Posted on 9 Juni 2012
Warning : Yaoi! Garing! OOC! AU! REAL PERSON! TYPO! Plot ngawur. Hati-hati dengan kata yang kasar dan tidak berkenan.
Disclaimer : Them self.
Rate : T (inget! Ini cuman T! #evilaugh)
.
Last chap :
Selang sepuluh detik, Heechul menelfon nomer ponsel Yunho yang tertera dengan jelas di biodata yang Heechul dapatkan.
"Annyong." Heechul mendekatkan ponselnya ke telinganya saat Yunho menjawab panggilannya.
"Aku Kim Heechul, ibu-err atau ayah… argh! Terserah kau menganggapku ibu atau ayah- Dari Jaejoong kekasihmu." Heechul sedikit mengacak rambutnya saat menentukan posisi ayah atau ibu untuk Jaejoong.
Heechul diam sejenak mendengar ucapan Yunho, dan selanjutnya dia berbicara kembali dengan nada riang, "Aku mau memberikanmu penawaran menarik."
"Maukah kau mengikuti rencanaku untuk menggubah putraku yang paling manis itu?"
.
.
CHANGE!
-Z-
.
YunJae Fanfiction
.
Chapter 1: Regulation
.
.
04.35PM
Yunho hanya mengedipkan matanya saat mendapatkan nomer yang tidak dikenalinya menghubungi ponselnya. Dia melirik Jaejoong yang sedang tertidur di jok mobilnya, sebelum mengangkat telefon tersebut.
"Annyong." Terdengar suara laki-laki dari sebrang sana. Yunho mengerutkan dahinya menerka-nerka siapakah gerangan yang menelfon dirinya ini.
"Siapa?" tanya Yunho pada akhirnya dengan nada penasaran.
"Aku Kim Heechul, ibu-err atau ayah… argh! Terserah kau menganggapku ibu atau ayah- Dari Jaejoong kekasihmu." Yunho tersentak kaget setelah mengetahui bahwa orang tua Jaejoong lah yang sedang menelfonnya. Jangan-jangan dia—Heechul—hendak membunuh Yunho karena membuat putranya tidak pulang ke rumah selama beberapa hari. Hii…
"O-oh, ne… Jung Yunho imnida. Ahjumma ada apa menelfonku?" ucap Yunho pelan-pelan untuk memperhatikan setiap bahasa yang sedang dia gunakan.
"Aku mau memberikanmu penawaran menarik." Suara di sebrang sana tampak ceria.
Yunho menghela nafas sejenak. Setidaknya ini bukan perihal Jaejoong yang entah kenapa memaksa untuk selalu tinggal di rumahnya, "Penawaran menarik?" balas Yunho.
"Maukah kau mengikuti rencanaku untuk mengubah putraku yang paling manis itu?"
"Mwo?" Yunho membulatkan matanya kaget. Mengubah Jaejoong?
"Temui aku malam ini di taman dekat rumahmu. Jangan sampai Jaejoong tahu dan bertindaklah senormal mungkin."
Pik.
Yunho menatap horror ponselnya saat Heechul mematikan ponselnya secara sepihak tanpa menunggu konfirmasi dari Yunho.
Aigo.. Merubah Jaejoong?
Yunho tidak pernah memikirkan hal ini.
.
.
Jaejoong memutar tubuhnya yang terlentang menjadi tertelungkup di atas sofa ruang tengah rumah Yunho. Matanya menatap Yunho yang sedang menggunakan jaket dan hendak mengenakan sepatunya.
"Yunnie mau kemana?" tanya Jaejoong sambil mengeratkan pelukannya terhadap bantal yang sedang ditindihnya saat ini.
"Aku mau ke mini market."—Yunho mengalihkan pandangannya ke arah Jaejoong—"Mau ikut?"
Jaejoong mendengus pelan, "Untuk apa? Pasti aku disuruh bawa-bawa barang. No way!" Jaejoong kembali memutar tubuhnya ke arah TV yang sedang menyala dan menampilkan acara komedi.
