CHANGE : Chapter 5 [Date]

Posted on 25 Juni 2012


Warning : Yaoi! Garing! OOC! AU! REAL PERSON! TYPO! Plot ngawur.

Disclaimer : Them self.

Rate : M

.


.

Last chap:

Merasakan ada gesekan samar, Yunho segera melepaskan ciuman mereka dan membuat benang-benang saliva di antara bibirnya dan Jaejoong. Dengan lembut Yunho mengelus saliva mereka yang mengalir di ujung bibir Jaejoong.

Ngh~ tubuh Jaejoong gatal! Jaejoong segera memeluk tubuh Yunho membuat bibir Yunho menempel di perpotongan lehernya. Jaejoong butuh kissmark dari Yunho, tadi pagi saat bercermin Jaejoong berdecak kesal karena tanda keunguan di lehernya sudah tidak ada lagi.

"Ingat peraturan kita, Jae. Jangan terlalu bernafsu."

.


.

CHANGE!

-Z-

.

YunJae Fanfiction

.

Date

.


9 June

07:45 AM

Jaejoong memperbaiki kaus V-neck yang sedang dia gunakan. Kau berwarna hitam itu membuat kulit putihnya tampak lebih bersinar. Ditambah dengan kalung berbandul salib mengantung di lehernya membuat lehernya tampak lebih panjang.

Rambut? Cek!

Bibir? Cek!

Baju? Cek!

Celana? Cek!

"Kim Jaejoong… ah salah, Jung Jaejoong, kau tampan sekali," ujar Jaejoong narsis sambil meletakan tangannya di pinggang. Bibirnya menyungingkan senyuman nakal saat melihat pantulan dirinya sendiri di hadapan cermin.

Di hari Sabtu pagi yang cerah ini tokoh utama kita tampaknya sudah rapi dengan aura-aura narsis di sekitarnya. Ah, jangan kalian sangka bahwa Jaejoong tidak bisa bertahan selama seminggu berbuat baik. Buktinya sekarang dia sedang berjanji berkencan dengan Yunho setelah seminggu penuh dilewati dengan perjuangan dan air mata. Hiks, jika mengingat apa saja yang dia korbankan untuk mendapatkan kencan yang berharga ini, Jaejoong terharu.

Setelah memastikan dirinya sudah tampak tampan, Jaejoong berjalan dan duduk di pinggiran kasur untuk menunggu Yunho.

Sebenarnya Yunho berjanji akan menjemputnya jam delapan nanti. Hanya saja karena Jaejoong sangat amat bersemangat untuk kencan kali ini, pria itu bangun lebih pagi dan segera bersiap.

Baju, parfum, sepatu, ah banyak sekali rencananya hari ini. Apa yang harus dia lakukan terlebih dahulu? Keinginannya sangat baaanyak.

Clek

Wajah Jaejoong segera bergerak untuk memandang pintu kamarnya yang terbuka. Detik berikutnya Jaejoong segera tersenyum sumringah dan berjalan mendekati pria yang dia cintai.

"Yunnie-ah~" buru-buru Jaejoong memberikan kecupan kecil di pipi Yunho dan setelah itu pria yang lebih pendek itu terkikik pelan.

Yunho yang baru saja mendapat kecupan selamat pagi hanya tersenyum kecil. Tetapi detik berikutnya Yunho menggerakan tubuhnya untuk mundur satu langkah dan memperhatikan pakaian yang Jaejoong kenakan.

Ck, pakaian sexy lagi. Yunho tidak suka jika saat mereka sedang berjalan-jalan Jaejoong menerima tatapan lapar karena pakaian yang Jaejoong gunakan. Jaejoong hanya boleh berpakaian terbuka di hadapannya. Maximal di hadapan Heechul—ibu Jaejoong.

"Aku tidak suka bajumu. Kerahnya terlalu rendah. Ganti!" ujar Yunho sinis sambil tetap memandangi pakaian yang Jaejoong kenakan.

"Ha?" Jaejoong menautkan alisnya heran. Selama ini Yunho tidak pernah protes dengan apa yang dia gunakan. Kenapa tiba-tiba…

"Aku yang akan memilihkannya," kata Yunho lagi sambil beranjak dari tempatnya berdiri. Hendak memilihkan pakaian yang tidak terlalu terbuka untuk untuk Jaejoong.

"Tu-tunggu! Aku sudah memilih baju selama satu jaaaam!"

.


.

09:00 AM

Setelah insiden pemaksaan yang dilakukan Yunho terhadap Jaejoong, mereka pun sukses sampai di mall ini dengan selamat sentosa. Saat Yunho memaksa menganti pakaian Jaejoong tadi, Jaejoong sempat ngambek tetapi tetap menurut. Bagaimanapun juga dia masih ingin mendapatkan ciuman hari ini.

