Story: DAMN

Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto

DAMN! © Iria-san

Rating: T+ (Saya harap kagak naik rating di chapter-chapter selanjutnya~)

Genre: Humor & Romance yang diragukan

Pairing: Uchiha Sasuke & Namikaze (Uzumaki) Naruto.

Warning: AU, Typo, Mistypo, OOC, Boys Love, Shounen-ai, gaje, bahasa mungkin berbelit-belit dan tidak terkendali alias asal sembur, etc. . If like, you must to read it, if don't like, please read it before you press back button!/ngototness/

Author's note: Terima kasih untuk yang sudah mereview, fav, follow, dan mengikuti fic ini. Sekarang saya akan membalas Review kalian di chapter 2.


blue night-chan: Ehehehe, yang ketinggalan kameranya Naru, makasih udah RnR~

Rin Miharu-uzu: Ini udah lanjut, ehehe... makasih udah baca.

UhihaKanaku: Kekekekek, makasih pujiannya~ makasih juga udah review.

chiisana yume: Wah, kalau aku sih juga mau, lumayan... ntar dijual ke kalangan fujoshi pasti laku keras~. Tapi... /ngelirik Sasuke/ kameranya kan ada sama Sasuke~ =.=

Daevict024: Kekekeekk, Naru yang ngobatin? Ehem~ ngobatin gimana nih maksudnya?~ keekekeke.

Reihaka Ichitachi: Ya buat taruhanlah~ kalo yang nguntit buat koleksi foto sih kerjaannya author. Hahahaha! Hahahahhahaha emank nistaaa banget! Aku aja yang selagi ngetik bayangin Naruto yang begitu rasanya pengen ngakak! XP

Gunchan Cacunalu Polepel: Kekekeek~ baguslah kalau lucu, /ngelus dada/ kirain ntar jadinya malah garing. Ah, tanggung? Masa cuman cermin kamar mandi, kenapa ga jadi kamar mandinya aja sekalian? XD

ukkychan: Kekekek, aku juga suka bagian itu, aku aja ketawa waktu baca scene itu ulang~ Makasih udah review.

MJ: Pasti sakit donk! Iya, ini udah lanjut loh~ thank for RnR ^^

Qhia503: Kapan ketemu tanpa topeng? Tenang aja! Pasti ada kok~ makasih udah baca yah..

Evilian Niiu: Hei! Hak milik kamera Naruto itu ada pada author! /gampar/ Eheheh... untunglah kalau lucu... thank for RnR.

Kitsune no Sasunaru: Naru is a lucky guy~ eheheh~ ini udah lanjut, makasih udah RnR

Sytadict: Kekekekek~ itu ada alasannya, untuk memperpanjang cerita. Tenang aja, semua sudah author atur sedemikian rupa. Iya, updatenya seminggu sekali, trims udah nunggu, ini lanjutannya~ thanks 4 RnR.

Ariza: Naruto emank dari sononya Dobe! Jadi yah emank begitu~ kekekek! thanks udah RnR. Ini sudah update.

Seo Shin Young: Iya, Naru bakal fokus buat ngambil kamerannya. Caranya? /tunjuk kebawah/ baca aja~ ekkeekekk... thanks for RnR.

hamikazu-shira: Masih banyak taktik Naruto yang lainnya, tenang aja~ semuanya telah author atur dalam otak author, terima kasih atas reviewnya =)

laila. : Eheheheh... aku juga suka scene itu, thanks udah RnR.

Ryuuki Ukara: N-n-naik rate? E-eh? Uh? /panic & blush/

Vivinetaria: Terima kasih pujiannya dan reviewnya, ini lanjutannya /tunjuk ke bawah/

beauty Yomi YANG: Ahahahha... iya donk, kalau Sasuke gak gay gak bakal jadi BL ni cerita!~ Thanks udah review, ini lanjutannya.

uchiha cucHan clyne: Wuahhh! Jangankan kamu~ author aja nosebleed waktu lagi nulis itu chapter~ kekekekek... Adegan ranjang? Wuahhh! ratenya T loh~ T loh! ratenya Teh! Kekekeke... yah, biarpun masih ada kemungkinan untuk naik rating~ /Plaakk!/ Makasih udah RnR, Fave? Buat apa ijin... fave aja, bagus malah! kekekeekk...

aurantill13: Iya, makasih udah review. Ini udah update...

: Bukannya gak kebuka, tapi gak sempat dibuka sama Sasuke... eheheheheh... makasih udah review ya..

Miss Bawell: Ada typo yah? Wah, padahal sudah kucek berkali-kali loh... LO to the VE, LOVE? Itu lagi kena WB, tunggu aja ya...Terima kasih karena sudah mengingatkan, aku kira tidak ada reader yang mengharapkan fic itu lagi, jadi aku santai aja. /plakkkk!/

Majiko Harada: Kekekekek... makasih udah mengingatkan...


Chapter 3: There're 2 Uchiha! DAMN!


Cklik... Cklik...Cklik

Suara kamera yang tengah mengambil gambar terdengar, kilatan-kilatan lampu blitz terlihat dari kejauhan, membuat orang yang melihatnya akan merasa silau. Seorang pemuda tengah berkutat dengan kamera single lens reflex-nya, memotret segala macam pemandangan yang dia lihat. Rambut Sang photographer itu berkibar dengan lembut terbawa angin.

Sang Photographer itu, terlihat sesekali melihat hasil jepretannya, lalu kemudian raut wajahnya langsung terlihat sedih dan kecewa membuat tanda lahir membentuk 3 pasang garis kumis kucing di pipinya terlihat menurun ke bawah, kadang disertai juga dengan helaan napas yang sangat tidak enak terdengar. Wajahnya muram.

"Ada sesuatu yang salah, Naruto?" Tiba-tiba sebuah suara terdengar dan mengagetkan Si photographer itu, dia berbalik, dan tersenyum tipis.

