Oke, abaikan author'r note saya kemarin. Hari ini saya update~! No rambling, please enjoy! Beware with some OCs and sho-ai, Pals! #nyengir


6 years ago...


Ia tidak pernah sekalipun berkencan dalam hidupnya. Ia bahkan tidak pernah berpikir jika suatu saat nanti akan ada seorang gadis yang akan mengajaknya pergi ke pesta dansa di acara kelulusan. Hell, selama ini hampir kebanyakan waktunya dilakukan untuk bekerja sampingan bersama Asuma atau melakukan sesuatu yang lebih penting. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali dirinya melakukan kejahilan bersama teman-teman panti asuhan. Sungguh, entah sejak kapan seorang Uzumaki Naruto berubah menjadi seorang remaja yang lebih memikirkan masa depan daripada bermain-main.

Naruto tanpa sadar meremas kedua telapak tangannya dengan sedikit cemas. Di sampingnya, Emily—seorang gadis cantik berambut cokelat kemerahan dengan kedua mata cokelatnya yang besar—tersenyum ke arahnya. Gadis itu segera mengalungkan tangan pada lengannya, menuntunnya memasuki aula sekolah yang sudah disulap menjadi tempat berlangsungnya pesta. Di sekitarnya terdengar alunan musik yang mengiringi setiap gerakan pasangan-pasangan yang menari di lantai dansa. Dalam waktu yang singkat, Naruto sudah menyadari jika dirinya tengah berdiri di lantai dansa dengan kedua lengan Emily terkalung di lehernya.

Ia tidak pernah memikirkan untuk datang ke pesta kelulusan malam ini. Mungkin lebih baik jika ia tidak datang sama sekali. Lagi pula, pesta bukanlah sesuatu yang suka dihadirinya, bukan? Oke, tidak sepenuhnya benar. Terkadang, ia memang pernah datang ke pesta yang diadakan teman-temannya. Hanya saja, pesta itu adalah pesta para remaja di mana kau akan menemukan alkohol dan gadis-gadis berpakaian minim. Bukan pesta formal di mana dirinya harus mengenakan tuxedo dan bersikap seperti seorang pemuda sopan.

Lalu apa yang membuatnya mau menerima ajakan Emily?

Oh, Naruto tentu saja ingat alasan itu; membuatnya segera mengedarkan pandangan ke sekeliling penjuru aula sekolah. Pandangannya segera mengeras ketika menemukan sosok pemuda berambut raven yang berdiri dengan tubuh bersandar pada salah satu pilar di belakang Emily. Di samping sosok itu, ia bisa melihat seorang gadis bergelayut manja di lengan pemuda berkulit pucat tersebut.

Naruto sungguh tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia tidak tahu mengapa ada perasaan tidak nyaman setelah mendengar jika Sasuke akan datang ke pesta kelulusan dengan seorang gadis yang segera membuatnya mengiyakan begitu saja tawaran Emily untuk datang ke tempat ini.

Ia tidak berubah menjadi seorang penguntit yang selalu mengikuti ke manapun Sasuke pergi, bukan?

Ya, 'kan?

Si pirang menggeram pelan. Bukan karena tidak suka atas pemikiran itu. Ia merasa tidak suka ketika teman kencan Sasuke, seorang gadis dari klub cheerleader sekolah, menyeret pemuda itu ke lantai dansa—mendekat ke arahnya. Naruto bisa melihat ekspresi datar di wajah pucat itu sedikit berubah menjadi terkejut saat pandangan mereka bertemu. Tapi Sasuke dengan cepat mengalihkan perhatian ke arah lain; mencoba untuk tidak menatapnya selama berada di lantai dansa.

Sisa malam itu, Naruto menghabiskan waktunya bersama Emily sebelum memutuskan untuk menyingkirkan diri, menyandarkan diri di dinding di luar aula dengan segelas punch di tangan. Kedua matanya tidak pernah berhenti mengamati sosok Sasuke yang berdansa tidak jauh darinya. Mengerutkan kening ketika sekali lagi merasakan sensasi aneh pada perutnya begitu melihat bagaimana gadis cheerleader itu membisikkan sesuatu di telinga Sasuke.

Naruto berusaha mengabaikan sensasi aneh itu dengan meneguk kembali minuman di tangannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kecil begitu melihat bagaimana Sasuke dengan tiba-tiba saja mencoba melepaskan diri dari gadis cheerleader itu sebelum berjalan ke arahnya.

"... Bosan dengan kencanmu, Sasuke?" Naruto menyeringai dan mendapati geraman pelan dari pemuda di sampingnya. "Well?"

"Shut up, Moron."

