Story: DAMN

Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto

DAMN! © Iria-san

Rating: T+ (M untuk bahasa-bahasa vulgar yang saya gunakan~ gak naik rate beneran loh yah!)

Genre: Humor & Romance yang diragukan

Main Pairing: Uchiha Sasuke(23) & Namikaze (Uzumaki) Naruto(21).

Other Cast: Umino Iruka(31) & Hatake Kakashi(34), Tsunade(50+), Uchiha Itachi(26), Namikaze Kyuubi (26), Pein/Yahiko(39) dan beberapa original character.

Warning: AU, Typo, Mistypo, super OOC for Uchiha Brothers, Incest, Boys Love, Shounen-ai, gaje, bahasa mungkin berbelit-belit dan tidak terkendali alias asal sembur, etc. . If like, you must to read it, if don't like, please read this warn before you press back button!/ngototness/

Word Count for this chapter: 6800+

Author Note: Hola, lama tidak berjumpa~ saya sudah update, semoga kalian suka. Maaf karena saya sudah terlalu lama tidak meng-update fanfict ini. /Bungkuk/


Chapter 8: DAMN the mark, the woo, and my foolishness.


Merinding dan bergetar di dalam sentuhan seseorang yang amat sangat Naruto tidak suka bukanlah hal yang Naruto sukai. Tetapi entahlah— sepertinya takdir benar-benar suka mempermainkan seseorang. Hal yang biasanya amat kita dibenci, biasanya akan muncul di depan kita lebih sering daripada yang hal kita sukai. Dan inilah buktinya, Naruto— yang jelas-jelas anti fans Sasuke dan sedang dalam misi mendapatkan foto bugil, dipergoki dan berada dalam posisi yang sangat, sangat, sangat tidak enak!

"E...emm!" Naruto merintih, tubuhnya merinding dalam ketakutan. Ia takut diperkosa, takut ketahuan, takut di ini-itukan, dan ketakutannya yang lain-lain lagi muncul memenuhi hatinya. Naruto membuka sedikit matanya, dan betapa terkejutnya dia ketika menyadari jarak antara dirinya dan Sasuke.

HEGH! Jarak mereka bahkan tak lebih dari 5cm. Dan tangan Sasuke masih menangkup kedua pipinya dengan keras.

"A-aku..." Naruto terbata. Dalam hati, Naruto masih mencoba bersabar agar tidak memukul pria di depannya ini, biarpun separuh lebih dari hatinya terasa sangat ketakutan. Sasuke sangat kuat, Naruto tahu pasti kalau dia kalah tenaga karena badannya kecil, dan Naruto tidak berani melihat ke bawah, ke tubuh Sasuke yang hanya tertutupi oleh handuk, bagian terlalu mengerikan untuknya.

Sasuke menyeringai melihat pemuda manis yang ketakutan di depannya, gengaman tangannya pada Naruto semakin mengeras, dia tidak ingin 'mangsa'-nya kali ini lepas begitu saja.

"Nona Uzumaki." Sasuke memulai perkataannya dengan lembut, dia mendekatkan wajahnya yang tampan lebih dekat ke wajah Naruto, "Kau ingin melihat seluruh tubuhku? Hmm?"

.

.

Hening

.

.

"Maafkan saya, Uchiha-san..." Naruto menghela napas dan mulai bersikap tenang, tidak menghiraukan hatinya yang mulai jumpalitan dan salto 3 kali di udara—deksripsi yang hiperbol. Dengan tenang, Naruto mengangkat tangannya dan melepaskan cengkraman keras Sasuke pada pipinya, "Kau salah sangka. Aku tidak akan berbuat hal hina semacam itu."

Sasuke mengangkat alisnya, perlahan, seringaiannya memudar dan berubah menjadi sebuah senyum menuntut penjelasan, "Lalu..? Apa yang kau lakukan dengan kursi di depan kamar mandiku? Dan untuk apa kau menaikinya?"

Naruto menelan ludahnya, wajahnya memerah. Ia tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya...yang bisa dia lakukan hanyalah terdiam dan membuang mukanya ke arah samping—karena melihat ke bawah hanya akan membuatnya melihat tubuh Sasuke. "A-aku..."

"Aku?" Ulang Sasuke, menunggu perkataan Naruto berikutnya dengan hati yang tertawa.

"A-aku..." Naruto mengigit bibirnya, rambutnya yang berada di dalam wignya terasa gatal karena keringatnya yang deras keluar, "Aku hanya memotret kotoran yang ada dinding saja kok~..," Naruto bersungut sambil bersikeras membela dirinya—sayangnya...cara yang dia gunakan salah.

Sasuke menutup mulutnya, menahan tawa, gejolak napas tak tertahankan terasa menyesakan di dadanya. Sasuke merasa bahwa pemuda di depannya ini sangat konyol, "Jika ingin berbohong...setidaknya, gunakanlah alasan yang lebih masuk akal dari ini, dasar Dobe~" Sasuke keceplosan, dia memanggil pemuda di depannya dengan nama panggilan yang ia berikan pada seseorang di dunia maya.

Tapi... entah kenapa Sasuke merasa pemuda manis di depannya ini juga sangat pantas menyandang nama panggilan itu? Benarkah? Apa yang membuat pemuda yang menyamar di depannya ini pantas menyandang nama panggilan itu juga?

Sama menariknya, sama lucunya, dan sama bodohnya— ya, itu alasannya. Sasuke merasa semuanya cocok, taruhannya dengan Blue Sapphiresky, Blue Sapphiresky yang menyusup ke dalam apartemennya, kamera yang tertinggal dan berada di tangannya, munculnya Uzumaki Akashi dan di hari pertama mengincar kamera tersebut,dan— insiden pengintipan saat ini. Semuanya sangat cocok.

Mata oniks Sasuke menatap pemuda berwajah imut di depannnya. Senyum licik dan seringaian bak serigalanya terpampang jelas, Sasuke— mungkin dapat membaca alur cerita ini, 'Semuanya cocok.'

Sedangkan Naruto, ia tersentak, setengah dari perasaannya merasa tersinggung karena di panggil dengan panggilan yang berarti 'bodoh', dan setengah dari perasaannya merasa binggung, mengapa Sasuke bisa-bisanya memanggilnya dengan nama panggilan yang sangat dia BENCI? Itu nama panggilan termenyebalkan yang pernah Naruto dapatkan dari seorang fans Sasuke di dunia maya, si peniru nama akun yang sangat brengsek! "Grrr... jangan memanggilku Dobe! Dasar sialan! Bagaimana kalau kau memasang bajumu saja! Tubuhmu mengerikan! Kalau kau mau tahu itu!"

Sasuke mengembalikan lagi seringaian di wajah tampannya, "Hm, katakan saja kau tidak tahan melihat tubuhku ini, Idiot. Ketimbang itu, lebih baik kau perlihatkan isi kameramu padaku agar aku percaya dengan kata-katamu..."

Naruto membatu, tentu saja dia tidak bisa memperlihatkan kameranya, "A-apa?"

"Pertanyaanmu seolah mengatakan bahwa kau takut, Dobe..." Sasuke melipat tangannya dan terkekeh geli.

"A- aku tidak takut!" Naruto bersikeras, tapi dia mengengam erat kamera yang tergantung di lehernya, seolah tak ingin memberikannya pada siapapun. Sasuke maju selangkah, wajahnya yang amat tampan dengan seringaian yang selalu terlihat khas itu benar-benar mengangu usaha jantung Naruto agar bisa berdetak dengan benar.

"Berikan padaku, Dobe!" Sasuke mengengam tali kamera yang mengelilingi leher Naruto dan menariknya. "Dasar pembual."

