DISCLAIMER:
Masashi Kishimoto-sensei, a Naruto's creator who was born in Okayama Prefecture.
Warning:
Out of character, Alternate Universe, Typos, Bad plots, Taboo parts (not lemon) everywhere
('cause I'm beginner)
Pairing:
Neji-Hinata
Anonymous Hyuuga Presents:
"COUSIN"
Part Two
Aku tidak menolak ataupun membelas ciuman yang mendadak diberikan oleh Neji. Yang kulakukan hanyalah berdiri mematung selama Neji mencium bibirku. Heran. Entah mengapa Neji mendadak berubah secepat itu. Dari seorang pemuda yang ramah padaku menjadi sosok laki-laki dingin yang menyatakan cinta padaku tanpa aba-aba.
Aku senang. Senang sekaligus takut. Senang karena Neji ternyata masih memiliki perasaan yang sama denganku, dan takut karena terus-menerus memikirkan kelanjutan hubungan kami yang sudah pasti tidak akan pernah direstui oleh orangtua kami. Bagaimana jika kami tak dapat menghentikan perasaan ini dan takdir tak pernah mempersatukan kami?
Tak lama kemudian, Neji menghentikan ciumannya. Ia menatapku dengan intens dan mulai tersenyum lebar, seakan-akan ciuman barusan tidak pernah terjadi di antara kami.
"Ayo, Hinata-chan. Kudengar ada kedai es krim baru di dekat sini. Kau tertarik mencobanya?" tanya Neji sambil kembali menarik aku berjalan di sisinya.
Tanpa memberi tanggapan berupa sepatah katapun, aku mengangguk samar. Entahlah, seharusnya aku merasa amat sangat bahagia saat mendengar pengakuan Neji. Namun ternyata rasa takutlah yang mendominasi perasaanku kali ini. Aku mengharapkan Neji tak usah mengatakan itu. Biarlah aku saja yang mempunyai perasaan tabu itu. Kali ini aku tahu kami berdua saling mencintai. Tetapi itu tidak memperbaiki keadaan. Justru memperburuknya.
Perjalanan kami tidak diisi pembicaraan sama sekali. Tangan Neji pun sudah tak menggenggam pergelangan tanganku lagi, dan beralih pada pundakku. Ia melingkarkan tangannya di sana, menyalurkan rasa hangat dan perlindungan yang sangat membuaiku. Dengan gugup, kugenggam erat tasku dan berdoa pada Kami-sama, meminta kekuatan padaNya.
Kami berdua pun sampai di sebuah kedai es krim kecil di pinggir jalan. Kedai itu tidak tampak seperti kedai. Justru terlihat seperti 'replika' restoran, karena 'kedai' itu memiliki interior yang terlihat luar biasa mahal dengan dinding kayu dan jendela kaca besar yang nyaris tak tampak saking bersihnya. Kedai es krim itu juga memiliki desain zaman Edo yang sangat kental. Aku cukup terpesona dibuatnya. Neji membuka pintu kedai dan segera menyuruhku mencari tempat duduk yang kusukai. Aku pun memilih tempat di sudut ruangan yang jauh dari keramaian.
"Kau ingin es krim apa?" tanya Neji dengan tenang saat aku sudah duduk.
"Um, a-apa di sini ada es krim mochi?" aku justru balik bertanya pada Neji.
"Kau bercanda? Di sini tersedia segala jenis es krim dari segala penjuru dunia!" sahut Neji dengan gaya berpromosi. Ah, kurasa ia cocok menjadi seorang bintang iklan. "Rupanya kau masih menyukai mochi, ya? Yah, dan aku masih tidak menyukai mochi," sambung Neji dengan wajah mengernyit membayangkan rasa kue mochi yang menurutku sangat enak.
Aku mendengus geli dan berkata, "K-kalau begitu es krim mochi satu untukku."
"Baik, Nona. Pesanan anda akan siap dalam waktu sepuluh menit!" ujar Neji sembari membungkuk, lalu pergi ke tempat memesan. Aku tertawa pelan melihat tingkahnya. Kurasakan darahku mendesir cepat ketika melihat punggung Neji yang semakin menjauh. Rambut panjang warna indigonya bergoyang-goyang seirama gerak tubuhnya. Aku teringat saat pertama kali aku jatuh cinta padanya. Dan aku menyesali kenangan itu.
'Seharusnya hal itu tak pernah terjadi,' pikirku sambil memijit pelipisku yang sudah mulai berdenyut.
Bagaimana mungkin seorang Hyuuga yang terkenal dengan wibawa dan kehormatannya bisa jatuh cinta pada sepupunya sendiri? Andaikan Ayah dan Paman tahu kami saling mencintai, mereka sudahlah pasti tak akan pernah memaafkanku dan tidak membiarkan aku kembali bertemu dengan Neji sampai salah satu dari kami menikah.
"Nona, ini pesanannya!" seru seseorang yang membuyarkanku dari lamunan. Aku mendongak dengan terkejut saat melihat Neji membawakan nampan dengan pesanan kami berdua di atasnya. Dengan segera aku membantu Neji meletakkan isi nampan itu ke atas meja.
Kami pun memulai acara 'kencan' kami. Neji sesekali bercerita mengenai pengalamannya di sekolah di tengah-tengah aktivitasnya memakan es krim. Ia bahkan bercerita tentang anak yang sepuluh tahun ia hajar karena kesalahpahaman ternyata sudah menjadi sahabat dekatnya.