Yunho menghela nafas sebentar, "Arra. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Yunho lembut dan hanya dibalas anggukan samar oleh Jaejoong.
Yunho menutup pintu rumahnya kembali. Matanya menyusuri keadaan luar rumahnya, masih jam tujuh malam tapi kenapa sudah sedingin ini? Yunho menggumam pelan sambil berjalan ke arah taman di mana dia berjanji bertemu dengan ibu—atau ayah?—Jaejoong.
Mata Yunho menyusuri jalanan dimana dia berada. Padahal masih jam tujuh kenapa sudah sepi. Apa karena cuaca yang tiba-tiba memburuk membuat banyak orang memilih berdiam diri dirumah menonton acara komedi sambil memakan cemilan? Ya sudahlah, kenapa dia menjadi memikirkan hal yang tidak berguna seperti ini?
Sebenarnya selama ini Yunho belum pernah berfikir untuk merubah Jaejoong. Karena menurutnya dia mencintai Jaejoong apa adanya, bagaimanapun sifat Jaejoong itu adalah konsekuensinya karena memilih Jaejoong sebagai kekasihnya.
Tapi kali ini ibu—atau ayah—Jaejoong malah mengajaknya untuk merubah sikap Jaejoong. Ck… ini berarti beliau perduli kepada anaknya sendiri—tidak seperti yang biasa Jaejoong katakan kepada Yunho bahwa orang tuanya sering tidak memperhatikan dirinya.
Ya sudahlah. Mungkin ini juga yang terbaik. Bagaimana bisa Jaejoong menempuh masa dewasa di bidang pekerjaan jika dia tidak memiliki tata sikap. Ini ada baiknya juga.
Yunho mengarahkan pandangannya ke seluruh taman untuk mencari orang tua Jaejoong. Yunho hanya bisa menepuk kepalanya mengingat bahwa dia tidak pernah melihat orang tua Jaejoong. Bagaimana bisa dia seceroboh ini. Setidaknya orang tua Jaejoong mengatakan warna baju apa yang dia gunakan.
Tetapi Yunho berfikir positif. Dia memilih untuk duduk di salah satu bangku. Mungkin saja orang tua Jaejoong belum datang.
Yunho perlahan duduk manis di atas bangku taman. Tidak ada kegiatan yang bisa dia lakukan kecuali memainkan kakinya dengan hentakan-hentakan, untuk membuat pola suara yang terus berulang-ulang.
10 menit
Yunho mulai merenggut. Bisa-bisa Jaejoong ngambek kalau dia tinggal lama-lama. Kemana sih orang tua Jaejoong? Ini sudah malam kan? Katanya bertemu saat malam hari.
Yunho bersandar di punggung kursi dan mendongakkan kepalanya menatap langit. Tch, lampu di taman ini membuat bintang tidak terlihat. Yunho kembali mendesah pelan karena bosan.
TIIN! TIIIN!
Suara klakson mobil yang keras dan terus menerus membuat banyak orang di taman itu mengalihkan pandangannya ke arah Ferrari putih yang berada di depan taman itu.
Yunho merenggut karena mobil itu menggangu pengguna jalan serta orang-orang yang berada di sana. Perlahan Yunho bangkit mendekati mobil itu untuk memberi peringatan kepada pengguna mobil mewah tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Yunho mengetuk kaca mobil tersebut beberapa kali meminta sang pengguna membuka kaca mobilnya. Selang dua detik, kaca mobil tersebut turun perlahan menampilkan seorang pemuda dengan pakaian yang sangat modis dan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
"MASUK!" bentak pemuda itu membuat Yunho terkejut.
Yunho menautkan alisnya binggung dan menggeleng, "Aku hanya ingin memberi tahu, bahwa suara klakson anda menganggu banyak orang," ucap Yunho lembut diiringin senyuman.
"Masuk atau kubunuh Kim Jaejoong!" balas pemuda itu sengit.
