I'M WITH YOU

Suasana hening sudah menyelimuti desa konoha, hanya beberapa kedai
minuman saja yang masih buka pada jam segini. Tak ada lagi orang yang
berlalu lalang. Malam ini begitu mencekam.

Entah apa yang ada di dalam benak gadis ini, lihat saja jam tangan
yang ia kenakan saat ini sudah menunjukkan pukul 01 dini hari, untuk
apa seorang gadis berdiri di atas jembatan sendirian ?

Ia hanya diam, terpaku menatap derasnya aliran air di bawah jembatan
yang ia pijaki. Terbayang wajah kedua orang tuanya yang sedang
tersenyum tulus. Ia merindukan kedua wajah itu. Sudah bertahun lamanya
ia tak melihatnya, padahal ia masih tinggal serumah dengan mereka.
Mereka hanya peduli dengan hidupnya masing-masing, bekerja terus
menerus, sepertinya mereka lupa kalau mereka mempunyai anak gadis yang
mulai beranjak dewasa yang sangat butuh perhatian dan kasih sayang.

.

.

.
Flashback

"besok akan ada acara kelulusan, kaa-san datang ya", ucap gadis
berusia 13 tahun ini

"tenten, kaa-san ada urusan pekerjaan tidak bisa datang", kata sang
ibu yang sedari tadi mengotak-atik laptop miliknya.

"Tak bisakah kaa-san meluangkan sedikit waktu hanya untuk menyaksikan
acara kelulusan ku ?" ucap tenten dengan raut wajah kesal.

"Setiap ada acara berkumpul bersama keluarga tou-san dan kaa-san tak
pernah hadir, aku juga ingin seperti teman-teman yang lain"

"tenten, tolong mengerti"

.

.

Gadis berusia 18 tahun ini kemudian melepas sepatu yang ia kenakan dan
mencelupkan kedua kakinya di dalam air yang dingin dan ditambah lagi
hawa yang sangat menusuk, tapi tak dirasakan olehnya.
'bahkan kalian tak mencariku' batinnya.

~Isn't anyone trying to find me?
Won't somebody come take me home?~

.
.

.

Flashback

Tenten terdiam dibalik pintu kamar memeluk boneka pandanya. Mendengar
keributan yang dibuat oleh kedua orang tua egoisnya.

"Lebih baik kita bercerai"

"baik"

kata-kata itu membuat hati tenten remuk, tapi Tenten tak menangis. Ia
mungkin sudah lupa bagaimana caranya menangis.

.
Hal itulah yang membuat Tenten meningalkan rumah tengah malam begini.
Mengingat kejadian itu membuatnya semakin sakit. Ia ayunkan kakinya
mengacak-acak aliran air yang deras itu hingga percikan airnya
membasahi wajahnya.

~Its a damn cold night~

Ia merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya. ia mulai takut,
tubuhnya bergetar. Ia pejamkan matanya sebelum menoleh ke belakang.

"Kau tak perlu takut"

Tenten membuka matanya. 'blush'
ia terkejut melihat sosok tampan berambut panjang di belakangnya.
Ia mengucek-ngucek matanya seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Tak perlu seperti itu, aku ini manusia" ucap pria itu terkekeh geli
melihat tingkah gadis di hadapannya

"m-ma-maaf"

"Hn, sedang apa tengah malam begini disini?"

"..."

"Sebaiknya kau pulang sekarang"

"Tak ada tempat untuk ku pulang"

"Kalau begitu kau bisa pulang bersama ku" ajak pria berambut panjang itu

Tenten hanya diam, pria itu mengulurkan tangannya membantu Tenten
berdiri. Tenten menyetujui ajakan pria itu dan langsung berjalan
duluan meninggalkan pria itu.

"Hey nona, kau harus memakai sepatu mu kalau tidak mau dianggap gila"
pria itu pun melemparkan sepatu ke arah Tenten.

