Story: DAMN

Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto

DAMN! © Iria-san

Rating: T+ (M untuk bahasa-bahasa vulgar yang saya gunakan~ gak naik rate beneran loh yah!)

Genre: Humor & Romance yang diragukan

Main Pairing: Uchiha Sasuke(23) & Namikaze (Uzumaki) Naruto(21).

Other Cast: Haruno Sakura (21), Umino Iruka(31) & Hatake Kakashi(34), Tsunade(50+), Uchiha Itachi(26), Namikaze Kyuubi (26), Pein/Yahiko(39) dan beberapa original character.

Warning: AU, Typo, Mistypo, super OOC for Uchiha Brothers, Incest, Boys Love, Shounen-ai, gaje, bahasa mungkin berbelit-belit dan tidak terkendali alias asal sembur, etc. . If like, you must to read it, if don't like, please read this warn before you press back button!/ngototness/

Word Count for this chapter: 8000+ ( harap membaca dalam keadaan santai, dan jangan membaca dengan terburu-buru.)

Author Note: Yessss! Gue bisa update! Akhirnya~ di tengah kesibukan gue yang bikin sakit perut ini gue bisa update! Nyahahhahahaha. Yo, reader~ saya kembali. Terima kasih yang masih mengingat fanfict ini dan membuka page ini. Saya sangat terharu./Nanggis/ maaf sudah membuat menunggu lama.


Chapter 9: DAMN, The Truth.

(:*Iria-san*:)


Uchiha Sasuke duduk di kursinya dengan wajah datar, di memegang sebuah buku naskah yang tengah coba ia hapalkan. Meskipun begitu, perhatiannya sama sekali tidak ke arah buku naskah itu, melainkan ke arah keramaian lokasi syuting yang dipenuhi kru yang sedang berlalu lalang.

"Uchiha-san! Jangan bergerak!" Perintah juru rias yang ada di sebelah Sasuke, bibirnya mengerucut karena kesal, namanya Rin Nohara. Seorang penata busana dan make up artist di drama itu. Tidak perlu dijelaskan secara detil oleh siapa, bagaimana dan mengapa wanita rambut pendek berwarna coklat ini menjadi juru rias di syuting tersebut. Karena itu tidak penting.

"Hn," balas Sasuke seadanya sambil kembali berpura-pura sibuk pada buku naskahnya. Meskipun, di dalam pikirannya, dia masih bertanya-tanya— KE MANA perginya Uzumaki Akashi—si cewek jadi-jadian itu?

Sasuke menghela napas pendek, separuh energi kehidupannya terasa ditarik paksa dari dalam tubuhnya. Memikirkan pemuda pendek yang sedang menyamar menjadi perempuan itu membuatnya galau. Apalagi mengingat aroma lemon yang lagi-lagi ia rasakan saat mengigit leher pemuda itu benar-benar membuatnya kecanduan.

Hmmm— lemon? Ah...Yah, tentu saja~ Pikir Sasuke sambil tersenyum tipis. "Bagaimana aku bisa lupa~."


Naruto bersungut-sungut di depan laptop orangenya, kedua matanya fokus pada layar yang sedang menampilkan sebuah situs jejaring sosial di dunia maya. Ia sedang mengurus foto— ya foto! Naruto harus segera mengirimkan foto yang menjadi bahan taruhan itu ke Onyx Nightsky sekarang juga! Dia sudah sangat ingin mengakhiri taruhan konyol semacam ini.

Hidup dan nasibnya sudah benar-benar terancam dan dia mungkin hanya mempunyai kesempatan amat kecil untuk kembali ke hidupnya yang normal sebagai seorang pria dan fotografer yang bahagia. Selesaikan semua ini sekarang juga! — hanya itu yang ada di kepala Naruto sekarang.

Biarlah ia kesampingkan dulu kegalauannya soal disukai oleh Sasuke Uchiha— Si tengik gay sok keren yang sangat dia benci dan lamaran Si tindik seribu—Pein! Atau Yahiko? Terserahlah.

Naruto menurunkan kursornya dan melihat foto-foto yang dia dapatkan dari kamar hotel Sasuke— dia beruntung bisa mempertahankan kameranya sampai akhir. Tak sia-sia juga perjuangannya melawan Uchiha itu habis-habisan— Yah, biarpun sebagai gantinya, Naruto kembali masuk ke dalam masalah yang lebih besar.

"Ini tidak cocok..." Naruto mulai melakukan tahap seleksinya. Dia menatap foto Sasuke yang sedang membelakangi kamera, sehingga hanya punggung dan seperempat pantatnya saja yang terlihat "Ini mengerikan." "Ini juga tidak cocok," kata Naruto pada foto setengah badan Sasuke yang lain, wajah Sasuke memang tidak terlihat jelas di sana. Lalu, kemudian foto selanjutnya memperlihatkan Sasuke yang sedang mengelus kulitnya sendiri—bermain dengan sabun, sehingga di foto itu terlihat sekali bahwa kulit Sasuke benar-benar halus. "Hahahaha!Kalau seperti ini, Sasuke benar-benar seperti wanita iklan sabun. Tapi ini tidak cocok."

Tak berapa lama, masih dengan tahap seleksi fotonya. Naruto malah terkikik sendiri melihat salah satu foto Sasuke yang didapatnya, foto Sasuke yang sedang berbalik dan memperlihatkan keseluruhan pantatnya secara langsung. Naruto mengeleng-gelengkan kepalanya masih sambil tertawa, "Ternyata... pantat Sasuke itu sangat tepos! Datar! Pantat yang sangat buruk!" Kikik Naruto( rupanya Naruto tidak tahu berapa banyak wanita yang ingin menyentuh pantat Sasuke dengan alasan sexy). Setelah tawanya mereda, Naruto mengaruk kepalanya, ia masih belum menemukan foto yang idealis untuk ia kirim ke Onyx Nightsky.

Foto yang idealis menurut Naruto adalah; foto setengah badan yang memperlihatkan wajah Sasuke dengan jelas, tidak memperlihatkan pantat atau alat kelamin, tapi memberi kesan bahwa Sasuke memang sedang bugil atau mandi dalam foto tersebut. Cukup susah mengingat kenyataan foto tersebut diambil diam-diam (dan dengan keadaan mata tertutup).

"Hmmm, kupikir dari semua foto, hanya foto ini yang cocok..," gumam Naruto. Memang, dari semua foto yang kira-kira berjumlah 8 buah, hanya 1 foto yang memenuhi kriteria idealis Naruto untuk dikirimkan ke Onyx Nightsky. Wajah Sasuke terlihat jelas di sana, berdiri menyampingi kamera dan sepertinya sedang keramas di bawah guyuran shower, belum lagi bagian punggung dan dadanya yang terlihat bidang dengan otot bisepnya yang terbentuk di lengannya, bulu ketiaknya yang lebat pun menjulur keluar dari bagian dalam lengan atasnya, pinggulnya kecil dan belahan pantatnya hanya terfoto sedikit saja. PERFECT! Wanita mana pun pasti akan berteriak kegilaan melihat foto sexy ini.

Naruto mengembungkan pipinya di depan laptop. Apakah ia iri? Ya begitulah. Sebagai seorang pemuda, Naruto merasa kalah jantan dengan Sasuke.

Oh Godness! Pemuda mana yang tidak iri?! Sasuke mempunyai bagian otot-otot yang selalu Naruto impikan sejak dulu kala. Sasuke mempunyai kulit putih bersih dan lembut yang sampai mati pun tak bisa Naruto dapatkan—kecuali kalau ia suntik putih. Sasuke mempunyai wajah oval dengan rahang yang terlihat kuat juga mata hitam yang tajam dan bibir tipis yang sexy .

Dan yang paling Naruto bingungkan lagi—kenapa bulu ketiaknya yang lebatnya minta ampun itu malah membuat Sasuke semakin sexy?!

Naruto mengerang, seriously! Tuhan memang tidak adil. Di saat dirinya terpaksa harus men-waxing bulu ketiaknya karena dikatakan mengangu pemandangan, Sasuke malah terlihat bersahaja dengan bulu ketiaknya yang membahana itu!

Nah loh! Kenapa jadi ngomonging bulu ketiak?

Akhirnya, dengan perasaan dongkol, Naruto mengirimkan foto tersebut ke email Onyx Nightsky sebelum dia terbakar sendiri karena rasa irinya. Aku sudah mendapatkan foto bugil Uchiha Sasuke untukmu, hei Brengsek. Dengan foto ini, karir Uchiha Sasuke yang mendunia itu dapat hancur dengan mudah. Jangan bermain-main denganku! Dasar gay buncit, botak, yang kerjanya cuma bisa mengejek orang saja!

