Haihai~ MID ku selesai *yeey* tapi besok sudah ujian praktek *pundung* dimohon bantuan doanya, semoga semuanya lancar :3 *maunyaa*

Ahya, maaf, karena terburu-buru, jadinya di chapter kemarin saya nggak sempat membalas REVIEW dari kalian, hihi XD

Oke, kusatuin disini ajayaa ^^

me: Update~ ^^ makasih yaa reviewnyaa :)

sasusaku kira: Makasih ^^ Okesip, ini udah update, makasih yaa reviewnyaa :)

mako-chan: hihi, belum kokehm, belum nyadar—kalau jatuh cinta *diamaterasu* yoshyosh, ini lanjut XD makasih yaa reviewnyaa :)

Beky: makasih ^^ update~ hihi, makasih lagi ^^ Pilihan Menjebak cuma bisa kuusahain update setiap minggu :3 yang ini sih sudah finish XD makasih yaa reviewnyaa :)

DON'T LIKE, DON'T READ

Title : Satu. Dua.. Tiga...

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warnings : OOC, AU, Typo (s) dll

Maaf kalau jelek :)

Story by: Bii Akari

.

.

NORMAL POV

Hari terus bergulir. Baru kemarin malam Sasuke mengawal gadis itu pulang ke kediamannya dengan aman. Namun sekarang, sosok gadis yang tak dikenalnya itu mendadak terbesit kembali di benaknya. Ya, jika boleh, Sasuke ingin melihat gadis itu lagi, sekedar tahu mengenai kabarnya hari ini. Tapi sayang sekali, sebelum bisa mewujudkan ambisinya itu, Sasuke harus melewati latihan basket rutinnya dulu—seperti sebelum-sebelumnya.

Tepat pukul empat sore. Uchiha Sasuke resmi memasuki lapangan, dengan baju basketnya yang sexy (?) dan mempesona (?) Sementara di sisi lain, Haruno Sakura tengah memasuki ruang perpustakaan, dengan rambut yang lebih rapih dibanding kemarin—karena tidak ada kegiatan club hari ini—serta dua buah buku dalam genggamannya. Kacamata bergagang putih tampak bertengger manis di batang hidungnya—sesaat setelah Sakura membuka lembaran pertama buku yang akan dibacanya itu.

.

Mentari terus bersinar, tak ada lelahnya. Sepertihalnya Sasuke yang terus men-dribble bola menuju daerah lawan. Sasuke men-dribble bola dengan santai, bagaikan seorang pemain basket profesional. Di depan sana, ring lawan terlihat benar-benar menggiurkan di mata Sasuke, dan berhasil memacu adrenaline pemuda tampan itu. Ya, Sasuke ingin mendekatinya lebih dekat, dekat, dan akhirnya, meraihnya. Meraihnya..

"Nice shoot, Sasuke-kun~"

Tanpa sadar Sasuke memamerkan smirk andalannya—membuat para gadis mendesah manja—melting.

Ya, Sasuke mengibaratkan gadis berambut pink itu bagaikan sebuah ring basket. Jauh, tinggi, nyaris tak tersentuh olehnya. Namun karena itulah, Sasuke ingin melihatnya lebih dekat, jauh lebih dekat, meski Sasuke tahu itu tidak mudah. Tapi, demi bisa meraih sosok itu, Sasuke akan mecoba masuk—memasuki dunia gadis uniknya itu. Ha, itu pun 'jika boleh'. Jika boleh, Sasuke hanya ingin mengenalnya dengan lebih dekat lagi, tidak lebih.

Perlahan, Sasuke menengadahkan wajahnya, dan menatap jendela di pojok atas bangunan sekolahnya—tepat di sisi luar lapangan. Dan samar-samar, Sasuke dapat melihat sosok gadis bersurai pink itu di sana. Senyum Sasuke pun perlahan semakin mengembang.

.

Bagaikan kecanduan narkoba, Sasuke berjalan tanpa sadar menuju perpustakaan. Yaya, Sasuke sebenarnya ingin melihat 'dia'—lagi. Entah ada magnet apa yang melekat pada figur gadis bersurai merah muda itu, sampai Sasuke rela menghabiskan sore harinya untuk sekedar mengamati sang gadis dalam diam.

Hei, jangan berburuk sangka pada Sasuke. Sedikitpun, Sasuke belum merasakan getar-getar cinta itu, sungguh. Uchiha Sasuke memang tidak sedang—belum—jatuh cinta pada sang gadis tak dikenal. Sasuke hanya sekedar—ingin—memenuhi hasratnya saja. Terbuai dalam ambisi tak terdefinisi yang membuatnya tergoda untuk melihat gadis itu lagi—dan lagi.

