Posted on 15 Januari 2013
Warning : Boys LOVE! Garing! OOC! AU! REAL PERSON! TYPO! Plot ngawur.
Disclaimer : Them self.
Rate : T
.
.
Last chap:
Dan jadilah selama tiga hari kedepan Yunho mengalami diare parah di sertai rasa mual berlebihan. Hal ini membuat Jaejoong pergi kuliah sendiri di antar oleh supir pribadinya.
Intinya Yunho keracunan masakan Jaejoong.
Sepertinya setelah ini Jaejoong benar-benar belajar memasak.
.
.
CHANGE!
-Z-
.
YunJae Fanfiction
.
NP : You are so Beautiful –Xiah Junsu
06.14 AM, 15 June
"AKH! Appo!"
Sejak jam lima pagi rumah keluarga Kim sudah dipenuhi dengan pekikan Jaejoong. Ini sudah kelima kalinya tangan putih mulus milik Jaejoong tergores pisau. Para maidyang hanya bisa memandang Jaejoong dari jarak 2 meter—karena dilarang mendekat oleh Jaejoong—hanya bisa menahan nafas setiap kali Jaejoong hendak memotong bawang bombay atau bahan pangan yang lain. Belum lagi Jaejoong sering memekik dan merintih sakit, membuat mereka tidak tega. Pasalnya tuan muda mereka tidak pernah melakukan hal seperti ini!
Jaejoong mengusap pipinya yang terciprat minyak panas. Rasanya berdenyut-denyut dan sakit sekali! Setelah ini dia harus meminta imbalan dari Yunho!
Jaejoong memindahkan telur yang dia buat ke atas piring dan memotongnya sedikit, untuk dia coba. Karena ini sudah percobaannya yang ke-3. Telur pertama gosong, telur kedua terlalu asin. Menyedihkan.
"Enak," bisik Jaejoong lirih. Perlahan bibirnya mulai menyungingkan senyum dan dengan berbunga-bunga Jaejoong memindahkan telur buatannya ke dalam kotak bekal yang sudah dia sediakan. Dia menutup nasi yang sudah dia letakan di tengah-tengah dengan telur dadar buatannya. Jaejoong menambahkan saus tomat di atas telur dan tersenyum bangga saat bekal buatannya terlihat bagus.
Tapi bukannya hanya telur dan nasi saja terlihat biasa?
Jaejoong membuka kulkas yang berada di samping kompor. Setelah memperhatikan bahan makanan yang tersedia, Jaejoong menoleh kebelakang dan menatap maid-nya.
"Bibi, bagaimana cara membuat katsu?"
Para maid yang berada di belakang Jaejoong seketika bernafas lega karena Jaejoong meminta pertolongan. Setidaknya mereka tidak usah mendengar rintih kesakitan Jaejoong.
.
.
Din! Diin!
Jaejoong segera mengambil tasnya dan berlari keluar kamar saat mendengar suara klakson kekasihnya.
"Ibu, aku berangkat, sampai nanti~" ucap Jaejoong riang sambil melambaikan tangan ke ibunya yang sedang menikmati sarapan paginya. Jaejoong mengambil bekal yang telah dia buat untuk Yunho dan segera berlari keluar rumah. Meninggalkan Heechul yang hanya menggeleng-geleng melihat tingkah anaknya yang semakin hari semakin 'unik'.
Jaejoong masuk ke dalam mobil Yunho dan segera menyerahkan bekal buatannya dengan bangga, "Aku jamin kau tidak akan sakit seperti kemarin," ucap Jaejoong percaya diri sambil menggunakan seat belt-nya.
Yunho tertawa ringan membalas ucapan kekasihnya. Teringat kejadian 4 hari yang lalu dimana dia hampir mati gara-gara memakan masakan Jaejoong, "Awas saja jika rasanya aneh, aku akan balas dendam."
Jaejoong hanya mengecurutkan bibirnya.
.
.
.
.
04:30 AM, 16 June
KRIIIIING
Jaejoong segera bangkit dari posisi tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam dia meraba-raba meja nakas di samping ranjangnya. Mencari-cari ponselnya yang berdering di pagi buta.