"Yah, ia ternyata sangat baik sekalipun wataknya tidak disukai sebagian besar anak laki-laki di sekolahku. Tapi kau tahu, Hime? Ia sangat populer di kalangan para gadis! Aku sampai iri dibuatnya!" Neji menutup ceritanya dengan dengusan kesal, membuat aku tertawa pelan.
"N-Neji-n― maksudku Neji-kun... es krim a-apa yang kau pesan?" tanyaku setelah Neji selesai menceritakan pengalamannya.
"Kau tidak tahu? Ini es krim teh hijau," jelas Neji sambil menyuapkan sesendok penuh es krim ke dalam mulutnya.
Aku memang bukanlah pecinta es krim seperti Neji, sehingga pengetahuanku seputar es krim tidak seluas Neji. Aku hanya menggeleng dan berkata pelan, "B-boleh aku mencobanya?"
Neji mengangguk dan tanpa aba-aba segera memasukkan sendok penuh es krim ke dalam mulutku, membuat mataku membulat sempurna. Detik itu juga rasa green tea yang begitu enak menyebar di mulutku. Ah, aku jatuh cinta pada es krim itu. Aku meminta lagi pada Neji untuk menyuapiku es krimnya lagi. Neji hanya tertawa dan mulai menyuapiku lagi.
"Kau suka, Hime?" tanya Neji yang segera kusambut anggukan antusias. Lalu, Neji menukar es krimku dengan es krimnya.
Aku terkesiap dan buru-buru mencegah tangannya yang sudah terlanjur menukarnya. "Ne-Neji-kun! K-kau b-bilang kau ti-tidak suka Mochi!" seruku merasa bersalah. Aku bersikeras menukarnya kembali.
"Aku tidak ingat pernah mengatakannya," ujar Neji singkat sambil menyuapkan sepotong mochi dengan isi es krim itu ke dalam mulutnya. Ia berbuat seakan-akan menyukai es krim itu. Padahal terlihat jelas pada wajahnya ia menahan ketidaksukaannya.
Aku menunduk dan berkata lirih, "Arigatou, Ne-Neji-kun..."
Begitulah, hari ini kami menghabiskan waktu kami untuk berjalan-jalan. Neji berkali-kali melakukan hal yang tidak ia sukai hanya untukku. Seharian ini aku benar-benar melupakan fakta bahwa kita berdua adalah sepasang sepupu. Aku menikmati kebersamaanku dengan Neji. Berkali-kali kubiarkan lengan Neji melingkar di pinggangku, atau kubiarkan kepalaku bersandar di pundaknya tanpa komando.
"Wah, sudah sore. Kita harus pulang, Hime. Pasti Tou-san dan Ji-san sudah mencari kita," ujar Neji dengan sorot mata sayu.
Perkataan Neji barusan menyadarkanku. Mengembalikanku pada fakta yang menyakitkan. Kami bersaudara. Hatiku terasa sesak saat memikirkannya. Air mataku kembali membuncah kala kesadaran itu menyergapku dalam kegelapan angan-angan. Tak mungkin. Tak mungkin kami berdua bisa bersama.
Tanpa basa-basi, aku segera mengangguk dan berjalan ke rumah mendahului Neji. Kali ini tak kubiarkan lagi tangan Neji kembali menyentuhku.
-000-
Kami sampai di rumah tanpa perbincangan di antara kami. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tanpa menunggu Neji, aku segera masuk ke dalam rumah, mengucap salam, dan masuk ke kamarku. Tanpa membersihkan diriku lagi, dan tanpa mengganti pakaian, aku segera menengkurapkan diriku di atas kasur. Air mata yang sedari tadi mendesak keluar akhirnya tumpah juga di atas bantalku. Aku terisak keras dalam kesendirianku di kamar ini. Kubiarkan segala realita mencabik-cabik perasaanku, membuat air mata kian menderas.
Neji.
Nama itu kembali berputar-putar dalam benakku. Bagaimana mungkin seorang Hyuuga yang terkenal dengan wibawa dan kehormatannya bisa jatuh cinta pada sepupunya sendiri? Pertanyaan itu jugalah yang menyertai bayang-bayang Neji.
Tak lama kemudian, ketukan samar terdengar dari arah pintu. Segera kuusap jejak-jejak air mata di pipiku dan memposisikan tubuhku untuk duduk di sisi ranjang. Aku berseru dengan suara serak, "Masuk!"
Pintu pun terbuka tanpa suara, menampakkan sosok yang sebenarnya tak ingin kujumpai saat ini. Mata amethyst itu menatapku dengan penuh rasa khawatir. Ia masuk dan menutup pintuku juga tanpa suara.
"Kau tidak apa-apa, Hime?" tanya Neji dengan lembut. Ia berjalan untuk duduk di sebelahku.
"A-aku t-tidak apa-apa, Neji-nii," sahutku lirih. Aku menggeser tubuhku agar sedikit menjauh dari tubuh Neji. Bukankah aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan Neji kembali menyentuhku?
Neji menyadari sikapku yang mendadak menjaga jarak dengannya. Ia bertanya, "Bukankah aku sudah bilang jangan panggil aku 'Neji-nii'?"
"Kita bersaudara, Neji-nii!" bantahku dengan sedikit emosi yang mulai meluap.
Laki-laki itu menghela napas dan kembali bertanya, "Kau marah padaku?"
