Kalau kukatakan maaf padamu saat ini, apakah kau mau memaafkanku? Akankah kau akan kembali menjadi dirimu yang dulu? Dirimu yang akan selalu tersenyum ramah padaku, menerimaku dengan tangan terbuka.
Akankah itu terjadi?
Apakah kau mau memaafkanku untuk kali ini saja?
Sakura.
.
.
Eternal Wings
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto
Genre : Supernatural, Romance
Warning : AU, typo, OOC
A request fic by Trancy Anafeloz
.
.
Enjoy Reading
Chapter 3 : Pengingkaran Janji
3 tahun kemudian...
Hari ini adalah hari yang cukup berangin. Dahan-dahan pepohonan sakura itu bergerak seirama mengikuti aliran angin. Terombang ambing ke kanan dan ke kiri. Membuat daun-daun yang mulai berwarna kecoklatan rontok satu persatu.
Namun, kondisi itu tak meyurutkan semangat dua insan yang tengah bercengkerama di bawah pohon Sakura. Mereka dengan asyiknya saling mencubit, melempar satu sama lain dengan rontokan daun, bahkan saling mengolok.
"Itu karena Sasuke-kun saja yang payah. Masa hanya karena kesulitan menangkap katak, Sasuke-kun tercebur ke kolam. Sasuke-kun payah," ujar gadis berpakaian tradisional pada pemuda yang duduk di sampingnya.
Sasuke melirik ke arah gadis di sampingnya. "Itu karena permintaanmu yang aneh itu, Sakura-chan. Kenapa kau malah memintaku untuk mengambilkan katak? Kau kan bisa mengambilnya sendiri," balasnya.
Sakura terkikik pelan. Ia mencubit pelan tangan Sasuke. "Sasuke-kun 'kan tahu kalau aku tidak suka dengan katak. Mana mungkin aku berani mengambilnya." Ia bergidik. "Melihatnya saja membuat seluruh tubuhku terasa gemetaran."
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. "Lalu kenapa kau memintaku untuk mengambilkan katak itu?"
"Untuk percobaan."
"Percobaan? Percobaan apa?"
Sakura meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya. Lalu ia mengerling. "Ra-ha-si-a."
Sasuke memanyunkan bibirnya. "Kau selalu bermain rahasia-rahasiaan. Dan akhir-akhir ini semakin sering saja," timpal Sasuke.
Sakura tersenyum. "Gomena, Sasuke-kun. Tapi aku tidak bisa memberitahukanmu percobaan apa yang aku lakukan. Gomenne." Ia mengatupkan kedua telapak tangannya, lalu mengarahkannya ke Sasuke.
Sasuke mendengus pelan. Sakura hanya meringis melihat reaksi lawan bicaranya. Ia meletakkan kembali tangannya ke atas kedua pahanya yang tertutup kimono.
Sasuke melirik ke Sakura. Dan tanpa izin, ia secara tiba-tiba merebahkan badannya ke samping dan meletakkan kepalanya di atas paha Sakura.
Sakura yang kaget, memekik tertahan. "Sasu—"
Sasuke menutup bibir Sakura dengan telapak tangannya. "Diamlah. Biarkan aku tidur sebentar saja."
Mendengar perkataan Sasuke, Sakura mengangguk kecil. Pemuda itu pun menarik tangannya dari wajah Sakura, lalu melipatnya ke depan dadanya. Kemudian ia memejamkan kedua kelopak matanya, menikmati semilir angin yang berhembus di sekitarnya. Sedangkan Sakura menyandarkan kepalanya ke batang pohon sakura tempatnya duduk.
Hembusan angin secara perlahan memainkan helaian demi helaian rambut Sakura yang tergerai bebas. Sakura terlihat memejamkan matanya, ikut menenangkan pikirannya sejenak.
Waktu-waktu seperti inilah yang sangat disukai oleh Sakura. Di saat ia dapat mengistirahatkan benaknya dari kesehariannya yang sangat padat. Walaupun waktu-waktu itu sangatlah singkat.
"Nee, Sasuke-kun," ucap Sakura secara mendadak. Ia memainkan helaian rambutnya yang tersampir di sebelah telinga.
Sasuke membuka kelopak matanya sebelah, menatap Sakura. "Hn?"
"Apa Sasuke-kun percaya dengan youkai?" Sakura menatap hamparan awan yang terbang melayang di atas langit biru nan luas itu.
Sasuke terkesiap. "Hah?"
"Apa Sasuke-kun percaya dengan youkai?" ulang Sakura. Kali ini ia memandang iris onyx Sasuke.
Mendengar pertanyaan yang secara tiba-tiba ditanyakan oleh Sakura, Sasuke menelan ludahnya pelan. Ia bingung harus berkata apa. Youkai? Tentu saja ia percaya dengan youkai, karena ia sendiri adalah youkai, tapi tidak mungkin ia mengatakan hal itu sekarang pada Sakura. Ia masih belum siap jika Sakura tiba-tiba menjauhinya.
"E-entahlah," jawabnya dengan asal, "kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal seperti itu?"
Sakura tersenyum tipis. Ia mengusap pelan dahi Sasuke. "Tidak ada apa-apa. Hanya ingin tahu pendapat Sasuke-kun saja." Ia dengan pelan mengelus helaian rambut Sasuke.
Sasuke menatap bingung pada gadis di depannya. Kenapa secara tiba-tiba Sakura menanyakan hal itu? Apakah karena ia tahu aku youkai? Tidak. Kurasa Sakura tidak mengetahui hal ini, lebih tepatnya belum. Lalu kenapa? tanya Sasuke dalam hati. Kedua alisnya berkerut.
Puk.
"Auw," erang Sasuke. "Apa-apaan kau, Sakura?" omelnya seraya mengusap pelan dahinya yang baru saja ditepuk cukup keras oleh gadis di sampingnya.
