Penasaran.
Hanya perasaan itulah yang selalu terbersit dalam pikiranku.
Penasaran akan kehadiran sosok mungilnya. Sosok yang amat sangat tegar, kuat, namun terkadang rapuh. Sikapnya yang kelewat nekad, tak menunjukkan kewanitaan sama sekali, bahkan menantang segala macam bahaya yang ada di hadapannya.
Hanya karena tertarik akan kepribadiannya itulah, saat ini aku terus mengawasi sosoknya.
Sosok yang entah sejak kapan mampu menarik perhatianku. Bukan hanya pikiranku, namun juga hatiku.
.
.
Eternal Wings
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Genre : Supernatural, Romance
Warning : AU, typo, OOC
A request fic by Trancy Anafeloz
.
.
Enjoy Reading
Chapter 2 : Ingatan
Perlahan kedua kelopak matanya mengerjap, menunjukkan iris onyx-nya. Ia mulai menyeimbangkan kesadarannya lagi dengan lingkungan di sekitarnya. Ia menyadari bahwa ia telah kembali ke alamnya, bukan lagi berada di sana.
Desir angin perlahan menyisir pelan helaian rambut gelapnya. Hanya temaram cahaya lilinlah yang menerangi ruangan tempatnya duduk bersila di atas bantal dudukan.
Ternyata ia masih tak berubah, gumamnya, mengingat kejadian yang baru saja ia lihat.
Ia merentangkan kedua tangannya ke arah yang berlawanan, meregangkan ototnya yang sedari tadi kaku, akibat 'perjalanan' rahasia yang ia lakukan. Dengan malas, pemuda berambut raven itu berdiri dan berjalan menuju pintu shōji ruangannya. Ia membuka pintu tersebut dan berjalan menyusuri lorong rumah bergaya Jepang, hendak menuju ruang utama.
Sepanjang perjalanannya menyusuri lorong itu, pikirannya melayang kembali ke kejadian masa lampau, dimana ia untuk pertama kalinya bertemu gadis itu.
Flashback
"Sasuke kau harus ingat bahwa perjalananmu ke dunia manusia hari ini bukan untuk bermain-main. Kau hanya datang untuk mengetahui situasi dunia manusia," ucap seorang pria yang berwajah tegas kepada seorang bocak laki-laki yang tengah menatapnya dengan pandangan mengerti.
"Iya, Tou-san," balasnya seraya menganggukkan kepalanya kecil. "Tapi, kalau aku berjalan-jalan sebentar boleh 'kan?"
Pria yang dipanggil bocah kecil dengan sebutan 'Tou-san' itu pun mengangguk. "Tentu. Tapi kau harus ditemani oleh kakakmu jika ingin berjalan berkeliling dunia manusia."
Bocah laki-laki kecil—bernama Sasuke—menggembungkan pipinya. "Kenapa harus dengan Nii-chan?"
Fugaku, ayah Sasuke berdeham. "Tentu saja dengan kakakmu, Sasuke. Karena kedatanganku ke dunia manusia selain mengantarmu mengenalkan dunia manusia, aku ada janji dengan kenalan di sana. Jadi yang bisa menemanimu hanya kakakmu saja," jelasnya.
"Kenapa bukan Ibu?" Tanya Sasuke.
"Karena Ibu sedang tidak enak badan." Sebuah suara menghampiri pelan tempat ayah-anak itu duduk. "O-tou-to~" Kata terakhir ditekankan dengan nada yang dibuat-buat.
Sasuke yang mendengar suara itu menengokkan kepalanya menuju arah asal suara. Tak jauh dari tempatnya duduk, ia melihat seorang bocah laki-laki yang umurnya berbeda dengannya hanya beberapa tahun tengah berjalan ke arahnya. Di kedua tangannya terlihat tengah membawa nampan berisikan ocha dan odango.
Ia kemudian meletakkan nampan tersebut di antara ayah dan adiknya, setelahnya ia duduk bergabung dengan kedua Uchiha tersebut.
"Kau tahu bukan kalau Kaa-san sedang sakit, Sasuke. Jadi, terima saja kalau aku yang akan menemanimu," goda Itachi seraya menyodorkan gelas ocha pada otouto-nya.