Naruto bersikeras menahan kameranya, dia sangat marah dan tak ingin kalah dari Sasuke, "T-tidak! Kau tidak boleh memaksa, Uchiha-san!" serunya kesal. "Memangnya kau siapa! Lebih baik kau cepat memakai bajumu! kau membuatku jijik! Aku ini PEREMPUAN!"

Sasuke menghela napas dalam, wajahnya stoicnya mengeras, 'Perempuan?' pikir Sasuke ragu. Anggota Uchiha yang paling bodoh pun pasti tahu kalau orang bernama Akashi(Sasuke berani bertaruh... ini bukan nama aslinya) di depannya pasti lelaki. "Do-be!" eja Sasuke penuh penekanan, lengkap dengan suara baritone-nya yang khas. Tubuh Naruto bergetar dan telinganya meremang karena mendengar suara Sasuke yang dia rasa begitu menusuk ke ulu hati.

Sasuke menarik tali kamera Naruto lebih kuat, membuat Naruto tertarik mendekat ke arah Sasuke dengan terpaksa, " L-lepas!" Naruto memberontak, memukul tangan Sasuke agar melepaskan tali kameranya, ingin sekali dia menendang 'adik' Sasuke sekarang. "J-jika kau masih bersikeras, aku akan berteriak!" Ancam Naruto.

Sasuke menyeringai, serigaiannya licik, "For your information, Idiot, kamar hotel yang kita tempati sekarang ini berdinding kedap suara."

Naruto merasa badannya melemas, tulang belulangnya terasa dicabut paksa dari tubuhnya. Lemas sekali~ Naruto meratapi nasibnya dalam beberapa menit ke depan dengan perasaan was-was, sudah cukup jati dirinya hampir ketahuan ketika audisi tahap kedua, diberikan suatu tanda merah di lehernya, hampir diperkosa( akan terjadi seandainya Tsunade tidak datang menyelamatkannya), DAN SEKARANG APA LAGI?! Dia berada di dalam kamar kedap suara bersama Sasuke, dan ia ketahuan mengintip! Naruto sudah bagaikan telur di ujung tanduk.

"Grrrh..." Naruto hanya bisa menggeram tanpa tahu harus berbuat apa, mungkin sebentar lagi dia akan menendang 'adik' Sasuke. Naruto masih berusaha mempertahankan kameranya yang mulai kembali ditarik oleh Sasuke, membuat wajahnya semakin mendekat ke arah si aktor sialan yang amat sangat dibencinya itu.

"Berikan padaku!" ucap Sasuke dengan tenang, Sasuke memegang bahu kanan Naruto dengan tangan kirinya, "Jangan keras kepala Dobe!"

Sebuah perempatan muncul di dahi Naruto. Geez! Tidak akan dia biarkan Sasuke merebut kameranya untuk yang kedua kalinya.

"MENJAUH DARIKU GAY BRENGSEK!"

.

.

(Sfx: SCRATCH)

.

.

Akhirnya, tanpa banyak pertimbangan, Naruto mencakar dada putih mulus Sasuke dengan kukunya yang—kebetulan— panjang karena belum dipotong. Bekas cakaran Naruto sangat membahana, Sasuke membatu sesaat ketika melihat sebuah garis panjang berwarna merah vertikal mulai muncul di dadanya, belum lagi dengan kulit yang mengelupas dan mengeluarkan darah. Rasanya seperti dicakar kucing!

Aura hitam mulai menguar dari tubuh Si bungsu Uchiha, dadanya yang putih mulus sekarang ternoda dan itu membuatnya marah, "Do-be!" Sasuke benar-benar menekan kata-katanya, tangan kanannya mencengkram erat pada bahu Naruto, dan gengamannya tangan kirinya semakin kuat, Sasuke menarik tali kamera Naruto dengan kuat, dan mempersempit jarak di antara mereka berdua.

Naruto menelan ludahnya, kulit tan-nya yang gelap bersentuhan dengan kulit pucat Sasuke yang terang, membuat sensasi aneh di tubuhnya, tapi Naruto masih menampakan wajah galak dan tegar, menyembunyikan ketakutan di hatinya, "Menjauh!" Naruto masih berusaha mendorong tubuh Sasuke.

"Kau kira aku akan melepaskanmu begitu saja! Setelah yang kau lakukan padaku!" Ucapan menusuk dan datar dari Sasuke membuat Naruto memucat. GLEK! Apa maksudnya itu?

"A-ap—"

Sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah memotong, "Jika kau memberikanku bekas ini, sebagai gantinya... aku akan memberikanmu ini, Dobe!"

KRAUK! Mata Naruto melebar seketika ketika merasakan sebuah benda keras mengigit kulit lehernya, terasa perih dan sangat menyakitkan. Naruto hendak melompat tapi badannya melemas karena cengkraman Sasuke di tubuhnya.

"A—a—arhh..." Naruto merintih dalam diam, sedangkan Sasuke masih mengigit kulit lehernya menggunakan gigi taring dan serinya, berusaha mengoyak kulit itu jika bisa, sekali-kali—jika ada kesempatan —di sepersekian detik yang singkat— Sasuke juga mengulum dan menjilat kulit yang digigitnya itu. "A—ARGGGGHHHHHHHHHHHHH! BRENGSEEEEEKKK!" Dan Naruto hanya bisa berteriak sejadi-jadinya.

.

.

.


Iruka berjalan melewati jalanan yang cukup ramai itu dalam diam. Udara malam itu cukup dingin sampai akhirnya dia harus merapatkan lagi syal yang mengikat lehernya. Beberapa saat berjalan, Iruka menghela napas, kedua kantong belanjaan berukuran sedang di kedua tangannya cukup membuatnya capek.

"Di mana aku harus beristirahat?" Gumam Iruka pada dirinya sendiri. Ia melihat ke sekelilingnya, dan menyadari sebuah cafe` yang ada di ujung jalan. Setelah menimbang-nimbang sebentar, Iruka melihat jam tangannya dan menyadari ini sudah jam 07.30 malam, pantas saja perutnya terasa lapar. Iruka menganguk, dan berjalan ke arah cafe` tersebut.

Toh, tak akan ada yang menunggu masakannya di rumah, keponakan kesayangannya sekarang ada di Okinawa, dan keponakannya yang lain (yang tidak terlalu ia sukai—jangan tanyakan siapa!) tidak ada kabarnya sampai sekarang, dia sepertinya belum pulang, Iruka yakin jika keponakannya yang ia kurang suka itu pulang ke apartemen mereka, dia akan menelepon untuk menanyakan di mana kunci apartemen. Memasak untuk dirinya sendiri? Untuk Iruka, memasak untuk diri sendiri bukanlah hal yang ia sukai.

.

.

.

Klining~

Sebuah lonceng kecil yang dipasang di belakang pintu berdering kecil ketika Iruka mendorong pintu cafe` tersebut, dan ketika ia masuk, seorang pelayan wanita mengumbar senyum sambil mengatakan selamat datang padanya.

"Selamat datang, berapa orang?" tanya pelayan itu lembut. Iruka membalasnya dengan senyum lembut juga.

"Sendirian..."

Pelayan itu tersenyum, "Silahkan ikuti saya, ada meja kosong di sana," ujarnya riang dan akhirnya menuntunnya pada sebuah meja kosong di dekat kaca. Iruka menganguk, dan mengikuti pelayan wanita itu.

.

.

.

Kakashi mengaduk-aduk spagetinya dengan cukup cepat, memnbuat saus tomat dan daging yang ada di atas pasta khas Italia itu bercampur satu. Tangan kiri Kakashi memegang ponselnya, dan matanya fokus ke layar ponselnya tersebut, sesaat kemudian, Kakashi menempelkan ponsel tersebut ke telingannya. Menelepon seseorang.

