Summary:
"Kau tidak pantas berada di keluarga Hyuuga!" | "Sudah tak ada yang lain." | "Lihatlah, TOU-SAN, aku bukanlah Hinata yang lemah." | "Ternyata mengasyikkan melakukan ini. Aku ingin yang lebih!"
"SILENT MURDERER"
Disclaimer:
All characters of Naruto belong to Masashi Kishimoto-sensei, the twin brother of Seishi Kishimoto
Warning:
Suspense, no lemon inside (maybe just implicit), Dark Hinata (I'm so sorry, Hinata lovers), Out of characters, Alternate Universe
THE LAST PART
Aku tersenyum puas saat melihat darah mengalir deras tepat di tempat kunai itu menancap. Tawa jahat pun mulai berderai kala kudengar Hiashi meraung-raung kesakitan. Pria itu hendak beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil katana yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk, hingga kuambil sebuah kunai lagi dari dalam tasku dan kulempar lagi hingga kini menancap di lengan atasnya.
Dua kunai di tubuhnya.
Aku tertawa semakin kencang melihat Hiashi limbung dan terjatuh akibat kesakitan. Itachi ternyata tak tinggal diam. Setelah sebelumnya ia mengambilkan satu pedang dari sarungnya dan menyerahkannya kepadaku, ia menahan pergerakkan Hiashi yang mulai hendak meraih senjatanya. Setelah berhasil menahan gerak pria tua menyebalkan itu, Itachi memaksa Hiashi menatap matanya.
Dari samping aku dapat melihat bola mata Itachi berubah warna menjadi merah selama beberapa detik. Dan perubahan selanjutnya adalah, Hiashi yang semula hendak memberi perlawanan justru meringkuk di depan sofa dan memohon-mohon kepadaku.
"Hi-Hinata, k-kumohon j-jangan bu-bunuh ak-aku! Aa... aku takut! Aku tidak mau m-mati!" pintanya dengan suara bergetar, membuat tawaku kian meledak-ledak.
"Tenang, Hiashi. Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Aku hanya ingin membuktikan padamu bahwa aku tidak lemah!" sahutku. Nada bicaraku berubah marah pada beberapa kata terakhir. Aku beranjak dari tempat dudukku dan mulai berjalan ke depan Hiashi, lalu berjongkok di sebelah Itachi sambil meletakkan pedang yang tengah kupegang di dekat kakiku. "Tatap aku, Hyuuga Hiashi! Lihatlah, Tou-san, aku bukanlah Hinata yang lemah!" seruku marah tepat di depan wajahnya yang ketakutan—karena pikirannya dikendalikan oleh Itachi—sambil menyayat-nyayat wajahnya dengan sebuah kunai yang kucabut dari pundaknya.
Itachi tertawa-tawa, sedang Hiashi berteriak kesakitan. Kucabut kunai satunya yang masih terbenam di lengannya, membuat laki-laki itu menjerit-jerit. Dua kunai di tanganku, kugunakan untuk menyayat wajahnya yang sudah berdarah-darah dan sarat akan sayatan yang masih sangat baru.
"Cukup!" teriak Hiashi tidak tahan. Aku pun menghentikan kegiatanku dan memberi kode kepada Itachi.
Itachi yang berada di sebelahku meminta satu kunai dari tanganku lalu menarik keluar dengan paksa lidah Hiashi. Pria tampan Uchiha itu pun mulai mengiris ujung lidah Hiashi dengan sangat perlahan menggunakan kunai di tangannya.
"Aaarrrhh!" jerit Hiashi. Tubuhnya menegang, membuat darah di wajah dan lidahnya mengalir dengan lebih deras.
"Lanjutkan, Itachi-kun!" seruku kegirangan. Itachi pun tersenyum dan melanjutkannya dengan senang hati, hingga akhirnya ujung lidah Hiashi terpotong dan jatuh ke lantai. Aku mengernyit jijik melihat lidah itu, dan segera melemparkannya jauh-jauh.
"Kita apakan lagi dia, Hinata-chan?" tanya Itachi tepat di sebelah telingaku. Ia mengecup lembut telingaku, membuat aku menggelinjang kegelian.
"Biar aku yang mengurusnya, Sayang," sahutku dengan lembut—seakan aku bukan hendak membunuh manusia yang merupakan ayahku. "Tou-san, maaf ya? Aku menyayangimu," ujarku sambil mengecup pipi Hiashi yang penuh darah, sehingga otomatis bibirku terkena darahnya yang berbau amis itu. Tanpa menghiraukan bau anyir yang menguar dari darah itu, dengan santai aku menjilat bibirku, seakan menikmati rasa darahnya. "Tou-san ingin dibagi secara vertikal atau horizontal?" tanyaku dengan nada manis sambil memainkan pedang yang sedari tadi kuanggurkan di lantai.
