Story: DAMN
Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto
DAMN! © Iria-san
Rating: T+ (M untuk bahasa-bahasa vulgar yang saya gunakan~ gak naik rate beneran loh yah!)
Genre: Humor & Romance yang diragukan
Pairing: Uchiha Sasuke(23) & Namikaze (Uzumaki) Naruto(21).
Other Cast: Umino Iruka(31) & Hatake Kakashi(34), Tsunade(50+), Uchiha Itachi(26), Namikaze Kyuubi (26) dan beberapa original character.
Warning: AU, Typo, Mistypo, OOC, Boys Love, Shounen-ai, gaje, bahasa mungkin berbelit-belit dan tidak terkendali alias asal sembur, etc. . If like, you must to read it, if don't like, please read it before you press back button!/ngototness/. Chapter ini akan menjadi chapter terpanjang selama saya membuat fanfict ini, karena itu... diharapkan untuk para reader sekalian, agar membaca fanfict ini jika sedang ada waktu luang.
Author Note: Maaf, untuk kali ini saya tidak dapat membalas review kalian di chapter 4. Tapi, saya sangat berterima kasih, tentu saja, pada yang sudah, memfollow, fav(semoga fic ini pantas di fave list kalian), silent reader, and actually, para reviewer: /Momoyukii/Kitsune no Sasunaru/ Ryukey/ Jung Hojoong/ Subaru Abe/ Guess who/ uchiha cucHan clyne/ Majiko Harada/ auranti13/ Gunchan CacuNalu Polepel/ Sytadict/ Seo Shin Young/ ukkychan/ kagura amaya/ S. Oyabun/ erunaru. chan/ missyuhi/ yuu/ onyx SapphireSEA/ sea07/ laila. r. mubarok/ evilian niiu/ hamikazu-shira/ sasunaru's lover/ Rin Miharu-Uzu/ Haruka Hayashibara/ Daevict 024/ Qhia 503/ Azriel 1827/ Queen The Reaper/ amidesu/ Aoi Ciel/ Miss Bawell/ Ryuuki Ukara/ Ciel-kky30/ guest/ Earl Dousivia vi Duivel/ chiisana yume/ Kutoka mekuto/ Roronoa. D. Mico/ MJ/ Beauty Yomi Yang/ Namikazevi/
Chapter 5: the DAMN Double Bet.
Pagi hari, seharusnya menjadi hari yang tenang untuk pemeran-pemeran utama kita dalam fiction ini, tapi sayangnya... tentu tidak akan ada pagi hari yang tenang jika dimulai dengan perang tatap-menatap antara paman—Umino Iruka— dan keponakannya— Namikaze Naruto— di dalam sebuah dapur apartemen milik mereka.
"Naruto!" seru Iruka keras, sambil berkacak pinggang dan menatap tajam keponakannya dengan tatapan kemarahan.
"Ada apa paman!?" seru Sang keponakan, balas menatap Sang paman dengan tatapan menantang. Naruto membusungkan dadanya agar terlihat lebih gentle.
"APA INI? INI KAU DAPATKAN DARI MANA!?" Iruka mengacungkan sebuah bra berwarna pink polkadot merah berukuran C, tepat di depan muka Naruto. Melambai-lambai dengan indahnya.
.
.
.
Hening.
Hening.
.
.
"Kau pakai ini saat menyamar kan!?" bentak Iruka lagi, "Dari mana kau dapatkan?"
Wajah Naruto memucat mendengar perkataan pamannya, "I-itu..."
"Dari mana Naruto!?" Iruka kembali melambai-lambaikan bra pink tersebut di udara.
.
.
Iruka menatap tajam Naruto.
.
.
Naruto menatap takut-takut Pamannya itu hingga akhirnya...
"A-AKU MENCURINYA DARI TETANGGA SEBELAH, PAMAN!"
.
.
—SSINGGGGHHH—
Naruto menutup kedua mukanya malu. Iruka yang mendengar penuturan jujur keponakannya itu memelototkan matanya hingga seperti hampir meloncat keluar.
"APA!? Kau bodoh Naruto!" —Buk! —Iruka menjitak kepala Naruto gemas dan mengacak-acak rambut kekuningannya, "Pantas saja kemarin aku mendengar tetangga kita marah-marah tidak jelas! Dasar anak nakal!"
"Ta...tapi, aku harus bagaimana lagi paman! Aku terpaksa melakukannya, Paman pikir dari mana lagi aku bisa mendapatkan bra secara cepat!?"
"Kau bisa membelinya di supermarket Narutoooo!" Iruka semakin gemas mengacak-acak rambut Naruto, "Huh! Rasakan! Rasakan!" seru Iruka dengan sangat berambisi.
Naruto berusaha mengeluarkan dirinya dari cengkraman Iruka dengan cara mendorong pamannya itu, dengan napas ngos-ngosan, Naruto berkata, "Ta-tapi Paman! Aku tidak mungkin membeli bra di supermarket! Apa kata dunia kalau melihat seorang laki-laki membeli bra tanpa seorang wanita di sebelahnya!"
Iruka menghela napas, berpikir sebentar, dan akhirnya menganguk membenarkan perkataan Naruto, memang akan sangat memalukan untuk seorang pria jika masuk ke supermarket hanya untuk membeli sebuah bra, "Tapi, mungkin...saat kau masuk ke supermarket, orang-orang bisa saja mengira kau adalah seorang wanita tomboy," balas Iruka asal.
Naruto melotot, "Apa maksudmu paman!? Jadi wajahku seperti seorang wanita, begitu?"
"Entahlah," Iruka mengedikan kedua bahunya dan tersenyum tipis, "Terkadang kau memang terlihat sangat manis seperti wanita, jadi... bisa saja orang akan mengiramu wanita tomboy saat membeli bra."
Mendengar itu, Naruto berkata dengan suara yang sedikit meninggi frekuensinya, "JADI! PAMAN BILANG WA—"
" Apa sih? Kok pagi-pagi sudah bicara bra?" Kyuubi tiba-tiba saja nonggol dari balik pintu, sembari mengucek-ucek matanya. Rambut dan piyamanya berantakan, jelas sekali bahwa dia baru saja bangun dari tidurnya.
"Hahahaha... apa Kyuu-nii bilang, aku dan paman tidak membicarakan apa-apa kok?" Naruto tertawa hambar dan merebut bra pink pokadot merah yang berada di tangan Iruka, lalu menyembunyikannya di balik punggung, "Kyuu-nii pasti salah dengar."
"HOAHMMMHH~" Kyuubi menguap panjang, seraya mengaruk-garuk rambutnya yang terasa gatal dan menghampiri lemari pendingin di dalam ruangan itu, "Yah~ mungkin, kurasa aku memang salah dengar," ujarnya singkat, sambil mengacak-acak lemari pendingin itu, hingga memasukan hampir setengah badannya ke dalam situ.
Tak berapa lama, Kyuubi keluar dari lemari pendingin itu dengan raut muka kecewa, membuat Iruka dan Naruto memandang pemuda bersurai merah itu seperti berkata, 'Ada apa?'
"Tidak ada apel ya? Huh~"
Iruka dan Naruto menganguk bersamaan, dan kembali menyaksikan Kyuubi yang akhirnya mengambil sebuah jus orange sebagai pengganti apel. Membuka bungkus kotak jus orange itu, dan menengaknya dengan kecepatan luar biasa. Tak berapa lama, akhirnya Kyuubi menatap ke arah Naruto, mulut Kyuubi terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi sepertinya bingung ingin memulainya bagaimana, hingga membuat mulut itu terpaksa menutup lagi.
"Ada apa Kyuu-nii? Ada yang ingin kau katakan?" Naruto tersenyum, dan mendatangi kakaknya itu, seraya menyembunyikan bra di tangannya di saku bajunya. Sedangkan Iruka, pria itu sudah berbalik badan dan sibuk mempersiapkan sarapan pagi.
"Hmmm, Tadi... aku terbangun karena ada suara dari ponselmu, sepertinya ada panggilan masuk, tetapi saat aku ingin mengangkatnya, panggilan itu malah mati."
Naruto mengangkat kedua alisnya, "Hah? Siapa?"
" Entahlah, nomor tidak dikenal," jawab Kyuubi seadanya, meminum kembali jus orange yang ada di tangannya, "Huek! Aku harus membeli apel setelah ini... Hm, Naru-chan? Mau kemana?" tanya Kyuubi ketika melihat Naruto berjalan pergi meninggalkan ruangan dapur tersebut.
Naruto membalikan badannya sedikit, dan tersenyum kepada kakaknya, "Hanya melihat siapa yang menelponku, Kyuu-nii~"
"Oh..."
.
.
.
.
Naruto mengotak-atik layar poselnya, hingga akhirnya menempelkan benda tersebut di telingannya, dia sedang mencoba menelpon ulang nomor yang menghubunginya.
Trek,setelah beberapa saat menunggu, Naruto dapat mendengar seseorang mengangkat panggilannya.
"Ha—"
[Moshi-moshi, apakah ini dengan Nona Uzumaki?]
