Summary:
"Kau tidak pantas berada di keluarga Hyuuga!" | "Sudah tak ada yang lain." | "Lihatlah, TOU-SAN, aku bukanlah Hinata yang lemah." | "Ternyata mengasyikkan melakukan ini. Aku ingin yang lebih!"
"SILENT MURDERER"
Disclaimer:
All characters of Naruto belong to Masashi Kishimoto-sensei, the twin brother of Seishi Kishimoto
Warning:
Suspense, no lemon inside (maybe just implicit), Dark Hinata (I'm so sorry, Hinata lovers), Out of character, Alternate Universe
PART TWO
Mataku kian membulat saat mendengar penuturannya. Kurasakan keringat dingin mulai menjalari seluruh bagian tubuhku. Oh, bagaimana ini? Aku berencana untuk menjadi pembunuh, tetapi justru ketakutan setengah mati saat mendengar Itachi telah membunuh keluarganya. Rahangku menegang. Aku menggigit bibirku dan bergeser perlahan menjauhi Itachi yang tengah menatapku dingin.
"Kau takut padaku, Hina-chan?" tanya Itachi dengan nada bicara yang teramat dingin. Ia berdiri, membanting gelasnya yang masih terisi penuh, dan berjalan ke depanku, lalu mulai naik ke atas tempat duduk, tepat di hadapanku. Ia meraba pipi kiriku dengan kasar, sedangkan aku hanya menahan ketakutanku dengan menutup mata. "Tatap aku, Hinata-chan. Lihat mataku!"
Aku membuka mataku perlahan-lahan, dan yang pertama kudapati adalah ekspresi Itachi yang sangat mengerikan. Ia menyeringai penuh kekejaman dan penuh... nafsu. Sempat mengabur pikiranku saat menatap matanya yang memerah. Tunggu, maksudku irisnyalah yang memerah. Apakah... apakah aku salah lihat? Namun sebelum aku benar-benar terlarut pada pandang matanya, dengan segera aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, dan mulai mendorong wajah Itachi agar menjauh dariku. Saat Itachi sudah menjauh, aku berdiri di atas sofa, masih dengan tangan menggenggam kuat gelas teh hijau yang sedari tadi tidak kuletakkan. Dapat kurasakan dengan jelas kakiku bergetar hebat karena ketakutan.
"I-Itachi-kuun.." bisikku lirih. Keteganganku semakin menjadi saat Itachi mulai berdiri dan menarik pundakku dengan kasar sehingga kini aku berada tepat di hadapannya hampir tanpa jarak.
Itachi mendekatkan wajahnya pada wajahku dan mulai mencium bibirku dengan liar. Aku membelalakkan mata, dan meronta-ronta minta dilepaskan. Namun pria tampan itu tidak menghiraukanku, malahan ia menarik rambut panjangku dan membuatku hampir kehabisan napas.
Aku menjerit di sela-sela ciuman kami. Tanpa terasa air mata mengalir perlahan dari mataku. Rasa sakit yang entah karena apa menghantam ulu hatiku, membuat dadaku terasa sesak. Dengan tega, aku menggigit bibir Itachi sehingga pria itu melepaskan pagutannya dengan terpaksa. Aku segera terduduk di sofa dan mulai menangis kencang. Aku tahu, seharusnya aku berlari saja. Namun tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam tubuhku. Aku hanya bisa menangis ketakutan, menunjukkan kelemahanku di hadapan Itachi.
Saat aku memberanikan diri untuk mendongak, kudapati kejahatan dalam sorot matanya sudah hilang sama sekali. Ia memandangku dengan lembut dan mulai membelai kepalaku.
"Gomen na sai, Hinata-chan. A-aku kehilangan kesadaran," ujar Itachi dengan penuh penyesalan. Dapat kurasakan ketulusan dalam nada bicaranya. Ketakutan dalam diriku pun lambat laun menghilang. Aku tersenyum dan mengangguk. "Ayo tidur."
Pipiku memanas mendengar kata-kata Itachi barusan. Hanya dengan frase 'Ayo tidur' dari seorang Itachi dapat membuatku merona merah. Apa yang terjadi padaku? Apakah aku...?
-xxx-
"Pergi ke mana semangatmu yang kemarin, Hinata-chan?" tanya Itachi di sela-sela latihanku.
