Story: DAMN

Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto

DAMN! © Iria-san

Rating: T+ (M untuk bahasa-bahasa vulgar yang saya gunakan~)

Genre: Humor & Romance yang diragukan

Pairing: Uchiha Sasuke(23) & Namikaze (Uzumaki) Naruto(21).

Other Cast: Umino Iruka(31) & Hatake Kakashi(34), Tsunade(50+), dan beberapa original character.

Warning: AU, Typo, Mistypo, OOC, Boys Love, Shounen-ai, gaje, bahasa mungkin berbelit-belit dan tidak terkendali alias asal sembur, etc. . If like, you must to read it, if don't like, please read it before you press back button!/ngototness/

Author's note:Hai Minna-san~. Terima kasih untuk yang sudah mereview, fav, follow, dan mengikuti fic ini. Sekarang saya akan membalas Review kalian di chapter 3 (Kalau malas dibaca, di-skip aja yah~).


Roronoa D. Mico: Gomen? For what? Hehehe... kamu itu yang pertama kali review di chapter 3, jadi buat apa minta maaf,~ Thank udah RnR ya...

Baby kyu: Wuahhh~ Kalau itu sih, biarkan dulu ceritanya mengalir seperti air~ ekekekek... thanks udah RnR.

Daevict024: Ehehehehe... ini udah update, makasih reviewnya.

Ryuuki Ukara: Uahhh... naik rate yah? /ngelirik ke atas langit-langit/, mungkin kemungkinannya 1:3 , jadi kemungkinan naik rate-nya bisa terpenuhi~ Itakyuu? Yakin nih gak mau Kyuuita? ^^

(untuk chapter 1,2, dan 3): Eh? Judulnya gak menarik yah? Huwaahh~ kejam~, tapi untunglah kamu suka dengan fanfict ini. Makasih juga atas pujian-pujiannya, dan untuk pertanyaan Miu-miu di chapter 3, aku akan membalasnya di chapter yang lain... makasih udah review ya.

sea07: Hahahahah, ingat! Naruto itu 'dobe', jadi kalau kelakuannya kayak gitu biasa aja~ ini udah lanjut, makasih udah RnR.

miss bawell: Ya ampuuunn! Matanya miss bawel kok tajem banget yahh! Aku aja yang udah ngecek sampai di-copy ke hape ga dapat tuh kesalahan-kesalahannya, /plak!/ makasih sudah review. Dan untuk Lo to the Ve, Love. Tunggu aja yah~

Namikazevi: Ini sudah update, makasih udah RnR..

Gunchan Cacunalu Polepel: Hai Gunchan~ makasih untuk RnR-nya, dan juga... kalau kamu ingin tahu atas semua jawabanmu, kamu bisa terus mengikuti fic ini kekekekeke.../plakk!/

Qhia503: Ekekekekek, Uchiha brothers emank gak bakal beres di fic saya~ thanks udah RnR.

Netwalker: Makasih pujiannya, jadi tersanjung~ Hmm, audisi photographer itu memang benar kok, jadi bukan akal-akalan~ Ehehehe.

hamikazu-shira: Uahhh~ udah nunggu ya? Maaf ya, berikutnya saya bakal berusaha supaya ngak lambat update~ Oh ya? Saya buat scene itu karena terinspirasi dari tante saya yang juga misuh-misuh sendiri kalau nonton sinetron loh~ Ternyata kita sama yah^^. Uchiha brothers itu jenius dan punya mata yang sangat tajam, makanya mereka bisa mengetahui jenis gender seseorang dengan mudah~ thanks 4 RnR ya.

chiisana yume: SasuNaruIta? Hmmmm, /smirk/ ide yang bagus~. Rate naik? Itu kemungkinan 1 banding 3, tunggu aja ye~ ^^

Seo Shin Young:Penyamaran Naru itu udah sempurna! Buktinya banyak orang yang mengatakan dia 'cantik', tapi ya emank Uchiha brothers itu yang jeniusnya gak ketolongan. Audisi Naru? /Tunjuk ke bawah/ baca ke bawah yah^^

uchiha cucHan clyne: Ehm, makasih pujiannya. CucHan pengen jadi author? Kenapa ga buat drabble yang singkat & fluff aja, selain drabble itu singkat dan tidak memakan banyak waktu membuatnya(saya baca bionya cucHan dan kayaknya memang waktu luang cucHan dikit) , drabble bisa dijadikan salam perkenalan. (Pertama kali aku menjejakan kaki di FFN, aku membuat drabble sebagai salam perkenalan _). Wuahahhaha... saya benar-benar suka ngebuat Naru-chan dikerjain abis-abisan! CucHan mengharapkan Kyu? Hmmm, kalo pengen tahu ada Kyuu ato ngak, baca aja yah^^, thanks for review.

laila. : Ehehehehe, benar sekali Laila-san, orang menyukai lelaki, matanya akan sangat tajam. Untuk pertanyaan laila-san, baca di bawah aja yah~ di bawah ada jawabannya, thanks for RnR.

MJ: Emankkk maniiisss!~ Maniiiisss banget! Hehehehe... iya, Uchiha brothers udah tahu kalau Akashi itu cowok, tapi Sasuke belum tahu kalau Akashi itu Blue Sapphiresky dan mengincar kamerannya. Hmmm, kayaknya banyak yang ngarep Kyuubi nih, thanks for RnR~ kekekekek...

Sytadict: Ya, Naruto memang sangat Dobe, masih bagus kaus kakinya yang baru aja dipake, itu kaus kakinya baunya busuk. Hehehe, Uchiha brothers(terutama Itachi) itu mesum, jadi dengan ngeliat aja dia bisa tahu ukuran bra orang. Huehehehe, thank for RnR yah~

ukkychan: Hahahaha, setiap saat Naruto memang selalu membawa dirinya dalam bahaya. Thanks for RnR, FB saya 'Ivana Jossica Katrin' tapi aku bukan orang yang suka main-main di jejaring sosial kok, jadi... kadang fb-ku sepi~ Hehehehe.

: Ini udah lanjut, lama gak updatenya? Thanks for RnR...

majiko harada: Eh, iya yah? Kuroko no Basuke? Saya gak pernah dengar, ceritanya rame gak? Ehehehe... Pendek? Chap 3 pendek yah? =.=, chap 3 itu jumlah wordnya mencapai 5k+ loh~ masa pendek?

Rin Miharu-uzu: Haaaiii sista~ makasih ya udah RnR, baca terus yah~

Ochiru Tsukiyomi: Makasih pujiannya, ini udah update, silahkan dibaca.

onyx sapphireSEA: Terima kasih, aku gak terlalu menuntut review kok, asal kamu baca dan senang sama fic aku juga gak apa-apa, makasih udah review ya, by the way... aku suka namamu~

Eviilian Niiu: Uchiha-nya yang sulit ditipu, mereka kan jenius tulen, penyamaran Naru udah sempurna kok. Makasih udah review. (ps: kameranya buat gue! =3)

Nagata Midori: Benarkah? Baguslah kalau begitu, aku pikir... Sasu akan menjadi OOC di fic ini, terima kasih atas pujiannya. Ini sudah update, dibaca ya^^

Kitsune no Sasunaru: Naruto itu Dobe, jadi gak sadar kalau dia dibegoin, dasar dobeee~ Ehehe, terima kasih atas reviewnya, baca terus ya.


Chapter 4: Kyuubi is back? Ouww DAMN!