Naruto terbengong sebentar, padahal dia belum memberi salam, tapi orang di seberang sana sudah menyerobot duluan bertanya, bahkan dia tidak memperkenalkan nama ataupun tujuan menelepon. Bukankah itu sungguh tidak sopan? Tapi, ketika nama Uzumaki disebutkan, Naruto terpaksa memendam dulu rasa kesalnya di dalam hati.
"Y-ya? Dengan saya sendiri, saya Nona Uzumaki? Ada apa?" Naruto celingak-celingukan ke sekeliling ruangan, mungkin saja akan ada kakaknya yang mendengar percakapannya super secret ini. Bisa mampus dia jka kakaknya yang jahil itu mengetahui dia menyamar seperti wanita, Naruto tidak bisa membayangkan seperti apa wajah Kyuubi yang akan menertawakannya.
"Y-ya~? A-ada apa?" Naruto sedikit meninggikan nada suaranya agar terdengar cempreng dan seprti suara seorang wanita.
[Dengarkan kami Nona Uzumaki,] suara di seberang sana memulai dengan nada serius.
"Y-ya?"
"Selamat, nona Uzumaki anda adalah satu dari 10 orang yang lulus dari audisi tahap pertama..."
Naruto menaikan kedua alisnya dan tersenyum. Ya... dia emmang sudah menyangkanya dari awal, "Owwh Yeeaah~?" balas Naruto dangan nada anak-anak alay. Sesaat, sepertinya orang yang berbicara di seberang telepon sana terdiam bingung karena nada suara Naruto.
"Benar sekali nona Uzumaki, karena itu, nona Uzumaki diharapkan untuk darang hari ini jam 11.30 pagi, di tempat yang sama dengan audisi tahap pertama, tentu anda mengetahui dimana tempatnya kan, nona Uzumaki?"
Naruto menganguk, meskipun tahu orang yang berbicara di seberang sana tidak akan melihat gerakannya, "Baik," jawabnya singkat.
"Baiklah, kalau begitu, sekian dan terima kasih."
TUUUT—TUUTT—TUUUT—
"Huh, apa-apaan ini? Dasar tidak sopan, tiba-tiba saja langsung menutup," gerutu Naruto sambil melihat layar ponselnya, Naruto memajukan mulutnya beberapa senti dan membuatnya terlihat lucu.
"Kau ingin kemana Naruto?" sebuah suara terdengar. Suara Kyuubi yang rupanya sudah berdiri di depan pintu, dan sekarang tengah berjalan pelan mendekati Naruto.
Naruto tersenyum, "Aku ada perkerjaan, Kyuu-nii, jadi aku harus pergi..," katanya lembut. Kyuubi yang endengar hal ittu, tersenyum lebar dan akhirnya mengacak-acak rambut Naruto dengan ganas, sepertinya rambut Naruto memang menjadi sasaran nomor satu Iruka dan Kyuubi yang sedang gemas padanya.
"Wuahh! Sayang sekali! Padahal kan ingin mengajakmu ke taman bermain Naruto! Terpaksa ditunda kan!?" kata Kyuubi dengan seringaian jahilnya, "Hei, bagaimana kalau kau ijinkan kakakmu ini menemanimu."
"TIDAK!" Naruto reflek menjauh dari Kyuubi dan menyilangkan tangannya, tanda tidak setuju, "Tidak usah Kyuu-nii, tidak perlu repot-repot."
Mendengar itu, Kyuubi menaikan alisnya dan memasang wajah kecewa yang dibuat-buat, "Wuah, kenapa? Aku tidak akan mengangu kok~, kau tidak mau aku menemanimu yah?"
"Bukan begitu Kyuu-nii, hanya saja... kau bisa bosan, jika berlama-lama ada di sana~."
"Aku bisa membawa PSP, Tab, atau semacamnya di sana," jawab Kyuubi enteng, lengkap dengan gaya santainya.
"Tapi Kyuu-nii, di sana... ada bos yang amat sangat galak loh! Kau bisa jadi sushi jika dimarahinya," Naruto berusaha menakut-nakuti kakaknya. Keputusan yang salah.
Kyuubi terkekeh, hingga seperti hembusan napas singkat seiring dengan tawa mengejeknya, "Bosmu tidak tahu, aku bisa membuat orang jadi berbagai makanan, jika sedang marah."
"Di sana, cewek-ceweknya jelek loh! Dekil! Ketiaknya bau! Dan suka ngupil sembarangan! Sebentar saja Kyuu-nii duduk di sana pasti jadi ilfeel!"
"Oh."
"Bapak-bapak di sana juga kaus kakinya bau sekali, seperti 1 tahun tidak dicuci!" Naruto memelototkan matanya, dan mendekatkan wajahnya pada kakaknya. Khas film horror yang pada akhirnya nyerempet jadi film komedi, "Di setiap ruangan, baunya pasti busuk!"
Kyuubi mengerutkan keningnya, dan melipat tangannya di depan dada, "Hmm..."
Naruto menghela napas frustasi, bingung harus berbicara apa pada kakak keras kepalannya yang satu ini, padahal Naruto sudah merasa kebohongannya sempurna, (Warn: Naruto tidak pandai berbohong!) "Begini Kyuu-nii..." Naruto memulai, sambil mengusap keringatnya yang ada di kening.
"Apa?"
"Aku ingin memberikanmu, kalau di sana ada 2 orang kakak beradik yang gay!"
Kyuubi membulatkan mata merahnya, kaget, "Hah?"
Naruto menganguk, "Betul! Si adik sangatlah irit ekspressi dan selalu berkata kasar, khas seorang lelaki yang berjiwa 'bad boy', dan si adik selalu mengangap kalau dirinya itu cool. Padahal... muka si adik tidaklah lebih keren daripada monyet yang tahun lalu kita lihat di kebun binatang di London—" Naruto memasang wajah nelangsa, berakting seolah-olah kantornya sangatlah buruk sehingga kakaknya tidak perlu mendatanginya.
"Lalu? kakaknya?"
"Kakaknya begitu narsis! Sangatlah suka menggoda wanita-wan— Eh, pria-pria di sana. Dan kemampuan tingkat gombalnya sudah mencapai level 5! Tapi sayangnya... dia sama seperti adiknya, wajahnya sangat jelek, bahkan Sang kakak punya 2 garis keriput yang mengerikan di wajahnya~! Kyuu-nii tidak akan tahan melihatnya!" Dengan mata berbinar-binar, Naruto menatap Sang kakak, "Bagaimana Kyuu-nii? Tentu kau tidak akan mau berkunjung ke kantorku kan?"
.
.
Hening.
Hening.
.
.
"TENTU SAJA AKU HARUS!" balas Kyuubi berseru dengan wajah berapi-api.
"Hah!?K-k-kenapa?!"
"Aku tidak akan membiarkan dua bersaudara itu mengangumu!" ujar Kyuubi sambil mengepalkan kedua tangannya.
"T-TIDAAAAKKK!"
Tiriririririririt~
Tiba-tiba, ponsel milik Naruto berdering sekali lagi, dan membuat Namikaze bersaudara itu terdiam. Naruto segara mengangkat panggilan tersebut, "Moshi-moshi?". Sedangkan, Kyuubi menunggu dengan tampang bosan.
Ketika berbicara lewat jaringan telepon itu, Naruto terlihat menganguk-angukan kepalanya beberapa saat sebelum memberikan ponsel itu ke Kyuubi dan berkata, "Dari Tou-san, ini untukmu, Kyuu-nii."
Dengan ekspessi wajah,'Hah?', Kyuubi menerima ponsel tersebut dan menempelkannya ke telinga, "Hmm? Kenapa tidak menelpon ke ponselku saja, Minato?"
[Potong 100.00 Yen! Aku sudah menelponmu beberapa kali anak bodoh, kau yang tidak melihat ponselmu!]
"CK! Baik-baik, lalu? Kau ingin bilang apa, Tou-san?" Kyuubi mengigit bibirnya, seraya menatap adiknya yang masih terlihat penasaran dengan apa yang dibicarakannya dengan Minato.
[Hmm, begini... aku sibuk, jadi, kau bisa mengurus berkas-berkas pendaftaran masukmu ke Universitas Tokyo kan? Tentu saja! Kau bisa mengambilnya di kantor ayah, Bye-Bye!]
"E-eh, ta-tapi—"
Tuuut—Tuut—Tuuuuttt
"Ck, dasar orang itu!" Kyuubi mengumpat-umpat tidak jelas kepada ponsel Naruto, lalu memberikan posel itu kembali dan menatap Naruto dengan pandangan kecewa, "Naruto, maafkan aku ya, sepertinya kau tidak bisa menemanimu pergi bekerja," ucapnya sedih. Padahal, tidak ditemani juga tidak apa-apa kok.
Jeng—Jereng! Naruto bersorak dalam hati mendengar kabar menggembirakan itu, "Ya, Kyuu-nii! Tidak apa-apa kok! Urus saja urusanmu dahulu!" jawab Naruto cepat sambil menjabat tangan Kyuubi, "Tidak apa-apa kok, sungguh!" Naruto tersenyum simpel.