Sasuke merengut tak suka. Ia menerima gelas dengan cepat, lalu memalingkan wajahnya dari Itachi, yang terlihat menahan tawanya, melihat tingkah laku Sasuke. "Kau masih marah pada Aniki-mu ini?" tanyanya.
Sasuke tak menjawab. Ia memalingkan wajah menuju taman di depannya, dan mengunyah odango yang ia ambil dengan sembarang sebelumnya.
"Ayolah, Sasuke. Masa kau mau ngambek terus seperti itu pada Nii-chan-mu ini?" goda Itachi untuk kesekian kalinya. Ia sangat senang sekali menggoda adiknya, apalagi ketika Sasuke tengah marah pada Itachi. Menurut Itachi, Sasuke saat marah sangatlah lucu.
"Huh." Hanya itu balasan Sasuke—yang akhirnya semakin membuat Itachi tertawa—tanpa melihat Itachi.
Uchiha Fugaku tersenyum tipis melihat pertengkaran kedua putranya. "Kalau begitu, bersiap-siaplah untuk perjalanan besok, Sasuke," ujarnya seraya berdiri.
"Hai', Tou-san." Sasuke memalingkan wajahnya lalu membungkuk sedikit, memberi salam pada Fugaku yang telah berlalu meninggalkan kedua putranya.
Besok akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, ujar Sasuke dalam hatinya. Menatap punggung sang ayah yang telah menghilang dari pandangannya setelahnya.
.
.
Sinar yang membutakan indra penglihatannya secara perlahan memudar. Dengan pelan, Sasuke membuka kedua kelopak matanya—yang sedari tadi ia tutup untuk menghindari kilauan cahaya gerbang perantara dua dunia—dan menyesuaikan kondisi penglihatannya dengan alam sekitarnya.
Sejenak ia masih mengerjap-erjakan kedua matanya, berusaha beradaptasi dengan cahaya yang ada di sekililingnya. Setelah ia dapat mengontrol daya lihatnya, ia terkesiap, melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya.
Berderet-deret bangunan nan megah berdiri dengan kokoh dan terjajar rapi satu sama lain. Jalanan aspal hitam yang dipenuhi oleh kendaraan bermotor yang berlalu lintas. Belum lagi dengan gerombolan manusia yang berjalan di sisi kanan-kiri jalanan.
Sasuke menatap dengan takjub pemandangan itu. "Wah..." Matanya memperlihatkan kekaguman yang luar biasa. Ia tak henti-hentinya memutar kepalanya dan menatap satu persatu bagian dari kota manusia itu.
"Kau menyukainya?"
Sasuke mendongakkan kepalanya, dan melihat sang ayah berdiri tegak tepat di belakangnya. Kedua tangannya ia lipat dalam lengan kimononya.
Sasuke mengangguk bersemangat. "Iya, Tou-san. Ini luar biasa. Ini melebihi cerita-cerita yang kudengar, bahkan lebih hebat daripada yang diceritakan oleh Nii-san," jawabnya dengan antusias.
Fugaku tersenyum tipis. "Baguslah kalau begitu." Ia membalikkan badannya dan berjalan menuju arah Itachi. "Itachi, aku akan menuju rumah kenalanku sekarang. Kau dan Sasuke bisa berkeliling kota sepeninggalanku nanti. Temui aku lagi nanti di saat matahari terbenam, di tempat ini."
Itachi mengangguk. "Wakarimashita, Tou-san. Selamat jalan." Ia membungkukkan badannya kecil.
Sasuke dengan terburu-buru berbalik dan membungkukkan badan, memberi salam pada sang ayah. "Selamat jalan, Tou-san."
"Hn."
Sepeninggal Fugaku, kedua kakak beradik itu saling memandang satu sama lain. Alis Itachi terangkat naik, saat ia mendapati Sasuke memandangi dirinya dengan tatapan tak suka.
"Kau masih marah padaku?" tanya Itachi.
Sasuke berdiam seribu bahasa. Kedua tangannya ia lipat ke depan dada, dan mulut kecilnya memanyun dengan imutnya—menandakan ketidak sukaannya dengan keadaannya sekarang.
Itachi menghela napas perlahan. "Oh, ayolah, Otouto kecilku. Sampai kapan kau mau marah padaku? Kau tahu bukan kejadian lalu itu benar-benar tidak sengaja dan—akh.. Kau mau ke mana?"