Hiashi tentu tidak menjawabku. Dilihat dari kilatan di matanya, pengaruh 'hipnotis' Itachi sepertinya sudah mulai hilang. Namun karena kehabisan banyak darah, Hiashi terlalu lemah untuk memberikan perlawanan, sehingga ia hanya duduk lemah dengan mata memandang sedih ke arahku. Terpancar kesedihan dan rasa bersalah yang sangat besar dari matanya.
Jika saja aku tidak terlalu sakit hati pada Hiashi, mungkin aku akan segera tersadar dan luluh akibat tatapannya yang begitu memilukan itu. Bahkan mungkin aku akan menangis dan memaksa Itachi untuk membawa Hiashi ke rumah sakit saat ini juga. Tapi itu hanya berlaku untuk 'jika saja aku tidak terlalu sakit hati pada Hiashi'.
Dan aku, Uchiha Hinata, terlalu benci pada Hyuuga Hiashi.
Baru saja aku berdiri untuk menebas kepala Hiashi, yang tertunduk, secara vertikal, pandanganku teralihkan pada sosok laki-laki tua yang tengah berdiri di ambang pintu dengan mata membelalak.
"Cih. Sudah kuduga ia akan menjadi masalah," desis Itachi dengan raut wajah datar. "Biar aku yang urus," lanjut Itachi sambil berdiri menghadap pria tua itu—yang ternyata adalah si tukang kebun menyebalkan—dengan tangan masih menggenggam sebilah kunai.
Kulihat tukang kebun itu berbalik badan untuk berlari, namun sayang Itachi lebih cepat. Laki-laki itu melempar kunainya dengan sangat gesit dan akurat, hingga beberapa detik setelahnya, kunai itu menancap di kepala bagian belakangnya. Menembus otaknya.
Setelah tubuh si tukang kebun itu terjatuh ke tanah, Itachi dengan sigap segera menyeret benda tak bernyawa itu ke dalam rumah dan menutup pintu rumah itu—agar tidak mencolok dan tidak menarik perhatian orang-orang sekitar.
Aku membuang pandang muak pada tubuh tak bernyawa yang tergeletak di dekat kaki Itachi itu. Tanpa banyak bicara, aku berniat melanjutkan aksiku yang tadi sempat tertunda.
Dengan dua tangan menggenggam erat pedang itu, aku mulai mengayunkannya di atas leher Hiashi. Dengan segenap kekuatan yang berbaur rasa benci yang kian mendalam, aku menebaskan pedangku ke arah lehernya.
Detik berikutnya, kepala Hiashi sudah terpisah dengan badannya.
-xxx-
Aku mengelap keringat yang menetes di dahiku, dan menatap puas ke 'hasil kerjaku'. Dengan penuh kebencian, aku menarik rambut panjang Hiashi dan mengangkat kepala orang yang sudah membuangku itu dengan senang. Kulihat mata amethyst pria itu—yang sangat identik denganku—setengah menutup dan mengeluarkan setetes air mata yang—sepertinya—sedari tadi ia bendung. Namun aku tak bergeming melihat itu. Tak ada rasa penyesalan dalam hatiku. Yang ada hanyalah rasa senang dan keinginan untuk membunuh yang lainnya lagi.
Gawat.
"Itachi-kun, ternyata mengasyikkan melakukan ini. Aku ingin yang lebih!" ujarku sambil tersenyum senang dengan tangan masih menenteng kepala Hiashi,
Itachi menyeringai puas mendengar pendapatku. Ia mendekatiku dan mulai menciumi bibirku dengan liar. Ciuman kami terjadi cukup lama. Mungkin sekitar dua puluh detik. Bahkan tangan Itachi mulai terangkat untuk menyentuh bagian tubuhku yang—pastinya—sudah pernah ia sentuh sebelum ini. Namun itu tidak masalah. Aku senang menerimanya.
Namun, kesenanganku tak berlanjut lama. Di sela-sela 'kegiatan panas' kami, ada yang menginterupsi dengan membuka pintu rumah itu.
"Tadaima!" seru orang itu. Aku segera melepaskan ciuman Itachi, dan melihat siapa yang datang. Suarah itu...
Mata kami bertemu. Ia membelalak saat melihat apa yang terjadi di sini.
"Hi-Hinata-nee?"
-xxx-
Gadis itu. Gadis itu yang tak lain adalah adikku, Hanabi, melihat aku dengan pandangan takut. Terlebih saat pandangannya turun ke arah kepala Ayahnya yang sedang kupegang dengan santainya.
"Oh, hai, Hanabi-chan!" ujarku dengan senyuman paling manis yang bisa kuberikan padanya.