Trek! Sepertinya sambungan panggilan diterima oleh orang yang Kakashi panggil.

"Moshi-moshi, di mana kau?" tanya Kakashi pada orang yang ada di seberangnya, tangannya yang lain masih mengaduk spageti dan sekali-sekali mencicipi sausnya.

[...!.]

"Haha... aku tidak bermaksud mengangumu," Kakashi tertawa kecil dari balik maskernya ketika mendengarkan beberapa bentakan yang sampai padanya.

[...]

"Apa? Kau sepertinya sedang bersenang-senang sekarang ya? Hahaha, gomen! Gomen! Aku hanya ingin memberikanmu beberapa tawaran yang kau terima dalam minggu ini." Masih dengan tawa renyahnya, Kakashi menyuapkan sehelai spageti ke dalam mulutnya.

[...]

"Hahaha, sabar! Sabar! Hmm... apa yang hendak kukatakan? Ah— ya! Setelah kau pulang dari Okinawa, kau diundang untuk menjadi bintang tamu di acara fun morning, juga ada iklan pakaian renang dari perusahaan X yang memintamu menjadi model produknya, lalu..." perkataan Kakashi terpotong.

[...]

Ada sedikit raut perubahan di wajah Kakashi setelah mendengar jawaban dari orang yang ia hubungi, "Eh? Tolak semua? Apa maksudmu, kau sedang ingin beristirahat dan fokus pada dramamu sekarang? Kau masih punya kontrak untuk memainkan film layar lebar setelah drama ini selesai."

[...]

Kakashi mengeratkan gengamannya pada ponselnya, "Owh... begitu rupanya, aku mengerti," Kakashi tertawa kecil dalam hati, "Kalau itu maumu, aku akan mengurusnya dan membuat semuanya—ah!" Tanpa sengaja, siku Kakashi menyenggol sebuah pisau makan di atas meja.

Trang. Pisau itu jatuh tergeletak di lantai keramik cafe` itu.

Kakashi menghela napasnya, ia menundukan badannya, menjulurkan tangannya hendak mengambil pisau tersebut, dengan sambungan telepon yang masih menyala di telinganya, Kakashi kembali berbicara "Tidak, tidak ada seorangpun yang mencubitiku! Baiklah, aku akan mengurus semuanya, kau tenang saja. Aku punya banyak rencana agar—"

Kreeekk~

Sebuah sepatu menginjak telapak tangan Kakashi. Ya, menginjak saudara-saudariku sekalian, jadi itu bukan suara orang yang sedang latihan mematahkan batang kayu.

Kakashi membatu, melihat ke arah sepatu yang masih ada di atas telapak tangannya, rasa sakit menjalar di jemarinya tapi Kakashi berusaha untuk tidak mengaduh kesakitan, "Aku akan telepon kau lagi nanti!" dan—pip! Kakashi tersenyum, siap memakan orang yang berani-berani menginjak tangannya yang agung!

"A-AH! ASTAGA! MAAFKAN AKU!" Sebuah suara penuh keterkejutan mengiringi sepatu yang mulai beranjak dari atas telapak tangan Kakashi. Kakashi menyeringai, dia mengangkat kembali tubuhnya yang menunduk untuk melihat siapakah gerangan orang yang membuat jemarinya terasa mau patah.

.

Deg!

.

.

Jantung Kakashi berhenti seketika(cuma perumpamaan sih, bukan kenyataan) saat melihat orang yang ada di depannya. Mengerjapkan matanya sebentar sampai tersadar kembali oleh senyum kikuk dari orang yang menginjak kakinya. Dia— Si penjatuh kerupuk!? Kenapa bisa ada di sini? Kakashi tak habis pikir, lelaki menawan yang menangkap hatinya pada pandangan pertama ada di DEPANnya? Apakah mereka sudah terikat oleh benang takdir?

"Ahm..." Kakashi mengumam panjang, "Ini sangat sakit..." Kakashi berpikir. Apakah pemuda itu masih mengingat Kakashi? Mereka bertemu kurang lebih sebulan yang lalu dan waktu pertemuan mereka tak lebih dari 2 menit.

Kakashi tersenyumt tipis ketika sadar melihat ekspressi kikuk lelaki di depannya, "Ka-kau tidak apa-apa?" tanyanya takut-takut, matanya menampakan rasa bersalah yang cukup besar. Kakashi termangu dalam hatinya, dia tidak mungkin memarahi orang yang memikat hatinya bukan?

Dngan gerakan me-rileks-an badan, Kakashi menghela napas dan menyandarkan punggung pada kursinya, kedua kakinya terulur dan dia melirik pemuda berambut coklat dengan codet horizontal yang imut di hidungnya, "Tidak apa-apa," ujar Kakashi, tersenyum lebar.

"Asalkan kau mau menemaniku makan malam di sini, tidak apa-apa kok."

.

.

Dasar genit.


Kali ini terbaring kesakitan di atas sofa juga bukan keinginan Naruto, tapi kecelakaan sialan yang menimpanya membuatnya kesakitan meskipun hanya untuk mendudukan dirinya, belum lagi rasa perih yang masih terasa di lehernya. Naruto mengumpat, tadi... dia hanya bermaksud menendang lutut Sasuke agar menjauh dan berhenti mengigit lehernya, tapi—siapa sangka yang dia injak bukanlah lutut Sasuke, melainkan lantai basah akibat air yang jatuh dari rambut Sasuke yang belum kering.

Naruto mengerang, dia merasakan rasa sakit menjalari punggung dan beberapa persendiannya, "Aduhh... aduuh~" Naruto mengelus punggungnya, dia menatap tajam Sasuke (yang sepertinya sudah tidak mempermasalahkan kameranya lagi) yang duduk di depannya. Pemuda Uchiha itu sudah memakai bajunya, dan dia dengan santai menatap Naruto dari balik majalah yang dipegangnya. "Ini semua salahmu! Dasar sialan!" geram Naruto.

Sasuke menaikan 1 alisnya, wajahnya stoic, "Salahku? Kau jatuh dan tertimpa meja karena kesalahanmu sendiri Idiot," balasnya datar.

"I-itu karena kau mengigit leherku! I-itu pelecehan seksual!" Naruto menunjuk Sasuke dengan terbata-bata, "Se-sebelumnya kau juga pernah melakukan ini kepadaku! Sa-saat audisi itu!" Naruto menarik napasnya, agak ketakutan melihat wajah Sasuke yang mengeras, "A-aku akan melaporkanmu ke polisi!"

Sasuke terkekeh, "Sebelum itu terjadi, aku akan melaporkanmu atas tuduhan pengintipan, dan pemalsuan identitas..." Sasuke menyeringai, ia meletakan majalah di tangannya dengan hati-hati dan berdiri dari kursinya, melangkah menuju Naruto dan mendekatkan wajahnya, "Bukan begitu...? Nona Akashi—atau...begitulah kau menyebut dirimu?"

Naruto memucat, merasakan darahnya tiba-tiba meninggalkan tubuhnya, "A—pa?"

Sasuke menyipitkan matanya dan ia menyeringai, firasat Naruto menjadi sangat-sangat buruk, tubuhnya menegang dan tangan Naruto tak berhenti bergetar, ia mengengam erat-erat kameranya, instingnya menyuruhnya untuk segera kabur dari situ.

"A-aku akan kembali ke kam—"

"Kau pikir aku tidak melihat jakun yang tumbuh lehermu? Kau pikir aku tidak bisa melihat tonjolan di antara selangkanganmu? Kau tidak bisa menyembunyikannya dari mataku."