Entah mengapa di latihan kali ini aku merasa lebih mudah lelah. Hari ini aku benar-benar menunjukkan kelemahanku di hadapan Itachi. Sisi lemah yang sudah mati-matian kutekan itu pun muncul lagi secara tiba-tiba. Mungkin karena cuaca yang sedang sangat panas karena matahari yang bersinar dengan sangat garang. Berkali-kali aku berjalan ke pinggir lapangan untuk berteduh di bawah pohon, dan berkali-kali pula Itachi menggelengkan kepalanya.
"Go-gomen ne, Itachi-kun. Aku akan berusaha!" ujarku sambil mengangkat kembali pedang di tanganku. Mataku membulat saat melihat cahaya matahari memperlihatkan sebuah bercak berwarna merah darah terlihat dari pedang itu. Tanpa aba-aba aku memekik tertahan dan melempar pedang itu dengan rasa takut.
"Ada apa, Hina-chan?" Itachi bergegas menghampiriku dan bertanya panik. Ia melihat sekilas ke arah pedang itu, dan sejenak ekspresinya tampak seperti kemarin. Aku sempat was-was melihatnya begitu, namun kewaspadaanku hilang ketika Itachi kembali memperlihatkan ekspresi datarnya yang biasa. "Kupikir dengan pedang itu keberanianmu meningkat. Nyatanya kau justru takut. Pegang milikku!" Itachi melemparkan pedangnya dan segera kutangkap dengan tangan gemetar.
"I-Itachi-kun... I-itu tadi a-apa?" tanyaku takut-takut.
"Yang kau maksud bercak darah ini?" tanya Itachi sambil menunjuk bercak tadi dengan santai. Lalu ia melanjutkan dengan sorot mata menakutkan, dan dengan irisnya yang tampak kemerahan dalam waktu beberapa detik, "Itu darah Ayahku. Uchiha Fugaku."
Aku tercengang mendengar penuturannya yang begitu santai dan mengerikan. Bagaimana ini? Bagaimana jika aku dibunuh olehnya saat aku tidur? Ia terlalu berbahaya untukku. Apakah... apakah aku harus melarikan diri? Tidak. Tentu tidak. Bagaimanapun Itachi pernah membunuh. Itu artinya ia tahu persis apa yang harus aku lakukan. Apa yang harus aku lakukan untuk membunuh Ayah dari Hanabi.
-xxx-
Tak terasa sudah seminggu aku tinggal di rumah Itachi. Dalam seminggu itu aku sudah dapat menguasai banyak teknik pedang yang diajarkan Itachi kepadaku tiap hari. Dan dalam seminggu itu juga, aku bisa mengenal pribadi Itachi dengan lebih dekat. Aku tahu lebih banyak tentang pria itu. Aku tahu alasan mengapa ia membantai seluruh anggota keluarganya terkecuali adiknya yang bernama Sasuke itu. Dan lebih lagi, aku tahu ia mempunyai kemampuan mengendalikan pikiran, karena ia pernah mengendalikan pikiranku pada suatu malam. Dan entah apa yang terjadi, esok paginya, kudapati tubuhku sudah polos dan hanya ditutupi selembar selimut.
Namun hal itu bukanlah masalah besar bagiku. Aku sudah tak peduli.
Sudah tak peduli lagi dengan masa depanku. Yang kupedulikan saat ini adalah cara untuk menghabisi Hyuuga Hiashi.
Alih-alih air mata kukeluarkan, aku justru memberikan senyuman lebar saat melihat Itachi terbangun di sebelahku pagi itu.
"Ohayou, Itachi-kun!" ujarku sambil menarik selimut yang sedari tadi menutupi diriku hingga sebatas leher.
Itachi mengerjapkan matanya tak percaya. Ia memposisikan diri menghadapku dengan satu tangan menyangga tubuhnya. Dengan pergerakannya itu, dapat kulihat Itachi bertelanjang dada. Ia tersenyum kepadaku dan menyahut, "Ohayou, Hinata-chan!" Lalu ia mencium bibirku tanpa seizinku.
Namun lagi-lagi, aku tidak peduli.
"Semalam kau hebat sekali," ujar Itachi sambil menyeringai nakal.