'Kami-sama, terima kasih karena sudah menyelamatkan aku!'
11.20 AM, Audisi tahap Ke-2.
Naruto mengendap-endap di antara para kru dan orang-orang yang ada di lokasi syuting itu. Mata kebiruannya bergerak kesana-kemari dengan waspada, hingga akhirnya mata Naruto melihat ke arah sebuah toilet umum disana. Toilet pria. Naruto menyeringai, hingga gigi-gigi putihnya terlihat dengan jelas. Dan dengan segera, pemuda manis bersurai pirang itu berjalan ke sana, sembari menenteng sebuah bungkusan besar, berisi alat-alat menyamarnya, pakaian gothic loli, dan juga berbagai macam hal yang dia perlukan, untuk menjadi seorang Uzumaki Akashi.
.
.
.
.
Setelah beberapa saat. Naruto melirik keluar toilet, kedua mata yang sudah tertutupi oleh softlens berwanra merah itu mellihat awas ke kiri dan ke kanan. Setelah merasa cukup aman, Naruto menampakan senyum dan keluar dari toilet itu, mengibas-ngibaskan gaun gothic bernuansa biru di tubuhnya, memperbaiki lilitan pita yang mengikat wig violetnya, dan melihat riasannya wajahnya pada sebuah cermin kecil. SEMPURNA! Perfect!
"Kau terlihat cantik, Akashi~" ujarnya Naruto, sambil mengedipkan satu mata di depan cermin kecil itu. Membuat orang-orang yang lewat di sekitarnya menjadi kagum karena kecantikan yang dimiliki Akashi, dan bingung karena tingahnya yang cukup narsis. Naruto mengibas rambutnya, dan mulai berjalan hingga—
BRAAAKK!
Naruto menabrak seseorang dengan keras, hingga membuat sepatu hak tingginya tak mampu lagi menahan berat badan dan... jatuhlah dia, dengan posisi pantat yang menyentuh tanah duluan.
"Auch!~" Naruto meringis kesakitan, sepertinya dia mendarat di pusat rasa sakitnya.
"Apa kau tidak menggunakan matamu jika berjalan, Idiot?"
Twitch! Kedutan pembuluh vena terlihat di dahi Naruto. Naruto bergegas melihat siapa orang yang berani menabraknya, dan malah menyalahkannya setelah menjatuhkannya. Sesaaat, Naruto tercengang sebentar, rupanya... orang yang dia tabrak adalah... HAH? Uchiha Sasuke? What the fuck?!
Melihat pria menyebalan itu, Naruto mengeram marah dan mengigit bibir bawahnya. Dengan segera, Naruto berdiri dengan tangan yang terkepal dan menunjuk tepat di depan hidung Si aktor muda berbakat itu, "Huh! Brengsek, kau yang menabrakku! Kau juga yang membuatku jatuh! Kenapa kau menyalahkanku!? Aish!" bentak Naruto, kedua tangannya menepuk-nepuk pantatnya yang penuh dengan tanah yang menempel.
Sasuke menghela napas dan memutar bola matanya jengah, lalu melirik gadis yang sebenarnya seorang pemuda di depannya dengan tatapan mengejek, "Aku rasa itu salahmu Idiot, kau yang terlalu sibuk dengan kaca kecil itu untuk melihat penampilanmu, hingga akhirnya kau menabrakku!" Sasuke melirik penampilan Naurto dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu menyeringai, 'Ah, ya... cukup manis untuk ukuran lelaki~' batinnya.
"Grrrrhh" Naruto menggeram, ala seorang rubah yang sedang bertemu musuhnya, "Kau menyebalkan! Aku tidak mengerti mengapa kau bisa mempunyai banyak fans di dunia dengan sifatmu yang seperti ini!"
"He-eh, aku juga tidak tahu. Tanyakan saja pada mereka!" jawab Sasuke sekenanya, kembali lagi dengan wajah stoic dan tatapan menusuknya, "Lagipula, untuk apa kau di sini?"
Naruto melipat tangannya,d an membusungkan dada, anak itu tertawa bangga, "Ha-ah! Aku lulus tahap audisi yang pertama, so... aku di sini untuk tahap audisi yang ke-2!"
"Hn, aku tidak yakin kau akan lulus."
Naruto tertawa geli, mendengar jawaban itu, "Aku sudah mengatakannya padamu," Naruto mendekatan wajahnya pada Sasuke, dan tersenyum lebar penuh percaya diri. Jarak di antara mereka berdua cukup dekat, sehingga membuat Naruto mampu mengetahui bahwa tidak ada satupun komedo, jerawat, atau apapun di wajah tampan Sasuke, wajahnya mulus seperti porselen, "Aku. Percaya. Dengan. Kemampuanku!"
Sasuke menyeringai, tak menyangka bahwa pemuda(setengah gadis) di depannya itu amat sangat percaya diri dan juga pemberani. Sasuke mendekatkan wajahnya, sehingga jarak di antara mereka semakin memendek, dan Sasuke dapat merasan hembusan napas pemuda(setengah gadis) di depannya itu, "Well, begitukah? Kalau begitu, Buk-ti-kan!"
Entah bagaimana, Naruto bisa terbawa emosi hingga tidak sadar jarak di antara dirinya dan Sasuke begitu dekat, dan malah memajukan wajahnya sedikit lagi.
Sediiikiiit lagiiii~ mereka berdua akan ciuman. "Huh, dan aku masih bertanya-tanya, akankah kau akan menjual kameramu itu jika aku berhasil menjadi photographer-mu?" Dalam hati Naruto berteriak, 'ITU KAMERAKU BODOH!'
Terlihat di sana, Sasuke terkekeh dan mengejek Naruto dengan seringainya, "Tentu saja, Tidak. Nona Idioot!"
BUGHHHH! Naruto yang sudah berada di ambang batas kemarahan, langsung saja reflek menghantam dahinya yang sekeras batu tersebut, ke hidung putih nan mancung milik Sasuke. Membuat si empunya jatuh ke tanah dengan posisi pantat yang sampai ke tanah duluan. Naruto dan Sasuke impas.
"Uh..." rintih Sasuke kesakitan, Si aktor muda itu merasa dirinya mendarat di atas batu. Sungguh sakit sekali!
"WEEEKK!" Naruto menjulurkan lidahnya dan menarik kelopak bawah salah satu matanya, "RASAKAN ITU BRENGSEK!" dan dengan secepat kilat Naruto berlari, meninggalkan Sasuke yang masih terduduk kesakitan, merasakan pantatnya yang terasa panas karena menimpa batu. Poor Sasuke.
"Awas kau!" desis Sasuke, dengan wajah penuh dendam. "Auch!"
.
.
.
.
"Well, tahap ke-2 audisi ini, adalah kemampuan interaksi dan pembangunan relasi..." Tsunade berbicara dengan tegas di depan 10 orang yang telah beruntung lulus tahap audisi pertama, salah satunya adalah Naruto.
Sedikit peserta yang ada di sana, mengerutkan keningnya dan berbisik-bisik satu-sama lain, mereka bingung apa yang harus dilakukan untuk audisi tahap kedua ini. Sedangan Naruto, dia masih sibuk mengelap-ngelap baju bagian pantatnya yang kotor, tak lupa juga memasang wajah kesal dan tatapan menusuk untuk peserta lainnya yang menatapnya dengan kekehan mengejek.
Tsunade melirik para peserta tahap kedua itu sebentar, lalu kembali melanjutkan kata-katanya, "Karena kalian secara tidak langsung, akan berkerja selama 4 bulan dengan Sasuke, jadi... kalian harus membangun relasi yang baik dengannya. Oleh karena itu, Uchiha Sasuke, sengaja datang kemari, untuk berkenalan dan mengobrol satu persatu dengan kalian. Audisi tahap keduanya adalah, kalian sebisa mungkin harus bisa membangun relasi dan hubungan yang baik dengan Sasuke, karena... dialah yang akan menilai lulus tidaknya kalian dalam audisi tahap ini," Tsudane mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman tipis, ketika dia melihat berbagai macam ekspressi yang dikeluarkan oleh para peserta audisi.
Benar, ada yang memasang wajah gembira, kaget, bingung, tidak percaya, dan bahkan ada yang membulatkan matanya dengan lengkingan teriakan histeris. Ya, tentu saja, hampir semua yang mengikuti audisi ini adalah fans dari Uchiha Sasuke, dan tidak ada fans yang tidak senang jika mendapat kesempatan bertemu dan mengobrol dengan idolanya.
Bagaimana dengan Naruto? Ah, tentu saja sekarang matanya tengah membulat lebar dengan rahang yang jatuh, wajahnya memucat dan keringat dingin keluar dari pilipisnya, dalam hati... Naruto mengumpat dan menyumpah segala hal yang berhubungan dengan Sasuke, 'Apa-apaan ini! Kalau begini tidak ada harapan untukku lolos dari audisi ini!' pikirnya histeris.
"Ada pertanyaan?"
Naruto mengangkat tangannya, "Apakah lulusnya kami dalam tahap kedua ini, seluruh keputusan ada di tangan Uchiha Sasuke?"
