Story: DAMN

Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto

DAMN! © Iria-san

Rating: T+ (M untuk bahasa-bahasa vulgar yang saya gunakan~ gak naik rate beneran loh yah!)

Genre: Humor & Romance yang diragukan

Main Pairing: Uchiha Sasuke(23) & Namikaze (Uzumaki) Naruto(21).

Other Cast: Umino Iruka(31) & Hatake Kakashi(34), Tsunade(50+), Uchiha Itachi(26), Namikaze Kyuubi (26) dan beberapa original character.

Warning: AU, Typo, Mistypo, super OOC for Uchiha Brothers, Incest, Boys Love, Shounen-ai, gaje, bahasa mungkin berbelit-belit dan tidak terkendali alias asal sembur, etc. . If like, you must to read it, if don't like, please read this warn before you press back button!/ngototness/

Word Count for this chapter: 6000+


Author Note: Yep! Chapter 7! Males banyak cing-cong karena saya sudah terlalu lama membuat reader menunggu. /Digampar/


Balasan review: Saya sudah membalas review yang log in, kalau merasa tidak ada, berarti saya error. Silahkan tagih balasan review pada saya.

Salasutunaru: Hah? Cara jadi author? Itu mudah... ^^ itu mudah, buat akun, tulis ceritamu, publish, dan anda akan menjadi author~ /plak!/

Misterius: Tidak apa-apa kok, rated naik? Entahlah... bagaimana menurutmu? Thanks for RnR.

Kira Hanazawa: A-apa? 22 tahun? e-errr... okee... sepertinya terbalik nih... sya masih berumur 14 tahun, ja-jadi tidak perlu dipanggil kakak. SasuNaruto moment kayaknya chap 8 paling banyak deh~. Hehehe.. e-errr.. terima kasih sudah review yah^^.

Aoi Ciel: Hahaha, terima aksih sudah review, maaf yah, lama sekali ngaretnya ni cerita~ /bungkuk-bungkuk/.

Izhta Dark Neko: Ya, ini sudah update, terima kasih.

miss bawell: Silahkan terus membaca ke bawah dan anda akan tahu apa pendapat saya tentang review anda di akhir cerita... terima kasih sudah review. ^^

Seo Shing Young: Terima kasih sudah bersedia menunggu fic tidak jelas ini. Hehehe, Thanks for RnR.

MJ: Aku juga selalu berdoa agar mimpi Naru menjadi kenyataan /eh?/ hehe, thanks udah review~.


TREK.

Sebuah pena yang terbuat dari aluminium terlempar ke depan meja, mengelinding hingga mengenai beberapa lembar kertas yang sudah disatukan dengan clip kecil.

Uzumaki Akashi a.k.a Namikaze Naruto, terdiam dengan posisi duduk yang tegang di atas kursi, menatap lekat-lekat lembaran yang ada di depannya. Lembaran kertas yang berisi perjanjian kontrak dan selembar tiket.

Naruto mengangkat kepalanya, matanya yang memakai softlens kemerahan berkedip-kedip cantik sembari menatap wanita berumur 40-an tahun di depannya itu. Wanita itu berambut pirang tetapi sedikit lebih kusam dari rambut pirang milik Naruto dan ia sangat cantik untuk ukuran wanita berumur 40-an tahun, dadanya juga besar.

Naruto masih menatap wanita itu dengan tatapan tidak percaya, "Aku diterima?"


Chapter 7: DAMN! You Catch Me Now! (Awas! Judul gak nyambung!)


"Aku diterima?" ulang Naruto, rahangnya jatuh dan membuat mulutnya terbuka lebar seperti orang bodoh. Wanita berumur 40-an tahun di depannya hanya terkikik kecil.

"Kau tidak percaya? Nona Uzumaki?"

Naruto mengeleng pelan, dia sudah tahu pasti dia akan diterima jika seandainya penilaian ini hanya diambil dari kemampuan dalam memotret, dia fotograper profesional, ingat? Tapi, kenyataannya...penilaiannya ini menyangkut dua hal, kemampuan memotret dan membangun relasi dengan Sasuke. Kalian tentu tahu kan, Naruto sudah banyak mencari masalah dalam wujud Akashi? Jadi... mengapa dia bisa diterima?

"Ba-baiklah kalau begitu~ e..errr... aku hanya sedikit tidak menyangka," ujar Naruto canggung, mengaruk-garuk pipinya yang serasa gatal. Tsunade kembali tertawa.

"Begitulah yang selalu dikatakan orang yang berhasil," jemari lentik Tsunade menyodorkan sebuah foto di depan Naruto, sebuah foto bayang-bayang yang indah, "Aku memuji hasil fotomu dalam tahap audisi pertama, nona Uzumaki!" ujarnya dengan tampang sumringah. "Benar-beanr seperti hasil seorang profesional."

Naruto tersenyum tipis, melihat sebuah foto yang kemarin dia ambil dengan mengunakan kamera ponsel 2 megapixel. Memotret rombongan rusa, apalagi dengan kamera 2 megapixel dan mendapatkan hasil foto yang jelas tentu sangat menyusahkan, hasilnya pasti akan menjadi kabur. Jadi, Naruto memutuskan untuk membuat foto tersebut menjadi bayang-bayang saja, tentunya dengan kesan indah dan misterius. "Terima kasih banyak, Tsunade-sama..."

"Karena itulah kami memutuskan untuk merekrut-mu dalam pembuatan biografi ini, nona Uzumaki~ Kau sepertinya sangat hebat di bidang ini dan pembuatan itu juga harus segera dimulai!" ujar Tsunade sekali lagi, melirik lembaran-lembaran kertas di atas meja di depan Naruto. Perjanjian Kontrak. "Kalau kau menerima pekerjaan ini, kau bisa menandatangani kontrak itu."

Naruto menganguk pelan, agak kurang yakin juga. Hingga akhirnya, tangannya bergerak maju meraih pena yang tadi dilempar Tsunade padanya dan mengoreskan tanda tangannya di sana dengan cepat. Naruto mengangkat wajahnya dan mendapati Tsunade yang berdiri dari duduknya tersenyum penuh kepuasan, kedua tangannya terlipat di depan dadanya.

"Bagus," puji Tsunade cepat, tangan-tangannya membereskan lembaran-lembaran kertas kontrak yang sudah ditandatangani oleh Naruto, "Besok, jam 9 pagi kau akan terbang ke Okinawa mengikuti Uchiha Sasuke, dia harus syuting selama 4 hari di sana. Berkerjalah dengan baik, bersikaplah sopan pada staf-staf di sana, dan hasilkanlah foto-foto keren, lucu,dan menakjubkan yang bisa dengan bangga kita masukan dalam buku biografi Uchiha Sasuke. Mengerti?" Tsunade memotivasi Naruto seraya berjalan ke arah pintu ruangan itu, dia masih ada urusan setelah ini.

Naruto menganguk mantap, "Baik Tsunade-sama!" Dan mengepalkan tangan kanannya, "Aku akan berusaha mengambil kameraku—eh! Foto dengan sebaik mungkin!"