Aku pun tersipu malu. Bagaimana pun semalam aku tidak sadar. Jadi bukan sepenuhnya salahku, bukan? "Kau membuat aku tidak sadar, Itachi-kun! Kau curang!"
"Ah, lagipula aku tahu kau tidak akan mau saat kau sadar. Jadi kukendalikan saja pikiranmu itu," ujar Itachi enteng, "Ayo cepat kau mandi, dan kita latihan!"
"Ha'i!" aku pun berjalan ke kamar mandi tanpa perlu repot-repot mengenakan pakaianku. Toh Itachi sudah melihat semuanya.
-xxx-
"Hari ini aku akan mengajarimu teknik menggunakan kunai!" seru Itachi sembari meletakkan peralatan latihan kami hari ini di pinggir lapangan. Ia mengajakku melakukan pemanasan, dan setelahnya mengambil beberapa kunai untuk latihan kami. "Sekedar tahu, panjang kunai ini sekitar sepuluh sampai lima belas sentimeter. Kita bisa memakai ini untuk memanjat tebing, menggali tanah, dan terlebih lagi yang pasti untuk membunuh lawan."
Aku mengangguk mengerti mendengar penuturan Itachi.
"Peganglah ini!" kata Itachi sambil melemparkan sebuah kunai padaku, dan segera aku tangkap. "Ayo kita coba latihan pertama kita dengan kunai."
Kami pun memulai latihan kami. Berbeda dengan langkah Itachi yang lincah dan gerakan tangannya yang piawai, aku bergerak kaku dan kewalahan saat Itachi melancarkan serangan yang bertubi-tubi. Hingga akhirnya, Itachi—yang entah bagaimana caranya—sudah berada di belakangku, dan menodongkan kunainya dari belakang. Aku dapat merasakan ujung kunai yang tajam dan dingin itu menyentuh kulit leherku.
Darahku berdesir ketika aku mengingat cerita Itachi yang telah membunuh seluruh anggota keluarganya sendiri. Ketakutan menyergapku, membuat tubuhku berdiri dengan kaku, tak bergerak barang sesenti pun. Kutahan napasku, dan kurasakan degup jantungku kian tak menentu.
Takut.
Hal itulah yang kini aku rasakan. Jangankan aku yang orang asing buatnya, anggota keluarganya pun sudah menjadi korban kekejaman dan kegelapan pribadinya.
"Kau sepertinya harus berlatih lebih banyak, Hina-chan," ucap Itachi sembari menarik kembali tangannya. Kalimat yang mengalir dari bibir Itachi menarik aku dari bayang-bayang imaji yang mengerikan. Aku menghela napas lega ketika khayalan-khayalan bodohku menguap begitu saja.
"Ah, i-iya, Itachi-kun," ujarku sambil kembali memasang kuda-kuda.
Latihan kami pun berlangsung cukup lama hari ini. Entah mengapa, aku merasa sangat bersemangat. Hari ini sisi lemahku tidak begitu nyata kuperlihatkan pada Itachi. Aku harus mempertahankan ini. Paling tidak sampai aku membuktikannya pada Hyuuga Hiashi.
-xxx-
"Sudah dua minggu kau tinggal di sini, dan permainan pedang atau kunaimu sudah sangat amat lebih dari baik. Kulihat kegagapan dan kegugupanmu sudah mulai berkurang. Bagaimana?" tanya Itachi saat kami sedang sama-sama duduk di depan meja makan untuk menyantap hidangan makan malam, yang dibuat oleh Itachi dengan bantuanku.
Aku memasukkan sepotong udon ke dalam mulutku dengan sumpit, mengunyah, menelan, dan bersiap untuk menjawab Itachi dengan balik bertanya. "Bagaimana apa maksud Itachi-kun?" tanyaku tidak mengerti.
"Soal rencanamu," sahut Itachi singkat. Dengan sorot mata datar ia menatapku tanpa ekspresi.
Aku menghentikan sejenak kegiatan mengunyahku, dan kupandang Itachi yang duduk di seberangku. Akhirnya makanan yang sudah cukup lembut kukunyah itu pun aku telan dengan susah payah.
"Bukankah kau ingin membuktikan kemampuanmu?" tanya Itachi lagi sambil mengeluarkan seringai iblis.