Sasuke berlari menuju tangga darurat, menuruni dengan cepat, meninggalkan Aniki-nya di belakang.
"Sasuke! Hei, tunggu!" Itachi segera berlari mengejar Sasuke. Ia dengan cepat menuruni deretan tangga darurat di dalam gedung—yang awalnya menjadi tempat penghubung antara dunia manusia dengan dunia youkai.
Sasuke tak menghiraukan teriakan Itachi yang terus menerus memanggilnya dari arah belakang. Ia semakin mengayunkan kakinya cepat, berusaha menjauh dari Itachi.
"Hei! Otouto! Tunggu!" teriak Itachi dengan lantang.
Kini mereka tengah berlari di antara kerumunan orang yang berlalu lalang di pedestrian. Sasuke dengan gesit berlari di antara kerumunan tersebut. Sedangkan Itachi mengejar di belakang dengan susah payah. Tinggi tubuhnya tak mampu menjangkau pandangannya agar dapat melihat Sasuke, yang kini telah berbaur dengan lautan manusia yang tengah berjalan.
"Sasuke!"
Teriakan Itachi teredam oleh suara gumaman orang-orang di sekitarnya. Dengan lantang, berulang kali ia memanggil nama Sasuke. Namun sang empunya nama, sekarang telah berada jauh dari posisi Itachi saat ini.
Sasuke sekarang tengah menyusup masuk ke dalam sebuah toko kaset, dan bersembunyi di balik salah satu rak kaset yang ada. Ia berpura-pura melihat-lihat album lagu yang terjajar rapi di dalam rak, walau dalam pikirannya ia penasaran dengan benda di hadapannya saat ini. Tapi hal itu tidak bisa ia hiraukan sekarang, ia harus berkonsentrasi menghilangkan reiryoku-nya agar tak dapat terdeteksi oleh Itachi.
Ia memejamkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam, kedua tangannya ia kepalkan dengan kuat. Dengan sekuat tenaga ia menekan reiryoku miliknya agar berada di batas minimum.
"Fiuh." Terdengar helaan napas panjang dari mulut Sasuke. "Rupanya membutuhkan tenaga yang besar juga dan—"
Ucapannya terputus saat ia melihat Itachi melintas toko kaset tempatnya bersembunyi, tanpa menoleh ke arah dalam toko. Sasuke menghela napas lega.
"Bagus. Aku sudah bebas dari Nii-chan," gumamnya.
Sasuke dengan pelan melangkah keluar toko kaset itu. Ia melongokkan kepalanya ke arah kanan dan kiri, melihat keadaan. Aman.
Dalam sekejap, Sasuke kembali menyusup ke dalam kerumunan para pejalan kaki, berlari tanpa arah. Berusaha menikmati suasana dunia manusia, selama ia berada dalam kebebasannya..
.
.
Hosh. Hosh. Hosh.
"Benar-benar. Seharusnya tadi aku tidak berlari terus. Kalau begini caranya aku tidak akan bisa kembali ke tempat awal," gumamnya. Sasuke menyandarkan punggungnya ke sebuah pilar besar. Dengan sebelah tangan, ia menyeka keningnya yang penuh dengan keringat.
"Eh? Apa ini?" Pandangannya tertuju pada papan yang tergantung di atas pilar yang ia sandari. "Kuil... O..chimizu?" eja Sasuke pelan. Ia melongokkan kepalanya ke dalam gerbang besar—yang pilarnya ia gunakan sebagai sandaran—yang menandai wilayah kuil tersebut.
Sebuah bangunan bergaya Jepang kuno berdiri dengan tegak tepat di tengah wilayah kuil itu. Di samping kanan kirinya terdapat kumpulan pepohonan yang mengitarinya. Terlihat beberapa batang pohon sakura yang tersebar di antara pepohonan yang ada.
Sasuke berjalan memasuki area kuil tersebut dengan gontai. Ia memutar kepalanya ke kanan dan kiri, melihat wilayah kuil tersebut. Kuil? Apa itu? Aku tidak pernah tahu, gumamnya dalam hati.
Bocah laki-laki itu melangkahkan kakinya mengikuti jalan setapak yang terletak di samping bangunan utama kuil. Sesekali ia berhenti, mengedarkan pandangannya berkeliling, lalu berjalan kembali. Ketika ia melihat setumpuk batu kerikil, ia akan memungutinya, dan melemparkannya ke lahan kosong.
