Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto. Kalau fic ini punyaku.
Warning: Typo, gaje, dan garing.
'text' kata-kata di dalam buku
'text' isi sms
I love you senpai!
.
.
.
.
Hari ke 5
Mengajaknya pulang bersama ataupun mengajaknya ke suatu tempat adalah tebar pesona berikutnya.
Jangan lupa untuk terlihat ceria.
"Hoahemm.."
Seorang remaja perempuan terbangun dari tidurnya. Kasurnya berantakan tidak seperti biasanya. Berbagai buku pelajaran termasuk buku yang memberitahu bagaimana cara tebar pesona, ikut tergeletak disana.
"Bangun un," Kata seseorang bernama Deidara dari luar pintu.
Perlahan mata gadis tadi terbuka. Lalu ia melihat jam weker.
Pukul 06.45
"Aku telat!" Kata gadis itu, tidak lain tidak bukan ya Ino.
Bruaakk. Pintu kamar terbuka lebar. Deidara sang kakak hanya bisa mengomel karena dirinya sudah terpelanting jatuh.
Sehabis mandi, Ino lalu mengambil roti yang sudah disediakan ibunya dan langsung pergi bersama kakaknya. Kali ini, mereka naik motor.
"Nee-san,cepetan! Kalau telat, aku bisa kena hukuman Iruka-sensei."
"Suruh siapa ga bangun-bangun un? Ah sudahlah, pegangan ya." Kata Deidara
Dan mereka ngebut dijalanan.
-Di Konoha High School-
"Tidak biasanya dia telat." Kata Sakura.
"Pasti karena memikirkan strategi itu." Kata Shikamaru menyilang tangannya.
"Eh? Strategi apa?"
"Kau belum tahu, Sakura?" Tanya Shikamaru.
Sakura menggeleng pelan.
"Dia sedang mencari cara untuk mendekati Sai-senpai."
"Ohh begitu.." Kata Sakura.
-Di taman KHS-
Sai sedang melukis disana. Entahlah, akhir-akhir ini dia sering melukis disana. Biasanya, dia akan ditemukan di ruang kesenian. Tapi dia selalu datang ke tempat itu. Di bawah pohon tempat dimana ia memakan bento buatan Ino. Belum jelas apa yang ia lukis, karena masih berupa garis-garis. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum pada lukisannya itu. Seolah-olah ia memiliki perasaan pada gambar itu. Tidak seperti lukisan-lukisannya sebelumnya.
-Di kelas-
"Maaf aku terlambat!" Kata Ino lalu membungkukan badan.
Hening.
Lalu Ino mengangkat badannya, dan melihat keadaan kelasnya. Para siswa sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Lalu ia melihat kearah tempat duduk guru. Tidak ada guru, jadi jam kosong?
"Hai Sakura, kukira ada Iruka-sensei?"
"Tidak, katanya ada urusan mendadak. Kita hanya diberi tugas."
Lalu Shikamaru terbangun dari tidurnya.
"Hoahemm, Ino kau siap untuk hari ini?" Kata Shikamaru.
"Yap!"
Lalu Sakura tersenyum senang melihat kedua sahabatnya.
-Di taman-
Dua orang sedang bersembunyi dibalik semak-semak dan sepertinya sedang memerhatikan seseorang.
Ya, mereka Ino dan Shikamaru.
"Kau lihat kan disana?"
"Ya, Itu Sai-senpai."
"O iya, kenapa dia tidak masuk kelas? Apa bolos?" Tanya Ino.
"Katanya sih gurunya sedang urusan juga." Jelas Shikamaru
"Kuberitahu ya, kalau kau ingin mengajaknya ke suatu tempat, ajak dia ke suatu tempat yang bisa ia lukis. Kayak taman gitu." Lanjut Shikamaru.
"Tapi kalau ke taman, tidak ada waktu karena aku juga punya tugas dari ayahku." Kata Ino.
"O iya!" Lalu Ino mendapat ide dan seolah dikepalanya lampu terang muncul.
"Nah, aku pastikan tidak ada tanda-tanda da orang lain, jadi cepat hampiri dia." Kata Shikamaru.
Lalu Ino terdorong jatuh dari semak.
"Aduh!"
Lalu Sai memalingkan wajahnya.
"Ino?"
"Halo Sai-senpai." Kata Ino tersenyum lebar.
"Ma maaf mengganggu, sedang melukis ya." Lanjut Ino.
"Ya begitulah.."