.

.

.

"A-ahm..." Naruto terbata, dia panik, benar-benar sangat panik, "A-aku akan kembali ke kamarku sekarang!" serunya agak keras, menyembunyikan ketakutannya. Tapi, sebelum dia bisa berdiri dari sofa yang didudukinya, Sasuke sudah mencengkram kedua tangannya dan menahannya di sofa itu. Posisinya sangat menakutkan, sama seperti yang Sasuke lakukan padanya saat audisi tahap kedua. menjebaknya di sebuah kursi.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah yang kau lakukan pada dadaku?" bisik Sasuke dengan suara rendah di telinga Naruto, wajah mereka cukup dekat tetapi ekspressi wajah Sasuke tampak datar. Naruto menelan ludahnya.

"Kau pikir, aku yang berakting memakai celana renang dengan bekas cakaran di dada itu akan diterima oleh Pein?" Sasuke mengumam dan mencekram tangan Naruto lebih keras. Naruto mengaduh dalam hatinya, masih mencoba melawan kekuatan Sasuke yang jauh lebih kuat darinya. Sebagai lelaki Naruto memang lemah.

"Ka—" Naruto berusaha berbicara dalam kesesakannya, dia mengeram, dan kakinya mulai menendang-nendang kesana-kemari, "KAU PIKIR MENYEMBUNYIKAN BEKAS GIGITAN DI LEHER AKAN MUDAH?!

BUK! — Naruto menghantam kepalanya pada Sasuke. Sasuke melepaskan cengkramannya dan mundur.

Naruto langsung berdiri, tangannya terkepal dan dadanya kembang kempis karena marah, "K-kau pikir memakai syal di pantai itu mudah?! B-belum lagi dengan semua baju yang harus kupakai untuk menutupi tubuhku!"

"Kau seorang lelaki, memakai bertelanjang dada bukan masalah untukmu, kan?" ujar Sasuke sambil melipat tangannya. Padahal pikirannya sudah mesum membayangkan pemuda di depannya bertelanjang dada.

"YA! DAN LELAKI TIDAK DIBERIKAN BEKAS APAPUN DI LEHERNYA OLEH LELAKI LAIN!" Teriak Naruto kencang, wajahnya memerah dan napasnya putus-putus. Dia tidak tahu harus apa lagi sekarang, kedoknya sudah terbongkar dan hanya tinggal menunggu waktu sampai dia dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Kecuali jika ada mukzizat.

Sasuke melipat tangannya, dia berjalan maju sambil memperhatikan wajah Naruto yang memerah, jarak di antara mereka semakin sempit, hanya sekitar 15 cm, "Kenapa kau menyamar? Dasar Idiot."

Naruto terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dia adalah pemuda lelaki berpakaian hitam ketat yang mengendap-endap di apartemennya, dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia menyamar untuk mendapatkan kameranya yang tertinggal, dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia bertaruh dengan salah satu fans Sasuke, dan dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia adalah Namikaze Naruto— bukannya Uzumaki Akashi. Tanpa Naruto sadari, begitu ia sadar dari lamunannya, wajah Sasuke sudah begitu dengan dengan wajahnya, menatap wajahnya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Menjauh dariku! Dasar kau gay!" ucap Naruto pelan. Setidaknya, kata-katanya mungkin bisa mengulur waktu sampai Naruto menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sasuke.

Naruto melihat Sasuke mengangkat sedikit sudut bibirnya, ia merinding, "Aku memang gay..."

'Mati aku!'

"Karena aku gay, aku mulai tertarik padamu, Idiot~" Sasuke memegang dagu Naruto dengan ibu jari dan telujuknya dan membuat mereka bertatapan pada 1 garis lurus, Sasuke dapat melihat raut ketakutan di wajah Naruto yang mulai memerah. Pemuda di depan Sasuke itu takut dan malu.

Napas Naruto tercekat, sekarang dia tidak bisa berpikir alasan apa yang harus dia pakai untuk mengelabui Sasuke. Dia lebih fokus pada aktor di depannya ini—yang sebenarnya sangat dia benci wajah dan wataknya— sedang menyatakan ketertarikan padanya. Dia, Naruto Uzumaki, seorang pemuda photografer tampan disukai oleh aktor yang sangat dia benci?

"Kau manis." ucap Sasuke jahil sambil mulai mengelus-elus dagu Naruto, "Aku ingin melihat sosokmu tanpa penyamaran."

"Ap-ap-ap...hah? Ap-a...a—a..." kali ini Naruto benar-benar tidak bisa mengendalikan kata-katanya, dia tergagap seperti orang yang terkena epilepsi, ia kejang-kejang dan dadanya seperti dipukul oleh palu yang sangat besar. Sasuke hanya tertawa dalam hati melihatnnya.

.

.

Triririririiririrt—

.

.

Sebuah kedutan-kedutan pembuluh darah mulai muncul samar-samar di kening Sasuke. Demi Tuhan, kenapa ponsel itu harus berdering di saat-saat menyenangkan seperti ini? Di saat ia sudah mempunyai mangsa?! Pikir Sasuke dalam hati. Frustasi.

Ingin rasanya Sasuke mengabaikan panggilan itu, tapi ia khawatir telepon itu adalah sesuatu yang penting. Akhirnya, dengan agak sedikit kurang rela, Sasuke melepaskan cengkramannya pada Naruto dan berjalan dengan tampang datar ke arah ponselnya dia atas sebuah meja kecil.

Setelah mengengam ponselnya, Sasuke menyadari bahwa itu adalah panggilan dari managernya, Sasuke mendecak. Menyesal. Seharusnya dia mengabaikan saja panggilan ini.

"Hn? Dasar pengangu."Ujar Sasuke kejam.

[...]

"Ya, aku memang sedang bersenang-senang. Cepat katakan urusanmu dalam 1 menit, atau kutututp sambungan ini!" jawab Sasuke dengan cepat.

[...]

"Tolak semuanya!" seru Sasuke dengan tidak sabar, kakinya mengentuk-ngetuk lantai.

[...]

"Hn, tidak ada apa-apa... tidak ada alasan yang istimewa, aku hanya ingin mengurangi waktu kerjaku dan memakainya untuk bersenang-senang." Sasuke menyeringai, mengingat pemuda manis yang akan menjadi mangsanya.

[...—Ah!]

Sasuke tertawa mendengar suara di seberang jaringan sana, "Hm, ada apa Kakashi? Seseorang mencubitimu?"

[...]

"Baiklah, sampai bertemu 3 hari lagi." Sasuke melepaskan ponsel itu dari telinga kanannya dan menekan tombol merah. Ia berbalik, dan sudah lengkap memasang seringaian iblisnya, "Baiklah, Idiot. Sekarang katakan, siapa kau sebenarnya?"

.

.

.

Krik..krik...krik...

.

.

Keadaan di sana kosong melompong, pintu apartemen Sasuke sudah terbuka dan terayun-ayun seperti dibanting keras-keras. Sasuke berdecak, wajahnya mengkerut dan hatinya mulai berapi-api, ia mengengam ponsel di tangannya kuat-kuat seolah ingin meremukannya, "Ck, dia kabur!"

Sasuke melangkahkan kakinya dengan cepat, ia ingin segera mencari pemuda itu. Meskipun ia tahu, mereka akan bertemu setiap waktu, tapi rasa penasarannya yang besar membuatnya ingin mengetahui kebenaran saat itu juga.

Tapi, sebelum Sasuke bisa keluar dari dalam kamarnya, tgerakannya terhenti oleh seseorang yang sudah di depan pintu masuknya, memasang tampang bingung pada Sasuke yang terlihat terburu-buru. "Ah? Sasuke-kun? Kau hendak kemana?" tanya orang yang ada di depan pitnu kamar Sasuke. Siapa lagi orang itu kalau bukan Haruno Sakura?