Kesadaran dan ingatan pun menyerang memoriku. Aku tersenyum menyetujui Itachi, lalu mengangguk mantap dan berkata setengah mendesis, "Aku sangat tidak sabar melakukannya, Itachi-kun. Kapan kau siap?"
"Kapanpun, aku siap," sahut Itachi sambil mencondongkan tubuhnya. Ia memegang pipi kiriku dan mendekatkan wajahnya padaku, lalu mulai mencium bibirku, dan kubalas tanpa ragu-ragu.
-xxx-
Kami sudah mempersiapkan segala skenarionya. Dan inilah waktunya. Pagi ini Itachi mengejutkanku. Ia tiba-tiba mengeluarkan sebuah mobil bentley continental berwarna putih yang masih sangat baik kondisinya, tanpa cacat sedikitpun. Deru mesin yang begitu halus—saat Itachi memanaskan mobilnya—itulah yang membangunkanku pagi ini. Aku segera mandi dan mengenakan pakaianku, lalu menjumpai Itachi yang tengah berkaca di jendela mobilnya.
"Ohayou, Itachi-kun!" seruku sambil berlari-lari kecil menghampirinya. Kulihat Itachi juga sudah siap. Ia mengenakan kemeja yang sewarna dengan matanya, dengan tiga kancing terbuka, memperlihatkan dada bidangnya. Ia juga memakai celana panjang dengan warna senada dengan kemejanya, dan juga sneakers yang—lagi-lagi—warnanya hitam.
"Ohayou, Hina-chan!" sahut Itachi sembari membukakan pintu penumpang untukku. Tanpa aba-aba, aku segera masuk ke mobil dan duduk dengan nyaman di mobil mewah ini. Lalu, Itachi juga masuk dan duduk di bangku pengemudi. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum. "Kau terkejut?"
"Ya. Itachi-kun belum memberitahuku tentang mobil ini!" timpalku dengan nada memprotes—seakan-akan aku harus tahu segala hal tentang Itachi, mulai dari hal terbesar seperti alasan ia membantai keluarganya, hingga ke perkara kecil seperti nomor celana dalamnya. Ah! Apa yang ada di pikiranku? Mengapa harus 'celana dalam' yang kugunakan sebagai contoh? "Itachi-kun sudah membawa semuanya?" tanyaku.
Itachi mengangguk dan mulai menyalakan mesin mobilnya. "Tenang saja. Aku sudah mempersiapkan semuanya," ujar Itachi sambil, seperti biasa, mencium bibirku dan—seperti biasa juga—kubalas tanpa rasa sungkan.
Sepanjang perjalanan perbincangan selalu ada di antara kami berdua. Selalu saja ada topik yang bisa dibicarakan. Tak sekalipun keheningan menyeruak kami. Sekalipun Itachi bukanlah tipe orang yang suka berbicara, ia selalu memiliki topik yang menarik untuk dibuat menjadi bahan pembicaraan atau bahan perdebatan.
Akhirnya sampailah kami di desa Hyuuga setelah satu jam menempuh perjalanan. Kami segera keluar dari mobil itu dengan tak lupa membawa peralatan yang kami butuhkan. Aku membawa tas kecil berat yang berisi kunai berbagai ukuran. Sedangkan Itachi kuminta membawa dua pedang dengan sarung di pinggangnya. Lalu, setelah semuanya siap, kami pun berjalan menyusuri jalanan-jalanan luas desa ini dengan tangan Itachi yang berada di pinggulku. Beberapa orang yang kami jumpai—yang sudah pasti mengenalku—memandang kami dengan pandangan jijik atau semacamnya saat melihat kemesraan kami—yang sebenarnya adalah rekayasa.
Setelah berjalan melewati beberapa rumah warga, kami akhirnya sampai di rumah lamaku. Detak jantungku semakin tak keruan, tak sabar menanti saat-saat di mana aku akan membuktikan pada Hiashi bahwa aku tak selemah yang ia kira dulu. Saat kami berada di luar pagar rumah itu, tukang kebun yang bekerja pada Hiashi melihat kami dengan alis terangkat heran. Meskipun ia tidak mengucapkan sepatah katapun, aku tahu laki-laki itu sama sekali tidak mengharapkan kedatanganku.
