergerak secara refleks ke arah kehangatan dari tubuh Sasuke. Ia bahkan tidak menyadari bahwa saat ini kepalanya tertopang pada bahu kanan pemuda berambut raven di sampingnya. Ia juga tidak bisa melihat bagaimana kedua pupil Sasuke sempat melebar namun pada akhirnya memilih untuk tidak mengatakan apapun; hanya memandang jauh ke arah luar jendela.
Yilan, Taiwan, 15:56.
Sakura benci bermain kucing-kucingan. Ia sangat benci apalagi jika dirinyalah yang menjadi tikus—sang korban. Betapa dirinya ingin merubah posisinya sekarang. Namun ia tahu jika peluang tersebut sangatlah kecil. Lawannya saat ini adalah tiga pria dengan senjata lengkap yang akan segera menembaknya tanpa peduli bahwa ia akan berguna atau tidak. Belum lagi, posisinya sekarang yang harus melindungi Hyuuga Hinata membuat keadaan semakin sulit.
"H—Haruno-san? Apa—"
Wanita berambut merah jambu itu segera menempelkan jari telunjuknya ke bibir gadis berambut indigo di sampingnya. Segera menarik tubuh gadis itu untuk menunduk. Sakura bisa merasakan cengkeraman keras jemari tangan Hinata pada bagian depan pakaian yang ia kenakan.
"Kita harus pergi dari tempat ini," Sakura berbisik sembari mengedarkan pandangan ke sekitar gudang tua di sebuah desa di daerah pedalaman provinsi Yilan. Tetap menyiagakan Glock 17 miliknya walau mendengar suara sepelan apapun. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan diserang ketika dalam perjalanan meninggalkan panti asuhan. Sang agen federal itu mencoba tidak mengingat bagaimana orang-orang itu berhasil menembak kepala supir yang mengantarnya ke tempat itu; membuatnya berakhir di tempat asing seperti sekarang.
Sakura menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Sempat memejamkan matanya beberapa detik. Diletakkannya Glock 17 miliknya di atas tanah, membuka mantel tebal yang dipakainya. Ia tidak mengacuhkan tatapan bingung yang diperlihatkan Hinata ketika membuang mantelnya ke sembarang tempat; segera memperlihatkan jaket anti peluru yang tersembunyi di balik mantel, menutupi satu-satunya kaos tipis yang dipakainya.
"Pakailah," bisik Sakura, menyodorkan jaket tersebut kepada Hinata. "Kau lebih membutuhkannya."
"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?"
Senyum menenangkan tersungging di wajah cantik wanita itu. "Aku akan baik-baik saja," ujarnya. Disodorkannya pula sebuah ponsel kepada Hinata. "Aku ingin kau bersembunyi di tempat ini sementara aku akan membuat mereka menjauh. Begitu aman, kembali ke dalam mobil dan pergi dari tempat ini. Segera terbang ke Jepang dan bawa ponsel ini kepada laki-laki bernama Hatake Kakashi. Dia ada di tempat di mana sepupumu bekerja. Apa kau mengerti?"
Dengan tubuh gemetar, Hyuuga Hinata menganggukkan kepala.
Tidak ingin membuang waktu, Sakura kembali menyiagakan senjata miliknya setelah mendengar suara percakapan seseorang. Diraihnya sebuah kain usang yang penuh dengan jerami untuk menutupi tubuh Hinata sebelum ia meninggalkan gadis itu. Sakura berhasil mencapai bagian luar dari gudang sebelum mendengar teriakan dari salah satu pengejarnya.
Sakura mengumpat pelan dan mulai berlari menjauh, mencoba menembak para pengejarnya. Ia tersenyum tipis menyadari salah satu peluru yang ia tembakkan berhasil mengenai kaki seorang pria bertubuh kurus. Pria asing itu segera berjalan terseok-seok sambil mengarahkan tembakan ke arahnya. Dengan cepat, Sakura bersembunyi di balik batang pohon terdekat.
Mungkin ini adalah sebuah misi bunuh diri. Sakura meringis atas pemikiran itu. Mungkin keputusannya dengan datang ke tempat ini seorang diri adalah keputusan yang salah. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menyesali hal itu. Jika dirinya tidak bisa kembali ke tempat Kakashi hidup-hidup, setidaknya ia berhasil memberikan sedikit informasi kepada pria itu. Ia hanya berharap jika Hinata berhasil keluar dari tempat persembunyian sebelum orang-orang yang menyerangnya menemukan gadis itu.