Sakura terkikik geli. "Habis Sasuke-kun berkerut begitu. Kurasa kalau kulakukan hal seperti itu, akan mengurangi kerutan di wajah Sasuke-kun," timpalnya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Sasuke melengos. "Terserah." Ia kembali menutup kelopak matanya lagi. Tak peduli dengan tatapan tajam Sakura padanya yang tak suka dengan jawabannya.
Sakura menggembungkan pipinya. "Sasuke-kun wa baka."
.
.
"Nona Sakura?"
Seorang wanita paruh baya terlihat mendatangi tempat Sakura dan Sasuke duduk. Ia menunduk untuk melihat wajah Sakura.
"Nona?" panggilnya lagi.
Terlihat Sakura tengah tertidur lelap. Kedua kelopak matanya terpejam, deru napasnya teratur. Wanita itu terlihat tak tega untuk membangunkan gadis itu, jika saja ia tak menyadari bahwa seorang pemuda tengah terlelap di pangkuan Sakura.
Dan secara tiba-tiba Sasuke membuka kedua kelopak matanya dan menatap tajam wanita itu. Mau tidak mau wanita itu menunduk dalam, sedikit kaget dengan tatapan Sasuke. Dengan suara tertahan, wanita itu memberitahu pada Sasuke bahwa Sakura tengah dicari oleh Sensei-nya.
"Baiklah. Biar aku yang memberitahunya," janji Sasuke.
Mendengar perkataan Sasuke, wanita itu segera mengangguk paham, lalu membungkuk sedikit memberi salam. Wanita itu pun berlalu meninggalkan Sasuke dan Sakura sendirian.
Sasuke menghela napas. Kejadian ini sering terjadi, ketika mereka tengah bermain atau berbincang satu sama lain, wanita itu selalu muncul dan mengatakan bahwa Sakura tengah dicari oleh Sensei-nya. Kemudian Sakura akan segera beranjak dari tempat itu, meninggalkan Sasuke dengan mengatakan bahwa ia harus menemui Sensei-nya, karena ia harus segera belajar atau apalah itu.
Ketika Sasuke bertanya apa yang Sakura pelajari, Sakura selalu mengelak, sama seperti saat ia bertanya untuk apa ia mengambilkan katak jika Sakura takut dengan hewan itu.
"Gomene, Sasuke-kun. Aku tidak bisa banyak bercerita tentang hal ini. Lagipula Sasuke-kun tahu bukan kalau aku akan menjadi pewaris kuil ini? Sensei mengajarkan hal itu padaku. Dan aku harus datang."
Dan setiap Sakura mengatakan kalimat itu, iris Sakura akan memancarkan emosi—gundah, marah bahkan terkadang kesedihan—yang secara tak kasat mata tertangkap oleh Sasuke. Dan Sasuke hanya mampu berdiam, tak banyak bertanya karena ia tak ingin Sakura memarahinya seperti yang dilakukan oleh gadis itu beberapa waktu yang lalu.
"Kurasa Sasuke-kun tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Karena apa yang aku lakukan ini adalah tugas. Kewajibanku! Jadi Sasuke-kun tidak perlu mengatakan hal-hal aneh itu. Aku tahu apa yang kulakukan ini, Sasuke-kun!"
Akibat pertengkaran kecil itu, Sakura tak mau menemui Sasuke selama 2 minggu penuh. Sakura selalu menolak jika Sasuke datang ke kuil. Meminta pada wanita itu untuk menolak Sasuke. Walaupun setelahnya Sakura mau menemui Sasuke kembali, setelah Sasuke mengiriminya sepucuk surat yang berisikan permintaan maaf.
Dan sejak saat itu, Sasuke sebisa mungkin berusaha untuk tidak menyinggung apapun yang dilakukan oleh Sakura. Ia tak ingin kejadian lama itu terulang lagi.
"Sakura," panggilnya, "Sakura. Bangun." Ia menyentuh pelan tangan Sakura yang terlipat di perutnya.
Mendengar namanya dipanggil, gadis besurai bak permen kapas itu mengerjap-erjapkan kelopak matanya sejenak. Lalu mengarahkan pandangannya ke arah Sasuke yang tengah duduk tegak di hadapannya. "Aa, Sasuke-kun, ada apa?" tanyanya seraya mengusap matanya dengan tangan kiri.
"Kau sudah dipanggil," ujarnya.
Mengerti apa yang dimaksud 'panggil' oleh Sasuke, ia mengangguk paham. "Begitukah? Lebih cepat dari yang biasanya," gumamnya.
Sasuke mengangguk kecil. "Sepertinya begitu."
Sakura memandang raut wajah Sasuke sekilas. Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah Sasuke. "Maafkan aku, Sasuke-kun. Setiap kita bermain seperti ini selalu saja ada gangguan. Apalagi Sasuke-kun sudah capai-capai datang ke kuil. Tapi bagaimana lagi ini adalah—"
Sasuke menangkap tangan Sakura. "Jangan katakan apapun. Aku sudah tahu itu. Jangan khawatir, Sakura."
Sakura tersenyum tipis.
Sasuke beranjak dari tempatnya duduk, lalu bangkit berdiri. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Sakura. "Ayo. Kalau kau tidak segera ke sana, bisa saja Sensei-mu itu marah."
Sakura menyambut uluran tangan itu. Ia tersenyum kecil. "Arigatou, Sasuke-kun," ucapnya.
Sasuke mengangguk pelan. Ia mendorong pelan punggung Sakura. "Pergilah."
Sakura membalikkan badannya, lalu membungkuk kecil. "Sampai jumpa, Sasuke-kun. Terima kasih dan sekali lagi gomenassai," ujarnya seraya berlari ke arah kuil, meninggalkan Sasuke yang tengah terdiam menatapi kepergian Sakura.
"Jaa, Sakura."
.
.
Entah apa yang merasuki pemuda itu, ketika ia tiba-tiba saja berlari dari kamarnya menuju ruangan utama di kediaman utama. Dengan kecepatan yang bisa dibilang cukup cepat, ia melesat melewati lorong demi lorong kediaman tersebut dan segera menuju ruangan utama.
"Tou-san!"