Begitulah pesan yang Naruto sertakan bersama foto yang ia kirim. Dari pesan yang ia kirim, Naruto tentu saja adalah orang yang agak sedikit tidak sadar diri yah?

Setelah menunggu beberapa saat, Naruto tersenyum tipis saat melihat pemberitahuan 'The file has been sent' di layar laptopnya.

Naruto tersenyum lebar, dia bersandar pada kursinya sambil meregangkan kedua lengannya. Akhirnya~... taruhannya dengan Onyx Nightsky berakhir juga (menurut Naruto), tentu saja hal ini membuat Naruto sangat lega. Sebisa mungkin, Naruto sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meladeni lagi orang menyebalkan itu, karena— bukannya tidak mungkin terus bermain chatting bersama Onyx Nightsky itu akan membawa dampak buruk tersendiri untuk Naruto. Naruto berpikir— fansnya saja sudah sangat menyebalkan, apalagi yang dia idolakan, tentu lebih menyebalkan lagi bukan?

DAMMIT! Sekarang Naruto teringat lagi dengan kejadian kemarin malam. "Brengsek! Si keparat itu sudah mengetahui kalau aku ini lelaki! Sekarang aku tidak mungkin menampakan wajahku dengan tampang tidak berdosa di depannya!" desis Naruto sambil memegang bekas gigitan di lehernya yang agak sedikit menjadi koreng. Sekarang— yang Naruto hadapi adalah orangnya sungguhan, yang diidolakan, bukan fansnya! Parahnya lagi, Si Uchiha yang rupanya benar-benar gay itu sudah mengetahui bahwa ia seorang lelaki. Bukankah itu gawat? Tentu saja gawat! Hal ini benar-benar bisa mengubah masa depan Naruto menjadi hal yang sangat buruk. Naruto HARUS mencari cara yntuk kabur dari Uchiha Sasuke. Bagaimanapun caranya! Tentunya ketika dia sudah menyelamatkan kameranya yang berharga.

Naruto memijat pelipisnya sejenak, pening menyerang tiba-tiba. "Naruto, kau sudah tahu bahwa dia itu gay sejak dia mencegat dan menangkapmu yang menyusup ke apartemennya dahulu..." desis Naruto, "tapi kau memang benar-benar nekat hingga membuat dirimu sendiri jatuh ke dalam sarang serigala..."

Dan siapapun tak akan ragu bahwa mangsa yang telah jatuh ke dalam sarang pemangsa akan menjadi 'santapan' yang amat lezat.

Tiba-tiba, Naruto jadi berpikir— jika semisalnya, pada saat dia tertangkap di apartement Sasuke dahulu ia tidak meninggalkan kameranya, dan bisa mendapatkan foto bugil Sasuke saat itu juga. Apa semuanya akan menjadi lebih baik?

Entahlah! Siapa yang tahu dengan rencana Author. Yang pasti ingatkan saja Naruto untuk segera merebut kameranya lalu mengundurkan diri setelah ia pulang dari Okinawa dan pindah ke New York atau London.


Sekarang adalah waktunya istirahat, setelah sekitar 1,5 jam bersandiwara di depan kamera dan lighting, akhirnya Sasuke diberikan juga waktu istirahat selama 20 menit. Dan sampai saat ini pun, Sasuke masih bertanya-tanya, ke mana Uzumaki Akashi itu? Apakah pemuda jadi-jadian itu kabur kembali ke Tokyo dan berusaha untuk menyembunyikan dirinya. Sungguh! Jika itu benar-benar terjadi, Sasuke akan mengerahkan seperempat dari kekayaannya untuk menyewa detektif dan mencari pemuda itu sampai ketemu!

Dan jika sudah ketemu? Mungkin Sasuke akan segera me-rape-nya! Sasuke tidak akan membiarkan pemuda itu lepas dan lari darinya. Pemuda itu harus dihukum! Karena dia sudah membuat Sang Uchiha Bungsu penasaran dan tertarik padanya!

Sungguh obsesi yang mengerikan.

.

.

.

"Juugo!" Dengan nada yang datar tetapi tegas, Sasuke memanggil seorang staf bagian perlengkapan yang tengah lewat di depannya, kasihan sekali dia, harus berhenti berjalan padahal sedang mengangkat meja yang sangat berat.

Pria tambun berambut orange itu menatap Sasuke dengan bingung, ini pertama kalinya ia berbicara dengan Sasuke, agak bingung kenapa Sasuke bisa mengetahui namanya. "Ada apa?"

"Apa kau melihat gadis berambut violet dan bermata merah di sini?" Tanya Sasuke cepat. Ia tidak ingin membuang-buang waktunya. Istirahatnya hanya 20 menit. "Kau pasti mengenalnya, nama Akashi dan ia seharusnya ada di sini sejak 2 jam yang lalu."

Juugo mengerutkan keningnya, wajahnya seperti berpikir. "Apa maksudmu, fotograper untuk pembuatan biografimu?" tanya Juugo, matanya bergerak-gerak gelisah. Ia harus segera mengantarkan meja itu ke lokasi pengambilan gambar. Jika tidak, ia akan dimarahi oleh Pein.

"Hn," balas Sasuke, ia menghentak-hentakan kakinya di tanah dengan tidak sabar.

"Dia baru saja datang, dan sedang menyiapkan barang-barangnya di dalam tenda perlengkapan."

"Di mana dia?!" Tanya Sasuke cepat, tubuhnya yang awalnya bersandar di kursinya langsung menegak seketika.

Juugo mengangkat bahunya. "Bukankah sudah kukatakan kalau ia ada di dalam tenda perlengkapan. Ehmm... saya pergi dulu Uchiha-san, saya harus mengantarkan ini ke lokasi syuting, " ujar Juugo sambil tersenyum. Sasuke menganguk dan membiarkan Juugo kembali mengangkat meja yang dibawanya dan pergi.

.

.

Sasuke menghela napasnya pelan, ia menyenderkan tubuhnya lagi di kursi dengan tampang serius yang seolah berpikir, beberapa saat kemudian ia tersenyum, dan entah kenapa senyumnya selalu terlihat licik.

"SEMUANYA! KEMBALI KE POSISI! KITA AKAN MULAI KEMBALI SYUTINGNYA!" Tiba-tiba suara Pein yang mengelegar kembali membelah udara. Sasuke mendecak, sungguh! Ia kesal sekali, padahal ia ingin kabur dan mencari Uzumaki Akashi itu sekarang.

"Sasuke-kun, ayo kembali ke lokasi," ajak Sakura yang tiba-tiba saja tanpa disadari sudah berada di belakang Sasuke. Sasuke agak kaget juga meskipun tidak terlalu terlihat.

"Hn."

Sakura masih memperlihatkan senyum manisnya, pakaian yang ia pakai berupa kaus dan celana renang. "Sehabis ini adegan yang kau akan dihajar oleh sekelompok preman lho..."

"Hn." Sasuke berusaha mengacuhkan Sakura dengan berpura-pura sibuk dengan kertas naskah, sedangkan Sakura masih mencoba menarik perhatian Sasuke dengan tertawa-tawa kecil.

"Hehehe... kau lihat ini Sasuke," Sakura memperlihatkan sebuah obat mata di tangannya, "Pein memberikanku ini, karena nanti aku akan berakting menanggis sambil membelamu yang dihajar oleh para preman. Hahahaha, Pein sama sekali tidak mempercayaiku, padahal aku bisa berakting menanggis tanpa memakai obat mata." Sakura masih tertawa lebar. Tetapi, tak sedikit pun aktor tampan bermarga Uchiha itu memberikan perhatian padanya. Sakura mengumpat dalam hati, mulutnya terasa sakit karena sejak tadi berusaha tersenyum di depan Sasuke..

"..."

"..."

Krik...Krik...Krik...

.

.

"Ja-jadi Sasuke—..." Sakura melirik Sasuke yang masih sibuk dengan buku naskah dan sekarang memunggunginya. "E-ehmm—..." Matanya menyipit dan bibirnya langsung melengkung ke arah bawah dengan tampang miris. "Syutingnya sudah mau dimulai dan...errr..Sasuke? Kau dengar aku?" Dan akhirnya Sakura pun sadar bahwa Sasuke benar-benar tidak mendengarnya. Dengan kesal dan hati dongkol, akhirnya Sakura menarik napasnya panjang. Tidak! Dia tidak akan menyerah semudah ini! Sasuke harus memberi perhatian padanya.