Sasuke berdiri diam, sorot matanya tajam menatap Sakura seolah mengatakan 'MINGGIR!', tapi nyatanya Sakura tak minggir se-inchi pun. Sasuke mengerang? Tentu saja begitu, ini pertama kalinya tatapannya tidak bisa membuat orang ketakutan dan menjauh. Mungkin alasannya adalah karena Sakura dari tadi tidak menatap mata Sasuke, dia sibuk menundukan kepalanya sambil mengengam erat sesuatu di tangannya.

"Hn. Apa urusanmu Haruno?" Sasuke berkata dengan nada datar, mata oniksnya bergerak-gerak liar menelusuri ke dalam lorong hotel tersebut, mungkin saja masih ada sisa-sisa penampakan pemuda yang menyamar itu.

Sakura tampak agak kaget mendengar perkataan Sasuke padanya, dia sadar sepenuhnya—kalau Sasuke pasti sedang merasa tergangu. Baguslah kalau wanita pink itu sadar. "A...arh... aku cuma ingin memberikan ini padamu." Sakura menyodorkan sebuah buku kecil pada Sasuke. Sasuke melihat buku itu sekilas, lalu menarik pandangannya lagi dengan karena dia tidak berniat melihatnya. "Ini naskah untuk episode 26-28."

"Hn." Sasuke menerima naskah itu, lalu menutup pintu kamar hotelnya yang ada di belakangnya. Sasuke sudah ingin melangkahkan kakinya untuk melawati dan meninggalkan Sakura di situ. Dalam pikiran Sasuke sekarang, dia harus ke lantai bawah untuk mencari kamar pemuda itu.

Grebh!

"Sa-Sasuke tunggu!" Sakura menarik tangan Sasuke agar tetap berada di tempatnya berdiri. "P-Pein memberitahu kita untuk berlatih beberapa adegan di episode 27 dan 28," ucap Sakura dengan canggung, kedua pipinya yang putih terlihat memerah, dan kedua kaki yang bergerak-gerak dan saling mengesek satu sama lain menandakan bahwa gadis itu sedang gelisah.

Alis Sasuke naik 0,2 cm, hampir tidak terlihat perubahannya, wajahnya masih terlihat datar di depan, tapi hatinya sudah bertanya-tanya. 'Mengapa gadis ini sangat menyebalkan!? Mengangunya dalam perburuan yang penting?'

"Hn? Apa maksudmu Haruno?"

Sakuea menundukan kepalanya dalam-dalam, menatap sepatu berwarna pink dengan pita merahnya, dengan nada malu-malu, ia berkata lagi, "P-Pein mengatakan kalau di episode 27 dan 28, a-ada sedikit adegan ranjang. Ja-jadi—"

"Pein menyuruh kita berdua untuk berlatih, hm? Tunggu, adegan ranjang?" potong Sasuke cepat, kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Dalam hatinya Sasuke sekali lagi mengumpat. Apa sih yang dipikirkan pengacara itu! "Maksudmu adegan berciuman, membuka baju hingga sampai di atas ranjang?"

Sakura tersentak, dia mengangkat kepalanya dengan wajah memerah, "Err... bagaimana menurutmu?"

Sasuke berdecak, mata hitamnya yang sipit melihat ke sekeliling lorong hotel tersebut, tidak ada seorang pun di sana. Sasuke berharap tak ada satupun wartawan gosip yang ada di sana, dan melihat dirinya ada berbincang-bincang di depan kamar hotel bersama lawan main dramanya tersebut.

"Menurutku? Menurutku aku tidak setuju dengan adegan ranjang itu."

Raut muka Sasuke berubah seketika, blush di pipinya menghilang, dan berubah menjadi raut kekecewaan, "E-eh?" Sakura memainkan jarinya sendiri dengan gelisah, "Kenapa?"

Sasuke menghela napas pendek, wajahnya masih datar dan terlihat tidak niat untuk berbicara panjang lebar, "Pada penandatanganan kontrak sebelumnya, tidak disebutkan bahwa akan ada adegan-adegan komersial yang menjurus ke hal yang berbau dewasa. Hal ini, jika tidak menerima persetujuan dari beberapa pihak akan mendapat kontroversi." Sasuke menatap tajam Sakura.

"Ta-tapi, di dalam kontrak, ada beberapa hal yang tertulis bahwa alur cerita akan dibuat menurut permintaan pemirsa yang paling banyak..." balas Sakura lembut. Meskipun begitu, perkataannya terkesan menyangkal dan seolah-olah dia setuju akan adanya adegan tersebut.

"Kau tahu Haruno? Biarpun adegan seperti itu bisa diterima di masyarakat luas dengan memberikan rating tertentu dan menyaring penonton di bawah umur, hal itu sendiri akan berdampak pada popularitas kita berdua. Apakah Si tindik itu tidak memikirkan gosip apa saja yang akan beredar jika adegan ini benar-benar dilakukan?!"

Sakura menundukan kepalanya, dia hanya bergumam sekali-sekali sambil berpikir agak kesal dalam hatinya, "A-aku mengerti."

"Biarkan aku berbicara pada Pein nanti," putus Sasuke, wajahnya yang tampan dan tegas saat membuat keputusan membuat Sakura begitu menyukai lawan mainnya ini, "Lebih baik kita cepat berpisah, Haruno. Kau tahu bahwa wartawan berkeliaran di sekitar hotel ini, dan kau menahanku cukup lama di luar sini. Kau mau wartawan-wartawan itu melihat kira dan membuat berita yang aneh-aneh?"

Merasa kata-kata Sasuke yang mulai kasar padanya, Sakura bersungut dalam hati, padahal dia sudah bersikap manis sejak tadi, padahal mereka sudah bersama di beberapa drama dan layar lebar! Padahal mereka sudah sering berciuman berdua! Padahal Sakura merasa ia sudah sering memberikan Sasuke perhatian yang menjadi tanda bahwa ia menyukai Sasuke dan tidak keberatan sama sekali dengan gosip yang tersebar antara dirinya dan Sasuke. Tapi—kenapa Sasuke masih tetap angkuh padanya?! KENAPA?!

"A-aku akan kembali ke kamarku!" Sakura mengangkat kepalanya dan tersenyum semanis mungkin pada Sasuke, lalu setelah beberapa langkah dia berjalan, dia berbalik dan tersenyum manis sekali lagi. "Tidurlah cepat Sasuke, besok syuting akan dimulai jam 5 pagi," ujarnya (sok) perhatian.

"Hn."

Dan tubuh sexy Sakura yang bahkan sama sekali tidak membuat Sasuke tertarik itu pun menghilang.

Sasuke berdecak dan melihat jamnya, sudah 20 menit dia berbicara dengan Sakura. Itu waktu yang lama, dan cukup untuk Si Idiot itu kembali ke kamarnya dan mengunci diri sampai dirinya merasa nyaman, bahkan mungkin bersiap-siap untuk mengemas barang dan kabur. Sasuke mengepalkan tangannya dan menyeringai sejenak, "Kita lihat besok pagi Idiot," ucapnya dengan kekehannya yang agak mengerikan, "Kita lihat apa kau masih cukup bodoh untuk mengantar dirimu pada setan."


Iruka melihat seonggok steak yang ada di depannya, dia ketakutan, bahkan menelan ludahpun dia tak sanggup. Matanya masih melihat lekat-lekat pria berambut keperakan yang terlihat mengaduk-aduk spagetinya sambil menatapnya dengan intens.