Mendengar pertanyaan itu, Tsunade tersenyum, dan menganguk mantap, "90 persen, YA! "
Dan Naruto tahu, bahwa keberuntungan adalah hal yang sangat dia perlukan saat ini. Ingin rasanya Naruto mendatangi Sasuke sekarang, dan memukul kepala artis itu, agar dia amnesia, dan melupakan semua hal menyebalkan yang telah Naruto buat padanya.
Kyuubi menyeret langkahnya dengan tampang malas dan tak memiliki semangat hidup. Beberapa orang yang ada di dalam supermarket tempatnya berada sekarang menatapnya bingung, seolah Kyuubi adalah seorang zombie yang barus aja bangkit dari kuburnya.
"Huahhh~ capeknya~" desah Kyuubi sambil terkadang memijat bahunya, dia berjalan lambat di antara rak-rak yang berisikan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari. Hingga mata merah Kyuubi pun berhenti pada sebuah stand buah-buahan, dan menemukan hal yang ingin dia beli sejak awal, "Ah, tentu saja... aku harus membeli apel."
Satu persatu apel-apel yang dirasakannya bagus bentuk dan warnanya Kyuubi masukkan dalam keranjang belanjaannya. 1 biji, 2 biji, 3 biji, 10 biji, ya.. Kyuubi memang pecinta apel sejati. Menurut Kyuubi, apel berkhasiat menurunkan kadar emosinya yang selalu naik turun dimana saja, dapat membuatnya tenang karena dagingnya yang lembut dan berair, dan pemuda berambut kemerahan itu juga percaya... apel dapat membuatnya awet muda. Karena alasan itulah, Kyuubi dijuluki, 'Apple Prince' oleh kawan-kawannya di Universitas Oxford dahulu.
Setelah Kyuubi yakin bahwa sudah cukup banya apel di dalam keranjang belanjaannya, dan juga berbagai kebutuhan lain sudah dia masukan. Kyuubi memutuskan untuk membawa barang-barang itu ke kasir dan segera membayarnya. Dia ingin cepat pulang dan tidur siang. Dia lelah pergi kesana kemari untuk mengurusi berkas kepindahannya ke Universitas Tokyo.
Sembari menatap wanita muda yang bertugas sebagai kasir menghitung seluruh bahan belanjaannya, Kyuubi menerawang jauh ke dalam khayalannya. Dia berpikir, bagaimana nasib adiknya yang berkerja di lingkungan yang tidak menyenangkan, terlebih lagi, dengan cerita Naruto bahwa ada 2 orang pemuda gay di lingkungan sana. Membayangkan adiknya di-rape dan dipaksa ber-threesome oleh 2 orang pemuda gay itu seketika membuat Kyuubi merinding tidak karuan, jelas! Itu bukanlah hal yang ingin Kyuubi dengar dalam hidupnya, "Ck, dasar Minato sialan, gara-gara kau aku jadi tidak bisa menemani Naruto berkerja!"
"Total belanjaannya 3.450 Yen," penjaga kasir itu tersenyum manis kepada Kyuubi, sayangnya... karena saat itu Kyuubi sedang dalam keadaan bad mood, akhirnya bocah rubah itu hanya membalas penjaga kasir itu dengan wajah tergangu. Kyuubi mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang dari sana, dan memberikannya kepada Si kasir yang sudah enggan memberikan Kyuubi senyum lagi.
Puk! Tiba-tiba Kyuubi merasakan sebuah tangan menepuk bahunya perlahan.
Dengan kening mengerut dan bibir yang melengkung ke bawah, Kyuubi membalikan badannya, hendak melihat siapa gerangan wajah orag tidak sabaran yang berani menepuk bahunya sembarangan. Tapi, niat untuk memberikan deathgleare itu terpaksa Kyuubi hentikan karena kekagetan yang melandanya, saat melihat siapa yang telah menepuk bahunya, "K-kau?"
Kyuubi dapat merasakan detak jantungnnya berdetak dengan amat cepat disaat dia melihat siapakah sosok yang di depannya sekarang, membuat napasnya sesak dan merasa pusing dalam sekejab. Kyuubi membeku, memperhatikan sosok yang tersenyum di depannya dengan darah yang berdesir cepat dan jantung yang jumpalitan, sosok bermata onyx yang tajam, dengan rambut panjang bewarna hitam legam yang terikat rapi, Uchiha Itachi.
Uchiha sulung itu tersenyum kepada Kyuubi, tetapi Kyuubi malah menatapnya dengan tatapan marah dan membuang wajahnya. Kyuubi berbalik dan mengambil seluruh barang belanjaannya, "Ambil saja kembaliannya," ucap Kyuubi dingin dan segera pergi dengan cepat. Membiarkan wanita kasir itu kebingungan, dan Itachi yang terdiam dengan tawa keras dalam hati.
"Gotcha you, little fox~"
.
.
.
.
Kyuubi berjalan menyusuri jalanan sepi itu dengan langkah cepat, kedua mata rubahnya mencoba melirik ke berbagai arah dengan waspada. Sementara itu, Kyuubi masih mencoba menenangkan jantungnya yang masih belum bisa dikendalalikan gerakannya. Kyuubi menekan dadanya dengan agak lembut, Kyuubi meringis kesakitan. Kesakitan apa? Ya, Kyuubi merasa sakit, ingatan amsa lalu yang ingin dia lupakan dan pendam dalam-dalam terpaksa harus muncul ke permukaan akibat munculnya kembali orang yang menjadi penyebab utama rasa sakit itu.
Kyuubi mengigit bibirnya, khawatir disaat dia mulai sadar terdengar langkah kaki yang berjalan di belakangnya, dan Kyuubi amat sangat mengetahui bahwa orang yang mengikutinya itu tidak lain dan tidak bukan adalah Si Uchiha Sulung. Kyuubi mendecih, lalu mempercepat langkahnya berjalan.
Semakin cepat Kyuubi berjalan, Kyuubi merasa derap langkah di belakangnya semakin mempercepat langkahnya juga, hingga akhirnya... Kyuubi merasa tingkat kesabarannya sudah diambang batas. Kyuubi berbalik, menatap nyalang Itachi yang berada di belakangnya, melihat dirinya dengan santai, "UCHIHA SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN HAH?! JANGAN MENGI—"
BRUUUKKK!
Kyuubi membelalakan matanya, pemuda itu meringis dalam hati, menahan gejolak impuls-impuls rasa sakit yang menjalar di punggungnya. Kyuubi tertawa getir, bagaimana dia bisa lupa kebiasaan yang dilakukan Uchiha Sulung itu? Kebiasaan mendorong orang tiba-tiba ke tembok terdekat dan mengunci dengan tubuhnya. Kyuubi melirik kedua tangannya yang berada di gengaman kuat kedua tangan Itachi, lalu pemuda berambut orange kemerahan itu mengangkat sedikit kepalanya, menatap lurus ke arah mata hitam Itachi yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Le-pas-kan aku!" ujar Kyuubi dengan geram.
Itachi penuh arti pada Kyuubi, sekilas terlihat seperti senyum yang sangat lembut, tak lama kemudia malah terlihat seperti menyerigai, "Tidak."
Kyuubi mengeram, melotot ke arah Itachi, mencoba memberontak dalam dekapan Itachi, "Apa! Le-lepaskan aku, Bodoh! kauuhmmph!—"
Perkataan Kyuubi terendam oleh sebuah benda kenyal, basah, lembut tapi mematikan milik Uchiha Sulung, ya, bibirnya. Kyuubi kembali melebarkan matanya dalam dekapan Itachi, paru-parunya serasa ingin meledak dan wajahnya terasa sangat panas. Perlahan Kyuubi merasa gengaman Uchiha Sulung tersebut semakin erat padanya, hingga buku-buku jarinya memutih.
Bruk—plastik belanjaan yang sejak tadi dia pegang sudah tak dapat Kyuubi pertahan lagi, membiarkan plastik itu menghantam tanah dan membuat apel-apel di dalamnya mengelinding keluar. Kyuubi mencoba memberontak, berbagai upaya sudah Kyuubi lancarkan; dimulai dari menginjak kaki Itachi beberapa kali, menghentak-hentakan tubuhnya, mengeram dalam sesi ciuman mereka tanda bahwa dia sangat tidak menyukai hal ini, bahkan hingga mengigit bibir sang Uchiha Sulung hingga sobek dan berdarah, membuat Kyuubi mengecap asin dan bau amis darah dari Uchiha Sulung itu.
Itachi sangat kuat, benar-benar kuat! Hingga Kyuubi mulai merasakan tenaganya habis akan perlawananya yang sia-sia, Itachi malah semakin bergerilya di atas bibirnya, meraup bibirnya sekuat tenaga yang dia bisa. Kyuubi juga mengutuk keputusannya untuk mengigit bibir Itachi tadi, karena hal itu malah membuat Sang lidah lincah Uchiha dapat menyusup ke dalam mulutnya, membawa saliva bercampur darah ke dalam mulutnya, HUEK! Kyuubi benci itu!