"Yeobseo," ujar Jaejoong serak dengan nada mengayun. Hari ini hari Sabtu tetapi ada yang tega membangunkannya pagi-pagi.
"Jae aku sudah di depan rumahmu."
Jaejoong mengucek matanya berusaha mengumpulkan kesadarannya. Kenapa Yunho datang ke rumahnya? Hari ini kan tidak ada kuliah, untuk apa di jemput? "Sungguh?" Jaejoong bangkit dari posisinya dan berjalan menuju jendela kamarnya mengintip dari sela-sela tirai.
Diluar sana masih sangat gelap. Tetapi matanya mendapati mobil Yunho di depan rumahnya. Lampu mobil Yunho yang membuatnya dapat melihat jelas.
"Serius. Aku sudah di depan. Tolong bukakan pintu."
"Iya, sebentar."
Pik
Jaejoong mematikan sambungan mereka dan berjalan sempoyongan keluar kamar. Rasanya dia masih mengantuk. Belum lagi rumahnya masih sangat gelap. Aish, untuk apa Yunho datang sepagi ini?
Tangga menuju lantai bawah sangat gelap. Dan karena masih setengah mengantuk Jaejoong terpeleset di anak tangga kedua dari terakhir. Membuat pantatnya harus menghantam lantai marmer yang dingin.
"Ngg… appo," rintih Jaejoong pelan sambil berusaha bangkit berdiri. Kesadarannya langsung terkumpul begitu saja karena terjatuh. Jaejoong tidak mengumpat seperti biasa, hanya mengecurutkan bibirnya sebal. Sambil memegangi pantatnya yang sakit Jaejoong membuka pintu rumahnya.
Dingin!
Tubuh Jaejoong bergidik. Padahal sekarang sedang musim panas, kenapa terasa dingin?! Jaejoong mendapati security yang berjaga dirumahnya sedang membukakan kunci gerbang.
Gerbang terbuka dan mobil Yunho segera masuk. Terparkir manis di halaman rumah Jaejoong.
"Annyeong," Jaejoong menubruk tubuh Yunho yang baru saja keluar dari mobil. Memberi pelukan singkat , "Dingin sekali pagi ini," keluh Jaejoong. Tangannya sudah bertaut dengan milik Yunho dan mengajak kekasihnya masuk.
Yunho tersenyum menanggapi Jaejoong, "Salah sendiri keluar rumah hanya mengenakan piyama. Harusnya kau kenakan jaket," ujarnya sambil menyentil dahi Jaejoong.
Jaejoong mengusap dahinya yang baru saja disentil, "Aku tersakiti untuk kedua kalinya pagi ini," gumam Jaejoong hanya saja masih dapat ditangkap oleh Yunho.
"Memangnya sebelumnya kenapa?"
Jaejoong mendongak menatap Yunho yang berjalan di sampingnya. Mereka berjalan ke dapur. Ia berniat membuatkan kopi hangat, "Aku terjatuh dari tangga barusan. Pantatku rasanya mau hancur," cerita Jaejoong pada Yunho. Dia menyalakan lampu dan menyuruh Yunho duduk di meja kecil sedangkan dia memanaskan air. Jaejoong melihat Yunho melepaskan tas ransel yang dia gunakan dan meletakannya di lantai. Eh?
Jaejoong menaruh dua gelas di atas meja yang ditempati Yunho dan memasukan kopi bubuk didalamnya, "Kenapa bawa tas? Memangnya kau mau pergi kemana?"
Yunho yang sedari tadi memperhatikan tingkah Jaejoong yang semakin mengistri *?!* tersenyum kecil, "Kau lupa? Ini sudah minggu kedua kau berlaku baik. Berarti aku menginap di rumahmu, dong."
Jaejoong melongo. Astaga dia baru sadar sudah menempuh minggu ke-2! Tandanya dia sudah semakin berhasil, kan? Tapi tunggu, "Bukannya seharusnya aku yang menginap di rumahmu?" tanya Jaejoong bingung. Dia mematikan kompor dan mengambil teko yang berisi air yang dia panaskan. Membawanya ke meja dan menungakannya ke gelas Yunho terlebih dahulu.