"Oh ya Sasuke-kun, aku lihat dari tadi lampu notebook-mu terus berkedip, sepertinya ada email yang masuk."

JREGG! Tiba-tiba gerakan Sasuke terhenti dan menjadi gerakan patah-patah. Sakura tersenyum senang melihatnya. Akhirnya, dapat perhatian juga. "Dari siapa?" tanya Sasuke cepat.

"Ehm... entahlah." Sakura menaruh satu telunjuk di sudut bibir bawahnya, terlihat manis bagi lelaki NORMAL mana pun yang melihatnya, tapi tidak dengan lelaki yang tidak normal dan wanita normal. "Nama pengirimnya agak aneh... seperti sky, sky begitu~"

.

.

.

Sasuke menyeringai, rasa puas dan penasaran tumbuh di dalam hatinya, bagai seorang predator yang sudah mendapatkan mangsanya kembali untuk diintai. Dengan wajah penuh nafsu dan ambisi, Sasuke berbisik rendah, "Sapphiresky?"

Dan Sakura langsung berceletuk, "ya! Ya! Itu namanya Sasuke-kun!"


"Hmmm...ya, ya, ya baiklah, cuma itu kan yang kau tanyakan? Sungguh? Kenapa kau tiba-tiba menelepon Kyuu-nii? Dan kenapa suaramu seperti itu?"

[...]

"Ehmm...yah...agak sedikit serak, kau habis minum-minum yah!?."

[...]

"Kyuu-nii! Alkohol tidak baik untuk kesehatan! Chk! Lain kali jika stress jangan melampiaskannya dengan alkohol!"

[...]

"Hmmm, ya, ya. aku akan kembali dua hari lagi kok~ tenang saja. Hahaha. Oh, aku sibuk Kyuu-nii, telepon aku lagi nanti jika kau mau, okay? bye." —PIP, dan sambungan telepon yang berlangsung kurang dari 3 menit itu pun berakhir. Naruto menatap ponselnya bingung dan memasukannya ke dalam . Tumben sekali Kyuu-nii menelepon sepagi ini, biasanya dia masih tidur jam segini. Lalu kenapa suara Kyuu-nii terdengar agak gelisah dan ia menanyakan hal-hal yang aneh? Da-dan pertanyaannya kenapa terasa sangat—aneh dan mencurigakan? S-seolah ingin mengorek informasi? A-apa jangan-jangan Kyuu-nii mengetahui—? Oh! Damn it!

.

.

.

Naruto mengengam kameranya dengan kedua tangannya erat. Sejak 20 menit yang lalu posisinya terus seperti itu, tak bergerak ke mana pun atau di mana pun. Bingung, galau, dan tidak tahu harus melakukan apa, itulah yang sedang Naruto rasakan sekarang. Haruskah aku keluar dan memperlihatkan diriku kepada Si Brengsek dan Yahiko? Aku sudah terlambat lebih dari 2 jam. Apakah aku akan dimarahi? Apakah Sasuke membeberkan kedoknya sebagai seorang lelaki yang menyamar menjadi seorang gadis imut? OH TIDAK!

Naruto mengacak rambutnya kesal. Oh Tuhan, andaikan saja dia mampu menabrakan kepalanya ke dinding dan akhirnya mengalami amnesia, pasti semuanya akan jadi lebih mudah. Tapi tidak! Karena Naruto sangat tahu ide gila semacam itu pasti akan terasa sakit.

"Errggghhh~" Naruto mengerang, masih bingung apa yang harus dia lakukan. Napasnya menjadi tidak teratur mengingat lagi kejadian kemarin malam(saat Sasuke hampir membuka keseluruhan kedoknya di dalam kamar hotelnya.), dan Naruto tahu dia akan berada dalam bahaya jika semisalnya ia bertindak dengan gegabah dan menunjukan dirinya di depan Sasuke tanpa melihat situasi dan kondisi.

"Ah! Pantai ini benar-benar indah sekali!" Naruto melirik sekilas 2 orang kru wanita yang sedang bercengkrama di dekatnya, tapi dengan cepat ia memutar bola matanya ke arah lain karena merasa tidak tertarik. Jahat sekali mereka berdua menampakan kesenangannya di depan orang yang sedang galau.

"Hahaha... Benar sekali! Aku ingin segera pekerjaan ini selesai dan bersenang-senang. Hei, hei, kau tentu membawa kamera kan? Aku ingin berfoto di tengah-tengah laut nanti!" ujar kru dengan rambut panjang sebahu, tampaknya sangat senang karena dapat berada di Okinawa.

Dengan lemah, kru yang satunya lagi, yang rambutnya agak sedikit lebih panjang mengeleng. "Sayang sekali, aku lupa membawanya." ujarnya dengan raut wajah agak kecewa. "Tapi kita bisa meminjamnya pada kru yang lain."

Naruto merasa semakin terpuruk. Kenapa di saat seperti ini dia malah diingatkan tentang kamera!? KURANG AJAR!

"Hmm, baiklah...aku rasa Juugo-kun atau Suigetsu-kun membawanya. Eh, tapi, jika kau mau, kau bisa meminjamnya juga dari Uchiha-san, ia membawa kamera. Sekalian juga kau bisa mendekatinya. Hahaha. "

BRUAKKK! Naruto terjatuh dari tempatnya duduk, entah karena apa alasannya, author kurang tahu. Dan itu membuatnya seketika langsung diamati oleh kedua kru wanita tersebut.

"A...a...a... aku baik-baik saja~," jawab Naruto panik sambil mengibas-ngibaskan tangannya, lalu segera berdiri dan kembali duduk di kursi, "lanjutkan saja pembicaraan kalian! Hahahaha". Naruto menelan ludahnya, kali ini, hatinya berdebar kencang. Kamera? Mereka bilang Sasuke membawa kamera tadi? Apa maksudnya itu adalah kameranya yang berharga!

Wanita berambut agak pendek tertawa. "Hahaha, apa maksudmu sih? Tentu saja aku tidak mungkin bisa mendekati Uchiha-san, levelnya terlalu tinggi untukku. Lagipula, dia kan sudah bersama dengan Haruno-san."

Mata Naruto melebar lagi. Apa!? Gak salah dengar tuh?! Sasuke dengan Sakura? No way! Sakura itu milikku! Geram Naruto marah di dalam hati. Naruto menggeram marah, 'Sakura is mine, Sakura is mine, Sakura is mine' pun berkumandang di hatinya.

Hei, hei Naruto... bukan waktunya untuk memikirkan Sakura sekarang. Seharusnya kau memikirkan nasibmu bersama si Brengsek atau kameramu yang nasibnya masih mengambang-ambang.

Naruto kembali menajamkan pendengarannya, hendak mendengar informasi lebih lanjut mengenai kameranya. Tapi...

"Hei kalian berdua! Kenapa kalian ada di sini!? Kalian seharusnya menyiapkan barang-barang di lokasi syuting selanjutnya!" Sebuah suara muncul dan mengagetkan kedua orang kru wanita tersebut, termasuk Naruto.

"P-Pein-san..." gemam mereka takut-takut, melihat pria bermabut merah bertindik sudah memasang tampang sangar di depan pintu tenda. Sedangkan Naruto mulai membatu di tempatnya duduk. Menatap shock ke arah Pein. Ohhh! Tuhan! Kenapa Si Tindik seribu itu harus datang!? Tidak! Tidak! Dia belum siap! Naruto belum siap jika semisalnya Pein menagih jawaban akan lamarannya kemarin.

Pein mendengus, 2 orang kru itu segera melangkah mendekatinya sambil membungkuk-bungkuk minta maaf. Naruto? Dia masih diam tak bergerak. Ia melihat Pein yang memastikan 2 kru itu pergi dan menyisakan mereka berdua. Gawat! Mereka cuma berdua?!

"Hai, nona Uzumaki..." Pein mendekat ke arah Naruto dengan senyum yang dikiranya menawan tapi ternyata untuk Naruto sama sekali tidak ada menawannya, malah justru mengerikan.

Naruto tersenyum canggung, "Ha-hai, Pein-san."

"Aaaa~ Ya-hi-ko!" Pein tersenyum mengoreksi kesalahan Naruto, satu matanya berkedip centil, Naruto bergetar dan merasakan gejolak aneh di perutnya. Sepertinya dia ingin muntah...

Dengan amat sangat dipaksakan, Naruto tertawa, "Hahaha, I-iya... Yahiko-san..." Naruto mulai merapalkan mantra dan doa di dalam hatinya, berusaha meminta belas kasihan dari Yang Maha Kuasa agar dijauhkan dari lelaki berumur 39 tahun ini. Catat! Umurnya 39 tahun!