Kyuubi tambah merasa teracam, ketika sadar bahwa tubuh Itachi semakin merapat padanya, membuat pinggang, dada, perut, hingga bagian vital mereka saling bergesekan dengan tempo yang keras. Kyuubi merasakan dadanya membucah dan terisi penuh dengna kemarahan, dengan kekuatan terakhirnya, Kyuubi membenturkan seluruh tubuhnya ke tubuh Itachi: benturan gigi dengan gigi, kepala dengan kepala, badan dengan badan tak dapat terhindarkan,membuat pertahanan Itachi yang kuat sedikit mengendur, "LEPASKAN AKU BRENGSEK!" Teriak Kyuubi di saat kesempatan mendatanginya, sukses membuat Itachi menjauhkan wajahnya dari Kyuubi. Melepaskan cengkraman dan dekapannya.
"Haaahh...haaah...haahhh, b-brengsek kau..," umpat Kyuubi seraya mengelap saliva yang mengalir dari mulutnya hingga ke lehernya, napasnya memburu tidak karuan, dan wajahnya merah padam, Kyuubi mencoba menahan berat tubuhnya dengan bersandar dengan tembok di belakangnya, kedua kakinya terasa aneh hingga tak mempu membuatnya berdiri dengan tegak.
Tak jauh berbeda dengan Kyuubi, Itachi yang berjarak sekitar setengah meter dari Kyuubi tampak juga mengatur napasnya dengan pelan, bedanya... Itachi tampak tenang dan tak bersuara sama sekali, dia lebih memilih melihat Kyuubi dengan seringai kemenangannya, sembari menjilat bercak-bercak darah yang ada di bibirnya, darah dari luka yang dibuat Kyuubi, Itachi tertawa, berusaha mengecap berbagai macam rasa di dalam mulutnya, "Bibirmu tetap semanis yang aku ingat, Kyuubi."
Kyuubi mengigit bibirnya kesal, pemuda itu mengepalkan tangannya, "S-sialan kau! Apa maksudmu HAH!?"
Itachi terkekeh melihat reaksi Kyuubi, ppemuda itu berjalan selangkah demi selangkah ke arah Kyuubi, dan berhenti tepat di depan pemuda bersurai merah orange itu, "Memangnya aku tidak boleh mencium kekasihku sendiri, my little fox?" Itachi merendahkan suaranya dan menaikan dagu milik Kyuubi menggunakan jarinya.
PLAK—Kyuubi reflek memukul tangan Itachi, memberikan tatapan seolah mengatakan 'mati kau' pada Itachi.
"Kau bukan siapa-siapa!"
Itachi membulatkan mulutnya seolah berkata 'oohh' tetapi tidak bersuara, Itachi terlihat seperti mengejek Kyuubi, "Oh ya?" Itachi merendahkan kepalanya dan mendekatkan pada Kyuubi, menatap lekat kedua pupil kemerahan milik Kyuubi, "Bukankah aku kekasihmu, Dear?" Itachi tersenyum manis, semanis permen yang sebenarnya heroin, manis tapi mematikan.
Kyuubi memutar bola matanya dan berdecak kesal, "Aku tidak pernah mengangapmu siapa-siapa."
Tatapan Itachi melembut, dan itu membuat Kyuubi merasa sedikit tercengang, "Kita kekasih, Dear, dan sampai sekarang pun masih begitu," sekali lagi, Itachi meraih pipi Kyuubi dengan satu tangannya, "Kau yang pergi pertama kali sewaktu itu tanpa mengatakan apa-apa, kau pergi jauh ke luar negeri mengikuti Tou-sanmu. Kau tidak pernah memutuskan hubungan kita. Dan itu artinya, kita masih sepasang kekasih hingga sekarang."
Kyuubi terdiam, apa yang dikatakan oleh Itachi hampir 90%-nya benar, tapi... Kyuubi mengeraskan hatinya, alasan Kyuubi pergi juga karena Itachi, "Ho-oh? Kalau begitu, kita putus sekarang? Bagaimana? Heh?"
"Tidak," jawab Itachi singkat, lidahnya sibuk menjilati bibirnya yang masih mengeluarkan darahnya.
Kyuubi mengigit bibirnya, urat-urat vena mulai terlihat di sekitar dahinya, 'Kyuubi~ dinginkan kepalamu.' ujar Kyuubi meperingatkan dirinya sendiri, "Huh~ aku tidak mau tahu dan tidak perlu pendapatmu. Kepastiannya sekarang, kita putus!" Kyuubi menunduk, mengambil apel-apel yang masih berserakan di tanah, dan memasukannya ke plastik belanjaannya. Kyuubi berdiri, sengaja membelakangi Itachi, mulai ingin berjalan pergi meninggalkannya, "Aku rasa kau lupakan saja aku!"
"Hmmm, kalau kita putus, berarti aku harus mencari mangsa baru. Siapa yah?" Itachi berkata dengan nada licik, seraya menaruh jari telunjuknya di dahinya, memasang raut wajah berpikir. Dalam hati, dia tertawa saat melihat Kyuubi menghentikan langkahnya, seolah penasarang dengan lanjutan kalimatnnya, "Ah, ya~ aku tahu. Bagaimana kalau adikmu saja yah? Sewaktu aku melihatnya dulu, dia sangat manis! Lebih manis darimu. Sepertinya bibirnya juga lebih manis darimu. Hahaha—ha?"
Tap. Tap. Tap. BUK! Kyuubi mendatangi Itachi dengan cepat dan memukul pemuda itu di pelipis kirinya, membuat Si Uchiha sulung kehilangan keseimbangan dan tersungkur jatuh.
Itachi menyeringai dalam kesakitannya akan pukulan Kyuubi, sekarang, luka sobek di bibirnya pasti akan bertambah besar. Mata onyx miliknya bergerak mengikuti Kyuubi yang menunduk dan mendekatkan wajah sangar itu ke wajahnya. Itachi dapat melihat api kemarahan di mata merah itu.
"Jangan. Sekali-kali. Kau. MENYENTUH. Adikku! Atau akan kupastikan kau berakhir di neraka!"
"Haha," Itachi tertawa getir, dalam hatinya, ia bingung, tatapan macam apa yang Kyuubi berikan padanya? Cemburukah? Marahkah? Atau hal lain? Sebagai Uchiha, Itachi tak mampu mendeteksi perasaan apa yang ada pada Kyuubi sekarang, "Ha ha, brother complex eh?" Itachi mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kyuubi, "Kau tahu, aku bisa mendapatkan apa saja yang aku mau, termasuk adikmu itu. Bahkan... aku bisa saja menculiknya, dan me-rapenya sesukaku," Itachi mendekatkan bibirnya ke telinga Kyuubi, berbisik dengan suara rendah, "Seperti yang kulakukan padamu dulu."
BUGH! sebuah tinju lagi Kyuubi layangkan pada wajah tampan Uchiha Itachi.
Kyuubi melotot, menatap nyalang Itachi dengan tatapan kebencian, "SIALAN KAU!" gertakan gigi dari pemuda yang Itachi panggil 'little fox' itu terdengar, "Jangan menggunakan adikku untuk mengertakku!"
Cuh! — Itachi meludah, ke arah sampingnya, air liur yang keluar bersamaan dengan darah membuat Kyuubi yang melihatnnya merasa jijik, tak menyangka hal seperti itulah yang masuk ke dalam mulutnya tadi. Itachi kembali memfokuskan matanya pada Kyuubi, "Kau mau bertaruh?"
Kyuubi membalas tatapan Itachi dengan tatapan penasaran, "Apa?" balasnya dingin.
Itachi mencekram baju Kyuubi, dan mendekatkan tubuh pemuda yang sedikit lebih kecil darinya itu, dengan jarak antara wajah hanya 5 cm, dia menyeringai ala seorang Uchiha, "Jika aku dapat mencium adikmu," Itachi semakin mendekatkan wajahnya pada Kyuubi, "Kau, tidak boleh meninggalkanku. Se-la-ma-nya! "
"Ah, ya... dan jika aku bisa mencium adikmu, kau tidak akan pernah menganguku, mengangu hidupku, dan mengangu adikku lagi untuk selama-lamanya kan? He-eh, bijaksana sekali kau, menggunakan adikku dan adikmu jadi bahan taruhan." Seolah bisa membaca seluruh hal yang dipikirkan oleh Itachi, Kyuubi melanjutkan perkataan Itachi, "Adikmu yang bernama Sasuke itu, sekarang sudah menjadi aktor terkenal kan?"
Itachi menganguk mantap dan tersenyum licik, "Tambah pintar saja kau, adikku memang sekarang sudah menjadi aktor terkenal, dan kau akan sangat susah untuk menciumnya," kilah Itachi, menikmati raut wajah Kyuubi yang sedang berpikir.
Kyuubi melihat wajah Itachi, ada beberapa luka hasil karyanya di sana, Kyuubi lalu tertawa dengan nada sadis, "Aku tidak akan kalah," Kyuubi membuang ludahnya ke tanah, gengamannya pada plastik belanjaannya semakin mengerat, "Tidak akan kubiarkan kau menang dan merasakan bibir adikku!"