Fugaku menegakkan kepalanya—yang sedari tadi menunduk melihat berkas-berkas dokumen di atas mejanya—melihat putranya tengah berdiri di dekat shōji ruangannya dengan napas terengah-engah.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Fugaku tenang. "Kenapa kau berlarian seperti itu?"
Sasuke mengumpulkan napasnya pelan. "S-sumimasen, Tou-san. Tapi..."
"Duduk dulu. Baru bicara," perintah Fugaku seraya menepuk pelan bantal duduk kosong di sebelahnya.
Sasuke menuruti perintah sang ayah, ia berjalan pelan ke arah bantalan duduk yang ditunjuk oleh Fugaku.
"Jadi, apa yang mau kau tanyakan, Sasuke?" tanya Fugaku saat Sasuke duduk.
Sasuke mengambil napas dalam-dalam. "Apa benar Tou-san akan berhenti dari kepemimpinan Uchiha Clan ini?" Tatapan mata Sasuke menyiratkan ketidakpercayaan.
Fugaku memandang Sasuke tenang. Ia tahu lama kelamaan berita itu akan terdengar juga di telinga kedua putranya. Dan tentu saja ia tahu siapa yang akan paling menentang hal ini.
"Ya, memang benar aku akan berhenti menjadi ketua."
"Kenapa?" tanya Sasuke gusar. Ia meletakkan kedua tangannya ke lututnya, menekan kedua lututnya kuat.
"Karena sebentar lagi masaku akan berganti, jadi lebih baik sekarang saatnya aku untuk berhenti."
"Memang siapa yang akan menggantikan Tou-san? Tak ada yang sehebat Tou-san."
Fugaku menghela napas pelan. Ia menatap mata putranya. "Kau."
Sasuke mengerjapkan matanya beberapa kali. "Hah?"
"Kau, Sasuke. Kau yang akan menggantikan aku nantinya," jelas Fugaku. Dan itu sudah cukup membuat Sasuke melebarkan kedua matanya dengan kaget.
"Hah?"
.
.
Baiklah, kalau itu memang keputusan Tou-san. Tapi kenapa harus secepat ini? runtuk Sasuke. Kedua tangannya menutup wajahnya yang terlihat kacau, walau seharusnya ia nanti tampil dengan penampilan yang menawan.
Nanti? Ya nanti. Saat matahari telah menyingsing ke baratlah, upacara pengangkatan Ketua Uchiha Clan akan dilangsungkan. Upacara tersebut akan dihadiri oleh seluruh Clan berpengaruh di dunia youkai. Dan upacara ini bukanlah sembarang upacara, melihat dari reputasi Uchiha Clan sebagai salah satu dari 4 clan terbesar dan terkuat yang berdiri sebagai tonggak dunia youkai dan juga penghubung antara dunia manusia dengan dunia mereka.
Dan itu semua menambah beban pikiran Sasuke saat ini. Tanggung jawab yang akan ia emban setelah ini bukanlah hal yang main-main. Tugasnya sebagai Ketua Clan tidak hanyalah sebagai pemimpin di antara anggota clan-nya, namun juga terkadang ia harus bisa menjadi penengah dalam rapat-rapat besar. Dan sejujurnya ia masih belum siap, walau ia sudah mendapatkan pembekalan itu sejak ia masih kecil, namun ia masih belum yakin akan kemampuannya.
Bukan karena ia tak mampu menjalankannya, namun jika ia melihat akan besarnya tanggung jawabnya, itu membuatnya teringat akan resikonya. Resiko yang amat besar jika ia gagal menjalankan tugasnya itu.
Namun, bukan Sasuke namanya jika ia berhenti di pertengahan macam ini. Walau dengan segala macam resiko dan tanggung jawab yang harus ia emban nantinya, ia tak akan mundur. Hal itu sudah menjadi semacam pegangan baginya.
Sasuke menegakkan kepalanya. Kedua tangannya ia kepalkan di samping tubuhnya.
"Sasuke-sama. Upacara akan segera dilaksanakan," ucap seorang gadis berpakaian pelayan padanya.
Mendengar apa yang dikatakan gadis itu, Sasuke membangkitkan dirinya dan berjalan menuju pintu shoji ruangannya. Dengan kepala tegak, ia berjalan menuju ruangan utama, untuk menghadiri upacara pengangkatan dirinya. Sebagai kepala Uchiha Clan.
.
.
"Kurasa apa yang kukatakan itu sudah cukup jelas, Orochimaru-dono. Kita tidak bisa mengganggu teritori mereka," ucap pemuda berambut raven itu seraya melipat kedua lengannya ke dalam lipatan kimono gelapnya.
Sang lawan bicara memasang sebuah senyuman misterius di wajahnya yang berkulit pucat. Ia memejamkan matanya. "Tapi, kita tak bisa terus menerus membiarkan mereka berusaha untuk menutup jalan kita ke dunia mereka," balasnya, "lagipula kita sebagai youkai tak bisa selamanya hanya menggantung hidup pada jiwa kehidupan, tapi youkai juga memerlukan reiryoku untuk bertahan hidup, Uchiha-dono."
Sasuke terlihat tak tertarik dengan percakapan yang tengah ia lakukan ini. Lawan bicara di hadapannya saat ini adalah kepala keluarga Hebi Clan, Orochimaru, yang terkenal dengan akal liciknya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Walaupun begitu, kita tidak bisa melanggar perjanjian yang telah dibuat oleh Kepala Keluarga Uchiha Clan yang terdahulu dengan pihak sana. Perjanjian itu sangatlah sakral," timpal Sasuke dengan kesal.
Senyuman Orochimaru semakin mengembang. "Tapi perjanjian tersebut tak tertulis sama sekali. Tentu perjanjian itu bisa dianggap tak pernah ada, Uchiha-dono."
"Dalam dunia kita tak ada yang namanya perjanjian tertulis. Perjanjian yang dilakukan hanya akan diwariskan dari satu generasi ke generasi, tanpa ada kertas macam apapun yang mewakilinya. Hal itu merupakan hal yang wajar, Orochimaru-dono." Terdengar geraman pelan dari tenggorokan Sasuke saat ia mengatakan kata-kata terakhir.