"Hahaha, tidak ada kok paman Iruka, aku baik-baik saja... ehehehe," jawab Si photographer yang bernama Namikaze Naruto itu.

Pria dewasa berwajah ramah dan memiliki bekas luka di hidungnya itu menyipitkan matanya curiga, "Kau berbohong Naruto, sebenarnya ada apa denganmu? Kau sakit?"

Naruto meneguk ludahnya khawatir, lalu tertawa canggung, "E-ehm... sungguh, aku baik-baik saja paman~" jawabnya. Tapi sayangnnya Sang paman masih belum percaya, paman bernama Iruka itu melipat tangannya.

"Akhir-akhir ini, aku melihat hasil foto-mu terlihat berkurang kualitasnya, ada apa Naruto?"

GLEK!

"Eh?" Naruto menjawab dengan takut-takut, "T-tidak ada apa-apa paman~ sungguh! Apa kau tidak percaya padaku. D-dan apa maksud paman dengan penurunan kualitas?"

Iruka menghela napas, lalu melipat kedua tangannya di depan dada, "Akhir-akhir ini, fotomu terlihat tidak fokus, terlihat berantakan, gelap karena terlalu banyak cahaya yang masuk, dan juga terlihat buram karena pergerakan saat pengambilan foto. Ada apa?"

Naruto menundukan kepalanya, "E-eh... itu, karena... erhh.. a-ano..."

"Dan juga, kemana kamera pemberian Kyuubi yang selalu kau pakai?"

Naruto sontak membulatkan kedua matanya kaget, 'Mampus!' ujarnya panik dalam hati, "Eh- errr... i-itu, aku..errr... sedang diservis~," jawab Naruto dengan terbata-bata, takut ketahuan kalau dia sedang berbohong.

Iruka langsung mengeryitkan dahinya, "Diservis? Kenapa memangnya?"

"Ehm, lensanya pecah~ lalu fokus kameranya juga agak bermasalah... karena itu harus diperbaiki, dan aku tidak terlalu bisa memotret dengan maksimal jika tidak memakai kamera itu paman~..."

Iruka menganguk-anggukan kepalanya, "Jadi ini alasannya kualitas fotomu akhir-akhir ini buruk? Baiklah, kumaafkan. Tapi lain kali, kau harus berhati-hati menjaga kameramu!"

Naruto menganguk mantap, "PASTI PAMAN!" ujar Naruto semangat, "Oh ya? Apa saja kegiatan untukku akhir-akhir ini, paman?"

Mendengar perkataan Naruto, Iruka segera mengambil buku sakunya, "Hmmm... karena kita baru saja menyelesaikan pameran galeri kita, aku memberikanmu waktu istirahat 1 bulan. Tapi kau masih mempunyai beberapa tawaran pekerjaan. Kau mau menjadi salah satu photographer tamu di acara Australia Next Top model?"

"GAH! Tidak! Ada yang lain?"

"Bagaimana kalau pertemuan para photographer di Moskow?"

"Hmmm... akan kupikirkan itu nanti. Ada yang lain lagi? Aku ingin pekerjaan di dalam negeri saja, kalau bisa pekerjaan yang mudah dan tidak terlalu memakan banyak tenaga, seperti memfoto pengantin atau foto untuk majalah-majalah..," tanya Naruto sambil memiring-miringkan kepalanya.

"Hmmm... semua tawaran berasal dari pihak luar negeri. Kalau itu maumu akan kucarikan, kau yakin ingin pekerjaan yang mungkin bisa dilakukan oleh amatiran ini, Naruto? Ini bisa menurunkan derajatmu sebagai pohotographer professional," balas Iruka dengan wajah bingung.

Naruto mengeleng dengan cepat, "Cari saja pekerjaan yang orang-orang tidak terlalu mengenal namaku, jadi... dengan begitu aku tidak akan merasa canggung," jawabnya, sambil tersenyum manis.

Iruka akhirnya hanya dapat mengedikan kedua bahunya, "Kalau begitu maumu, aku akan berusaha—"

TIRIRIRIRIRT!

Sebuah suara dari saku Naruto terdengar, suara yang cukup keras dan mengangu, Naruto yang menyadari itu cepat-cepat mengambil sumber suara—ponselnya, dan melihat pada layar. Ternyata suara itu adalah alarm yang ada di ponsel Naruto.

Dengan wajah berseri-seri Naruto berkata, "WUAHHH! SEBEENTAR LAGI DRAMA SAKURA-CHAN AKAN DIMULAI, PAMAN IRUKA~ AKU PERGI DULU YAH~ BYE-BYE!" Dan setelah itu Naruto berlari pergi, meninggalkan Iruka yang terdiam bagai batu karena masih syok perkataannya dipotong hanya karena sebuah alarm.

Terlihat urat-urat pembuluh darah di dahi Iruka menandakan bahwa pria itu sedang mencoba menahan kekesalahannya, "Narutoo! Kau tidak sopan! Kau lebih memilih Sakura daripada mendengarkan pamanmu ini?! AWAS KAU!" ujarnnya geram.


/Kaito! Siapa wanita itu?!/ seorang wanita menatap sedih kekasih di depannya, beberapa bulir air mata mulai merebak dari iris kehijauannya, rambutnya yang berwarna senada dengan tanaman khas Jepang di musim semi berkibar dengan lembut terbawa oleh angin malam yang dingin itu.

/Apa maksudmu? Ayame?/ Si pemuda yang sejak tadi berada di depan gadis cantik bernama Ayame itu melipat kedua tangannya dengan sorot mata kebingungan. Gadis itu, sontak mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah pria tampan di depannya.

/Jangan pura-pura tidak tahu! K-kau pikir aku tidak melihatmu dengan wanita tadi!? K-kau... kau terlihat mesra sekali padanya, k-kau bahkan menciumnya, k-kau... hiks.../ Si gadis cantik itu mulai menutup kedua matanya, menahan lelehan air mata yang mulai menyesakan untuk keluar. Sang pemuda yang melihat itu menatap Sang gadis dengan tatapan cemas dari balik mata tajamnya yang hitam berkilauan.