"Itu artinya kau menyetujuinya bukan?" Itachi berdiri dari posisinya semula, dia mendekat ke arah Kyuubi dengan kedua tangan dimasukan di saku celanannya.
Kyuubi terdiam beberapa saat, terlihat berpikir apa saja resiko dan akibat yang akan dia tanggung dari pertaruhan konyol semacam ini, Kyuubi mengigit bibirnya, "Apapun akan kulakukan agar kau lenyap dari hidupku! Brengsek!"
Itachi terkekeh, sedikit lagi, dia mendekatkan wajahnya ke Kyuubi sambil mengangkat sudut bibirnya. Melihat kedua mata kemerahan milik Kyuubi ebnar-benar membuat hatinya senang, "Menjauh dariku, Brengsek!" tegas si pemuda berambut merah.
Dan Itachi hanya tersenyum penuh arti, sambil mengecup bibir pemuda pemarah di depannya itu dengan cepat dan hampir tak terlihat oleh mata, "Little fox... kita bertaruh sekarang~"
BUAKKK!
"Hadiah untukmu yang sudah menciumku sembarangan! Dasar keriput!"
Kyuubi menelungkupkan wajahnya frustasi di atas sofa di ruang tengah apertemen tersebut, sedangkan tubuhnya duduk bersimpuh di lantai. Sesaat, Kyuubi meantap lesu sebuah piring dengan apel-apel yang sudah diiris dan dibuang kulitnya, tapi... tak ada sedikitpun nafsu Kyuubi untuk memakan buah yang amat dia suka tersebut.
"Ukhh... Naruto, maafkan aku~," katanya Kyuubi, dengan nada penuh rasa bersalah. Ya, sekarnag Kyuubi sedang menguatkan hatinya, dia merasa bersalah! Dia sudah terlanjur bertaruh kepada Itachi demi keselamatan dirinya, dengan membuat adiknya menjadi bahan pertaruhan, dan itu jelas seperti memasukan adiknya sedniri ke lubang buaya. Itachi itu benar-benar berbahaya, dan Kyuubi tahu seberapa berbahayanya yang dimaksud "berbahaya" di sini!
Kyuubi kepalanya dan mengepalkan telapak tangannya, raut wajah penuh semangat Kyuubi perlihatkan saat itu, Kyuubi mengigit bibirnya, memberikan keberanian kepada dirinya sendiri, "Aku akan menjaga Naruto! Bagaimana pun caranya!? Aku juga akan menyusun rencana agar bisa mendekati Sasuke itu dan menciumnya!" Kyuubi terlihat mengepalkan tangannya ke atas udara, cukup out of character memang.
"Tadaima~" Telinga rubah Kyuubi bergerak seiring dia mendengar suara halus adiknya di depan pintu, adiknya sudah pulang. Kyuubi pun berdiri dan berjalan ke arah pintu masuk.
"Okaeri, Naru-chan~" ujarnya lembut, sambil mengelus surai keemasan adiknya, ada perasaan lega bercampur senang saat mendapati adiknya pulang dengan keadaan tanpa kekurangan apapun "Bagaimana harimu, heh?"
Naruto tersenyum kepada kakaknya dan mulai memasuki apertemen itu, wajahnya tersenyum, "Lumayan mengasikan, a-agak aneh juga sebenarnya," jawab Naruto dengan wajah lemas, sambil menenteng bungkusan besar berisi baju, wig, make up, dan perlengkapan menyamarnya yang lain, "Kalau kau bagaimana, Kyuu-nii?"
"Penuh kejutan, dan cukup menyebalkan!" Kyuubi tersenyum misterius, dalam hati mengumpat kesal karena tiba-tiba dia teringat pada Si brengsek Uchiha sulung itu, "Hei, bungkusan apa itu, Naruto? Apa ada makanan?"
Sontak, Naruto langsung saja mendekap plastik tersebut di dadanya dan mengeleng pelan, "T-tidak adda apa-apa Kyuu-nii~." Bodohnya Naruto, justru jawaban seperti itulah yang dapat membuat Kyuubi semakin penasaran.
Kyuubi tersenyum iblis, dengan kekehan mengerikan, dia berkata, "Hayooo~ apa yang kau sembunyikan dari kakakmu ini~ Na-ru-to~?" Naruto mengeleng dan berusaha tetap mednekap bungkusan itu di dadanya.
"I-ini bukan apa-apa, Kyuu-nii!" Naruto bersikeras melindungi plastik itu. Sedangkan Kyuubi semakin melangkah maju dengan tampang jahil+ ingin menerkam Naruto.
"NAH! AYO PERLIHATKAN PADAKU, NARU-CHAN!" Kyuubi sontak menarik bunngkusan tersebut dari Naruto. Naruto bersikeras mempertahankan bungkusan tersebut sambil menjerit-jerit.
"Tidak! Tidak! Tidak mau! Tidak mau!"
"Ayo Naruto! Perlihatkan pada kakakmu ini!"
Naruto mengeleng kuat-kuat, masih tetap mempertahankan bungkusannya itu. Jika ketahuan, habislah dia! "Tidak mau! Pokoknya tidak mau!"
"Pokoknya kau harus memperlihatkannya padaku Nar—u..." suara keras Kyuubi berhenti seketika saat Kyuubi melihat sedikit leher Naruto yang terekspos 1 kancing bagian atasnya terbuka. Naruto membatu dan cengo, melihat kakaknya yang terlihat sedikit membulaatkan matanya.
Tiba-tiba, Naruto merasakan sesuatu mencengkram bahunya dengan kuat, Naruto meringgis, dan mendapati bahwa ternyata tangan kakaknya itulah yang mencekram bahunya, "A-aduh Kyuu-nii, lepaskan~," pinta Naruto sambil melihat wajah Kyuubi, dan betapa kagetnya Naruto saat melihat ekspresi kakaknya saat itu.
Mata merah yang berkilat seperti tengah marah, rahang yang mengeras, alis mata yang sedikit meliuk ke bawah, dan gigi yang digertakan. Ada apa ini? Pikir Naruto agak ketakutan dalam hatinya, "A-ada apa, K-Kyuu-nii?" ujar Naruto pelan, takut malah membuat kakaknya semakin marah padanya.
"Naruto!" Kyuubi memulai pembicaraan dengan nada dingin, terdengar begitu serius juga menusuk di telinga Naruto, membuat pemuda bersurai pirang itu semakin tak habis pikir, kenapa kakaknya dapat berubah sifat dalam waktu kurang dari 1 menit, kenapa? pada bahu Naruto semakin kuat, Naruto mengaduh tertahan dalam hati, "Jawab aku, Naruto! Bekas merah apa yang ada pada lehermu itu!?"
Naruto sontak memegangi lehernya yang sedang dalam keadaan terlihat, hampir pada seluruh bagiannya itu. Ya, Naruto sadar bahwa bercak merah tadi sudah ada di sana, tapi Naruto tidak menyangka bahwa kakaknya akan semarah ini jika melihat bekas seperti itu. Dengan wajah memerah Naruto berkata terbata-bata, "I-i...itu...a-ano..." sambil mengingat-ingat hal yang terjadi padanya sebelum itu.
.
.
.
.
Flashback
Naruto menggeser pantatnya di sofa dengan tidak enak. Sekarang, di ruangan kecil yang sedang dia tempati ini, ada 2 buah sofa berlengan berukuran, disertai juga dengan meja kecil di tengah-tengahnya(jika ingin menaruh minum). Inilah dia, tahap ke-2, dan Naruto sama sekali tidak dapat berhenti bergerak, disebabkan adanya Uchiha bungsu yang sedang duduk di depannya sambil membaca lembar pendaftarannya.
"Hmmm, Uzumaki Akashi," ujar Sasuke sambil melepas kacamata bacanya dan melempar lembar pendaftaran Naruto ke atas meja.
Jantung Naruto berdebar kencang, takut tiba-tiba saja Sasuke langsung menyerigai lebar di depannya dan dengan iblisnya mengatakan, 'Huahahaha! Karena kau sudah membuat pantatku sakit, kau tidak akan lulus dari tahap audisi ini'! DAMN! Lalu bagaimana nasib kameranya jikahal itu benar terjadi? Haruskah dia menyelinap masuk kembali ke apartemen Sasuke dengan pakaian ala guru Gui yang mengerikan itu? Ya, sepertinya itu adalah option terakhir yang akan Naruto pakai jika Uchiha sialan itu benar-beanar mengatakan seperti apa yang dia bayangkan.
"Y-ya? Saya?"
Sasuke terlihat menautkan kedua tangannya dan menyandarkan dagunya di situ, " Pada kolom pertanyaan 'Jika saya terpilih, saya akan...' kau menjawab: Saya akan mengambil banyak foto, dimana Uchiha Sasuke akan terlihat keren di sana. Begitu?"
"Ya, begitulah," sebisa mungkin, Naruto memberikan cengirang 5 jarinya, menutupi kegugupannya.
"Apakah itu artinya, aku ini tidak aslinya keren?"