Naruto tertawa pelan, meneguk kembali minumannya. Kepalanya terasa sedikit pusing namun ia berusaha tidak mengacuhkan hal itu. Beberapa kali ia bahkan merasakan sekelilingnya berputar. Tapi ia yakin dirinya tidak sedang mabuk. Beberapa gelas punch tidak akan membuatnya mabuk dan melakukan sesuatu yang konyol. Dalam diam, sudut matanya melirik ke arah Sasuke. Sempat tertegun sejenak ketika mendapati bagaimana kedua oniks pemuda itu tengah mengamatinya.

"A—Apa yang kaulihat?" Naruto bertanya namun dalam hati merutuk karena tidak tahu mengapa tiba-tiba saja suaranya terdengar terbata.

Sasuke menggelengkan kepala. Naruto bisa merasakan jika panas segera merambat menuju wajahnya ketika dengan perlahan Sasuke mendekatinya sebelum menempelkan telapak tangan pada kedua pipinya. Naruto tertegun. Gelas plastik di tangannya terbaikan begitu saja sehingga terjatuh ke lantai sementara kedua matanya tidak bisa lepas dari wajah pucat sosok di hadapannya.

"Kau mabuk."

"H—Huh?"

Terdengar Sasuke menghela napas. "Kau mabuk, Uzumaki," kata Sasuke yang dengan perlahan menarik kembali kedua tangan dari pipinya. "Aku bisa melihat kau bahkan tidak bisa berdiri dengan baik. Kurasa kita sebaiknya kembali. Aku tidak mau sampai harus menggendongmu kembali."

Tapi Naruto tidak ingin kembali. Ia tidak ingin kembali ke panti asuhan dan tidur di kamarnya seorang diri. Naruto tidak suka jika harus memikirkan bahwa hari ini adalah hari kelulusannya dan itu berarti jika sebentar lagi ia harus segera keluar dari tempat itu, menjalani kehidupannya sendiri dan berpisah dengan Sasuke.

Tidak. Naruto tidak suka akan pemikiran tersebut. Dengan cepat diraihnya pergelangan tangan pemuda di hadapannya, menarik tubuh Sasuke mendekat sebelum menekan tubuh pemuda itu pada dinding terdekat. Naruto bahkan bisa merasakan hembusan napas Sasuke menerpa wajahnya karena jarak mereka yang sangat dekat. Sasuke tidak mengatakan apapun. Pemuda itu hanya diam dan memandangnya dengan ekspresi wajah datar. Tidak ada ekspresi panik atau terkejut ketika kedua matanya beralih dari sepasang kilau oniks itu menuju bibir merah Sasuke.

Dan sebelum Naruto menyadari apa yang dilakukannya, ia mendekatkan wajah ke arah Sasuke, menempelkan bibirnya pada bibir pemuda itu; menuai sentakan pelan dari tubuh di hadapannya.

Saat itu juga Naruto segera menyalahkan alkohol yang ada di dalam tubuhnya.


Chapter 11 — Recognition


Ikebukuro, 21:45.

Naruto serta merta segera meraih revolver yang terselip di punggungnya setelah merasakan guncangan pada tubuhnya. Selama beberapa saat mencoba memfokuskan perhatian untuk bersiaga jika dirinya tengah berada di dalam situasi yang buruk. Namun pada akhirnya, terdengar erangan meluncur dari bibir sang Uzumaki ketika menyadari keberadaan Sasuke di sampingnya. Sepasang oniks itu menatapnya tajam; membuatnya kembali menyelipkan revolver pada tempatnya.

"Wha—" Suaranya terdengar berat dan parau. Ia menyadari jika saat ini dirinya tengah berada dalam posisi yang aneh dengan kepala yang terantuk pada sandaran tempat duduk dan tubuh yang sedikit ditekuk dan menempel pada pintu besi. Segera saja ia tersadar di mana dirinya berada.

Ah ya, sekarang ini dirinya tengah berada di dalam sebuah taksi yang entah menuju ke mana. Di sampingnya, Naruto bisa mendengar Sasuke melakukan percakapan dengan sopir taksi sebelum pemuda berkulit putih itu menyuruhnya untuk keluar dari mobil. Naruto sedikit menyipitkan kedua matanya ketika cahaya lampu di pinggir jalan tepat menerpa wajahnya. Dengan segera, ia mengenali tempat di mana dirinya berada.

Ikebukuro...

Tapi apa yang dilakukan Sasuke di tempat ini?

Naruto segera mengetahui jawaban itu ketika Sasuke yang berjalan beberapa langkah di depannya memasuki sebuah pub suram dan sepi yang dikenalinya adalah tempat di mana Akimichi Chōji berada. Sepanjang perjalanan, Sasuke tidak mengatakan apapun kepadanya. Pemuda berkulit pucat itu hanya sesekali mengintip dari balik bahu untuk sekadar memastikan apakah dirinya masih mengikuti sosok itu atau tidak. Naruto tidak bisa mencegah untuk tidak memutar kedua matanya.