Lalu pemuda yang dipanggil dengan nama Kaito itu pun mulai mengeluarkan suaranya lagi, /Ayame, kau harus tahu bahwa.../

/TIDAK! AKU TIDAK MAU DENGAR!/ Gadis bernama Ayame itu menutup kedua telinganya, tidak ingin mendengar kata-kata pembelaan apapun saat itu. Tubuh mungilnya bergetar disebabkan oleh udara malam yang terasa dingin saat itu. Melihat hal itu, Kaito melepaskan jaket wol yang dibawanya dan memberikannya pada gadis bernama Ayame itu.

/Kau akan kedinginan bila seperti ini.../ ujarnya lembut seraya menyematkan jaket itu pada bahu Si gadis. Ayame mendongakkan kepalanya, mata mereka berdua bertemu, iris berwarna hitam kelam dan iris kehijauan bagai daun segar pada tanaman, /Dengar Ayame...semua yang terjadi tadi sama sekali tidak disengaja, itu hanya... salah paham/

"HALAH! APANYA YANG SALAH PAHAM! MENYEBALKAN! MENYEBALKAN!"

Bruuukkk!

Sebuah bantal melayang pelan, menghantap ke sebuah layar televisi yang tengah menayangkan sebuah drama percintaan antara 1 orang pemuda dan 1 wanita. Si pelaku pelemparan mendengus kesal di atas sofa sambil terus melahap ramennya, "Huaahh! Kenapa Sakura-chan!? Kenapa kau harus memerankan wanita seperti Ayame yang selalu menderita, hiks... aku tidak tega melihatmu menanggis~ hiks..." Naruto mengusap air mata dan ingus yang berseliweran di wajahnya, "D-dan juga kenapa lawan mainmu SELALU Uchiha Sasuke! Hiks! Dia gay Sakura! Dia itu Gay!"

Naruto menaruh mangkuk ramennya yang sudah kosong ke lantai dengan sembarangan, lalu kembali lagi fokus dengan drama romance tingkat akut di depannya itu, Sesekali mulutnya berkomat-kamit berkata sesuatu, "Sakura-chan~ setelah drama ini selesai~ Jangan pernah lagi kau bermain film dengan Uchiha Sasuke! Dia itu GAY Sakura! DIA ITU GAY! Aku tahu dia six-pack, dia sexy, dia tampan tapi— Loh?! EH!" Naruto menutup mulutnya kaget, karena tanpa sadar malah memuji Uchiha Sasuke.

"ARGGGHH! Apa-apaan ini?!" Naruto mengacak-acak rambutnya frustasi, tidak menyangka bahwa akhir-akhir ini mulut dan tubuhnya suka bertindak tidak mengikuti perintah otaknya. Pada akhirnya, karena merasakan kepalanya mulai pusing, Naruto merebahkan tubuhnya sejenak pada sofa yang didudukinya, merasakan hembusan angin kipas angin menenangkan jiwanya, hingga akhirnya... mata indah kebiruan miliknya tertumbuk pada laptop orange ngejreng miliknya yang tersimpan sembarangan di lantai. Naruto memutuskan untuk mengambil laptop itu sekedar melihat email dan blognya, mungkin.

Saat membuka facebooknya, Naurto agak sedikit tersenyum-senyum saat melihat komentar-komentar pada statusnya yang baru saja dia buat pada saat ingin mengambil foto bugil Sasuke, ( yang dia tidak tahu bahwa, status inilah yang membuatnya gagal), menurutnya... teman-teman facebooknya amat menyenangkan, padahal... Naruto sama sekali tidak mengenal mereka pada dunia nyata, hingga entah bagaimana... mata birunya melihat satu komen yang membuat darahnya kembali naik.

Onyx Nightsky: Good Luck, Dobe. Haha, kalau kau bisa.

TWITCH! Naruto memelototkan matanya melihat komen dari salah satu akun yang sudah dinobatkannya sebagai 'orang pertama yang dia benci di dunia maya (siapapun orangnya)' , Naruto ingin sekali membalas komen orang itu, tapi sayangnya... Naruto tidak ingin ribut pada jejaring sosial yang dapat dilihat oleh semua orang. Karena itulah, setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Naruto memutuskan untuk mem-PM saja orang menyebalkan itu.

Blue Sapphiresky: Gah! Kau tidak perlu memberikanku semangat jika pada kalimat akhirnya kau juga meragukanku, itu tidak penting!
SEND...

Naruto menghela napasnya, sekarang hanya tinggal menunggu Si Onyx Nightsky itu membalas. Naruto melihat jam dinding di ruangan itu, lalu mengerutkan keningnya, ' Ternyata masih jam 10 pagi... cih, lama sekali waktu berlalu,' gumam Naruto sedih,lalu kemudian kembali menidurkan dirinya di sofa, "Huwaahhh! Tidak ada kerjaan! BOSAAAN~" serunya nyaring-nyaring, mungkin agar tetangga-tetangganya mengetahui bahwa dia bosan.

BRAKKK! Suara pintu yang terbuka dengan keras membuat Naruto terlonjak kaget dari sofa yang ditidurinya dan segera menoleh mencari asal suara itu. Di depan pintu miliknya, Iruka sudah menatap dirinya dengan wajah sumringah dan begitu mengairahkan.

"A-a-ada paman?" tanya Naruto agak takut-takut, tidak pernah melihat pamannya sesemangat itu.

"Aku punya berita bagus, aku mendapat pekerjaan untukmu!" ujar Iruka dengan wajah amat antusias.

"Bagus, apa itu?!"

"Menjadi photographer dalam pembuatan biografi dari Uchiha Sasuke."

TWITCH!

"Apa!? Hell! Tidak! Kutolak!" Naruto menatap Iruka dengan wajah horror dan tangan yang disilangkan.