Hanabi terlihat ingin kabur dari dalam rumah itu, namun sepertinya kakinya sudah kaku, sehingga ia tak bisa beranjak dari tempatnya berdiri sekarang. Itachi pun berjalan santai untuk menutup pintu. Ia memandangi tubuh Hanabi dari belakang, menelusuri tiap lekuk tubuh adik perempuanku itu. Lalu ia menyeringai senang. Aku memandang tak suka ke arahnya, dan mencengkeram pedang di tangan kiriku dengan kuat.
Itachi berjalan ke sebelahku, sambil tetap mempertahankan seringai iblisnya. Aku tahu ia sedang berpikir apa saat ini. Dan apa yang ada di dalam hatiku ini sangatlah tidak aku pahami. Aku membenci pandangan Itachi pada perempuan lain, sekalipun itu adikku. Aku menginginkan hanya akulah yang boleh Itachi pandang. Aku tak mau Itachi melihat perempuan lain. Aku tak mau Itachi menjadi milik perempuan lain.
"Hey, Hinata-chan. Mengapa kau tidak pernah bilang bahwa adik perempuan yang sering kau ceritakan itu semanis ini, eh?" tanya Itachi sambil berjalan mendekati Hanabi yang semakin membelalakkan matanya. Aku merasa hatiku sakit sekali mendengar penuturan Itachi. Kucengkeram semakin kuat pedang di tangan kiriku, dan rambut Hiashi di tangan kananku. Aku tak tahu apa yang dilakukan oleh Itachi, namun setelah berkata demikian, Hanabi terlihat ketakutan dan menjerit-jerit tak keruan, tetapi ia tidak menolak sentuhan dari Itachi walau hanya sedikit pun.
Kulihat Itachi semakin memojokkan adikku di antara tubuhnya dan dinding, dan dapat kudengar dengan jelas Hanabi meraung-raung penuh siksaan, membuat aku tak sanggup mendengarnya. Aku tahu, Itachi tengah memainkan permainan ilusi yang sangat ia sukai. Ia menyiksa batin adikku dan memporak-porandakan pertahanannya hanya agar ia bisa mendapatkan tubuh gadis itu dengan mudah. Aku tak terima. Aku harus melakukan apa pun agar dapat merebut Itachi. Dengar. Merebut Itachi.
Entah apa yang merasuki diriku, aku berjalan mendekati mereka berdua, berdiri di sebelah dua orang itu, dan memandangi Itachi dengan sedih. Kulepaskan peganganku pada rambut Hiashi, sehingga membuat kepala itu terguling jatuh. Setelah kuhina mayat orangtuaku sendiri, aku menggenggam bilah pedang itu dengan kedua tanganku dan mengayunkannya tepat ke arah kepala Hanabi.
Satu nyawa lagi jatuh.
Aku membunuh adikku.
The end.
Epilogue
Aku menggenggam erat lengan kuat yang ada di hadapanku kini. Kubiarkan lengan itu merengkuhku, menjagaku dikala aku tertidur, menyentuhku. Kuberikan secara sukarela segala yang ada pada diriku ini pada sang pemilik lengan. Karena hanya dengan lengan itulah aku benar-benar merasa hidup. Merasa benar-benar dihargai walaupun tak seberapa. Merasa aman tiap kali bayang-bayang Hiashi dan Hanabi mulai menghantui tidur malamku.
"Hinata-chan," bisik orang itu.
Aku terbangun mendengar bisikkannya. Napasku memburu. Keringat mengalir deras dari tiap pori-pori kulitku. Takut. Aku merasa takut. Entah apa yang membuat Itachi memanggilku begitu lembut. Mungkinkah karena mimpi buruk itu? Aku merasa air mataku mulai meleleh. Sudah tak ada artinya menyesal. Aku yang memutuskan untuk melakukan itu.
Membunuh anggota keluargaku, hanya agar bisa hidup bersama Itachi.
Hidup bahagia bersama Itachi.
Dalam rengkuhannya, di bawah bayang-bayang hangat napasnya.
Karena hanya dua yang kini aku cintai
Itachi dan diriku sendiri.
WAAAH! AKHIRNYA NI FICTION SELESAI JUGAAA!
Eh, gimana 'suspense'nya? serem gaak? kurang yaah? Hm, kalo gitu, kita sama-sama tunggu sequel dari cerita ini aja yaah ;) jangan ke mana-mana, pembaca setiakuu~ Aku akan kembali dengan membawa sang Wanita Hyuuga (atau sekarang Uchiha?) ituuu~
Oh iyaa~ Ini special thanks ku buat para pembaca setiaku yang sangaaaaaaaaaaatt baik sudah mau meriview cerita busuk ini T^T:
1. cepi-chan
2. .1 [sori, gabisa ditulis nama lengkapnya dengan benar, soalnya yang akan muncul nanti cuman angka "1" nya. Yang penting, arigatou yah!]
3. 'Guest'
4. Nameailla
Arigatou! berkat kalian, aku jadi semangaaat banget buat nulis!
Never stop trying to be better, and better!
-Anonymous Hyuuga-