DRAP DRAP DRAP!

Naruto berlari dengan cepat, tak dihiraukannya dadanya yang terasa sesak karena dia yang terus berlari kesana-kemari. Sungguh malang nasibnya kali ini, setelah bertanya ke berbagai orang agar bisa kembali ke ruang tunggu para peserta audisi, Naruto menyadari bahwa ruang tunggu itu telah kosong, jadi kemana para peserta audisi itu? Sekarang Naruto tengah mencari informasi.

BRAAKKK!

Naruto mengebrak meja tempat pendaftaran dengan keras, "MAAF, hosh..hoshh~ ke-kemana peserta-peserta audisi ini pergi?.. hosh..hosh..," Naruto berusaha untuk mengatur napasnya dahulu meskipun itu membuat kalimatnya jadi tidak beraturan.

Wanita yang sedang bertugas di meja itu pun mengangkat alisnya bingung, dan memberhentikan gerakan tangannya dari membereskan lembar-lembaran kertas pendaftaran itu sebentar, "Loh, bukankah mereka sudah dibimbing oleh panitia ke ruangan lain? Audisi sudah dimulai sejak 20 menit yang lalu."

"APAAAA!?"

"Su-sungguh, audisinya sudah dimulai, ka-kau salah satu orang yang mendaftar bukan? A-aku masih mengingatmu..." petugas yang ada di meja pendaftaran itu memegang dadanya takut. Tentu saja takut, tidak ada yang tidak takut jika melihat ekspressi Naruto sekarang, bola mata merah yang membesar, rambut yang acak-acakan, keringat bercucuran. Naruto benar-benar seperti hantu wanita dalam film horror.

"J-Jadi...hosh..hosh... di mana ruangannya, hosh..hosh...?!"

Dengan masih menampakan wajah ketakutannya, wanita itu menunjuk ke arah kanannya, "K-kau hanya tinggal lurus ke arah kanan, da-dan ruang audisinya adalah ruangan ke 15..."

"TERIIMAAA KAAASIIIHH!"

Wuuuuusshhhh~

Dengan kecepatan cahaya, Naruto segera melesat kembali, meninggalkan si petugas wanita yang masih dalam keadaan syok itu. Wanita itu kembali menoleh ke arah punggung Naruto yang masih telrihat berlari-lari ke arah yang dia tuju, dan akhirnya... dia kembali mengeleng-gelengkan kepalanya, "Ckckcckckck... dia wanita yang cantik tetapi urakan sekali~," gumam wanita itu.

.

.

.

Naruto berlari dengan sangat cepat, roknya yang mengembang dan sepatunya yang memiliki hak sekitar 5cm membuatnya sedikit kesulitan untuk berlari, jadi... dengan indahnya Naruto mencopot sepatu miliknya itu dan berlari dengan keadaan nyeker, alias tidak pakai sepatu. Kedua bola mata Naruto bergerak liar kesana-kemari, mencari-cari dimana ruangan nomor 15.

"Hosh...hosh... i-ini 11, i-ini 12~"

Naruto terus berlari sambil mengikuti nomor ruangan di sekitar lorong itu.

"Huah...hosh... no-nomor 13... yang ini..hosh...hosh 14.."

Hingga Naruto menemukan juga ruangan yang dicarinya.

"AH! INI DIA! RUANGAN KE-15!"

BRAAAAKKK!

.

.

"MAAFKAN SAYA! SAYA TERLAMBAT!" Naruto berteriak sekencang-kencangnya dan membungkukan badannya sedemikian rupa saat dirinya mulai masuk ke dalam ruangan bernomor 15 itu.

.

.

siiinnggg~

Keadaan ruangan itu hening, orang-orang yang ada di sana menatap cengo Naruto yang tiba-tiba saja memasuki ke dalam ruangan itu. Beberapa orang berbisik-bisik satu sama lain melihat penampilan urak-urakan Naruto. Betul saja, Naruto memang tampak jauh lebih berantakan dari sebelumnya.

Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah panggung kecil, Naruto tidak berani melihat ke arah panggung itu karena dia masih membungkukan badannya, dia hanya dapat melirik sedikit-sedikit para wanita yang menertawakannya dan melempar tatapan kebencian pada mereka.

"Tegakkan badanmu, nona Uzumaki!" suara yang berwibawa, dan sangat tegas terdengar. Membuat Naruto segera menegakan tubuhnya kembali. Hingga akhirnya ia melihat seorang wanita cantik yang sepertinya berumur 40-an tahun, dengan rambut berwarna kuning kejinggaan yang diikat dua ke bawah.

Naruto bengong, bengong karena melihat dada wanita itu. Dada yang dia kira-kira mungkin berdiameter 15 cm. Hei! Menurutnya dada itu terlalu besar untuk ukuran wanita berumur 40an tahun(Bahkan perkiraan umur itu bisa saja salah), lagipula, dada itu masih terlihat kencang, seharusnya, dada seorang wanita di umur 40 tahu itu sudah— "Sampai sebegitunya kah, kau iri dengan dadaku, nona Uzumaki? Hingga kau terlihat hampir meneteskan air liur?"

Naruto tersentak kaget! Wajahnya langsung memerah mendengar perkataan vulgar dari wanita bertampang angkuh di depannya ini. Gelak tawa terdengar membahana di ruangan itu, membuat Naruto semakin menciut dengan wajah yang juga semakin memerah, "G-gomen~," desisnya, sambil mengusap air liurnya yang sudah di ujung bibir.

Wanita yang diketahui bernama Tsunade itu melipat tangannya dan menatap Naruto tajam, "Baiklah, Nona Uzumaki, saya harap anda punya alasan yang cukup bagus tentang keterlambatan dan hilangnya anda?! Bukankah seluruh peserta sudah dianjurkan untuk terus menunggu di ruang tunggu?"

Naruto mengaruk kepalanya bingung, "E-errr~ a-aku tersesat saat mencari toilet~"

Wanita itu menaikan alisnya, "Mencari toilet? Bukankah di dalam ruang tunggu sudah disediakan toilet?"

GLEK!

Ea, Naruto memang tidak pandai berbohong.

"A-aku tidak melihat bahwa di dalam ruangan itu tidak ada toilet..." Naruto berusaha menghindari kontak mata dengan wanita di depannya itu, "Maafkan aku~, tidak akan kuulangi lagi," Naruto memasang tampang memelas andalan miliknya dengan sejadi-jadinya.

Wanita itu menghela napas, lalu melirik sebentar ke arah peserta lainnya yang sedang menonton mereka berdua dengan berbagai macam tatapan, dan kemudian ia melihat jam yang tersemat di pergelangan tangannya. 'Sudah cukup lama aku mempermalukan gadis di depanku ini, aku rasa sudah cukup' batin Tsunade sambil menyeringai kecil.

"Baiklah nona Uzumaki, untuk kali ini kau saya maafkan. Perlu kau ketahui nona Uzumaki. Dalam segala hal, keterlambatan adalah salah satu kesalahan terbesar dalam hidup, karena itu...janganlah terlambat, biasakanlah on time!"

Naruto menganguk lesu, rambut panjang violetnya bergoyang lembut.

