Disclaimer: Naruto punya Om Masashi, tapi kalau fic ini punyaku.

Warning: Gaje, Ketikan tidak rapi alias typo, garing dll

Rating: T

Summary:

Jangan lupa untuk bersikap ramah/ "Ino, hati-hati" / "Kalau misalnya kau menyukai seseorang katakan saja. Sebelum orang itu sudah menjadi milik orang lain"/ "Aku punya tugas untukmu".

Disini ada Deidara juga, tapi disini dia itu perempuan.:D

I love you Senpai

.

.

.

.

.

.

.

Hari ke 1

Ino membawa buku di tangannya. Buku yang membuat Ino rajin datang pagi-pagi,dan makin sering bersolek. Apa lagi kalau bukan buku yang diberi Sakura. 'Peraturan pertama adalah senyum.. ini adalah peraturan dari tebar pesona. Senyum bisa mencairkan suasana.'

Ino pun membaca bacaan dalam buku itu.

"Oh begitu ya.. akan kucoba!." Gumam Ino dalam hati.

Agar senyumnya terlihat lebih menawan, Ino melakukan latihan senyum(?)

*Normal POV*

Hari ini jam kosong di kelas Ino.

Merdeka! Semangat 45(?) kita kembali ke cerita. Ino hanya bisa senyum-senyum sendiri.

Sakura hanya bingung melihatnya. Shikamaru pun, sahabat Ino memastikan agar Ino tidak 'gila'

"Hey Ino, aku minta permen karetmu dong." Kata Shikamaru.

"Ambil saja, semua untukmu." Kata Ino masih sibuk membayangkan senpai tercintanya itu.

1 menit

2 menit

3 menit

"Shikamaru! Kembalikan permen karetku!" Kata Ino mengguncang-guncang tubuh Shika.

"Uhuk uhukk. aku sedang mengunyahnya tahu!" Kata Shika tersedak.

"Kalau begitu keluarkan lagi.. enak saja sudah makan permen karetku." Kata Ino.

Sakura pun ber sweathdrop ria.

"Ternyata masih 'sehat' " ujar Sakura.

Ya, Ino memang pelit kalau soal permen beres rebutan permen karet, Ino menghampiri Sakura.

"Kur, bagaimana apa senyum ini bagus tidak?" Kata Ino memperlihatkan senyumnya.

"Bagus kok." Kata Sakura.

Ino senangnya bukan main, berarti sekarang tinggal mempraktekannya.

Saat itu sedang jam makan siang, kantin sudah dipenuhi oleh siswa-siswi yang lapar. Ada juga yang nongkrong-nongkrong, termasuk Sai. Ino duduk bersama Sakura, dan Shikamaru

"Eh aku pesan makanan dulu ya." Kata Sakura. Lalu Sakura pun pergi.

"Kau kenapa Ino?" kata Shikamaru

"Enggak, memang kenapa?" Kata Ino

"Seperti memperhatikan seseorang." Kata Shikamaru.

"Sai-senpai! Hey gabung sini yuk." Tiba-tiba Shikamaru memanggil Sai.

Shikamaru sudah akrab dengan Sai, jadi mereka sudah sering sudah keringat dingin dan berdeba-debar ga jelas.

Sai menghampiri meja tersebut dan duduk diberhadapan dengan Ino. Shikamaru mengobrol dengan Sai, tapi Shikamaru tiba-tiba pamit ke kamar mandi.

'Kenapa si nanas malah ke kamar mandi? Dasar, merepotkan.' Kata inner Ino mengambil kata 'merepotkan' milik Shikamaru. Berarti tinggal mereka berdua, Sai dan Ino. Beradu pandang, lalu menunduk. Begitulah yang mereka lakukan.

"Senpai," panggil Ino.

"Ya?" Kata Sai.

"Senpai akan berpasangan dengan siapa di pensi?"

"Entahlah, aku tidak tahu." Katanya.

"Bagaimana kalau.." Tapi kalimatnya terpotong oleh Yuki.

"Hey Sai, bagaimana kalau kita ke ruang kesenian?Aku membutuhkanmu untuk latihan melukisku." Katanya

"Baiklah, aku pergi dulu ya Ino." Kata Sai lalu pergi bersama Yuki.

'Rencanaku gagal untuk mengajak dia datang disaat seperti ini sih..' Kata inner Ino.

Hari ke 2

'Jangan lupa untuk bersikap ramah. Mulailah dengan menyapanya.. Lama-lama dia akan menyadari bahwa kamu mempunyai perhatian khusus'

Ino berjalan menuju lokernya. Hari itu sangat sepi. Belum banyak siswa dan siswi yang hadir pada hari itu. Di kelas, Ino pun hanya menemukan Shikamaru.