Tanpa menghiraukan tatapannya yang menyebalkan, aku segera masuk bersama Itachi dengan tak perlu repot-repot mengucapkan kata 'permisi' atau semacamnya. Lalu tibalah kami di pintu masuk gedung rumah itu. Yang pertama kudapati adalah Hyuuga Hiashi yang tengah menyeruput segelas entah-apa dengan surat kabar di tangan satunya. Aku berdeham, dan membuat Hiashi mendongak menatap kami dengan raut wajah tercengang.
Alih-alih mengucapkan salam atau menghambur ke pelukan Hiashi, aku justru menarik wajah Itachi dan mulai menciumi bibirnya dengan liar. Itachi pun membalas dengan tak kalah 'ganas'-nya denganku. Aku memandang Hiashi melalui ekor mataku, dan melihat raut tak senang dalam wajahnya, membuat aku tersenyum di sela-sela ciumanku dengan Itachi.
Setelah bosan dengan ciuman kami, aku segera berjalan seenaknya ke salah satu sofa dengan tangan menarik Itachi untuk mengikuti jejakku.
"Halo, Hyuuga Hiashi. Apa kabar Anda? Senang sekali berjumpa lagi dengan Anda," ujarku membuka perbincangan kami. Aku tersenyum sinis ke arah Hiashi, dan aku bisa merasakan Itachi melakukan hal yang sama denganku.
"Hinata, mau apa kau ke sini?" tanya Hiashi dengan nada formal yang tak sanggup menutupi kekesalan dalam bicaranya.
"Oh, tak bolehkah anakmu ini mengunjungi ayahnya sendiri?" tanyaku dengan nada penuh ejekan pada bagian kata 'anak' dan 'ayah'. "Sungguh naas nasibku, Itachi-kun. Bahkan ayahku sendiri tidak menganggap aku," lanjutku sembari menyandarkan kepala ke pundak Itachi. Itachi segera melingkarkan tangannya di bahuku.
"Ya, sungguh naas," timpal Itachi menyetujuiku. Ia merogoh tas milikku dan mengambil sebuah kunai tanpa sepengetahuan Hiashi.
"Siapa laki-laki itu, Hinata?" tanya Hiashi lagi—padahal pertanyaannya yang pertama saja belum kujawab.
"Siapa laki-laki ini? Dia housemate ku, Hiashi," jawabku ringan dan buru-buru meralatnya, "Eh, maksudku teman tidurku."
Aku bisa melihat keterkejutan dalam raut wajah Hiashi. Ia menatapku dengan penuh ketidak percayaan, membuat aku semakin tersenyum puas. Aku menoleh menatap Itachi dan melihatnya tengah mengeluarkan seringai iblisnya—yang akhir-akhir ini sangat kusukai. Itachi menyelipkan kunai yang ia pegang ke dalam tanganku, dan aku segera memasukkan jariku ke lubangnya dan mulai memutar-mutarnya dengan gembira.
"Sejak kapan kau memegang senjata, Hinata?" tanya Hiashi dengan wajah mulai was-was.
"Sejak kapan, ya? Kau tahu jawabannya, Itachi-kun?" tanyaku dengan nada manja pada Itachi, sembari kembali menyandarkan kepalaku pada pundaknya.
Itachi terkekeh pelan dan dengan gemas mencium bibirku. Ia menjawab, "Tentu saja, Hinata-chan. Sejak hal itu, bukan?"
Aku mengangguk setuju dan berkata, "Ya, sejak itu." Pandanganku pun kini tertuju pada Hiashi. Aku menatapnya dengan sangat tajam dan penuh rasa benci. Dengan kebencian yang menggebu-gebu, aku melempar kunai itu ke arahnya.
Dan menancap tepat di pundak kirinya.
To be continued.
WKWKWKWK SUSPENSE NYA KURANG SEREM NIH AH.
Tapi bakalan lebih serem kok di chapter selanjutnya. Baca terus yah, yang mau baca =3= wkwkwk~
Makasih untuk para silent readers (kalo ada-_-).
Udahlah, yang penting tice tetap Ganbatte!
Never stop trying to be better, and better.
-Anonymous Hyuuga-