"Ehm... Nona Uzumaki..." Pein semakin mendekat ke arah Naruto dan akhirnya duduk di sebelahnya, "Tentang yang kemarin malam itu..."

Tuh kan! Diungkit-ungkit kan!?

Dengan tampang was-was dan tangan waspada di selangkangan Naruto merespon, "y- ya?"

"Aku akan menunggu jawabanmu dengan sabar, jadi... kau punya banyak waktu untuk memikirkan dan mengenalku lebih jauh." Pein tersenyum lembut, kali ini senyumnya tidak terlalu mengerikan. "Kau tidak perlu terburu-buru untuk menjawab pertanyaanku."

Wajah Naruto yang awalnya suram dan ketakutan sekarang mendadak cerah, ia senang ternyata Pein adalah lelaki yang perhatian. Coba Pein adalah wanita cantik berambut merah jambu yang umurnya 21 tahun, Naruto pasti akan menikahinya.

Naruto balas tersenyum, agak merasa jahat juga karena dia seolah memberikan harapan palsu dengan senyum manisnya itu. Tapi... Naruto tidak mungkin mengatakan dia seorang lelaki sekarang, kondisinya tidak pas! "Terima kasih, Yahiko-san."

Pein menganguk, lalu mulai agak kaget ketika melihat arloji di tangannya. "Oh, waktu istirahat sudah habis." Pein beranjak berdiri dan berjalan sambil melambaikan tangannya, "Aku harus segera memandu lagi! Aku pergi dulu, Nona Uzu—"

"Eh, Yahiko-san! Apa kau tahu van pribadi milik Uchiha-san?"

Pein berhenti melangkah, lalu berbalik, agak sedikit cemburu mendengar orang yang ia taksir menyebut nama lelaki lain, "memangnya apa urusanmu? Nona Uzumaki?"

Naruto berjengit, 'Wah...dia curiga~,' pikirnya cemas. "O-oh itu? Aku ingin mengambil memori kameraku yang ada pada Uchiha-san. Kemarin kuberikan karena ia ingin melihat sebentar hasil foto yang aku dapatkan." Naruto berbohong sambil memasang wajah se-innocent mungkin.

"Oh...," respon Pein, "van Sasuke adalah van putih dengan garis biru. Di dalam sana ada banyak barang-barang pribadi Sasuke yang tidak dipindahkan ke hotel. Kau harus berhati-hati, Sasuke tidak suka ada orang yang membongkar-bongkar barangnya." Pein berkata panjang lebar sambil tersenyum, lalu kembali berjalan meninggalkan Naruto. "Tapi tenang saja, ia tidak akan ke van itu saat ini, karena setelah ini adalah adegannya." ujar Pein lagi, berusaha menenangkan Naruto yang wajahnya sekarang mulai agak berubah ketakutan.


(Waktu: Normal)

Naruto merangkak di sisi sebuah van dengan hati-hati, di tangannya ia mengengam erat kaus kaki dan sepatunya yang sengaja ia lepas agar tidak kotor dan mengeluarkan bunyi. Pertanyaannya sekarang... kenapa Naruto bersembunyi? Semua itu disebabkan oleh lokasi syuting yang rupanya bertepatan berada di depan van Sasuke yang diparkir, hal itu terpaksa membuat Naruto mau tidak mau bersembunyi agar ia tidak dilihat oleh Sasuke memasuki van-nya. Atau habislah riwayatnya.

"Se-sedikit lagi~" desah Naruto sambil melihat jarak diantara dirinya dan pintu van pribadi Sasuke. Dengan amat waspada, Naruto menoleh ke sekitarnya dan memastikan Sasuke yang sedang sibuk pada pengarahan posisinya. Tak ingin membiarkan kesempatan, akhirnya Naruto-pun segera merayap secepat yang ia bisa, sampai akhirnya pintu van Sasuke itu ada di depannya. Terlihat bagaikan pintu surga dan bersinar-sinar seolah memanggil.

"Uzumaki-san? Kau sedang apa?"

GUBRAKKK! Entah bagaimana, Naruto kehilangan keseimbangan dan jatuh tengkurap dengan dahi yang mencium tanah. Sedihnya~ Padahal ia sudah berusaha supaya bajunya tidak terkena tanah, sekarang... bajunya pasti sudah bernoda.

Naruto mengangkat kepalanya, tersenyum lebar sambil menahan kesakitan di dahinya. "Ha-hai~." Dengan tertatih, Naruto berdiri dan membersihkan bajunya dari debu dan tanah yang menempel.

"Astaga, bajumu kotor~ Apa aku mengagetmu Uzumaki-san?" ujar wanita dengan rambut coklat muda itu dengan wajah merasa bersalah. Dialah Rin, si make up artist. "Kau sedang apa Uzumaki-san? Merangkak-rangkak seperti itu?"

Naruto terkekeh, kira-kira hal apa lagi yang harus dia katakan pada orang di depannya? "Errr...ehmm... Yahhh~ aku hanya sedang mencari cincinku yang hilang, hahahahahaha!" ujar Naruto berbohong lagi, satu dosa pun ditambahkan dalam catatan dosanya.

Rin menganguk-angguk mengerti, bibirnya membentuk huruf 'o' seolah mengatakan 'oohhh~' tanpa suara. "Mau kubantu?" tawarnya.

Naruto menggeleng, lalu memasang tampang agak sedih, "Tidak perlu, sepertinya aku tidak akan menemukannya. Aku sudah mencarinya sejak tadi dan tidak ketemu juga." Masih dengan tampang innocent, Naruto membuat Rin mempercayainya bergitu saja, "memangnya kau sedang apa disini? No-Nohara-san?"

"Oh ini, " Rin memperlihatkan beberapa lembar pakaian dan jeans yang ada di tangannya. "Aku ingin mengantarkan pakaian ini di dalam van Sasuke, supaya setelah ia menyelesaikan adegannnya, ia bisa langsung berganti baju," Jelas Rin sambil tersenyum lembut, ia memegang kenop pintu mobil pintu van milik Sasuke yang ada di belakangnya dan membukanya dengan sekali tarik. Setelah itu, tanpa berkata apa-apa, Rin langsung memasukan dirinya ke dalam van itu dan menghilang untuk sesaat.

Naruto menghela napas, "untunglah~ sepertinya dia tidak menyadari aku mau menyelinap ke dalam situ~" gumam Naruto.

Beberapa menit setelah itu, Rin muncul kembali dari dalam van milik Sasuke, ia turun dan tersenyum sekali lagi pada Naruto. "Ah! Uzumaki-san aku pergi dulu ya, masih ada artis lain yang harus aku rias. Maaf, karena aku tidak bisa membantumu mencari cincinmu!"

Naruto tersenyum lebar, memang inilah yang ia tunggu-tunggu sejak tadi. Rin, Rin cepatlah pergi~ Rin, Rin cepatlah pergi. Mungkin seperti itu nyanyian yang Naruto kumandangkan sejak tadi.. "Ah, iya~ Hahahaah! Tidak apa-apa Nohara-san, kau urusi saja urusanmu. Hahahahaaha!"

Rin menganguk. Sekali lagi ia tersenyum dan melambaikan tangannya. Sampai akhirnya ia menghilang karena memasuki salah satu tenda di tempat itu. Naruto menghela napas lega, dengan tangan terkepal, Naruto menyorakan kata 'YES!' di dalam hati.

Naruto melihat ke sekitarnya, yakin Rin tidak melihatnya dan yakin tidak ada kru atau orang lain yang melihat ke arah van itu. Semua orang menyibukan diri pada pekerjaan di lokasi pengambilan gambar, sehingga tidak ada sama sekali yang melihat ke arah van-van yang diparkir di dekatnya. Naruto memasuki van Sasuke dengan secepat kilat, ia harus bergegas sebelum seseorang melihat dan melaporkannya.


Jam sudah menunjukan pukul 06.45 pagi, pemuda dengan surai jabrik kemerahan mengeliat di atas tempat tidurnya, ia memeluk selimut tebal yang menutupi lebih separuh badannya. Badannya pegal, dan ia merasa kantuknya sama sekali tidak hilang. Tentu saja, ia hanya tidur selama 4 jam dan itu pun mungkin hanya tidur ayam.