Sekarang Jaejoong hanya menggunakan kaus putih biasa dengan rompi yang tidak dia kancingkan. Sedangkan Yunho di sampingnya menggunakan kaus putih yang berbentuk sama dengan yang Jaejoong gunakan. Kaus couple yang dibelikan oleh ibu Yunho saat wanita itu sedang berada di Eropa. Kaus putih dengan lukisan realistis pemandangan sungai di bagian dada dengan warna hitam-putih.

"Kita mau kemana?" tanya Yunho sambil tetap mengenggam tangan Jaejoong yang tampak excited di sampingnya. Matanya bergerak-gerak senang saat melihat banyak pakaian lucu ataupun benda-benda yang dia sukai.

Tanpa menjawab pertanyaan Yunho, Jaejoong buru-buru menarik tangan Yunho menuju sebuah toko yang memajang baju-baju lucu.

Dengan sedikit buru-buru Jaejoong meraih kaus biru dengan gambar gajah pink di bagian pinggang. Masalahnya belalai gajah tersebut didesain mencuat keluar. Terbungkus dengan bahan yang biasa digunakan untuk membuat boneka.

Matanya berbinar-binar melihat pakaian yeoja ini. Heck?! Yeoja? Pantas saja Yunho yang berada di belakang Jaejoong hanya mengerutkan alisnya bingung melihat pekerjaan kekasihnya. Mereka memasuki toko yang menjual pakaian yeoja!

"Aku mau ini satu!" Jaejoong mengangkat baju yang menjadi incarannya cukup tinggi dan membuat perempuan yang menjaga toko itu buru-buru menghampiri Jaejoong.

Pandangan Yunho yang awalnya tersebar ke seluruh penjuru toko ini segera beralih ke arah Jaejoong, "Kau belum memastikan ukurannya!" ucap Yunho sengit. Lagi pula dia bingung kenapa Jaejoong mau-maunya menggunakan pakaian yeoja.

"Gwenchana~ ini ukuran L, kok," balas Jaejoong sambil meyerahkan baju pilihannya kepada perempuan yang diketahui sebagai penjaga toko ini.

"Tapi kau namja!"

"Pinggang serta pinggulku seperti yeoja," balas Jaejoong dengan senyuman licik. Detik selanjutnya dia buru-buru berjalan ke arah kasir. Sebelum Yunho menghentikan rencananya untuk membeli baju yang dia cintai pada pandangan pertama.

"Terserah kau," desis Yunho walaupun tahu Jaejoong tidak akan mendengarnya, 'selama tidak menggunakan uangku,' lanjut Yunho dalam hati. Karena dia tahu bahwa Jaejoong sangat gila belanja. Dan dompetnya bisa mengempis dengan cepat jika menemani Jaejoong belanja.

"Yun! Kau bawa kartu ATM Platinum-mu? Jika iya, kemarilah! Dengan kartu itu diskon!"

"Shit!"

Bersabarlah Jung Yunho. Tagihan rekening yang kau dapat akhir bulan sepertinya akan menumpuk.

.


.

Jaejoong berjalan di belakang Yunho dengan muka tertekuk. Kakinya sesekali menendang udara hampa karena kesal. Bagaimana tidak, secara tiba-tiba Yunho mengatakan bahwa dirinya tidak boleh terlalu banyak menghamburkan uang. Hal itu yang membuat dirinya hanya memegang dua kantung belanjaan saja dan satu lagi di pegang Yunho.

Ingin rasanya Jaejoong membantah. Tetapi dia tidak ingin perjuangannya selama seminggu ini menjadi sia-sia! Tch, kalau tahu begini, lebih baik dia pergi kencan berdua dengan ibunya saja! Dia bisa belanja sesuka hati mengingat ibunya juga sangat suka belanja.

Yunho sepertinya merasa sedikit bersalah—ingat, hanya sedikit!—pasalnya Jaejoong di belakangnya terkadang menatap benda-benda lucu dengan wajah ingin. Tetapi dengan berat hati Jaejoong hanya bisa melihat benda-benda itu saja karena Yunho melarangnya.

Yunho memperlambat jalannya agar dia bisa berjalan sejajar dengan Jaejoong yang masih ngambek. Dia buru-buru menautkan kedua tangan mereka saat Jaejoong tepat berada di sampingnya, "Sudah jam 12 siang. Mau makan dimana?"

Jaejoong mendongakkan kepalanya agar dapat melihat Yunho. Wajahnya menampilkan kesayuan. Bukti bahwa Jaejoong sangat-sangat-ingin membeli benda-benda lucu yang di pajang, "Terserah," jawab Jaejoong sambil menundukan kepalanya lagi.