Yunho membulatkan matanya, "What?" gila saja, ada orang yang tiba-tiba memerintahnya dan mengancam akan membunuh kekasihnya. Dengan cepat Yunho masuk ke dalam mobil itu diiringi dengan decakan kesal.
Pemuda itu menekan tombol agar seluruh pintu di mobilnya terkunci. Dan detik berikutnya dia menginjak pedal gas dengan semangat. Membuat mobil mewah itu melaju dengan cepat meninggalkan taman kota.
.
.
Jaejoong merenggut kesal. Ini hampir 20 menit dan Yunho belum pulang. Kemana saja pria itu? Katanya hanya pergi ke minimarket, tapi kenapa selama ini. Tch, tahu begini lebih baik Jaejoong tadi ikut saja!
Jaejoong mengulingkan tubuhnya di atas kasur Yunho. Tangannya perlahan meraih sebungkus potato chip yang dia sembunyikan di bawah ranjang Yunho. Kemarin Yunho marah-marah karena Jaejoong membeli banyak makanan ringan. Kata Yunho makanan ringan tidak baik untuk kesehatan dan membuat gendut.
Tapi apa perduli Jaejoong? Dia suka mengomsumsi makanan ringan karena itu enak.
Dengan tubuh tetap tertelungkup, Jaejoong menyalakan TV di kamar Yunho, dan mulai memakan potato chip itu sambil menonton acara komedi.
Awas saja, saat Yunho pulang nanti Jaejoong akan meminta penjelasan!
.
.
Yunho menunduk perlahan saat pandangan orang di sekitarnya terasa menusuk. Bagaimana bisa ada seorang pemuda tampan masuk ke dalam restoran disebuah hotel bintang lima hanya menggunakan kaus hijau yang di tutupi jaket putih serta celana berwarna gading selutut.
"Aish, tidak usah malu. Aku juga sering berpakaian sepertimu saat masuk ke restoran mewah," pemuda yang tadi menyeret Yunho ke restoran ini menegak wine-nya dengan santai.
"Tapi, ahjumma ini terasa ganjal," bisik Yunho sambil kembali berkonsentrasi dengan makanannya.
Pemuda yang berada di hadapan Yunho melepaskan kacamata hitamnya dan meletakannya di atas meja, "Aish aku sudah bilang, panggil aku umma. Kau calon menantuku, kan?" ucap pemuda itu yang teryata orang tua Jaejoong. Aish, wajah serta penampilannya tidak mencerminkan seorang pria berumur 40 tahun! Malah terlihat seperti pemuda berumur 26 tahunan.
Yunho hanya tersipu malu karena saat umma Jaejoong—Heechul—menganggapnya menantu, berarti sama saja Heechul sudah merestui hubungannya dengan Jaejoong, "Ne, umma."
"Oke, kita akan membicarakan tentang Jaejoong. Tapi sebelumnya,"—Heechul dengan santai menyuapkan Yunho sepotong dagi steak miliknya dan mengundang tatapan heran Yunho yang terpaksa menerima suapan Heechul—"Terlalu banyak daging yang dimakan bisa-bisa menaikan berat badanku," ucap Heechul santai sambil kembali menyuapi Yunho. Orang-orang yang lewat pasti mengira Yunho dan Heechul adalah sepasang kekasih. Padahal sebenarnya itu adalah seorang calon mertua dengan menantunya.
Yunho yang disuapi hanya bisa menerimanya dengan sabar saja. Tidak boleh melawan mertua sendiri! Batin Yunho kepada dirinya sendiri.
"Jaejoong ada di rumahmu, hmm?" ucap Heechul sambil kembali meminum wine-nya.
Yunho sedikit kaget dengan pertanyaan yang dilayangkan Heechul jangan-jangan calon mertuanya ini marah karena Jaejoong tidak pernah pulang, "Maafkan aku!"—Yunho menunduk sedikit ke arah Heechul—"Maaf karena membuat Jaejoong terus berada di rumahku tanpa menyuruhnya pulang. Jaejoong sering memaksa untuk tinggal di rumahku. Maafkan aku."