"Hahaha, jangan panggil aku Tsunade-sama, panggil saja aku Tsunade Baa-san~ seperti itulah semua staf memanggilku!" Tangan Tsunade membuka handle pintu dan bersiap untuk keluar, sebelum akhirnya dia berbalik dan tersenyum lebar sekali lagi, "Ah ya, dan berterimakasihlah pada Uchiha Sasuke yang sudah memilihmu. Kau tahu? Sebenarnya kami masih punya 1 tahap audisi lagi, tetapi Si Uchiha itu berkeras hati bahwa kaulah yang terbaik. Jadi, berterimakasihlah padanya!"

.

.

.

"Eh?" dan Naruto langsung merasakan firasat buruk setelah mendengar kalimat Tsunade tersebut.


"Naruto?" Kyuubi melangkah masuk ke dalam kamar Naruto dan mendapati adiknya sedang kalang kabut, berjalan cepat dari sisi kanan kamar hingga ke sisi kamar yang lain, membawa-bawa berbagai jenis baju di tangannya dan memasukannya ke dalam sebuah koper berwarna kuning, "Naruto? Mau ke mana kau?"

Naruto menoleh, dan tersenyum singkat pada Kyuubi, "Ah~ e...ehmm, aku akan pergi ke Okinawa selama 4 hari, aku akan berangkat besok pagi jam 9."

Raut muka Kyuubi berubah saat mendengar perkataan adiknya tersebut, menjadi agak sedikit sedih, "Untuk apa?"

"Pekerjaan potografer," jawab Naruto singkat, tersenyum lebar sembari mendatangi kakaknya itu, "Kenapa mukamu seperti itu Kyuu-ni? Hahaha!" canda Naruto dengan nada mengejek.

"Aku ingin menemanimu Naruto!" Kyuubi mengerutkan keningnya kesal, "Aku khawatir kalau terjadi sesuatu yang buruk denganmu! Ba-bagaimana kalau ada seseorang yang bermaksud buruk denganmu! Mungkin saja ada orang yang ingin memperkosamu di luar sana!" seru Kyuubi lagi dengan rahang yang mengeras menahan marah dan khawatir.

Naruto menghela napas singkat, kekhawatiran kakaknya ini menurutnya sudah sangat berlebihan. Hey! Ayolah! Dirinya itu adalah seorang lelaki, dan lelaki tidak diperkosa! Setidaknya itulah yang selalu dipikirkan Naruto tanpa benar-benar melihat kenyataan.(Naruto tak pernah tahu apa yang terjadi pada kakaknya di masa lampau)

"K-Kyuu-nii~ aku ini berumur 21 tahun, ingat? Aku bisa menjaga diriku~ dan aku tidak mungkin diperkosa!"

"Kau yakin?" tanya Kyuubi dengan muka mengintrogasi tingkat tinggi.

Naruto menganguk mantap, mengacungkan jempolnya, mengedipkan 1 mata, dan nyengir lebar memperlihatkan gigi-gigi putihnya. Kyuubi yakin saat itu dia melihat kerlingan mengerikan dari gigi adiknya, seperti salah satu tokoh karakter di anime terkenal yang hobi memakai baju ketat berwarna hijau lumut yang menjijikan, siapa namanya? Gay? Guy? Atau Gai? Ah~ terserahlah!

"Kyuu-nii! Kau bisa percaya padaku!" jamin Naruto, masih cengar-cengir tidak jelas sementara Kyuubi masih terlihat masih berkutat dengan pikirannya untuk mengurangi rasa khawatirnya yang berlebihan.

Kyuubi berdecak, "A-aku akan memberikanmu 2 botol semprotan lada dan—" terlihat tidak tahu bagaimana kelanjutan kata-katanya Kyuubi melihat adiknya yang menatapnya polos, mata bulat, biru, besar dan cantik itu menatapnya dengan polos! Astaga! Inilah yang Kyuubi takutkan, dengan wajah seimut itu pasti akan membuat banyak sekali predator yang ingin memangsa adiknya. ARGHH! Kenapa Kami-sama harus memberi wajah seimut pada Naruto?! Kenapa pula Naruto tidak menyadarinya!? Desah Kyuubi dalam hatinya, hampir gila.

GREPH!

Tiba-tiba saja, Kyuubi yang masih terlalu takut langsung merengkuh tubuh Naruto yang sedikit lebih kecil dari badannya itu. Mendekapnya dengan amat erat, seolah tidak ingin melepaskannya hingga kiamat nanti, "Naruto~" Kyuubi menengelamkan wajahnya pada helaian jabrik adiknya dan menghirup aroma shampo di sana, "A-aku sangat menyanyangimu dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu!"

Naruto membeku dalam pelukan Kyuubi, kedua tangannya yang berada di dada Kyuubi merasakan getaran-getaran detak jantung yang begitu cepat, "Kyuu-nii~" dengan suara kecil nyaris seperti bisikan, Naruto memanggil kakaknya, "Kenapa detak jantungmu cepat sekali?"

Sontak, Kyuubi langsung melepaskan pelukannya dari Sang adik, rona-rona kemerahan menjalar sedikit demi sedikit di wajah Kyuubi. Untunglah Kyuubi dapat menghilangkannya dengan cepat, "Tidak apa-apa!" jawab Kyuubi berusaha bersikap sebiasa mungkin. Kyuubi mengaruk kepalanya canggung, "Kau yakin bisa menjaga diri?"

Naruto kembali mengangukan kepalanya sambil mengembungkan kedua pipinya, sungguh ekspresi yang seharusnya benar-benar imut, "Aku sudah mengatakannya beberapa kali, Kyuu-nii!Ughh!"

"Baiklah jika kau berkata begitu, Naruto~" Langkah kaki kembali terdengar, langkah kaki Kyuubi yang sedikit mendekat ke arah adiknya dan...

CUPH!

Sebuah kecupan singkat yang bermakna dalam mendarat di kening Naruto, menyalurkan kasih sayang Kyuubi yang begitu besar pada adiknya. Naruto membatu.

"Aku akan mencoba berpura-pura percaya kalau kau akan baik-baik saja."

Setelah itu, tanpa disangka-sangka, Kyuubi mengecup kilat bibir adiknya, hampir tidak terlihat dan hanya terjadi sekitar seperempat detik saja. Naruto bahkan hampir tidak menyadarinya.

Kyuubi berbalik, berjalan tanpa memperlihatkan wajahnya lagi pada Naruto, Kyuubi sama sekali tidak ingin adiknya melihat wajah bak kepiting rebusnya, wajah Kyuubi sudah benar-benar memerah. Hingga akhirnya yang terdengar adalah suara engsel pintu yang menutup dengan perlahan.

.

.

.

Deg...

.

.

Deg...

.

.

Deg...

.

.

Naruto menyentuh dadanya, luapan perasaan tidak terdeksripsi serasa memenuhi dadanya. Begitu menyesakan dan meminta untuk Naruto sadari adalah: detak jantungnya berdetak begitu keras selama beberapa detik sebelum akhirnya mulai berjalan normal kembali.

Aa-apa maksudnya itu?

.

.

.

Iria-san

.

.

.

"Ka-kami sama~" Kyuubi bersandar di dinding, tubuhnya terasa sangat lemas sekali karena detak jantung yang berpacu terlalu cepat. Kyuubi meremas kepalanya frustasi, tidak tahu apa yang dia pikirkan hingga tanpa sadar mencium adiknya.