Mata kecoklatan Iruka bergerak perlahan ke arah tangan Kakashi yang berada bebas di atas meja, ada perasaan bersalah dalam dadanya ketika melihat jemari pria di depannya, memerah dan tampak kaku untuk digerakan. Iruka meremas jarinya, "Ma-maaf, apa tanganmu itu masih sakit?"

Kakashi berkedip sekilas dan tersenyum, "Tenang saja, " ujarnya, sambil menyeruput lemon tea yang ada di atas mejanya, "Jika ini benar-benar sakit dan membuatku marah padamu, aku tidak akan mentraktirmu steak."

Iruka berjengit, bukankah perkataan Kakashi itu terdengar mencurigakan? Jangan-jangan pria di depannya ini berpura-pura baik padanya dan menaruh sesuatu di dalam steak yang dipesannya, "Maaf, aku tidak menerima barang dari orang asing." Iruka mendorong piring steak di depannya dengan lembut.

Si rambut perak keabu-abuan tersenyum, dengusan napasnya terdengar lembut, dia melepaskan garpunya dan mengecap-ngecap sisa rasa spageti di lidahnya, setelah beberapa saat... pemuda itu menjulurkan telapak tangannya, tersenyum penuh arti pada Iruka, "Namaku Kakashi Hatake, senang bertemu denganmu lagi."

Iruka mengedipkan kedua matanya berkali-kali dengan bingung, tapi... sikap sopan terhadap orang lain yang melekat kuat padanya membuat tangannya refleks menyambut uluran tangan Kakashi. "Umino Iruka—tunggu!? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyanya kaget.

Kakashi menutup matanya perlahan dan menganguk, senyumnya melembut, "Coba tebak dimana."

Iruka menaikan kedua bahunya, dia malas berpikir, ia rasa... mereka berdua sama sekali tidak pernah bertemu, "Aku tidak tahu."

Kakashi menghela napas melihat sikap pemuda di depannya. 'Sepertinya ia memang tidak ingat padaku.' pikir Kakashi merana dalam hati. Tentu saja tidak ingat, pada saat mereka bertemu dulu, Kakashi sedang memakai maskernya! "Bagaimana kalau kau mencoba mengingat-ingatnya sambil menikmati sepiring steak yang sudah kupesankan untukmu ini?" Kakashi menyodorkan lagi piring steak di depannya mendekati Iruka, "Lagipula kita sudah berkenalan dan aku bukan orang asing lagi untukmu."

"Kau mengerikan!" desis Iruka, wajahnya mengeryit meskipun ia tersenyum, "Aku sungguh-sungguh tidak ingat kau siapa, tapi melihat wajahmu sepertinya kau sungguh-sungguh." Iruka mengambil sebuah garpu dan pisau kecil, memotong daging steak yang ada di depannya dan memasukannya ke dalam mulutnya, "Coba buat aku ingat siapa kau!" pintanya sambil mulai mengunyah makanannya.

Kakashi tersenyum lebar, "Senang mendengar perkataanmu yang sudah mulai menerimaku Umino-san, bagaimana kalau kita mulai dengan sebuah jalan dekat supermarket ramai di mana orang berlalu lalang tetapi tidak mempunyai perhatian sama sekali pada orang yang membutuhkan bantuan?"

Iruka mengernyitkan keningnya. Tidak mengerti. Kata-kata Kakashi sangat ambigu untuknya,seperti teka-teki setengah jadi, "Hah? Maksudnya?"

"Coba saja pikirkan, sambil menikmati makananmu," Kakashi tersenyum misterius sambil menyuap beberapa helai spageti lagi ke dalam mulutnya, tertawa dalam hati ketika melihat wajah Iruka yang kebingungan.

Iruka menghela napas keras, "Sebenarnya aku tidak suka menebak," dia tersenyum manis pada Kakashi, "Tapi aku suka gayamu Kakashi-san, akan kuikuti permainanmu." Iruka mengedipkan satu matanya— bisa nakal juga dia rupanya.

Iruka saat itu berpikir, jangan-jangan Kakashi adalah orang yang tertarik padanya, tapi ingin berkenalan dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan cara berbohong bahwa mereka pernah saling bertemu dan membuat waktu bersama mereka lebih lama.

"Baiklah, apa kau sudah ingat dimana kita pernah bertemu, Umino-san?"

"Hmm..." Iruka memasang tampang berpikir, "Biar kupikirkan dahulu."

"Aku menunggu," desis Kakashi dengan senyuman penuh arti.


Naruto berjalan dengan terseok-seok di dalam lorong hotel tersebut, di sudah galau di dalam lift selama beberapa menit dan diberikan pandangan aneh oleh orang-orang yang tak beruntung se-lift dengan Naruto. Naruto meremas kepalanya, Hancurlah sudah semua rencananya! Dia ketahuan! Sasuke mengetahui bahwa dia laki-laki, dan Sasuke juga sudah memergokinya mengambil foto-nya saat mandi. Habislah dia! Alamatnya mungkin akan berakhir di kantor polisi dan penjara.

' Kau manis.'

"ARGGGHHH!" Naruto menarik wig-nya hingga hampir lepas, histeris ketika mengingat perkataan Sasuke pada dirinya, "D-dia sungguh gay!" keringat dingin menguncur deras dari dalam pori-pori kulit Naruto, aura di sekitarnya pun mendadak semakin suram.


' Aku ingin melihat sosokmu tanpa penyamaran.'

Naruto ingin menanggis, "D-dan dia tertarik padaku~." Hancurlah sudah harga dirinya sebagai seorang Namikaze yang keren, ganteng, dan bersahaja yang seharusnya ditaksir cewek-cewek ini. Dengan langkah semakin terseok dan punggung yang membungkuk, Naruto berjalan menuju kamarnya, ia ingin istirahat dan memikirkan nasibnya di lain waktu. Atau mungkin, akan lebih bagus jika dia gantung diri saja malam ini.

Mata Naruto yang sayu dan kelelahan agak sedikit menyipit. Rasa bingung menyergap saat melihat seseorang berdiri di depan pintu kamarnya. Naruto masih belum bisa melihat sipakah sosok itu, dan ada rasa cemas tumbuh dalam hatinya bilamana orang tersebut adalah Sasuke. Dengan hati-hati Naruto menyentuh kamera yang beragantung di lehernya dan melepaskan memori kamera tersebut, menyimpan dalam saku celananya.

Ketika Naruto mendekat, Naruto sadar itu bukanlah Sasuke. "Ah, selamat malam Uzumaki-san," melainkan Pein.

Dengan gugup, Naruto merapikan bajunya sejenak, dan berusaha menutupi bekas gigitan Sasuke di lehernya, "Ah, selamat malam juga, Pein-san? Err... ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Naruto, berusaha tersenyum di antara keletihan dan kecemasan hatinnya.

Pein tersenyum, "Hmm, tidak usah memanggilku Pein, panggil aku Yahiko, itu nama asliku. Pein hanyalah nama yang diberikan oleh teman-temanku." Pein tertawa ," dan aku tidak akan berbasa-basi, Uzumaki-san," ujarnya, dadanya menegap dan nada bicaranya datar—menandakan keseriusan.

Naruto menganguk, ia menyisir wig berwarna violetnya dengan jemarinya. Dia melihat Pein berjalan pelan di sekitar tempatnya berdiri, ke kanan, ke kiri, lalu kembali ke kanan lagi seolah-olah bingung apa yang hendak bagaimana ia membuat kata-kata, "Pein-san? Kau ingin mengatakan apa?" tanya Naruto, agak tidak sabar.