Heechul yang mendapat respon tidak terduga hanya menautkan alisnya. Omo, calon menantunya terlalu sopan dan berfikiran terlalu jauh.
"Aku sih tidak masalah," balas Heechul santai. Pria yang sudah berumur itu melipat tangannya di depan dada, "Jangan terlalu formal denganku, calon menantu," setelah mengatakan itu Heechul tekekeh pelan dan menepuk pundak Yunho.
Yunho hanya diam, dia merasa malu ( ./ / /.)
"Oh, ya. Ngomong-ngomong kita kan mau membahas tentang Jaejoong," seru ummaYunho sambil menatap Yunho, "Begini, Yunnie-chagiya,"—setelah menyebut Yunho dengan kata-kata seperti itu Heechul tertawa pelan, membayangkan putranya yang egois berkata-kata seperti ini. Sedangkan Yunho yang dipanggil seperti itu hanya bisa merinding pelan—"Kau harus tegas ke Jaejoong. Berikan peraturan yang mendesak dia untuk menurutimu."
Yunho membulatkan matanya, "Jaejoong memiliki kebebasan, dia tidak harus menurutiku, umma."
Heechul berdecak pelan, "Kau kan calon suaminya. Kau harus bisa mengaturnya. Kau seme-nya kan? Kau mau uke-mu menyeleweng? Kau harus tegas."
Yunho meneguk ludahnya ragu. Kata-kata Heechul menohoknya. Jaejoong menyeleweng? ANDWAE!
.
.
Jaejoong mendorong Yunho ke arah ranjang dan dengan sexy dia menduduki perut Yunho, "Habis dari mana tuan muda Jung Yunho? Aku menunggu 90 menit untuk kepulanganmu," Jaejoong menundukan tubuhnya dengan seduktif dan mengigit ujung hidung Yunho gemas.
Yunho perlahan mengarahkan kepalanya ke samping. Ucapan Heechul masih menggema di kepalanya. Yunho berfikir keras saat ini dan hal ini membuat dia sejenak melupakan Jaejoong yang duduk di atas perutnya.
Jaejoong yang tidak di anggap merenggut kesal. Dia menurutkan tubuhnya menjadi duduk di selangkangan Yunho membuat kejantanan mereka berdua bertemu. Setelah itu Jaejoong menunduk dan menjilat nipple Yunho dari luar kaus Yunho.
"Engh…" Yunho mengerang pelan karena Jaejoong memberikan serangan mendadak.
Jaejoong mengangkat kepalanya saat Yunho merespon pergerakannya, bibirnya menyungingkan senyum, "Dari mana kau?" tanya Jaejoong lagi.
"Ah… ta-tadi aku bertemu d-dengan temanku. Dia meng-nggh-ajakku makan malam," nafas Yunho mulai tersengal saat Jaejoong dengan gencar menggesekkan kejantanan mereka berdua.
Pinggang Jaejoong berhenti bergerak untuk menggesek kejantannannya dengan milik Yunho, "Siapa?"
"Yoochun," bisik Yunho pelan dan berusaha mendudukkan tubuhnya. Sedikit berbohong kepada Jaejoong dia lakukan. Tidak mungkin kan dia mengatakan bahwa baru saja dia bertemu dengan ibu Jaejoong.
Jaejoong mengangguk mengerti. Setelah diam beberapa saat Jaejoong kembali menyeringai dan menyibakkan rambutnya yang sedikit menutupi leher sebelah kanannya. Perlahan dia menempelkan dadanya dengan dada Yunho, lalu mendekatkan leher miliknya ke bibir Yunho.
Yunho tahu maksud Jaejoong. Jaejoong sangat suka saat dirinya diberikan kissmarkoleh Yunho. Entah seminggu dua kali ataupun seminggu sekali, leher sebelah kanannya pasti selalu memiliki sebuah kissmark dari seorang Jung Yunho.