Kyuubi Namikaze, kembali meringkukan tubuhnya di dalam selimut. Hatinya sakit dan perasaannya penuh rasa bimbang. Tadi malam, ia pulang sekitar jam setengah 1 malam yang membuatnya dimarahi oleh pamannya yang menyebalkan, Iruka mengintrogasinya yang macam-macam setelah mencium bau alkohol dan rokok yang menguar dari tubuhnya. Hei! Ia berumur 26 tahun dan minum-minum sedikit setelah menghadapi seorang Uchiha yang menyebalkan tidak masalah bukan? Tapi pamannya itu memang tidak pernah bisa diajak kompromi, karena itulah Kyuubi membencinya. Ia selalu membenci pamannya itu sejak dulu.

Kyuubi melirik sekilas kamarnya yang berantakan dari balik selimutnya. What the h*ll is this?! Kyuubi memijat keningnya frustasi, ia pasti benar-benar mabuk semalam hingga membuat kamarnya jadi seperti ini! Kamarnya sungguh berantakan! Dan jika Iruka melihat keadaan kamarnya yang seperti ini, tanpa keraguan sedikit pun, Iruka pasti akan marah besar! Itu pasti! Si perfeksionis dalam segala hal itu pasti akan mengomel padanya. Dengan malas, Kyuubi menyibak selimutnya dari atas tubuhnya dan berusaha turun dari ranjangnya, menampilkan penampilannya yang tidak memakai apapun kecuali sebuah celana dalam yang membalut benda berharganya.

Kyuubi berkulit putih, tapi tidak sepucat keluarga Uchiha. Kulitnya bisa menjadi secoklat Naruto jika ia mau dengan cara sering-sering berjemur di bawah terik matahari. Tapi—TIDAK, Kyuubi membenci matahari, ia membenci matahari karena benda panas dan bersinar itu telah merebut Naruto darinya. Kyuubi memejamkan matanya.

"Matahari sangat menyenangkan! Hahaha, aku mencintai matahari, Kyuu-nii!" Gelak tawa dan wajah riang Naruto saat mengatakan hal itu padanya terngiang-ngiang di benak Kyuubi. Kyuubi sangat menyukai wajah Naruto saat itu, tapi amat tidak menyukai kata-kata yang keluar setelahnya.

"Maaf, tapi aku benci matahari, Naruto," gerutu Kyuubi.

Tapi mungkin, rasa benci Kyuubi pada matahari masih jauh lebih kecil daripada rasa bencinya pada UCHIHA. kata-kata 'aku mencintai matahari.' mungkin masih dapat diterima Kyuubi. Tapi kata-kata, 'aku mencintai Uchiha.' ? Kyuubi tidak yakin ia akan bisa menerimanya.

"Aku benci Uchiha." Kyuubi menundukan kepalanya, tubuhnya bergetar menahan kekesalan dan kesedihannya. "Uchiha mengambil semua yang kupunyai...se-mua-nya!" Kyuubi mengepalkan telapak tangannya geram, buku-buku jarinya memutih membuktikan betapa kuatnya kepalan tangan itu, "dan mereka akan mengambil Naruto jika aku tidak waspada."

Dengan kesal, Kyuubi menyambar ponselnya dan menghubungi nomor adiknya, dia berharap Naruto sudah bangun jam segini.

Tuuutt—Tuuut—Tuuuuutt. Sambungan nada telepon terus berjalan, Kyuubi mengigit kukunya sambil menunggu dengan gelisah. Pikirannya melayang ke mana-mana memikirkan apa yang kira-kira dilakukan oleh adiknya di sana.

Krek— Kyuubi dapat mendengar suara diterimanya panggilannya, jantungnya seketika langsung berdebar kencang saat mendengar kata 'moshi-moshi' yang disenandungkan adiknya dari seberang sana. Kyuubi memukul-mukul dadanya sendiri, menahan detakan jantungnya.

Kyuubi menelan ludahnya, mempersiapkan suaranya untuk sesaat. "Eehhmm, a-apa kabarmu Naruto?"

[Baik Kyuu-nii, hehehe... kau merindukanku yah?] Kyuubi menarik napas dalam, menikmati setiap nada dan irama yang dimiliki oleh pita suara adiknya.

Kyuubi mendengus. "Cih! Untuk apa aku merindukan adik yang bodoh sepertimu." Seru Kyuubi ketus, lalu ia tertawa mendengar gerutuan dari seberang jaringan sana.

[Hei! Kalau begitu untuk apa Kyuu-nii meneleponku?! Untuk mengataiku 'Bodoh'?!]

Kyuubi mengangkat kedua bahunya dengan tampang acuh. "Tidak, aku hanya menanyakan kabarmu. Ahhmm, bagaimana pekerjaanmu, apa yang kau kerjakan di sana?"

[Aku memotret, bukankah pekerjaanku fotograper sejak dulu? Kyuubi sudah tahu hal ini kan?]

Kyuubi menganguk-anguk, "maksudku, kau berkerja pada siapa di sana? Bukan pada orang yang menyebalkan kan? Misalnya...ehmm—siapa aktor yang kau benci itu?"

Ketika Kyuubi bertanya hal seperti itu, Kyuubi dapat merasakan jeda beberapa saat di pihak Naruto, dan nada suara Naruto yang awalnya tadi terdengar ceria. Berubah.

[A-ah? A-aktor yang kubenci? Ahahaha... Uchiha Sasuke itu maksudmu Kyuu-nii? Hehe, d-dia tidak m-menyebalkan kok~ Ehehehe.]

"..."

[...]

"Jadi kau BENAR-BENAR berkerja memotret Uchiha Sasuke!?" Pekik Kyuubi hampir histeris, untunglah dia dapat mengendalikan pita suaranya dengan baik.

[...B-bu-bu-bbukan! Bukan! A-aku mana mungkin berkerja dengan orang yang kubenci Kyuu-ni! Maksudku 'dia' yang tidak menyebalkan di sini orang yang berkerja denganku!]

Kyuubi menyipitkan matanya. Pemuda bersurai merah ini jelas tidak percaya. "Oh," jawabnya datar, perasaan Kyuubi langsung tidak enak. Jangan-jangan Itachi bukan hanya membual soal adiknya yang berkerja dengan adik Itachi itu?!

Dengan nada suara yang terdengar terburu-buru, Kyuubi mendengar adiknya mencoba mengalihkan pembicaraan. [Hmmm...ya, baiklah Kyuu-nii~, cuma itu kan yang kau tanyakan? Ngomong-ngomong kenapa suaramu seperti itu?]

"Hmmm, mungkin untuk saat ini hanya itu saja. Memangnya kenapa dengan suaraku?"

[Ehmm...yah...agak sedikit serak, Hei! Kyuu-nii habis minum-minum yah!?.]

Kyuubi menguap, sepertinya sehabis ini adiknya akan menjadi secerewet pamannya. "Hmmm, yah~..begitulah, aku sedang stress akhir-akhir ini."

Kyuubi dapat mendengar gerutuan adiknya, ia tertawa dalam hati sekaligus senang karena adiknya memperhatikannya. [Kyuu-nii! Alkohol tidak baik untuk kesehatan! Chk! Lain kali jika stress jangan melampiaskannya dengan alkohol!]

"Ya, ya, kau cerewet!" gerutu Kyuubi, 'aku juga stress karena memikirkanmu bodoh!' ujar Kyuubi mengeluh dalam hati.

[Hmmm, ya, ya. aku akan kembali dua hari lagi kok~ tenang saja. Hahaha. Oh, aku sibuk Kyuu-nii, telepon aku lagi nanti jika kau mau, okay? bye.]

PIP! — Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Naruto. Kyuubi menatap ponselnya sambil mengigit bibir kemerahannya. Sebenarnya—masih banyak hal yang ingin Kyuubi tanyakan pada Naruto. Kyuubi benar-benar ingin mengetahui kenyataannya, apakah Naruto benar-benar berkerja pada adiknya Itachi—atau Itachi hanya berbohong untuk mencari perhatiannya saja? Tapi—mendengar nada suara Naruto tadi yang seolah menyembunyikan sesuatu, Kyuubi tak bisa berharap banyak pada pilihan 'Itachi yang berbohong'.

Kyuubi mengepalkan tangannya, amarahnya kembali membuncah, ponsel di tangannya mungkin akan remuk jika itu bukan ponsel bermerek dengan logam berkualitas tinggi. "SH*T! ARRGGHH! UCHIHA BRENGSEK!'


Srak! Srak! Brak! Bruk!DBRUAKK! "Aduh!" pekik Naruto dengan intonasi kecil ketika saat dia mulai mengobrak-abrik van Sasuke, sebuah kardus(yang untunglah tidak berisi) jatuh dan menghantam kepala. Dengan tampang cemberut Naruto mengelus-elus kepalanya yang tertutupi wig. Jujur saja, di saat seperti ini ia ingin sekali melepas wignya yang panjang itu. Wig-nya sungguh mengangu kerena suka menyangkut di berbagai barang dan bahkan tertindih olehnya sendiri saat ia menunduk.