"Yahiko-san," koreksi Pein, ia memposisikan tubuhnya tepat di depan Naruto. "Uzumaki-san," mulainya, tapi dengan mata mengarah di lukisan dinding di dalam hotel itu, " Kau tahu? Tahun ini aku sudah berumur 39 tahun." Pancaran mata Pein tampak agak sendu saat itu.

"Oh ya?" balas Naruto sambil menyengir, "Aku tidak menyangka umurmu ternyata 39 tahun, Yahiko-san?" Kali ini Naruto tertawa, 'Aku pikir umurmu 45 tahun.' lanjut Naruto dalam hatinya—kejam.

Pein berbalik menatap Naruto, "Terima kasih Uzumaki-san, memang banyak orang yang salah sangka jika aku ini masih berada di perguruan tinggi," balas Pein—amat percaya diri. Lalu, Pein pun menghela napasnya, dia berbalik dan kembali menatap lukisan dinding, "Kau tahu Uzumaki-san?"

Naruto mengeleng, "Mengetahui apa?"

"Semakin lama, di umurku yang sudah semakin menua ini, aku merasa sangat kesepian dalam menjalani hari-hariku," ucap Pein dengan nada dramatis. "Maksudku... aku bahkan tidak mempunyai teman di atas tempat tidur."

Naruto agak tertawa mendengarnya, dia kasihan pada Pein, umurnya sudah hampir kepala 4 tapi masih belum punya teman tidur, "Benarkah? Hahaha." Tapi... entah mengapa, pembicaraan seperti ini membuat perasaan Naruto jadi tidak enak. Kenapa ya?

Pein bergumam, bersenandung dengan penuh penghayatan. "Begitulah nona Uzumaki, aku— " Pein berbalik dan menatap langsung ke mata ber-softlens merah Naruto, "Membutuhkan pendamping hidu."

"Hah?"

Pein menganguk, lalu tersenyum kecil melihat reaksi Naruto. Dia maju selangkah mendekat ke arah Naruto, "Nona Uzumaki," Pein tersenyum penuh pesona—terlihat sangat memuakan di mata Naruto. "Sejak pertama melihatmu, aku tertarik padamu, dan aku ingin mengenalmu lebih jauh. Bolehkah?"

GLEK! Naruto menelan ludahnya penuh ketakutan. Aduh! Apa-apaan lagi ini? Belum juga masalah dengan si brengsek Uchiha itu selesai, muncul lagi permasalahan baru. Itu lamaran tidak langsung! Dan seumur hidupnya Naruto tidak pernah dilamar. Hei ayolah! Ia lelaki, lelaki tidak dilamar. Mereka melamar, oke?.

"Kau gi-gila." Naruto mundur selangkah, tubuhnya bergetar, rasa takut yang di rasakan saat bersama Uchiha itu tadi muncul lagi. Sekarang lengkap dengan rasa jijik juga. Wanita saja ogah dilamar dengan cara begitu, apalagi Naruto yang notebene-nya masih menganggap dirinya lelaki tulen! "P...Pein-san, kau jangan bercanda."

Pein mengeleng pelan. "Aku tidak bercanda," ujarnya, "kau membuatku terpana di pandangan pertama, nona Uzumaki."

Naruto merinding, mukanya memucat dan ia membatu di tempat, "A-aku...aku... tidak bisa." Naruto tergagap."A-aku, aku..."

"Setidaknya, aku ingin kita saling mengenal dulu, nona Uzumaki." Pein masih tersenyum menatap wajah Naruto yang tampak kikuk. Menurutnya Naruto amat cantik, ia bagaikan senyum di antara kesedihan, bagai setitik cahaya di gelapnya malam, dan seperti sebongkah berlian di antara batu karang, pikir Pein puitis dalam hatinya—sayangnya agak norak. Tapi, senyumnya tiba-tiba memudar ketika melihat bekas kemerahan yang tak sengaja terlihat ketika Naruto mengaruk-garuk lehernya sebagai salah satu reaksi kegugupannya oleh Pein.

"Kau sudah mempunyai kekasih, Uzumaki-san?'" tanyanya lembut, tapi ada nada kekecewaan di kalimatnya. Naruto tersentak dan wajahnya memerah seketika, lalu menatap lurus ke arah Pein. Pein masih menampakan senyumnya, ia menunjuk lehernya sendiri.

Jika yang ditunjuk Pein adalah lehernya sendiri, itu artinya adalah leher Naruto, dan ia menyadari hal itu. Dengan cepat, Naruto segera menutupi lehernya itu, mukanya memerah sepenuhnya, sambil mengigit bibirnya, Naruto mulai mencari-cari alasan yang tepat, "I-ini digigit oleh serangga." Kilahnya. DAMN! Naruto ingin saja berteriak dan mengatakan, 'Ini ulah Uchiha Sasuke, dia khilaf dan mungkin mengira aku sebuah tomat.'

Tapi tentu saja kata-kata seperti itu tidak mungkin dilahirkan. Itu adalah jawaban paling nekat sepanjang masa.

"Haha, serangga yang sangat posesif sepertinya," Pein tertawa lebar, membuat Naruto bingung dalam hatinya, padahal... Pein baru saja menyatakan rasa tertarik (baca: melamar secara tidak langsung) pada Naruto beberapa menit yang lalu, tapi sekarang dia malah mengira bahwa Naruto sudah memiliki kekasih dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. "Katakan kepada kekasihmu untuk berhati-hati, Uzumaki-san..."

Naruto mengangkat kepalanya. Bingung. Apa maksudnya itu?

Pein menyipitkan matanya, lalu maju beberapa langkah menuju Naruto, "Karena kapan saja aku bisa merebutmu darinya," bisik Pein seduktif, senyumnya melebar seperti punya obsesi tersendiri. Dan Pein melangkah maju, meninggalkan Naruto begitu saja. Ya, dia pergi, dan membiarkan Naruto diam sambil berpikir tentang ketidaksialannya, dan juga mempertimbangkan, apakah dia akan menerima lamaran Pein atau melempar dirinya sendiri ke laut.

.

.

DAMN IT.

Salahkan ibu Naruto yang menurunkan wajah imutnya anak-anaknya. Dan salahkan bapak Naruto yang menurunkan kharisma-nya yang luar biasa pada anak-anaknya.


"Groooahhhh!" Bagaikan ogre yang sedang mengamuk, Naruto berhuru-hara di dalam kamarnya, melempar satu perabotan ke perabotan yang lain. Dia stress—ya, sangat stress. Alasannya? Apa lagi selain Si brengsek Uchiha dan Si tindik seribu, Pein.

Naruto menhantukan kepalanya berkali-kali ke tembok, softlens dan wignya telah ia lepas dan tergerai begitu saja di atas lantai. "Kami-sama, Kami-sama, Kami-sama~ kenapa kau memberikanku cobaan seperti ini?" tanya Naruto miris, sedih sekali dalam hatinya.

Terkadang, Naruto benar-benar bingung dengan jalan hidupnya. Entah kenapa, hidupnya seperti penuh dengan masalah. Ya taruhanlah, ya dilamarlah, ya ditaksirlah, pokoknya ada-ada saja yang bisa sampai membuatnya stress. Dengan langkah terseok-seok, Naruto mendatangi kaca rias yang sudah dipersiapkan di dalam kamar hotel tersebut. Mata Naruto agak sedikit melebar melihat lehernya yang tadi menjadi sasaran gigitan oleh Sasuke. "The fuc*king ass! Si brengsek itu membuat kulitku terkelupas!" Erang Naruto kesal, giginya bergemeretakan menahan kemarahan yang meluap-luap. "Lain kali, akan kubuat dia merasakan sakit ini! Akan kupotong alat kelaminnya!" kata Naruto asal, menyumpah-nyumpah dalam hati. Kembali Naruto melangkahkan kakinya ke tempat tidurnya, dan—BRUUUKK! Dengan segala rasa keputusasaan dan kekesalan yang ada, Naruto merebahkan dirinya di tempat tidurnya. Setidaknya, tidur adalah setitik kebahagiaan di hidupnya yang menyedihkan ini.