"Tidak," jawabku singkat dengan sangat cepat, "Aku hanya lelah."
Pernyataan itu adalah pernyataan halus untuk mengusir Neji. Neji sudah barang tentu mengerti maksudku. Ia pun mengangguk dan segera berdiri menghadapku. Neji menepuk kepalaku dan tersenyum miris sambil berkata, "Oyasuminasai!" Lalu ia keluar kamar tanpa mengeluarkan suara apapun lagi.
Aku merasa hatiku teriris-iris saat melihat ekspresi dan juga nada bicaranya. Namun apa lagi yang bisa kulakukan? Bukankah aku harus menjaga jarak dengannya dan memperlakukannya sebagai saudara? Kalau begitu, aku tidak salah, bukan? Itulah pertanyaan-pertanyaan logis yang muncul dari logikaku yang berusaha membela diri.
Tetapi tetap saja hatiku berkata lain.
-000-
Aku baru saja mengenakan pakaian sehabis mandi pagi ini. Aku berniat untuk keluar rumah dengan maksud merilekskan tubuhku dan melupakan sejenak beban-beban yang menekan pundakku sedemikian keras. Namun, saat aku baru saja kulangkahkan kakiku keluar dari pintu utama rumah, aku melihat Neji tengah berbincang seru dengan temannya yang berambut panjang dengan gaya emo berwarna hitam kebiruan. Aku mengerutkan kening dan bermaksud untuk berbalik arah ke dalam rumah.
"Hime! Kemarilah, kuperkenalkan dirimu dengan temanku!" seruan Neji mau tak mau mengembalikan langkahku ke arahnya. Tanpa dikomando, kakiku menuntun aku padanya. "Sasuke-kun, perkenalkan, ia adik sepupu-ku, Hyuuga Hinata. Mungkin kau masih mengingatnya?"
Aku merasakan nyeri yang amat sangat merangsek masuk dalam rongga dadaku ketika mendengar Neji menyebut aku sebagai 'adik sepupunya'. Padahal itulah fakta yang sebenarnya tentang diriku, dan sudah tidak dapat dipungkiri, karena namaku sudah tercatat dalam silsilah keluarga Hyuuga sebagai saudara sepupunya.
"Hi-Hinata," ujarku lirih sambil menjabat tangan dingin seputih kapas itu.
"Sasuke Uchiha," balasnya dingin.
"Sasuke-kun, kau masih ingat tentangnya, bukan?" tanya Neji sambil menggaruk-garuk tengkuk.
"Tidak," sahut Sasuke cepat.
"N-Neji-nii, a-aku ingin ke rumah pohon. Sumimasen, Uchiha-san!" kataku dengan cepat sambil membungkukkan badanku, dan segera berjalan menuju halaman belakang tempat rumah pohon itu berdiri. Aku masuk ke dalam, dan segera meringkuk di salah satu sudutnya. Pikiranku untuk merilekskan tubuhku akhirnya lenyap entah ke mana setelah bertemu dengan Neji. Aku menopangkan dagu pada lututku, dan dengan tangan memeluk kakiku. Perlahan, aku mulai terisak entah apa alasannya. Mungkin karena ingatan akan ketidakmungkinan hubunganku dan Neji lebih dari batas persaudaraan.
Aku menangis semakin erat ketika mataku menangkap tikar bambu yang masih tergelar di lantai rumah pohon ini. Benda yang menjadi saksi bisu kebersamaanku dengan Neji hari kemarin. Hatiku dipenuhi rasa sesak. Ingin kukeluarkan semuanya, namun entah dengan cara apa aku bisa mengeluarkannya. Mungkin hanya ada satu cara.
Menjaga jarak dan melupakan Neji.
-000-
Tanpa sadar aku tertidur karena lelah menangis. Posisi tidurku masih sama saat pertama kali masuk ke dalam rumah pohon ini sampai aku terbangun. Aku melihat ada yang berbeda dari saat pertama aku masuk ke sini hari ini. Ya. Ada Neji tengah memandangku dengan sedih. Kurasa ia dapat melihat dengan jelas jalur-jalur yang dibuat air mataku. Aku bergegas menghapusnya dan berdeham.
"Kau menangis," ujar Neji. Lebih berbentuk pernyataan dari pada pertanyaan.
"Ya," jawabku singkat sembari memalingkan pandang dari wajahnya yang menatapku sendu.
"Ada apa?" tanya Neji sambil bergerak mendekatiku. Aku tak bisa lolos karena posisi tubuhku yang berada di sudut ruangan.
"Bukan urusanmu, Neji-nii," sahutku sambil menepis tangannya yang sudah mulai menyentuh pipiku.
Neji menggenggam tangannya dan kulihat rahangnya mulai mengeras. Sekalipun demikian, sorot matanya tetap tidak berubah. Masih memancarkan luka dan kesedihan yang sangat mendalam.
"Aku tahu, Hime," ujarnya tiba-tiba, dengan seulas senyum paksaan yang semakin mencabik-cabik perasaanku. "Kau ingin aku menjauhimu, bukan?" tanyanya lagi.
Aku terkesiap. Kudongakkan kepalaku untuk menatapnya dengan jelas. Air mata mulai mengaburkan pandanganku. Aku menggeleng kuat-kuat dan mulai berkata sambil terisak, "Aku... ak-aku t-tidak b-berkata s-seperti it-itu, N-Neji-nii. Ta-tapi―"
"Tapi kau ingin kita bersikap selayaknya saudara sepupu, kan? Kau ingin aku... tidak lagi memperlakukanmu seperti seorang gadis, tetapi... sebagai seorang adik," ucapnya, menyampaikan segala perasaanku, dengan nada memilukan. Kulihat ia menelan ludah dan berkata, "Kalau itu maumu, aku akan melakukannya."