"ARGHHH!" Kyuubi memekik dramatis, seraya mengacak-acak rambut kemerahannya, menyingkirkan pikiran-pikiran kotor yang mulai memenuhi kepalanya, persetan ada yang mendengarnya atau tidak.

Setelah dirasanya cukup tenang, Kyuubi menengelamkan sedikit wajahnya di lututnya yang tertekuk.

Kyuubi menghela napas, ia serasa ingin menanggis karena perasaannya ini. Ini membuatnya hampir gila, membuatnya tak bisa mengendalikan diri, membuatnya— merasa seperti orang bodoh.

"Kenapa aku bisa menyukai adikku sendiri?"


NAHA/Okinawa Airport, 12.14 PM

Naruto/Akashi bersama rombongannya(kru) berdiri di ruang tunggu bandara itu, melihat seorang pemuda yang datang menyambut mereka sesaat setelah mereka masih merasa kelelahan atas perjalanan udara dari Tokyo ke Okinawa. Mereka hanya diberikan kursi kelas ekonomi, kasihan sekali.

Pemuda bertindik hampir di sekujur wajah dan dengan rambut berwarna orange itu memulai ocehannya, Naruto bertanya ke salah satu kru namanya Pain atau Pein? Entahlah—Naruto tidak terlalu mendengar. Dia adalah sutradara drama yang melibatkan Sasuke dan Sakura sebagai pasangan sentralnya.

"Terima kasih banyak para teman-temanku sekalian karena telah ada di sini," Pein tersenyum, dan melanjutkan lagi perkataannya, "Waktu kita terbatas, dan kita mempunyai banyak lokasi yang harus kita ambil selama 3 hari ini, 1 hari saya berikan pada kalian untuk bersenang-senang sebelum kita kembali ke Tokyo, and well... syuting pertama akan dilakukan di Emerald Beach, karena itu saya menghimbau kalian semua untuk segera pergi ke hotel yang telah kami sediakan."

Pein kembali tersenyum, tapi tindikan di wajahnya malah membuat ia terlihat sangar, pemuda berambut orange itu melirik arlojinya sekilas, "Para aktor dan aktris akan datang ke lokasi syuting segera setelah mereka menyelesaikan fans meeting mereka. Dan karena sekarang sudah hampir lewat jam makan siang, saya tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama dan mari kita segera pergi ke hotel." Pein menepuk-nepuk kedua tangannya hingga seluruh kru(termasuk Naruto) bergegas keluar dari bandara itu sekarang. Menuju bus yang akan segera membawa mereka ke hotel.

"Nona Uzumaki~." langkah Naruto terhenti seketika saat mendengar seseorang memanggilnya, Naruto berbalik dan melihat Pein mengulurkan tangan padanya.

"Y-ya?" Naruto tersenyum canggung, seraya menjabat tangan Pein.

"Terima kasih Nona Uzumaki, saya sudah mendengar berita tentang pembuatan biografi tersebut dari Tsunade, dan saya juga mendengar bahwa anda akan menjadi orang yang mengambil foto-foto khusus Sasuke di berbagai tempat..." Pein terlihat merongoh sakunya, mengeluarkan dan menaruh sebuah kartu pada Naruto, "Itu kunci kamar yang berada di hotel yang sama dengan Sasuke dan artis lainnya, kunci kamar anda, Tsunade-san jelas memberi sedikit lebih banyak fasilitas pada anda dibanding kru yang lain," ujar Pein sambil tersenyum kepada Naruto.

Naruto mengangguk dan tersenyum lebar, "Baiklah kalau begitu, terima kasih."

"Tentu nona manis~" tiba-tiba saja Pein langsung mencolek dagu Naruto dengan jarinya, membuat Naruto membelalakan matanya kaget dan menepis tangan Pein dengan cepat.

Naruto menatap tajam Pein seolah berkata, 'Menjauh dariku! Kau menjijikan'

"Baiklah, saya pergi sekarang..," ujar Naruto ketus dan dingin, segera menyeret kopernya sebelum terjadi hal yang tidak baik padanya.

.

.

.

.

Pein tersenyum, tertawa kecil dalam hati, mengangumi sifat yang dimiliki oleh nona Uzumaki Akashi, "Gadis yang menarik," pujinya sembari mengosok-gosokan dagunya, "Dan dia juga manis~."


Sasuke duduk di kursinya dengan gelisah, pandangan matanya sejak tadi sama sekali tidak fokus pada buku naskah yang coba dibacanya. Dia lebih memilih memandang cuek fansgirl-nya yang (tidak diperbolehkan mendekat oleh kru) menatap haus dan penuh nafsu ke dada bidang Sasuke yang terekpos jelas. Ya, ya... jujur saja, Sasuke resah dari tatapan semacam itu, apalagi dengan hanya memakai celana pendek (trunk) saja membuat Sasuke gerah dan merasa sama dengan telanjang. Tapi tuntutan pekerjaan membuatnya jadi seperti ini, ahh~ kenapa lokasi syuting kali ini harus di pantai? Merepotkan.

"Sasuke-kun~!" Sebuah suara manis terdengar di gendang telinga Sasuke. Sasuke menoleh, mendapati Sakura dengan bikini merah muda yang sewarna dengan rambutnya berdiri di depannya. Bikini yang dipakai Sakura termasuk ketegori sangat sexy, karena memperlihatkan belahan dadanya yang begitu besar dan kulit seputih mutiara yang begitu... Ah! Untuk apa dijelaskan? Toh, Sasuke tidak tertarik dengan semua itu.

"Hn?" Jawab Sasuke dengan sangat datar.

Sakura tersenyum manis, wanita yang identik dengan merah muda ini menunjuk seseorang berdiri jauh dari mereka berdua sambil meminum sebotol minuman isotonik— Naruto.

"Kau tahu Sasuke-kun? Hasil foto wanita itu benar-benar bagus, bagaimana kalau kita berfoto bersama?"

Sasuke terdiam, memilih untuk bepikir sejenak sambil menatap pemuda yang tengah menyamar di sana, "Baiklah," balasnya singkat dan segera beranjak dari kursinya, Sasuke berjalan duluan, diikuti dengan Sakura di belakangnya.

.

.

.

Naruto mengeluh kepanasan sejak tadi, keringat bercucuran dari berbagai macam bagian tubuhnya, wig yang dia gunakan membuat semakin panas, dan matahari tidak berhenti menyalurkan panasnya sejak tadi. Naruto bergumam, melirik pakaian yang dia kenakan. Kalian tahu apa yang Naruto pakai? Sweater kain tipis dan celana pendek selutut, sungguh berbeda sekali dengan kru lain yang bertelanjang dada atau hanya kaus tipis saja.

Siapa suruh kau menyamar Naruto? Lihat penderitaanmu menutupinya sekarang~

"Uzumaki-san." Naruto berbalik saat mendengar suara orang yang memanggilnya dengan tetap menampakan senyum di bibirnya. Tapi senyum manis itu seketika memudar ketika Naruto melihat siapa yang memanggilnya—Yes, Uchiha Sasuke.

Naruto menatap agak sinis ke arah aktor yang dibencinya ini, "Ada apa, Uchiha-san?" tanya Naruto, begitu melihat ada Sakura yang berjalan di belakang Sasuke, Naruto kembali tersenyum berusaha menutupi rasa bencinya. Intinya, senyum itu hanya untuk Sakura bukan Sasuke.