Lalu Ino mengambil posisi duduk disamping Sai. Lalu kepalanya memiringkan sedikit untuk melihat lukisan yang sedang di lukis Sai.
"Eh? Sedang melukis bunga ya? Apa Sai-senpai menyukai bunga?"
"Aku menyukai mereka sebagai objek lukisanku, mereka benar-benar indah." Kata Sai tersenyum tipis.
"Kebetulan bunga Marigold ini baru tumbuh kemarin tepat di taman sekolah." Lanjtunya.
"Mau tidak, kalau pulang sekolah senpai ke toko bunga milik orang tuaku?" Sekali lagi, Ino berkata dengan puppy eyes no jutsu nya.
"Hmm, boleh juga." Kata Sai menatapnya sebentar lalu tersenyum.
"Baiklah senpai!" Kata Ino tersenyum manis seperti kata panduan dalam buku.
"Bagaimana, Sai-senpai akan ikut bersamamu?"
"Iya, katanya sih begitu." Kata Ino sabil berjalan di koridor sekolah bersama Shikamaru.
"Baguslah."
Lalu mereka berhenti di depan pintu kelas mereka.
Ino mengambil sekantung bungkusan.
"Seperti yang aku janjikan, arigatou ya." Kata Ino
Pletak, Shikamaru menjitak dahi Ino.
"Hei, aku membantumu bukan semata karena imbalan, karena aku juga sahabatmu. Tapi kalau kau memaksa ya sudah aku terima ini." Kata Shikmaru sambil berlalu.
"Haa, dasar kau ini." Balas Ino.
Pukul 15.00 WIB
"Sai-senpai!"
"I-ino?"
"Bagaimana jadi kan?" Kata Ino berbinar-binar.
"Maaf Ino, tidak bisa. Aku ada urusan menjadi panitia pameran kesenian nanti. "
Kata Sai sambil menunduk. Mungkin tanda penyesalan.
"Tapi.. Yah, baiklah aku pulang duluan." Kata Ino.
Ino hanya berjalan tanpa berusaha menoleh untuk melihat apa Sai masih disana.
Di rumah,, Ino sedang berada di kamarnya dan menatap ke langit malam yang bertabur bintang.
"Senpai, apakah senpai juga melihat bintang yang kulihat malam ini?" KataIno.
Lalu ia menghela nafas kemudian menarik selimutnya dan tidur.
Hari ke 6
Banyak-banyak mengobrol dengan akrab. Jangan lupa dengan senyuman ramah.
Ino tidak bersemangat. Langkahnya gontai menuju kelas. Ia menjinjing buku tebar pesona itu dan memasukkannya ke laci.
"Aku sudah melakukannya, tapi tidak pernah berhasil."
Sakura mengerti akan situasi ini. Seorang Sasuke dulunya sangat susah ditaklukan. Tapi Sakura tidak lantas menyerah, Sakura yakin kalau Sasuke akan berubah.
"Ino, tenanglah. Kan masih ada kesempatan besok."
"Aku tahu." Kata Ino lalu tersenyum tipis.
-Saat istirahat-
Sekarang, Ino sedang bersama Sai. Mereka mengobrol di bawah pohon dekat taman sekolah. Secara tidak sadar, tempat itu seolah-olah menjadi tempat base-nya mereka.
Senyum mengembang di bibir mereka.
"Hmm.. senpai, memangnya ga bosen melukis?" Kata Ino.
"Tentu saja tidak, karena hanya dengan melukis aku bisa mengungkapkan perasaanku." Kata Sai.
"Kalau aku sih, mengungkapkan perasaanku lewat bunga. Aku sangat suka sekali dengan bunga. " Kata Ino.
Sai mengangguk pelan seolah mengatakan 'oh begitu'.
Angin berhembus pelan kearah mereka. Cuaca saat itu sedang cerah, seperti perasaan Ino atau mungkin Sai juga? Ekspresinya memang sulit ditebak.
"Senpai, aku bawakan ini." Kata Ino sambil menyerahkan bunga Aster.
"Untukku?" Kata Sai.
"Iya, aku pikir mungkin senpai akan senang melukis bunga Aster ini." Kata Ino.
"Baiklah, arigatou ya." Kata Sai sambil tersenyum.
Ino bersorak dalam hati. Tapi..
"Hei, maaf mengganggu."
Suara yang Ino kenal, dan Ino selalu sesali kehadirannya.
"Hai Yuki, ada apa?" Kata Sai membalikkan badannya. Mau tak mau Ino membalikkan badannya.