Yunho mendengus. Jaejoong benar-benar ngambek. Tetapi beruntungnya dia tidak ngambek seperti biasanya. Mengingat dulu jika Yunho melarangnya, Jaejoong akan mengamuk dan mengabaikan Yunho begitu saja. Bahkan Jaejoong akan berlari untuk dapat membeli barang-barang yang dia inginkan lalu membayar itu semua dengan kartu kredit miliki Jaejoong sendiri. Setelahnya, Jaejoong akan menelfon supir pribadinya untuk menjemput. Meninggalkan Yunho yang merasa ditinggal *?*.

"Ke restoran all you can eat, yuk. Eomma merekomendasikan satu restoran," bisik Yunho tepat di telinga Jaejoong. Bibir Yunho menyunggingkan senyuman kecil saat tubuh Jaejoong menegang mendengar suaranya yang lebih mirip desahan.

Buru-buru Jaejoong mengangguk dan langsung menundukan wajahnya. Karena warna pink sudah mulai mendominasi wajahnya. Sudah lama tidak melakukan sentuhan intim—selain ciuman—membuat tubuh Jaejoong lebih sensitif.

Senang melihat reaksi Jaejoong yang malu-malu, Yunho melingkarkan tangannya di pinggang Jaejoong dan mengajak kekasihnya ke restoran Jepan all you can eat,"Kajja!"

.

Yunho dengan telaten memindahkan daging yang dia panggang ke atas piring Jaejoong. Di restoran all you can eat ini memang menyediakan pemanggangan di setiap meja karena beberapa makanan yang mereka hidangkan dalam keadaan mentah. Jadi pelanggan bisa memasak makanan-makanan yang dia inginkan. Ini lah hal lain yang membuat restoran ini menjadi pilihan keluarga. Para pengunjung dipersilahkan memasak sesuai keinginannya sendiri.

Yunho menopang dagunya sambil melihat Jaejoong yang hanya diam sambil memakan daging yang dia panggang tadi.

"Jae, belajarlah memasak."

Agak kaget dengan ucapan Yunho, membuat Jaejoong menelan begitu saja potongan daging yang berada di dalam mulutnya tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. Masak adalah hal yang tidak Jaejoong sukai. Menurut pengalamannya untuk menggoreng telur, yang terjadi adalah telur itu gosong serta Jaejoong terkena cipratan minyak. Ini membuat Jaejoong menjadi anti untuk memasang atau apapunlah itu namanya.

"An—"

Belum sempat Jaejoong mengatakan sesuatu, Yunho sudah menyela perkataan Jaejoong, "Aku tidak menerima penolakan. Belajarlah memasak dan buatkan aku bekal setiap hari."

Keputusan yang tidak bisa di bantah.

Jaejoong mengembungkan pipinya kesal lalu berusaha kembali fokus terhadap makanan yang ada di hadapannya. Membuat bekal? Tch, dia bisa menyuruh maid-nya.

"Dan jangan coba-coba menyuruh maid-mu untuk melakukannya."

Shit! Yunho membaca pikirannya. Sepertinya sepulang dari kencannya hari ini, Jaejoong akan memaksa para maid dirumahnya untuk mengajarinya memasak. Karena jika dia tidak menuruti apa yang Yunho inginkan bisa-bisa ciumannya batal lagi.

Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang menggerutu. Dia menjulurkan tangannya dan memaksa Jaejoong mengangkat wajahnya, "Dengar," Yunho menatap Jaejoong tepat di matanya dan sukses membuat Jaejoong membatu, "Apapun hasil masakanmu, selama kau yang membuatnya, aku akan memakannya."

Blush

"Aish, pabbo!" Jaejoong menepis tangan Yunho yang memegang wajahnya. Buru-buru Jaejoong menunduk, membuat wajahnya yang merona tidak terlihat oleh Yunho. Aish, hal lain yang dibenci Jaejoong.

Saat Yunho meng-gombali dirinya.

.


.

Jaejoong mengulum ice cream yang dia pegang sambil berjalan dengan langkah sedikit melompat. Tangan kirinya yang menganggur di genggam erat oleh Yunho.

Pasalnya mereka sedang berada di taman. Bukan taman bermain atau taman yang memiliki banyak tumbuh-tumbuhan. Tetapi taman yang tepat persis berada di belakang sebuah taman kanak-kanat. Hal ini membuat taman dimana mereka berada penuh dengan permainan-permainan kecil yang tidak menggunakan listrik.

Yunho tahu bahwa Jaejoong senang jika diajak ketempat seperti ini. Belum lagi Jaejoong akan memekik excited saat melihat banyak anak kecil dengan pipi gembul berlarian. Hal ini juga yang membuat Yunho menggengam tangan Jaejoong dengan sangat erat. Jika sekali saja dia lengah, Jaejoong akan kabur begitu saja dan bermain sesuka hatinya tanpa mengingat Yunho.