Yunho melihat gelasnya sudah penuh dan diaduk oleh Jaejoong segera mengangkatnya dan meniupi kopi hangat itu sebelum disesapnya, "Orangtuaku sedang pergi. Jika hanya kita berdua di rumahku bisa-bisa kau menyerangku lagi," ledek Yunho.
Jaejoong mengerutkan alisnya tidak setuju, "Yah! Aku masih ingat perjanjian kita. Aku sudah susah payah sampai ke minggu ke-2, masa aku hancurkan sendiri," Jaejoong berusaha membela diri.
Yunho diam sejenak. Dalam hati dia menghargai usaha Jaejoong hingga bisa mencapai minggu ini. Tapi bukan Yunho namanya jika dia tidak menggodai Jaejoong, "Aku goda sedikit kau pasti gagal."
"Makanya jangan menggodaku!" Jaejoong merujuk. Dia meletakkan toples berisi biskuit di atas meja dengan akan dihentakkan.
Yunho tertawa lepas melihat reaksi Jaejoong.
Pagi itu YunJae menikmati hangatnya secangkir kopi dan biskuit sambil berbincang atau saling meledek.
.
.
"Kita mau ngapain di rumah seharian?" Jaejoong merebahkan tubuhnya di atas kasur sedangkan Yunho baru masuk kamar Jaejoong dan meletakkan ranselnya di atas sofa kamar Jaejoong.
Yunho membuka tasnya dan mencari-cari benda yang baru dia beli kemarin. Mengundang rasa penasaran Jaejoong, membuat pria itu duduk dan mengamati Yunho, "Cari apa, Yun?"
"Kaset game yang baru aku beli kemarin," gumam Yunho.
Jaejoong bangkit dari atas kasur dan duduk di samping tas Yunho, diatas sofa, "Ketemu tidak?" walaupun terlihat manja dan girly, Jaejoong tetap laki-laki yang mencintai game!
Yunho mengeluarkan kaset game dari tasnya dengan bangga. Segera menyerahkannya pada Jaejoong, "Ini rare, loh! Kemarin aku beruntung tinggal satu."
Jaejoong berbinar menatap benda di hadapannya, "Ayo cepat! Cepat!" tanpa menunggu Yunho Jaejoong segera berlari keluar kamar dan menuju ruang keluarganya yang didalamnya terdapat bertumpuk-tumpuk game milik Jaejoong. Terdapat Nitendo WII, PS3, serak kaset game, komputer—yang tentunya hanya berisi game, berbeda jauh dengan laptop milik Jaejoong yang penuh hal nista. Ditunjang dengan TV LCD dengan ukuran 44 inchi.
.
Yunho sendirian di ruang keluarga Jaejoong. Tadi dia sempat menyapa dan berbincang sebentar dengan Heechul yang hendak berangkat kerja. Sedangkan Jaejoong setelah memberikan ciuman selamat tinggal di pipi ibunya segera lari entah kemana.
Pemuda Jung itu mendesah pelan dan berjalan menyalakan PS3 milik Jaejoong. Menyalakan TV LCD-nya dan memasukan kaset game terbarunya.
BRAK
Yunho menoleh ke pintu yang terbuka dan hanya bisa bengong mendapati Jaejoong membawa satu kantung besar yang… tentu saja berisi bermacam-macam makanan ringan. Tanpa basa-basi pria dengan bibir merona itu mengeluarkan semua makanan ringan yang berada dalam kantung di samping Yunho, "Kita main sampai malam!"
Yunho hanya bisa menepuk dahinya.
.
.
Jaejoong menggerung kesal. Point Yunho sudah 54 sedangkan dirinya masih 12. Oh yeah, pemuda Jung itu walau tidak terlihat maniak game tetapi sebenarnya sangat handal dalam permainan seperti ini.
"Aku sudah naik level 3 kali dan kau belum sama sekali," ujar Yunho remeh.