Bhuk! Pertanyaan tersebut serasa sekali menusuknya ke otak Naruto. Ini permainan kata! Puji dia dan dia akan menerimamu, Naruto! Dengan cepat, otak Naruto memproduksi kata-kata pujian yang sekiranya bagus untuk dia keluarkan, dan juga membuat agar jawabannya di lembar pendaftaran memiliki arti yang menyanjung.
"YES, of course!"
.
.
.
Naruto sontak langsung membengkap mulutnya, dalam hati dia mengumpat 'Lidah kurang ajar, lidah kurang ajar, lidah kurang ajar, lidah kurang ajar, lidah...' dan begitulah terus umpatan Naruto hingga kiamat! Perasaan Naruto semakin tidak enak, ketika melihat Sasuke menyerigai dalam diam, seolah merencanakan sesuatu yang jahat. "Kami-sama~" desah Naruto dalam hati.
Prakk! Sasuke terlihat melempar kacamata baca yang dia pakai sejak tadi ke atas meja. Mata onyx hitamnya menatap lekat ke arah pemuda yang sedang menyamar menjadi seorang gadis di depannya itu. Pemuda yang terlahir dengan warga Uchiha itu menyeringai penuh arti, 'Benar-benar pemuda yang menarik~' pikirnya. Entah kenapa, tiba-tiba Sasuke jadi mengingat seorang anti-fansnya di jejaring sosial yang cukup menyebalkan, 'kira-kira wajah orang itu seperti apa ya?'
Sasuke memutuskan berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekati Naruto yang masih terlihat tegang, tatapan matanya tajam menggoda kepada Naruto, dan itu sukses membuat sang pemuda yang sekarang tengah menjalankan misi menyamar menelan ludah ketakutan. Terlebih lagi, saat Sasuke tiba-tiba saja memerangkapnya dengan memegang kedua sisi lengan sofa, sehingga Naruto berada di antaranya sofa yang dia duduki, dan Sasuke yang menjadi penghalang di deapannya. Mampuslah kau Naruto! Salah-salah bisa di-rape!
Naruto mencoba memaksakan senyumnya kepada Sasuke, bersikap anggun dan tenang, "Ada apa Uchiha-san? Kau ingin balas dendam denganku karena aku membuatmu jatuh tadi, Uchiha-san?"
Sasuke tidak menjawab, tetap mempertahankan ekspresi datarnya, seraya mendekatkan wajahnya pada Naruto, tak lama dia menyeringai, "Kau manis."
Blush! Semburat merah menyala langsung saja mampir di kedua pipi Naruto. Yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah itu semburat kemerahan karena malu atau karena marah?
"A-apa-apaan kau! J-jangan memanggilku manis! grrrrhh!" Naruto menggeram, masih dengan keadaan blushing parah dan Sasuke yang melihat itu hanya dapat tertawa dalam hati karena berhasil mengerjai pemuda setengah-setengah di depannya ini.
"Dengarkan aku, Uzumaki-san," Sasuke memulai pembicaraannya dengan nada serius, "Ada satu pertanyaan yang jawaban milikmu menurutku sangat menarik, kau mau tahu itu?"
Naruto mengeryitkan dahinya bingung, wig panjangnya dia mainkan karean tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya... dengan segala kemantapan hati plus nekat, Naruto pun mengangukan kepalanya. "A-apa itu?"
"Pertanyaannya adalah, 'bagian apa yang anda sukai dari Uchiha Sasuke untuk anda potret?' dan kau menjawab, 'daerah selangkangan dan pantat'," Sasuke mendekatkan jaraknya sedikit lagi dengan wajah Naruto yang masih tampak membatu dan tidak tahu harus berbuat apa, "Aku tidak tahu, bahwa kau begitu bernapsu sekali padaku. Nona Uzumaki-san..."
Naruto cengo luar biasa, kondisi otaknya yang pas-pasan mempersulitnya untuk mencerna kata demi kata yang Sasuke ucapkan. Dia hanya mampu berbisik pada dirinya sendiri seperti, "Hah?", "Apa?", "Benarkah?" yang sama sekali tidak dia tahu jawabannya.
Naruto mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke polos. Dalam hatinya, Naruto sudah mulai berpikir ywang tidak-tidak akan dirinya sendiri, seperti kenapa 'akhir-akhir ini tubuh Naruto suka bertindak di luar perintah otak' dan 'apakah dia masih normal?'
"Kau yakin aku menjawab seperti itu?" Naruto masih berbicara eperti orang kena sentrum listrik, pelan, sayu, dan dengan tatapan kosong.
Dalam hatinya, Dasuke tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi orang di depannya, akhirnya... dalih mengalah, Sasuke menjawab jujur, "Tidak, aku berbohong, dasar Idiot!"
.
.
.
Hening.
.
.
.
Hening.
.
.
.
DUAKKKK!
"APA! KAU BERBOHONG!" Naruto langsung menyundul sekali lagi kepala batunya ke hidung Sasuke, membuat Sang aktor tampan tersebut terpental dan jatuh terduduk di atas meja kecil di belakangnya.
Sasuke terdiam, memasang wajah tanpa ekspresi yang sejadi-jadinya ketika harus menghadapi Naruto yang tengah berdiri di depannya itu. Diam dan mengelus-elus hidung yang kesakitan adalah pilihan terbaik sekarang.
Naruto tampak benar-benar marah sekarang, kedua tangannya terkepal erat, bahkan aura merah, hasrat ingin membunuh sudah berkoar-koar di belakang tubuh Naruto, "K-kau..," Naruto mengeram, dia mengepalkan tangannya semakin kuat, "Dasar gay brengsek! K-kau membuatku jadi jijik dan bingung pada diriku sendiri, da-dan kau juga membuatku ragu akan orientasiku sendiri! TEME! BASTARD! BRENGSEK! grrrhhh!"
.
.
.
.
.
"A-ah! A-apa yang baru saja tadi kubilang?!"
Gotcha! Sasuke menyeringai lebar, sangat lebar hingga malah hampir terlihat seperti tersenyum, sedangkan Naruto, tiba-tiba saja wajahnya seperti ketiban batu seberat 10 ton.
Demi Tuhan, Naruto benar-benar mengutuk kebiasaan buruknya yang jika sudah begitu marah, maka dia akan berna-benar keceplosan. Naruto mati kutu sekarang, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan satu-satunya cara untuk bebas adalah—"E-ehm, Uchiha-san, saya ingin pergi ke kamar kecil sebentar," —kabur.
"Berhenti di situ!" perintah Sasuke keras, membuat Naruto (Akashi) yang sudah ingin lari dan membuka pintu ruangan berhenti melangkah seketika. Entah apa yang membuatnya menjadi sepenurut itu.
Tiba-tiba saja, Naruto merasa tubuhnya terangkat lalu melayang di udara beberapa saat, tetapi dalam sekejab langsung dijatuhkan ke sofa kecil yang dia duduki sebelumnya. Siapa pelakunya? Tentu kalian tahu siapa orang jahanam itu.
Naruto memberontak kaget, degup jantungnya sudah mulai tidak karuan, dia ketakutan dan merinding saat Sasuke menahannya di sofa, tubuhnya dan tubuh Sasuke dekat sekali, dan itu yang membuatnya takut, "Le-lepaskan aku Uchiha-san! G-grrrrr!"
"Tidak akan Dobe, sebelum aku mnedengar lagi apa yang keluar dari mulutmu barusan!" balas Sasuke, tetap menahan tubuh mungil Naruto di sofanya. Sasuke tidak akan melepaskan pemuda yang sedang menyamar di depannya ini, dia tidak akan melepaskannya.
Naruto mencoba memberontak lebih keras, bahkan kakinya sudah menginjak-injak kaki Sasuke dengan sepatu hak tingginya, dan Naruto merasa, rambut yang berada di wignya sudah benar-benar berantakan sekarang "Le-lepaskan aku! K-kau brengsek!" Ini gila! Ini benar-benar gila, Naruto tidak pernah menyangka audisi tahap keduanya akan segila ini!
Sasuke merendahkan wajahnya, mendekatkan bibirnya pada telinga Naruto dan berbisik dengan suara baritone-nya, "Kau tahu sesuatu, nona Uzumaki... bahwa pernah ada satu orang saja yang berani memanggilku gay secara gamblang." Sasuke terkekeh ketika tubuh yang ditahannya itu bergetar hebat, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tidak! Kita tidak pernah bertemu! Lepaskan aku breng— ha-hah!? Apa yang kau lakukan!" Jerit Naruto histeris, Naruto merasakan impuls-impuls asing dari daerah lehernya saat Uchiha Sasuke menjilati lehernya. Hah? Benarkah?
"Kau tahu, aku mencium bau yang tak asing darimu..," Sasuke mengendus leher Naruto dan mengecupnya pelan. Tak membiarkan pemuda(dengan wujud wanita) di dekapannya itu pergi. Hanya 1 pertanyaan saja sekarang, kenapa sejak tadi Naruto berteriak tidak ada orang yang sadar di luar sana!? "Perlu kau tahu nona Uzumaki, bahwa ruangan ini kedap suara," ujar Sasuke, dengan seringai tersembunyi, masih mengecup leher Naruto dengan bibirnya.