"Tapi, kau juga akan bertemu Haruno Sakura."

"BAIK! Aku terima, jelaskan pekerjaan ini secara lanjut, paman Iruka!"

"Ehem," Iruka membuka buku catatannya dan berdehem sebentar sebelum memulai kata-katanya, membuat Naruto yakin bahwa setelah ini pamannya itu akan berbicara panjang setelah ini, "Pihak managemen dari Uchiha Sasuke sekarang ini telah berniat untuk membuat biografi dari salah satu aktor andalan mereka, Sasuke. Rencana ini disambut dengan antusias oleh fans-fans Sasuke di berbagai negara, yang memang sudah mengharapkan terbitnya buku ini bahkan sebelum buku ini direncanakan pembuatannya. Biografi ini direncanakan berjumlah 200 halaman(100 lembar), dengan 25 halaman adalah biodata umum dan sejarah perjuangannya di dunia peran, 25 halaman berikutnya tentang keluarga, hobi, cerita, kebiasaan dan fakta singkat tentang dirinya, 25 halaman bercerita tentang semua drama dan film layar lebar yang dia mainkan, juga beberapa cerita di balik layar, 40 halaman tentang orang-orang yang dikabarkan dekat dan menjalin hubungan spesial dengan Sasuke, lalu—"

"Tunggu..." Naruto mengintrupsi, mengangkat tangannya ingin bertanya .

"Apa?"

"40 HALAMAN!? 40 halaman utuk menceritakan kedekatan Sasuke dan Sakura! Cih, buku itu pasti ingin membuat para girlfans Sasuke cemburu!" seru Naruto kesal, karena dia adalah salah satu orang yang menentang hubungan Sasuke dan Sakura.

Iruka mengeleng-gelengkan kepalannya melihat sikap keponakan sekaligus anak asuhnya itu, "Bukan hanya Haruno Sakura, Naru-chan!" ujarnya dengan nada gemas, lalu mengacak-acak surai pirang Naruto.

Dengan wajah kesal yang malah terlihat imut, Naruto mencoba menyingkirkan tangan jahil pamannya itu dari atas kepalanya, "Lalu siapaa pamaaan? Satu-satunya orang yang kuketahui dekat dengan Sasuke cuma Haruno Sakura!"

"Itu karena kau kurang menonton berita gosip Narutooo~ Kau hanya terfokus pada Sakura. Sebenarnya ada beberapa orang lagi yang dikabarkan dekat dengan Sasuke!" balas Iruka makin gemas, semakin kuat juga mengacak rambut Naruto. Iruka pun memperlihatkan buku catatannya itu tepat di depan hidung Naruto, "Pada awal debutnya, Sasuke pernah digosipkan dengan aktris cantik yang memiliki ciri khas rambut yang selalu diikat gaya pony tail, Yamanaka Ino, lalu Sasuke juga pernah dikabarkan menjalin hubungan dengan salah satu fangirlnya yang bernama Hyuuga Hinata, bahkan... Sasuke pernah digossipkan adalah seorang gay dan menjalin hubungan dengan aktor juniornya, Inuzuka Kiba."

"Haha, sungguh hebat orang yang mengatakan bahwa Sasuke itu gay~" Naruto terkekeh geli, ' Ternyata ada juga orang yang sadar,' lanjutnya dalam hati, "Ah, dan lanjutkan penjelasanmu tadi paman..."

"Ah, ehem... dan 80 halaman adalah kumpulan foto-foto dari Uchiha Sasuke, mulai dari fotonya saat syuting, hingga foto resmi dengan berbagai baju dan pemandangan, 3 halaman kesan-kesan Sasuke atas biografi ini, dan 2 halaman terakhir adalah daftar orang-orang yang berjasa dalam pembuatan buku ini.. seeleesai~" Iruka menutup buku catatan miliknya, dan tersenyum ke arah Naruto, "Bagaimana menurutmu? Kau terima?"

"APA!? 80 halaman untuk foto? 80 halaman untuk foto, paman bilang? Paman yakin itu biografi?"

Iruka menaikan kedua bahunya, "Tidak tahu, tapi begitulah informasi yang aku terima. Lagipula, itu semua karena tuntutan pada fans yang ingin mengoleksi foto-foto dari Uchiha Sasuke, jadi bagaimana? Kau mau tidak?"

Naruto menumpukan dagunya sebentar, memikirkan resiko apa saja yang mungkin akan terjadi jika dia berada di dekat Sasuke. Dia takut Sasuke akan mengenal dirinya yang sudah dengan seenaknya menyusup masuk ke apartemennya, tapi... dia ingin sekali bertemu langsung dengan Haruno Sakura, dan dia juga masih memiliki kesepakatan dengan Onyx Nightsky untuk mengambil foto bugil Uchiha Sasuke, lalu kamera kesayangannya yang diberikan khusus oleh kakaknya sekarang malah berada di tangan Sasuke, jadi keputusannya adalah...

"Baiklah paman aku setuju, ta-tapi..." Naruto memutar-mutar jari telunjuknya bingung, bingung bagaimana dia melanjutkannya.

"Tapi..." tekan Iruka, ingin mendengarkan lanjutan dari kalimat Naruto yang terpotong.

"Aku ingin menyamar... bukan sebagai Namikaze Naruto, tetapi orang lain..."

"APA!?"


Tuk... tuk...tuk...

Sepasang kaki jenjang yang dibalut boots hitam dengan hak sepanjang 7 cm berjalan pelan melewati kerumunan orang-orang yang menatap takjub pada orang yang tengah berjalan itu, baju mengembang berwarna hitam dengan hiasan renda dan pita di sana-sini menambahkan kesan gothic dalam baju itu. Orang yang memakainya, tetap berjalan dengan santai, menampilkan surai sepanjang berwarna violet yang diikat oleh dua buah pita di bagian ujungnya.