Jaejoong benar-benar kesal, dia mengecurutkan bibirnya dan menatap Yunho, "Beri aku kelonggaran. Aku juga mau naik level, Yuun…"
"Ti-dak~"
"Menyebalkan," ucap Jaejoong sambil membuka bungkus kripik kentang yang ke empat. Meletakannya di antara dirinya dan Yunho agar mudah di gapai. Mereka berdua duduk bersila di atas karpet dan ini sudah berlalu selama 2 jam.
Saat mengunyah kripik kentang entah untuk keberapa kalinya. Seketika Jaejoong mendapatkan ide, "Kita main adventurnya saja, ya? Tidak usah yang fight seperti ini," rayu Jaejoong.
Yunho diam sejenak, "5 kali lagi, oke?"
"Andwaae… mau sekarang."
"Nanti saja, sebentar lagi."
"Sekarang!"
Pik!
Jaejoong menekan tombol reset. Membuat point Yunho dan dirinya hilang. Coba saja mereka meng-save game mereka dari tadi.
Yunho segera menatap Jaejoong yang tampak terkejut dengan apa yang dia lakukan. Jaejoong yang refleks melakukan hal tersebut menutup mulutnya dan takut-takut menatap Yunho, "Ehehe, mianhae, Yun…"
"YAH! AKU SUDAH SUSAH-SUSAH!"
"Aww! Appoooo!"
Yunho yang kesal mencubit keras lengan Jaejoong.
.
"Tuhkan biru!" keluh Jaejoong sambil mengelus-elus lengannya yang baru saja dicubit Yunho.
Yunho tidak mengubris dan segera memilih adventure sesuai dengan apa yang Jaejoong mau, "Jangan mengeluh. Aku saja yang point-nya kau hilangkan tidak mengeluh," ujar Yunho sinis. Bermaksud menyindir Jaejoong.
"Tapi kau mencubitku!" protes Jaejoong.
"Biarin."
.
.
.
.
Setelah puas bermain hingga malam YunJae couple tampak sibuk membereskan ruangan yang baru saja mereka gunakan. Masalahnya sampah bekas mereka berserakan dimana-mana dan banyak.
"Vacum cleaner dimana, Jae?"
Jaejoong yang sedang jongkok memunguti sampah mendongak, "Sebentar aku ambilkan."
Yunho tersenyum tipis melihat Jaejoong, aigo… lihatlah! Kekasihnya sudah berubah drastis. Mungkin dulu Jaejoong pemarah dan egois. Tapi perlahan-lahan sifat buruk itu terkikis dan berubah menjadi Kim Jaejoong yang berbeda. Betapa Yunho ingin merangkul kekasihnya dan memberi kecupan karena gemas melihat tingkahnya yang menjadi sangat manis di mata Yunho.
Jaejoong kembali dengan vacum cleaner. Tetapi dia tidak menyerahkan itu kepada Yunho, malah dia sendiri yang membereskan karpet yang kotor karena remah-remah jajanan yang mereka makan.
Yunho tertawa kecil dan mengambil alih pekerjaan Jaejoong, mengumpulkan sampah yang berceceran.
"Yah, kenapa tertawa?!" Jaejoong protes dan memukul punggung Yunho pelan.
"Aniyo, hanya saja sikapmu jadi semakin manis akhir-akhir ini."
Blush
Jaejoong berbalik membelakangi Yunho saat sadar wajahnya mulai merona.
Tuh lihat! Benarkan kata Yunho, semakin hari kekasihnya semakin manis. Mana lagi pria cantik itu sedang belajar masak sekarang. Seperti istri!
.
.
.
.
Kalian ingat bahwa sekarang masih bulan Juni? Tepat saat musim panas berlangsung. Malam haripun terasa sangat panas! Begitu juga yang dirasakan oleh Jaejoong. Dia memilin-milin ujung bajunya sambil melirik ke arah ranjangnya dimana Yunho sedang berbaring memainkan PSP.
Jaejoong terbiasa tidur dalam keadaan telanjang dada saat cuaca panas seperti ini. Hanya saja sekarang berbeda. Ada Yunho disana. Dia malu jika harus blak-blakkan membuka baju dan tidur. Aish, dia sudah berubah! Mungkin dulu dengan percaya diri dia telanjang di depan Yunho agar pria itu menyerangnya. Sekarang? Mana berani.