"Sekarang, cari tempat dudukmu dan kita lanjutkan kegiatan kita, " setelah mengatakan hal itu pada Naruto, wanita itu berbalik dan menghadap ke arah seluruh peserta di sana, "INI JUGA TERMASUK PELAJARAN UNTUK KALIAN! JANGAN MENERTAWAKAN ORANG LAIN!" serunya, satu tangannya berada di pinggangnya, dan satu tangannya lagi menunjuk ke gerombolan-gerombolan wanita yang sejak tadi terus cekikian di bangkunya. Tsunade tahu bahwa mereka terus mengejek dan membicarakan Naruto(Akashi) dari sana.

Sedangkan Naruto, dia hanya tersenyum senang ketika orang-orang (yang belum dan tidak ingin dia ketahui namanya) itu dimarahi oleh Tsunade, 'Huh! Rasakan!' batinnya senang.

.

.

.

Setelah beberapa saat berjalan mencari kursi yang dapat dia duduki, dan mengacuhkan segala pandangan tak mengenakan yang diluncurkan padanya, Naruto akhirnya memilih sebuah kursi kecil di barisan paling belakang, persetan dengan resiko tidak dapat mendengar penjelasan panitia atau apa, tidak ada sedikitpun pikiran bahwa dirinya akan kalah, Naruto yakin dengan kemampuannya sebagai photographer professional! Dan dia tahu itu.

"Hei, kau... kau pikir bisa diterima dengan penampilan begitu?"

Naruto mengangkat kepalanya, menatap kesal pada seorang wanita yang tertawa di depannya, melihatnya seolah-olah dia adalah mahluk yang seharusnya tidak berada di Tuhan, apa yang salah dengan penampilannya? Dia hanya kurang(baca: sangat tidak) rapi saja kok.

"Tutup mulutmu, Bit*h! Di sini, orang menilai secara kemampuan memotret, bukan penampilan, kalau kau ingin dipilih secara penampilan, silahkan pergi ke rumah bordil terdekat," Naruto memberikan tatapan penuh kebenciannya kepada wanita itu, wanita dengan rambut hitam, kulit putih dan dada besar, yang Naruto yakin itu disumpal. Wanita itu tampak membelalakan matanya.

"Apa!?" desisnya, dengan wajah melotot siap menerkam Naruto kapan saja.

Naruto memutar bola matanya dan sekali lagi menyeringai, mata kemerahan dan rambut violetnya bergoyang mengikuti gesture kepalanya yang agak sedikit dia naikan, "Kau tak dengar? Kau tuli? Berapa hari kau tidak korek kuping? Aku bilang, 'Jika kau ingin dipilih secara penampilan, silahkan datang ke rumah bordil terdekat', Bit*h."

"KURANG AJAR KAU!" wanita itu berdiri dari duduknya, siap menyerang Naruto dengan kuku-kuku panjang ala nenek sihir yang dihiasi nail art bunga-bunga.

"NONA BERAMBUT HITAM YANG ADA DI SANA! SILAHKAN SEGERA KELUAR DARI RUANGAN INI SEKARANG!" Suara Tsunade yang menggelegar terdengar dari ujung ruangan sana, menunjuk tepat ke arah wanita yang hampir menyerang Naruto. Dan, Naruto hanya dapat tertawa dalam hati melihat gadis berambut hitam itu terlihat panik dan tidak terima.

"Ta-tapi... tapi..," wanita itu berusaha membela diri.

"KELUAR! Kau sudah mengintrupsiku menjelaskan tentang audisi ini, sekarang keluar dan ambil uang pendaftaranmu!" perintah wanita bernama Tsunade itu keras, hingga mengema ke seisi ruangan, dan membuat seluruh penghuni yang ada di dalam situ bergidik ketakutan. Gadis berambut hitam itu tertuduk, dan dengan langkah berat membawa dirinya keluar dari ruangan tersebut. Dikeluarkan sebelum beraksi? Menggelikan.

Naruto tersenyum penuh kemenangan, dan dia dapat melihat gadis berambut hitam itu menoleh dan menatapnya penuh dendam seolah mengatakan, 'akan kubalas kau nanti,' pada Naruto. Sebelum dirinya tertelan oleh pintu keluar.

"Dan, kau... nona Uzumaki, kau sedang dalam pengawasanku, sekali lagi kau membuat ulah, kau keluar dari audisi ini!" Tsunade menujuk Naruto tepat di depan mukanya, lalu berbalik dan berjalan dengan angkuh.

Naruto nyengir, dan menganguk mantap, meskipun dia tahu bahwa Tsunade pasti tidak akan melihat cengirannya yang menyebalkan itu, 'Terima kasih, Nyonya cerewet berdada besar..."


Iruka menenteng dua buah bungkusan belanjaan besar di tangannya dengan susah payah, langkahnya agak sedikit terseok-seok karena efek dari beban di kedua lengannya. Sesaat, Iruka mengeluh dan mengumpat, kenapa dia tidak membawa mobil saja tadi? Bodohnya dia yang melupakan mobilnya, padahal mobil itu sedang ngangur di garasi. Sekarang, lihat dia! kepanasan akibat terik matahari dan kelelahan karena mengangkut barang belanjaannya.

Beberapa saat setelah berjalan, Iruka tersandung batu dan terjatuh, membuat seluruh isi belanjaannya tumpah berhamburan ke jalan raya. "Ouh... shit~" Iruka mengumpat pelan. Demi apa, dirinya dapat se-sial ini?

Akhirnya, setelah beberapa saat menenangkan dirinya, Iruka berusaha bangkit dan membersihkan bajunya dari kotoran yang menempel, lalu mengumpulkan berbagai macam belanjaan miliknya yang tersebar di jalanan. Bingung deh, dari sekian banyak orang yang lewat di jalan itu? Kenapa tak ada satu pun orang yang membantunya? Dunia ini memang sudah gila.

"Sudah terkumpul semua?" Iruka celingak-celinguk memastikan apakah masih ada barangnya yang tercecer di tanah, dan dari hasil penyelidikannya: sepertinya sudah tidak ada lagi yang tercecer. Iruka mengangkat kedua bahunya, "Ya sudahlah, ayo segera kembali ke apartemen~"

"Maaf, ada belanjaanmu yang tertinggal."

Iruka menghentikan langkah kakinya sesaat dan melihat seorang pemuda bermasker yang mengacungkan suatu benda di tangannya, Iruka terdiam beberapa saat, matanya agak sedikit membulat saat melihat pemuda di depannya itu. Demi apapun! Rambut keperakan yang tertiup oleh angin dan berkibar-kibar layaknya bendera itu terlihat begitu indah. Begitu menarik! Iruka sampai terkagum-kagum dibuatnya.

"Ehm, ini," pemuda itu maju beberapa langkah, "Kerupukmu tertinggal."

"Ah, iya..," dengan tampang malu-malu, Iruka menerima benda yang rupanya adalah kerupuk itu dari tangan Kakashi, "Terima kasih."

Pemuda tersebut tersenyum dari balik maskernya, dan menundukan kepalannya. Sesaat, Iruka merasa tubuhnya serasa menguap. Entahlah, dia tidak yakin... padahal dia tidak benar-benar melihat senyum itu karena wajahnya yang tertutupi masker.

"Aku pergi dulu," dan akhirnya pria itupun pergi, meninggalkan Iruka yang masih berdiri dan membatu, dengan mata yang tak lepas dari punggungnya.

.

.

Deg...deg...deg...

Iruka memegang dadanya, dan sadar bahwa jantungnya perlahan berdetak dengan semakin cepat, masih dengan kerupuk yang baru saja dia terima dari pria itu.