"Tapi itu adalah cara kerja manusia, jadi setidaknya—"
"Manusia. Itu cara mereka. Bukan youkai, Orochimaru-dono. Itu bertentangan dan berbeda."
Orochimaru tersenyum licik setelah mendengarkan tanggapan Sasuke. Dilihat dari caranya melihat Sasuke saat ini, seakan ia sangat puas dengan reaksi yang dilakukan oleh sang Uchiha. Seakan apa yang dilakukan oleh Sasuke sudah ia perkirakan sejak sebelumnya.
"Baiklah jika itu yang Anda katakan, Uchiha-dono. Tidak masalah jika Anda tak menerima dengan rencana yang saya ajukan. Lagipula jika Anda begitu yakin bahwa mereka, manusia, bisa menepati janji mereka sendiri, saya hanya bisa mengikuti anjuran Anda saja," ucap Orochimaru pada akhirnya. Senyuman liciknya tak lepas juga dari wajahnya.
Sasuke menghela napas dengan berat. Ia sangat membenci lawan bicaranya saat ini. Walau ia telah menggertak dengan berbagai macam cara, Orohimaru terlihat tak gentar sama sekali. Ia bahkan menikmati gertakan Sasuke, seakan ia sudah memprediksikan hal tersebut dan menunggu Sasuke untuk melakukannya.
"Baiklah. Jadi untuk terakhir kalinya kukatakan padamu, Orochimaru-dono. Jangan ganggu dunia manusia. Jangan pernah mengusik daerah kekuasaan mereka. Kita, youkai memiliki daerah kekuasaan sendiri. Dan mereka juga memiliki daerah mereka sendiri. Kedua belah pihak tak bisa saling mengusik satu sama lain. Ingat baik-baik itu, Orochimaru-dono."
Orochimaru tersenyum mendengar perkataan Sasuke. "Kata-kata Anda sangatlah luar biasa, Uchiha-dono. Sangat berpengaruh. Dan saya berjanji akan menuruti perkataan Anda. Karena itu merupakan jalan terbaik, bukan?"
Sasuke mengangguk kecil.
"Baiklah kalau begitu," Orochimaru bangkit berdiri lalu membungkukkan badannya kecil, "saya undur diri dahulu, Uchiha-dono. Kedatangan saya ke sini hanyalah untuk mengemukakan pendapat dari Hebi Clan kepada Anda. Saya permisi dahulu."
Pria berwajah pucat itu pun keluar meninggalkan Sasuke di ruangan kerjanya. Dalam perjalanannya menuju kelompoknya—yang tengah menunggu dirinya keluar dari ruangan itu—senyuman liciknya tak henti-hentinya mengembang, menghiasi wajahnya yang tirus.
.
.
"Satu. Dan satu. Tumbuh lalu layu. Tumbuh lalu layu. Bunga nan indah, ke manakah kau akan pergi?"
Alunan lirik yang dilapalkan oleh Sakura, terdengar memenuhi indra pendengaran Sasuke. Walaupun tak adanya iringan musik, alunan lagu nan lembut tersebut seakan menghipnotis Sasuke untuk memejamkan matanya barang sejenak saja.
Melihat Sasuke yang tengah menutup kedua kelopak matanya, Sakura menghentikan nyanyiannya. Dengan pelan, ia mencubit pelan pipi Sasuke, yang tak lama kemudian disusul dengan erangan Sasuke.
"Apa yang kau lakukan?" sergahnya.
"Membangunkan Sasuke-kun si Tukang Tidur," jawabnya dengan nada polos.
Sasuke menghela napas. "Aku bukan tidur, hanya mengistirahatkan pikiranku saja."
"Itu sama saja dengan tidur, Sasuke-kun."
Sasuke tak menganggap kata-kata Sakura. Pikirannya kembali melayang ke pertemuan terakhirnya dengan pemimpin Hebi Clan. Apa yang sedang direncakannya?
Merasa jika pemuda di sampingnya tengah berkelana entah ke mana, Sakura mengusap pelan lengan pemuda itu. "Apa ada masalah?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
Sasuke menolehkan kepalanya ke arah Sakura—raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran. Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Tidak ada apa-apa." Diusapnya pelan surai Sakura dengan tangannya yang bebas. "Hanya sedikit lelah."
Iris viridian itu tak bergeming dari tatapannya. Ia masih tetap menatap lekat pemuda di sampingnya dengan pandangan khawatir. "Benarkah?"
Senyuman simpul terkuak di wajah Sasuke. "Ya. Tentu. Jangan tunjukkan raut macam itu—" dengan pelan ia menurunkan tangannya dari puncak kepala Sakura menuju wajah lalu mencubit pelan salah satu pipi itu, "padaku, Sakura."
"I-ittai nee, Sasuke-kun," erang Sakura. Ia melepas lengan Sasuke lalu beralih mengusap 'korban' keusilan Sasuke. Dikerucutkannya bibirnya dengan sebal.
"Gomen."
Hanya dengan satu kata itu, mampu membuat Sakura mengembangkan senyumannya kembali. "Uhm. Daijoubu."
Cling. Cling.
Sebuah dering yang berasal dari dalam kuil terdengar bergema ke seluruh wilayah kuil. Dengan sigap Sakura berdiri dari tempatnya duduk dan meringkas beberapa barang miliknya.
Melihat tingkah Sakura, Sasuke mengangkat alisnya, heran dengan kelakuan janggal dari gadis di sampingnya. "Ada apa?"
"Sumimasen, Sasuke-kun." Sakura terlihat terburu-buru meringkas benda-bendanya dan merapikan kimono kuning gadingnya. "Itu adalah tanda bahwa sensei-ku sudah datang, aku harus ke sana segera."