"Eh, Uzumaki-san~ Hei, bisa kau memotret kami berdua?" Ujar Sakura mendahului Sasuke berbicara, dengan riang Sakura memeluk lengan kanan Sasuke. Mengajak Sasuke untuk bergaya. Naruto merengut dalam hati dan mulai mendekatkan mata kanannya ke viewing sistem pada kameranya. Entah kenapa, Naruto melihat Sasuke menaikan sedikit sudut bibirnya. Itu menyebalkan.

Klik

Foto pun didapatkan, Naruto menatap LCD kameranya dengan pandangan muram, di layar tersebut terlihat Sasuke dan Sakura yang begitu dekat, berfoto bersama dengan gaya yang bisa membuat orang berpikir kalau mereka berpacaran—atau memang begitu gosipnya. Cih~ Naruto cemburu.

"Uzumaki-san, bisa aku melihat hasilnya?" Sebuah suara imut kembali terdengar, Naruto terkesiap dan tersenyum lembut pada Sakura yang sudah berdiri di sampingnya, mencungukan kepala hendak melihat LCD kameranya. Naruto menganguk dan mendekatkan dirinya pada Sakura, memperlihatkan layar kameranya. Hitung-hitung melihat lebih dekat tubuh Sakura yang hanya dibalut oleh bikini merah muda yang sexy. Mantap!

Sasuke masih berdiri diam sambil melipat kedua tangannya, melihat wajah Naruto yang tersenyum lembut pada Sakura dan memberikan perhatian pada gadis itu membuat Sasuke merasa agak sedikit—kesal?

"Wuah... Sasuke!" Sakura tersenyum manis pada Sasuke dan tangannya seolah mengajak Sasuke untuk mendekat.

Tetapi Sasuke diam di tempat sambil menjawab, "Hn?"

Sakura menatap layar LCD kamera Naruto dan Sasuke secara bergantian. Pandangan mata Sakura begitu cantik, karena itulah Naruto begitu mengilai aktris ini. "Kau sangat tampan di foto ini, Sasuke-kun~," katanya kagum.

Twitch~ beberapa pembuluh darah di dahi Naruto berkedut tak karuan. Kenapa harus Sasuke yang dipuji seperti itu? Ia sudah terlalu sering mendapat perkataan 'Kau tampan sekali' semacam itu, bukan?! Kenapa bukan dirinya? Kenapa Sakura tidak berkata 'Naruto kau tampan sekali' saja ? Ah, live is never fair!

"Hn, aku memang tampan," ujar Sasuke dengan nada suara bangga yang samar sambil menatap dirinya, menatap Naruto dari ujung kaki hingga ujung wig-nya, menatap Naruto seolah ingin menelanjanginya. Hell yeah~ itu jelas membuat Naruto risih.

"Ada apa Uchiha-san?" Naruto memberanikan diri untuk bertanya, dengan sebuah senyum paksaan sekedar formalitas, sedangkan Sakura, dia sudah pergi karena dipanggil oleh beberapa kru yang bertugas, "Apa ada sesuatu yang salah dengan tubuhku hingga anda melihatnya begitu lekat?

Sasuke tertawa datar, seringaian khas Uchihanya yang menyebalkan terpantri jelas di wajahnya, "Aku hanya sedikit bingung nona Uzumaki," ia memulai pembicaraan, "Bagaimana mungkin di daerah pantai yang panas dengan orang-orang yang memakai pakaian terbuka, kau bisa memakai pakaian seperti itu?"

Naruto menghela napas, berusaha tenang, "Ah... apapun yang kugunakan, tentu itu bukan urusanmu bukan?"

Pandangan Sasuke menajam, "Atau... ada sesuatu yang kau sembunyikan? Hmm, nona Uzumaki?"

Naruto terhenyak sebentar, napasnya tertahan di dada seolah jika dia menghembuskan napasnya, bumi akan kiamat, "Ti-tidak a—"

"Mungkin kau berusaha menyembunyikan sesuatu—" Sasuke memotong, matanya menyipit dan sudut bibirnya kembali terangkat, Sasuke terkekeh dan kekehannya itu membuat Naruto memucat. Sasuke kembali melanjutkan kata-katanya, " Seperti dada rata? Misalnya?"

"UCHIHA SASUKE! CEPAT KEMARI! SYUTING AKAN SEGERA DIMULAI!" Tiba-tiba suara mengelegar Pein terdengar membahana, suara khas seorang sutradara. Teriakan panggilan tersebut tentu saja memecahkan ketegangan yang ada di antara Sasuke dan Naruto. Sasuke terlihat tergangu dengan adanya suara tersebut, raut wajahnya mengeras.

"Kau dipanggil," tegas Naruto datar, mengengam erat kamera yang tergantung di lehernya. Dengan ketus, Naruto kembali berkata lagi, "Uchiha-san, aku tidak akan memotretmu jika kau tidak melalukan aktivitas... dan jika aku tidak memotret foto apapun, biografi dari dirimu yang tampan ini tidak akan selesai," Naruto menekan kata tampan setekan-tekannya, masih kesal karena Sakura memuji orang yang seharusnya tidak perlu diberi pujian lagi.

"Hn, sampai nanti nona Uzumaki..." Sasuke membungkukan badannya sedikit dan memutuskan untuk berbalik. Meninggalkan Naruto yang masih menatap kepergiannya dengan wajah curiga dan waspada.

Naruto mendecakan lidahnya, ada perasaan yang tidak enak yang sejak tadi berdesir di tubuhnya, seperti ada sesuatu yang harus segera dia sadari tapi tidak dapat dia lakukan, cengkraman Naruto pada kameranya semakin erat, "Apa si Uchiha itu..." Naruto mengeleng kepalanya dengan cepat, menepis pikiran yang mampir ke otaknya, "Tidak, tidak, tidak, tidak mungkin! Tidak mungkin si Uchiha itu tahu kalau aku ini laki-laki."

..

.

Ya, semua orang pun tahu bahwa Namikaze Naruto adalah seorang yang Dobe.


Kyuubi berjalan menelusuri jalan setapak sebuah taman dengan wajah kusut dan setumpuk buku-buku super tebal dalam dekapannya. Ini adalah hari pertamanya menuntut ilmu di Universitas Tokyo, dan tahukah kalian? Dia sudah dikerubungi oleh mahasiswi-mahasiswi dan mahasiswa dari berbagai tingkat yang ingin mengajaknya berkenalan atau mengenalnya lebih jauh. Bahkan beberapa orang ber-modus mendekatinya dengan meminjaminya berbagai macam buku tebal yang nista agar dapat lebih dekat dengan dirinya. (Sekarang kita tahu dari mana asal buku-buku tebal di dekapan Kyuubi)

Trrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrt~

Brak !Bruk! Brak! Brak! Brak!

"Shit~" Kyuubi mengumpat pelan ketika merasakan ponsel di saku celananya bergetar, membuatnya sedikit kaget dan langsung menjatuhkan buku-buku yang dia pegang.

