"Ada apa dengannya... Apa dia sudah gila?" Ujarku kepada diri sendiri. Aku pun membuka pintu kamar dan langsung melempar diriku ke atas tempat tidur. Setelah beberapa menit, aku pun tertidur.
Normal's POV
Ini sudah seminggu setelah Hilda dan kawan-kawan datang dan bekerja di Phantomhive Mansion. Pekerjaan dibagi-bagi. Hilda membantu Sebastian bekerja, Furuichi membantu Finnian, Bard, dan Meirin bekerja, dan Oga menjaga Pluto.
Tetapi. Hilda tidak mau hanya berduaan dengan Sebastian. Dan mungkin, karena kepintaran Sebastian, ia tahu. Sebastian selalu melihat ke arah Hilda saat membersihkan rumah. Hilda pun terganggu. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, dan langsung pergi.
Kali ini, ia melakukannya lagi.
'Oke... Sekarang bereskan lemari itu, membersihkan lantai, dan menata rapi meja itu...' Batinnya. Hilda dengan gesit menyelesaikannya dalam hitungan menit, lalu seperti biasa berkata kepada Sebastian,
"Aku sudah selesaikan bagianku. Now if you'll excuse me..." Ujar Hilda seraya berjalan meninggalkan ruangan itu. Tepat pada saat Hilda membuka pintu dengan tangan kananya, tangan kirinya dicegat oleh Sebastian. Hilda menengok ke belakang, mencoba untuk tidak salah tingkah.
"Ada apa?" Tanya Hilda, mencoba untuk tidak terbata-bata, dan untungnya tidak.
"Kata kunci: if." Ujar Sebastian seraya membanting tutup pintu yang barusan dibuka Hilda. Ia menekan pintunya dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya menyentuh pipi Hilda.
"Kau. Sedang apa?" Tanya Hilda sambil menajamkan mata hijaunya itu.
"Ah. Aku hanya menggodamu." Senyumnya. 'Senyuman yang mengerikan,' batin Hilda.
Sebastian menarik wajah Hilda, wajah mereka semakin mendekat dan mendekat. Tahu akan apa yang akan dilakukan Sebastian, Hilda berusaha menampar Sebastian dengan tangan kirinya. Tetapi tepat sebelum tangannya itu mengenai pipinya, Sebastian menghentikan tangannya, menahannya, dan mengelusnya, membuat wajah Hilda dipenuhi dengan rasa terkejut. "W-What the hell are you doing...?!" Tanya Hilda.
"Teasing you~" Jawab Sebastian dengan santainya.
Tinggal beberapa centimeter lagi dari bersentuhnya bibir mereka. Sampai akhirnya sebuah ketukan pintu mengganggu mereka.
"Sumimasen!"
'Suara Oga.' Hilda mendesah lega. Wajahnya sekarang mungkin semerah rambut seorang karakter Bleach kesukaan Oga, yaitu Abarai Renji.
Sedangkan Sebastian hanya merengut kesal. 'Dia mengganggu.' Batinnya.
Sebastian melepaskan genggamannya, dan Hilda langsung membuka pintunya. Terlihatlah Oga disana berdiri, anehnya, tidak ada Berubo di pundaknya.
"Oga."
"Hm?" Oga menatap Hilda yang memanggilnya. 'Mukanya memerah?'
"Bocchama dimana?" Tanya Hilda.
"Oh, dia sedang tidur di kamar. Aku menyuruh Furuichi agar tidak mengganggunya." Jelas Oga.
"Begitu. Ada perlu apa disini?" Tanya Hilda lagi.
"Oh ya. Sudah waktunya Berubo makan. Beri makan sana, gue males." Ujarnya sambil menguap.
"Baiklah. Gantikan aku membersihkan rumah." Ujar Hilda sambil berlari ke kamar Oga dengan tergesa-gesa.
Oga menatapnya. "Wah. Aneh. Biasanya dia nggak pernah mau ngasih makan Berubo." Ujarnya pada dirinya sendiri, lalu menatap Sebastian. "Kau tau nggak, dia kenapa?" Tanya Oga kepada Sebastian, yang sedang memasang senyuman di mukanya.
"Wakaranai*," Jawab Sebastian dengan santai.
Namanya Oga, pasti dia percaya. "Oh... Gitu ya. Ya udah, arigatou nee!" Oga pun berlari meninggalkan Sebastian, yang sedang ber-sweat drop ria(?).
"Katanya ia ingin membantu pekerjaanku... Tetapi, ia mengganggu. He's annoying..."
Kembali ke Oga. Ia berjalan dengan santainya ke arah dapur, seraya berkata kepada dirinya sendiri. "Sebastian itu mencurigakan..."