Naruto mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di dalam van Sasuke. Van yang berantakan, penuh baju, alat make up dan juga kardus-kardus dengan isi yang tak jelas. Naruto berdecak, "Chk! Dammit! Di mana si gay itu menyimpan kameraku!?" Naruto tampak berpikir, masih mencoba melihat dengan teliti di antara banyaknya benda berwarna hitam di ruangan itu. (kamera Naruto berwarna hitam)

Tak beberapa lama, Naruto dapat melihat sebuah meja di dalam van tersebut, meja dengan 2 buah laci yang cukup besar. Meja itu cukup berantakan dengan sebuah notebook di atasnya, membuat Naruto tertarik untuk mendekatinya. Bukan! Bukan notebook-nya yang menarik perhatian Naruto, tapi lacinya. "Sepertinya laci itu mencurigakan," pikir Naruto dan mulai mengeledah meja itu.

Srak! Srak! Naruto menemukan beberapa lemabaran kertas tidak bermutu, membuatnya mendesah kesal dan mulai putus asa. Malahan, di tengah-tengah pencariannya mengeledah laci meja itu, Naruto menemukan beberapa majalah PLAYBOY dengan cover wanita-wanita mulus yang aduhai, dan dengan penemuannya terhadap majalah PLAYBOY itu, Naruto mengubah pendapatnya tentang Sasuke. Sasuke itu biseksual, bukan homoseksual.

"Arrrghh! Uchiha sialan, di mana dia menyimpan kameraku! Di mana kameraku!" kata Naruto mulai geregatan. Tangannya mulai mencari-cari lagi di dalam laci itu dan hasilnya NIHIL! Tidak ada apapun di dalam sana. Naruto mengumpat, melihat jam sebentar dan sadar dia sudah kurang lebih 15 menit di dalam sana. Itu waktu yang cukup lama dan Naruto harus segera keluar jika tidak ingin ketahuan.

Naruto beranjak kembali melihat laci yang satunya lagi, ia tidak boleh menyerah. Ia harus menemukan kamera antik kesayangannya itu. Naruto terdiam ketika melihat sebuah bagian tali yang terjepit di tutup laci tersebut. Ketika Naruto mengamatinya baik-baik—"ITU KAMERAKU!" Pekik Naruto histeris, hampir berteriak sebelum dia menutup mulutnya kembali. Dengan was-was Naruto mencoba membuka laci tersebut, tapi—sekeras apapun Naruto mencoba menarik laci tersebut, laci itu tidak terbuka! Aura kesuraman dengan cepat membaluti Naruto, 'Kurang ajar! Si brengsek itu menguncinya!" Naruto meremas wig-nya, entah untuk yang keberapa kalinya.

Naruto berdiri, sambil berkacak pinggang, Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh saat, ia menahan napasnya, mulai berpikir. Sasuke adalah orang yang sibuk dan akan berganti kostum setiap pergantian scene dengan waktu yang berbeda, jadi agak kurang menyakinkan jika Sasuke membawa kunci itu bersamanya. Oke, Di mana kira-kira orang akan menaruh kunci di ruangan yang berantakan ini? Ayo Naruto! Berpikirlah seperti seorang Uchiha Sasuke! TIDAK! Uchiha Sauske terlalu jenius, susah untuk meniru caranya berpikir.

"E-enggh~ kalau aku..." Naruto masih berusaha menebak-nebak sambil memegang dagunya, "aku akan menyembunyikannya di dekat benda yang paling sering kupakai dan atau kulewati~" Naruto melirik ke seluruh isi van itu. "Apakah lemari? Jadi Sasuke akan mudah menemukannya di saat dia memilih-milih baju," gumamnya, "tidak~ aku rasa tidak! Bukan Sasuke yang memilih bajunya! Melainkan Rinlah yang mengatur seluruh penampilannya."

Naruto mengigit bibir bawahnya. 'Ayo berpikir! Ayo berpikir!" suruhnya dalam hati. Kembali Naruto bergelut dalam hatinya. 'Apa benda yang paling sering kau gunakan Sasuke!? Hair gel? Pencukur bulu ketiak? Tidak! Tidak mungkin, bulu ketiak Sasuke sangat lebat dan sepertinya sudah tidak dicukur selama berbulan- bulan. Tas? Lemari? Notebook-mu?— "

Naruto terdiam, pikirannya mulai terang sekarang. Ya! Ya! Notebook! Pasti Notebook! Naruto dengan seketika segera mendatangi notebook Sasuke yang ada di atas meja. Notebook itu berwarna hitam dan adalah properti paling terawat dan bersih di dalam van tersebut, sudah tidak diragukan lagi bahwa benda itu pasti salah satu benda yang paling suka Sasuke gunakan. Naruto melirik ke sekeliling notebook, tidak ada satu kuncipun yang ada di sana. Jika bukan di sekeliling, bagaimana kalau di bawah? Naruto mengangkat notebook tersebut dan—GOT IT! There it is! Di sanalah kunci tersebut berada, di bawah notebook tersebut, bersinar seolah memanggil Naruto untuk mengambilnya.

Naruto mengambil kunci tersebut dengan kegirangan, pekikan girangnya ia tahan di tenggorokan agar tidak membuat keributan! Naruto menatap notebook Sasuke tersebut dan tertawa, tak disangka! Kunci dari laci yang ia cari-cari berada sangat dekat darinya! Naruto memukul notebook tersebut dengan agak keras, seolah mengejek, 'kau notebook bodoh! Tidak akan bisa menyembunyikan kunci ini dari Naruto yang jenius!' Tapi dikarenakan pukulan Naruto tadi, notebook Sasuke yang pada mulanya layarnya gelap karena lama ditinggalkan menjadi terang kembali, Naruto gelagapan... sadar bahwa kelakuannya memukul notebook itu tadi salah. Bagaimana kalau Sasuke datang dan melihat notebook ini menyala menandakan ada orang yang mengotak-atiknya?

Dengan kecepatan kilat, Naruto segera membuka laci tersebut, menarik tali yang sepertinya adalah tali kameranya dan mengeluarkannya dari laci tersebut. Muka Naruto mencerah, apalagi ketika dilihatnya tali itu benar-benar adalah kameranya. Naruto hampir saja menanggis, akhirnya— setelah sekian lama, akhirnya ia dapat memegang kamera yang diberikan Kyuubi itu padanya, kamera yang sangat dia sayangi dan ia cintai. Kameranya yang mengantarnya mendapat gelar profesional. Dan Naruto tidak akan pernah melepaskan kamera ini lagi darinya.

Naruto celingak-celingukan, ia melihat keluar jendela van tersebut dan menyadari bahwa keadaan masih sepi seperti sebelumnya, waktu yang sangat tepat untuk pergi ke luar dengan membawa benda pusaka yang telah ditemukan kembali. Naruto melirik notebook Sasuke, mengengam mouse-nya dengan maksud menekan mode sleep untuk notebook tersebut. Naruto mengerucutkan bibirnya ketika melihat pemberitahuan yang masuk ke dalam notebook tersebut, rasa penasaran menyergap dan Naruto membacanya sebentar. "Eee— to..? What is this?" Naruto menautkan kedua alisnya, "You receive a new email from Blue—S-sapphire—sky?"

.

.

.

.

"..." Naruto terdiam, tubuhnya membeku dengan mata yang masih membulat menatap pemberitahuan tersebut. "Ehhmm—'you receive a new email from Blue Sapphiresky'?" ulang Naruto sekali lagi, kali-kali aja tiba-tiba matanya buta huruf dan kalau membaca sesuatu menjadi acak kadul.

'Wha-what t-the hell is this! What the hell is this! What the fucking shit is this!' pikir Naruto, mulai tidak terima dengan kemampuan membacanya yang lancar. Seandainya ia tak pernah belajar membaca dulu, mungkin sekarang jantungnnya tidak akan berdetak begitu kencang sampai seperti sedang lari marathon. Naruto meng-klik pemberitahuan itu dan segera di sambungkan ke alamat email yang ada.

Tak berapa lama, Naruto dapat melihat sebuah pesan, dan sebuah foto yang amat sangat dikenalnya. Dammit! Ada yang membawa kantong muntah? Tiba-tiba Naruto merasa kepalanya pening dan mual membaca isi email dan melihat foto tersebut.