Kemudian Neji berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu rumah pohon.
"Ti-tidak, Neji-nii! Tidak!" aku tak memedulikan lagi tekad yang sudah mulai kubangun akhirnya runtuh lagi. Aku egois. Aku ingin memilikinya sebagai seorang kekasih, tanpa menghiraukan segala asal-usul dan darah yang mengalir dalam diri kami adalah sama. Aku menyusulnya dan memeluknya dari belakang. Kuruntuhkan segala jarak yang juga sudah mulai kubangun di antara kami. Sambil menyandarkan kepalaku di punggungnya, aku terisak pelan di sana, membuatnya basah. Dapat kurasakan Neji mulai bergerak, dan segera kueratkan pelukanku, seakan tak ingin melepaskannya lagi.
Neji menggenggam kedua tanganku dan mulai melepas pelukanku. Tangisanku semakin pecah saat ia membalikkan badan dan memelukku dari depan. Dapat dengan jelas kurasakan Neji menenggelamkan wajahnya dalam rambutku. Aku menghirup aroma maskulinnya yang sangat kusukai. Tanganku pun tak tinggal diam. Aku membalas pelukannya,
"J-jangan t-tinggalkan aku, Neji-nii. Ak-aku―" perkataanku terputus oleh isakkan, "Aku tak p-peduli kita be-bersaudara. Y-yang kutahu, ak-aku... mencintaimu."
Begitulah, isakkanku semakin besar saat tangan erat Neji mempererat pelukannya. Kurasakan kehangatan menjalari tubuhku. Aku benar-benar telah melupakan rasa sungkan yang sedari semalam kurasakan. Aku tak peduli lagi komentar orang lain. Yang kupedulikan saat ini hanya satu. Yaitu, cara bagaimana kita berdua bisa bersatu.
-000-
Sudah seminggu aku dan Ayah tinggal di rumah Paman Hizashi. Sudah seminggu pula aku menghabiskan waktu bersama sepupuku dengan berbagai cara. Sudah banyak kebahagiaan terukir di antara kami. Dan kami berdua sudah sama-sama tak peduli akan komentar orang-orang yang melihat kami berduaan di berbagai tempat.
Siang ini adalah hari kami berdua. Ayah dan Paman Hizashi sedang pergi entah ke mana, dan kami hanya ditinggal berdua di dalam rumah raksasa ini. Saat kami sedang bersama di rumah pohon, Neji menguap dan berkata bahwa ia mengantuk. Aku pun mengangguk dan menyuruhnya tidur siang. Sesaat setelah kami turun dari rumah pohon, Neji menangkap tanganku dan berkata, "Temani aku tidur siang."
Dan aku tidak menolaknya. Tanpa keraguan sedikitpun, aku mengangguk dan mengikuti Neji ke dalam kamarnya yang gelap. Aku sudah tahu di antara kalian akan berpikir sesuatu akan terjadi di dalam kamar itu. Namun sekali lagi, tak ada rasa khawatir dalam diriku. Aku tak peduli jika Neji melakukan apa pun terhadapku, karena aku sudah benar-benar menjatuhkan hatiku padanya tanpa berniat mengambilnya kembali. Lagipula, aku tahu Neji bukanlah orang yang mesum seperti itu. Ia sangat mencintai dan menghargaiku sebagai seorang gadis.
Kami tidur berdampingan di atas ranjang king size milik Neji. Kami benar-benar tak melakukan hal apapun siang itu kecuali tidur siang selama setengah jam, karena sama-sama terbangun akibat ponsel Neji yang menderingkan lagu heavy metal yang sangat berisik. Neji mendengus ketika menyadari panggilan telepon itu mengganggu acara tidur siangnya.
"Moshi-moshi? Ya, Sasuke? Sekarang? Ah! Kenapa tidak besok saja, sih? Hah, yasudahlah. Tak usah lama-lama, ya? Yo!" Neji memutuskan sambungan teleponnya dan menatap aku yang juga tengah menatapnya, "Aku harus pergi, Hime! Aaahh, malas sekali rasanya!"
Aku terduduk saat mendengar pernyataan Neji. Tiba-tiba ada sebersit rasa takut yang menyusup dan mulai bersarang di benakku ketika kudengar Neji ingin pergi. Bukannya aku egois karena ingin menahan Neji terus-menerus bersamaku. Tetapi ketakutan itu bukannya tidak beralasan, hanya saja tak kunjung kutemukan alasan yang tepat―sekalipun sudah berulang kali kucari di tiap-tiap sudut akal sehatku,
Aku memandang Neji dalam diam sesaat. Ada jeda antara perkataanku dan miliknya. "J-jangan pe-pergi, N-Neji-kun!" aku berseru tertahan sembari mencengkeram tangan Neji―seakan tak rela ada tangan-tangan jahat merenggut dan membawa Neji pergi dariku.
"Ada apa, Hime?" tanya Neji. Keningnya berkerut heran menatap aku yang mulai berkaca-kaca.
Ah, Kami-sama! Mengapa aku menangis?
"Jangan pergi, kumohon!" isakanku kian terdengar di segala penjuru ruangan, dan aku semakin kuat mencengkeram tangan Neji.