Suara tembakan yang mengenai batang pohon berhasil membuat Sakura kembali kepada kenyataan. Ia kembali pengumpat menyadari bahwa magasin-nya sudah hampir kosong.
Baku tembak kembali terjadi. Sakura tahu bahwa kesempatannya untuk keluar dari situasi ini sangat kecil terlebih jika dirinya akan kehabisan peluru sebentar lagi. Tidak jauh darinya, penyerangnya masih berusaha menembak; membuatnya meringkuk di balik batang pohon untuk melindungi tubuh dan kepalanya. Sakura hampir menyangka jika penyerangnya sudah kehabisan peluru jika dirinya tidak merasakan sensasi dingin pada tengkuknya.
Sejak kapan mereka berhasil mendekat tanpa ia menyadari keberadaan salah satu dari mereka?
"Drop your gun, Sakura-chan. Aku tidak akan berpikir untuk menang jika melihat bagaimana posisiku sekarang."
Tubuhnya seolah-olah disiram air es begitu ia mengenali suara di belakangnya. Ia hanya bisa menuruti perintah dari sosok itu; melemparkan pistolnya di atas tumpukan daun-daun yang berguguran. Sakura mendesis saat ujung pistol yang dingin menekan tengkuknya dengan keras. Ia tidak punya kesempatan untuk melihat sosok yang berdiri di belakangnya, menodongkan pistol padanya.
"Aku tidak pernah menduga bahwa kau adalah seorang pengkhianat, Sai."
Tanpa melihat pun, Sakura bisa merasakan senyum tersungging di wajah pucat itu. Kedua iris hijaunya berkilat marah setiap kali mengingat kenyataan yang tidak pernah diketahuinya selama ini. Sampai sekarang pun Sakura masih tidak mengerti mengapa Sai menjadi pengkhianat. Pemuda berkulit pucat itu sudah seperti saudara baginya. Sudah seperti adik yang akan dilindunginya dengan cara apapun. Mungkin Sai tidak tahu, tapi Sakura seolah-olah kehilangan salah satu anggota keluarganya karena menduga rekan kerjanya tewas dalam ledakan yang terjadi.
Sakura menggeram ketika merasakan tubuhnya terdorong; membuatnya berlutut di atas permukaan tanah sebelum kedua tangannya diikat dengan borgol di belakang tubuhnya.
Samar, Sakura bisa mendengar Sai menghela napas. "Aku tahu. Tidak ada yang pernah menduga bahwa seorang mantan hacker sepertiku bisa bekerja untuk seorang Shimura Danzō. Tapi bukankah penyamaranku tidak akan berhasil jika ada yang tahu kenyataan itu, bukan?"
"Tentu. Menipu semua orang dengan senyum palsumu itu ternyata cukup berguna, kurasa. Bahkan kami pun tertipu. Aku ingin tahu berapa banyak topeng yang kaupunya, Lee Tsai?"
"Cukup banyak sampai kaupun tidak tahu yang mana diriku yang sebenarnya, Sakura-chan."
Sakura mendesis marah. Ia ingin membalas kata-kata Sai sebelum merasakan dinginnya ujung pistol di tengkuknya.
"Kurasa sudah cukup bagimu untuk berbicara, Sakura-chan," bisik Sai di telinganya. Sakura sungguh ingin segera menyingkirkan tangan Sai yang mulai membelai rambutnya. "Kau tahu, kau seharusnya tidak membantah saat Kakashi menyuruhmu untuk kembali ke Amerika, Sakura-chan. Mungkin dengan begitu kau masih bisa menghadiri uparaca pernikahanmu nanti. Kudengar dari Naruto, kau bahkan sudah menyiapkan gaun pengantin. Tidakkah akan sia-sia jika Kakashi berdiri di depan altar tanpa mempelai wanitanya?"
End of Chapter 10 — Reverberation
Terima kasih atas reviewnya untuk Rin Miharu-Uzu, Azusa TheBadGirl, rura, Namikaze lin-chan, AnindyaCahya, Artemisaish,Gunchan CacuNalu Polepel dan uzumaki wulan.
Sorry for the delay, Pals! Review, okay? Just write what you think in the review box because this story isn's going to update by itself, ne? ;) Saya akan update lagi setelah review untuk fanfiksi ini mencapai 96. Ja~! #kabur