Aku sudah mendapatkan foto bugil Uchiha Sasuke untukmu, hei Brengsek. Dengan foto ini, karir Uchiha Sasuke yang mendunia itu dapat hancur dengan mudah. Jangan bermain-main denganku! Dasar gay buncit, botak, yang kerjanya cuma bisa mengejek orang saja!

Blue sapphiresky/ 3 hours ago.

.

.

Belum lagi dengan tulisan di pojok kanan atas, sebuah nama akun pemilik email ini. "Onyx Nightsky/email/log out/etc..."

Naruto merasakan tangannya bergetar, ia ketakutan, setitik air mata mengalir turun dari pelupuk matanya. Dengan mengengam erat kemera yang masih melilit di tangannya, Naruto terdiam, kepalanya yang terasa berat ia paksakan untuk berpikir. Berpikir! Berpikir tentang insiden penyusupan di apartemen itu dan mengapa Sasuke bisa menangkapnya dengan mudah. Ingat tentang segala pelecehan dan perkataannya di saat audisi! I-ingat bagaimana Sasuke menyekap Naruto di kamar hotelnya! Da-dan ingat percakapan apa saja yang sudah dilalui Naruto dengan Onyx Nightsky?

"Aku seorang lelaki dewasa berumur 23 tahun yang tampan dan terkenal.(Ch. 1)"

" Kau hanya asal ngomong, Dobe. Katakan saja kalau kau iri dengan Uchiha Sasuke karena dia itu tampan, terkenal, dan digemari banyak wanita.(Ch.6) "

" Apa kau itu selalu mengangapku personality-ku seperti itu, Dobe?(Ch 6)"

"Bagaimana kalau misalnya, aku malah membayangkanmu sebagai wanita cantik dengan mata berwarna merah, berambut panjang dengan warna violet, dan hobi memakai baju gothic?(Ch. 6)"

Bu-Bukankah ciri-ciri itu— Naruto berkeringat dingin, ia menatap pantulan dirinya pada sebuah lemari yang memiliki cermin di pintunya. "O-oh Tuhan~"

Inikah alasan Onyx Nightsky itu berusaha selalu memojokan Naruto di berbagai tempat. Seperti di saat audisi atau di kamar hotelnya? Karena dia sudah mengetahui bahwa— Blue Sapphiresky adalah— Naruto?

"Aku Uchiha Sasuke, Dobe..."

Naruto mengerang frustasi, ia sama sekali tidak menyangka bahwa kata-katanya saat itu kenyataan. Na-Naruto selalu mengira Onyx Nightsky adalah seorang fans yang terlalu ingin menjadi Uchiha Sasuke. Naruto menutup mulutnya, masih mencoba menahan rasa kagetnya.

Dan... saat dia membuat status di saat dia ingin menyusup ke tempat Sasuke, Onyx Nightsky yang adalah Sasuke juga ikut berkomentar di status itu! Pantas saja Sasuke dapat menangkap Naruto dengan mudah! Ia sudah tahu Naruto akan datang ke apertemennya hari itu dan sudah menyiapkan rencana.

Onyx Nightsky adalah Uchiha Sasuke

Uchiha Sasuke adalah Onyx Nightsky

Naruto bertaruh kepada Onyx Nightsky untuk mendapatkan foto bugil Uchiha Sasuke yang sebenarnya adalah Onyx Nightsky.

Astagaa! Si Teme itu adalah Uchiha Sasuke?!

Naruto meremat kepalanya, ia sangat pusing, kepalanya sakit dan ia merasa ingin menampar sesuatu. Rasa marah dan kesal bercampur padu menjadi suatu perasaan yang tak dapat ia dekripsikan. "Lalu... apa yang sebenarnya kulakukan selama ini?! Dipermainkan oleh seorang gay? Shit! NARUTO! You're the most stupid person on this planet!" kata Naruto suram mengutuk dirinya sendiri.

'Kau manis.'

' Sejak pertama melihatmu, aku tertarik padamu...'

.

.

"JANGAN PIKIRKAN ITU! NARUTO BAKAA!"— DBUAKK! Naruto mengambil sebuah buku tebal dengan judul "Eksiklopedia Bau-Bauan di Dunia" dan memukulnya pas di dahinya. Memar? Ya sudahlah! Yang Naruto inginkan sekarang melupakan kejadian kemarin malam di dalam kamar hotel Sasuke itu. Naruto memegang bagian tengkuknya lagi dengan perasaan tak menentu.

Bisa kita ulang sekali lagi? Memperjelas masalah ini mungkin?

Onyx Nightsky adalah Uchiha Sasuke

Uchiha Sasuke adalah Onyx Nightsky

Naruto bertaruh kepada Onyx Nightsky untuk mendapatkan foto bugil Uchiha Sasuke yang sebenarnya adalah Onyx Nightsky. Dan, setelah Naruto mendapat foto bugil Uchiha Sasuke yang sebenarnya adalah Onyx Nightsky, Naruto akan mengirimkan foto tersebut kepada sebuah akun menyebalkan di internet bernama Onyx Nightsky yang sebenarnya adalah Uchiha Sasuke?!

Pantas saja Onix Nightsky itu biasa saja ketika Naruto mengancam akan mengambil foto bugil Uchiha Sasuke!

"DAMMIT!" Umpat Naruto. Ia membalikan badannya segera. Ingin pergi dari dalam van tersebut dan segera mengemasi barang-barangnya. Ia harus pergi, setidaknya kembali untuk menenangkan pikirannya dan membangun kembali rencanannya. Rasa marah dan kesal masih memenuhi hatiya dan Naruto merasakan dada dan kepalanya begitu sakit. Dia tak menyangka, Tuhan akan mempermainkan hidupnya hingga seperti ini.

Naruto berbalik. Tetapi—saat dirinya baru saja sempurna berputar 180 derajat, mata ber-soft lense-nya membulat besar sebesar biji durian ketika melihat pemuda tinggi jangkung yang menatap penuh kelicikan ke arahnya. Seringainya menyebalkan seperti biasa. Rambut sehitam eboni dan mata sekelam malamnya menatap Naruto.

Naruto membeku.

Pemuda tersebut tampak berpura-pura sibuk dengan kukunya untuk sesaat sebelum akhirnya berpura-pura sadar bahwa Naruto sudah melihatnya. Ia tersenyum tipis, menyeringai untuk 1-2 detik pertama.

"Hai." katanya sambil mengangkat tangannya seolah memberi salam. Wajahnya datar. "Aku akan senang jika kau tinggal sebentar sembari menjelaskan mengapa kau ada di dalam van-ku, dengan kamera itu, dan notebook-ku yang menyala?" Mata pemuda tersebut menyipit, seringainya semakin lebar. "Kau tentu punya waktu bukan? Nona Uzumaki— ah! Atau jangan-jangan kau lebih suka aku memanggil nama dunia mayamu—hmmm? Blue Sapphiresky?" Ia terkekeh kembali melanjutkan kata-katanya dengan suara rendahnya yang sensual, " Ah! Atau malah— kau ingin dipanggil dengan nama lain? Do-be?"

Oke! Ada yang mau mengirim satu set pisau dapur untuk Naruto? Kalau bisa yang sudah diasah.

.

.

.

.

To Be Continued...


Author Notes: Terima kasih yang sudah bersedia membaca sampai sini. Untuk chapter 10 nanti, semoga sudah ada romance di fic ini. Dan utnuk yang masih bertanya-tanya, kapan ItaKyuu-nya mesra-mesraan. Yaaah~ Ditunggu saja nanti. Ehehehe, ini cerita SasuNaru buka Kyuuita (mungkin kalau sempat, saya akan membuat cerita lepas mereka. Tapi nggak janji loh~).

Dan... ini balasan review untuk chapter kemarin (semoga kalian masih ingat review kalian, dan jangan keluar dulu, masih ada cerita sehabis review):

sytadict: Oh, benarkah? Hmmm, judulnya apa? Kau kurang memberi informasi. Hehehehe. Kemarin aku sudah mencarinya sampai stress. Tenang saja, jika benar-benar mirip, aku tidak akan merusuh.

Augesta: Udah baca chapter ini kan? Ehehehe. Pertanyaan anda sudah terjawab.

Princess Love Naru: Maaf ya, authornya sedang sangat-sangat sibuk, jadi waktu mengetik pun kurang. Hehehe, dan maaf juga soal ItaKyuu-nya, mereka akan sangat susah untuk dibuat mesra di sini.

cukacuke: Cari jawabannya di chapter-chapter selanjutnya! Reaksi Pein kalau tahu Naruto cowok pasti akan diceritakan! Wuakakakakak.