Bagaikan melihat sebuah harta karun, onyx Sasuke yang semula kelam mendadak memancarkan kilatan penuh kepuasan. Ya, Sasuke menemukannya. Gadis itu masih duduk di kursi yang sama, lengkap dengan jejeran buku-buku tebal yang berserakan di atas mejanya.

Perlahan, Sasuke berjalan mendekat. Dan mendaratkan dirinya dengan ringan di kursi yang sama—yang kemarin didudukinya. Dengan iseng, Sasuke meraih sembarang buku yang ada di dekatnya—yang tersentuh oleh jemarinya. Kemudian, dibukanya buku antah berantah itu tepat di hadapannya—sekedar menjadi kamuflase semata. Ha, jika saja gadis di hadapannya itu akan mencurigai dirinya—yang lagi-lagi duduk di hadapannya—nanti, setidaknya Sasuke bisa ber-alibi dengan bersandiwara sedang membaca buku. Perencanaan yang cukup bagus, meski tak akan ber-efek sedikitpun pada gadis itu. Mengapa? Karena gadis itu sudah terlanjur tahu. Hm, meski begitu, Sakura tetap diam, bertingkah seperti biasa.

.

TIK TIK TIK

Dentingan jarum jam itu menjadi satu-satunya alunan musik yang terdengar di dalam ruangan yang mereka huni. Mereka pun hanya terdiam—masih dengan posisi yang sama.

Sasuke memandang gadis di hadapannya dengan lekat-lekat. Satu tangan Sasuke menopang dagunya dengan santai, sementara tangan yang lain sibuk memilin-milin lembaran-lembaran buku yang sengaja dibiarkannya terbuka—meski tak terbaca olehnya.

Hembusan angin yang merambat masuk melalui celah-celah jendela membuat rambut Sakura yang indah sedikit bergoyang lembut. Meliuk-liuk gemulai, lalu akhirnya kembali mendarat perlahan di bahunya. Kilauan emerald-nya tetap berlenggok kesana-kemari, menyorot deretan huruf itu dengan penuh antusias. Terkadang, Sasuke dapat melihat sedikit kedutan ringan di kedua alis Sakura yang mengernyit, mungkin heran dengan kalimat yang baru saja dibacanya. Namun, sesaat kemudian, gadis itu akan mengangguk-angguk lemah sembari bergumam singkat. Ehm, Sasuke tanpa sadar tersenyum tipis—lagi.

Tak jarang pula, Sakura menggigit bibir bawahnya dengan pelan, bersamaan dengan jemari-jemarinya yang mulai bergerak-gerak kecil. Sorotan matanya terlihat serius, menanti-nanti kalimat demi kalimat. Ah, entah buku macam apa yang tengah dibaca oleh gadis cantik itu, sampai-sampai tingkah lakunya menjadi begitu ekspresif seperti sekarang.

TUK TUK

Sakura mengetuk-ketukkan ujung telunjuknya di atas meja, lalu menelan ludahnya sekilas, dan ujung-ujungnya, gadis itu malah mendengus pendek. Terlihat sungguh aneh—menarik—di mata Sasuke. Hal itulah yang membuat Sasuke semakin betah mengamati sosok Sakura. Tingkah-tingkah Sakura yang semakin beraneka ragam membuat Sasuke makin tertarik untuk memenuhi ambisi sesaatnya.

Sejenak, Sasuke melirik lembaran buku Sakura. Ya, tinggal beberapa lembar lagi, dan buku tebal itu resmi di-tamat-kan olehnya. Hmm, tinggal beberapa saat lagi. Kebersamaan—secara tidak langsung—mereka akan sirna kembali.

.

SRET

Sakura kembali membalik halaman buku yang dibacanya. Ehm, ini halaman terakhir. Halaman yang mampu membuat Sasuke menjadi sedikit lebih memperhatikan Sakura lagi. Kemarin, Sasuke tidak sempat memperhatikan Sakura se-lama ini—sampai gadis itu usai membaca bukunya. Dan karena sejak tadi Sasuke selalu berhasil menangkap langsung ekspresi-ekspresi unik yang dipamerkan oleh Sakura—secara tanpa sadar. Sasuke pun menjadi semakin penasaran, dan akhirnya memutuskan untuk menunggu gadis itu selesai membaca bukunya. Ha, ekspresi puas Sakura-lah yang ditunggu-tunggu Sasuke sejak tadi. Ya, ekspresi yang pastinya lebih menarik dibanding apapun.