Pluk.
Secara tak sengaja batu kerikil yang ia lempar, mendarat ke dalam sebuah kolam kecil. Sasuke berlari menghampiri kolam tersebut. Ia berhenti di pinggiran kolam, kemudian berlutut, mengambil batu kerikil itu.
Disaat ia hendak melongokkan kepalanya ke dalam kolam, secara sekilas Sasuke melihat sosok manusia pada pantulan air kolam.
"Eh? Apa itu?" tanyanya. Merasa penasaran, ia mendongakkan kepalanya ke atas pelan. Tepat di atasnya, sebuah pohon sakura berdiri dengan sekumpulan bunga sakura yang bermekaran.
"Sakura tumbuh di luar musim?" gumamnya, "Jarang sekali ada." Sasuke tersenyum tipis. "Eh? A-apa itu?"
Sasuke menajamkan pandangannya menuju salah satu batang pohon sakura. Ia mendapati seberkas warna merah muda yang janggal pada batang sakura itu. Dan dalam sekejap...
"AWAS!"
Bruk. Splash.
"Auw. Sakit." raung Sasuke. Ia merasakan tubuhnya sekarang basah dan terasa lebih berat. Ia mengusap pelan kepalanya. "Ittai."
"Daijoubu ka?" Suara seorang gadis kecil memenuhi indra pendengaran Sasuke. Dengan perlahan, ia membuka matanya dan mendapati sesosok gadis kecil—dengan warna rambut yang semerah permen kapas—yang umurnya mungkin hanya berbeda setahun tengah menatapnya dengan tatapan ketakutan.
Sasuke menyadari dari mana asalnya tubuhnya terasa berat. Gadis itu sekarang tengah terduduk tepat di atas dadanya. Tubuhnya yang terbalut kimono berwarna pastel juga basah, sama dengan keadaannya saat ini.
Sasuke mengangkat badannya sedikit. Gerakan itu menyebabkan gadis itu segera berdiri, memberikan ruang agar Sasuke dapat mengangkat tubuhnya yang setengahnya terendam dalam air kolam.
"Aku tidak apa-apa kok," jawab Sasuke seraya melangkah keluar dari dalam kolam. Gadis tersebut mengikuti Sasuke keluar dari arah kolam.
"B-benarkah?" Gadis itu bertanya dengan nada khawatir. Kedua tangannya ia kepalkan di depan dadanya.
Sasuke mengangguk. "Hmm. Yang lebih penting kau tidak kenapa-kenapa, bukan?"
Gadis itu menggeleng pelan. "T-tapi..."
"Sebenarnya apa yang kau lakukan di atas pohon itu?" tanya Sasuke, memotong perkataan gadis tersebut.
"Eh. Aku ingin mengambil itu," jawab gadis pink—sebutan Sasuke sendiri—sambil menunjuk ke arah sebuah bola berwarna merah yang tersangkut di antara ranting pohon.
Sasuke melihat bola tersebut kemudian mengangguk paham. Tanpa aba-aba ia berlari ke arah bawah pohon sakura, dan bersiap untuk memanjatnya.
"A-apa yang hendak kau lakukan?" tanya gadis kecil itu dengan takut.
"Aku akan mengambilkannya untukmu." Sasuke meletakkan tangannya ke sebuah dahan dan mulai mengangkat tubuhnya ke atas. Memulai memanjati pohon sakura itu.
"T-tapi..."
"Tidak apa-apa. Tenang saja. Akan aku ambilkan."
Sasuke memanjat dengan pelan batang pohon sakura, hingga ia mencapai dahan yang dimaksud. Perlahan namun pasti, ia merambati dahan pohon sakura tersebut, dan dengan cepat meraih bola yang dimaksud.
"Dapat!" serunya. Ia mengangkat tinggi bola merah tersebut, lalu mengarahkan pandangannya menuju gadis di bawahnya. Gadis tersebut tersenyum lega sekaligus gembira.
Sasuke secara sengaja melompat dari dahan tempatnya berdiam tadi, yang membuat gadis itu terkejut. "Awas!"
Tap.