"Hinata-chan, aku hanya pergi seb―"
"Tidak! Batalkan sekarang! Kau harus tetap di sini!" jeritku sambil sesenggukkan. Neji hendak membuka mulut namun segera kupotong, "Kumohon..."
Neji menghela napas dan mengacak rambutnya sebentar. Lalu ia tersenyum padaku, sehingga otomatis kulonggarkan cengkeramanku. Ia mengangguk dan berkata lembut, "Baiklah, Hime. Aku tidak akan pergi. Sekarang tidurlah." Neji mendaratkan ciumannya pada bibirku dan berkata lembut, "Aku mencintaimu."
Perasaan lega akhirnya dapat kurasakan. Dengan ringan aku pun tersenyum dan mulai membaringkan diri di sisinya. Dengan senyuman yang masih terpatri di bibirku, aku mulai memejamkan mata dan membiarkan alam mimpi kembali membuaiku.
-000-
Aku terbangun, dan mendudukkan diriku di ranjang. Mataku mulai mengitari tiap sudut ruangan, berusaha mencari keberadaan sosok yang sebelumnya berada di sebelahku. Mataku membuka lebar kala tak kutemukan orang itu di manapun. Yang kutemukan hanyalah secarik kertas yang diletakkan dengan asal di bantalnya. Dengan tangan bergetar, sambil menggigit bibir aku membuka dan membaca isi kertas itu.
"Hinata-chan, aku akan kembali
dalam waktu 2 jam.
Aku janji."
Bukannya tenang, kecemasan dalam relung hatiku justru kian membludak. Aku menyambar kertas itu dan berlari ke halaman depan dengan kristal bening yang sudah mulai membanjir di kedua pelupuk mataku. Aku akhirnya sampai di halaman depan. Tak kutemukan apa pun.
Kosong.
Yang ada hanyalah pekarangan luas penuh pepohonan yang bergemerisik sendu dan dua buah kursi taman. Dan tak terdengar apapun. Hanya deru angin musim panas yang bertiup membisikkan kata gaib yang tak pernah dapat kuartikan. Langit mendung membuatku terhenyak. Di mana Neji? Aku pun berniat untuk mengecek di rumah pohon.
Tetap tak ada.
Rumah pohon itu terasa dingin saat indera perabaku menyentuhnya. Harum kayu yang kusukai itu mencabik-cabik relung jiwaku. Aku pun buru-buru turun dari tempat itu dan kembali ke halaman depan. Kududukkan diriku di bangku taman dengan tangan masih menggenggam kertas yang ditinggalkan Neji untukku. Tiba-tiba cairan hangat turun dari mataku. Kami-sama, mengapa aku menangis? Aku mulai menyandarkan kepalaku di sandaran punggung. Angin hangat yang bertiup mulai membawaku kembali ke alam mimpi.
-000-
"Hime, aku pulang!" Neji membuka pintu pagar dan tersenyum padaku.
Aku berdiri dari bangku dan segera menghambur dalam pelukannya, tanpa melepas kertas berisi pesan dari Neji. Aku menangis kencang dalam pelukkan Neji, membuat laki-laki itu bingung.
"K-kau... kupikir kau... Neji-kun!" isakku.
"Hi-Hinata-chan, aku 'kan sudah berjanji akan kembali dalam waktu dua jam. Aku sudah menepati janjiku, bukan?" ujar Neji lembut sembari melepaskan pelukanku dan menatap padaku dengan hangat.
Aku mengangguk dan tersenyum senang. Jari-jari Neji mulai mengusap air mata yang sudah mengalir membentuk sungai kecil di pipiku. Menyalurkan ketenangan dari tiap sentuhannya. Hatiku rasanya penuh saat itu.
"Aku akan selalu bersamamu. Menjagamu. Dan aku selalu ada di dekatmu. Di sini," ujarnya sembari menunjuk dadaku. Senyumannya membuat hatiku semakin penuh. Air mataku semakin membludak kala ia memanggil namaku dengan lembut, "Hinata-chan... Hinata-chan..."
"...nata-chan... Hinata-chan..."
Aku merasakan tubuhku diguncang, dan segera terbangun dari tidurku. Pandanganku masih kabur saat kubuka mataku. Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, samar-samar terlihat dua pasang mata amethyst tengah memandangku dengan pandang cemas. Rambut panjang mereka yang identik membuat aku mengenal mereka.
"O-Ot-Otou-san, OJi-san, d-di mana Ne-Neji-k―nii?" tanyaku seketika itu sembari mengedar pandang ke segala penjuru taman.
Paman Hizashi dan Ayah pun saling pandang, kemudian mengangkat bahu sambil memandangku. Lalu Paman Hizashi angkat bicara, "Kami tak tahu, Hinata-chan. Mari kita masuk."
Aku pun menurut dan bangkit dari tempatku, lalu mengikuti mereka. Sebelum benar-benar masuk ke rumah, aku sempat memandang pintu pagar yang tertutup rapat dan mendesah pelan.
Ternyata hanya mimpi.
-000-
Sudah tiga jam...
Di mana Neji? Bukankah ia berjanji akan datang dalam waktu dua jam? Sedari tadi kutunggu ia di ruang tamu sembari mondar-mandir di seputar ruangan, membuat Paman Hizashi dan Ayah terheran-heran akan tingkahku.
Aku pun heran.