Pemuda itu menatap Sakura dengan heran. Sensei-nya? Ini bukan pertama kalinya ia mengetahui keberadaan Sensei Sakura di kuil dan bukan pertama kalinya ia tahu bahwa Sakura harus menghadap Sensei-nya itu. Dan Sakura akan bersikap biasa saja, sama seperti sebelumnya, namun tidak untuk hari ini. Juga bunyi lonceng yang secara tiba-tiba terdengar. Suara itu tak pernah didengar oleh Sasuke sebelumnya.
Tingkah Sakura hari ini sangatlah janggal. Seakan ia takut. Takut? Mengetahui bahwa Sakura takut itu cukup membuat Sasuke heran. Gadis itu tak pernah takut—hanya untuk beberapa kasus semacam katak—pada apapun.
"Kalau begitu, aku pergi dahulu, Sasuke-kun," ucapnya dengan tergesa-gesa. Sang lawan bicara hanya dapat mengerjapkan kedua kelopaknya kaget.
"Sekarang?"
Sakura menganggukkan kepalanya cepat. "Aku harus segera ke sana. Kalau tidak Sensei akan marah padaku."
Sasuke tak menyangka bahwa rencananya untuk memperingatkan Sakura mengenai kondisi dunianya—walaupun Sakura tak mengerti tentang hal itu—akan gagal seperti ini. Tanpa disadari oleh Sasuke, Sakura berlari kecil ke arah kuil.
Mengetahui hal itu, dengan sigap Sasuke bangkit dari tempatnya lalu berlari ke arah Sakura. Ia menangkap pelan lengan Sakura. Merasa lengannya digenggam, gadis bersurai pink itu membalikkan badan seraya menunjukkan raut wajah bingung. "Sasuke-kun?"
"Berhati-hatilah."
Iris viridian itu membelalak kaget dengan ucapan pemuda di hadapannya. Tatapan iris onyx milik pemuda itu terasa tajam di matanya. Seakan hendak menerkam dirinya.
"Apa?" tanyanya dengan bingung.
"Berhati-hatilah." Hanya kata-kata itu yang mampu dikatakan Sasuke pada Sakura saat ini.
Walau ia tak tahu apa arti dari kata-kata yang dilontarkan pemuda raven itu, Sakura mengangguk pelan, memberi tanda bahwa ia mengerti dengan perkataan itu. "Baiklah."
Lega atas jawaban Sakura, Sasuke melepaskan genggamannya dari lengan gadis tersebut. "Baguslah, kalau begitu," ia mendorong pelan punggung Sakura, "pergilah."
Sebuah senyuman tersungging di wajah Sakura, rona merah terlihat samar di wajahnya. "Hai'. Jaa mata nee, Sasuke-kun," ucapnya.
Sasuke mengangguk pelan. Setelah sosok Sakura tak terlihat dari pandangannya, ia segera meninggalkan tempat itu, menuju dunianya sendiri.
.
.
"Kuso! Kuso!"
Umpatan-umpatan itu dilontarkan pemuda itu dengan kesal. Terdengar juga decihan tak senang dari bibirnya. Derap langkahnya tak berkurang sama sekali, walaupun sesekali ia menanggapi pertanyaan dari bawahannya.
"Pemberontakan! Terjadi pemberontakan di dunia manusia, Sasuke-sama! Banyak di antara para youkai mengamuk di sana! Mereka menyerang kuil-kuil yang ada di sana. Dan mereka memangsa manusia."
Apa yang sedang terjadi? Kenapa hal ini bisa terjadi?
Pertanyaan itu terngiang secara jelas di dalam kepalanya, berulang kali.
Tanpa menghiraukan panggilan dari segala penjuru kediamannya yang memanggil namanya, ia bergegas menuju gerbang utama, untuk dapat menuju pintu penghubung dua dunia.
Saat ia tengah berjalan menuju gerbang utama, sesosok pemuda menghalangi langkahnya. Sasuke berhenti secara mendadak, diraihnya katana-nya yang tersimpan di balik hakama-nya.
"Apa yang akan Nii-san lakukan? Menghentikanku?" tanyanya.
Itachi yang berada di hadapan Sasuke hanya menatap sang adik dengan pandangan dingin. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya. "Apa yang akan kau lakukan, Otouto?"
"Aku harus ke sana. Ada yang harus kulakukan," jawab Sasuke tegas.
Iris onyx Itachi menelisik Sasuke secara tajam. Tak ada guratan humor dalam tatapannya. Sasuke sendiri tak menunjukkan rasa gentar pada tatapannya. Ia membalas tatapan Aniki-nya dengan tajam. Onyx bertemu dengan onyx.
Suara riuh rendah di sekiling mereka seketika juga berhenti. Para anggota klan Uchiha secara tiba-tiba menutup mulut mereka dan menghentikan aktivitas mereka, ketika mereka merasakan tingkatan reiryoku yang dikuarkan oleh kedua kakak-adik itu meningkat dengan drastis.
Tak ada yang bergerak selama beberapa menit yang terasa menegangkan itu, baik Sasuke maupun Itachi. Keduanya saling menatap satu sama lain, seakan melakukan sebuah telekinesis.
Trak.
Dengan defensif Sasuke mengeratkan pegangan pada katana-nya. Namun, yang dilihatnya adalah Itachi yang mengangkat kedua tangannya ke atas lalu tersenyum dengan penuh arti padanya. Ia mengerjapkan kedua matanya kaget.
"Pergilah," ucap Itachi dengan suara yang cukup keras. Senyuman terpasang jelas di wajahnya. "Tak ada yang bisa menghalangimu, Otouto. Aku juga tak bisa menghalangimu jika—" ia menatap kagum ke arah Sasuke, "—jika jau menatapku dengan pandangan mematikan itu. Pergilah."
Mendengar perkataan Itachi, Sasuke tersenyum simpul lalu berlari melewati sang kakak menuju gerbang utama. Derap langkah Sasuke diikuti oleh sebagian anggota clan tersebut dari belakang.
Dan tanpa basa-basi Sasuke melangkahkan kakinya ke dalam tabir cahaya yang terbuka jelas di dekat gerbang utama. Menuju dunia manusia.
.
.