Sang petugas federal itu segera merasakan ada sesuatu yang salah ketika menginjakkan kakinya di pub milik Chōji. Bukan hanya karena keadaan pub yang terlihat lebih sepi dari biasanya di mana saat ini ia tidak menemukan seorang pengunjung pun di sana, tapi karena laki-laki yang biasanya bertugas di tempat itu tidak terlihat sama sekali.

Pub itu terlalu tenang sehingga membuatnya tidak nyaman atas keadaan seperti ini.

"... Hei, Uchiha," panggil Naruto kepada rekannya yang mulai berjalan menaiki tangga di sudut ruangan. Pemuda berkulit pucat itu tidak mengatakan apapun dan hanya menaikkan sebelah alir; menunggunya untuk mengatakan sesuatu. "Tidakkah kau merasa ada yang aneh, huh?"

"Apa maksudmu?"

Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya sembari mengerling ke arah pintu kayu di ujung anak tangga teratas. "Aku juga tidak tahu, hanya saja aku merasa tempat ini jauh lebih tenang dari biasanya. Tidakkah kau berpikir bahwa—"

BANG! BANG!

Naruto segera merasakan darah seperti meninggalkan wajahnya saat mendengar suara tembakan yang menggema di tempat itu. Kedua matanya melebar sempurna menyadari bahwa suara tersebut berasal dari balik pintu yang berada di ujung anak tangga teratas yang ingin dinaikinya. Sembari mengumpat pelan dan tidak mengacuhkan teriakan Sasuke yang menyuruhnya untuk ke sana, Naruto segera menaiki dua anak tangga sekaligus sebelum membuka pintu di hadapannya.

Napasnya tercekat di tenggorokan ketika kedua iris merahnya mendapati sosok Akimichi Chōji terbaring di atas lantai dan memegangi bahu kanan. Mata laki-laki itu membelalak. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat darah segar merembes dari serat-serat pakaian yang dikenakan laki-laki bertubuh besar tersebut; tidak yakin bagaimana keadaan sang informan hanya dengan melihat dari jauh seperti ini. Naruto juga menyadari bahwa bukan hanya dirinya dan Chōji yang berada di tempat itu.

Tidak jauh darinya, di ambang jendela yang terbuka, ia menemukan keberadaan sosok berambut pirang panjang yang terlihat ingin melarikan diri dengan melompat dari jendela tempat itu. Seperti menyadari keberadaannya di tempat itu, sosok pirang tersebut mengurungkan diri untuk melompat dari jendela, membalikkan tubuh dan menatapnya dengan sepasang iris birunya.

Naruto tidak pernah bertemu laki-laki itu sebelum ini. Namun hanya dengan melihat pistol semi otomatis yang ada di tangan laki-laki tersebut, ia tahu sosok itu bukanlah orang sembarangan. Orang awam yang baru saja menembak seseorang tidak akan memiliki ekspresi wajah tenang dan santai seperti itu.

"Ah, kau pasti Kurama Kyuubi, un!"

Naruto tidak memberikan tanggapan apapun. Masih dengan revolver yang teracung ke arah laki-laki asing itu, ia berjalan mendekati Chōji dan menempelkan jari tangannya yang bebas ke leher sang informan. Kedua pupilnya melebar setelah menyadari tidak ada denyut nadi di tubuh Chōji. Tubuh itu masih terasa hangat. Darah segar pun masih mengalir dengan deras dari luka tembak di dada dan bahu sang informan.

"Mengapa kau membunuhnya?" Naruto bertanya dan mencoba untuk tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi di hadapannya. Di dekat pintu masuk, ia mendapati Sasuke berdiri dengan wajah pasif sembari mengacungkan senjata api ke arah laki-laki asing di ruangan tersebut.

Suara tawa dari laki-laki di ambang jendela membuat Naruto mengalihkan perhatian dari tubuh tak bernyawa Chōji. Pandangannya mengeras ketika tidak mendapatkan jawaban apapun dari sosok itu; membuatnya menarik pelatuk dan berhasil mengenai sisi kiri dari lengan laki-laki berambut panjang tersebut. Tawa di ruangan itu otomatis mereda. Sepasang iris biru menatapnya dengan nyalang sebelum laki-laki asing tersebut mengarahkan pistol dan mulai menembakinya.