Mata bulat Jaejoong menatap gemas anak kecil dengan rambut panjang dan pipi gembul berusaha menaiki ayunan. Hanya saja karena tubuhnya terlalu pendek, membuat bocah itu tidak bisa menaiki permainan tersebut.

Jaejoong melangkah ke arah anak itu hanya saja karena tangan Yunho memegangnya membuat Jaejoong tidak bisa bergerak leluasa untuk berlari dan mengendong anak kecil itu, "Yuun…" desis Jaejoong sambil berusaha melepas tangannya yang di pegang Yunho.

Yunho menatap Jaejoong yang sedang memasang wajah melas ingin dilepaskan. Dengan sangat tidak rela Yunho melepas tangan Jaejoong dan detik selanjutnya Jaejoong segera berlari ke arah anak kecil tersebut dengan Yunho mengekor di belakangnya.

Hup

Jaejoong menyelipkan tangannya di bawah ketiak anak tersebut. Lalu mendudukan bocah yang ternyata seorang laki-laki itu di atas ayunan. Setelah bocah itu duduk nyaman di atas ayunan, Jaejoong memilih berjongkok di depan bocah itu sambil mengelus-elus pipi gembul yang sedari tadi ingin dia cubiti.

"Gomawo, nunna…"

"Mwo?" Jaejoong membulatkan matanya saat ada bocah yang mengiranya perempuan. Memang rambut Jaejoong agak panjang, dan dadanya sedikit berisi. Tetapi kenapa bisa-bisanya dia dikira perempuan? "Paggil aku hyung!" ujar Jaejoong merajuk.

Sayangnya bocah laki-laki itu tidak mengubris. Dia malah menatap ice cream yang berada di genggaman Jaejoong.

Yunho yang berada di belakang Jaejoong malah terkekeh pelan. Jaejoong yang di tak digubris merajuk kesal sedangkan anak laki-laki itu menatap ice cream Jaejoong dengan pandangan ingin. Yunho melirik ice cream vanila yang berada di tangannya. Dia baru menjilatnya dua kali dan malah berniat membuang ice cream itu. Tidak ada salahnya memberikan ice cream itu ke bocah yang baru saja dia temui.

Yunho ikut berjongkok di sebelah Jaejoong dan menjulurkan ice creamnya ke anak kecil itu, "Mau?"

Sontak bocah laki-laki itu mengangguk-angguk senang dan segera menarik cone ice cream yang berada di tangan Yunho dengan kedua tangannya. Yunho tersenyum tipis melihat bocah itu segera memasukan ujung ice cream yang berbentuk agak runcing itu ke dalam mulutnya dan membuat sekitar bibirnya penuh dengan noda ice cream.

Jaejoong melongo melihat Yunho yang tiba-tiba ikut-ikutan. Harusnya bocah ini yang menerima ice cream darinya dan bermain dengan Jaejoong! Bukan malah tertarik dengan Yunho.

Dan Jaejoong semakin melongo saat Yunho mengangkat bocah itu. Dan Yunho segera menduduki bangku ayunan yang kosong dengan bocah laki-laki itu Yunho dudukan di pangkuannya.

Buru-buru Jaejoong bangkit berdiri dan berkacak pinggang, "Yah! Harusnya aku yang disitu!" ujar Jaejoong dengan nada kesal sambil menunjuk Yunho yang malah tampak asyik berbincang dengan bocah tersebut.

"Namanya Moonbin, Jae," ucap Yunho tanpa mengubris rajukan Jaejoong.

"Umurmu berapa?" tanya Yunho lagi kepada bocah yang tampak nyaman duduk di pangkuannya.

Moonbin menggerakan tangannya dan mengacungkan keempat jarinya untuk menunjukan berapa umurnya sekarang.

"Baru empat tahun? Tapi kau sudah tampan," puji Yunho sambil mencubit hidung bocah di hadapannya.

Moonbin menjauhkan ice cream itu dari mulutnya. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap Yunho, "Hyung juga tampan," ujar Moonbin tulus.

Jaejoong yang kesal di abaikan memilih untuk duduk di ayunan kosong di sebelah Yunho serta Moobin.

Tch, tahu begini akhirnya, dia memilih menolak ajakan Yunho pergi ke taman.

.