Raungan kesakitan terdengar jelas di indra pendengarannya. Teriakan demi teriakan menggema keras di dalam area kuil. Namun tubuhnya tak mampu bergerak. Jejak ketakutan jelas terlihat di kedua iris viridian-nya. Tubuhnya bergetar hebat.
Yang bisa ia lakukan adalah terduduk di dalam salah satu lemari geser yang ada di dalam ruangan kamarnya. Meringkuk bagai bola, kedua lengannya memeluk dirinya sendiri dengan erat. Kedua lututnya ia tekuk sedemikian rupa, agar mendekat pada dirinya.
Gadis itu tak mampu menggerakkan sedikitpun tubuhnya. Hanya rintihan dan rengekan tak jelas yang keluar dari bibirnya. Sesekali ia menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan ingatannya akan teriakan-teriakan memilukan itu.
"Sasuke-kun.. Sasuke-kun.. Tatsukete..."
.
.
Kacau. Satu kata itulah yang mampu mendeskripsikan keadaan kuil Ochimizu ketika Sasuke melangkahkan kakinya ke area kuil. Reiryoku dari berbagai macam jenis youkai jelas terasa di area itu. Dengan sekali sentak, para anggota clan Uchiha segera berhamburan ke segala arah, menghabisi para youkai pemberontak itu.
Sasuke sendiri tak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Pikirannya hanya terfokuskan pada satu tujuan.
Menyelamatkan gadis itu. Apapun caranya.
Dengan cepat ia berlari menuju bangunan utama di area kuil itu, yang merupakan kediaman keluarga Sakura. Youkai-youkai yang berada di area itu segera menghadang Sasuke, namun dengan cepat Sasuke menghunuskan katana-nya dan menebas youkai itu secara bersamaan.
Sepanjang perjalanannya menuju kediaman Sakura, ia banyak dihadang youkai-youkai yang jarang ia ketahui. Mereka bukan dari afiliasiku, tapi mengapa?
Amanojaku, Inugami, Kappa, Oni?
Jenis-jenis itu jarang sekali menunjukkan dirinya pada manusia, lalu mengapa sekarang mereka tiba-tiba memberontak? Pertanyaan itu terngiang jelas di otaknya.
Aroma besi berkarat tercium pekat saat ia berhasil memasuki bangunan utama. Dan benar saja di sepanjang lorong bangunan itu, mayat manusia tergeletak dalam keadaan tak wajar. Cairan kehitaman nan pekat terpencar ke segala arah. Bercak-bercaknya tersebar ke segala penjuru.
Tanpa terganggu Sasuke melangkahi mayat-mayat itu, sesekali ia menebas kepala youkai-youkai yang menghalangi jalannya. Tujuannya saat ini adalah menuju ruangan kamar yang berada di ujung bangunan ini. Di situlah Sakuranya tengah menunggunya—itu anggapannya sendiri.
Sesaat ia akan berbelok menuju salah satu lorong, tiba-tiba tubuhnya terdorong keluar dari bangunan. Sesosok oni muncul dari bangunan itu, dengan tangan kiri yang tengah menggenggam sesuatu.
Sasuke yang tengah berusaha berdiri, mengerang kesakitan. Ia memegang pelipisnya yang berdarah akibat hempasan tangan oni itu secara mendadak. Diliriknya sedikit oni itu. Makhluk besar itu tengah memandang remeh dirinya.
"Ada apa bocah?" tanyanya dengan arogan.
Tak menghiraukan pertanyaan makhluk itu, Sasuke segera menebas tangan oni itu lalu melompat ke atas, dengan cepat ia memenggal kepala oni tersebut. Hanya dalam hitungan detik, makhluk itu telah terkapar tak berdaya di tanah.
Tanpa melihat siapa yang ada di dalam genggaman tangan mayat oni itu, Sasuke segera melesat masuk ke dalam bangunan lagi, berlari menuju ruangan Sakura.
Ketika ia hendak mencapai ruangan itu, sebuah jeritan ketakutan terdengar di telinganya. "Sakura?"
Ia berlari menuju asal arah suara tersebut, dan arahnya berasal dari salah satu ruangan kecil yang terletak tak jauh dari ruangan Sakura. Dengan kasar diraihnya shoji itu lalu digesernya dengan kuat.
Dihadapannya terdapat seekor Inugami tengah menjerat leher seorang gadis. Gadis bersurai bak permen kapas.
Kemarahan jelas terlihat dari gurat wajah Sasuke. Dengan hunusan pedang di tangannya, ia menyerang lengan Inugami tersebut cepat, yang menghasilkan inugami tersebut mengerang kesakitan dan melepaskan jeratan cakarnya dari leher Sakura.
"Sakura?" Sasuke menghampiri gadis itu yang tengah tergeletak di atas tatami. Tatapannya khawatir. "Sakura?"
Perlahan kedua kelopak mata Sakura terbuka, menunjukkan manik hijaunya pada Sasuke. "Sasuke-kun?"
Helaan napas lega keluar dari mulut sang pemuda. "Yokatta. Rupanya kau tak apa-apa, aku pikir—"
Belum kata-kata itu selesai, Sasuke telah terlempar menjauh dari Sakura. Tubuhnya menabrak dinding penyekat di ruangan itu dengan keras. Inugami tersebut berjalan menuju Sasuke dan menghempaskan cakarannya tepat ke atas tubuh Sasuke.
"Akh!"
"Sasuke-kun!" jerit Sakura.
Cakaran demi cakaran diterima oleh Sasuke dengan membabi buta, Inugami itu terus menyerangnya tanpa ampun. Ia sendiri merasakan seluruh tubuhnya mulai mengucurkan darah deras.
Aku tidak bisa begini, kalau tidak aku akan mati, gumamnya. Tapi jika aku melawan maka...
Tanpa mengurangi reiryoku-nya, Sasuke menebas lengan Inugami itu dengan cepat. Cairan busuk berwarna kehitaman memancar ke segala arah, ketika Inugami itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seakan menahan kesakitan.