Naruto dengan cepat berlindung di balik meja kerja Chōji. Ia mengumpat keras menyadari tembakan itu hanyalah pengalih perhatian sementara laki-laki yang menembak Chōji memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri dengan melompat dari jendela sebelum berlari memasuki sebuah mobil hitam yang diparkirkan di ujung gang sempit di samping gedung pub. Hanya dengan sekejap, Naruto sudah kehilangan sosok tersebut.

"Damn in!" serunya sembari memukulkan kepalan tangan pada permukaan tembok sebelum membalikkan tubuh. Ia melihat Sasuke berjongkok di samping tubuh Chōji. Sekali lagi pemuda itu tidak memperlihatkan ekspresi apapun setelah menyadari bahwa sang informan sudah tidak bernyawa.

"Kita harus pergi dari tempat ini," kata Sasuke tanpa melihatnya. Pemuda Uchiha itu menyelipkan senjata di balik setelan jas yang dipakai sebelum mengelilingi ruangan. Naruto segera melayangkan protes ketika pemilik iris hitam itu memeriksa komputer milik Chōji dan mengkopi semua file di komputer tersebut ke dalam sebuah flashdrive.

"Kau tahu bahwa apa yang kaulakukan itu adalah sebuah tindak kriminal, huh?" Tapi Sasuke tidak menanggapi kata-katanya. Pemuda itu hanya meliriknya sekilas sebelum mengantongi flashdrive di saku celananya. "Kau—!"

"Ini bukan saat yang tepat untuk berpikir apa yang kita lakukan adalah tindak kriminal atau tidak, Kurama." Nada suara dingin dari Sasuke segera membuatnya diam. "Baik kau dan aku pernah melakukan tindak kriminal yang lebih berat dibandingkan dengan mencuri file. Sebaiknya jangan membuang waktu di tempat ini jika kau ingin polisi menangkap kita."

Kali ini Naruto tidak membantah. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Sasuke adalah hal yang benar. Saat ini juga, ia yakin polisi sudah bergerak ke tempat ini. Suara tembakan yang terdengar sampai di luar sudah pasti membuat orang-orang yang mendengar suara tembakan itu segera melapor kepada polisi terdekat. Dan jika polisi-polisi itu menemukan keberadaan dirinya dan Sasuke di tempat ini apalagi masing-masing dari mereka membawa senjata api, mereka akan dituduh sebagai tersangka walau sudah pasti mereka tidak ada hubungannya sama sekali.

Mengerling untuk terakhir kalinya ke arah sosok Chōji yang terbaring di atas permukaan lantai yang dingin, Naruto bergegas mengikuti Sasuke yang melompat dari jendela. Si pirang dengan cepat menaikkan jaket hingga menutupi setengah wajahnya sebelum membaur di antara keramaian di Ikebukuro. Tepat lima menit kemudian, beberapa mobil polisi dengan sirine-nya yang meraung membelah jalan Ikebukuro.


Tokyo Metropolitan Police Department [Investigation Division One], 23;34.

Divisi Satu adalah sebuah divisi khusus untuk penyelidikan. Divisi ini bahkan lebih sibuk dibandingkan dengan divisi apapun yang ada di Kepolisian Pusat Tokyo. Sudah sejak lama sekali Yamato tahu akan hal itu. Bahkan ketika ia bergabung dengan Kepolisian Jepang, dirinya tidak pernah menyangka akan ditempatkan di divisi ini apalagi menjabat menjadi seorang inspektur polisi. Bukan karena tidak suka. Tidak. Yamato dengan senang hati ditempatkan di divisi manapun selama ia bisa bekerja di kepolisian. Hanya saja, sudah bukan rahasia lagi jika pekerjaan di Divisi Investigasi ini jauh lebih berat di antara semua divisi lainnya.

"Inspektur Yamato!"

Laki-laki berambut gelap itu mendongakkan kepala dari gelas plastik berisi kopi di tangannya. Ia mencoba untuk tidak melontarkan gerutuan ataupun komentar tidak penting dan hanya menyunggingkan senyum lelah ke arah salah satu detektif kepolisian. Senyum yang tersungging di wajahnya perlahan memudar, digantikan dengan ekspresi serius, ketika mendengar bagaimana anak buahnya melaporkan tindak kriminal kepadanya. Yamato menganggukkan kepala, meneguk kopi di tangannya dengan beberapa kali tegukan sebelum bergegas mengikuti anak buahnya.

Ia tidak tahu mengapa selama beberapa waktu terakhir, tindak kriminal banyak terjadi di Tokyo. Ah, bahkan bukan hanya Tokyo. Osaka, Kyoto dan bahkan Hokkaido tidak ada bedanya. Tindak kejahatan di kota-kota besar di Jepang meningkat selama beberapa bulan terakhir. Ia bahkan harus bekerja ekstra keras untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut.

Belum selesai satu kasus, muncul kasus yang lain. Begitulah keadaannya sekarang.