Yunho melambai ke arah Moonbin yang baru saja di jemput oleh ibunya. Setelah dirinya dengan Moonbin mencobai semua permainan di taman ini. Dan meninggalkan Jaejoong yang asyik dengan ponselnya di bawah ayunan. Sebenarnya dia sedang mencoba kesabaran Jaejoong saja. Biasanya Jaejoong akan kesal dan meninggalkan Yunho begitu saja jika merasa dirinya diabaikan. Hanya saja hari ini Jaejoong hanya diam dan menunggu Yunho. Sesekali mengembungkan pipinya saat Yunho sama sekali tidak mendekatinya. Lucu juga…

Yunho berjalan ke arah Jaejoong yang sedang asyik menaiki ayunan kayu berwarna hijau. Yunho segera berjalan ke arah belakang Jaejoong dan mendorong tubuh kekasihnya agar ayunannya bergerak semakin keras.

Jaejoong yang awalnya tertawa kecil merasakan terpaan angin segera membungkam mulutnya saat Yunho mendekatinya dan mendorong ayunan yang dia gunakan agar semakin kencang. Hump! Dia mau ngambek seharian ini! Salahkan Yunho yang mengabaikan kencan mereka.

Sampai tiba-tiba Yunho meraih kedua tali yang menompang ayunan tersebut dan berdiri di atas ayunan. Singkatnya kini Jaejoong duduk di antara kedua kaki Yunho. Dan bukannya memelankan ayunan mereka, Yunho malah menggerakan ayunan lebih kencang.

Tentu ini membuat Jaejoong menjadi takut. Bagaimanapun juga berat tubuh mereka jika digabung mencapai 100kg lebih. Bagaimana jika tiba-tiba ayunannya roboh?!

"S-stop YUN! KITA JATUH! KITA JATUUUH!" teriak Jaejoong sambil mencengkram tali ayunan lebih erat. Tubuhnya dia dempetkan ke arah kaki Yunho. Jaga-jaga jika dia jatuh, dia akan menarik kaki Yunho juga sebagai balas dendam.

"Hahahaha!" bukannya merespon ketakutan Jaejoong, Yunho malah semakin semangat menggerak-gerakkan tubuhnya hingga ayunan yang mereka naiki bergerak semakin labil.

Oke, Jaejoong mulai mual. Dia buru-buru melompat begitu saja membuat tubuhnya jatuh ke atas tumpukan pasir yang berada di bawah ayunan. Sedangkan Yunho yang melihat respon Jaejoong hanya diam di atas ayunan yang masih bergerak mengayun Yunho ke depan dan belakang. Hingga…

"HUAKAKAKAKAK!"

Buru-buru Jaejoong menampung pasir ke dalam kepalan tangannya dan melemparkan pasir itu ke arah Yunho yang tertawa keras di atas ayunan. Sial, dirinya sedang ketakutan sedangkan Yunho tertawa nista di atas ayunan. Yunho iseng sekali!

"Aww…" Yunho buru-buru meloncat turun dari atas ayunan saat merasa matanya kemasukan debu pasir. Kedua tangan Yunho buru-buru mengusap wajahnya sendiri sambil raut wajahnya mengatakan bahwa matanya pedih. Berkali-kali Yunho mengedip-ngedipkan matanya

Sedangkan Jaejoong yang awalnya terduduk di atas pasir buru-buru bangkit berdiri dan mendekati Yunho, "Mian… sakit sekali?" ujar Jaejoong khawatir sambil membantu membersihkan wajah Yunho yang terkena debu dengan telapak tangannya.

Buru-buru Jaejoong menepis tangan Yunho yang hendak mengucek-ngucek matanya sendiri.

"Jangan di kucek. Buka matamu, aku tiupkan," ucap Jaejoong khawatir.

Yunho membuka matanya terpaksa dan segera Jaejoong meniup-niup mata Yunho, sambil Yunho berkali-kali mengedip-ngedipkan matanya.

'Sudah tidak sakit,' batin Yunho. Tetapi tidak ada salahnya mengerjai Jaejoong, kan?

"Aish, masih sakit," desis Yunho sambil mundur satu langkah menjauhi Jaejoong. Kepalanya sengaja dia tundukkan sambil berpura-pura kesakitan.

"Maafkan aku," Jaejoong buru-buru mendekati Yunho. Aish, Jaejoong merasa bodoh karena membuat kekasihnya kesakitan. Wajah Jaejoong segera dia dongakkan karena Yunho memang jauh lebih tinggi darinya.

Tanpa sadar Jaejoong mengigit bibirnya sendiri. Aish apa dia sangat keterlaluan tadi? Dia hanya melempar pasir untuk balas dendam saja.

Yunho mengintip raut wajah Jaejoong dari sela-sela jarinya yang tampak sibuk mengucek-ngucek matanya yang sebenarnya baik-bak saja. Manis

"Yun…" bisik Jaejoong lirih. Kenapa Yunho tidak meresponnya?