"Heh Shika! Kenapa kau datang pagi-pagi begini?"

"Hoaahemm. Agar aku bisa tidur lebih lama lah." Kata Shikamaru sambil kembali tidur.

Entahlah , sahabatnya yang satu ini memang JM banget 'jago molor.'

"Aku akan mencari Sai-senpai ah.." Kata Ino.

Ino berjalan dan ia berpapasan dengan Sai.

"Selamat pagi senpai!" Kata Ino tersenyum lebar.

"Selamat pagi Ino."

Ino langsung lari dan kabur. Dia tidak sanggup menahan jantungnya yang berdebar-debar.

"Ino,hati-hati!"

'Hati-hati kenapa ya?' Batin Ino dalam hati. Tapi dia tetap berjalan biasa.

Gubrakk! Suara benda terjatuh mengagetkan Sai. Sai lalu berbalik kembali. Itu adalah suara terjatuhnya Ino. Dia menubruk pot yang berisi tanaman kepala sekolah tercinta, Tsunade.

"Sudah kubilang kan hati-hati,tali sepatumu lepas." Kata Sai sambil membantu Ino berdiri.

"Kenapa tidak memberitahuku secara jelas? Kan jadi begini." Kata Ino menahan perihnya luka.

"Kau kan sudah keburu pergi.. baiklah aku akan membantumu. Kita ke UKS."

Lalu Sai memberikan punggungnya pada Ino.

"Ayo naik."

"Tidak.. aku akan berjalan sendiri."

Lalu Sai menarik tangan Ino dan menggendongnya.

LAlu wajah Ino mulai memerah, rasanya panas. Lalu ia membenamkan wajahnya di pundak Sai.

*Di tempat lain.

"Shikamaru! Bangun.."

"Ada apa sih? Merepotkan." Kata Shikamaru antara sadar dan tidak.

"Lihat Ino gak? Tasnya ada tapi orangnya gak ada." Kata Sakura

"Entahlah.." Shikamaru pun tertidur lagi.

"Huh dasar!" Sakura pun lalu mencari Ino.

*Di UKS.*

"Huwaa, sakit sekali." Kata Ino mengaduh kesakitan.

"Nah, sudah selesai." Kata Sai berhasil mengobati luka Ino.

"Terimakasih senpai.." Kata Ino

"Ya, tak masalah." Kata Sai.

"Senpai, kalian akrab sekali ya." Kata Ino

"Akrab sama siapa?"

"Sama Yuki-senpai, kayaknya deket banget"

"Oh itu. Ya karena kitasudah berteman dari dulu, jadi terlihat akrab."Kata Sai sambil tersenyum.

'Ya ampun senpai.. kau boleh saja tersenyum tapi tidak usah tersenyum ketika membicarakan Yuki-senpai.. hei? Kenapa aku jadi begini.?' Batin inner Ino

Krekk pintu terbuka.

"Yuki?" kata Sai.

"Kau disini, Sai. Kenapa dengan dia?" Kata Yuki.

"Dia terluka dan aku mengobatinya." Kata Sai.

Lalu mereka mengobrol akrab lagi.

'Lagi-lagi aku transparan dihadapan mereka.' Batin Ino.

"Aku duluan ya, senpai-senpai." Kata Ino bangkit dari kasur dan mulai berjalan lagi.

Ino pun keluar dari UKS. Ino berjalan menuju kelasnya sambil menyeret kakinya.

"Aku mencarimu kemana-mana tahu!"

Suara yang tidak asing bagi Ino, siapa lagi kalau bukan sahabatnya si pinky,Sakura.

"Sakura, misi ke 1/2 berhasil" Kata Ino ketus.

"Kenapa? Apa ini tentang Sai-senpai?"

Ino mengangguk pelan.

Hari ke 3

'Makan bento bersama mungkin akan terlihat menyenangkan dan bisa memberi tanda-tanda juga.'

"Pagi-pagi sekali berangkatnya, itu apa un?" Kata Deidara, kakaknya Ino

"Bukan apa-apa, hehe aku pergi dulu." Kata Ino sambil berlalu.

"Hei! Tunggu kakakmu ini.. anak itu pasti ada sesuatu di sekolah nanti. Aku sudah ketinggalan berapa berita ya, karena tidak masuk sekolah." Kata Deidara yang heran melihat Ino.

Ino membawa tas yang berisi bento dengan wajah yang ceria. Di belakangnya, diam-diam kakaknya mengikutinya.