Sang inspektur polisi itu bergegas keluar dari sebuah mobil polisi sebelum mobil tersebut berhenti sepenuhnya. Kedua manik hitamnya teredar ke sekeliling di mana beberapa petugas polisi tengah memasang garis berwarna kuning di sekeliling gedung sebuah pub tua di Ikebukuro. Ia hanya menganggukkan kepala singkat sebelum melewati garis polisi.

Ruangan yang menjadi tempat kejadian perkara tidak terlihat berantakan. Barang-barang di tempat itu seperti masih berada pada tempatnya. Tidak ada satu pun benda-benda yang hancur atau berserakan di atas lantai. Ia hanya melihat bekas darah dan garis-garis kapur yang membentuk tubuh korban. Beberapa petugas forensik terlihat memeriksa jejak sidik jari ataupun petunjuk-petunjuk yang mungkin tertinggal di tempat itu.

"Akimichi Chōji?" Yamato bertanya lebih kepada dirinya sendiri begitu membaca laporan yang diberikan salah satu anak buahnya. Kedua iris hitamnya membaca baris demi baris laporan sebelum merasakan seseorang menepuk bahu kanannya. Yamato dengan cepat membalikkan tubuh; tidak bisa menyembunyikan keterkejutan saat melihat sosok yang berdiri di belakangnya.

"Yo, Tenzō."

"Kakashi-senpai?"

Hatake Kakashi tersenyum di balik masker yang menutupi wajahnya sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di belakangnya, Hyuuga Neji baru saja berjalan melewati garis polisi.

"Apa yang kaulakukan di sini, Kakashi-senpai?" Yamato bertanya padanya. Sang inspektur polisi itu mengerutkan kening, mengindikasikan bahwa laki-laki di hadapannya sama sekali tidak menyangka akan menemukan dirinya berada di Jepang. "Dan apa yang membuat seorang kepala Departemen Organisasi Kriminal berada di tempat ini?"

"Ah, kami di sini ingin mengambil alih kasus Akimichi Chōji," Kakashi berkata ketika Hyuuga Neji memilih untuk mengamati ruangan sekitar. Di hadapannya, Yamato kembali menatap heran seolah-olah dirinya baru saja mengatakan sesuatu yang mustahil. Kakashi tersenyum samar dan meminta inspektur polisi itu untuk mengikutinya ke sudut ruangan.

"Well," Kakashi memulai. "Apa kau tahu siapa Akimichi Chōji?"

Yamato tampak berpikir selama beberapa saat sebelum memilih memeriksa laporan investigasi yang diberikan kepadanya. "Dia hanya seorang pemilik pub ini, kurasa. Aku tidak mendapat informasi apapun. Setidaknya untuk saat ini."

Kakashi mengangguk singkat. Laki-laki dengan iris berlainan itu mengambil sesuatu dari mantel yang dipakainya dan menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Yamato.

"Akimichi Chōji bukan hanya seorang pemilik pub biasa, Tenzō," Kakashi berkata tanpa memedulikan decak pelan dari laki-laki di hadapannya karena ia masih memanggil sang inspektur polisi dengan codename yang dulu dipakai laki-laki itu. "Dia adalah seorang informan yang sering menjual informasi kepada kriminal-kriminal atau organisasi gelap yang ada di Jepang. Jaringan informasinya bahkan lebih rumit dibandingkan kepolisian. Laki-laki itu bisa tahu peristiwa dan informasi apa saja yang ada di Jepang hanya dengan sekejap mata."

"Dan apa hubungannya denganmu, Kakashi-senpai?" Yamato bertanya. "Bukankah seorang agen FBI sepertimu seharusnya tidak mempunyai wewenang untuk menyelidiki kasus yang ada di Jepang?"

Laki-laki berambut keperakan itu mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan Yamato. "Memang. Hanya saja, sebelum kematiannya, Akimichi Chōji mengirimkan beberapa file langsung ke tempat di mana aku bertugas untuk saat ini. Dan kami menduga bahwa apa yang terjadi pada Akimichi Chōji bukanlah penembakan biasa. Sayangnya aku tidak bisa memberikan informasi apapun mengenai hal itu. Asuma sudah meminta tidak boleh ada informasi yang keluar. Maafkan aku, Tenzō, tapi aku yang akan bertanggung jawab mengenai penyelidikan ini."

Sang inspektur tampak tidak puas. Namun ketika melihat ekspresi dari kedua iris berlainan Kakashi, laki-laki itu hanya menganggukkan kepala dan tidak mengatakan apapun. Yamato tahu bahwa dirinya tidak mempunyai wewenang apapun jika Sarutobi Asuma sendiri yang telah mengeluarkan keputusan.