"Selamat malam, Naruto..," bisik Naruto pada dirinya sendiri, sebelum jatuh ke dalam mimpi-mimpinya yang fana.

'Kau manis.'

' Sejak pertama melihatmu, aku tertarik padamu...'

' Kau pikir aku tidak melihat jakun yang tumbuh lehermu? Kau pikir aku tidak bisa melihat tonjolan di antara selangkanganmu?'

.

.

"ARGGGHH! SIALAN!SIALAN!SIALAN!"


To Be Continued...


Curcol-an author: Sudah hampir 2 bulan saya tidak update dan itu malah membuat ide-ide saya hilang entah kemana, saya butuh waktu lama untuk menyelesaikan chapter ini. Diketik sedikit demi sedikit dengan rasa malas yang luar biasa besar /sigh/. Cuma mau bilang, saya akan tetap berusaha update meskipun tidak bisa serutin dahulu lagi,. Terima kasih banyak untuk para reviewer yang sudah me-review di chapter sebelumnya. Saya sangat, sangat, sangat minta maaf karena tidak bisa membalas review kalian. Tapi percayalah, review kalian adalah segalanya untuk saya.

With smile.

Iria-san.

.

.


Thank a lot for:

de-chan love OPFTNS/ Unnamend/ Anami Hime/ shizau indah/ Pink Purple Fuchsia/ virgi. (for chap. 1, 2, and 5)/ heriayandi kurosaki/ Anak YunJae/ Runriran/ Princess Li-chan/ 8Q3APo/ Reihaka Ichitachi/ uchiha cuchan clyne/ B-usagi/ Yakohiko Yahiko Hoshie/ ukky-chan/ Indahyeojasparkyuelfsarangha ekim(Maaf ya, aku tidak bisa mengirim sms pad aorang yang tidak kukenal)/ kira hanazawa/ / Augesteca/ akagi akihiko/ Qhia503/ Yuki No Fujisaki/ Momo Kim/ keiji wolf/ widi orihara/ Yuumeko Hana/ laila. r. mubarok/ Daevict024/ Kiroikiru no Mikazuki Chizuka/ anie/ Ciel-Kky30/ sheren/ Gunchan Cacunalu Polepel/ Kiseki No Hana/ Kitsune no Sasunaru/ Namikaze Noah/ Kutoka Mekuto/ devilojoshi/ Asha lightyagamikun/ sytadict/ tetchan/ MJ/ Khukhudatte-san/ Uchiha Aira/ Farenheit July/ KyouyaxCloud/


Cerita tambahan.

"Ughh! Uummm!" Geram Kyuubi dengan kesal, tangannya masih mencekram lengan pemuda berbadan tinggi di depannya dengna sekuat tenaga. Kyuubi cukup kuat, sehingga di saat-saat terakhir, sebelum pemuda itu berhasil mengambil alih bibirnya secara keseluruhan, ia bisa menendang pemuda itu menjauh. "Brengsek!" Sumpah Kyuubi sambil mengosok-gosok bibirnya yang memerah— bagian tubuhnya yang sempat dijajah oleh pemuda itu tadi.

Pemuda yang jatuh tersungkur di tanah itu tersenyum, menjilati bibirnya yang terdapat bercak-bercak saliva, "Manis," ucapnya nakal, sama seperti yang selalu dilakukannya, "Sama seperti biasanya, bibirmu selalu manis, Little fox."

Kyuubi kembali mengeram, telapak tangannya mengepal—ingin meninju pemuda di depannya, "Brengsek! Berhenti memasang tampang seperti itu Uchiha! Kau membuatku muak!" Dengan wajah semerah tomat—entah karena menahan marah atau apa, Kyuubi menghentakan kedua kakinya di tanah dan berbalik. Dia ingin pergi dan pulang sekarang juga. Ditinggalnya saja setumpuk buku-buku yang dipinjamkan oleh rekan kuliahnya.

"Bibirmu yang manis bagai anggur. Menyegarkan bagai embun pagi dan memabukan bagaikan alkohol~." Gumaman Itachi pelan, hampir untuk dirinya sendiri tetapi mampu membuat Kyuubi menahan langkahnya untuk menjauh. Itachi menarik napasnya perlahan, menghirup udara malam dengan penuh penghayatan. "Such a beautiful lip~"

Dan itu cukup membuat Kyuubi merinding dengan tubuh yang menegang. "Ka-kau gila, Uchiha!" desis Kyuubi pelan.

Itachi tersenyum kecil, lalu menatap Kyuubi, "Gila?" tanyanya sambil terkekeh, "Ya, aku memang sudah gila, gila memikirkan bagaimana nanti rasanya bibir adikmu."

"A-ap..."

"Bibirmu saja sudah begitu memabukan untukku, apalagi bibir adikmu yang jelas lebih merah dan terlihat lebih kenyal daripada milikmu~" kata Itachi, sambil menjilati bibirnya. Tatapannya bernafsu.

Napas Kyuubi kembali tercekat, dengki di hatinya semakin membesar. Tak terima adik yang sangat dia sayangi dikatakan seperti itu. "Tutup mulutmu! Uchiha! Aku tidak akan membiarkanmu atau siapapun mencium adikku!"

Itachi menyeringai, bibirnya naik sedikit memperlihatkan gigi taring, "Benarkah? Aku memang belum sedikit pun mencicipi bibir adikmu. Tapi—" Itachi melangkah maju, dan mendekatkan tubuhnya pada Kyuubi, "—aku rasa adikku sudah merasakannya. Aku akan menanyakan bagaimana rasanya, nanti."

BUAAAAKKKKK!

Dengan penuh kebencian, Kyuubi melayangkan satu buah tinjunya pada Itachi. Tinju yang sangat-sangat keras yang pastinya akan menimbulkan luka lebam. "O-OMONG KOSONG!"

"Omong kosong?" Itachi menaikan alisnya, memancing kemarahan Kyuubi lebih besar lagi, "Menurutmu, apa yang akan terjadi di antara mereka berdua? Hmm?" Itachi mengedipkan satu matanya jahil. "Coba tebak, Little fox."

Kyuubi mendecak tak sabar. "Chk! Aku tidak suka tebak-tebakan Jackass!"

Itachi masih menahan tawa di dalam dadanya, "Hmm, baiklah, biar aku jelaskan Kyuubi-chan sayangku~. Adikmu—" Itachi menunjuk Kyuubi memakai jari telunjuknya, "adalah sosok yang sangat manis, bukan kegitu?" Lalu Itachi mengarahkan ibu jarinya pada dirinya sendiri, "Dan adikku— sebenarnya adalah gay. Kau tahu?"

Kyuubi menegang, seperti ada sebuah tombak tajam nan beracun yang menembus dadanya dari belakang. Adiknya, Naruto Namikaze bersama seorang gay di suatu kota bernama Okinawa, dan Kyuubi tidak tahu apa yang Naruto lakukan di sana. Sebagai kakak yang terlalu menyanyangi adiknya, Kyuubi merasakan getaran kekhawatiran yang luar biasa dalam dirinya.

"Dan... ah ya! Bukankah aku juga sudah mengatakan padamu bahwa adikmu berkerja untuk adikku, Little fox~?"

Kyuubi mengeratkan gengamannya, "KALIAN PARA UCHIHA BENAR-BENAR BRENGSEK!"