"Kenapa? Aku kan tidak kenapa-kenapa?" tanya Sasuke polos.
Gadis tersebut melihat bocah berambut raven di hadapannya dengan setengah tidak percaya. "Kau baru saja lompat dari tempat itu." Ia menunjuk dahan pohon. "Dan kau bilang tidak apa-apa?" Terdengar nada keterkejutan dalam suaranya.
Sasuke menggaruk kepalanya. "Yah. Tidak apa-apa. Lagipula..." Ia menyodorkan bola merah yang ia pegang. "Ini."
Gadis berambut bak permen kapas itu dengan ragu-ragu mengambil bola tersebut. Ia menundukkan kepalanya. "Arigatou gozaimasu."
"Hn."
"Sakura."
Sasuke memiringkan kepalanya. "Apa?"
"Namaku Sakura. Haruno Sakura. Salam kenal." Secara tiba-tiba gadis tersebut memperkenalkan dirinya pada Sasuke. Wajahnya terlihat bersemu merah.
"A-ah.." Sasuke berdeham kecil. "Sasuke. Uchiha Sasuke. Salam kenal."
Sakura mengangguk kecil. Ia mengulurkan tangannya ke depan. Sasuke menyambut tangan kecil tersebut dan menggenggamnya. "Salam kenal, Sakura-chan."
"Iya." Sebuah senyuman terpampang di wajah Sakura yang berseri-seri.
.
.
"Jadi, kau anak pemilik kuil ini?" tanya Sasuke. Ia mengayun-ayunkan kakinya yang terjulur bebas ke bawah. Kini kedua bocah berbeda gender tersebut tengah duduk di lantai kayu sebuah pondok kecil tak jauh dari bangunan utama.
Sakura mengangguk kecil. "Iya. Ayahku pendeta di kuil ini. Kuil ini sudah diwariskan secara turun temurun oleh keluarga ayahku sejak zaman dahulu," jelasnya. Jemari-jemari kecilnya sibuk mengikat berkas-berkas rambutnya menjadi sebuah ikatan besar di belakang kepalanya.
Sasuke mendongakkan kepalanya ke atas. "Sebenarnya kuil itu apa?" gumamnya.
Sakura menolehkan kepalanya ke arah Sasuke. "Sasuke-kun tidak tahu apa itu kuil?" tanyanya tak percaya.
Sasuke menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak."
Sakura beberapa kali mengerjapkan matanya, tak percaya dengan apa yang ia baru saja dengar dari mulut bocah laki-laki di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Sasuke penasaran. Ia mendengar suara terkikik yang tertahan keluar dari mulut mungil gadis kecil di sampingnya.
Sakura mengangkat sebelah tangannya ke hadapan Sasuke. "T-tidak ada apa-apa. Hanya saja aku jarang mendapati ada anak laki-laki berumur 10 tahun dan tidak mengerti apa itu kuil," jelasnya.
"U-urusai na," balas Sasuke. Ia mengalihkan wajahnya ke arah berlawanan, berusaha menutupi wajahnya yang bersemu merah akibat menahan malu.
"Kuil adalah tempat untuk memuja para dewa yang dilakukan oleh manusia, dalam rangka untuk memberi ucapan syukur maupun meminta pertolongan. Kuil umumnya dilindungi oleh seorang dewa tertentu, di mana antara satu dewa dengan dewa yang lain memiliki tugas yang berbeda.
"Kuil sendiri tidak hanya berisikan para dewa, namun juga manusia yang diminta untuk menjadi perantara antara dewa dengan para pemujanya. Oleh sebab itu, kuil memiliki seorang pendeta, yang berfungsi sebagai perantara. Terkadang juga ada para miko, yang bertugas untuk melayani kebutuhan para dewa.
"Sehingga antara satu kuil dengan kuil yang lain, keberadaannya adalah saling melengkapi," jelas Sakura panjang lebar.
Sasuke menatap gadis di sampingnya takjub. Penjelasan yang ia dengarkan tak seperti penjelasan yang ia dapat dari mulut seorang gadis berumur 9 tahun. Apa yang dikatakan Sakura, seperti sebuah penjelasan yang diberikan oleh orang yang telah mahir dalam bidang yang ia kuasai. Beberapa kali ia mengerjapkan kedua kelopak matanya takjub. H-hebat sekali, gumamnya.