Yunho yang sebenarnya sangat senang melihat berbagai macam reaksi yang Jaejoong keluarkan segera menjauhkan tangannya dari wajahnya. Malah dia melingkarkan tangan kirinya di tengkuk belakang Jaejoong dan memaksa Jaejoong semakin mendongak. Detik berikutnya Yunho segera meraup bibir Jaejoong begitu saja.

Tangan kanan Yunho bergerak melingkari pinggang Jaejoong dan menarik paksa tubuh kekasihnya agar semakin menempel ke arahnya.

"Nggh…" refleks Jaejoong mendesah tertahan. Tangannya bergerak liar mencengkram punggung Yunho saat ciuman mereka semakin dalam. Belum lagi Yunho tampak semakin bernafsu menghisap bibir bawahnya.

"NGH!" Jaejoong memekik tertahan saat tangan Yunho bergerak nakal meremas pantatnya. Mereka sedang berada di taman. Dia yakin beberapa orang melihat mereka dengan tatapan heran. Tetapi tatapan itu membuat tubuh Jaejoong bergetar antara malu dan takut.

Yunho menjauhkan wajah mereka buru-buru. Tetapi sebelumnya dia menjilat sisi bibir sampai dagu Jaejoong yang mengalirkan saliva mereka berdua yang tercampur di dalam mulut Jaejoong.

Sebagai kesan terakhir, Yunho mengecup singkat bibir Jaejoong sampai dia melepaskan pelukan mereka berdua.

"Wajahmu merah sekali," bisik Yunho tepat di belakang telinga Jaejoong. Membuat Jaejoong mendesah kecil.

Tetapi selanjutnya Yunho segera menarik tangan Jaejoong untuk berjalan ke arah mobil mereka.

Yunho tersenyum senang melihat Jaejoong yang menutup wajahnya dengan telapak tangannya sendiri karena malu. Setelah memasuki mobil Yunho, Yunho segera menyalakan mobilnya dan menjalakan mobilnya.

Sunyi.

Jaejoong hanya diam sambil berusaha semaksimal mungkin fokus kepada ponsel yang dia genggam. Berusaha sekeras mungkin melupakan kejadian yang membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Jaejoong mulai membenci tubuhnya yang menjadi sangat sensitif serta bergerak seolah-olah sangat merindukan Yunho.Memalukan!

"Kau marah karena aku mengerjaimu?" ucap Yunho memecahkan keheningan. Pandangannya tetap fokus untuk menyetir tetapi pikirannya sudah terjatuh ke arah Jaejoong.

Jaejoong mengangkat kepalanya dan menggeleng cepat.

"Tapi tadi kau manis sekali," bisik Yunho tetapi masih bisa di dengar oleh Jaejoong.

Blus

"Dan juga sexy…"

Blus

"Aku tidak bisa membayangkan jika kita menikah nanti. Setiap hari aku akan mengodamu dan kau akan memasang wajah malu-malu seperti tadi. Rasanya setiap hari adalah surga."

BLUS

Jaejoong blushing parah! Buru-buru dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela sambil meremas-remas ujung bajunya. Aish, Yunho pabbo! Kenapa masih sempat-sempatnya mengodai Jaejoong?!

Dan sepanjang perjalan pulang. Jaejoong hanya bisa membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya karena Yunho terus mengodanya dan mengombalinya berkali-kali. Aish!

.


.

Hari ini Yunho datang menjemput Jaejoong lebih awal. Pasalnya pagi-pagi sekali Jaejoong menelfonnya mengatakan bahwa Jaejoong membuatkan sarapan untuknya. Hal ini yang membuat Yunho tertarik dan buru-buru mendatangi rumah Jaejoong.

Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan benar, Yunho berjalan masuk ke dalam rumah Jaejoong. Beberapa maid menyapanya dan Yunho balas dengan senyuman lembut.

"Jae dimana?" tanya Yunho kepada seorang maid yang sedang membawa vas bunga ke arah ruang tamu.

"Tuam muda ada di ruang makan. Beliau menunggu anda dari tadi," ucap maid itu dengan senyuman tipis.

"Ne, gomawo."

Yunho segera berjalan ke arah ruang makan dan tadaaa~

Di sana ada Jaejoong yang sedang minum susu dengan berbagai makanan di hadapan Jaejoong. Sangat banyak dan disusun dengan sangat rapi! Yunho hanya bisa bengong melihat Jaejoong, "Se-serius kau membuatnya?" ucap Yunho lirih.

