A/N : Yosh! Ketemu lagi sama Kenne~! Mumpung otaknya lagi jalan, cepet-cepet nulis deh, hehe. Kalau otaknya kayak gini, pasti flash update, deh~ /emang ada yang nunggu?/ Yosh, langsung aja deh!
Disclaimer : Fairy Tail belong to Hiro Mashima, but this fanfict is mine! Don't like? Don't read!
Normal POV
Bel masuk sudah berbunyi. Murid-murid pun sudah duduk dengan rapi di kelasnya masing-masing. Guru-guru juga sudah memasuki kelas yang akan diajar. Hal yang sama juga terjadi di kelas XI-C.
"Anak-anak, kelas kita mendapat murid baru," ujar wanita berambut putih, wali kelas mereka, Mirajane. "Levy, ayo masuk!"
Gadis bersurai biru muda yang berhiaskan bandana masuk ke dalam kelas itu. Tubuhnya termasuk mungil, dan dia juga memakai kacamata yang membuatnya tampak lebih imut.
"Ohayou, minna! Watashi wa Levy McGarden desu! Yoroshiku!" sapanya riang.
"Levy, kau bisa duduk di sebelah Gajeel Redfox. Gajeel, angkat tanganmu!"
Gajeel, pemuda yang berambut hitam panjang dan memakai banyak tindikan dan beberapa anting itu mengangkat tangannya dengan malas. Levy pun langsung berjalan menuju tempat duduknya.
"Ehm, Gajeel-kun, bisa aku memanggilmu dengan suffix itu?" tanya Levy yang sudah duduk di tempat duduknya kepada Gajeel.
"Terserah saja."
Tak terasa, bel istirahat sudah berkumandang. Mirajane juga mengakhiri kegiatan mengajarnya hari itu. "Nah, anak-anak, tugas kalian harus dikumpulkan minggu depan, ya."
XXX
Sepertinya anak baru itu–Levy–seorang kutu buku. Dijamin, Lucy yang notabene suka membaca dan menulis cerita pasti akan cepat berteman dengannya.
Benar saja, mereka terlihat sedang mengobrol dengan akrab bagaikan teman lama.
"Lu-chan, apakah benar kalau kamu sedang menulis novel?"
"E-eh? I-iya, aku sedang menulis novel."
"Bisakah aku menjadi pembaca pertama novelmu?"
"Tentu saja bisa!"
Sementara Lucy dan Levy mengobrol, Erza terlihat sedang keluar kelas dengan membawa beberapa buku.
Erza POV
Mereka berdua memang kutu buku. Berbicara soal buku, aku jadi ingat, tugas Mirajane-sensei membutuhkan buku dari perpustakaan. Lebih baik aku pergi ke perpustakaan saja, kebetulan aku ingin mengembalikan buku yang aku pinjam kemarin.
XXX
Ketika aku memasuki perpustakaan, tiba-tiba suara laki-laki mengagetkanku.
"Selamat datang~!" sambut lelaki berambut hijau panjang.
"Kau mengagetkanku, Freed-san." ucapku.
"Gomen, Erza-san," ucapnya. "Apa ada yang bisa kubantu?"
"Aku ingin mengembalikan buku-buku ini, Freed-san." jawabku sambil menyodorkan buku-buku yang sedari tadi aku bawa.
"Bisa tunggu sebentar? Ada beberapa masalah disini." ujarnya sembari berlalu dari hadapanku.
XXX
Normal POV
Tanpa Erza sadari, ada sepasang mata berwarna coklat yang mengawasinya sedari tadi. Mata itu melihat Erza dengan tatapan sedih, namun dibaliknya terbersit tatapan...kerinduan? Mungkin.
XXX
Erza POV
"Nah, masalahnya sudah selesai," ujar lelaki bersurai hijau, Freed. "Jadi, ini buku yang mau kau kembalikan?"
"Ya. Aku ingin meminjam buku untuk tugas dari Mirajane-sensei, apakah kau tahu bukunya?" tanyaku dengan nada jahil.
"M-mirajane-sensei?" ujar Freed, dengan muka yang mulai memerah.
"Yup, Mirajane-sensei. Apa perlu aku ulangi lagi?" godaku.
"T-tidak usah. I-ini bukunya." kata Freed sambil menyodorkan beberapa buku di hadapanku.
"Doumo arigatou, ne, Freed-san." ujarku.
"S-sudah, p-pergi saja dari sini." usir Freed.
XXX
Aku berjalan menuju kelasku melalui koridor. Koridor ini sangat sepi. Tidak ada satu orang pun kecuali aku di sini. Aku berpikir, mungkin semua orang sedang berada di kantin, tetapi, saat aku berpikir begitu, tubuhku tak sengaja menabrak seseorang, bukan, pemuda berambut azure yang memiliki tato di bagian kanan wajahnya.
"Sumimasen, aku tidak melihatmu." kataku sesudah membereskan buku-buku yang terjatuh.
"Ah, tidak apa, aku juga tidak melihatmu," ujarnya. "Omong-omong, namamu siapa?"
"Namaku Erza. Hanya Erza."
"Ah, namaku Jellal. Jellal Fernandes," ujarnya. "Wah, sayang sekali. Bagaimana kalau namamu diganti menjadi Erza Scarlet?"
"Scarlet?"
"Ya, scarlet. Scarlet adalah warna rambutmu, jadi aku tak akan pernah lupa." jelasnya sambil tersenyum.
Blush.
Wajahku merona saat dia tersenyum. Aneh, memang. Pemuda yang baru kukenal sekitar 1 menit mampu membuat jantungku berdebar-debar. Apakah... ini yang namanya love at first sight?
"Erza-san? Erza-chan? Er-chan?"
Aku mendongak saat ia memanggil untuk ketiga kalinya. "Ya?"
"Jadi, kamu ingin aku panggil kamu Er-chan?" ujarnya sambil tersenyum.
"Bukan be–"
Bel masuk yang berkumandang menginterupsi percakapanku dengan Jellal. Tetapi sebelum kami berpisah, aku bertanya di mana kelasnya, dan ternyata dia murid kelas XI-A.
"Nah, Er-chan, aku pergi dulu, ne! Jaa~" katanya sambil–lagi-lagi–tersenyum.
"Jaa, Jellal-kun," balasku. Dan, ya, aku memang memanggilnya dengan suffix –kun karena dia memintanya.
Nah, waktunya kembali ke kelas. Untung, Laxus-sensei–guru yang akan mengajar di kelasku–mempunyai kebiasaan terlambat.
XXX
Normal POV
Seusai Jellal berpisah dengan Erza, pemuda azure itu mengeluarkan benda yang mirip dengan handphone, lalu dia menghubungi seseorang.
"Yang Mulia?"
"Bagaimana, Jellal?"
"Perkiraanku benar, Yang Mulia, Hime benar-benar lupa tentang jati dirinya, juga kekuatannya."
"Tetapi masih ada kemungkinan untuk ingat kembali, kan?"
"Tentu, Yang Mulia."
"Baiklah, aku harap kau membuat Hime memihak kita, Jellal. Kau tahu, kan, dia adalah aset yang berharga bagi kita."
"Baik, Yang Mulia. Akan saya pastikan Hime memihak kita." ujar Jellal sambil tersenyum miring.
To Be Continued
Hah~ Lumayan panjang, sih. Tapi belum sepanjang yang diharapkan. Sebenernya chap ini ada eksperimen gaya bahasa (menurutku) semoga berkenan, ya! /emang ada yang baca?/ /pundung/
Well, RnR? Your review is my spirit!
Bye~