Kyuubi berjongkok, mengambil beberapa buku-buku yang berserakan, sembari sebelah tangannya lagi mengambil ponselnya yang ada di saku celana. Ponsel itu terus bergetar menandakan adanya panggilan, bukannya pesan masuk. Ponsel yang Kyuubi pakai adalah ponsel bermodel flip, jadi hanya dengan membuka flipnya saja panggilan akan diterima.

Trek.

"Moshi- mo—"

[Hello My Little Fox, how are you to—]

PLAK!

Karena dengan membuka flip ponsel saja dapat menerima panggilan masuk, tentu dengan menutupnya akan memutuskan panggilan secara otomatis. Dan hal inilah yang pertama kali Kyuubi lakukan begitu mendengar suara menyebalkan nan mendayu yang ia dengar dari seberang jaringan sana.

"Ck, baka Uchiha!" Geram Kyuubi, tangan-tangannya mencoba menyusun buku-buku yang berserakan itu kembali sebelum akhirnya kembali jatuh karena Kyuubi kembali tersentak merasakan getaran dari ponselnya. Sepertinya—Kyuubi sangat sensitif terhadap getaran.

Trek.

[Kyuu-chan~, kenapa kau langsung menu—]

"KUSO! Jangan menghubungiku lagi!" ucap Kyuubi datar dan penuh penekanan di setiap kata-katanya. Lalu— Plak. Kyuubi tanpa pikir panjang langsung kembali menutup flip ponselnya.

.

.

Beberapa detik kemudian.

Trrrrrrrrrrrrrrrrrrrt, sebuah panggilan lagi-lagi masuk, Kyuubi menahan napasnya agar tidak keluar terlalu banyak dan membuat kekesalannya meledak. Erghhh, rasanya Kyuubi ingin merobek buku-buku di tangannya itu untuk melampiaskan kekesalannya.

Trak! Kyuubi membuka flip handphonenya dengan amat sangat kasar. Kyuubi mendekatkan ponselnya ke telinga miliknya, bersiap untuk membentak orang di seberang sana. Tetapi tampaknya ia kalah cepat untuk bicara.

[Jika kau menutup sekali sambungan ini, aku akan me-rape-mu Kyuubi.] ujar orang di seberang sana dengan nada yang serius.

Napas Kyuubi tercekat, tapi Kyuubi tidak akan kalah hanya dengan ancaman basi semacam itu, "Dengar Uchiha! Aku sedang tidak ingin berbicara atau mendengar perkataaan apapun darimu! Aku tidak peduli dengan apapun ancamanmu apapun darimu dan aku—"

[Ancaman?] Kyuubi mengerutkan keningnya, dia mendengar kekeh suara dari sambungan tersebut, kekehan yang menyebalkan, [Aku tidak mengancammu Kyuubi, aku akan melakukannya jika semisalnya aku mau, lagipula—]

Kyuubi terdiam, menunggu kalimat berikutnya, jantunya agak sedikit berdetak lebih kencang dari takaran normal, [—taman yang kau lewati ini sepi, kita dapat melakukannya di semak-semak lebat yang ada di sampingmu.]

Seketika, Kyuubi merasakan bulu kuduknya meremang, ia melihat ke arah sampingnya dan benar saja, terdapat sebuah semak-semak yang begitu lebat di sana. Perlahan, Kyuubi dapat mendengar suara langkah kaki yang mendekat kepadanya, dan Kyuubi dapat merasakan bayangan seseorang menutupi tubuhnya. Dengan gerakan patah-patah, Kyuubi memberanikan diri untuk menoleh.

Dan beginilah Kyuubi, terpaku dengan keadaan berjongkok seraya terus menempelkan ponsel ke telinganya, menatap penuh kekagetan pada seorang pria tampan dengan rambut hitam panjang yang diikat, mata pria itu menyipit saat ia tersenyum penuh kemenangan pada Kyuubi, dan sebuah ponsel juga menempel di telinganya.

—Itachi Uchiha, berada di belakangnya dengan seringaiannya yang khas, seringai ala Uchiha.

"Kyuubi-chan~."

Kyuubi hanya terdiam tanpa ekspresi, masih berjongkok dan berpikir keras bagaimana dia bisa kabur dari sini. Semilir angin lembut menerpa dan membelai wajah Kyuubi, seolah berusaha menlembutkan suasana tegang di antara mereka berdua. Tapi gagal, karena angin itu malah membuat bulu kuduk Kyuubi kembali berdiri.

"Kyuubi," Itachi kembali memanggil, tangan kanan Itachi memencet tombol merah pada ponselnya untuk memutuskan sambungan dan menaruh ponsel itu kembali di saku kemeja yang ia pakai, "Ayo kita berbicara sebentar."


"CUT! CUT! CUT!" Suara Pein—Si sutradara yang dikeraskan menggunakan pengeras suara pun mengema di seluruh lokasi syuting. Pein—entah bagaimana terlihat begitu marah dari raut mukanya, dia mengacung-acungkan pengeras suara miliknya pada Sasuke.

"Ya! Uchiha! Kau tidak fokus! Kenapa tadi kau melihat ke arah kamera, Baka!" Bentak Pein sambil menghentak-hentak kakinya ke tanah. Sasuke hanya terdiam, tapi aura gelap yang keluar dari tubuhnya sudah membuktikan bahwa ia marah. Sasuke tidak pernah suka ada orang yang memarahi dan mengatainya bodoh, termasuk orang yang lebih tua dan yang seharusnya ia hormati.

"Aku lelah," desis Sasuke, matanya menusuk ke arah pria bertindik dengan rambut orange itu, Pein menelan ludahnya, agak sangsi dengan sifat Sasuke yang seperti ini.

"Sasuke!" Pein berdiri dari kursinya, berjalan lurus ke aah Sasuke, "Kau tahu drama yang sedang kita mainkan ini sedang kejar tayang dan kau—"

"Aku lelah!" Sasuke mengulang kembali kata-katanya, kali ini tatapannya jauh lebih menusuk, jauh lebih mengintimidasi, dan jauh lebih menakutkan. Sakura yang berada di dekat Sasuke( karena barusan adalah adegan mereka berdua) sampai mundur ketakutan dibuatnya. Pein menghela napas karena aktornya yang keras kepala ini. Ini adalah pilihannya, dia tidak mau Sasuke yang terkenal cukup moody dalam pekerjaannya merusak aktivitas syuting hari ini karena dia tidak fokus di beberapa pengambilan gambar.

"Baiklah," Pein mengalah, dia melihat jam tangannya dan sadar saat itu sudah jam 6 sore. Pein mengibas tangannya, "Baiklah, baiklah, kau bisa pergi ke hotel dan beristirahat duluan," Pein berbalik menghadap kru yang lain, dan menepuk kedua telapak tangannya beberapa kali, "Istirahat 15 menit! Kita lanjutkan ke adegan nomor 45!"

.

.

.

Sementara itu, Sasuke hanya menghela napas pendek dengan muka sedatar-datar mungkin, langsung berjalan ke arah sebuah mobil van yang akan mengantarnya ke hotel.

_ ***Iria-san***_

.

.


"Eee?..." Mata ber-softlens Naruto tidak sengaja melihat sebuah ponsel yang tergeletak begitu saja di atas sebuah kursi. Naruto mengerutkan keningnya, menoleh ke kiri dan ke kanan mencari siapa gerangan yang memiliki ponsel ini. Tapi... tidak ada seorang pun yang ada di sana yang mengaku ponsel itu miliknya. Membuat Naruto hanya mengerutkan keningnya sambil mengaruk-garuk kepalanya.