FUUH~

Sakura Haruno, mendesah pelan. Ditutupnya buku bersampul biru itu dengan perlahan, sembari tersenyum lembut. Benar, Sakura tersenyum. Puas dengan ending yang disajikan oleh romansa yang baru saja dibacanya tadi. Namun siapa sangka, pandangan Sakura—yang telah terbebas dari mantra-mantra ajaib sang buku—justru tanpa sengaja tertarik paksa oleh manik gelap pemuda di hadapannya.

Satu.

Dua..

Tiga...

Onyx bertemu emerald—untuk yang pertama kalinya.

Sesuatu. Ada sesuatu yang menyerang mereka tepat ketika tiga detik berlalu. Ada yang tahu apa itu? 'Sesuatu' yang belum pernah mereka rasakan. 'Sesuatu' yang membuat iris mereka tetap setia dengan figur satu sama lain. 'Sasuatu' yang membuat Sasuke membalas senyum 'nyasar' Sakura tadi.

Sasuke menegakkan tubuhnya—setelah sadar sepenuhnya pada kenyataan yang terjadi. Sakura pun juga ikut memperbaiki posisi duduknya, sedikit salah tingkah karena pemuda di hadapannya.

Perlahan, kedua manik beda warna itu saling mencari, mencuri-curi pandang satu sama lain. Hingga akhirnya, mereka kembali terpukau seperti semula. Saling mengunci, saling tertarik.

"Hmm, kau tidak ingin pulang? Ini sudah jam setengah enam."

Sasuke melirik Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan gadis itu hanya membalasnya dengan senyum lembut andalannya.

"Hn, aku akan segera pulang," jawabnya pelan, sembari membuka kacamata bacanya yang sejak tadi bertengger di sana.

Kesempatan emas. Dengan gesit, Sasuke menatap sosok Sakura—tanpa kacamata—lurus-lurus. Ya, sudah dia duga, emerald itu kan jauh lebih indah jika dilihat secara langsung—bukan dari balik kacamata tebal itu.

"Namaku Sasuke."

Dengan cepat, emerald Sakura kembali beralih. Ya, Sasuke berhasil mencuri kembali perhatian sang emerald yang sempat berkelana ke sekitarnya tadi.

"Uchiha Sasuke," sambungnya lagi, begitu mendapat tatapan hangat dari Sakura.

Tak perlu menunggu berlama-lama, karena dalam sekejap saja sang gadis bersurai merah muda sudah mengulum senyum terbaiknya. "Aku, Haruno Sakura."

Kedua sosok itu saling tersenyum—tipis dan manis. Pandangan mereka tetap saling mengunci. Keheningan pun tetap mendominasi. Namun, hanya dengan aksi saling tatap antara satu sama lain seperti itu, entah bagaimana mereka bisa 'terhubung'. Ya, 'perasaan' adalah hal yang paling sensitif, dan semua manusia memiliki itu. Saat 'perasaan' telah membodohimu, mata pun dapat saling berbicara.

Ah, ini memang sore yang ingah. Indah—karena dua sosok yang sangat serasi itu tengah berjalan beriringan bersama, lengkap dengan tawa malu-malu dan tingkah kikuk mereka.

.

.

FINISH


Gaje~ *geleng-geleng* Ada yang menyesal telah membaca fic ini? :s

Gomen~ Saya sendiri nggak tau kenapa fic ini bisa berakhir sedemikian gajenya #plak

Yosh, fic ini hanya pelampiasan kecil karena sumpek menghadapi kehidupan nyataku (?) yang gaje *jleb* Ada kritik, saran, respon, pujian (?) keluhan, dan keinginan (?) silahkan, isi di kotak REVIEW di bawah ini :)

Beri REVIEW dong~ Author lagi butuh feedback *alibi* jadi, kalau kalian benar-benar telah membaca fic ini sampai habis, tolong tinggalkan jejak di sini :)

Saya memberikan yang terbaik untuk kalian, kuharap kalian juga mau memberikan yang terbaik—ehm, REVIEW saja suda cukup XD—untukku ^^ *gombal*

Terimakasih untuk segala dukungannya (baik pada reviewer maupun silent readers) XD Special thanks for:

Nina317Elf

me

sasusaku kira

sasa-hime

Grengas-Snap

mari-chan.41

srzkun

mako-chan

Beky

karimahbgz

Natsuyakiko32

KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke

nadialovely

Rie saka

Baby Kim

eL-yuMiichann

Dyresa Aiko

Fran Fryn Kun

Thankyou all :) Tanpa kalian, fic ini nggak akan berarti apa-apa ^^

Untuk yang terakhir kalinya (Di fic ini) dimohon REVIEWnyaa~ ^^

Arigatou :)