*Di kelas*

"Pagi Sakura.. " Kata Ino menyapanya.

"Pagi. Itu apa? " Kata Sakura menunjuk bungkusan.

"Ini bento yang kubuat sendiri."

Ino lalu memasukkan bungkusan itu kebawah mejanya. Merentangkan tangannya dan tertelungkup tidur. Tentu saja dia kecapekan karena membuat bento semalaman sampai benar-benar enak.

"Kenapa dia tertidur? Apa kecapek-an ya membaut bento?" Sakura pun bingung melihat sahabatnya itu.

"Sakura, " panggil seseorang.

Sakura menghampiri orang yang memanggilnya itu. Rambutnya bergaya emo dan berwarna hitam. Orang yang berwajah dingin dari klan Uchiha. Ya, Sasuke.

"Ada apa Sas?"

"Hari ini saat jam makan siang, ada rapat OSIS untuk persiapan pensi, ayo kita kumpul." Kata Sasuke sambil menarik tangan Sakura. Sakura sih, sudah senyum-senyum ga jelas, karena jarang-jarang Sasuke seperti ini.

Kali ini Ino mencari sang pujaan, Sai di taman. Kata Sakura sih tadi dia melihatnya di taman, katanya sedang melukis. Dan Ino menemukannya sedang melukis di bawah pohon beringin.

'Nah itu dia.' Batin Ino

"Senpai, sedang sibuk? "

Lalu orang yang dipanggil menghentikan kegiatannya.

"Oh kau.. Ada apa?"

"Kita makan yuk. Aku sudah membuatkan bento untuk kita makan." Kata Ino dengan puppy eyes no jutsu nya.

"Baiklah." Kata Sai tersenyum simpul.

'Yes! Berhasil juga. Semoga tidak ada halangan.' Batin ino

Satu suapan, dua suapan.

"Ino, apa kau juga memasukkan tomat?" Kata Sai sambil mengunyah.

"Ya, memang kenapa senpai?" Kata Ino.

Dan beberapa saat kemudian wajah Sai makin pucat. Lalu ia memegangi perutnya yang mulai terasa mual.

"Ino, aku rasa aku harus ke kamar mandi."

"Senpai? Kau kenapa?" Ino berdebar-debar melihatnya.

Tapi Sai sudah berlari jauh.

"Dia alergi tomat, Ino-chan." Tiba-tiba suara perempuan mengagetkan Ino dari belakang.

Suara siapa itu? Lalu Ino membalikkan badannya untuk melihat orang tersebut.

"Yuki-senpai? Oh halo.." Kata Ino kaku.

"Hm, bukan maksudku untuk menguping tadi. Hanya kebetulan lewat saja."

Lalu Yuki duduk disebelah Ino.

"Kalau misalnya kau menyukai seseorang katakan saja. Sebelum orang itu sudah menjadi milik orang lain." Kata Yuki sambil tersenyum.

"Maksud senpai?" Kata Ino yang kaget.

"Sudah tak usah dipikirkan. Aku pergi dulu ya." Kata Yuki sambil menepuk pundak Ino.

Ino hanya bisa mematung seolah dia terhipnotis tadi

Saat pulang sekolah

Terlihat dua orang sedang membereskan buku pelajaran mereka di kelas.

"Fufufu,"

Sakura masih sibuk tertawa bahkan makin keras.

"Jidat! Jangan menertawakan aku dong." Kata Ino memajukan bibirnya 5 cm.

"Lagian lucu sih. Tuh kan, kamu belum bisa melupakan Sasuke. Apa-apa masak tomat." Kata Sakura masih tertawa.

"Yah.. kalau sudah begini sih buku itu terbukti gagal ya." Kata Ino menatap kesal buku itu.

"He? Siapa bilang, aku sudah melakukan itu dan berhasil."

"Pada Sasuke? " Ino menaikkan alisnya

"Ya begitulah."

"Kau ini.. Eh aku pulang duluan ya. Aku akan bersama dei-neechan." Kata Ino lalu berlalu pergi.

Tanpa disadari, seseorang menguping mereka dari luar kelas.

-skip-

Hari ke 4

Keesokan harinya, keributan sudah terjadi di kelas.

Ino dengan teriakan hebohnya, yang bisa membuat ketulian dini (?)

"Tidak! Aku lupa kalau sekarang tugas Kimia dikumpulkan.. "

"Kau ini! Mau cari masalah dengan Iruka-sensei? Kau bisa disuruh lari keliling lapangan nanti." Kata Sakura yang bergidik ngeri dengan ke-killer-an guru itu.