Diotak-atik pun Naruto tidak menemukan foto atau wallpaper apapun yang terpajang di sana, membuat ponsel tersebut semakin tidak jelas asal usulnya. Sungguh ponsel yang membosankan. Naruto mendecakkan lidahnya, apa lebih baik diambilnya saja ponsel itu? Lumayan, ponsel ini tampaknya mahal.

"Eh? Itu...?" tiba-tiba seorang pemuda yang lebih tinggi sekitar 5 cm dari Naruto dan memiliki rambut kecoklatan menunjuk-nunjuk ke arah ponsel yang dipegang Naruto. Naruto tersenyum, dan menghadap si pemuda.

"Ini milikmu?" tanya Naruto sambil menyodorkan ponsel itu di tangannya, tapi dengan cepat pemuda berambut coklat di depannya itu menggeleng, Naruto memajukan bibirnya agak bingung, "Bukan milikmu? Lalu, ponsel ini milik siapa?"

"Ponsel ini milik Uchiha-san, tadi ia menelpon Pein untuk mengantar ponsel ini ke hotel, Pein meminta tolong padamu agar mengantarnya, karena kru yang lain sibuk dan Uzumaki-san berada di hotel yang sama dengan Sasuke, " ucap pemuda itu, tersenyum canggung begitu melihat raut muka Naruto yang langsung berubah jadi mengerikan...

Naruto membuka rahangnya lebar-lebar sambil menyipitkan 1 matanya. Sial sekali dia! Dari semua aktris, aktor dan kru yang ada di lokasi syuting, kenapa harus Uchiha Sasuke yang ia temukan ponselnya? Kenapa bukan ponsel Sakura saja? Naruto pasti akan senang hati mengantarnya.

Akhirnya, dengan penuh keterpaksaan Naruto menganguk, "Aku akan mengantarnya."

Dan Naruto hanya dapat berdoa... agar dia tidak mendapat masalah lagi setelah ini.

.

.

Mungkinkah doanya terkabul?


Naruto diam terpaku di sebuah pintu kamar, terdapat sebuah pintu bernomor 304 di sana. Naruto mengigit bibirnya gelisah, entah kenapa perasaannya jadi sedikit tidak enak, rasanya dia ingin pergi ke kamarnya yang berada jauh dari kamar ini dan mengembalikan ponsel itu besok saja.

Naruto mengangkat tangannya, bersiap untuk mengetok pintu tersebut. Meneguk ludahnya sebentar, Naruto mencoba memantapkan hatinya, mewanti-wanti dirinya untuk tidak melakukan apapun, termasuk di dalamnya memukul, memaki, dan mengajak Sasuke berkelahi.

Cklek~ Pintu itu terbuka, bahkan sebelum Naruto mengetuk pintu tersebut. Naruto terkejut bukan main karenanya.

"Aaa~ akhirnya datang juga." Naruto diam terpaku menghadap Sasuke yang sudah di depannya dan menatap ke arah benda yang ia pegang di tangannya. Naruto menelan ludahnnya dan mencoba tersenyum meskipun susah sekali, kebenciannya pada orang ini lebih mendominasi.

"Errr..." Naruto mengulurkan tangannya pada Sasuke, berusaha bersikap sebiasa mungkin, "Aku datang untuk mengatar ponselmu yang tertinggal."

Sasuke terdiam, wajahnya datar tanpa ekspressi. Dengan tangan terlipat, Sasuke menganguk dan menerima ponsel di tangan Naruto, "Hn," balas Sasuke, tiba-tiba saja, sebuah seringai singkat mulai terlihat di wajahnya, seperti merencanakan sesuatu, sesuatu yang berbahaya, "Masuklah!"

Naruto tersentak, langsung menatap bingung pada wajah Sasuke, "Hah? Untuk apa?" Feeling Naruto mulai merasa lebih jelek dari yang tadi. Naruto mengeratkan gengamannya ke tas kameranya dan agak sedikit melirik Sasuke tajam dari sudut matanya, "Haha, tidak perlu Uchiha-san. Bukankah tidak sopan jika seorang wanita memasuki kamar seorang pria? Orang-orang bisa salah paham. Apalagi kau itu seorang publik figur."

Sasuke tertawa dalam hatinya, memuji tingkat kewaspadaan pemuda di depannya ini. "Kenapa memangnya, hmm? Kau takut?" Sasuke dapat melihat ada sedikit kekhawatiran di tatapan mata pemuda di depannya itu, dan itu membuatnya merasa senang, "Aku kan hanya ingin melihat foto-fotoku yang kau ambil? Tidak boleh?" Sasuke mengubah raut mukanya menjadi agak memelas. Akting tingkat tinggi yang membuat Naruto ilfeel setengah mati.

Naruto memutar bola matanya, kesal dan jengah pada aktor menyebalkan bernama Uchiha Sasuke ini, "Well, aku rasa tidak ada yang aneh dengan fotomu Uchiha-san, aku mendalami bidang ini dengan sangat baik! Jadi...errr...ehmm, kau tidak perlu mengeceknya."

Sasuke tersenyum tipis, sifat pemuda di depannya membuat dirinya benar-benar tertarik. Mungkin Sasuke harus melepaskannya sekarang, memaksanya hanya akan membuat masalah, dan Sasuke tentu tidak mau tiba-tiba saja Naruto keluar lakinya dan menonjok Sasuke.

Tapi tiba-tiba, ekor mata Sasuke melirik ke arah lorong, melihat seorang 2 lelaki sedang berjalan dari kejauhan, kedua lelaki tersebut sedang terlihat tengah berbicang-bincang satu sama lain sambil sesekali tertawa-tawa melihat kamera yang mereka bawa. Mata Sasuke terbelalak meskipun tidak terlalu kentara, dengan cepat, Sasuke mendorong pintu kamarnya jadi lebih lebar dan menarik Naruto masuk ke kamarnya dengan cepat.

"Masuk Idiot! Ada wartawan!" seru Sasuke memperingatkan.

Naruto yang tidak siap hanya dapat ternganga dan terpekik kaget saat merasa tubuhnya tertarik dengan cukup kuat ke dalam kamar, dan... BLAM! Pintu tertutup, dengan Sasuke dan Naruto di dalamnya.

.

.

.

.

Naruto terpaku dan terdiam saat menyadari dirinya berada sangat dekat Sasuke, Sasuke masih menahan dirinya dan terlihat mengintip dari sebuah lubang kecil yang ada di pintu hotel tersebut. Sasuke mengengam tangannya dengan erat dan Naruto dapat merasakan kehangatan tangan Sasuke, tubuh mereka berdua sangat dekat, dan Naruto dapat merasakan bebauan tubuh Sasuke yang mulai merasuk ke indera penciumannya, bau yang sangat khas, menusuk dan juga...

BUAK!

"Lepaskan aku Uchiha-san! Baumu aneh sekali! Kau pasti berkeringat dan memakai parfum di saat bersamaan!HOEK!" bentak Naruto karena tidak tahan dengan bau tubuh dari Sasuke. Nauto memukul bahu Sasuke dengan kekuatan menengah.