Yunho menempelkan bibirnya ke leher Jaejoong dan mulai menghisap pelan leher Jaejoong. Tangan Jaejoong sendiri bergerak dan meremas-remas pundak Yunho. Dia tahu dengan gerakan manja seperti ini bisa membangkitkan gairah Yunho.
Yunho mengigit leher Jaejoong dan menghisapnya dengan keras saat Jaejoong mencubit nipple-nya. Hisapan keras Yunho mengundang desahan nikmat dari Jaejoong. Jaejoong segera memeluk leher Yunho dan menenggelamkan wajahnya di rambut Yunho, melepas bibir Yunho yang sedari tadi sedang memberikan kissmarkdi lehernya.
Yunho sedikit terengah dan membenamkan wajahnya di pundak Jaejoong dengan kedua tangannya melingkar di pinggang Jaejoong. Matanya tadi sempat melirikkissmark yang dia berikan sangat merah dan keungu-unguan, pasti tadi Jaejoong merasa sedikit sakit.
"Yun… bagaimana jika malam ini kita make love?" Jaejoong berucap sambil mengusap-usap tengkuk Yunho dengan seduktif.
"Ani," ucapan Yunho mengundang desahan kecewa dari Jaejoong.
Jaejoong menjauhkan wajahnya dan menatap mata Yunho, "Wae?"
"Besok kita kuliah pagi. Kau ingat?" Yunho tersenyum dan menyentil hidung Jaejoong.
"Satu ronde saja."
"Aniya~" Yunho segera melingkarkan tangannya di punggung Jaejoong dan menarik kekasihnya agar jatuh ke atas kasur bersamanya, "Kita tidur saja, arra?"
Jaejoong merenggut dan segera membalikan tubuhnya membelakangi Yunho. Kesal,eoh? Yunho hanya bisa mendesah pelan saat Jaejoong menolak dia peluk dari belakang. Kekasihnya sedang ngambek.
.
.
03.29 PM
Sekarang ini Jaejoong sedang berada di perjalanan pulang menuju rumah Yunho. Yunho berada di sampingnya dan menyetir sambil bersenandung sesuai dengan lagu yang sedang mereka dengarkan dari radio. Aksi ngambeknya berhenti saat tadi dia melihat Yunho sedang digoda dengan dua gadis. Terpaksa Jaejoong mendekati Yunho dan menganggu momen tersebut. Hal itu mengundang cibiran dari kedua gadis yang sedang menggoda Yunho, tetapi apa perduli Jaejoong? Yunho 100% miliknya, jadi dia bebas melakukan apapun… hohoho~
Jaejoong mulai merasa ganjal saat Yunho mengambil jalan tidak menuju arah rumah Yunho melainkan ke arah rumahnya. Jaejoong menatap Yunho sangar saat mereka berhenti di depan gerbang rumah Jaejoong.
"Kenapa kesini!" bentak Jaejoong frustasi dan hanya dibalas senyuman Yunho.
"Aku membawamu pulang, Jae," Yunho tersenyum dan mengelus puncak kepala Jaejoong. Sedangkan Jaejoong segera menepis tangan Yunho.
"Kalau begitu aku menginap di rumahmu," Jaejoong kembali melipat tangannya di depan dada dan menatap ke depan kembali.
Yunho mendesah pelan, "Kau harus pulang ke rumahmu, Jae."
"Aniya!"
Yunho mengacak rambutnya pelan. Dengan cepat dia melepas seat belt-nya, mengundang tatapan heran dari Jaejoong karena tiba-tiba Yunho beranjak keluar mobil. Terpaksa Jaejoong meniru gerakan Yunho—keluar dari mobil Yunho.
"Aish, apa sih maumu?" Jaejoong sedikit membentak saat melihat Yunho menekanintercom yang berada di samping gerbang rumah Jaejoong.