'Kerupuk pembawa berkah,' batin Iruka, masih mencoba menenangkan detak jantungnya, 'Pasti akan muncul jerawat cinta di wajahku sebentar lagi," ujarnya lagi, kali ini sambil menyentuh-nyentuh kulit wajahnya yang terlihat sedikit rona kemerahan.

"Semoga bertemu dengannya lagi,"

Tak selang beberapa lama, Iruka melihat kembali sebungkus kerupuk di tangannya itu, dengan raut wajah yang bingung, "Tunggu," Iruka melirik kantung belanjaannya, "Sejak kapan aku beli kerupuk?"

.

.

.

Sementara itu, di tempat lain...

"Di...di mana ?" Seorang bapak yang kira-kira berumur setengah abad, dengan panik mencari-cari di sekitar jalan yang di lalui, di tangannya terpegang sebuah plastik yang tidak terlalu besar, tapi berasal dari supermarket yang sama dengan Iruka.

Bapak itu, berambut hitam dengan sedikit helaian putih—uban yang menghiasi, kulit yang berwarna sawo matang dengan kerutan-kerutan itu membuat dirinya terlihat tampak lebih tua, hidungnya mancung kedalam dan perutnya buncit, intinya... wajahnya benar-benar khas orang wilayah timur deh. Bapak itu, terus mengaruk-garukan kepalanya bingung. Matanya masih dengan setia bergerak-gerak liar

"Loh...loh, mane kerupuk aye ye? Hilang kemane? Padahal kan kalau makan kagak pakee kerupuk, kagak maknyus! Mane di sini harge kerupuk mahal~"

/Poor bapak /


Tsunade, selaku ketua panitia dari audisi itu membicara dengan amat keras dan lantang di panggung depan, seraya membacakan beberapa hal mengenai ketentuan, seperti:

1. Terus ada di sisi Sasuke selama kegiatannya berlangsung.

2. Ikut dalam berbagai macam perjalanan syuting ke satu tempat ke tempat lainnya.

3. Memotret Sasuke kapanpun dan di manapun. (Kecuali saat mandi, berganti pakaian, dan hal-hal privasi lainnya.)

4. Proses pemotretan berlangsung selama 4 bulan.

Mendengar kabar itu, seluruh orang yang ada dalam ruangan itu( yang kebayakannya adalah fans Sasuke), mendesah gembira dan takjub, terkecuali Naruto yang memucat di barisan paling belakang, dengan rahang yang jatuh dan mulut yang terbuka lebar.

'4 bulan bersama Sasuke! DAMN, mimpi buruk macam apa itu!?' batin Naruto putus asa. Naruto tentu saja dia tidak mau berpenampilan wanita terus selama 4 bulan! Bisa-bisa setelah empat bulan dia akan jadi cowok melambai. Ingat! Cowok melambai, beda dengan cowok gay! Jadi, apa yang harus Naruto lakukan? Memenangkan audisi ini, lalu mengendap-endap dan mengambil kamera dan foto bugil Sasuke, setelah itu segera kabur meninggalkan pekerjaan ini, membuang segala hal yang berhubungan dengan Uzumaki Akashi, dan hidup tenang dengan nama Namikaze Naruto. NICE IDEA!

Ya, begitulah, hal itulah yang udah direncanakan oleh Namikaze secara matang sejak tadi. Benar-benar licik, tingkahnya benar-benar tidak seperti seorang professional. Naruto mengosok-gosokan kedua telapak tangannya dengan senang. 'Ini rencana yang benar-benar sempurna..,' pikirnya. Naruto menyeringai dengan gigi-gigi putihnya yang berkilauan, membuat orang yang ada di barisan depan yang melihatnya bersweatdrop ria.

"Baik! Tahap audisi pertama adalah tes kemampuan!" Tsunade berkata dengan lantang dari atas panggung kecil itu, semua mata tertuju padanya, dan memperhatikan dengan serius, "Kalian harus memotret, objek yang telah kami tetapkan, yaitu: sekumpulan rusa liar yang ada di kebun binatang yang tak jauh dari sini, dengan memakai alat..," Tsunade mengantung kata-katanya dan memasukan telapak tangannya ke dalam saku miliknya mengambil sesuatu.

Seluruh peserta yang ada di ruangan itu menunggu dengan tegang, tak terkecuali Naruto. Mereka menunggu apakah yang akan dikeluarkan oleh Tsunade dari dalam sakunya, dan...

"INI!" Tsunade mengacungkan sebuah telepon gengam yang memiliki kamera 2 megapixel, melihat hal itu, desah dan riuh kecewa terdengar memenuhi ruangan bernomor 15 itu. Beberapanya mengumpat karena sudah capek-capek membawa kamera lensa tunggal yang biasanya dipakai oleh para professional, bahkan... ada peserta yang sudah membawa sebungkus besar kumpulan foto-foto yang telah diambilnya untuk diperlihatkan kepada panitia bahwa dia layak.

DAMN! Mengambil gambar kumpulan rusa liar yang senang berlarian kesana kemari hanya dengan kamera 2 megapixel adalah perkara yang sulit, jika kau tidak memiliki skill sama sekali dalam memotret, gambar yang kau ambil mungkin akan terlihat kabur hasilnya.

"Dan 1 hal lagi!" kembali, suara Tsunade memecah segala rintih keluhan dari para peserta, mata tajam milik wanita berumur sekitar 40 tahun itu mengedar ke segala arah. Tsunade adalah rorang yang mengerikan, tak ada yang boleh mengintrupsi ucapannya, semua tahu itu. "Kalian, hanya mempunyai 2 kali kesempatan dalam memotret!"

"APA!?"

Naruto tersenyum dari tempat duduknya, matanya yang tertutupi softlens berwarna kemerahan tampak berkilat-kilat dengan semangat, cengirannya terlukis di wajah imut miliknya. "Menarik~," gumamnya pelan. "Tak pernah aku merasa sesemangat ini, sejak ekspedisi mengambil gambar orangutan di wilayah Kalimantan~"

Dan, dari ataas panggung sana, Tsunade kembali berteriak serta mengepalkan tangannya ke atas, seraya berteriak dengan keras-keras, "AUDISI TAHAP PERTAMA, DIIMUULAAAIII!"

Dan, saat itu tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa Tsunade berumur lebih dari 50(dengan penampilan fisik 40 tahun) tahun, karena kelantangan suaranya yang luar biasa.

Tak. Ada. Yang. Pernah. Menyangka.


1 Month ago, Oxford University, Student's apartement, 09. 15 AM. (1 bulan yang lalu, Universitas Oxford, apartemen mahasiswa, 09. 15 pagi.)

.

.

.

Tik...tik...tik...tik...tik...

Suara ketika-ketikan pada keyboard terdengar memenuhi ruangan salah satu apartemen yang disediakan oleh universitas paling terkenal di Inggris, Universitas Oxford. Ketikan yang berasal dari sebuah laptop yang tampaknya sudah tidak dimatikan selama 5 hari belakangan, sungguh malang nasib laptop itu, siapakah gerangan yang memakainya begitu kejam?

Ah, yah... tentu saja orang kejam itu adalah Sang pemilik yang sekarang tengah ada di balik laptop dan mengetiknya dengan kecepatan luar biasa.

