Chap 2

Di atas futon berukuran sedang itulah mereka sekarang terbaring, Tenten tidur membelakangi Neji, sebentar saja ia memejamkan mata lalu ia membuka matanya lagi.

.

.

.

Tenten POV

Baru beberapa jam aku mengenal pria ini tapi rasanya sudah sangat berbeda. Benar-benar nyaman berada disebelahnya.

Kami-sama dia tampan sekali saat tertidur. Apa tak terjadi apa-apa malam ini?

Ah tidak tidak !

Tenten jangan berpikir yang bukan-bukan.

Sebaiknya aku tidur sekarang.

.

.

.

Sinar pagi membangunkan Neji dari tidurnya, ia sedikit memijat keningnya yang sedikit terasa pusing. Ia melirik ke sekelilingnya tapi tak didapatinya sosok bercepol dua yang dicarinya. Di dengarnya suara dentingan peralatan masak dari arah dapur. Ia langsung menuju suara itu dan

~taarraaa

ia pun menemukan sosok yang ia cari.

Tenten tersadar ada seseorang yang datang dan menoleh. Tenten terkekeh melihat neji dengan penampilan berantakan khas orang yang baru terbangun dari tidur.

"ah kau sudah bangun. Maaf aku mengacak-acak dapur mu"

"Hn" neji langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tenten menata meja makan dengan rapi, sudah seperti seorang istri yang menyiapkan sarapan untuk suaminya saja. Ia melakukan semuanya di pagi ini benar-benar sepenuh hati. Ia hanya ingin membalas kebaikan si tuan Hyuga itu.

Tak lama Neji keluar dengan baju mandi yang ia kenakan dan rambut panjang yang basah. Dan menurut Tenten itu sangat sexy.

"sarapan sudah ku siapkan, kau mau sarapan?"

"Hn" neji beranjak pergi meninggalkan ruang makan namun sempat melirik sesuatu yang dimasak tenten. 'kelihatannya lezat'

Tenten yang merasa tak mendapat respon itu pun kecewa, dan tertunduk lesu. Ia duduk menatap sup yang ia buat lalu mengambilnya beberapa sendok dan diletakkan di mangkuk makannya. Tenten pun mulai memakannya. 'rasanya tidak buruk, kenapa dia tak mau?'

~how come you act like this like you just dont care at all~

"Hey.. Jangan kau habiskan panda !" neji muncul dengan pakaian yang rapi, sepertinya hendak pergi ke kantor.

"Apa?

Huh ku pikir kau tak mau.."

"aku tidak bilang begitu"

neji langsung menyambar mangkuk makan tenten dan melahapnya.

"hey itu punya ku, yang itu kan masih banyak neji"

"Hn.. Payah !"

"Apa?"

"kau hanya akan menghancurkan dapur ku dengan rasa masakan seperti ini"

.

.

Tenten POV

apa sebegitu tak enaknya masakan ku hingga dia berkata begitu? Ah dasar! Hinaan nya begitu menyakitkan. Percuma kau punya wajah tampan tapi cara berbicara mu kasar. DASAR HYUGA !.

.

.

.

Neji POV

gadis ini pandai juga memasak. Tak ku sangka sup nya akan selezat ini. Rasanya ini makanan paling lezat yang pernah ku makan. Baru kali ini ada yang memasak untukku, biasanya aku selalu makan di luar. Apa akan begini rasanya jika nanti aku punya istri?

.

.

.

"Tak enak tapi bisa-bisanya tak menyisakannya untuk ku. DASAR Hyuga !"

"Hahaha.. Tadi itu aku hanya bercanda, kau langsung saja mempercayainya.. DASAR BODOH !"

"itu tidak lucu. Bercandanya jelek" tenten menggembungkan kedua pipi, neji yang melihatnya terkekeh dan langsung mengusap-usap kepala tenten.

~its not supposed to feel this way, i need you i need you more and more each day~

"kau mau kemana neji?"

"ke kantor"

"Apa pegawai kantor tak memiliki hari libur?"

