Gambare, kaa-chan…

Rated: T menjurus ke M

Pair: Uchiha Sasuke X Uzumaki Naruto

Disclaimer: Naruto sejak dari janin udah punya babe Kishimoto

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Angst, a little bit Humor

Warning: Shounen Ai, BL, Yaoi, Slash, Non-Canon, AU, OOC,OC, Smut, Badfic, Many Typo (s) maybe, M- Preg, dll….

Read and Review please?

Cast in this chapter:

Uzumaki Naruto : 30 tahun/ 16 tahun

Uchiha sasuke: 31 tahun/ 17 tahun

PERHATIAN: mungkin akan terjadi penambahan tokoh di tengah-tengah cerita tolong dipermaklumi ya…. (authornya sarappp…) dan juga nanti di setiap chapter cast tokoh yang maen bakal berubah ya….. maafbaru ngasi tau hehehhe #ditimpuk batu sama readers

Summary:

"Selama bertahun-tahun aku sangat-sangat merindukan aroma citrus yang sangat kusukai dari dirinya,"

"Kaachan, ada seseorang yang saat ini sangat aku benci, bahkan kebencianku pada orang itu sudah terlalu dalam hingga tak berdasar"

"Apakah saat ini kau masih menyukainya?"

"Hei, mungkinkah suatu saat nanti kita akan tetap bersama seperti sekarang?"

"Rasa itu selamanya tak kan pernah aku lupakan, ne Sasuke…"

#preview the sixth chapter

Dibalik sebuah pintu dikamar itu terdapat tatapan mata seseorang yang tengah mengintip kegiatan dari dua pemuda yang sejak tadi mereka lakukan diatas ranjang itu…

'Dasar bodoh kau sasuke….' Ucap orang itu, kemudian perlahan menutup kembali pintu yang menghubungkan kamar itu dengan kamar disebelahnya.

#seventh chapter

Lima hari sudah berlalu sejak hari itu, aku masuk sekolah seperti biasa, orang lain yang melihatku mungkin tak merasakan bahwa diriku yang sekarang sudah bukan Naruto yang dulu lagi, aku yang sekarang hanya seorang pemuda yang kosong, tak ada lagi sesuatu yang hangat yang mengisi hatiku seperti dulu, hatiku sudah hancur, tak utuh seperti saat itu lagi. Menangis? oh itu sudah kulakukan berhari-hari yang lalu sampai mataku tak mampu lagi mengeluarkan air mata, lelah? tentu saja, bahkan aku merasa sangat lelah, namun aku tak berpikir untuk bunuh diri. Karena bagiku jika aku bunuh diri, berarti sama saja dengan aku menghindar dari semua ini. Aku harus kuat, aku tak boleh terbawa oleh pikiran sempit itu. tak boleh….

Dan mengenai lelaki yang malam itu merenggut tubuhku, aku benci! bahkan sangat benci sampai-sampai aku tak bisa untuk tak berhenti memikirkan dirinya. Namun ditengah kebencian itu dapat kurasakan sesuatu, entah apa, aku tak tahu. Dan mungkin sesuatu itulah yang membuat aku terus menerus ingat pada dirinya.

Aku tak pernah memberitahu siapapun mengenai kejadian itu, bahkan sahabat maupun kedua orang tuaku. Tentu, aku tak ingin jika aku menceritakan ini semua orang-orang terdekatku itu akan sakit hati mengetahui apa yang menimpaku. Terlebih keluargaku, Ayahku sangat membenci hubungan sejenis, menurutnya itu jika ia mengetahui aku pernah menjalin hubungan dengan sesame jenis, aku tak bisa memikirkan apa yang akan Ayahku lakukan padaku.

Dan kini semenjak lima hari itu anehnya aku tak melihat Sai, yang sekarang sudah menjadi mantan pacarku. ia tak pernah kulihat disekolah ini, mungkin ia pergi begitu pikirku, sudahlah biarkan saja laki-laki bajingan itu pergi, sekalian saja ia pergi jauh dari muka bumi ini. Kebencianku padanya masih terasa, aku tak ingin mengingat lagi kejadian saat itu yang seharusnya jadi kejadian menyenangkan seumur hidupku. Dan jika aku mengingat kejadian itu otomatis aku akan mengingat juga kejadian setelahnya bersama pemuda raven itu.

Lagi-lagi dadaku bergetar mengingat hal yang seharusnya tak pernah terjadi saat itu…

Sebenarnya sehari setelah kejadian itu terjadi aku tak masuk sekolah, aku sakit saat itu, mungkin karena aku terkena hujan deras saat itu, sesampainya dirumah aku kepalaku pusing sekali seperti ada berton-ton palu yang menghujam kepalaku. Aku tak ingat hingga sore harinya aku baru terbangun dari tidurku. Dan saat aku terbangun, aku cukup kaget. Dia, Uchiha Sasuke berdiri didepan rumahku. entah sejak kapan, ia hanya menatap lurus kearah pintu didepannya, dan tiba-tiba ia menengokkan kepalanya keatas menatap kearahku. aku tersentak, akupun mundur. Kudengar suara ketukan pintu dari depan, ku yakini itu pasti Sasuke. 'Untuk apa lagi ia datang? belum puaskah ia melihatku seperti itu? Shit!' batinku sambil meringkuk diatas ranjang. Kepalaku semakin sakit, mungkin karena aku belum sempat mandi sejak kemarinnya dan langsung tidur hingga sore yang membuatku merasakan sakit kepala lagi.