Jaejoong segera menatap Yunho sengit, "Yah! aku sudah rela bangun jam empat demi membuat ini semua! Kau tidak menghargaiku? Lihat jariku!" Jaejoong segera menjulurkan tangan kirinya. Jari-jari tangan kiri Jaejoong penuh dengan plester dan bekas-bekas goresan. Bagaimanapun juga Jaejoong sudah mengumpat beribu-ribu kali saat pisau-pisau tajam itu mengores tangannya, "Ini sakit, loh…" adu Jaejoong sambil menatap jari-jarinya dengan pandangan miris.

"Lalu lihat ini juga," ucap Jaejoong lagi sambil menunjuk pipinya yang memiliki setitik luka kecoklatan, "Ini terkena minyak. Sakit sekali. Lalu…" Jaejoong buru-buru menaikan lengan bajunya hingga bagian lengan atasnya terlihat. Jaejoong menunjuk garis coklat gelap yang agak tebal disana. Tampak kontras dengan kulit Jaejoong yang putih, "Ini terkena pinggiran wajan saat aku sedang menggoreng udang."

Yunho hanya mengangguk-angguk saja. Dia percaya Jaejoong yang memasak ini semua. Jika tidak, Jaejoong pasti tidak akan marah-marah sambil menunjuk ke arah luka-lukanya.

"Jadi, aku harus mulai dari mana?" tanya Yunho sambil duduk di samping Jaejoong. Tangannya meraih sumpit dan memandangi lima piring yang berisi masakan.

"Terserah, yang menurutmu enak saja," balas Jaejoong sambil kembali meminum susunya.

Yunho mengarahkan sumpitnya ke arah udang yang tampak keemasan dan membuat matanya tertarik. Segera Yunho memasukan udah itu begitu saja ke dalam mulutnya dan buru-buru mengunyahnya.

UGH!

Dengan sangat terpaksa Yunho menelan udang goreng itu. Sangat asin dan… belum matang.

Oke, positive thinking Yun… Jaejoong baru belajar, dia baru belajar. Bisa saja makanan yang lainnya enak.

Mata Yunho bergerak mencari makanan yang lain. Dia menatap heran bola-bola kecil yang berada di tengah. Sepertinya itu enak. Jaejoong melapisi bola-bola itu dengan tepung roti dan menggorengnya. Membuatnya tampak renyah dan empuk.

Yunho meraih bola-bola kecil itu dan segera memasukannya kemulutnya.

Satu kunyahan…

Dua kunyahan…

UGH!

Buru-buru Yunho mengambil susu yang sedang asyik Jaejoong minum. Membuat sepercik susu itu tumpah ke meja dan mengundang gerutuan Jaejoong. Susu yang memenuhi setengah gelas bening itu segera dia habiskan hanya dalam sekali teguk.

"YAH! Kau mau membunuhku?!" ujar Yunho sengit setelah menghabiskan setengah gelas susu.

Rasa makanannya yang dia masukan ke dalam mulutnya sangat abstrak. Amis, manis, asam… yaiks, Yunho tidak mau membayangkannya lagi. Itu membuatnya hampir muntah!

"Eh?" Jaejoong malah memiringkan kepalanya bingung. Dia sudah memasak dengan baik, kok!

Mengunakan tangannya Yunho buru-buru mencuil ujung dari udang yang tersusun rapi di atas piring putih. Dan Yunho segera menyuapi Jaejoong dengan udap itu.

Buru-buru Jaejoong menyengerit, "Yaiks, asin! Tidak matang!" tubuh Jaejoong merinding saat merasakan rasa yang asing di lidahnya. Tidak enak sekali.

Yunho mendesah, "Saranku, saat memasak jangan takut mencicipi hasil masakanmu," ujar Yunho lirih. Dia bisa menebak apa saja yang Jaejoong lakukan tadi pagi. Pria itu hanya asal memasak tanpa mencicipinya terlebih dahulu, "Satu lagi. Bisa jelaskan apa yang kau masukan ke dalam bola-bola itu?"

Jaejoong menatap bola-bola yang tadi pagi dia goreng, "Oh… aku mencampur nasi dengan ikan lalu menumbuknya hingga hancur. Lalu tengah-tengahnya aku selipkan manisan. Sepertinya itu enak. Seperti sushi kan?"

Yunho menepuk dahinya dengan keras. Dia merasa seperti kelinci percobaan masakan Jaejoong, "Aku tidak mau berkomentar tentang rasanya. Hanya satu saranku, Jae. Belajarlah memasak dengan maid-mu."

Jaejoong menautkan alisnya sebal. Apa masaskannya separah itu.

Gruuuk

Yunho buru-buru meremas perutnya yang mengeluarkan bunyi aneh, "J-Jae… sepertinya aku perlu ke toilet."

Jaejoong mengangguk dan mempersilahkan Yunho berlari ke arah toilet dengan langkah terburu-buru.