"Jangan lupa untuk mengumpulkan lukisanmu di ruang seni, kau sudah absen dua hari lho." Kata Yuki.
'Apa? Senpai bolos untuk latihan melukis? Tapi…' Batin Ino
"Hm, baiklah aku akan mengumpulkannya."
"Ya, kau tahu sendiri kan marahnya Shizune-sensei seperti apa?" Kata Yuki.
"Baiklah. O iya, Ino mau ikut?" Kata Sai.
"Tidak, senpai duluan saja.. aku masih ingin disini." Kata Ino.
Sesaat kemudian Yuki dan Sai pergi bersama.
Ino masih duduk-duduk disana sampai ia melihat sesuatu.
'Sai'
Buku itu sepertinya kumpulan sketsa milik Sai. Ino melihat isinya.
"Ini.. indah sekali.." Ujar Ino.
-Saat pulang-
Ino menceritakan semua yang terjadi saat tadi siang.
"Jadi begitulah, Sakura. Menurutmu, kenapa dia sampai absen segala ya di klub melukis?" KAta Ino kepada Sakura mengenai kejadian yg tadi.
"Ya, mungkin Sai sulit mendapatkan inspirasi." Jawab Sakura.
Dibelakang mereka sudah ada Shikamaru.
"Bukan, Sai sedang sibuk mempersiapkan dirinya untuk pameran." Kata Shikamaru.
"O iya, kenapa aku lupa hal itu?" Tanya Ino pada diri sendiri.
"Jadi, kau sudah mengajak Sai atau belum?"Lanjut Shikamaru.
Ino menggelengkan kepalanya lemah. Lalu ia meraih tasnya dan pergi.
"Padahal besok sore sudah diadakan pensi." Kata Sakura dari jauh.
Hari ke 7
Sekarang saatnya! Kau harus ucapkan semua apa yang ingin kau katakan padanya.
Sai sedang merapikan cat di ruang kesenian. Disitu juga ada Ino yang sedang duduk di belakang Sai.
"Aku dengar senpai mengikuti pameran ya?"
"Ya." Jawab Sai singkat.
"Kalau begitu, senpai sekarang ga ikut pensi, dong?" Kata Ino dengan nada kecewa.
"Hmm, aku usahakan sih ikut. Lagi pula aku cuma sebentar kok di pamerannya."
"Senpai, sudah memutuskan berpasangan dengan siapa?" Kata Ino.
Ini dia jawaban yang ditunggu-tunggu Ino. Setelah lama menunggu, akhirnya Sai buka suara.
"Belum." Kata Sai tersenyum misterius.
"Eh? Kalau begitu, apa senpai mau berpasangan denganku?" Kata Ino penasaran.
Hening
…
Hening
"Baiklah." Kata Sai lalu pergi.
Tanpa Ino tahu, sebuah lengkungan tersungging di bibir Sai.
.
.
.
.
.
Hari ini sekolah setengah hari. Para anggota OSIS menyiapkan segala peralatan untuk nanti sore. Ino akan ke mall hari ini untuk membeli bajunya.
Ino sedang bersama Deidara sekarang.
"Nee-san! Pokoknya nee-san temani aku ya!" Kata Ino menarik-narik tangan nee-san nya.
"Kau ini! Aku akan sibuk ke salon, ajak Sakura sana!"
"Nee-saaaaan…."
"Tidak."
"Ta taapi.."
"Tidak, sekali tidak tetap tidak. Aku akan sibuk di salon dan akan lama disana." Jelas Deidara.
"Haiissh, ya sudah deh, aku sendiri saja."
.
.
.
.
Konoha Plaza .14.30
Ino PoV
"Mana ya, yang cocok untuk nanti? Hmm dress biru aja! O iyaa, lagi diskon nih, beli ah!" Kataku ngomong sendiri.
Di Konoha Plaza, banyak sekali dress yang semi formal, diskon-diskon lagi! Eh kok jadi promosi gini ya? Ya sudahlah, sekarang aku akan membeli sepatu berwarna biru juga.
Di sudut rak, aku melihat sepatu biru berpita. Yey! Warnanya cocok!Aku segera mencobanya, dan pas.
Aku lalu pulang ke rumah.
pensi, Aula Konoha High School
Normal PoV
Sudah banyak murid-murid KHS ini datang. Bak putri dan pangeran, mereka disambut dengan karpet merah.
"Aduh lama amat sih.." Batin Ino.
Gak lucu kan, kalau tiba-tiba Sai ga datang? Ino pun memutuskan untuk meng-sms Sai.