Yunho tidak menjawab dan selang beberapa detik pagar terbuka. Dengan senyuman Yunho meraih tangan Jaejoong dan membawa kekasihnya memasuki rumahnya sendiri.
Jaejoong terus mengumpat kesal karena diseret Yunho menuju ke kamarnya. Dan umpatan Jaejoong semakin panjang karena Yunho menyapa maid-maid yang lewat di hadapan mereka berdua.
Yunho dan Jaejoong memasuki kamar Jaejoong yang sudah hampir sebulan tidak pernah Jaejoong pakai—kecuali untuk mengambil keperluan serta bajunya.
Yunho mengarahkan Jaejoong untuk duduk di atas kasur, "Oke, aku sudah mengantarmu. Sekarang aku harus pulang," Yunho mengecup dahi Jaejoong dan mulai beranjak keluar dari kamar Jaejoong. Hanya saja sebelum Yunho benar-benar pergi, Jaejoong telah memegang ujung baju Yunho, sambil merenggut.
'Jangan terlalu memanjakan Jaejoong. Jaejoong memiliki rumahnya sendiri. Jangan biasakan Jaejoong terus bersamamu, nanti dia jadi ketergantungan dan tidak bisa berdiri sendiri tanpamu.' Ucapan Heechul menggema lagi di kepala Yunho. Dia berbalik dan menatap kekasihnya yang masih merenggut.
"Jangan pulang," Jaejoong memajukan bibirnya dan memeluk pinggang Yunho. Wajahnya terbenam di atas perut Yunho.
Yunho mendesah pelan. Dia harus bertindak tegas disini.
Perlahan Yunho berlutut di depan Jaejoong. Dia mengusap wajah kekasihnya dengan sayang. Keberanian mulai dia keluarkan. Ini demi kebaikan Jaejoong!
"Dengarkan aku. Mulai sekarang berhenti bersikap manja dan jaga sikap serta tata bicaramu!" ucap Yunho tegas sambil menatap dalam mata Jaejoong.
Jaejoong yang merasakan mendapatkan tamparan keras dari kekasihnya segera membulatkan matanya tidak percaya karena kekasihnya yang unyu-unyu, innocentserta baik itu menegurnya seperti ini.
"Saat kau melanggar aku akan memberikanmu hukuman," Yunho tersenyum dan mengusap kepala Jaejoong.
Alis Jaejoong terpaut. Dia menarik kerah Yunho agar wajahnya dan Yunho dapat berhadapan, "Kau berani mengaturku, hah?" bentak Jaejoong kesal.
Yunho terdiam. 'Harus tegas!' terus menerus Yunho menyemangati dirinya, "Semuanya terseramu sih~" Yunho berdiri dan meletakkan tangan kirinya di atas pinggang, "Perhatikan kalimatku ini…"
Jaejoong yang masih kesal menatap Yunho sengit. Berani-beraninya Yunho memerintahnya. Jadi selama ini dia itu sangat manja, tidak memiliki tata krama dan berkata seenak jidat? Berengsek, secara tidak langsung Yunho mengejeknya!
"Saat dalam sehari kau berlaku tidak baik, aku tidak akan memberikanmu ciuman dalam bentuk apapun. Kau harus berprilaku baik selama sehari penuh agar mendapatkan kecupanku,"—Yunho menyeringai kejam, sepertinya ini akan menarik—"Dalam seminggu jika kau bisa berbuat baik, aku baru mau mengajakmu kencan. Saat dalam seminggu kau melakukan prilaku yang merugikan banyak orang walaupun hanya sekali, aku tidak akan pernah kencan denganmu,"—tangan Jaejoong terkepal di samping tubuhnya, sedangkan Yunho yang melihatnya tersenyum senang—"Jika dalam dua minggu kau berlaku baik, aku baru akan membiarkanmu menginap di rumahku selama tiga hari. Jika tidak, jangan harap bisa tidur bersamaku. Lalu, dalam tiga minggu kau berlaku baik, aku baru akan memberikan kissmark dilehermu. Aku tahu kau suka dengan kissmark -ku. Jadi berlakulah dengan baik,"—Yunho mengusap leher Jaejoong yang terdapat bulatan berwarna unggu kemerahan.Kissmark -nya semalam—"Dan terakhir, jika dalam sebulan kau berbuat baik, kita akan melakukan sex. Tidak perduli denganmu yang horny. Jika tidak bertindak baik selama sebulan, puaskan dirimu dengan taganmu. Aku tidak akan menyentuhmu."