Memangnya masakannya parah sekali? Jaejoong menatap bola-bola yang dia buat dan mencubit kecil sisi bola-bola tersebut. Memasukan bola-bola itu ke dalam mulutnya.

Diam sejenak sampai Jaejoong segera mengambil tisu dan memuntahkan makanan yang baru saja dia kunyah, "Yaiks, ikannya seperti basi!" desis Jaejoong.

Tetapi detik berikutnya Jaejoong segera menutup mulutnya sendiri. Aigo, sepertinya Yunho keracunan makanan yang dia buat…

.

Dan jadilah selama tiga hari kedepan Yunho mengalami diare parah di sertai rasa mual berlebihan. Hal ini membuat Jaejoong pergi kuliah sendiri di antar oleh supir pribadinya.

Intinya Yunho keracunan masakan Jaejoong.

Sepertinya setelah ini Jaejoong benar-benar belajar memasak.

.


TBC


Fufufu~ sepertinya aku pernah bilang. Tapi banyak yang lupa sepertinya.

Gw BIASNYA Jaejoong.

Empat tahun lebih gw mencintai dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya :''D~ (ini lebih lama dari pada gw menjadi Cassiopeia!)

Semua berawal sejak gw menemukan sebuah foto pria dengan rambut pirang (ingat Jae di O Jung Ban Hap?) sedang tertawa. Jantung gw berdetak tidak karuan melihat pria dengan senyuman manis itu. Dan gw setiap hari memandangi foto itu sampai laptop lama gw yang menyimpan gambar itu dicuri :3 Sejak saat itu gw lupa, sampai setahun kemudian gw melihat video Rising sun serta Stand by U. Mata gw menatap liar ke arah Jaejoong yang sedang menyanyi dengan segala aura imut yang dia keluaran. Cinta lama gw kembali. #digeplakYuno

Tapi, nggg… gw bukan tipe orang yang menunjukan perasaan suka dengan selalu membuat bias gw beruntung, membuatnya tampak lebih berharga dari pada tokoh lain ataupun apapun. Gw tipe orang yang suka menyiksa orang yang gw cintai. Aku rasa ini nggak salah. Cara orang mencintai kan beda-beda~

Ada cerita orang seorang suami-istri. Dimana sang istri memiliki kecantikan yang luar biasa. Dan suatu hari sang suami menyemburkan zat asam yang membuat wajah cantik istrinya hancur. Ini bukti cinta sang suami kepada istri. Tidak percaya? Buktinya suami benar-benar berhati-hati saat menyemburkan zat asam kuat itu hingga tidak membuat istrinya meninggal. Lalu selama berhari-hari selama sang istri kesakitan karena zat asam tersebut mengenai wajahnya, sang suami selalu berada di sampingnya dan menenangkan istrinya. Selain itu bukannya meninggalkan istrinya yang mukanya sudah tidak berbentuk, sang suami malah semakin mencintai istrinya. Kau tahu kenapa? Sang suami hanya tidak ingin ada pria lain yang merebut istrinya karena cintanya kepada sang istri sangat-sangat besar! Aku lupa siapa nama orang yang melakukan ini. Tampak gila ya? Tapi ya sudah~ menurut kabar pria ini sangat cerdas kok. Sangking cerdasnya hingga agak gila. #plak

Banyak yang mengira gw bias Yunho makanya gw membuat Jaejoong tersiksa disini. Ck, salah besar… gw ini cinta mati sama Jaejoong~

Hehehe, penjelasan gw terlalu lebay ya? Ya sudahlah tidak apa~ lagi pula gw hanya ingin meluruskan hal yang membuat beberapa orang menjadi salah sangka.

.

Oke, terima kasih banyak yang sudah mau me-reviiieeeewwww~

*poppo-in satu-satu*

Seperti biasa, membalas review secara bersamaan. Aku minta maaf sebelumnya karena membalas review seperti ini. Tidak satu-satu. Karena menurutku pembaca disini bukan hanya yang mereview saja. Ada juga yang tidak mereview. Gw takut mereka malah melewatkan untuk membaca jawaban review, jika gw balas satu-satu. Kan bisa saja gw memberikan hint-hint di jawaban review ini. Biar mereka tahu juga ~

Maafkan aku ya?

Apakah aku di next chap akan membuat Yunho cemburu atau lain sebagainya?Ngg… belum rencana. Mian. Gw mau fokus merubah Jae.

Yeah~ Junsu orang ke 3! Tapi nggak akan parah kok ini.

Sampai kapan Jae disiksa? Sampai dia benar-benar berubah!

Di chap ini gw mau menunjukan bagaimana tubuh Jae mulai terbiasa nggak di sentuh. Jadi saat mendapan sentuhan keciil aja, jadinya berasa dasyat! *?*

.

Berkenan?