Sakura yang melihat pemandangan itu hanya tercengang, tak mampu berkata apa-apa. Detak jantungnya berdegup kencang ketika ia melihat sosok itu. Sosok Sasuke saat ini.
Dengan mata semerah darah, kedua tangan memegang sepasang katana, dan sepasang sayap hitam bertengger di punggungnya. Menunjukkan jati dirinya. Siapa diri Sasuke sebenarnya.
"Ka..ra..su Te..ngu..?"
Sasuke sama sekali tak melihat ke arah Sakura dengan wujudnya yang sekarang. Ia masih belum bisa. Keputusannya kali ini memang berat untuk ia lakukan, tapi tak ada cara lain. Ia memfokuskan pandangannya ke arah siluman anjing yang tengah menatapnya buas. Deretan gigi-gigi tajam ditunjukkan dengan maksud mengancam ke arah Sasuke. Lolongan terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan itu.
Tanpa menunggu jeda, Sasuke berlari ke arah Inugami tersebut dan menebas lehernya. Dan sesuai dengan dugaan leher itu terlepas dengan sendirinya. Mengetahui apa rencana selanjutnya, disimpannya salah satu katana-nya kembali ke sarungnya. Ia meraih jarum kecil yang tersimpan di balik hakama-nya dan melemparkannya ke kepala Inugami tersebut.
Inugami yang kaget dengan tindakan Sasuke berusaha menghindari jarum itu, namun terlambat. Dengan cepat jarum itu menancap tepat di atas keningnya. Raungan keras terdengar.
Melihat kesempatan terbuka dihadapannya, Sasuke berlari ke arah kepala Inugami tersebut dan menebas kepala itu hingga terbelah menjadi dua. Meninggalkan seonggok tubuh yang perlahan-lahan roboh akibat hilangnya sinkronisasi dengan bagian kepalanya yang telah terbelah. Debuman keras terdengar bersamaan dengan tubuh Inugami itu yang roboh ke atas tatami.
Sasuke menarik napas dalam-dalam sebelum dikeluarkannya secara keras. Disarungkannya kembali katana-nya ke dalam sarungnya. Ia mengembalikan wujudnya ke asal, melipat kedua sayapnya kembali, menormalkan iris matanya menjadi berwarna hitam.
Perlahan ia menengok ke arah tempat Sakura terduduk. Bukan tatapan ketakutan atau ketakjuban yang ada di matanya, yang ada adalah tatapan kemarahan.
Sasuke terkesiap melihat tatapan Sakura yang mematikan. Itu bukanlah tatapan Sakura, gumamnya. Bukan.
Namun dengan berani ia melangkah menuju arah Sakura. Sakura dengan cepat bangkit berdiri, tepat sebelum Sasuke melangkah lebih dekat, ia menjulurkan pedang ke arah Sasuke. Tepat ke wajah Sasuke.
Iris onyx itu terbelalak kaget. Ia tak menyangka gadis yang ia kenal akan menghunuskan pedang ke arahnya.
"Pergi!"
Sasuke mengerjapkan matanya terkejut.
"Aku bilang pergi!"
"Apa—"
Sakura berjalan mendekat sehingga ujung pedang itu tergores sedikit di leher Sasuke. Tatapannya membunuh. Iris viridian itu keruh, tak memancarkan warna hijau bening yang biasanya ditemukan oleh Sasuke.
"Aku bilang pergi! Youkai!" teriak Sakura pada akhirnya.
Sasuke terkesiap mendengar perkataan Sakura. Ia menatap ulang Sakura, namun yang ia dapati adalah rasa kebencian yang begitu mendalam padanya. Tatapannya tak secantik yang ia tunjukkan padanya sehari-hari, seakan Sakura telah berubah 180°. Mematikan. Membunuh. Mengerikan.
"Pergi! Atau akan kutebas leher putihmu, Tengu!"
"Tapi—"
"Pergi kau!" Ujung pedang itu semakin menggores dalam kulit Sasuke. "Gara-gara kau... Gara-gara kau!" Kepalanya tertunduk lemas. Setitik air menuruni kedua pipinya.
Sasuke bingung dengan apa yang dikatakan gadis di hadapannya.
"Gara-gara kau aku kehilangan keluargaku! Aku kehilangan segalanya! Itu karena kalian! Youkai!" teriaknya.
Wajahnya tak menunjukkan keceriaan, kebencian terlihat jelas di air mukanya. Digertakkannya giginya, menahan emosi yang telah meluap di dalam dadanya. "Lebih baik kau pergi sekarang, jika kau masih ingin hidup, Uchiha-san. Sebelum aku berubah pikiran untuk membunuhmu."
Dingin. Kata-kata itu dingin. Itu yang dirasakan Sasuke, ketika Sakura mengucapkan kata-kata itu. Terutama ketika ia berkata "Uchiha-san".
"Lebih baik kau segera pergi, sebelum onmyouji yang lain membunuhmu," ucapnya lirih. Ia menatap Sasuke dengan bimbang. "Pergi sekarang! Pergi!"
Dan itulah kata-kata terakhir yang Sasuke pernah dengar yang meluncur dari bibir gadis itu.
Flashback End
.
.
Pikirannya kembali ke masa sekarang. Di mana akhirnya ia dapat bertemu lagi dengan gadis itu, walaupun dengan kondisi yang tak wajar. Ia membuntuti gerak-gerik gadis itu, tanpa sepengetahuannya.
Ia berjalan dengan tenang menyusuri lorong rumah itu. Dari arah berlawanan dengan arahnya, terlihat sesosok pria tengah bergerak mendekat. Dilihatnya pria tersebut tersenyum padanya.
"Apa saja yang kau lakukan di kamar, Otouto?" tanya pria tersebut. Ia melambaikan tangannya ke atas.
"Tidak ada apa-apa, Nii-san. Aku hanya merenung sebentar," jawabnya tanpa menghentikan langkah kakinya, "lagipula ada masalahkah selama aku tidak ada?"