Gadis yang sangat cantik, itulah yang dipikirkan orang-orang saat melihat orang yang berjalan itu itu. Betapa tidak, tubuhnya yang kurus langsing, kulit berwarna madu yang terlihat bersinar, wajah cantik dengan senyum menawan, mata berwarna merah yang tajam, dan gaya berpakaian yang unik. Membuat gadis ini langsung menjadi pusat perhatian di tempat yang didatanginya itu.

Gadis itu terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu tatapannya berhenti pada sebuah antrian panjang, dengan segera dia menuju tempat yang penuh dengan antrian itu dan mendatangi sebuah meja yang di belakangnya dipasang palang besar dengan tulisan, 'PENDAFTARAN PHOTOGRAPHER UNTUK BIOGRAFI UCHIHA SASUKE'

Gadis itu tersenyum, senyum lebar yang tampak membuatnya lebih cantik dan imut, "Perkenalkan namaku Uzumaki Akashi, saya mau mendaftar di sini, hihi..."

.

.

.

Flasback

"Apa!? Kau gila? Untuk apa kau memilih menyamar menjadi orang lain Naruto?" Iruka melipat kedua tangannya dengan nada kebingungan, "Kau benar-benar aneh, nak..."

Naruto yang tangah memoleskan bedak ke wajahnya menoleh, lalu tersenyum, "Tidak apa-apa paman, aku hanya sedang tidak ingin memakai nama Namikaze Naruto untuk perkerjaan yang satu ini," jawabnya.

Iruka menghela napas, "Tapi Naruto, jika kau menyamar sebagai orang lain, sebagai photographer dengan nama dan penampilan yang lain, kau harus mengikuti tahap seleksi dulu sebelum bisa menjadi photographer yang memotret Uchiha Sasuke dalam biografinya. Kondisi ini berbeda jika semisalnya kau tetap menjadi Namikaze Naruto, orang yang dikenal sebagai photographer professional! Tanpa pikir 2 kali, orang pasti akan memilihmu!"

Naruto menatap Iruka dengan intens, kali ini 2 buah bola matanya memiliki warna iris yang berbeda. Yang satu berwarna biru, warna asli dari mata Naruto, dan juga yang satunya lagi berwarna merah, Naruto baru saja memasang softlens tadi, "Justru itu tantangannya paman, aku ingin mengetahui sebagaimana tingkat kemampuanku dan sebagaimana orang memilihku saat aku tidak memakai nama Namikaze Naruto. Aku ingin dipilih karena kualitas paman, bukan karena nama!" Naruto mengepalkan kedua tangannya dengan semangat, 'Lagipula dengan menyamar, identitasku akan lebih aman, kemungkinan untuk Sasuke mengenaliku akan lebih kecil,' batin Naruto girang.

Iruka menghela napas panjang, "Aku tidak pernah mengerti caramu berpikir Naruto," ujarnya pelan, "Jika kau maunya begitu, terserah kau saja..."

"Bagus paman... arigatou atas persetujuannya," Naruto menaruh sebuah wig panjang berwarna ungu di atas kepalanya, kedua iris bola matanya sekarang sudah berwarna merah, tapi biarpun sudah berubah warna, mata itu tetap saja indah.

"Paman, sekarang panggil aku Uzumaki Akashi~"

~?~?~?~Iria-san~!~!~!~

Mata kemerahan Naruto melihat ke sekeliling, tepatnya ke arah peserta yang lainnya, dan akhirnya Naruto menyadari bahwa kebanyakan peserta yang mengikuti audisi ini berjenis kelamin perempuan. Naruto yakin... alasannya para perempuan ini adalah, agar lebih dekat dengan Uchiha Sasuke.

Naruto mulai merasa bosan, yang dia lakukan sekarang hanyalah menunggu para panitia menjelaskan apa saja yang akan membuat mereka lolos audisi ini. Dia merasa malas menyapa seseorang, dan bahkan di sana tidak ada yang mau menyapanya. Mungkin karena penampilannya cukup nyetrik. Hei, sungguh! Dia adalah satu-satunya orang yang memakai gaun bernuansa gothic loli di sana, khas otaku sekali. Seharusnya dia memakai pakaian bergaya casual saja ke sana.

Akhirnya, selama beberapa saat terus menunggu, dengan tampang kesal, Naruto beranjak dari tempat duduknya, dan pergi sambil menyentak-nyentakan kaki. Benar Naruto, lebih baik kau pergi dan berjalan-jalan saja.

.

.

.

Naruto menoleh ke sekelilingnya dengan tatapan takjub, menatap ke arah lighting dan kamera-kemera yang tengah dipasang orang di berbagai tempat, Naruto tak menyangka, hanya sekitar seratus meter dari tempat audisi adalah lokasi syuting. Sayangnya, Naruto tidak tau lokasi syuting apakah di sana.

Tiba-tiba, tanpa Naruto sadari, seorang wanita tengah berjalan melewatinya, wanita berambut merah muda yang sangat dia idolakan, Haruno Sakura. Naruto membatu, rahangnya membuka lebar melihat idolanya itu ada di depan matanya, yang sekarang tengah berbicang-bincang dengan—SHIT Uchiha Sasuke! Sekarang Naruto tahu tempat lokasi syuting drama apa di sini!

Dengan kecepatan cahaya, Naruto segera berlari ke arah Sakura, melambai-lambaikan tangannya dengan senyum lebar, "SAKUUURAAA-CHAN~"

Yang dipanggil tampak tersentak kaget dan menoleh perlahan, mata hijau aktris cantik itu membesar kala melihat seorang gadis lain, tampak sednag berlari ke arahnya dengan tampang ingin menerkamnya. Uchiha Sasuke, orang yang ada di sebelah Sakura, hanya menatap datar gadis yang tampak gila itu—Naruto dengan tatapan yang tak dapat dijabarkan.

"S-S-Sakura... a-aku fans beratmu! B-boleh aku minta tanda tanganmu!?" tanya Naruto dengan amat antusias. Melihat sikap Naruto, Sakura tersenyum canggung, dan matanya bergerak liar kesana kemari, tanda gelisah.