Sasuke menoleh ke belakang dengan raut wajah datar nan mengerikan, ada sedikit kerutan-kerutan di dahi Sasuke membuktikan kalau aktor tersebut tersinggung, "Idiot!"

Twitch! Aktor ini benar-benar sangat menyebalkan!

"APA MAKSUDMU HAH!? BIARKAN AKU KELUAR!" Naruto mulai terbakar api kemarahannya lagi. Benar-benar khas seorang Namikaze Naruto yang mudah sekali tersulut api.

Sasuke menyeringai dan tertawa, merasakan kepuasan saat membuat pemuda jejadian di depannya ini marah, "Terserah kau saja, Idiot, kau bsia pergi setelah yakin wartawan-wartawan itu tidak ada~" Sasuke melepas gengaman tangannya dari Naruto dan mulai berjalan masuk ke dalam kamar hotel tersebut, "Tapi aku masih mengharapkanmu untuk masuk dan memperlihatkanku hasil foto-fotomu~."

Naruto bersungut, huh~ siapa yang sudi? berlama-lama dengan aktor ini hanya akan membuatnya terkena tekanan darah tinggi. Naruto sudah bersiap untuk menolak ketika tidak sengaja dia kembali mendengar perkataan Sasuke yang selanjutnya.

"Aku akan mandi dulu..."

DAMN! Ini godaaan! Ini kesempatan! Inilah waktunya! Naruto menelan ludahnya dengan susah payah ketika mendengat kalimat Sasuke tersebut, sebagian dari dirinya ingin segera pergi dari tempat itu dan sebagiannya lagi berkeras pada otaknya untuk tetap tinggal dan mengintip (baca: memotret) Sasuke yang sedang mandi, dan kalau dia sedang mandi... itu artinya dia bugil kan?

Naruto mengepalkan tangannya, berusaha menumbuhkan ketegasan dalam dirinya sendiri, "J-jika kau memaksa... a-aku akan memperlihatkan foto-fotomu itu~"

Sasuke menyunggingkan bibirnya dalam kesunyian saat itu, "Baiklah kalau begitu, kau boleh menunggu di sofa itu, sementara kau menunggu aku mandi, nona Uzumaki~" Sasuke mempersilahkan Naruto masuk dan membiarkannya duduk di sofa. Setelah itu Sasuke berjalan ke arah kamar mandi dan...

BLAM! Pintu itu pun tertutup dengan Naruto yang masih terpaku di atas sofa, memegang tasnya yang berisi kamera dan memikirkan rencana untuk beberapa menit selanjutnya.

.

.

.

"Hmmm..." Naruto terus bergumam tanpa suara di depan pintu kamar mandi, di dalamnya, Sasuke sepertinya tengah melakukan aktivitas pribadi berupa membersihkan badan. Naruto menatap pintu itu dan menemukan sedikit celah-celah kecil di atasnya, sepertinya dibuat agar udara dapat keluar masuk—dalam versi Naruto celah-celah itu dibuat agar memudahkan seseorang mengintip.

Naruto mengosok-gosok kedua tangannya, kedua telinganya masih merasakan suara percikan-percikan air dari dalam sana yang menandakan Sasuke masih melakukan aktivitas membersihkan badannya. Kedua bola mata Naruto bergulir ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu seperti kursi yang or something yang bisa membuat Naruto mencapai celah tersebut.

Naruto harus berbuat cepat, sebelum Sasuke menyelesaikan mandinya dan memergokinya tengah berbuat sesuatu yang kriminal. Jika ketahuan, tanpa ragu-ragu... author yakin Naruto akan mendapatkan hukuman yang luar biasa dari Sasuke.

Akhirnya, Naruto menemukan sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan, dan dengan agak sedikit tergesa-gesa Naruto mengambil dan mengangkatnya tanpa suara. Pakaian yang Naruto pakai adalah skinny jeans...tidak terlalu menyusahkannya untuk bergerak.

Setelah beberapa saat mempersiapkan semua yang dapat membantunya dalam rencana kriminal bertajuk 'ambil foto bugil' ini selesai. Naruto segera mempersiapkan kameranya sambil mengintip dari celah-celah di atas pintu tersebut.

Di dalam kamar mandi, terlihat uap-uap air yang mengudara, membuktikan bahwa Sasuke sedang membasuh tubuhnya menggunakan air hangat yang keluar dari shower. Sasuke terlihat di tengah-tengah uap dan bulir-bulir yang keluar dengan deras dari dalam shower.

Naruto terpaku, lupa memencet tombol shutter di kameranya, entah kenapa... matanya tak lepas dari sosok Sasuke yang tengah mengosok-ngosokan sabun ke tubuhnya. Wajah tampan dan rambut berwarna kehitaman yang terbasuhkan oleh air itu entah kenapa menjadi bersinar, tubuh putih pucat tak bercela miliknya terlihat begitu sexy, belum lagi dengan pemandangan-pemandangan yang lebih ke bawah. Benar-benar mengetarkan jiwa dan iman.

BLUSH!

Ouw shit! Entah kenapa... Naruto merasakan wajahnya memanas lagi, seperti seluruh panas tubuhnya dipindahkan ke wajahnya. Naruto menelan ludahnya, kelakuannya ini sama saat dia pertama kali menyusup ke apartemen Sasuke, yang akhirnya berakhir dengan dia yang pingsan dan membuat kemeranya disandera (chapter 2 ). Tidak! Tidak! Sebenarnya ini syndrome apa? Masa setiap kali melihat Sasuke tanpa memakai baju seperti itu dia langsung terlihat seperti wanita labil!? Naruto bukan gay kan, ingat?

Akhirnya, dengan sambil memejamkan matanya, Naruto memotret keadaan di dalam kamar mandi tersebut tanpa melihat sama sekali. Biar saja hasilnya tidak terlalu memuaskan, yang penting fotonya ada.

Deg.

Deg.

Deg.

Deg.

Ini bahaya... ini benar-benar berbahaya! Sekarang apa lagi?! Kenapa sekarang malah jantungnya bereaksi seperti baru saja berolahraga maraton?! 'Dag dig dug' tidak karuan! Oh... damn! Sebenarnya ada apa dengan tubuhku? Pikir Naruto depresi dalam hati, tapi tangannya masih terus menekan tombol shutter pada kameranya.

Hingga tiba-tiba... tanpa Naruto sadari, pintu kamar mandi tersebut membuka dan mendorong kursi yang dia naiki ke belakang. Ya, perlukah diulangi? Pintu kamar mandi yang di dalamnya ada Sasuke itu membuka seketika dan...

"KYAAAHHH!"

BRAKK!

Naruto memekik saat merasakan kursi yang dinaikinya bergoyang dan jatuh, untunglah dengan sigap, Naruto segera melompat dari atas kursi sehingga badannya tidak terjatuh dalam posisi mengerikan di atas lantai.

Eh? Tapi tunggu? Pintunya terbuka? Bukankah showernya masih menyala? Bu-bukankah tadi Sasuke masih mengosok tubuhnya? Bu-bukankah—?

Naruto memucat seketika saat merasakan sebuah bayangan yang lebih besar menimpanya, merasakan beberapa percikan air mengenai kulitnya. Merasakan sebuah hawa yang mengerikan di belakangnya, melihat Sasuke yang sudah berada di depannya sambil menatapnnya dengan amat menusuk.