"Aku ini direktur muda nona, Camkan itu !

Apa maksud mu dengan hari libur? Memangnya ini hari apa?"

"Gaya bicara mu sombong sekali. Aku ragu dengan jabatan direktur mu. Apa kau benar-benar seorang direktur?" ucap tenten meremehkan.

Neji mengambil ponsel di saku celana nya dan melihat kalender ponselnya. Ia merasa sangat bodoh dan malu sekali pada orang di hadapannya. Lalu ia pun kembali menuju kamar untuk mengganti pakaiannya.

WOW

penampilan neji kini sangat sangat berbeda, keren sekali dengan jeans dan t-shirt putih yang di balut jaket yang tak menampakkan sisi formalnya lagi.

"kau sudah mandi kan?"

"tentu saja"

"ikut aku"

"kemana?"

neji tak menjawab. Dan keluar apartemen mengambil lamborghini miliknya yang diikuti oleh tenten di belakangnya.

"Cepat naik"

tenten yang masih tercengang langsung menuruti perintah neji.

"ini mobil mu?"

"..."

"kalau ini mobil mu kenapa malam itu kau jalan kaki?"

"..."

"hey.. Aku bicara dengan mu"

"kau ini berisik sekali"

'huh dasar menyebalkan' umpat tenten.

Dengan hati-hati neji memarkirkan mobilnya didepan sebuah toko pakaian yang cukup besar. Ia keluar dari mobil, namun tidak dengan tenten. Neji mengetuk kaca mobilnya.

"Hey.. Turunlah"

"untuk apa kita kesini?"

"untuk mencarikan mu pakaian bodoh ! Apa kau mau memakai pakaian itu berhari-hari?" ucap neji menunjuk pakaian yang di kenakan tenten.

Mereka masuk ke toko itu, neji melihat-lihat pakaian yang ada disana. Lalu mengambil banyak pakaian yang dirasanya cocok untuk tenten. Tenten pun mengambil beberapa pakaian yang ia suka.

"apa ini? Seperti inikah selera mu? Coba ini !" ucap neji menyodorkan pakaian yang di ambilnya dan mengambil pakaian yang dipegang tenten. Tenten lalu masuk ke ruang ganti.

.

.

.

Tenten POV

dia hendak menyuruhku jadi seorang feminin ya? Bajunya seperti ini semua lagi.

Ada apa dengan dia hari ini? Padahal malam tadi dia bersikap lembut, tapi sekarang berubah 180 derajat. Mengata-ngatai aku bodoh lah. Apa jangan-jangan itu sifat aslinya?

.

.

.

Tenten keluar dari ruang ganti dengan sebuah dress sebatas lutut yang minimalis tapi terkesan mewah. Tenten tampak begitu cocok menggunakannya. Namun neji merasa ada yang kurang kali ini. Lalu neji memegang salah satu cepolan milik tenten.

"hey apa yang kau lakukan?"

"..."

"aku tidak mau" teriak tenten menahan tangan neji di atas cepolannya.

Orang-orang melihat mereka keheranan. Namun neji tetap tak menggubris.

"satu lagi" neji berpindah posisi menarik cepolan satunya lagi.

Tergerai lah rambut tenten yang panjang melebihi bahu. Tenten menyisir rambutnya dengan tangannya.

"Hmm.. Kau cantik seperti ini"

ucapan neji pun sontak membuat tenten merona. Mereka pun segera pulang setelah membayar semua pakaian yang di beli neji.

Menghabiskan waktu bersama neji membuat tenten lupa akan segala masalah dan beban pikirannya. Benar-benar nyaman saat bersama neji.

Ia tak ingin semua ini cepat-cepat berakhir. Ia berpikir tak ingin kembali ke rumahnya lagi. Ia ingin tinggal bersama neji selamanya. Ia merasa takut jika suatu hari nanti neji berpikir akan mengembalikannya kepada orang tuanya.

Ia tak menginginkan itu.

~are you and me still together?

Tell me

you think we could last forever?

Tell me

why?~