Suara ketukan pintupun perlahan tak terdengar lagi, kupikir ia pasti sudah pergi. Kuintip melalui celah yang ada di jendelaku melihat apakah ia sudah pergi dari sana atau tidak. Dan, Tch, Ia masih berdiri tegak disana. tak beranjak sedikitpun. Karena kesal, akupun turun dari ranjangku melangkah menuju pintu depan.

Sesampainya aku disana perlahan kubuka pintu itu, kulihat ekspresi diwajahnya saat itu. Datar. Masih sama seperti sebelumnya. Kekesalanku semakin menjadi. Ku layangkan deathglare yang aku punya padanya, namun sepertinya itu tak mempan, terlihat dari ekspresinya yang tak berubah sama sekali.

"Mau apa kau kemari Uchiha san." ucapku tegas padanya, aku ingin cepat-cepat mengakhiri ini dan beristirahat, kepalaku sakit lagi.

"Hn…" hanya itu yang keluar dari mulut brengseknya itu. Melihatnya yang seperti itu, amarahku memuncak, tanpa basa basi lagi aku segera menutup pintu yang tadinya sedikit terbuka itu. tapi ia menahan pintu itu dengan kakinya.

"Pergi! Aku tak ada urusan lagi denganmu Uchiha san" ujarku dengan nada yang sedikit kutinggikan.

"Kita perlu bicara, Dobe." akhirnya ada sebuah kalimat yang keluar dari mulutnya.

"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Uchiha san" ujarku padanya.

"Ada. Dan hal itu sangat penting untukku." ujarnya.

"Tidak. Penting untukmu tapi tak penting untukku." dan tanpa ada banyak cincong lagi aku langsung menutup pintu itu kasar tepat didepan mukanya, kulakukan dengan sisa-sisa kekuatanku. Aku merosot ke lantai sambil menyandarkan punggungku pada pintu itu, kepalaku bertambah sakit, kucengkram erat helaian pirang yang ada dikepalaku.

Setidaknya saat itu aku merasa berntung, berntung karena kedua orang tuaku tak ada dirumah, Ibuku menemani ayahku dinas keluar, dan anikiku pergi entah kemana.

"DOBE! Biarkan aku bicara dulu, buka pintunya Dobe!" kali ini aku mendengar teriakannya sambil menggedor-gedor pintu yang menjadi sandaranku saat itu.

"PERGI KAU LAKI-LAKI BRENGSEK! AKU TAK SUDI MENDENGAR APAPUN DARIMU!" seruku padanya membalas teriakannya dari dalam rumah.

"Dobe! Buka pintunya! Aku perlu bicara padamu Dobe! Tolong…." kali ini kudengar ada sedikit nada penyesalan dalam suaranya. Namun hal itu tak akan bisa membuat amarahku mencair begitu saja. Aku terdiam masih menyenderkan badanku pada pintu itu.

"Dobe, tolong buka pintunya…" ujarnya kali ini pelan, sudah tak menggedor pintu itu lagi.

Aku diam, masih dalam posisi yang sama.

Kemudian aku bangkit, bukan untuk membuka pintu itu tapi lebih tepatnya melangkah menuju kekamarku.

"Pulanglah Uchiha san, tak ada gunanya kau disini." sebelum aku melangkah menuju kamarku, kuucapkan kata-kata itu padanya.

"Tidak! kalau kau tak mau membuka pintu ini, baik! aku akan menunggu disini sampai kau membukanya dan kita bicara." serunya.

Aku hanya mendengus kecil mendengar perkataannya, kemudian pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan apapun lagi.

"Maaf…" sekilas aku mendengar kata itu, kata yang baru pertama kali diucapkannya padaku. tapi tak juga kuhiraukan perkataannya.

Akupun sampai didalam kamar, aku merebahkan diriku yang masih terlihat sangat lelah, kupejamkan mataku saat itu menuju alam bawah sadarku, berusaha mencari sebuah ketenangan.

'Ciitt..ciit…' suara burung terdengar saat itu.

"Ngghh… sudah pagi rupanya." ujarku sambil membawa tubuhku untuk bangkit dari keadaad terbaring.

"Tsk, kepalaku masih sakit, sial!" ujarku setelah aku duduk dan bersender dikepala ranjang itu. Ku palingkan wajahku kearah jendela, kulihat embun pagi menyelimuti jendelaku saat itu, rupanya tadi malam hujan. kudekati jendela itu, perlahan kuusap embun yang menempel disana, kelihat pemandangan sekitar dibawahku.