"B-baiklah, tapi... bagaimana kau bisa ada di sini? Bukankah ini tempat khusus untuk—"

"HUWAHHH! Sakura-chan! Kau cantik sekali! Kau tahu? aku sangat suka stylemu hari ini! A-ah, kau tau, aktingmu saat drama 'I'm your Love, Baby~' itu benar-benar menyentuh hatiku, uwaaaahhhhh!" Naruto meloncat-loncat kecil kegirangan, membuat dirinya dan Sakura menjadi pusat perhatian para kru di sana.

Sakura tertawa kecil, keringat dingin mengalir keluar menuruni pelipisnya, dia menoleh ke arah Sasuke yang ada di sebelahnya seperti hendak meminta pertolongan, tetapi... ketika dilihatnya Sasuke sudah tak berada lagi di sebelahnya, pupuslah sudah harapannya. Sakura mencoba menahan amarahnya dan tetap tenang, "Baiklah, ehm... sekarang, dimana aku bisa tanda tangan?" tanyanya.

Naruto serasa naik ke surga hingga akhirnya dia sadar bahwa dia tidak membawa kertas atau apapun, tapi bukan Naruto namanya jika menyerah pada keadaan, "Kau bisa menandatangani kaus kakiku!" ujar Naruto, langsung duduk di tanah dan melepas sepatu dan kaus kakinya yang berwarna putih belang-belang merah. "Ini!" Naurto menyodorkan kaus kaki itu.

Twitch! Sakura menatap Naruto dengan tatapan kesal dan tergangu, setelah menghela napas beberapa saat, Sakura pun berkata, "Dik, dengarkan aku ya... aku tidak bisa menandatangani kaus kakimu, kau tahu... kau kakimu itu—tidak enak baunya. Maafkan aku dik, tapi... kau bisa kembali dengan sebuah kaus atau kertas untuk aku tanda tangani! Permisi, aku sibuk!" Dan setelah itu, Sakura segera melangkah pergi, meninggalkan Naruto yang masih tersenyum-senyum gaje sambil menyodorkan kaus kakinya, yang jujur—ternyata memang berbau busuk.

Ucapan Sakura yang terdengar oleh Naruto terasa cukup menusuk, Naruto menundukan kepalanya sedih, karena tidak diterima sama sekali oleh Sakura, terlebih lagi—HELL, demi paus yang beranak kuda laut, "HEI! UMURKU 21 TAHUN!"


Naruto berjalan dengan wajah bingung dan menoleh kesana-kemari, tangannya mengaruk kepalanya yang entah bagaimana terasa gatal (mungkin karena Naruto tidak keramas selama 4 hari). "Baiklah, errr... dimana aku sekarang? Sepertinya aku tersesat~"

Dimana Naruto sekarang? Tidak tahu. Naruto sekarang sedang tersesat dan mencoba mencari jalan untuk kembali, Naruto tak pernah menyangka lokasi syuting akan seluas dan serumit ini. Padahal, Naruto tidak pernah tahu bahwa dia hanya berputar-putar saja di sekitar situ. Yah... Naruto kan seorang Dobe~ jadi, maklumilah dia.

Tiba-tiba, saat masih berjalan dengan wajah nista penuh kebingungan, Naruto(masih dalam wujud Akashi) melihat sebuah tenda yang di dalamnya dia dapat melihat Uchiha Sasuke! Uchiha Sasuke saudara-saudara! Sekarang tengah mengotak-atik kamera miliknya di tangannya. Kamera miliknya!

'KAMERAAKU!' Pekik Naruto dalam hati. 'Aku harus mendapatkannya!"

.

.

.

Sasuke menoleh ke luar tenda, wajah datarnya terlihat bingung akan kedatangan seorang gadis muda bermata merah dan berambut violet, yang masuk seenaknya ke dalam tendanya.

"Apa yang aku lakukan di sini? Siapa kau?" tanya Sasuke dengan nada begitu datar.

gadis itu tampak berdiri di pintu tenda Sasuke dengan senyuman malu-malu, sembari memelintir rambut violetnya dengan jari telunjuk, dengan langkah perlahan, dia mendekati Sasuke dan duduk di atas meja yang berada di dekat Sasuke. Gaya duduknya menggoda, dengan paha kirinya yang berada di atas pahanya yang lain, dan sepertinya dia juga sengaja menyibak sedikit roknya agar pahanya sedikit terlihat. Sasuke berani bertaruh bahwa gadis itu tadi sempat berkedip jahil padanya.

Sasuke memicingkan matanya, lalu menoleh ke arah gadis yang dia ketahui adalah penggemar berat Sakura itu tadi, Sasuke berdehem, menuntut agar pertanyaan sebelumnya dijawab.

"Namaku, Uzumaki Akashi~" jawabnya kecil, suaranya manis menggoda, terasa sangat enak didengar.

Sasuke menaikan satu alisnya dan menatap Naruto dengan tatapan datarnya, "Apa maumu nak? Tidak adakah yang mengajarkanmu sopan santun?"

Naruto(Akashi) terkekeh kecil , dia manis sekali jika begitu. Biarpun dalam hati Naruto sudah ingin mengambil ancang-ancang untuk mencekek aktor itu, tidak ada satupun pemuda berumur 21 tahun yang sudi dipanggil 'dik' atau 'nak', "Hihi, umurku 21 tahun Uchiha-san~ Ah... dan juga, apa kau tahu? Aku adalah salah satu peserta audisi pencarian photographer untuk audisimu Uchiha-san~"

Sasuke menganguk-anguk, "Hn, lalu?"

Twitch~

Kedutan samar terlihat sedikit di kening Naruto, tapi Naruto berusaha untuk menahannya. Sungguh! Ingin sekali Naruto menendang wajah Uchiha yang satu ini, benar-benar menyebalkan! Bersikap manis di depannya benar-benar hal yang sangat membuatnya ingin muntah.