"Ma~ aku sungguh menyesal tidak bisa memberitahukan apapun untukmu," kata Kakashi dengan senyumnya yang tersembunyi di balik masker. Sang agan FBI itu mendapati Yamato menganggukkan kepala dan mengatakan bahwa bawahan sang inspektur berhasil menemukan jejak pelaku penembakan dari rekaman beberapa kamera pengawas yang terpasang di luar pub; menyuruhnya untuk melihat rekaman tersebut.

Dan ketika Kakashi melihat rekaman tersebut, senyum di wajahnya dengan cepat memudar. Ekspresi wajahnya pasif melihat sosok Kurama Kyuubi yang berjalan memasuki pub mengikuti langkah Uchiha Sasuke yang telah berjalan beberapa langkah lebih dulu.

Kakashi tahu bahwa ia tidak boleh menarik kesimpulan bahwa sang Uchiha bungsu atau Naruto yang telah menembak Akimichi Chōji sampai mati karena tidak ada orang lain yang terlihat memasuki pub selain kedua orang itu. Hanya saja, sepertinya Naruto berada di waktu dan tempat yang salah apalagi setelah tidak ada rekaman yang menunjukkan Naruto keluar dari pub. Dan jika waktu kematian Akimichi Chōji bertepatan dengan waktu ketika Naruto mendatangi tempat ini, bisa dipastikan kedua orang itu akan dijadikan tersangka.

Damn... Kakashi sungguh tidak menyangka mengapa semuanya menjadi serumit ini.

"Perjelas wajah kedua orang yang terakhir memasuki pub dan kirimkan ke markas," Hyuuga Neji memerintahkannya. "Aku ingin mendapatkan informasi mengenai kedua orang itu."

Kakashi hanya menganggukkan singkat sembari mencoba memikirkan cara untuk menghubungi Naruto. Ia perlu berpikir apa yang harus dilakukannya sekarang.


Naruto's apartment, 00;14.

Sepasang iris oniksnya segera teredar ke sebuah apartemen sederhana yang cat temboknya hampir memudar sebelum memfokuskan perhatian kepada sosok Kurama Kyuubi. Laki-laki beriris merah itu terlihat berkutat dengan sesuatu di lemari pendingin. Dengan sigap, Sasuke menangkap sebuah kaleng minuman bersoda yang dilemparkan laki-laki itu kepadanya.

Ia sungguh berharap keputusannya menerima ajakan Kurama Kyuubi untuk bersembunyi di apartemen laki-laki itu adalah pilihan yang tepat setelah mendapati beberapa orang tidak dikenal tengah mengawasi gedung apartemennya.

"Here." Sasuke menaikkan sebelah alis ketika menyadari entah sejak kapan Kurama Kyuubi sudah berada di depannya sembari menyodorkan beberapa lembar pakaian yang terlipat rapi beserta sebuah handuk berwarna biru pucat. "Kau bisa membersihkan dirimu. Kamar mandi ada di sana."

Mengikuti ke arah mana ibu jari laki-laki itu tertuju, Sasuke bisa melihat sebuah pintu yang setengah terbuka di samping dapur. Ia mengangguk singkat dan berjalan menuju ke arah ibu jari Kyuubi tertuju; segera menghilang di balik pintu.

Selama beberapa saat, Sasuke memilih untuk berdiri diam di depan cermin dan melepaskan semua topeng yang selama ini ia pasang di hadapan sang pembunuh bayaran. Gurat kelelahan segera terlukis di wajah pucatnya. Dari pantulan dirinya pada cermin, ia juga bisa melihat lipatan di bawah matanya. Ia tidak pernah merasa selelah ini sebelumnya.

Pemuda bermarga Uchiha itu menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan cepat. Masih banyak hal yang harus dipikirkannya namun karena terlalu lelah, ia tidak tahu harus memulai dari mana. Mungkin berdiri di bawah pancuran air hangat mampu membuat otot-ototnya sedikit lebih santai. Dengan cepat, Sasuke mulai melucuti pakaiannya sendiri. Tapi ketika kedua iris oniksnya terpaku ke arah sebuah kalung yang melingkar di leher pucatnya, sekali lagi Sasuke memilih untuk tidak melakukan apapun. Tanpa disadarinya, jemari tangannya bergerak menyentuh ornamen dari kaca transparan pada kalung tersebut dan membelainya selama beberapa saat.

"Idiot," Sasuke mendesis karena lagi-lagi merasakan perutnya bergolak tidak nyaman karena mengingat pemilik kalung tersebut. Apa sebelum kematiannya Naruto masih menyimpan kalung pemberiannya? Atau Naruto sudah membuat kalung itu ketika menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah kembali ke sisi si pirang?