Hilda's POV
Oke. Aku tidak tahu mengapa Sebastian berlaku seperti itu. Aku juga tidak ingin tahu. Karena mungkin jawabannya sudah ada di kepalaku. Untung saja tadi Oga datang. Kalau tidak, dia pasti... Ah, sudah. Tidak usah dipikirkan. Aku tadi juga aneh. Kenapa aku tidak menendangnya? Tubuhku tadi serasa di... Kunci. Memangnya di dalam diriku ada lubang kunci? Tidak mungkin, bukan? Juga, bagian teranehnya... Kenapa aku tadi berdebar-debar?
Suara pintu dibuka mengganggu pikiranku. Segera kulempar parasol-ku ke arah pintu, membuat seseorang berbaju maid terjatuh kaget.
"U-Uwaah!" Ujar orang itu.
Dilihat dari kacamata dan rambutnya... Ah, itu hanya Nona Meirin.
"N-Nona Hilda... Kenapa kau melempar parasol-mu?!" Tanya Meirin sambil berdiri.
"Itu... Hanya berjaga-jaga. ...Sorry." Jawabku berbohong. Sebenarnya kukira itu Sebastian yang mencoba... Menggodaku lagi.
Kulihat Meirin mendesah. "Yah... Tidak apa-apa, kok. Oh ya, dinner is ready." Ujarnya.
"Okay." Jawabku seraya berdiri dari tempat tidurku. Aku berjalan keluar kamarku dengan Meirin di sebelahku. Meirin berjalan di belakangku, dan aku berjalan di depannya. ...Seperti sepasang master dan pelayan. Aku menoleh ke arah Meirin, membuatnya tersentak kaget.
"Berjalanlah di sebelahku." Perintahku.
"B-Baiklah..." Jawabnya sambil mempercepat langkahnya untuk menyusulku.
Perjalanan kami sangat mulus- maksudku sunyi. Padahal hanya 10 menit dari kamarku ke ruang makan, tetapi rasanya 1 jam. Dan aku sangat lega pada saat Meirin memecahkan kesunyian.
"Nona Hilda."
"Ya?"
"Apa ada masalah? Raut mukamu dari tadi sangat tidak enak dilihat. B-Bukannya aku mengejekmu! Hanya saja... Sepertinya Nona Hilda mempunyai masalah..."
Oke. Kutarik kembali ucapanku tentang kelegaan tadi.
"...Apa mukaku mudah dibaca?" Tanyaku kepadanya.
"Bisa dibilang begitu. Jika ada masalah, just tell me. I really don't mind." Ujar Meirin.
Aku tersenyum. "Kau benar-benar tidak keberatan?" Tanyaku sekali lagi.
Ia menggeleng, sesuai dugaanku. "Tentu saja aku tidak keberatan."
Aku pun menarik nafas panjang, lalu berhenti dan hersandar ke tembok yang ada di sebelahku. Walaupun tembok, tembok ini sangat nyaman.
Lalu aku mulai menceritakannya dari paling awal.
Sebastian's POV
"Hilda dan maid itu dimana, sih? Gue lapar. Bolehkan gue makan dulu?" Tanya sang 'ayah' dari Beelze-sama.
"No." Jawab Young Master dengan datar.
Benar juga. Dimana dua perempuan itu?
Aku pun mendekati tempat duduk Young Master dan bertanya, "Can I search for those two, Young Master?"
Young Master terdiam sebentar, lalu berkata, "Of course."
"Thank you."
Setelah itu, aku meletakan nampan yang kupegang di atas meja, lalu berjalan keluar menuju kamar Meirin. Ya, walau aku sangat ingin ke kamar Hilda, tapi aku harus ke kamar Meirin dulu. Mungkin saja mereka mengobrol di sana. Maka dari itu, aku ke kamar Meirin dulu. Setelah sampai, aku mengetuk pintu itu tiga kali.
"Miss Meirin, are you there?" Tanyaku dengan logat inggrisku. Tidak ada jawaban. 'Tidak ada orang mungkin?'
Yeah, I know this is wrong, but... Aku harus membuka pintunya sekarang juga. Pintu kamar Meirin pun kubuka, seperti yang kuduga, tidak ada orang sama sekali. "So they're in Hilda's room, huh..." Aku pun berjalan ke arah kamar Hilda. Dan tepat sebelum aku berbelok ke kamar Hilda, terdengar suaranya dan Meirin sedang berbicara. Aku pun menghentikan langkahku.
"Dia... sangat aneh. Kau tahu, aura di sekitar dirinya sangat menyeramkan..." Ujar Hilda.
"Aura di sekitar Sebastian menyeramkan?"
Aku tersenyum licik mendengar percakapan mereka. Mereka membicarakanku... Tidak, Hilda membicarakanku...
"Mitsuketa...*"