'HAP'

~hap hap hap hap
tangkap tangkap~

Dengan sigap Tenten menangkap sepatunya lantas berkata

"Apa ada orang gila secantik diriku" Tenten tersenyum lebar ke arah lelaki itu

dan sontak saja senyuman itu membuat si pria terpaku dan ia pun
sedikit berlari mensejajarkan tubuhnya di sebelah Tenten.

Senyuman yang sudah lama tak terlihat dari wajah gadis bercepol dua
itu kini terkembang dari wajah cantiknya, ia merasa kali ini tak akan
kesepian lagi.

Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam, hingga sampai di sebuah
apartemen yang cukup besar namun terlihat sederhana.

"Ini apartemen ku"

"Benarkah? Besar juga.. Kau tinggal sendiri?"

"ya begitu lah, kau bisa tidur di kamar ku"

"lalu kau?"

"tak apa.. Aku bisa tidur di ruang depan"

"baiklah terima kasih" Tenten langsung masuk ke kamar pria itu.

.

Tenten POV

Wah baru kali ini aku masuk ke kamar laki-laki.
Rapi sekali kamarnya, tapi kamar sebesar ini terkesan kosong.
Apa dia tak punya barang-barang koleksi yang ia sukai?
Ah tak masalah, yang penting aku bisa tenang di sini untuk sementara.
Hmm.. Lelaki itu tampan sekali, dan juga sangat baik.
Bahkan dia belum mengenalku tapi sudah mengizinkan ku tidur di ruang
pribadinya ini.
Hey aku lupa.. Namanya siapa ya?

~I don't know who you are but i
i'm with you..
I'm with you~

.

Tenten yang sedari tadi termenung pun keluar dari kamar. Di dapatinya
sosok lelaki si empunya apartemen sedang terlelap di atas sebuah futon
berukuran sedang. Di perhatikannya sosok lelaki yang terlelap itu, dan
'blush'. Lelaki itu membuka mata dan mendapati sosok gadis bercepol
dua sedang memperhatikannya.
Rona merah pun mewarnai pipi mereka berdua.

"apa kau membutuhkan sesuatu nona?"

"ah tidak, aku hanya sedang haus" dalih Tenten

"baiklah kau tunggu disini"

tak lama pria itu pun kembali dengan segelas air putih.

"em.. Terimakasih.."

"Hn"

"Boleh aku tau siapa nama mu?"

"kau tau aturan dalam berkenalan kan?" delik pria itu.

"haha iya.. Nama ku Tenten. Dan kau?" Tenten mengulurkan tangan dan di
sambut oleh pria itu.

"Neji.. Hyuga Neji"

"nama mu bagus, Neji artinya pelangi bukan?"

"ya kau benar"

'pelangi yang menyinari setelah turunnya hujan'
dan itu lah sosok Hyuga Neji yang menyinari hidup Tenten kembali.
Membuat senyum manis di wajah Tenten terkembang lagi.

"m-m-m.. Apa aku boleh tidur di sebelah mu?"

Neji kaget mendengar permintaan Tenten.

"apa tidak apa-apa?" jawab Neji

"aku takut di kamar sebesar itu sendirian" ucap Tenten menunduk kan kepala.

"perempuan seperti mu punya rasa takut juga?"

"bukannya takut, tapi aku ingin kau temani"

"ah kau takut"

"tidak"

"kau takut"

"tidak Nejiii" teriak Tenten sebal.
Neji hanya terkekeh geli.

"baiklah baiklah kau boleh tidur disini" ucap Neji tulus.

Tenten tak punya maksud apa-apa atas permintaannya itu. Ia hanya ingin
ada yang menemani sekarang. Setidaknya itu akan mengurangi rasa sakit
di dada serta beban pikiran di kepalanya. Ia merasa begitu nyaman
berada disisi Neji walau hanya baru beberapa jam yang lalu
mengenalnya. Bahkan mungkin sudah mulai tumbuh perasaan di hatinya
saat ini.

RnR :)