Bukankah Neji sudah berjanji? Sudah sepantasnya aku percaya.
Empat jam...
Apakah terjadi sesuatu pada Neji? Mengapa ia belum pulang? Aku semakin gelisah dibuatnya. Kugigit ibu jariku untuk meredakan kecemasan yang kian menjadi. Ayah sempat menghampiriku untuk makan malam, namun aku menolaknya dan lebih memilih untuk tetap menunggu Neji di sini.
Lima jam...
Cukup! Ini sudah keterlaluan. Ke mana Neji? Apakah ia berniat mengingkari janjinya? Jahat sekali dia. Tidakkah ia tahu berapa kali kulayangkan pandangku ke arah jendela hanya untuk mengetahui apakah ia sudah datang atau belum? Tidakkah ia tahu kegelisahan yang kualami ini sudah hampir mencapai puncaknya?
Dan inilah puncaknya, ketika kudengar suara pintu yang diketuk.
Aku bergegas berlari untuk membukanya. Ayah dan Paman Hizashi mengikuti gerakkanku. Dengan harap-harap cemas, aku membukanya dan masih berharap yang datang adalah kakak sepupuku.
Dan ternyata bukan.
Yang kulihat hanyalah dua pasang mata milik dua orang polisi berseragam lengkap.
-000-
"Keluarga Hyuuga?" tanya seorang polisi sembari menunjukkan lencananya.
"Ya, ini rumahku. Ada apa?" sahut Paman Hizashi yang diiringi pertanyaan. Aku menggigit bibirku dengan cemas. Aku tahu ada yang tidak beres.
Sang Polisi yang pertama kali angkat bicara pun memandang rekannya meminta persetujuan. Dan Sang Rekan mengangguk menyetujui. Polisi pertama akhirnya menghela napas sambil menjawab, "Kami menemukan anak dari―" polisi itu memandang Ayah dan Paman Hizashi bergantian dengan bingung, "Em.."
"Saya," sahut Paman Hizashi tidak sabar.
"Ya, anak Anda. Di pinggir jalan tidak sadarkan diri," lanjut polisi itu, "Ia dipenuhi dara―"
"Cukup! Jangan lanjutkan!" jeritku sambil menutup kedua telingaku. Ayah segera merengkuhku dalam pelukan. Aku menangis sejadi-jadinya. Rupanya menutup telinga bukan berarti menghilangkan pendengaranku. Aku masih tetap bisa mendengar ucapannya.
"Kami menemukan Hyuuga Neji sudah tak bernyawa,"
Ucapan itu menghentikan kerja seluruh organ tubuhku. Pandanganku menggelap dan aku pingsan.
-000-
Saat kusadarkan diri, kutemukan diriku berada di dalam mobil, Ayah tampak tengah menenangkan Paman Hizashi yang duduk di bangku penumpang bagian depan, sementara Ayah mengemudikan mobil.
Ingatan itu kembali menyerang memoriku.
"Kami menemukan Hyuuga Neji sudah tak bernyawa..."
"... menemukan Hyuuga Neji sudah tak bernyawa..."
"Neji sudah tak bernyawa..."
Apakah itu artinya aku sudah tak bisa bertemu dengannya? Merasakan hangat sentuhnya? Merasakan perasaan sayang yang ia sampaikan melalui tatapan lembutnya? Merasakan pelukannya?
Saat aku masih bertanya-tanya dalam hati dengan napas yang kian memburu, kami akhirnya sampai di tempat tujuan yang adalah Rumah Sakit Konoha. Aku pun segera turun tanpa dikomando. Tanpa menunggu Ayah dan Paman Hizashi, aku segera berlari mengikuti salah seorang polisi yang tadi ke rumah kami. Kami pun sampai di sebuah ruangan tertutup. Aku menengadah menatap papan yang tertera di depan pintu.
'Ruang otopsi'
Aku hampir saja menjerit jika aku tak ingat ini rumah sakit. Saat polisi itu membuka pintunya, aku segera menghambur ke dalamnya dan hanya mendapati sebuah ranjang rumah sakit dengan benda panjang yang ditutupi kain besar warna putih. Tanpa ba-bi-bu, aku berlari menuju benda itu, dan segera kusingkap selimut yang menutupinya.
Aku menjerit dan menangis meraung-raung saat melihatnya.
Neji. Wajahnya penuh darah. Ia tampak tersenyum.
Kugenggam tangan kakunya.
Dingin.
Tak ada lagi kehangatan yang mungkin menenangkan dan mengangkat segala bebanku.
Ciuman beberapa jam yang lalu. Dan pernyataan cintanya, adalah yang terakhir. Yang terakhir untuk selamanya.
"Neji-kun! Bangunlah! Kumohon! Jangan tinggalkan aku! Kumohon tepati janjimu! Kau bilang kau akan pulang dalam waktu dua jam, bukan?! Mana janjimu, Neji-kun?!" raungku sambil mengguncang-guncang tubuh kakunya. Kualihkan pandangku pada Sang Polisi yang menatapku miris, dan aku menjerit padanya, "Katakan ia bukan Neji! Katakan!"
"H-Hinata-chan, sudahlah..." ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang sama denganku. Ayah dan Paman Hizashi. Ayah tampak sedih melihat saudara kembarnya menangisi putra satu-satunya pergi meninggalkannya seorang diri. Ayah pun menghampiriku dan menggenggam erat kedua pundakku, berusaha menguatkanku. "Neji sudah bahagia di sana, Hinata-chan. Kau harus rela."