"Hoooaahmmmm~" suara lolongan— maksudnya suara menguap yang sangat panjang terdengar, diikuti dengan suara badan yang direbahkan ke sofa. "Huaahhh~, aakuuu caapeek~" erang seorang pemuda yang tengah mengistirahatkan dirinya. Pemuda itu, dari raut mukanya yang terlihat kecapekan dengan mata yang memerah plus lingkaran hitam di bawahnya, tak lupa juga rambut berwarna orange kemerahan yang terlihat kusut dan acak-acakan, terlebih lagi sampah, nampak sekali bahwa dia sudah beberapa hari ini berkerja tanpa istirahat.

Pemuda itu menghela napas dan melihat program word di depannya, melihat untaian-untaian kata yang dapat membuat mata keriting bila kau sama sekali tidak mengerti apa arti dari tulisan itu. Ya, pemuda di depan kita sedang mengerjakan tugas-tugasnya yang dapat membuat siapapun mengelus dada karena jumlah dan tingkat kesulitannya.

Pemuda berambut orange kemerahan dengan mata kucing yang berkilat, terlihat menyamankan dirinya di atas sofa yang telah dia tiduri itu. Dia hanya butuh tidur sebentar, dan setelah itu melanjutkan lagi mengetik tugas-tugasnya. Namikaze Kyuubi adalah nama dari pemuda ini, beberapa dari kalian tentu tahu siapa dia? Dia adalah kakak dari pemeran sentral kita, Namikaze Naruto. Kyuubi adalah anak pertama dan sekarang tengah mengejar gelar masternya di jurusan bisnis Universitas Oxford.

"Mmmhh~ Kyuubi~, take a nap for a few hours, and you'll do your assignment then~"/"(Mmmhh~ Kyuubi, istirahat sebentar untuk beberapa jam, dan kau akan kembali mengerjakan tugasmu~)" ujar pemuda yang sudah hampir terlelap di sofanya itu, dia benar-benar lelah sekarang, ia butuh tidur dan melupakan semua tugas-tugasnya yang menumpuk.

"Good Night, Kyuubi~" ujarnya memberi salam pada dirinya sendiri. Bodohnya dia, padahal saat itu jam menunjukan pukul 9 pagi, tapi... karena gorden dan jendela yang sama sekali tidak dibuka, maka Kyuubi malah mengira saat itu adalah jam 9 malam. Yah, biarkan saja dirinya tertidur sejenak untuk mengisi tenaganya, Kyuubi memang butuh itu setelah 5 hari hanya tidur untuk 2-3 jam per hari.

BRAAAKKK!

"Hi Kyuubi! I'm never seen you for a few days ago, where are you? I miss you sooo muuchh~ Let's go ou— Hey! Why are you look at me like that?!"/"(Hai Kyuubi! Aku tidak pernah melihatmu selama beberapa hari ini, kemana kau? Aku benar-benar merindukanmu, ayo kita pergi ke— Hey! Kenapa kau melihatku seperti itu?!)" Sebuah gebrakan pintu yang diikuti suara cempreng dan melengking terpaksa menyeret Kyuubi kembali dari alam bawah sadarnya(Yang baru saja dia datangi dalam beberapa detik), membuat Kyuubi kesal luar biasa dan melempar tatapan pembunuh pada pemilik suara itu (siapapun orangnya!)

Dan di depannya sekarang sudah berdiri seorang wanita, dengan memakai kaus 'you can see' dan short pants yang membuatnya terlihat sexy. Wanita itu tersenyum manis pada Kyuubi, berbeda dengan Kyuubi yang malah melayangkan tatapan kekesalan pada gadis itu.

"Sorry Airin, I'm busy now. I can' t,"/"(Maaf Airin, aku sibuk sekarang, aku tidak bisa,)" jawab Kyuubi datar, seraya turun dari sofa dan kembali membuka program word dalam laptopnya. Moodnya utnuk tidur telah hilang karena gadis sialan(menurut Kyuubi) ini.

Wanita itu menyentakan kedua kakinya dengan kesal, lalu sengaja mempoutkan bibirnya hingga maju beberapa centimeter, Kyuubi mengedikan bahunya ngeri, "Ouwh... Come on, Kyuubi, I'm your girlfriend!"/"(Ouwh... ayolah Kyuubi, aku pacarmu!)", wanita itu mendekat ke arah Kyuubi dan bergelayut manja di lengannya.

"No!" Kyuubi menyentakan tangan si wanita dengan kasar, hingga membuat pelukannya terlepas, wanita itu mengeryitkan dahinya, dan berkacak pinggang, sekali lagi mempoutkan bibirnya. Sok ngambekan.

Kyuubi melirik wanita itu dari ekor matanya. Demi paus yang beranak kuda laut! Dia sudah cukup dibebankan dengan tugas-tugasnya, kenapa wanita kurang ajar ini malah datang? Terlebih lagi, memaksanya untuk menemaninya pergi ke mall dan membawakan barang belanjaannya? Great! "Don't put a face like that, Airin! You make me want to vomit!"/ "(Jangan memasang wajah seperti itu Airin! Kau membuatku ingin muntah)"

Airin berdiri, dengan wajah luar biasa kesal, dia benar-benar tidak terima dilecehkan oleh Kyuubi, dengan segala kemarahannya... Airin menunjuk tepat di depan wajah Kyuubi, "Y-you bastard, we're BREAK UP!"/ "(K-kau brengsek, kita PUTUS!)" ujarnya kesal, bermaksud mengertak Kyuubi, tidak benar-benar serius dari dalam hati.

Kyuubi menyeringai, wajahnya mejadi sedikit cerah, "I'm glad you say that~ bye-bye, and... get out from my apartement!"/ "(Aku senang kau mengatakan itu~ bye-bye, dan keluar dari apartemenku!)" seru Kyuubi amat keras sambil menunjuk pintu depan apartemennya, rahang Kyuubi mengeras karena menahan marah akan wanita kurang ajar itu.

"B-But, Kyuu—"/"(Ta-tapi, Kyuu—)"

"GET OUT!"/"(KELUAR!)" Kyuubi berteriak dengan amat sangat keras, membuat wanita yang baru saja memutuskan hubungan dengannya beberapa saat lalu, bergetar ketakutan. Wanita itu menundukan kepalanya dan berjalan dengan terseok-seok, hatinya hancur remuk seketika karena sikap Kyuubi padanya. Padahal dia tidak serius memutuskan hubungan dengan Kyuubi.

"You're bastard~" umpatnya kecil, sebelum tubuh sexynya tertelan oleh pintu apartemen yang dibanting dengan keras.

.

.

.

Menyadari gadis itu telah pergi, Kyuubi tmenyeringai lebar dan kembali merebahkan tubuhnya di sofa, dengan memakai bahasa ibunya, bahasa Jepang. Dia kembali berkata dengan semangat, "Huahhh~ satu masalah terselesaikan, sekarang aku bisa tid—"

BRAKKK!

"KYUUBI! I met Airin at outside a few minutes ago, and she was cried. When I ask her, she told me, she was broke up with you, is that true?"/ "(KYUUBI, aku bertemu Airin di luar beberapa menit lalu, dan dia menanggis. Saat aku bertanya, dia bilang, dia putus denganmu, apa itu benar?)"

Twitch~

Kyuubi menatap pemuda yang ada di depannya dengan wajah yang tak dapat dijabarkan, kekesalannya meledak berkali-kali lipat sejak wanita centil bernama Airin itu mengangu waktu tidurnya yang berharga, ditambah dengan seorang pemuda bernama Rain di depannya ini, yang Kyuubi tahu bahwa dia adalah lelaki yang menyukai sesama jenis. Guy? Amazing!