OH TIDAK! Ini kiamat! Teriak Naruto yang sejadi-jadinya dalam hati ketika sadar dia sudah ketahuan.

GREB!

Sebuah tangan yang cukup besar mencengkram pipinya dan sedikit bagian lehernya, menangkup wajahnya hanya dengan satu tangan dan memaksanya untuk mendongak ke atas. Naruto memandang takut-takut wajah Sasuke yang tampan tapi berbahaya di depannya, pemuda itu bermarga Uchiha itu hanya diam tanpa ekspressi sambil menatap wajah Naruto yang terlihat memelas minta dilepaskan.

"A-a-aku..." Naruto mencoba membela dirinya meskipun dengan nada terbata-bata. Tapi dia harus berkata apa?!

"Hnn?" cengkraman Sasuke pada wajahnya Naruto semakin kuat, membuat si empunya wajah meringis kesakitan dan menutup matanya perlahan. "Katakan padaku..."

Naruto menelan ludahnya, jantungnya berdetak dengan amat kencang saat merasakan wajah yang masih basah akibat air yang jatuh dari rambut itu mendekat ke arah wajahnya, Oke... sekarang Sasuke memang tidak berbau keringat lagi, tapi posisi mereka berdua BENAR-BENAR SANGAT MENCURIGAKAN!

"Katakan padaku... Uzumaki Akashi..." suara Sasuke kembali terdengar setelah beberapa saat Naruto menunggu dan meningkatkan tingkat kewaspadaan dirinya. "Apa kau... benar-benar ingin melihat seluruh badanku, hmm? Sampai mengintipku seperti ini?" Sasuke mendekatkan wajahnya dengan perlaha ke arah telinga Naruto, dan Naruto dapat merasakan suatu hembusan udara hangat yang menjalari tengkuk hingga lehernya. OW DAMN! OW DAMN! OW DAMN!

Oke? Sekarang bagaimana? Apa yang harus Naruto lakukan? Haruskah Naruto menendang adik Sasuke lagi untuk yang kedua kalinya? Haruskah Naruto meninju Sasuke tepat di wajahnya? Haruskah Naruto meludahi Sasuke sekarang? Haruskah Naruto mengigit Sasuke, memutilasi, membakar, atau melakukan apapun pada Sasuke sekarang? Atau... apakah Naruto harus menyerahkan dirinya pada Sasuke?

Cari tahu jawabannya di chapter selanjutnya!

.

.


I just wanna say, GOMEN! Pada semua reader yang mungkin merasa dibohongi oleh saya (Saya bilang akan meng-update ceritanya ini pada tanggal 18.. ehh... sekarang malah ngaret berhari-hari), untuk jalan cerita yang labil, membingungkan, ataupun menyebalkan. Untuk reader yang harapannya tidak sesuai dengan jalan cerita ini. Dan untuk semua reader yang sudah sanggup membaca fic ini sampai saat ini... TERIMA KASIH BANYAK! SAYA MENCINTAI KALIAN SEMUA! (reader: Hah?)

Terakhir, untuk salah satu rader saya yang bernama miss bawell, saya tidak tahu siapa sebenarnya dirimu... dan saya tidak tahu maksud anda yang mengatakan 'itu' akan menjadi yang terakhir, jujur... saya merasa bawa anda adalah reviewer yang istimewa, (bukan berarti reader yang lain tidak istimewa, kalian semua berharga bagi saya) anda adalah salah satu reader yang mampu memberitahukan kekurangan saya secara secara jujur, dan... /grin/ saya suka itu. Saya tidak terlalu mengerti kenapa akhirnya anda memutuskan untuk 'berhenti' tapi...saya yakin anda punya alasan, mungkin anda takut membuat saya tersinggung karena review anda, atau mungkin ada alasan lain... tapi percayalah, review anda sama sekali tak pernah membuat saya tertekan, saya tak pernah mengangapnya flame. Saya hanya berharap anda... ehm... yeah... meskipun sudah berhenti mereview fic ini, masih bersediakah ada membaca fic ini? Dan terima kasih juga selama ini sudah mau jujur pada saya ^^.

Untuk reader yang lain... sudah saya bilang kan? Saya sayang kalian semua~ /hug one by one/


Omake.


Kyuubi mengengam foto-foto yang berada di tangannya dengan gemetar, dia benar-benar tidak ingin percaya dengan apa yang telah dilihat matanya. "A-apaa ini?" desisnya dengan nada suara yang hampir mengeram.

Itachi yang berada di sebelah Kyuubi hanya tersenyum, "Itu adikmu..."

"T-tidak mungkin!" seru Kyuubi berusaha menyangkal, "Tidak mungkin gadis manis dan cantik berambut violet ini adikku!" Kyuubi meremas foto yang berada di tangannya itu dan melemparkannya ke Itachi. Itachi masih mempertahankan senyum tak bermaknannya.

"Kau tidak melihat kemiripannya, hmm?" Itachi mendekatkan wajahnya dengan perlahan ke arah Kyuubi yang sudah terlihat kesal luar biasa, tapi langsung menjauh saat sadar Kyuubi tadi hampir memukul wajahnya.

"TIDAK MUNGKIN!" Kyuubi kembali berseru nyaring, giginya bergemeratakan menahan amarah, "Jadi... selama ini adikku menjadi waria dan aku tidak mengetahuinya?! Itu tidak mungkin~."

Itachi menyerigai misterius ala seorang Uchiha, dia terkekeh, "Tidak mungkin? Khekhek..." lalu tangannya terulur dan mengusap rambut kemerahan milik pemuda di depannya itu dengan pelan, "Foto itu memang adikmu, Kyuu-chan..." dan Itachi kembali tertawa saat mendengar Kyuubi mengeram, persis seperti seekor rubah. "Kau tahu apa lagi?"

Hembusan angin melewati mereka berdua, saat itu hari sudah mengelap, ia dan Kyuubi masih juga berada di taman Universitas Tokyo sambil berbicara. Itachi mendekatkan wajahnya pada Kyuubi dengan perlahan, merasakan hembusan napas tidak beraturan dari pemuda yang menurutnya cukup manis tapi super duper galak ini. Itachi sadar Kyuubi menatapnya dengan tajam, tapi entah kenapa tidak menolak sentuhannya, itu seolah-olah rubah manis tersebut... mengijinkannya?

" Adikmu itu..." Itachi kembali mendekatkan wajahnya pada Kyuubi, dan Kyuubi nampak sedikit memundurkan kepalanya tetapi tangan Itachi langsung terulur menahannya, "Adikmu itu... sebenarnya berkerja untuk adikku..." dan sebuah kecupan basah Itachi daratkan ke bibir pemuda di depannya, cukup menuntut tapi tak memaksa, Kyuubi terlihat menutup matanya dan kedua tangan pemuda itu meremat bahu Itachi agar menjauh. Tapi semua orang tahu bahwa Itachi lebih kuat dalam hal tenaga.

"Dan... aku yakin mereka pasti sedang bersenang-senang sekarang..." Itachi kembali melumat bibir pemuda di depannya dengan gaya kasar, "Seperti kita sekarang..."

.

.

.