Naruto menuruni meja yang didudukinya dan berjalan pelan ke arah Sasuke, lalu mengulurkan tangannya, "Perkenalkan, namaku Uzumaki Akashi," Naruto tetap tersenyum manis.

Sasuke menatap jemari Naruto yang terulur padanya dalam diam, tetapi tidak membalasnya, "Kenapa kau memperkenalkan dirimu?"

Naruto terkekeh, di belakang tubuhya sudah menguar aura super kelam yang dihasilkan dari kemarahannya yang besar kepada Uchiha Sasuke, "Hmmm~ aku cuma sekedar memperkenalkan diri, kita kan mungkin nanti akan jadi rekan~"

"Kau belum tentu terpilih kan? Sainganmu sangat banyak, percaya diri sekali kau, nak?" Sasuke menyeringai geli melihat sikap gadis di depannya itu, tapi sedetik kemudian wajahnya kembali menjadi datar.

"Aku percaya dengan kemampuanku~" Naruto mengedipkan matanya, "Aku pasti bisa lolos audisi ini dengna mudah. Ah, dan jangan memanggilku 'nak', namaku Na— Eh, Akashi..." Naruto hampir saja salah menyebutkan namanya.

"Hn..." Sasuke kembali sibuk dengan kamera milik Naruto di tangannya, mata kemerahan Naruto melihat kameranya itu dengan tatapan kesedihan.

'Ohhh~ kameraku~ betapa malangnya nasibmu harus berhari-hari tinggal bersama aktor jelek ini~' pikirnya dramatis. "E-ehm... Uchiha-san, kau ingin buat kesepakatan denganku?" Naruto mengerlingkan matanya pada Sasuke dan berbicara dengan nada mendayu.

"Hn?"

"Jika aku lolos audisi, bisakah kamera itu untukku? Aku tertarik sekali dengan kamera itu, bagus sekali~"

"Tidak."

Naruto merasakan jantungnya berhenti bernapas karena kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun, mungkin sebentar lagi dia akan meledak, "Bagaimana kalau kubeli~?"

"Tidak."

"Ke-kena—"

SRAKKK! Tiba-tiba tirai yang menjadi pintu tenda itu tersibak, mengintrupsi Naruto untuk melanjutkan kata-katanya.

"Hai utouto, bagaimana kabarmu?~" Sebuah suara menyapa, menampilkan seorang pemuda tinggi , berambut panjang yang diikat ke belakang dengan wajah sumringah dan senyum yang lebar. Pemuda itu tampan sih~ hanya saja, ada 2 garis keriput di wajahnya—menggangu. Naruto melebarkan matanya cengo dan Sasuke membatu di tempat.

"Aniki?" gumam Sasuke.

Naruto menoleh cepat ke arah Sasuke, 'APA? ANIKI?'

"Utouto-chan, kenapa wajahmu seperti itu?" pemuda tinggi jangkung itu mendatangi Sasuke dengan senyum yang tidak hilang-hilang. Dia memegang kedua tangan Sasuke dan mengelus-elusnya. Sungguh menjijikan.

"Kenapa. Kau. Ada. Di. Sini? Kuso Aniki!?" Sasuke memandang horror kakaknya itu dengan penekatan setiap kata di kalimatnya, dan juga langsung menarik kedua tangannya dengan wajah horror. Sedangkan gadis cantik kita (Naruto/Akashi) hanya memandang Uchiha bersaudara itu cengo. Masih tak percaya, Sasuke mempunyai seorang kakak yang tampaknya berbeda jauh sifatnya.

"Hohoho, apakah kedatangan kakakmu ini membuatmu begitu senang, utouto? Kau tahu, aku akan berada di Jepang dalam waktu 2 bulan. Aku sedang mengambil cuti, perusahaan kita di New York biar tousan saja yang menjalankannya sementara~" jawabnya, masih dengan senyum yang selalu Sasuke anggap menjijikan. Oh! Sekali lagi, demi paus yang beranak kuda laut, itu bukan senyum khas Uchiha sekali! Merendahkan harkat dan martabat klan Uchiha.

Tiba-tiba tatapan kakak dari Sasuke itu mengarah ke Naruto, dan Naruto... yang merasa ditatap hanya dapat nyengir sambil mengedikan kedua bahunya, yang sayangnya beradampak besar pada akhirnya.

"Uwaaah, siapa gadis yang manis ini utouto? Kekasihmu?" tanyanya, langsung melepaskan kedua tangan Sasuke dan mendatangi Naruto. Pemuda itu tersenyum, dan entah bagaimana tangan jahilnya langsung menyentuh pipi Naruto dan mengelusnya, "Pipimu halus sekali~"

Plak! Naruto langsung memukul tangan nakal pemuda itu, membuat pemuda itu terkekeh sambil mengelus-elus tangannya yang dipukul oleh Naruto tadi. "Hahaha, gadis yang menarik, perkenalkan, namaku Uchiha Itachi, kau bisa memanggilku Itachi, " dia tertawa jahil. Sedangkan adiknya, Sasuke, hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat kenarsisan kakaknya.

Sekarang Naruto bersyukur terlahir sebagai lelaki, intinya, jika semisalnya kakak Sasuke itu mengetahui dia adalah lelaki, Naruto berani jamin pemuda bernama Itachi itu akan balik kanan dan menyesal menggodanya. Yeah, setidaknya— tampaknya Itachi itu adalah orang yang normal. Orang normal yang lebih menyukai sepasang buah dada daripada dada bidang yang datar. Yeeah~You know what i mean.

"Kalau kau lelaki, pasti akan lebih menarik lagi"

GLEK!