Kutepis kedua tangan Ayah. Aku menatapnya penuh kemarahan, dan kusahut ia dengan bentakan, "Tou-san tidak mengerti! Kami saling mencintai, Tou-san! Tou-san tidak mengerti perasaanku!"
Terjadi keheningan panjang setelah perkataanku. Ayah dan Paman Hizashi memandangku dengan pandangan tak percaya. Aku tak peduli lagi dengan apa yang mereka pikirkan. Aku segera berlari meninggalkan rumah sakit. Tak kupedulikan juga jarak antara tempat ini dengan rumahku yang cukup jauh. Aku berlari sekuat-kuatnya dengan isakan yang tetap mengiringi tiap langkahku.
"Jangan kau ganggu Hinata-chanku!"
"Apakah dengan rumah pohon itu Hime akan memaafkanku?"
"Aku suka Hinata-chan!"
"Terkadang aku tak bisa menerima kenyataan bahwa kita bersaudara, Hime,"
"Aku mencintaimu."
"Kami menemukan Hyuuga Neji sudah tak bernyawa..."
-000-
Aku meringkuk dalam keheningan di sudut yang sama dengan sudut tempat aku menangis, saat kuputuskan untuk meruntuhkan tekadku―untuk tetap memperlakukan Neji sebagai saudara―di rumah pohon ini. Kali ini tak ada air mata. Aku bahkan tak sempat menangis saat berkutat dengan kesedihanku. Kehilangan Neji. Hal terburuk yang pernah kuterima dalam hidupku, setelah kematian Ibuku.
Kubuka genggaman tanganku yang masih diisi kertas dari Neji. Kubaca perlahan, berharap waktu kembali.
"Hinata-chan, aku akan kembali
dalam waktu 2 jam.
Aku janji."
Berharap aku tak tidur saat itu, dan tetap menjaga pandangku padanya.
Berharap Neji tak pernah berjanji. Dan mengingkarinya.
Berharap aku tak pernah berpisah dengan Neji.
dan yang terutama dari segalanya.
Berharap kami bisa bersama.
Hanya aku dan Neji.
Namun inilah realita. Tak dapat disamakan dengan angan-angan yang hanya berdasar pada satu kata; 'berharap'. Neji sudah tak ada. Yang tersisa kini hanyalah kenangan manis yang pernah kami lalui bersama.
Sekali lagi.
Hanya aku dan Neji.
End.
Epilogue
"Menjauhlah dari Hinata-chan! Jangan ganggu dia!" seru Neji kepada anak laki-laki berambut kuning jabrik dengan mata biru sapphire yang menjahili Hinata. Ia mengusir sembari melemparkan kerikil, bahkan menimpuk dengan getanya. Lemparannya berhasil. Anak tadi pergi meninggalkan Hinata karena ketakutan. Hinata berterimakasih pada Neji dengan wajah bersemburat merah, dan anak laki-laki berambut panjang itu menggaruk tengkuknya dan menjawab salah tingkah, "Ah, sama-sama, Hime!"
Di situlah segala perasaan terlarang muncul dan menyeruak di antara sepasang sepupu berdarah Hyuuga itu. Tetapi mereka tidak tahu bahwa hal itu dilarang di keluarga mereka. Yang mereka tahu adalah, mereka saling menyukai dan ingin selalu bersama.
Suatu hari, ketika Hinata tengah bermain sepeda di rumah sepupunya, Neji, ia terjatuh. Ia menangis karena kesakitan. Tiba-tiba, sebuah tangan putih pucat memegang tangannya dan membantunya berdiri. Ia tidak menampilkan senyuman atau semacamnya pada Hinata. Yang ia berikan pada Hinata hanyalah sebuah pertanyaan, "Kau tak apa?"
Hinata menangis sebagai jawabannya. Ia tak bisa melihat lukanya yang menganga. Sementara anak berkulit putih pucat dengan mata sekelam malam itu tak dapat mengatakan apa pun. Pandangan datar tetap terpampang jelas di wajahnya. Ia masih menggenggam tangan Hinata tanpa mengucap sepatah kata pun, membiarkan gadis kecil itu menangis semaunya.
Waktu yang sangat tidak pas. Anak laki-laki itu menggenggam Hinata saat Hinata tengah menangis. Dan saat itulah Neji datang untuk menghampiri sepupunya. Saat dilihatnya Hinata menangis dalam genggaman anak laki-laki asing itu, Neji geram sekali dibuatnya. Ia berderap menuju mereka berdua dan segera menyentakkan tangan anak laki-laki itu, yang tengah menatap bingung ke arahnya, dengan kasar.
"Jangan kau ganggu Hinata-chanku!" bentak Neji dengan garang. Ia mulai mencubit dan menjambak rambut panjang jigrak anak itu tanpa ampun. Hinata berusaha untuk menghentikan kegiatan yang tengah dilakukan Neji terhadap anak itu. Namun ternyata kakak sepupunya itu cukup keras kepala. Ia tidak menghentikan aktivitasnya hingga anak itu berseru kesal, menyentakkan tangannya sendiri, menatap Neji tajam, dan pergi meninggalkan mereka dengan langkah santai.
"Ne-Neji-nii mengapa melakukan itu? Anak itu tidak salah, Neji-nii!" seru Hinata sambil sesenggukkan, berusaha meyakinkan kakak sepupunya. Namun Neji tidak menghiraukan perkataan Hinata. Hinata tetap bersikeras untuk membela anak itu. Ia terus menerus berusaha meyakinkan Neji yang akhirnya jengah juga.