"Ehm.. Kau tahu darimana semua hal itu, Sakura-chan? Kurasa penjelasanmu itu bukan penjelasan yang mudah dihapal untuk ukuran anak seumuran kita bukan?" tanya Sasuke, setelah ia mampu mengembalikan kembali kesadarannya dari atas kekagumannya.
Sakura tersenyum bangga. "Tentu saja aku tahu itu, Sasuke-kun. Bukankah aku sudah mengatakannya dari awal. Ayahku seorang pendeta di sini dan ayahku pewaris dari kuil ini."
Sasuke mengangguk kecil.
"Dan kalau ayahku adalah seorang pendeta, tentu saja aku akan dengan mudah mendapatkan segala informasi yang aku mau tentang kuil ini, bukan?"
Lagi. Sasuke mengangguk.
"Dan. Jika ayahku adalah seorang pendeta dan kuil ini diwariskan secara turun temurun, berarti nantinya kuil ini akan diwariskan juga pada anak dari ayahku, kan?"
Sasuke mengangguk pelan.
"Dan jika anak itu adalah aku, maka aku harus bisa mengetahui segala sesuatu tentang kuil ini dari awal hingga akhirnya," tukasnya.
Untuk kesekian kalinya Sasuke menganggukkan kepalanya. Ia hanya termangu mendengarkan perkataan Sakura yang begitu meyakinkan dan menggebu-gebu.
"Souka. Jadi begitu ceritanya kau bisa mengerti tentang semu hal itu?" tanya Sasuke pada akhirnya.
Sakura mengangguk mantap. Ia memasang senyum penuh kebanggaan di wajahnya.
"Ternyata Sakura-chan hebat sekali. Aku tidak menyangka kalau Sakura-chan akan sepintar ini. Aku beruntung sekali bertemu denganmu. Hehe." Sasuke menggenggam tangan mungil Sakura yang terangkat bebas ke udara—hendak membetulkan ikatan kimononya—yang pada akhirnya membuat Sakura tersenyum lebar.
"Arigatou untuk pujiannya, Sasuke-kun," balas Sakura. "Aku juga beruntung bertemu dengan Sasuke-kun. Sasuke-kun tadi juga hebat sekali. Berani mengambilkanku bola."
Mendengar pujian Sakura, semburat kemerahan mewarnai kedua pipi Sasuke. Ia terlihat menggosok hidungnya.
Bruk. Prak. .
Suara rentetan kegaduhan memenuhi halaman kuil tersebut. Dengan sigap Sasuke turun dari pinggiran pondok tersebut, dan berdiri. Berusaha mencari tahu asal suara tersebut. "Apa itu?"
"Seperti suara benda pecah atau rusak," jawab Sakura. Ia memutar kepalanya untuk mencoba mencari tahu asal kegaduhan tersebut.
Bruk. Bruk. Duak.
Sekali lagi terdengar suara benda terjatuh. Dan suara tersebut semakin dekat dengan posisi Sasuke dan Sakura berada.
Sasuke bersiap dengan kuda-kuda bela diri yang ia pelajari, berusaha mencegah hal yang tak diinginkan terjadi. Sedangkan Sakura berdiri dengan sikap defensif memantau sekelilingnya.
Sikap kedua bocah tersebut semakin defensif seiring berjalannya waktu. Sasuke menelan ludahnya pelan. Kedua iris onyx-nya tak lepas-lepasnya memperhatikan sekelilingnya. Detak jantung Sakura terdengar berdegup kencang di indra pendengaran Sasuke.
Srak.
Sasuke mengarahkan kakinya ke depan ketika mendengar suara gemerisik yang muncul. Ia memasang kuda-kudanya kuat serta memposisikan kedua tangannya di depannya. Dengan ragu-ragu Sasuke berjalan menuju asal gemerisik tersebut. Ia berjalan menuju sekumpulan sesemak yang berada tak jauh dari kolam tempatnya ia tercebur.
"Sasuke-kun?"
"Sshh.. Tenang saja, Sakura-chan. Tidak apa-apa," jawab Sasuke. Ia semakin mendekati sekumpulan semak-semak itu. Dan secara tiba-tiba...
"SASUKE!"
"Kyaaaa..."