Tidak. Sasuke berharap Naruto tidak melakukan hal itu. Ia sungguh berharap—

Sasuke menggelengkan kepala dan mengumpat pelan. Tidak seharusnya ia memikirkan hal itu. Ini bukan saatnya untuk memikirkan sesuatu yang ia tidak tahu apakah akan terjadi atau tidak. Daripada memikirkan 'sebuah mimpi', akan lebih baik jika dirinya memfokuskan pada realitas yang ada di hadapannya.

Naruto dan dirinya yang dulu adalah sebuah masa lalu. Ya, hanya masa lalu.

Selama hampir setengah jam, Sasuke menyibukkan diri dan mencoba merilekskan otot-ototnya yang tegang. Aroma shampoo dan sabun yang tercium di kamar mandi berukuran sempit itu sedikit membuatnya nyaman. Ia baru saja merasakan otot-otot tubuhnya tidak lagi tegang ketika memakai pakaian yang diberikan Kurama Kyuubi.

Dan ketika aroma dari pakaian itu menyusup melalui indera penciumannya, Sasuke kembali merasakan tubuhnya menegang. Napasnya tercekat sebelum ia membuka kaos berwarna gelap itu. Perlu waktu yang lama bagi Sasuke untuk kembali fokus terhadap sekelilingnya; mencoba melepaskan diri dari aroma yang menguar dari pakaian di tangannya.

Walau lima tahun sudah hampir berlalu, Sasuke tidak bisa melupakan aroma khas itu. Sampai kapanpun ia bahkan tidak akan pernah melupakan aroma maskulin yang bercampur aroma samar dari bunga lavender tersebut. Alam bawah sadarnya secara otomatis akan mengingatkannya ketika ia mencium aroma itu di sekelilingnya.

Dalam diam, Sasuke menatap kaos berwarna gelap di tangannya dan menghirup dalam-dalam aroma yang dikenalinya.

Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa Kurama Kyuubi mempunyai aroma yang sama dengan Naruto? Apakah hanya sebuah kebetulan? Mungkin. Mungkin ini hanya kebetulan. Bagaimanapun juga, aroma seperti ini bisa dicari di toko parfum manapun. Lagi pula, Naruto sudah mati, bukan?

Kesal karena menyadari bahwa dirinya terdengar sangat konyol dan berlebihan, Sasuke memakai kembali pakaian yang diberikan Kurama Kyuubi sembari berusaha mengabaikan aroma khas yang tercium olehnya atau ukuran baju yang sedikit besar telah membuat leher jenjangnya terekspos dengan jelas.

Kerutan samar muncul di keningnya ketika menyadari bahwa apartemen itu terlihat sepi. Ia baru saja berpikir bahwa Kurama Kyuubi tengah pergi ke suatu tempat sebelum menemukan sepasang kaki yang menyembul di balik sandaran sofa. Sasuke mencoba tidak mengatakan apapun melihat bagaimana sang pembunuh bayaran itu terlihat tertidur pulas di atas sofa dengan tangan yang menutupi wajah. Laki-laki itu seperti tidak menyadari keberadaan dirinya yang berdiri di samping sosok tersebut.

Dalam diam, Sasuke mengamati Kurama Kyuubi. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba ada keinginan yang melintas di kepalanya untuk mengamati sosok itu terlebih setelah melihat pertahanan diri Kurama Kyuubi ditanggalkan begitu saja.

Dilihatnya laki-laki berambut merah itu menggeliat dalam tidur dan berusaha untuk mencari posisi yang nyaman pada sofa sempit itu. Beberapa saat kemudian, ia melihat jika saat ini tertidur dengan membelakanginya. Helaian rambut merah dengan highlight jingga laki-laki itu tidak terlalu panjang untuk berhasil menyembunyikan kilau dari sebuah rantai keperakan yang melingkar di leher kecokelatan itu. Sebuah kalung, pikir Sasuke.

Sasuke tidak tahu apa yang membuatnya mengulurkan tangan dan ingin menyentuh kalung tersebut. Hanya ingin sekadar memastikan sesuatu ataukah murni sebagai tindakan karena rasa ingin tahu, Sasuke tidak tahu alasannya. Ia sedikit berharap jika sosok di hadapannya tidak terbangun ketika dengan perlahan dirinya menarik rantai keperakan itu sehingga ia bisa melihat wujud sepenuhnya dari kalung tersebut.

Dan ia hanya bisa merasakan jika saat ini ia tengah menahan napas menatap ornamen berbentuk kipas berwarna biru dan putih yang menjadi penghias dari kalung tersebut. Sampai kapanpun, ia tidak pernah melupakan ornamen pada kalung itu karena lambang keluarganya dan ornamen pada kalung tersebut tidak ada bedanya.