Jaejoong membulatkan matanya kesal. Tidak ada sex? Fuck! Bahwa dalam seminggu dia pasti akan melakukan sex dengan Yunho. Mana puas dirinya jika hanya memuaskan diri dengan tangan.
"Aku tidak mau!" bentak Jaejoong tidak setuju.
Yunho menyeringai, "Terserah, toh yang memberikan kenikmatan kan aku. Saat kau nakal aku tidak akan memberikannya~" ucap Yunho dengan nada suara yang dibuat seceria mungkin.
Jaejoong mengigit bibir bawahnya dengan kasar. Benar apa kata Yunho, yang selama ini memberikan kenikmatan ditubuhnya adalah Yunho. Yunho bisa sesuka hati menghentikan atau melakukannya. Fuck!
Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang tampak bimbang dan kesal. Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Jaejoong dan segera meraup bibir kekasihnya dengan cepat. Yunho menghisap kasar bibir bawah Jaejoong sedangkan tangannya yang bebas dia gerakan untuk mengusap-usap selangkangan Jaejoong yang masih tertutup celana. Jaejoong yang merasakan nikmat, mengerang di dalam ciumannya. Yunho mulai menjulurkan lidahnya memasuki celah di bibir Jaejoong dan mengajak lidah Jaejoong agar masuk ke dalam mulutnya.
Jaejoong yang mengerti maksud Yunho pun menjulurkan lidahnya memasuki rongga mulut Yunho. Dan hal yang Jaejoong terima saat lidahnya masuk ke rongga mulut Yunho adalah gigitan di ujung lidahnya serta remasan keras tangan Yunho pada kejantanannya, membuat Jaejoong hendak menjauhkan bibirnya untuk mendesah kencang jika tangan Yunho yang satunya lagi tidak menahan tengkuk Jaejoong.
Jaejoong menutup matanya saat Yunho memadang matanya yang semakin sayu dengan intes. Erangan Jaejoong terendam dengan lumatan Yunho. Kaki Jaejoong bergetar nikmat saat tangan Yunho semakin memanjakan kejantanannya dengan remasan kasar.
Jaejoong menepuk pundak Yunho saat paru-parunya meminta oksigen. Yunho segera menjauhkan bibirnya dan menghisap saliva miliknya dan Jaejoong yang tercampur dan mengalir di sudut bibir Jaejoong. Tangannya tidak berhenti meremas-remas kejantanan Jaejoong membuat Jaejoong memeluk lehernya dan mendesah-desah keras.
"Angh~ Aaah! Yun-Yunho. A-aku mau… NGGH!" Jaejoong menjerit tertahan saat Yunho malah menjauhkan tangannya dari kejantanan Jaejoong saat dirinya hampir mencapai klimaks.
"Fuck Yunho… Ah! A-aku mau datang! Kenapa berhenti?" Jaejoong mengumpat kesal ke arah Yunho yang sedang menyeringai dan menatap kejantanannya yang menegang hebat.
"Peraturan kita di mulai sekarang! Jadi yang tadi adalah ciuman terakhir kita sebelum kau berprilaku baik." Yunho mengecup ujung hidung Jaejoong dan segera beranjak kabur menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Jaejoong.
Sedangkan Jaejoong yang gairahnya sudah meletup-letup hanya bisa mencengkram ujung ranjangnya menaham perih kejantanannya yang ditinggal begitu saja dengan Yunho, "YUNHO BERENGSEEEK!"
TBC