'Rupanya kemarin malam hujan lebat ya, pohon-pohonnya saja sampai miring. Untunglah aku tidur nyenyak setidaknya aku tak terganggu dengan hujan kemarin.' batinku.

Aku masih berdiam diri disana, memandang pemandangan yang ada dibawahku, pergerakan bola mataku tertuju pada arah pintu depan. Disana kulihat ada kaki yang terjulur, aku heran siapa yang pagi-pagi begini ada didepan rumahku. langsung saja aku berjalan turun menuju ke pintu depan.

'Mungkinkah itu Sasuke?' pikirku sambil melangkah.

'Ah, tapi tak mungkin, ia tak mungkin melakukan hal bodoh itu kan?' batinku lagi berusaha menepis pemikiran bodohku yang pertama.

Semakin cepat kulangkahkan kakiku menuju arah pintu.

Dan setelah sampai akupun langsung membuka pintu itu, aku kaget ternyata benar iu Sasuke. Yang membuatku semakin kaget adalah keadaannya saat ini, bibirnya pucat dan membiru, kulitnya semakin bertambah pucat, dan terdapat kerutan-kerutan di jari jari putihnya.

"Apa yang masih kau lakukan disini Uchiha san?" ujarku padanya berusaha tak terdengar menkhawatirkan padanya. Namun sepertinya aku gagal. Melihatnya seperti ini aku jadi sedikit cemas. Mungkin karena seruanku, kulihat ia sedikit bergerak perlahan.

"Do..Dobe?" ujarnya memanggil namaku, lebih tepatnya ejekannya padaku.

"Apa yang sebenarnya kau pikirkan hah? Lihat dirimu sekarang!" ujarku marah padanya, heran? entah darimana perasaan marah ini muncul lagi, namun kali ini bukan rasa marah seperti saat aku mengetahui kekasihku selingkuh, namun lebih tepatnya rasa marah karena cemas? ya, kurasa aku merasakan hal itu.

"Maaf… Dobe…" ujarnya lemah padaku. Kurasakan tubuhnya sangat dingin saat ini, dan tiba-tiba saja ia terjatuh kepelukannku, pingsan. Aku panik, sakit kepala yang sempat aku rasakan tadi hilang saat itu juga. Dan tanpa banyak pikir lagi, aku membopongnya untuk memasuki rumah, meletakkannya diatas sofa, mengambil sesuatu yang dapat menghangatkan tubuhnya apapun semakin panik, tubuhnya tiba-tiba bergetar, kejang, aku sangat panik berusaha melakukan sesuatu tapi apa? aku bingung aku harus bagaimana agar menghentikan getaran ditubuhnya itu.

Pikiranku yang bodoh tak jua mau bekerja, aku hanya menyelimutinya dengan selimut-selimut tebal dan juga memeluknya, berusaha sedikitnya menghilangkan getaran itu dan menghangatkannya.

Selang beberapa menit akhirnya ia tenang, tak melakukan pemberontakkan lagi. Kali ini kulihat nafasnya sudah muli teratur dan suhu tubuhnyapun sudah lebih hangat dari yang tadi.

'Haaa….' aku hanya menghela nafas mengetahui akhirnya keadaannya membaik saat itu.

'Deg…'

Lagi, jantungku lagi-lagi berdetak aneh…

'Sepertinya aku tak bisa membencimu Teme…' ujarku dalam hati sambil memandang wajahnya yang kini tidur dengan tenang…

Tsuzuku….

Maaf ya minna mungki "Ku" ga bisa update kilat lagi, sudah masuk bulan dimana harus menyibukkan diri lagi dengan urusan perkuliahan.. xexexe…

oh, ya gimana menrut minna dengan chap ini? sudahkah ada perubahan dengan chap sebelumnya?

maka dari itu "Ku" butuh saran kritik dan lain-lain dari minna semua ya….

terimakasih minna…. ^^

"Ku" balas review dulu ya…

neko-tan: wah yang waktu ini kecepetan ya? maaf jadi ketinggalan 3 chap… mumpung lagi semangat 45 pas buatnya.. hehe yaps itu rapenya, tapi masih rada aneh menurut "Ku"

nah lho? Sasu gila, yapz bener banget. xexe…makasi dah review ya…

devilojoshi: wah makasi ya sarannya… ya "Ku" juga masih berusaha buat yang baik dan benar, makanya "Ku" butuh banyak saran-saran.. hehe.. hmm, gimana pendapatnya di chapter ini? sudah lebih baikkah dari chapter sebelumnya? hehe makasi ya dah review.

Blackxxx: makasi.. maunya sih ga "Ku" siksa teru abis juga kasihan ama naru xexe.. tapi adakalanya kok naru "Ku" buat bahagia. ok ditunggu aja ya… hmm makasi juuga udah review..

.Micha007: haha.. makasi udah suka lemonnya, padahal menurut "Ku"

lemonnya kurang asem, wkwkwk.. ni udah update hehhe.. makasi ya udah review…

yoshhhh…

sekian..

dan akhir kata..

jaa nee….