"YES, so...get out from my apartement now, or I'll kick your ass,"/"(Ya, jadi...keluar dari apartemenku sekarang atau aku akan menendang pantatmu,)" ujar Kyuubi selembut mungkin, tidak ingin terlalu memperlihatkan kemarahannya dengan cara teriak-teriak. Tidak bagus untuk jantung.

Tapi sepertinya, pemuda di depannya ini memang tidak sayang nyawa, "Ahhhh~ I'm so glad you were broke up with her, Kyuu~! I've been wait sooo looong for this moment~ and finally, she is break up with you. Ah.. Kyuubi, I lovee youu~"/ "(Ahhh~ aku sangat senang kau putus dengan wanita itu, Kyuu~! Aku sudah menunggu lama untuk saat ini~ dan akhirnya dia putus juga denganmu! Ahh Kyuubi~ aku mencintaimuu~)"

"What?"Kyuubi mengeser tubuhnya pelan ketika pemuda bernama Rain itu mendekatkan ke arahnya dengan tatapan yang patut diwaspadai, terlebih lagi ketika mendengar kata-kata yang baru saja dia katakan barusan, "What are you talking about?"

Pemuda bernama Rain itu menunduk dan merangkak ke arah Kyuubi, khas badass uke yang tengah menggoda semenya, "I say 'I love you', Kyuubi~ Please, be my seme, I want to be your uke~" / "(Aku bilang 'aku mencintaimu' Kyuubi,~ komohon jadilah semeku, aku ingin menjadi ukemu~"

Kyuubi membelalakan matanya, merinding, bibirnya kelu, tetapi... sifat pemarahnya sudah mendominasi sekarang, habislah sudah kesabaran Kyuubi "GET OUT RAIN! I HATE YOU AND I'M NORMAL! ARE YOU WANT TO DIE!? ARE YOU WANT ME TO KICK YOUR ASS?! ARE YOU WANT ME TO DO THAT'S ALL WITH YOU, HUH?"/ "(KELUAR RAIN! AKU MEMBENCIMU DAN AKU NORMAL! APA KAU INGIN MATI? KAU INGIN AKU MENENDANG PANTATMU? KAU INGIN AKU MELAKUKAN SEMUA ITU PADAMU, HAH?)"Kyuubi berseru dengan amat keras, setelah berkata demikian, dada Kyuubi naik turun mencoba mengatur napasnya.

"I've died because of you, Kyuu. And please dont kick my ass, I can give my ass if you want~"/ "(Aku sudah gila karenamu Kyuu. Dan jangan tendang pantatku, aku bisa memberikan pantatku jika kau ingin~,)" balas pemuda bernama Rain itu, semakin menggila.

"GET OUT!"/ "(KELUAR!)"

BUAKKK!

Kali ini, Kyuubi benar-benar menendang pantat pemuda bernama Rain itu, membuatnya mengaduh kesakitan dan berlarian ke arah pintu depan apartemen Kyuubi. "Ahhh~ Kyuubi, you're sooo cruueell~"/ "(Ahhh~ Kyuubi, kau jahat sekaliii~~,)" tetapi pemuda itu masih sempat mendesah manja.

"Grrrhhh~" Kyuubi mengeram menahan amarahnya, lalu segera menutup pintu apartemennya dengan beringas, tidak peduli mungkin saja hidung mancung milik Rain akan terkena gebrakan pintu itu—BRAAAKK! —that's great! Demi Ikan paus yang beranak kuda laut! Kyuubi merasa tekanan darahnya tengah naik drastis dan siap memecahkan pembuluh darahnya.

Dengan langkah cepat, Kyuubi segera menuju dapur dan membuka lemari pendingin, mengeluarkan sebuah susu dan meminumnya dengan amat cepat, sehingga beberapa cairan yang tidak dapat Kyuubi minum mengalir melewati leher putih jenjangnya. Lumayan, sensasi dinginnya mampu membuat Kyuubi merasa tenang untuk sesaat.

Kyuubi mengengam erat kotok susu di depannya itu, wajahnya nampak serius seperti ada hal berat yang telah dia pikirkan, setelah beberapa saat kemudian, Kyuubi menghela napas yang amat panjang. Untuk beberapa detik, raut wajah Kyuubi, terlihat sedih, "Cih... aku sudah jera!"

.

.

.

.

Cklik...cklik...

Kyuubi mengunci apartementnya dengan teliti, tak lupa juga sebuah rantai ganda yang menahan pintunya, Kyuubi sudah tidak mau lagi ada orang yang mengangu tidurnya. Sekarang dia benar-benar kelelahan dan butuh tidur, biarpun itu hanya 1 jam.

"Huh, akhirnya~" Kyuubi kembali meregangkan otot-ototnya, berjalan ke arah kamarnya untuk benar-benar pergi tidur, "Sudah tidak akan ada lagi yang dapat menganguku, aku dapat tidur dengan nyenyak seka—"

Triririiririttt~ suara dari ponsel Kyuubi yang menandakan panggilan masuk, mengintrupsi ucapan Kyuubi, kedutan samar terlihat di dahi pemuda berambut merah itu. Seraya mengumpat, Kyuubi tetap menjaga tata krama untuk mengangkat panggilan tersebut. Tapi, perasaannya menjadi sedikit tidak enak ketika dirinya melihat siapa yang memanggil dirinya. Ya, dosennya.

"Hello, Sir?" sambut Kyuubi sebisa mungkin dengan lembut, meskipun wajahnya seperti sudah 80% berubah jadi iblis yang siap menyantap siapapun menjadi salad.

[Ehmmm, Kyuubi, I just want to tell you, that I change the themes for your assignment, so you must to repeat—]/ [(Ehmmm, Kyuubi, aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku mengubah tema untuk tugas kalian, jadi, kau harus mengulangi—]

"YOU ARE THE BASTARD STUPID FUCKING TEACHER! GO TO HELL NOW! —I SWEAR I 'LL BURN YOUR HOUSE IF YOU—"

Tuuuttt...tuuuuuttt...tuttttt~

"GAHHHH!"

Sebelum Kyuubi mengeluarkan kembali kata-kata penuh umpatan yang dia tahu, rupa-rupanya dosennya yang menyebalkan itu sudah menutup panggilan itu duluan. Mungkin, tak ingin mencari masalah dengan mahasiswa semi-psikopat macam Kyuubi. Bayangkan! Mahasiswa mana yang tidak marah ketika tugas yang telah diketik selama 5 hari, akhirnya terbuang sia-sia hanya karena pengubahan tema! Itu adalah hal paling DAMN yang pernah Kyuubi tahu selama dia menjejakan kakinya di bangku kuliah.

Kyuubi menaruh ponsel miliknya dengan kasar di atas meja, darahnya serasa mendidih dan siap memecahkan kepalanya. Dia benar-benar mengantuk, kelelahan, capek, dan mengapa masalah tak berhenti mendatangi dirinya? Sekarang masalah apa lagi yang akan datang?

Akhirnya, dengan segala kemarahan dan emosi yang meluap-luap, Kyuubi bergegas mengambil ponselnya kembali dan menghubungi sebuah nomor.

"Ayo cepat angkaaat~, stupid!" Kyuubi mengatuk-ngatuk kakinya di lantai apartemennya seraya menunggu. Hingga akhirnya, panggilannya diangkat juga.