"Pasti Hinata-chan suka sama anak itu, 'kan?" tuduh Neji sambil menatap tajam pada Hinata.
Hinata terkejut mendengar pertanyaan Neji. Air matanya mulai berlinang, lalu ia berlari dengan kaki-kaki kecilnya menuju kamar tidurnya. Ia menangis di dalam. Ia tidak suka dituduh demikian oleh Neji.
'Apakah Neji-nii tidak tahu aku menyukainya?' batin Hinata sambil tetap terisak pelan di tempat tidurnya. Ia merasa kesal pada kakak sepupunya itu. Jiwa tujuh tahunnya merasa marah pada Neji yang seenaknya berkata bahwa ia menyukai anak laki-laki yang tidak ia kenal itu.
Tiba-tiba pintu berderit terbuka, Neji mengintip dengan sepasang mata amethystnya yang menyorotkan penyesalan seorang anak kecil. Ia masuk dan menutup pintu, yang menurutnya sangat besar itu. Ia melangkah dengan sepasang kaki kecilnya untuk menghampiri Hinata yang sedang duduk dan menyembunyikan wajahnya di dalam selimut. Tangan kecil Neji menarik selimut itu, sehingga kini ia dapat melihat dengan jelas Hinata yang tengah mengelap kedua pipinya yang penuh air mata.
"Hime marah padaku?" tanya Neji sambil menarik-narik jarinya sendiri.
Hinata mengangguk dengan polosnya, lalu ia menyahut marah, "Neji-nii menuduh aku suka anak tadi! Padahal aku tidak suka!"
"Gomen ne, Hime. Maafkan aku ya? Kamu mau apa supaya mau maafkan Neji?" tanya Neji takut-takut.
"Aku tidak minta apa-apa," kata Hinata dengan pasti. Wajahnya kini sumringah, seakan air mata tak pernah mengalir di sana. Ia senang akhirnya Neji meminta maaf padanya.
"Kau serius?" tanya Neji yang semangat masa kecilnya mulai bangkit lagi.
"Ya, sebenarnya tidak. Aku mau rumah pohon. Buatkan aku rumah pohon, Neji-nii!" seru Hinata tiba-tiba sembari sumringah.
Neji terperangah dibuatnya. Ia bahkan tidak tahu cara 'menumbuhkan' rumah dari sebuah pohon. Ia menggaruk kepala bagian belakangnya dan menyahut, "Sebenarnya aku tidak tahu cara membuatnya. Tapi, apakah dengan rumah pohon itu Hime akan memaafkan aku?"
Kini giliran Hinata yang bingung. Sebenarnya ia meminta itu bukan sebagai syarat dimaafkannya Neji. Ia hanya menginginkannya karena baru menonton serial anime yang menampilkan tokohnya yang sedang bermain di rumah pohon. Ia berkata, "Tidak, Neji-nii. Aku hanya mau saja."
Neji menimbang-nimbang sejenak dan berkata, "Baiklah, aku janji akan membuatkannya!"
Senyum di bibir Hinata pun kian mengembang dibuatnya. Tanpa ragu ia memeluk tubuh kecil saudara sepupunya. Neji pernah melihat kedua orang tuanya berpelukkan, sehingga ia mengikuti jejak Ayah Ibunya dengan cara membalas pelukan Hinata dengan mengelus rambut pendek Hinata yang berwarna sama dengan miliknya. Perasaan yang entah apa menyeruak di antara mereka. Mereka merasa nyaman dengan keberadaan masing-masing. Mereka bahkan tak menyadari akan akibat dari perbuatan mereka saat ini. Yang mereka tahu saat ini adalah.. mereka bahagia.
"Aku suka Hinata-chan..." ujar Neji spontan setelah pelukan mereka berhenti. Pipi chubbynya memerah saat mengatakan itu.
Hinata tersenyum senang saat mendengarnya. Ia semakin senang saat Neji mengatakan itu, karena tahu Neji juga menyukainya. Ia mengangguk dan menyahut, "Hime juga."
Lalu wajah keduanya dipenuhi warna merah yang cukup pekat saat dengan spontan Neji mencium singkat bibir Hinata.
Ciuman pertama mereka.
FUAAAH! Akhirnya ni story selesai jugaa xD
Thanks buat Emmadehazel sebagai 'The one and only that reviewed this story' (until now, of course). Yah, waktu itu aku juga sempet denger dari seseorang kalo NejiHina itu boleh nikah ._. tapi aku gatau dia bener atau enggak~ Tapi yah, biar seru kubikin itu hubungan tabu aja yah~ Ohya, makasih banget yaa buat ralatnya~ Sudah kupatuhi, bukan? Eh, tapi kalo belom sempurna pemenuhan ralatnya, aku minta maaf yaa, aku lupa pelajaran kelas 2 SMP itu -_- *digetok guru bahasa Indo*. Sempet keder juga sih nulis kata benda dengan imbuhan akhir '-an', apakah dobel 'k'nya, atau satu aja -_- dan kupilih dobel sebagai keputusannya -_-
And finally, arigatou gozaimasu yaa udah mau RnR this story~ Aishite imasu :* *ditenggelemin ke laut Arafuru*
Never stop trying to be better, and better
-Anonymous Hyuuga-
