Disclaimer : Fairy Tail is belongs to Hiro Mashima, but this fict is mine.

A/N : Wah, ternyata ada yang review fict saya~! /terharu/ Maaf, ya, updatenya rada lama. Sebelum baca, saya pengen bales review di chap kemaren dulu.

-HaruKei : Lanjutin? Bisa, bisa.

-Kagura Yuki : Penasaran? Bagus... Wah, apakah ceritanya terlalu gampang ditebak? Tenang, saya tidak akan memberikan spoiler kok :D

-Kirey : Ini udah update kok :)

-Angel Ran : Saya juga author baru, hehe. Kalo ga ada halangan pasti update cepet kok :)

Yosh, selamat membaca~


Erza berlari menuju kelasnya. Saat dia sampai di kelasnya, belum ada guru di kelas itu. Erza bersyukur dalam hati, lalu berjalan menuju tempat duduknya.

"Erza, kamu kemana saja? Dari tadi aku tidak melihatmu." tanya Lucy.

"Tadi aku ke perpustakaan, meminjam buku untuk tugas Mirajane-sensei." jawab Erza.

Tetapi, percakapan mereka tidak berlangsung lama, karena guru yang akan mengajar kelas itu telah datang. Lelaki yang akan mengajar kelas itu kali ini adalah seorang lelaki berambut pirang, dengan headphone yang menghiasi kepalanya, Laxus Dreyar. Tanpa berbasa-basi, lelaki itu pun langsung memulai kegiatan mengajarnya hari itu.

Waktu akan terasa cepat berlalu apabila hatimu senang, bukan? Itulah yang terjadi pada Erza. Ya, dia masih memikirkan Jellal dan kejadian yang baru dialaminya pada waktu istirahat tadi.

Bel pulang berkumandang. Murid-murid yang sedari tadi mengantuk pendengarkan penjelasan guru pun bersorak dalam hati, takut ketahuan oleh guru. Erza pun membereskan alat tulisnya, bersiap untuk pulang. Setelah selesai, Erza berjalan keluar kelas bersama dengan Lucy, Levy, Natsu, serta Gray.

"Ya ampun, kalian ini mesra sekali." ucap Gray sambil melirik Natsu dan Lucy.

"Urusai, mata sayu!"

"Hei, kau yang diam, mata sipit!"

Tiba-tiba, ada suara yang menghentikan pertengkaran mereka. "Gray-sama!" panggil gadis berambut biru panjang, dengan ikal di ujungnya.

Gray POV

Juvia. Kenapa dia mencariku?

"Ada apa, Juvia?" tanyaku, mencerminkan apa yang ada di pikiranku.

"Juvia ingin mengembalikan buku catatan yang Juvia pinjam kemarin." jawabnya sambil menyodorkan sebuah buku.

Ah, aku jadi teringat pembicaraanku dengan Elfman. Aku harus melakukannya hari ini!

"J-juvia, bisakah kita bertemu di taman sore ini?" tanyaku setelah mengambil buku yang disodorkan Juvia.

"T-tentu saja bisa, Gray-sama." jawabnya dengan wajah yang merona.

Ah, dia semakin manis kalau merona seperti itu.

"Sepertinya kita menjadi obat nyamuk, ya."

Sial. Aku lupa jika ada teman-temanku di sini. Daripada mereka semakin semangat menggodaku, mungkin sebaiknya...

"Ayo kita pergi, Juvia!" ujarku sambil menarik tangan Juvia.

"E-eh?"

Erza POV

"Sepertinya kita menjadi obat nyamuk, ya." ujarku setelah menonton adegan Gray-yang-sedang-mengajak-Juvia-kencan.

Blush.

Mereka, bukan, lebih tepatnya Juvia pun langsung merona. Tiba-tiba, Gray menarik tangan Juvia dan mengajaknya lari. Sontak, Juvia pun kaget.

"Ayo kita pergi, Juvia!"

"E-eh?"

Hening sesaat setelah Gray dan Juvia pergi–bukan, kabur. Kulihat jam tanganku, sebentar lagi gerbangnya akan ditutup.

"Ayo kita pulang. Sebentar lagi gerbangnya akan ditutup." ucapku, menyadarkan mereka dari keheningan.

Kami berjalan keluar sekolah dengan tenang. Sesampainya di perempatan, kami berpisah dengan Levy dan Natsu. Kami–aku dan Lucy–berjalan menuju apartemen kami dengan santai.

"Erza, siapa pemuda yang beruntung ini?" tanya Lucy tiba-tiba.

"Apa maksudmu?"

"Jangan berpura-pura padaku. Saat kamu masuk ke kelas Laxus-sensei, wajahmu terlihat sumringah, kamu juga lebih sering tersenyum. Jadi, siapa pemuda beruntung ini? Mungkin saja aku mengetahuinya."

Apakah sikapku terlalu mudah ditebak? Tapi, benar juga. Mungkin saja Lucy mengenalnya.

"Jellal. Jellal Fernandes. Kelas XII-A."

"Jellal Fernandes? Dia–"

Slash. Tiba-tiba ada sebuah scytheyang diayunkan ke arah kami. Kami pun langsung menghindari scythe itu.

"Sepertinya aku tidak berhasil mengenaimu."

Normal POV

"Sepertinya aku tidak berhasil mengenaimu."