[Moshi-moshi? Ada apa, Kyuubi-chan? Kau kangen dengan ayahmu ini,] ucap suara diseberang, disertai juga dengan nada riang.

"Dalam mimpimu Minato. Ada yang ingin kukatakan padamu!" jawab Kyuubi sekenanya, tak sadar bahwa lawan bicaranya sekarang adalah ayahnya sendiri, dia memang benar-benar tidak sopan.

Kyuubi dapat mendengar kekehan kecil di sana, [Huhuhu, jangan memanggil ayahmu dengan nama, Kyuubi. Itu tidak sopan. Aku akan memotong warisanmu 100.000 Yen dan memberikannya pada Naruto, setiap kali kau memanggilku begitu.]

'Brengsek kau, Minato!' umpat Kyuubi kesal dalam hati.

[Ahhh~ lalu apa yang ingin kau katakan, Kyuu-chan?]

"Tou san, aku ingi keluar dari Oxford dan melanjutkan kuliahku di Universitas Tokyo.

[APA!?] Kyuubi mengerutkan keningnya saat terdengar suara barang-barang yang pecah dan jatuh dari seberang jaringan sana. Apa Tou-san sekaget itu? pikir Kyuubi. Dengan bodohnya, karena seharusnya dia sudah tahu jawabannya. [Ta-ta-ta-tapiii kenapaaaa?!]

Kyuubi mengangkat kedua bahunya, "Tidak apa-apa, hanya banyak masalah disini,"

[Tapi—]

"Tou-san! Ini keputusanku! Jika kau tidak ingin memindahkanku, aku bersumpah akan pergi, kabur, dan tak akan mau meneruskan perusahaan kita! Kau tahu kan, Naruto itu tidak bisa diharap!"

Hening sejenak, tampaknya Minato sedang berpikir keras di seberang jaringan sana.

[Ta—]

"Tidak ada, tapi-tapian, Tou-san! Aku akan pindah ke jurusan bisnis di Universitas Tokyu, dan kau tahu keputusanku tidak dapat dibantah! TITIK!"

Tuuutt~ Tuuuutt~ Tuuuutt~

Kyuubi memutuskan sambungan secara sepihak, an bergegas mematikan ponselnya. Dia melempar posel itu ke sembarang tempat sambil tersenyum ceria, seceria iblis yang sudah mendapatkan seorang mangsa.

"Baik...baik... sekarang waktunya tidur~ Selamat malam, Kyuubi~"


Bruuukkkhh~

Naruto merebahkan tubuhnya ke atas sofa berlengan panjangannya, sekedar untuk mengistirahatkan badannya yang kelelahan. Seraya memutar-mutar sendi lehernya, Naruto melepas wig panjang berwarna violet yang dia pakai, memperlihatkan rambut jabrik kekuningan yang basah oleh keringat.

"Tak kusangka, audisi seperti ini akan melelahkan sekali," Naruto melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 09.00 malam, "Wanita bernama Tsunade itu benar-benar cerewet dan membuat banyak peserta kewalahan," keluhnya.

Naruto beranjak dari sofa yang ditidurinya, dan mulai melepas simpul-simpul korset yang terikat kuat di pinggangnya, lalu membuka restleting di gaun gothic lolinya. Dia juga mulai melepas softlens kemerahan yang dipakainya dan memperlihatan lagi kepada dunia: dua buah iris berwarna biru yang menawan, hingga akhirnya... tatapan Naruto jatuh kembali ke arah laptop orangenya.

"Ayo kita lihat, apakah Onyx Nightsky membalas pesanku," ujar Naruto, mendekat ke arah laptop itu dan membuka browsernya. Hingga, setelah Naruto membuak kotak pesannya, Naruto sadar bahwa Onyx Nightsky itu telah menjawab pesannya. Naruto menyeringai, "Bagus~..."

Onyx Nightsky: He-eh, jangan banyak bicara, Dobe. Sekarang bagaimana? Kau sudah mendapatkan foto itu? Kau belum mengirimnya juga sampai sekarang. Apa jangan-jangan hanya omongmu saja yang besar?

"Grrrhh~ orang ini selalu bisa membuat kesal!" Naruto mengertakan giginya, seraya mengetik di atas keyboard dengan amat lugas. Naruto agak bersyukur orang itu sedang tidak online sekarang.

Blue Sapphiresky: Oooohh! Aku bukan orang yang hanya bermulut besar, Teme! Tapi, ketika aku sedang ingin mengambil gambar itu, ternyata aku mempunyai urusannya yang tidak dapat kutinggalkan, jadi... aku terpaksa menunda dulu mengambil gambar bugil Uchiha Sasuke! Kau paham!? Kau harus ingat, aku tidak pernah menarik kata-kataku!

Naruto mengaruk-garukan kepalanya saat melihat balasannya sendiri, "Kok aku seperti orang pengecut ya?" gumamnya kecewa. Lalu pikirannya kembali melayang ke saat dia mencoba mengambil foto Uchiha Sasuke. Saat di mana dia dapat melihat tubuh polos Uchiha Sasuke( meskipun tak dapat mengabadikannya dalam foto). Juga ketika Uchiha itu menjorokannya ke dinding dan menghirup wangi tubuhnya, Naruto bisa merasakan darahnya berdesir tak karuan tatkala indra perasa miliknya merasaka deru napas Uchiha itu dengan amat jelas. Terasa begitu hangat, menengangkan dan—

"Naruto sadarlah!" —Buk! — Naruto mengeplak kepalanya sendiri dengan amat keras, hingga ia sedikit merasakan sakit di kepalanya. Terkadang dia bingung kenapa akhir-akhir ini dia bisa berpikir yang aneh-aneh. Dengan segera, Naruto berdiri dengan maksud mengambil air minum. Entah kenapa dia jadi haus sekali sekarang.

Brukk!

Entah karena terlalu terburu-buru atau apa, hingga Naruto bisa tersandung sesuatu dan tersungkur di lantainya, dengan posisi tertelungkup dan wajah mencium lantai, "DAMN! Siapa yang menaruh koper-koper di sini! — eh? Koper? Koper siapa?"

Naruto melihat dengan bingung tumpukan koper-koper berukuran besar yang ada di kamarnya, perasaaan dia tidak pernah mempunyai koper-koper sebanyak itu deh, siapakah gerangan orang yang berani menaruh koper sembarangan di kamarnya? Kurang ajar.

Dengan rasa penasaran tingkat tinggi, Naruto pun mendekati koper itu dan membukanya, persetan dengan anggapan tidak sopan karena membuka koper sembarangan. Lebih tidak sopan yang mana? Menaruh koper sembarangan di kamar orang tanpa ijin, atau membuka koper seseorang agar mengetahui siapa pemilik koper tersebut? Petugas bandara saja sering melakukannya.

"I-i-ini kaan~" Naruto membulatkan matanya ketika melihat tumpukan pakaian-pakaian yang dia temukan di dalam koper itu. Ya! Naruto kenal baju-baju yang ada di dalam koper-koper itu, bahkan... Naruto pun mendekatkan pakaian-pakaian itu ke hidungnya, Benar sekali! Naruto bahkan juga amat sangat mengenali bau yang melekat pada pakian itu, "I-Ini kan baju Kyuu-nii~"

Tap..tap...tap...

Naruto menoleh panik ke arah pintu kamarnya, saat telinganya merasa mendengar suara langkha kaki yang melekat. Dan Naruto betapa kagetnya lagi Naruto, saat sadar dia masih memakai baju wanita bergaya gothic loli itu. Owww, great!