"Hey, Shikamaru! Bantu aku.." Kata Ino sambil mengguncang-guncangkan tubuh Shika yang tertidur.

"Ini, ambil.." Kata Shika dan langsung telungkup tidur lagi.

Shikamaru memberikan tugas kimia yang dibuatya.

"Wah.. arigatou ya." Kata Ino yang langsung loncat-loncat(?)

"Itu tidak gratis, bayar aku dengan permen karetmu ya." Kata Shika sambil tidur lagi.

'Ya sudahlah sekali ini tidak apa', batin inner Ino.

Hari ini, Ino dan Sakura eskul menyanyi. Hari ini temanya adalah 'perasaan'.

"Oke anak-anak, tuliskan perasaan kalian lewat lirik. Nanti kalian nyanyikan di depan anak-anak klub melukis. Aku sudah bekerja sama dengan Shizune-sensei, guru klub melukis. Ini juga melatih keberanian kalian." Jelas Yuuhi –sensei.

"Senpai! Akhirnya aku bisa melakukan misi no empaaat!" teriak Ino tiba-tiba.

Semua ber sweatdrop ria. Sai kan mengikuti klub melukis, jadi Ino bisa mengungkapkannya lewat lagu hari ini.

1 menit

5 menit

10 menit

15 menit.

"Oke, waktu sudah habis..silahkan masuk" Kata Yuuhi –sensei.

Murid klub melukis masuk. Ini kesempatan bagi Ino nih, sesuai buku yang dibacanya yaitu, 'Lagu bisa mengungkapkan perasaan.. '

Ino pun tersenyum puas melihat hasil karyanya.

"Baiklah, terima kasih Sakura. Selanjutnya Yamanaka Ino."

Ino sudah siap sekarang. Dia maju kedepan , mencoba mencari sosok senpainya itu.

"Halo, ini lagu buatanku.. judulnya 'Daisuki' "

Ino menyanyikannya sambil memetik gitar.

Setelah selesai, semua yang mendengar bertepuk tangan. Ternyata, Sai ada disana dan tersenyum. Hari ini misi sukses! Tapi, semua tidak berlangsung lama karena ada Yuki disana. Mereka lalu saling tertawa dan Sai tersenyum sangat tulus.

'Apa aku bukan seorangyang bisa membuat orang lain senang walau hanya tersenyum tulus saja.'

"Ino-chan, jangan melamun disana un." Kata Deidara menyadarkan Ino.

"Baiklah, selanjutnya." Kata Yuuhi-sensei

Lalu Ino duduk disamping kakaknya.

"Bagaimana neechan? Apa aku aneh tadi?" Kata Ino

"Tidak kok, cukup bagus un. O iya, kau sudah dapat pasangan belum Ino?"

"Pasangan untuk pensi nanti?"

"Iya un, kalau aku akan bersama Sasori. Kau dengan siapa?" Deidara sudah penasaran.

"Tidak dengan siapa-siapa, menyebalkan." Gerutu Ino.

Lalu Ino memperhatikan keakraban mereka (Yuki-Sai). Ino sudah melakukan tebar pesona ke-4. Masih ada 3 hari lagi untuk menaklukan hati Sai. Kalau dia mempunyai taktik yang hebat mungkin Sai akan pergi bersamanya nanti.

Taktik? Strategi? Orang yang hebat dalam hal itu.. Shikamaru! Kepala nanas itu mungkin akan membantunya dengan imbalan yang setimpal juga.

-Pulangnya-

Di taman sekolah di dekat pohon.

Seorang pemuda berambut jabrik yang diikat mirip nanas sedang bersender ke pohon. Sepertinya menunggu seseorang.

"Shika.."

"Hmm, ada apa kau menyuruhku kesini?"

Lalu Ino tersenyum sambil membawa bungkusan dengan isi yang penuh.

"Aku punya tugas untukmu…"

Sementara itu si kepala nanas menaikkan alisnya dan bergantian menatap bungkusan itu dan Ino.

.

.

.

.

Apa bungkusan itu ada hubungannya dengan tugas untuk Shikamaru?

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hai –hai! Akhirnya aku melanjutkan fic ini. Sempet mentok juga sih udah gitu pulsa modem habis jadi ya ditunda dulu..*curcol *plakk

Ya sudah deh, mohon reviewnya ya :). Untuk kritik dan sarannya.

O iya bales review kemarin ya.

Hwang Energy: Thanks ya senpai reviewnya . Kali ini aku udah post. Maaf kalau jadi rada gak jelas begini ._.