Tapi, ayolah readers, apa kalian setuju bahwa pikiran Jaejoong sangat mesum? Jelas-jelas dikamarnya ada AC tetapi pria itu malah berfikir untuk membuka bajunya karena cuaca panas. Lalu apa gunanya AC yang terpasang manis di atas meja belajarnya?
Setelah berfikir keras Jaejoong duduk di pinggir kasurnya, "Yun kau tidak merasa panas?" mungkin dia bisa berkelit agar bisa tidur sambil telanjang dada.
Yunho melirik singkat Jaejoong, "Nyalakan saja AC-nya."
JDUAR
Jaejoong merasa bodoh sekarang. Dia menyesali kebodohannya dan segera menyalakan pendingin ruangan. Dengan engan dia naik ke atas kasur dan berbaring di pojok sambil melingkarkan selimut di tubuhnya.
Aneh. Jaejoong tiba-tiba seakan kecewa. Yunho mematikan PSP dan juga lampu. Mungkin pria cantiknya mengantuk. Oh analisis yang bodoh sekali.
.
.
Dingin.
Yunho terbangun dan tujuan utamanya adalah remot pendingin ruangan. Jaejoong pasti menyetel suhu yang terlalu rendah.
16 Derajat
Oh, perfect. Buru-buru Yunho menaikkan suhunya dan kembali ke ranjang. Dia melihat Jaejoong yang tampak sesak karena terlilit selimut. Dengan telaten Yunho melepaskan selimut yang membelit kekasihnya. Mengubah posisi tidur Jaejoong menjadi terlentang agar nyaman dan menyelimuti kekasihnya hingga menutupi dada.
'Cantik sekali,'
Yunho berbaring menyamping dan menompang kepalanya menghadap Jaejoong. Menikmati karya Tuhan yang sangat indah.
"Dulu ini bibir yang nakal. Selalu minta cium dan berkata kasar," Yunho menepuk-nepuk bibir Jaejoong dengan telunjuknya. Yunho tertawa tanpa suara saat Jaejoong tiba-tiba menggerakkan wajahnya sehingga bibirnya mengecurut.
Yunho terdiam sejenak melihat bibir Jaejoong terbuka sedikit. Tanpa sadar dia menunduk dan mulai mengecup bibir kekasihnya. Menjilat permukaan bibir bawah Jaejoong seduktif dan dimasukan kedalam mulutnya untuk dilumat.
"Ng…" tentu saja Jaejoong terbangun dan kaget melihat Yunho tiba-tiba menciumnya.
Tangan Jaejoong mengepal erat merasakan telapak tangan Yunho mengesek dadanya. A-apa yang terjadi dengan Yunho? Kenapa pria itu tiba-tiba menyerangnya?!
Yunho menghisap bibir bawah Jaejoong seperti lollipop. Memiringkan wajahnya dan memaksa lidahnya masuk.
Gila! Tubuh Jaejoong gemetaran merasakan sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan. Telapak tangan Yunho berputar-putar di nipplenya membawa perasaan geli di perutnya.
Jaejoong membuka bibirnya kecil untuk memberikan akses. Dan hal ini membuat Yunho tiba-tiba kalap. Pria itu menaiki tubuh Jaejoong, membuat pria cantik berada di antara kakinya.
Yunho melepas ciuman mereka dan menatap Jaejoong dalam. Tangan Jaejoong bergerak memegang kedua tangan Yunho yang berada di sisi wajahnya. Dia siap jika Yunho melakukan hal yang lebih lanjut.
"AH~!" Jaejoong refleks mendesah saat Yunho tiba-tiba mengulum nipplenya dari luar bajunya. Sensasi geli itu sudah merambah sampai sekitar selangkangannya. Jaejoong membuka kakinya lebar-lebar dan segera melingkarkannya di pinggang Yunho.
Jaejoong tidak tahan saat Yunho tiba-tiba mengigit nipplenya kecil. Pekikan lolos dari bibirnya.
"Yunh!"
Seakan tiba-tiba tersadar, Yunho menghentikkan tindakannya dan menimpa tubuh Jaejoong. Membenamkan wajahnya di dada Jaejoong. Oh, apa yang telah dia lakukan!?