Mengabaikan apa yang ditemukannya barusan, Sasuke membalikkan tubuh di hadapannya dengan kasar. Segera saja sosok itu terbangun dan memperlihatkan sikap defensif. Sepasang iris merah itu menatapnya dengan bingung sebelum melebar sempurna saat ia menempelkan kedua tangannya di kedua sisi wajah sosok tersebut.

"Wha—apa yang kaulakukan!?"

Sasuke tidak menggubris perlawanan yang diberikan kepadanya. Jemari pucatnya bergerak untuk membersihkan wajah kecokelatan itu sebelum akhirnya melihat tiga garis halus yang terpatri di masing-masing sisi wajah laki-laki di hadapannnya. Pandangannya mengeras dengan rahang yang terkatup rapat.

Dan Sasuke tidak membiarkankan laki-laki di hadapannya untuk mengatakan apapun karena tangan kanannya sudah meraih senjata api miliknya dan mengacungkan ujung pistol itu tepat ke hadapan pemilik iris merah tersebut.

"Katakan apa yang sudah kaulakukan sebelum aku menembak kepalamu, Uzumaki."


Tokyo, Unknown Time.

Ruangan itu terlihat tidak ada bedanya dengan sebuah ruangan rapat di kantor-kantor pada umumnya. Hanya saja, penerangan di ruangan tersebut hanya berasal dari sebuah lampu neon yang terpasang di tengah langit-langit. Sebuah meja panjang berbentuk oval dikelilingi oleh kursi kulit dengan sandaran punggung yang tinggi dan nyaman; memanjakan siapapun yang mendudukkan diri di sana.

Pada ke-lima belas kursi yang mengelilingi meja oval tersebut, lima di antaranya tampak kosong. Tapi tidak ada satupun yang sepertinya repot-repot ingin mengetahui ke mana orang-orang yang biasanya duduk di kursi tersebut. Tidak. Hal itu sudah sangat biasa terjadi. Orang-orang yang berada di ruangan itu bahkan bisa menghitung dengan jari kapan ke-lima belas kursi itu penuh.

"... Dan kemudian, laki-laki itu mati hanya dengan tiga tembakan, un!" Semua pasang mata di tempat itu menatap ke arah sosok Deidara yang sejak beberapa menit lalu berbicara. Hanya terdengar gumam pelan dari orang-orang di ruangan tersebut. "Harusnya aku meledakkan saja informan itu. Aku lebih suka melakukan hal itu dibandingkan dengan apa yang kausuruh, un."

"Kau tidak bisa meledakkan seseorang seperti bermain-main dengan petasan, Deidara."

Sepasang iris laki-laki parlente itu menyipit atas komentar sosok bertubuh besar di sampingnya. "Seni adalah sebuah ledakan, Muka Ikan! Dengar itu! Kau yang tidak tahu apapun mengenai seni, lebih baik menutup mulutmu sebelum kuledakkan dengan bomku, un!"

Laki-laki di sampingnya mencibir dan membuat Deidara menggeram pelan. Kedua matanya segera teralih pada sosok yang duduk di ujung meja oval. Ia memutar bosan kedua matanya mendengar laki-laki itu menyuruhnya untuk diam. Deidara tidak membantah dan lebih memilih untuk memainkan helaian rambut pirangnya sembari mendengarkan perbincangan di sekitarnya.

"Kapan kita akan menjemput Danna, un?" Deidara tidak bisa mencegah diri untuk tidak bertanya. Laki-laki di ujung meja menaikkan sebelah alis. "Danna sudah terlalu lama berada di dalam genggaman CIA, un. Dia pasti sudah bosan berada di sana."

"Siapapun pasti akan bosan berada di penjara, Deidara. Tapi kau tidak perlu khawatir. Kita akan segera membebaskan Sasori setelah Konan mulai bergerak. Kau tahu apa yang harus kaulakukan, bukan?"

Dan Deidara hanya bisa menyunggingkan senyum di wajah mendengar penjelasan rekan kerjanya. Tentu saja ia tahu apa yang harus dilakukannya. Bagaimanapun juga, membuat beberapa bom yang tergolong ke C4 bukanlah hal yang sulit baginya.

End of Chapter 11 — Recognition


Terima kasih atas reviewnya untuk: Rin Miharu-Uzu, rura, Gunchan CacuNalu Polepel, AnindyaCahya, Earl Louisia vi Duivel, Kitsune Syhufellrs, Artemisaish, dan dhiya chan.

Kritik dan saran masih saya terima. Terima kasih bagi yang sudah mau membaca, dua kali terima kasih untuk yang sudah bersedia meninggalkan review untuk fanfiksi ini #hagu