To: Sai senpai
Senpai, lagi dimana? Acara udah hampir mulai.
-ino-
Lalu sms dari Sai muncul
From:Sai
Maaf Ino, mungkin aku akan terlambat. Tunggu saja aku disana.
Akhirnya Ino menunggu Sai disana. Ino yakin kalau Sai akan datang.
Semua orang sudah berdansa dengan pasangannyamasing-masing. Deidara pun sudah berdansa dengan Sasori. 10 menit kemudian
"Sudah lama?" Kata seseorang di belakang Ino.
"Senpai? Eh gak kok, err gimana, senpai mau berdansa denganku?"
Sai tersenyum sebentar lalu mengangguk.
"Ya, tentu saja. Ayo!"
Ino pasti sudah dipastikan akan berteriak-teriak kalau saja ia tidak menahannya.
"Mimpi apa ya semalam? Sampai-sampai bisa jadi pasangannya Sai-senpai." Kata Ino dalam hati.
Ino dan Sai sedang berdansa sekarang.
Ino PoV
Aku menyukaimu, tapi apa aku harus bilang? Tapi apa ini waktu yang tepat? Ya ampun, Ino…
Aku menghentikan acara berdansa karena musik juga sudah berhenti.
Aku mengambil nafas lalu memanggil namanya.
"Sai-senpai,"
"Iya, Ino?" Katanya menatap ke arahku.
"A..Aku, begini.. aku me menyukaimu, senpai." Kataku.
Kenapa tadi aku gagap? Ini memang bukan kebiasaanku, tapi entahlah aku merasa gugup.
Aku menundukkan kepalaku saking gugupnya.
"Ino?"
Aku menengadahkan kepalaku ke atas.
'Cup'
Satu kecupan mendarat di keningku!
"Daisuki mo." Katanya tersenyum.
"Huh? Beneran?" Tanyaku.
"Ya, tentu saja.." Katanya mengusap rambutku.
Waaaa senangnya! Rasanya hatiku dipenuhi bunga-bunga seperti yang ada di toko ayahku!
"Tapi.. aku kira senpai menyukai Yuki-senpai?" Kataku.
"Kami hanya teman.. banyak yang mengira begitu, tapi kenyataannya kita adalah teman dekat sejak SMP." Jelasnya.
Tiba-tiba datang Shikamaru dengan Temari.
"Ekhem, selamat ya.." Kata Shika.
"Iya, selamat ya!" ujar Temari.
"Terimakasih!" Jawabku dan Sai.
"Dan sebagai hadiahnya, aku hanya meminta permen karetmu kok." Kata Shika.
"Huh, ada maunya.." Ujarku.
Lalu Sakura dan Sasuke juga datang menghampiri.
"Apa kami ketinggalan sesuatu?" Kata Sakura.
"Mereka sudah jadian loh.." Kata Temari.
"Selamat Ya!"Kata Sakura
"Hn..Selamat bagi kalian." Kata Sasuke.
"Berarti buku panduan itu berhasil ya?" bisik Sakura.
"Iya.. terimakasih ya." Bisikku.
Setelah acara pensi selesai, Ino beristirahat di bangku taman dengan Sai..
"Ino,aku ingin memberikan ini padamu."
Lukisan yang didalamnya terdapat gadis berambut pirang dikelilingi oleh bunga-bunga. Gadis itu..
"Ini.."
"Itu kau, Ino."
"Eh? Apa?" Kata Ino heran.
"Aku err melukis itu untukmu. Saat berada di taman, aku melukis itu." Kata Sai.
"Terimakasih senpai." Kata Ino. Wajahnya memerah.
"Ayo, kita pulang."
Malam itu, Ino dan Sai pulang bersama.
Ino Pov
Aku tidak ingin ini cepat berakhir, Senpai. Aku tidak menyangka akan seperti ini. Apa semua ini terlalu cepat? Entahlah, yang pasti aku sudah tahu perasaanmu sekarang..
Aku telah sampai di depan pagar rumah.
"Senpai, terimakasih untuk semuanya."
"Iya. Terimakasih juga Ino." Jawabnya.
Lalu ia mengusap rambutku dan mengecupnya.
"Dah Ino.."
"Dah, senpai.."
FIN
A/N: Akhirnya beres juga..maaf ya, senpai-senpai..karena saya lama banget update chapter yang ke 3 ini. kayaknya fic nya kurang romantis ya? Hmm, saya juga bingung soalnya udah mentok banget hehehe.
Akhir kata, mohon bimbingannya ya, senpai!