Sasuke sekuat tenaga berlari dari sosok yang baru saja keluar dari gerombolan semak itu. Walau secara jujur, ia kaget sosok yang secara tiba-tiba muncul di hadapannya. Apalagi sosok itu meneriakkan namanya dengan keras.
Dan terjadilah acara kejar mengejar antara Sasuke dengan sosok misterius itu. Sedangkan Sakura hanya termangu, bingung dengan pemandangan yang ia lihat.
.
.
"Kau membuat masalah, baka Otouto!"
Sasuke mengusap pelan puncak kepalanya—yang baru saja dihadiahi sebuah bogem mentah oleh Aniki-nya. Sakit, runtuknya dalam hati.
"Kau dengar apa yang aku katakan bukan, Sasuke?" tanya Itachi. Ia meletakkan telapak tangannya pada puncak kepala Sasuke. "Gomen."
Sasuke mengangguk kecil. "Hn."
"A-ano..."
Itachi memutar kepalanya ke arah Sakura yang berdiri tak jauh darinya. "Ah, maaf. Karena tidak sopan tiba-tiba muncul dari semak-semak itu tanpa lewat pintu gerbang," ucap Itachi.
Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa. Tapi..." Sakura menatap Sasuke yang mengusap puncak kepalanya yang sepertinya terdapat benjolan kecil. "Apa Sasuke-kun baik-baik saja?" Pandangan khawatir terlihat jelas di kedua iris viridian gadis kecil itu.
Itachi menatap Sakura bingung. Lalu ia menelan ludahnya pelan. "Ah, jangan khawatirkan si bodoh ini, dia.."
"Aku tidak bodoh, Nii-chan," sela Sasuke kesal.
Itachi menghela napas. "Ya, maksudku Sasuke tidak apa-apa. Hal seperti ini sudah biasa di antara kami. Jadi, ini bukan hal besar," jawab Itachi.
Sakura mengangguk paham. "Baguslah kalau begitu," timpalnya ragu-ragu.
"Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diri, kan?" tanya Itachi. Ia menjulurkan sebelah tangannya ke arah Sakura, "namaku Itachi, Uchiha Itachi. Salam kenal."
Sakura menyambut uluran tersebut. "Sakura. Haruno Sakura. Salam kenal, Itachi Nii-san," jawabnya pelan.
"Sakura? Nama yang bagus."
Sakura mengangguk kecil. "Sebenarnya..."
"Kalau begitu, kami pulang dulu, Sakura-chan."
Sakura terkejut dengan perkataan Itachi. Kedua matanya terbelalak lebar. Sasuke pun tak kalah kagetnya. "Apa?" teriak Sasuke.
"Kenapa, Otouto?" tanya Itachi.
"Kenapa cepat sekali, Onii-chan?"
"Karena sebentar lagi matahari akan terbenam. Bukankah ayah sudah berkata untuk menemuinya saat matahari terbenam?"
"T-tapi..."
"Tak ada tapi-tapian. Sekarang kita pulang," sergah Itachi. Ia menarik tangan Sasuke untuk berdiri dari posisinya yang terduduk bersila di tanah.
Mau tidak mau Sasuke mengikuti perintah kakaknya. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah Sakura yang berdiri mematung.
"Sakura-chan?" panggil Sasuke.
Sakura menatap Sasuke bingung. "Iya?"
"Gomen kalau aku menyusahkan," ujar Sasuke.
Sakura menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak kok, Sasuke-kun. Malah hari ini sangat menyenangkan sekali untukku."
Wajah Sasuke bersemu merah tipis. "Benarkah? Hehe." Ia menggaruk kepalanya canggung.
Sakura menggangguk mantap.
"Kalau begitu, aku janji akan kembali lagi nanti. Tapi aku tidak bisa berjanji itu kapan. Tapi pasti aku akan menemui Sakura-chan lagi."
Sakura tersenyum lebar. "Janji?" Ia mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Sasuke.
Sasuke menyambut jari tersebut dan mengaitkan jari kelingkingnya di jari Sakura. "Janji."
Kedua bocah tersebut tersenyum lebar satu sama lain. Tak sabar akan janji yang telah mereka buat antar satu sama lain.
.
.
"Kau mengatakan apa pada Sakura-chan, Sasuke?" tanya Itachi dalam perjalanan menemui sang ayah.