Jaejoong yang sudah diterbangkan ke awang-awang kecewa saat Yunho berhenti. Dia mengusap pelan rambut Yunho, "W-waeyo?"
"Aku kelepasan," Yunho menggeleng berusaha menjernihkan otaknya, "Mian."
Deru nafas Jaejoong terdengar. Yunho mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Jaejoong sudah merah padam. Fore play singkat seperti ini sanggup membuat Jaejoong yang mesum kuadrat blushing?
Mereka bertatapan lama. Yunho menulurkan tangannya dan mengelus sisi wajah Jaejoong, "Merah," gumamnya tidak sadar.
Jaejoong tentu kaget mendengar gumaman Yunho. Tidak biasanya dia terangsang hebat hanya karena sebuah fore play, "Ini semua karenamu!" Jaejoong memalingkan wajahnya, "Aish, kenapa jadi begini?"
Yunho tertawa kecil. Nafsunya yang diubun-ubun perlahan surut melihat tingkah kekasihnya. Haish, jangan sampai dia kelepasan lagi seperti tadi. Bisa-bisa dia akan melupakan peraturan yang dia buat sendiri.
Mereka memperbaiki posisi tidur mereka. Masih tetap berpelukan hanya saja dalam posisi menyamping. Kaki keduanya saling bertaut. Yunho mengecup pipi Jaejoong lembut, "Aku kelepasan tadi. Jangan berpikiran mesum, oke?"
Jaejoong mengangguk lucu lalu menyeruduk leher Yunho sambil mempererat pelukan mereka. Dan tiba-tiba tubuh Jaejoong bergetar. Dia merasakan ada sesuatu yang menusuk pahanya. Dia tahu jelas bahwa ini ereksi Yunho!
"Y-Yun… itu menusuk," ujarnya malu, "K-kau tidak mau ke kamar mandi?"
Yunho diam dan malah mempererat pelukan mereka sehingga paha Jaejoong semakin menempel ke ereksi miliknya, "Biarkan saja, nanti juga tidak lagi," bisik Yunho, "Tadi aku tidak tahu kenapa terangsang melihatmu."
MALU!
Jaejoong semakin membenamkan wajahnya di lekukan leher Yunho.
.
.
.
.
Sudah jam lima pagi. Yunho terbangun karena Jaejoong bergerak dalam tidurnya dan melepas pelukan mereka.
Yunho bersandar di punggung ranjang dan menyalakan ponselnya. Kejadian semalam benar-benar memalukan! Selama ini selalu Jaejoong yang horny dan minta disentuh. Tapi sifat Jaejoong yang tiba-tiba berubah menjadi manis maksimal ini tidak luput membuat Yunho 'senang' juga. Secara tiba-tiba dia suka merindukan reaksi Jaejoong saat dia menyentuh pria itu. Ugh, dia terlalu percaya diri diawal!
Huft, Bahaya! Bahayaa!
Jaejoong bisa-bisa berhasil dengan mudah. Sedangkan dirinya ingin melihat Jaejoong berjuang lebih dan lebih keras lagi.
Yunho mengacak rambutnya frustasi.
Piiip
Ada e-mail masuk. Yunho segera membukanya.
.
By: 0101Xiahtic
Sub : YAHOOO~
Hyung! Lama tidak berkirim e-mail.
Di California sekarang panas sekali! Kulitku sekarang jadi tan eksotis seperti punyamu, hyung! Hahahaha^^, Musim panas seperti ini pantai penuuuh sekali. Aku jadi susah surfing. Ngomong-ngomong appa membelikanku papan selancar baru~ Kau pasti iri, kan? HAHAHAHA!
Aku merindukan Tokkukarubi dan Kamujatan di Korea. (T^T)
Tapi aku juga mau makan Motsu Nabe, Nattou dan Genghis Khan di Jepang juga. AAAAA! *confuse*
Eomma juga kangen Korea, jadi kalau ada waktu seggang mungkin kita kesana~ pokoknya aku kangen main game denganmu, hyung! Kita harus menghabiskan waktu bersama kalau bertemu. Aku juga kangen Changmin. Apa kabar dia?