"Si-siapa!?" Naruto melepas pakaian itu dengan tergesa-gesa, dan melemparnya ke sembarangan arah, alhasil... sekarang dia hanya memakai boxer.

Cklek~ pintu terbuka dan menampilkan sosok Kyuubi yang hanya memakai sehelai handuk yang dilingkarkan di pinggangnya, titk-titik air tampak jatuh melewati rambut kemerahan Kyuubi—tampaknya Kyuubi baru saja selesai membasuh badan. Kyuubi tampak agak sedikit terkejut juga melihat adiknya, tengah berdiri cengo di depannya, "Ohh, kau sudah pulang, Naruto?"

Naruto membatu di depan kakaknya, masih shock. Bukan kah Kyuubi harusnya sedang berada di London? Di Universitas Oxford? Dan bukankah ini sedang bukan masa liburan? "K-Kyuu-nii? Ke-kenapa Kyuu-nii bisa ada di sini?"

"Oh, " Kyuubi merjalan mendekat ke arah koper-kopernya yang sudah terbuka, "Aku keluar dari Oxford, aku akan melanjutkan kuliahku di Universitas Tokyo saja,"

"HAH?!"

Kyuubi berdecak kesal, "Cih, jangan bertingkah seperti itu, aku sudah bosan melihatnya dari Tou-san! Santai saja Naruto,"

"Ta-tapi kenapa?" Naruto bertanya dengan terbata-bata. Bagaimanapun, kualitas pendidikan di Oxford jelas lebih bagus daripada Universitas Tokyo? Kenapa kakaknya malah memilih untuk kembali ke sini? Apakah otak kakaknya tidak sanggup pelajaran di sana? Tidak mungkin! Kyuubi berbeda dengan Naruto, Kyuubi itu termasuk anak yang pintar, bahkan jenius! Pendidikan master di Oxford mungkin bukan masalah besar untuknya.

Kyuubi mengangkat kedua bahunya, "Ada banyak masalah di sana! Dosen di sana amat menyebalkan, teman apartemenku freak, dan mantan pacarku benar-benar cerewet dan sok, aku lelah di sana!" ujarnya datar, seraya memasang selembar kaus oblong di tubuhnya.

"Ja-jadi?"

Kyuubi mengangkat alisnya bingung saat mendengar pertanyaan Naruto, " 'Jadi?' Kenapa kau tanyakan? Tentu saja aku akan tinggal di apartemenmu ini. Aku malas tinggal di rumah Tou-san, di sana sepi, " Kyuubi tertawa menyeringai pada Naruto, "Lebih baik aku bersamamu, Naru-chan, jadi... aku bisa mengerjaimu sepuasku, hehe."

"T-TIDDAAAAKKK!"

.

.

.

.

To Be Continued...


Hai, Minna~ Kita ketemu lagi, ehhehehehe, bagaimana? Saya tidak terlalu terlambat kan? Saya update pas 1 minggu kan? Ehehehehe, trims yang udah baca sampai sini yah Minna, saya sengaja tidak memasukan Uchiha bersaudara di salam chapter ini, tapi di chapter depan mereka pasti ada kok. Trus, untuk kalimat bahasa Inggis yang ada di atas, kalau ada kesalahan grammar atau apapun itu, tolong dimaafkan ya, saya pengen pakai kalimat bahasa Inggris supaya feel luar negerinya itu dapat. Dan saya tertelan dilema tentang jenis tense apa yang harus dipakai, so... kalau ada kesalahan (grammar ataupun tense), saya amat memohon untuk pemberitahuannya. Sekarang saya minta reviewnya oke?


Omake

"Naruto, sudah waktunya makan~" suara lembut paman Iruka mengintrupsi pembicaraan antara Kyuubi dan Naruto, dan kedua bersaudara itu pun menoleh ke arah Iruka dengan mata berbinar.

"Horee~" seru mereka serempak dengan gembira, siapapun tahu kalau masakan paman Iruka adalah masakan paling enak di dunia.

Iruka tersenyum, melihat reaksi kedua keponakan (beneran keponakan loh! Iruka adalah saudara kandung dari Kushina, ibu Namikaze bersaudara) itu, "Ah, Naruto... kau sudah tahu kan kalau Kyuubi akan tinggal bersama kita? Karena di apartemen ini ada 3 buah kamar, jadi Kyuubi akan tidur di sebelah kamarmu, tapi... kamar itu belum dibersihkan sekarang, jadi... Kyuubi akan tidur di kamarmu dulu, ya?"

"H-ha'i..." ucap Naruto sekenanya, dan diikuti Kyuubi yang menganguk setuju.

Iruka menepuk kedua tangannya, "Oke, sekarang... ayo ke ruang makan!"

"Hooooorrrreeeeeee~" pekik Naruto dan Kyuubi bersamaan. Girang.

.

.

.

"Errr~ Paman Iruka~" Kyuubi dan Naruto agak menatap bingung dengan makanan di atas meja. Memangnya apa yang aneh? Menunya, adalah menu yang familiar di Jepang kok. Sup miso, telur gulung, ikan panggang, dan sebagainya. Lalu? Apa yang aneh?

"Kenapa ada kerupuk di sini paman? Dari mana paman mendapatkannya?"

Dan Iruka hanya dapat tersenyum kecil malu-malu, dengan beberapa semburat merah di pipi kecoklatannya.


Omake 2

Naruto dan Kyuubi, tengah berdiri di atas balkon berdua. Setelah makan sampai kenyang, (Dan mengetahui bahwa kerupuk ternyata adalah mekanan yang enak,) Mereka bermaksud menghirup udara malam bersama sambil melihat bintang. Sang kakak melihat kepada adiknya, lalu tersenyum...

"Kau tahu Naruto?"

"Ya?" Naruto yang awalnya sibuk menghitung bintang, menoleh ke arah Kyuubi.

"Kau semakin manis saja ya? Lihat badanmu! Tampaknya kulitmu semakin halus! Bibirmu juga makin merah, hehe."

Blush!

Naruto mengeryitkan dahinya dan merasakan panas menjalar di pipinya, Naruto amat benci dibilang imut. Kenapa? Karena dia laki-laki!

"A-apa! K-Kyuu-nii juga semakin putih saja sejak di New York! Cih!" Naruto tidak sanggup mencari kata-kata yang tepat untuk membalas perkataan kakaknya, "Kyuu-nii menyebalkan! Jangan menyebalkan! Jangan memanggilku imut!"

Kyuubi menyeringai, dan dengan sekali tangkapan, Kyuubi memeluk Naruto dengan amat erat, "Huahahahha! Kau semakin manis saja jika begini! Senangnya! Huh," seru Kyuubi girang seraya mengacak-acak rambut kekuningan adiknya itu. Naruto meronta-ronta sekuat tenaga di dalam pelukan kakaknya, sayangnya... dia kalah tenaga.

"Kyuu-nii! LEPASKAN!"

"HHAHAHAHAHA! Mampus kau Naruto! Hahaha, kau imut sekali~ Kawaii! Kawaii!"

"KYUU-NIII!"

.

.

.

Dan kita tinggalkan saja dua bersaudara yang tengah bersenang-senang itu. Sesungguhnya, Kyuubi ataupun Naruto, sama-sama terlihat imut jika sedang seperti itu.


Ada yang mau incest gak? /Smirk/