Suara berat itu membuat Lucy dan Erza menengok ke pemilik suara. Dia berambut perak, tubuhnya penuh dengan tato berwarna biru. Dia hanya memakai celana panjang, dengan jubah yang menutupi tubuhnya. Dia juga membawa sebuah scythe, yang ia gunakan untuk menyerang Erza dan Lucy.

"Siapa kau?" tanya Erza tajam.

"Siapa aku? Aku adalah shinigami-mu, Hime." ujarnya sambil mengayunkan scythenya. Tiba-tiba, ada angin besar–bukan, badai dengan petir yang bergerak ke arah Erza dan Lucy.

"Lucy, pergi!"

"Aku tidak akan meninggalkan temanku dalam bahaya!"

Tiba-tiba, muncul seorang gadis berambut pink, dengan model rambut yang hampir mirip dengan Juvia di depan mereka. Gadis itu mengeluarkan awan wol tebal yang menahan serangan badai tadi.

"A-apa aku terlambat, Lucy-sama?" ujar gadis itu. "S-sumimasen."

"Ah, tidak, Aries. Terima kasih telah menyelamatkan kami." jawab Lucy.

"Sebaiknya kalian menyimpan percakapan kalian untuk nanti, karena ada musuh di sini," ujar Erza. "Dan, terima kasih, Aries."

"Baiklah, Aries, kembali!" seru Lucy. Aries pun menghilang dari hadapan mereka.

"Lucy, kamu berhutang penjelasan padaku," ujar Erza. "Sesudah kita mengalahkan dia."

Lucy mengangguk. "Bukalah, gerbang singa! Loki!" serunya. Tiba-tiba, muncul seorang pemuda yang memakai tuxedo, dengan kacamata berlensa biru langit yang menghiasi matanya.

"Ah, ada apa, Lucy? Merindukanku?" ujar Loki.

"Tidak akan pernah."

"Hei, siapa gadis cantik ini? Rambutmu sangat indah, my lady." rayu Loki pada Erza.

"Sudahlah. Musuhnya adalah orang itu. Apakah kamu tahu siapa dia?" tunjuk Lucy.

"Hei, dia kan Erigor dari Guild Eisenwald." ujar Loki. Tak lama setelah dia mengatakannya, Erigor mengarahkan scythenya ke arah mereka. Badai besar dengan petir pun datang. Mereka pun menghindar dengan gesit.

"Nah, setelah kalian tahu namaku, bagaimana kalau kalian melawanku sekarang?" ujar Erigor.

"Regulus Punch!" seru Loki. Saat Loki mengepalkan tangannya, muncul cahaya di sekitar tangannya. Ia pun menyerang Erigor. Namun, serangannya ditahan oleh scythe milik Erigor. Tiba-tiba, muncul Erza di belakang Erigor, berusaha menyerang. Erigor tidak bisa menghindar. Karena serangan Erza, Erigor pun terpelanting dengan keras.

"Katakan padaku, apakah kau berasal dari Hartvia Kingdom?" tanya Lucy pada Erigor yang terlihat tidak sadar.

"Sudahlah, Lucy. Aku rasa dia pingsan," ujar Erza. "Dan kamu masih berhutang penjelasan padaku."

"Baiklah, ayo kita pulang!" seru Lucy ceria. "Loki, kembalilah."

"Sebelum aku pergi, bisakah aku berkencan dengan salah satu dari kalian?" gurau Loki sebelum menghilang.

XXX

Mereka pun sampai di rumah mereka. Saat mereka masuk, ternyata sudah ada Natsu dan seekor kucing berwarna biru yang duduk di sofa.

"Lho, Natsu, mengapa kamu ada disini?" tanya Erza.

"Aku yang memanggilnya. Dia bisa membantuku menjelaskan," jawab Lucy. "Erza, duduklah di sini."

Erza pun duduk. "Bisa jelaskan?" tanyanya.

"Erza, sebenarnya bumi ini memiliki 2 dimensi. Dimensi itu adalah Earthrealm dan Underworld. Underworld terbagi menjadi 3 kerajaan, yaitu Kerajaan Fiore, Kerajaan Hartvia, dan Kerajaan Symphonia. Kami berasal dari Fiore dan diberi misi untuk mengunjungi Earthrealm untuk mencari Hime dari Symphonia. Di Underworld, sihir adalah barang yang lazim, sehingga banyak penyihir yang muncul. Sayangnya, Kerajaan Hartvia berusaha memakai sihir untuk menaklukkan 2 kerajaan yang lain. Kerajaan Hartvia juga ingin memanfaatkan Hime dari Symphonia yang memiliki kekuatan sihir yang sangat besar untuk kepentingannya. Untuk mencegah hal ini, Hime dikirim ke dunia manusia, dengan ingatan yang terhapus. Karena Kerajaan Hartvia sudah mengetahui hal ini, maka kami datang untuk mengembalikan ingatan Hime, kemudian mengantarnya kembali ke Kerajaan Symphonia," jelas Lucy panjang lebar.

"Baiklah, aku mengerti," ujar Erza. "Apakah kalian sudah menemukan Hime?"

"Tentu saja kami sudah menemukannya," ujar Natsu. "Hime itu adalah kau, Erza."

To Be Continued


Nah, akhirnya bisa bikin chapter yang panjang... Err, kalo festival lampion tuh ada gak sih di Jepang? Kalo ada, apa namanya? Bukan buat fict ini sih, buat fict yang laen ._.

Well, RnR? Your review is my spirit!

Jaa~