Lol~
.
Yunho tertawa pelan membaca isi e-mail itu. Tidak ingin membangunkan Jaejoong.
.
.
.
.
23 June
"T-TUNGGU, YUN!" Jaejoong mundur dengan cepat saat melihat Yunho menyeringai kearahnya. Hanya saja dia harus menabrak ujung kasur yang membuat tubuhnya terjatuh ke atas kasur. Tapi, Jaejoong tetap mundur menggunakan sikunya hingga kepalanya menabrak punggung ranjang.
Jaejoong bergidik saat Yunho naik ke ranjang dan merangkak ke arahnya. Dimatanya sekarang Yunho terlihat seperti om-om mesum yang mau menyentuh tubuhnya!
Jaejoong benar-benar tidak bisa berkutik saat Yunho sudah berada diatas tubuhnya. Apa lagi saat pria itu menyibakkan bath robe yang menutupi dadanya.
"Minggu ketiga, Jae. Ingat-ingat."
Dan Jaejoong langsung mendesah keras saat bibir Yunho menyentuh dadanya dan menghisap permukaan kulitnya yang sensitif. Tangannya meremas rambut Yunho erat. Tubuhnya telah dibuat mengejang nikmat oleh pria diatasnya.
Yunho melepaskan bibirnya dari dada Jaejoong dan menatap bangga bercak merah yang dia hasilkan. Dan ayolah kalian kan tahu bahwa Jaejoong candu bagi Yunho. Dia kembali menundukan kepalanya dan tiba-tiba meraup nipple Jaejoong yang memang merah dan menonjol.
"Ah!"
DUAK
Jaejoong langsung bangkit duduk dan memasang wajah khawatir. Dia terlalu kaget tiba-tiba Yunho meraup nipple-nya, sehingga dia refleks mengangkat kakinya dan tidak sengaja menendang 'benda pusaka' milik kekasihnya.
Yunho hanya diam meringis sambil memegang selangkangannya.
"Y-Yun… mianhaeee" (TT_TT )
Ow, poor Yunho~
.
.
.
.
Jaejoong sibuk memilih-milih buku di perpustakaan . Dia tersenyum kecil saat menemukan buku yang dia cari. Yunho bilang buku ini bagus untuk refrensi. Namun saat dia berjalan ke tempat petugas perpustakaan beberapa orang menatapnya intes. Jaejoong sontak menutup leher bagian kanannya. Yunho juga menaruh kissmark di lehernya kemarin. Pasti banyak orang yang menaruh perhatian atas kissmark di lehernya.
BRUK
"Mianhae."
Jaejoong hanya tersenyum dan memungut bukunya yang terjatuh, "Tak apa?"
Pria manis di hadapan Jaejoong menatap Jaejoong dari atas kebawah dengan seksama, "Kim Jaejoong?" tanyanya ragu.
"Kau tahu dari mana namaku?"
Pria itu membulatkan matanya senang, "Jinjja Kim Jaejoong? Aku Kim Junsu!" Junsu menjulurkan tangannya dan menjabat tangan Jaejoong.
Jaejoong menatap Junsu bingung. Seingatnya dia tidak pernah berkenalan atau berjumpa dengan pria ini, "Kau siapa, ya?"
Junsu menatap Jaejoong tidak percaya, "Yunho-hyung tidak pernah cerita apapaun?"
Jaejoong menautkan alisnya, "Tidak. Kau siapa?"
Junsu menepuk dahinya, "Aish, si bodoh itu," dia tampak mengumpat pelan. Setelah itu kembali tersenyum ke arah Jaejoong, "Aku mantan kekasih Yunho, salam kenal. Dia banyak cerita tentangmu, loh."
Mwoya?!
TBC
Yunho rindu menyentuh Jae & Junsu muncul. Itu inti chapter ini.
Untuk makanan-makanan yang aku cantumkan itu dari ZOOM IN with Tohoshinki. Mereka membahas TOP 5 makanan yg disukai member Tohoshinki.
.
Wah, lelah sekali rasanya T^T)
Semoga fic ini bisa dinikmati.
.
Decide to Atika~