Pria tersebut menggeleng. "Tidak, tidak ada masalah. Hanya saja aku sedikit khawatir dengan adikku yang sejak tadi sore tak kunjung keluar dari ruangannya. Lagipula agak sedikit gawat juga kalau kau tak segera menuju ruangan utama sekarang, karena pihak 'itu' hanya mau mendengarkan perkataanmu saja," jelas Itachi—yang merupakan kakak Sasuke—dengan singkat.
Sasuke menghela napas pendek. Kedua tangannya ia lipat ke depan dadanya dan menyembunyikan telapak tangannya ke dalam lipatan kimono gelapnya. "Sudah kuduga," gumamnya.
Itachi tersenyum tipis melihat reaksi adiknya. "Yah, kau tahu sendiri bukan 'mereka' tak pernah mau mendengarkan kata-kataku. Benar-benar merepotkan sekali," omelnya.
Mendengarkan perkataan Aniki-nya, sebuah senyuman kaku terpasang di wajah Sasuke, seakan menahan tawa. "Karena Nii-san tahu, mereka tak percaya dengan kemampuan Nii-san," ucapnya.
Itachi mengangkat sebelah alisnya. "Kau bercanda. Tak ada yang kurang dari diriku ini, Otouto. Mereka saja yang cerewet, tidak mau mendengarkan kata-kataku. Toh, apa yang kukatakan nantinya juga akan sama dengan apa yang akan kau katakan." Ia meletakkan lengannya ke depan, memijat pelan dagunya.
"Posisi. Mereka mempermasalahkan posisi, Nii-san," ujar Sasuke. Mereka berdua berjalan beriringan menuju kediaman utama. "Mereka tak akan pernah mendengarkan perkataan Nii-san jika melihat posisi Nii-san."
"Aku lebih tinggi dari mereka, kau tahu, Otouto?" balas Itachi. Kedua tangannya ia lipatkan ke dalam lengan kimononya.
Sasuke menyikut lengan Itachi dengan sebelah tangan, ia mengerling pada Aniki-nya. "Tapi, masih lebih rendah dari posisiku, Nii-san." Ia mempercepat langkah kakinya, berjalan menuju ruangan utama, untuk menemui "tamu"nya. Meninggalkan Itachi yang tengah merengut.
"Mereka terlalu berlebihan," ujar Itachi perlahan.
Sasuke tersenyum tipis mendengar perkataan Itachi. Memang, terlalu berlebihan jika dilihat dari sisi manapun. Dan mungkin banyak bertanya mengapa "tamu" Sasuke tak mau mendengar perkataan Itachi, jawabannya memang sederhana. Namun, masalah lainnya tak sesederhana itu.
"Biarkan saja mereka, Nii-san. Selama mereka belum melakukan hal-hal yang aneh, itu bukan masalah besar.
Itachi menghela napas jengkel. "Kau selalu saja begitu."
Sasuke tersenyum simpul. Sejujurnya ia membenci harus menemui "tamu"nya hari ini, namun kewajibannya sebagai pemimpin Uchiha Clan, klan terbesar yang ada di dunia youkai-lah yang memaksanya.
Tak ada jalan lain. Hanya ini. hanya jalan ini yang mampu kulakukan untuk bisa menolongmu. Sakura.
Dan perjalanan Sasuke untuk menemui "tamu"nya telah sampai.
.
.
Tsuzuku
Glosarium :
Amanojaku : siluman kecil (sejenis oni) yang pada umumnya mempengaruhi orang untuk melakukan tindakan buruk.
Inugami : siluman anjing yang diciptakan untuk dipuja dan terkadang dipekerjakan oleh keluarga pemeluk kepercayaan tertentu.
Kappa : monster air, bentuknya umumnya memiliki kepala yang penuh dengan air.
Oni : iblis versi Jepang, umumnya memiliki tanduk dan berwajah seram.
Hola, minna~ Balik lagi Fai-chii dengan updatean Eternal Wings yang ketiga, dan... #pundung #mojokdiruangan Gomene... Fai-chii tidak bisa menepati janji Fai-chii kapan hari. Tidak bisa update kilat QwQ ternyata sepanjang liburan ada aja halangannya, entah itu kerjaan panitia di kampus, tugas rumah, belum lagi kalau ga mood nulis TT^TT Gomene~ #curcol Well, silakan kalau minna sekalian mau nimpuk Fai-chii, saya terima #plak
Nah, adegan flashbacknya udah selesai :D dan setelah ini akan masuk ke cerita aslinya (jadi selama ini belum ke sana hohohoho #evillaugh) Yak, silakan ditunggu saja :D karena habis ini Fai-chii juga masuk, jadi updatenya kemungkinan ngaretnya banyak OAO #suer
Yosh, bales review dikit ya :D
sasusaku kira : terima kasih sudah membaca :D dan salam kenal juga XD
mimia : terima kasih dan maaf tidak bisa nepatin janji QwQ ini udah update :D (walaupun ngaret #plak)
kikila : sudah update nee~ :D
salsa kila : terima kasih :D dan ini sudah update. Waduh dipanggil senpai, masih belum cocok saya :D
niki : terima kasih :D ini sudah update semoga suka ya :D
nala : sudah update ini :D
sushimi : Updated :D
Ajisai rie : Rie~~ Fai-chii balik lagi dengan WB huhuhu.. ini konfliknya udah kelihatan kan? :D semoga puas juga untuk chapter ini XD
Trancy Anafeloz : wah muncul :D hehe sasusakunya imut ya XD Fai-chii juga bayanginnya sambil senyum-senyum pingin nyubit aja /plak dan itachi... saya tau maksud anda /slap terima kasih :D dan semoga puas juga untuk chapter ini :D tapi ga update kilat QwQ ganbatte~
Afisa UchirunoSS : terima kasih dan salam kenal juga :D wah, sasusakunya gemesin ya XD /plak sudah update :D tapi tidak kilat :(
Yosh! Silakan yang mau review, silakan review, Fai-chii terima dengan senang hati :D yang sudah membaca juga terima kasih sekali :D
Akhir kata,
Mind to RnR? :D