'Oh, great~' pikir Naruto putus asa dalam hati. Habislah sudah keperja—
Tok! Tok! Tok!
"Sasuke, waktunya sudah habis, sudah saatnya peserta selanjutnya..." Suara Tsunade terdengar keras dari luar ruangan. Membuat Sasuke sontak tersadar dan menjauhkan dirinya dari pemdua yang sudah terlihat amat kasihan di depannya.
Twitch— sebuah perempatan terlihat di dahi Sasuke, "Ck, mengangu saja," lalu melihat orang di sebelahnya yang tengah sibuk merapikan penampilannya. Sasuke menyeringai, 'Benar-benar pemdua yang menarik,' innernya.
Naruto berdiri dari duduknya ketika sudah merasa penampilannya cukup rapi, dia menunjuk Sasuke tepat di depan hidungnya sambil mengertakan giginya kesal, wajahnya merah padam karena marah—atau mungkin juga karena hal lain—, "K-kau!" Naruto memberikan tatapan membunuh pada Sasuke, "Aku berjanji akan membalas ini!"
Dan Sasuke hanya menyeringai.
Braaaakkk! Naruto pun langsung pergi keluar sambil membanting pintu sebagai berntuk kemarahannya. Naruto benar-benar tidak terima akan hal ini.
Setelah itu, Sasuke merasakan kepalanya pusing mendadak, dia tersenyum miris, lalu menutup wajahnya seperti orang stress, "Apa yang kulakukan sih?" ujarnya, tanpa sadar bahwa wajahnya sudah merah padam. Dengan cepat, Sasuke segera mengambil segelas air putih di dalam ruangan itu, lalu meminumnya dengan cepat, "Bau lemon benar-benar membuatku gila."
.
.
.
Flashback end
"Naruto!" Suara tegas Kyuubi meruntuhkan segala macam lamunan Naruto. Naruto tersentak dan memasang wajah tanpa dosa ditambah dengan memohonnya.
"K-Kyuu-nii, aku serius, ini bukan bekas apa-apa~,"jawab Naruto, berusaha membela dirinya.
Kyuubi mengeleng, masih memperhatikan bercak kemerahan yang ada pada leher Naruto. Kyuubi sangat kenal tanda seperti ini. I-ini... ck— Kyuubi berdecak kecil, percikan api kecemburuan menyusup ke dalam dadanya, Siapa orang sialan yang berbuat seperti ini pada adiknya!? Sungguh, Kyuubi ingin sekali merobek bibir nista orang tersebut.
"Naruto! Katakan padaku! Siapa orang yang berbuat ini padamu!" Kyuubi semakin mencekram tangan adiknya dengan keras, kemarahannya yang mendominasi benar-benar membuatnya kehilangan akal sehat, "Naruto! Jawab aku!"
"Kyuu-nii!" Naruto memasang wajah memelas yang sejadi-jadinya, dia hendak menanggis, Naruto tak pernah melihat kakaknya terlihat semarah itu, " K-Kyuu-nii! Sungguh, i-ini—Gyaaahh! Kyuu-nii!" Naruto memekik sekali lagi di hari itu ketika menyadari kakaknya menariknya masuk dalam pelukannya, dan langsung menerjang lehernya.
'Naruto! Kau milikku! Tidak akan kuberikan kau pada orang lain!' inner possive Kyuubi bekerja, akal sehatnya sudah tak berjalan lagi sekarang, dia hanya ingin menghapuskan jejak (siapapun orangnya) yang ada di leher Naruto.
"Naruto~," desah Kyuubi saat menghirup bau tubuh adiknya tersebut, harum! Kyuubi menyukainya. Kyuubi sangat menyayangi adiknya, dan sadar bahwa rasa sayangnya itu sudah berlebihan. Perasaan itu sudah berubah menjadi perasaan yang bahkan Kyuubi sendiri tak mampu menjabarkannya. 'Naruto! Kau milikku!' batin Kyuubi berteriak, dia ingin lebih!
"K-Kyuu-nii! Kau kenapa!" Jeritan Naruto tak diindahkan oleh Kyuubi, Kyuubi malah semakin ganas menyesap leher jenjang Naruto itu. Naaruto berusah mendorong kakaknya yang memang lebih kuat itu, "K-Kyuu-nii~"
"Apa yang kalian berdua lakukan!"
Sebuah suara asing dan tegas sontak membuat Kyuubi tersadar dan menjauhkan tubuhnya dari Naruto, saliva meluncur turun dari bibir kemerahan Kyuubi dan Naruto segera menutupi seluruh tubuhnya dengan plastik besarnya, ada getaran mengerikan yang Naruto rasakan dalam tubuhnya. Di depan pintu, Iruka terlihat menatap nyalang Kyuubi yang tengah mengelap saliva dengan tangannya, rahangnya mengeras menahan kemarahan lalu mata kecoklatan Iruka pun melihat ke arah keponakannya yang berambut pirang yang masih terlihat syok.
"Naruto!" Iruka bersuara dengan amat tegas, "Kembali ke kamarmu! Sekarang!"
Naruto menganguk lesu, lalu berjalan lunglai ke arah kamarnya. Sekarang, yang tersisa hanyalah Iruka dan Kyuubi yang entah kenapa saling bertatapan tajam satu sama lain. Iruka berjalan pelan, mendekat ke arah Kyuubi, kedua tangannya dia masukan ke dalam kantung jaketnya sejak tadi, menahan kepalan tangannya yang benar-benar ingin dia layangkan pada Kyuubi.
Sesaat, Iruka berjalan melewati Kyuubi hingga berheenti di sampingnya, "Kyuubi!" Iruka memulai kalimatnya, "Naruto itu adikmu!" dan Iruka berjalan lagi, melewati Kyuubi yang masih terdiam memikirkan apa yang dia lakukan.
"T-Tapi..."
"Kyuubi! Naruto itu adikmu, jangan sampai biarkan perasaan itu tumbuh!" Iruka berjalan cepat ke arah kamarnya dan BRAK! Menutupnya dengan keras. Siapa sangka? Paman Iruka yang terkenal lembut dapat menjadi semengerikan itu jika menyangkut Naruto.
.
.
.
To Be Continued...
Author Note: Yang dimaksud judul 'The DAMN double bet' itu artinya pertaruhan Onyx NightskyXBlue Sapphiresku dan pertaruhan antara ItachiXKyuubi loh ya~. Yeee! Akhirnya selesai juga chapter 5 ini, benar-benar menguras tenaga banget mengetiknya loh. Bayangkan, word dari judul sampai Author note ini aja mencapai lebih dari 7.500 kata! /Jari tiba-tiba langsung jadi kayak plastisin, errrgghh! Ngomong-ngomong soal cerita, Apakah cerita ini membosankan, reader? Entah bagaimana, saya merasa cerita ini terasa sangat membosankan( terlalu panjang pula!). Kalau memang banyak reader yang tidak puas dengan perkembangan cerita ini, saya akan pikirkan alur yang lebih mendebar-debarkan lagi, oke? Tapi, saya butuh reviewnya~ /wink/. Review ya~
Omake
Itachi mengoleskan obat luka di bibirnya sekali lagi sambil tersenyum misterius. Sudah sekitar 1 jam dia terus-terusan menatap cermin wastafel di depannya Dan entah kenapa dia tidak bosan-bosan.
Krieettt~ Pintu toilet terbuka, dan terlihatlah seorang pemuda berambut hitam bergaya spike, wajahnya pucat dan bibirnya bergetar. Ah ya, dan sudah 1 jam pula, pemuda bernama Sasuke ini berada dalam kamar mandi.
Mata kehitaman Sasuke melihat kakaknya itu dengan pandangan datar, "Kuso-Aniki, kenapa wajahmu mengerikan begitu? Berhentilah tersenyum," ujarnya sarkatis.
Itachi berbalik, dan tersenyum penuh arti pada adiknya, "Ah~ Otouto-chan~ Kau harus tahu bahwa hari ini aku mendapatkan kembali rasa manis yang sudah lama tidak kurasakan~" ujarnya dengan riang lalu kembali membalikan badannya ke arah cermin, "Karena itu, aku selalu ingin tersenyum saat melihat bekas yang ditinggalkan oleh Si manis itu," Itachi menyentuh luka lebam di pipi dan luka sobek di bibirnya dengan lembut.
"Oh...," jawab Sasuke datar, memegangi perutnya.
"Lalu.. Otouto, apa yang terjadi padamu? Sudah 1 jam kau terus bolak-balik masuk wc?"
Sasuke menunduk, memegangi perutnya yang terasa mulas lagi, Sasuke bergegas berjalan lagi ke dalam wc di belakangnya, tentunya dengan langkah yang terseok-seok "Ada seseorang yang memasukan obat pencahar ke dalam minumanku."
"HAH?!"
"Dan sepertinya aku tahu siapa pelakunya."
Iria-san. 13/11/12. 7.890