Naruto diam sebentar, mencerna dahulu kata-kata yang berusan masuk ke dalam gendang telinganya. Lalu, dengan gerakan patah-patah, Naruto menoleh ke arah Itachid dan mandapati pemuda dewasa itu masih tersenyum manis padanya, lalu, kepala Naruto mulai melihat lagi ke arah Sasuke yang ternyata mulai sibuk kembali mengotak-atik kamera miliknya. Intinya, Naruto tidak tahu harus melakukan apa sekarang.

DAMN! Tolong tarik kata-kata Naruto bahwa dia bersyukur terlahir sebagai lelaki, sekarang dia SANGAT MENYESAL, dan tolong lupakan juga bahwa Itachi adalah orang normal, DIA SAMA SAJA DENGAN ADIKNYA, SAMA-SAMA GAY!

Naruto langsung merinding, God! sekarang dia benar-benar tidak ingin mereka mengetahui bahwa dia laki-laki! Dia tidak dapat membayangkan bagaimana dirinya di masa depan jika ketahuan adalah seorang lelaki, mungkin dia akan diterkam dan dipaksa untuk ber-threesome ria bersama Uchiha bersaudara itu. TIIIDAAAAKK!

"Aku harus pergi!" Naruto segera balik kanan-grak! dan bergegas untuk pergi, semakin lama dia merasa semakin terancam bila terus ada di sana. Untunglah, tidak ada seorang Uchiha pun yang menghalanginya pergi, hingga akhirnya dia dapat keluar dari tenda itu dengan mudah.

Demi Kami-sama, kau harus memberikan persembahan sehabis ini Naruto! Dia sudah terlalu banyak memberikan pertolongan padamu Naruto.

.

.

.

.

Naruto mengacak-acak rambutnya bingung, alhasil, rabut palsu berwarna violet itu jadi terlihat amat berantakan, "Arghhh! Kenapa selalu saja ada masalah yang datang!?" gerutunya. Naruto mengacak pinggangnya dan menghela napas yana amat panjang, "Satu Uchiha saja sudah susah! Apalagi dua! Erggghhh!" sekali lagi Naruto mengacak-acak rambutnya hingga jadi semakin berantakan.

Naruto mengeluarkan sebuah note kecil dari dalam saku baju gothic lolinya, dan mulai menulis sesuatu di sana, kali ini, misinya bertambah 1 lagi.

Mission:

1. Bertemu Haruno Sakura dan mendapatkan tanda tangannya.

2. Merebut kembali kameraku.

3. Mengambil foto bugil Sasuke.

4. Menjaga keperjakaan dari 2 orang Uchiha.

Dan misi ke-4 adalah misi yang baru saja ditambahkan oleh Naruto beberapa detik sebelumnya.

Naruto menghela napas, "satu misi saja belum terlesaikan~ aku harus lebih berusaha lagi."

.

.

"hmmm, tunggu~ sepertinya ada yang kulupakan~..."

.

Hening, Naruto mencoba mengingat-ingat.

.

Masih hening, dan Naruto masih mencoba mengingat-ingat. Dasar otak kakek-kakek, pikunnya gak ketolongan!

.

Naruto masih mengingat-ingat, ya ampun! Benar-benar Dobe sejati!

.

.

Hingga akhirnya, Naruto ingat juga...

"H-HUWAAAA! AUDISIKU!" Naruto memekik histeris, matanya melebar dan dia panik, terlebih lagi, ketika dia sadar bahwa... "S-SESEORANG TOLONG AKU! AKU TERSESAT!"


.

.

To Be Continued~... \()/

Author note: Sungguh! Saya tidak bermaksud untuk mempublish fic ini terlambat hingga 2 hari! Tapi, ada banyak sekali alasan yang membuat saya tidak bisa pergi ke warnet untuk mempublish fic ini. Dan juga, di chap ini dan beberapa chapter ke depan, Naruto menyamar jadi cewek (cantik) yang namanya Akashi, Akashi punya ciri-ciri mata merah dan rambut warna violet(ungu). Jadi, secara tidak langsung jika di sini dijelakan Naruto, itu artinya dia Akashi.

Untuk yang sudah membaca sampai sini, ouch~ Arigatou minna! Ehehehee, maaf sedikit terlambat ya~ dan review?


Omake

"Sepertinya gadis itu tertarik padamu Sasuke, aku sempat melihatnya menggodamu, kau tidak ingin mendekatinya?" Itachi terkekeh, sambil meminum kopi hangat yang ia minta dari salah satu kru disana.

Sasuke menatap kakaknya itu dengan datar, "Ohh, jadi kau sudah lama berada di luar tenda, dan menunggu sambil memperhatikan kami. Begitu, aniki?"

Itachi tersenyu kecil, tertawa dalam hati, "Hmmm, begitulah. Kau yakin, tidak ingin mendekatinya? Kalau kau tidak ingin, biar aku saja yang—"

"Mungkin akan kudekati," Sasuke memotong perkataan kakaknya, "Mungkin," dan menekan satu kata yang ada di kalimat sebelumnya.

Kembali Itachi menyeringai, seringai khas milik klan Uchiha, seringai iblis paling menyebalkan di dunia, "Rugi kau Sasuke, kau lihat dia memakai bra ukuran C?"

Masih dengan tampang datar, Sasuke menoleh ke arah Itachi, tetapi sedetik kemudian wajah datarnya itu berubah menjadi wajah mengejek, "Kau tidak menyadarinya, heh, Aniki? Tak kusangka... lama di New York, sepertinya kemampuanmu berkurang~"

"He-eh... kau pikir aku bodoh? Tentu saja aku mengetahuinya, itu hal yang mudah untuk kuketahui, aku hanya ingin mengujimu saja~"

"Jadi, karena itu kau mengatakan 'akan lebih baik jika dia menjadi lelaki' pada gadis itu, untuk melihat reaksinya, begitu?"

Itachi menganguk mantap, dan memberikan 1 jempol pada Sasuke, "Ah, dan ralat kata-katamu itu Sasuke~ dia bukan gadis... tapi... pe-mu-da."

"Ah, iya, kau benar... aniki..."