Sasuke memalingkan wajahnya. "Tak ada yang penting."
Itachi menaikkan sebelah alisnya, penasaran. "Benar?"
"Iya. Benar. Lagipula kenapa Nii-chan begitu ingin tahu? Itu kan rahasia antaraku dengan Sakura-chan saja."
Itachi mengerjapkan matanya sekali. Wow, rupanya adikku ini sudah bisa bermain rahasia-rahasian, gumamnya dalam hati. Tapi karena ia tak mau membuat Sasuke ngambek lagi dengannya, akhirnya ia hanya terdiam, tanpa bertanya lebih lanjut.
Mungkin mereka berencana untuk bertemu lagi, tapi, terserah mereka sajalah.
.
.
Sudah sekitar 6 bulan berjaan setelah perjalanan Sasuke untuk pertama kalinya ke dunia manusia. Selama beberapa minggu setelah pertemuan singkat antara Sasuke dengan Sakura, bocah Uchiha itu sering terlihat menyelinap keluar menuju dunia manusia. Hanya untuk menemui Sakura.
Terkadang saat bertemu mereka hanya menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di pinggiran bangunan kuil. Ataupun bermain-main dengan beberapa serangga yang beterbangan di sekitar kuil. Juga bercerita satu sama lain tentang keseharian mereka yang mereka alami di dunia mereka masing-masing.
Sasuke sendiri masih belum memberitahukan identitas dirinya sebagai seorang youkai pada Sakura. Ia takut jika ia memberitahukan hal tersebut, kemungkinan besar gadis berambut bak permen kapas itu akan menghindarinya, bahkan yang terburuk memusuhinya.
Jadi selama Sasuke berkunjung, ia tak pernah memberitahu identitas aslinya. Ia selalu menekan reiryoku dirinya. Berusaha menjadi semanusiawi mungkin. Dengan harapan, ia akan selalu bisa berada di samping gadis kecil itu untuk seterusnya.
.
.
Pertemuan mereka mungkin telah digariskan oleh takdir. Karena awal dari semua kisah ini berawal dari pertemuan di antara kedua anak kecil yang berbeda dunia itu.
.
.
Tsuzuku
Glosarium :
Youkai : makhluk supernatural dalam cerita rakyat Jepang. Yang termasuk dalam kategori youkai seperti hantu, iblis, makhluk jejadian, dsb.
Onmyouji : sekelompok pembasmi youkai, awalnya merupakan sekumpulan warga sipil yang bisa melakukan sihir serta doa untuk pengusiran setan.
Reiryoku : hawa kehidupan atau kekuatan roh. Di sini diartikan sebagai hawa keberadaan seorang youkai.
Yatta!
Akhirnya bisa update, setelah berbulan-bulan tidak update T^T9 Karena kesibukan kuliah, dkk, juga adanya writer block yang parah -_- orzz... Tapi akhirnya Fai-chii bisa ngupdate juga :""D
Untuk chapter ini masih merupakan flashback hubungan Sasuke dengan Sakura, chapter ke depan juga masih merupakan flashback. Dan di chapter ini, usia Sasuke dan Sakura masih sekitar 10-11 tahun
Dan karena liburan sudah di depan mata /nari-nari/ sepertinya updatenya akan sedikit cepat :D tapi entah kapan /digeplak/ Doakan saja bisa update cepat :D Dan yang udah nunggu Reverse Moon, gomene, ide masih stuck, jadi tidak akan update sementara /bows/
Pojokan review (sedikit kok) :
Ajisai Rie : Rie~~ ini sudah update dan semoga puas ya :D hehee makasi udah review X3
Trancy Anafeloz : Yuhuu, Trancy.. Udah update noh XD maafin kalo lama banget ya TT^TT otak lagi ngestuck, jadi baru sekarang ngupdate /plak Semangat juga :D
karikazuka : ahe.. iya, buat trasi XD dan tenang aja semua aku lanjutin, tapi entah selesainya /plak makasi udah review XD
Lucifionne : yuhuu, mila~ pengertian youkai dan onmyouji udah aku cantumin :D hehee makasi sudah review nee~ X3
miyank : kita lihat saja nanti :D hehe Fai-chii tidak bisa cerita di sini. Makasi sudah review X3
Akhir kata,
Mind to RnR? :D