Uzumaki Scout 36: Wah, makasih atas pujiannya! Ehehehehe. Terus ikutin yah, makasih udah RnR.

Uchiha Over Love: Makasih banyak sudah menunggu, maaf lambat update. Thank atas fave-nya, dan salam kenal juga. Semoga fic ini bakal terus menghibur kamu. Hehehehe.

chy. cassie: Hmm..hmmm... siapa yah? Wah... jadi penasaran nih~ kalau dari gaya komentar-nya ini miss bawel yah? Ehehehe. Makasih atas kritiknya dan pujiannya. Siapa sih? Jangan buat penasaran dong.

Princess Li-chan: Sip! Ini udah update, makasih udah review.

shira shiro-chan: Wah... pantas aja. Saya sempat bingung loh, waktu ngeliat shira shiro-chan gak review di chapter 7. Eakakakakakakk. SIP dah! Asalkan kamu masih baca fic ini aku senang aja. Kekekekek. Ehm, Kalau SasuSaku adegan si Naru cemburu gak yeah? Uhuhuhuhu~ liat aja ntar, itu juga kalau adegannya jadi. Hahai! Thank for review.

Azahic: Thanks for your compliment, and thank for your review. ^^

Nakajima Kyou: Ahahhahaha, bagus. Aku juga suka kamu ngereview. Ini suah update. Maaf tidak bisa kilat.

Faranheit July: Wah, maaf yah... apakah di chapter ini ada typo lagi? Ehehehe. Terima kasih atas pujiannya.

AkemiFutabei: Ini sudah update, makasih sudah review.

JessicaSaphires: Whahaha, mengap-mengap kenapa? Jalan ceritanya atau panjang ceritanya? ^^. Ehehehehe, iya nih. Lama-lama jadi malas ngelanjutin. Ehm, tapi bukan berarti akan ditelantarkan kok~ Tenang saja. Ini sudah update, makasih atas reviewnya yang berombongan~ ^^.

Heriyadi kurosaki: Hm...Ini sudah update. Makasih sudah review. Hehe.

uchiha cucHan clyne: 7ghost? ho-oh! Itu emank bagus, aku baca komiknya lho, emank hints-nya banyak~ Walah? Ngarep banget ini bakal ada lemon yeh? cucHan mesum nih~ Ikikikikiki~ cucHan suka chara Sakura? Dulu kau juga suka lho, tapi entah sekarang jadi benci, makanya sekarang pengen nge-bash dikit. Nyahaha./ditendang Saku FC/ Thanks for review. Ini sudah update, maaf lama menunggu.

Daevict024: Sip, ini lanjutannya. Semoga tidak mengecewakan~

Gunchan Cacunalu Polepel: Neror FB? Jangan Gun~ Kasihanilah saya. Jangan terror fb saya~ Ehehehe, masa akhirnya langsung jadi pair PeinSaku? Aish... Gunchan ga rela amat si Sasu diambil~ Di chap ini si Naru udah ketahuan kan? Dan karena udah ketahuan, kayaknya chat antara Onyx dan Blue ga akan ada lagi. Ekekekeke. thanks for review Gun~

Azusa theBadGirl: Whahahaha, maaf~ kakairu diperbanyak soalnya mereka sudah lama ga muncul~ Itakyuu mungkin ada cerita tersendiri nanti. Ehehehe, request-nya ditampung dulu yah~ thanks for RnR.

UzumakiKagari: Ckckckckck, kebayang tuh capeknya baca dari chapter 1 sampai 8, saya aja yang buat bacanya ga habis 1 hari. Ini sudah update, makasih udah RnR.

keiji wolf: Makasih atas perhatiannya, ini sudah update, maaf lambat yah~

URuRuBeak: Thanks 4 review, Ini sudah update.

Neko-tan: Maaf yah, chapter ini lama updatenya! Tapi tenang saja, aku tidak akan membiarkan fic ini discontinued! Pasti akan kuselesaikan. /On the Fire/ Thanks for review.

aLice Yukimura: Ini sudah update makasih atas reviewnya.

Uzumaki Kagari: Thanks for Review, aku juga suka sifat Naru. Wkwkwkwk.

MJ: Iya, Si Sasu udah tahu kalau Naru itu cowok, dan dia sudha tau juga si Naru itu Bluesapphiresky. Thanks udah review. Ini si Kyuu sudah mau diberangkatkan ke Okinawa. Incest Kyuunaru pasti akan muncul.

Aoi Ciel: Kyuu beneran incest kok? Ehehehe, tidak sesuai harapan yah? gomen-gomen~ mungkin, di cerita ini Kakairu-lah yang paling sweet . Hehehehe~, Ini udah update kan? Thanks for review~

Sheren: Iya, si Sasu mungkin dulunya keturunan vampire, makanya demen gigit-gigitan segala. Wkwkwkw. Thanks for review.

Faicentt: Eaaa~ suka-nya Kakairu toh? Wkwkwkwwkwk... nanti saya banyakin Kakairu-nya yah~ sayang, di chap ini ga ada. Makasih sudah review yah. Ini kelanjutannya.

hanazawa kay: Maaf yah, ini sudah update dan lama banget. Ehehehe, Naru emank udah uke kuadrat deh~wkwkw. Thanks fot review.

Khukhudatte-san: Weleh, pertanyaannya banyak amat. Semoga bisa terjawab di chapter ini yah~ini sudah update~ Thanks for review.

laila. r. mubarok: Hhahaha, kamu komen saja aku sudah senang. Wah, gila~ foto Sasu Naked ga mungkin si share dong~ ntar hancur deh karirnya Sasu, wkwkwkwkw. Thanks udah review.

Kutoka Mekuto: Uhmmmm... a..aku belum siap untuk menaikan rate-nya~ ntar kebablasan saya buat lemonnya~ Huahahahahha. Thanks for review.

Namikaze Noah: Nyahahaha~ Kakashi emank ngengangu banget yah~ maaf yah, adegan Sasusaku-nya buat boring, hohoho, emank rencananya author si Saku bakal jadi pengangu sih~. Salah Mikoto dan Fugaku? Apa yah? Gak tau ah~ saya gak mikir~/dilempar ke laut/ ahahha, dan thanks udah review.

Qhia503: Itachi memang dibuat jadi karakter yang nyebelin. Ehehehe. Mungkin Naru akan menerima lamaran si Pein kalau saat mengetik ini authornya sedang terkena crazy-syndrome~ wkwkwkw, dan kalau mau tahu reaksi Pein kalau tahu Naru cowok ntar, liat aja di chap-chap selanjutnya~ thanks udah review.

Velovexiaa: Iya, memang rata-rata word untuk setiap chapter itu sekitar 6000-an, tapi untuk buat chapter sepanjang itu, butuh waktu juga kan? Eheheheh. Ini sudah update. Maaf lama.

tetchan: ehehehe, ini juga sudah update, maaf kalau misalnya terlalu panjang. Entah kenapa, author suka ngebuat karakter Naru yang uclucky. Thanks for review.

devilojoshi: Makasih atas pujiannya. Maaf karena fic ini membuat menunggu lama. Ini sudah update dan makasih atas reviewnya.

virgi. t. andini : Hahhahaha, makasih atas first reviewnya~ Makasih juga atas dukungannya. Aku akan selalu berusaha melanjutkan fic ini.

Dan terima kasih juga atas segala orang yang sudah mem-fave, follow, dan membaca fic ini. Saya sangat senang~ . Dan Terima kasih juga untuk first reader di chapter 9, Yessy-san, yang sudah memberikan beberapa kritik dan mau mendengarkan beberapa curhatku.

Big Thanks For You all~


Cerita tambahan.

Kyuubi menelan makanannya dengan susah payah. Kerongkongannya meradang dan terasa sakit saat menelan sesuatu. Benar dugaan Kyuubi, ia terlalu berlebihan meminum alkohol semalam sehingga membuat kerongkongannya terasa terbakar. "Uhuk! Uhuk!" Kyuubi terbatuk dan segera meminum segelas air putih yang disiapkan di sebelahnya.

Iruka, yang sedang membereskan piring-piring kotor menatap Kyuubi dengan tatapan biasa saja, tidak ada rasakhawatir di sana. "Kenapa? Kerongkonganmu sakit Kyuubi?" tanyanya seadanya.

Kyuubi tak menjawab, ia hanya menganguk sembari melanjutkan makannya. Terkadang, mata kemerahannya melirik Iruka yang berjalan ke arah kotak obat, Iruka mengambil sesuatu di kotak itu dan berjalan lagi mendekati Kyuubi, lalu menruh benda yang ia ambil di meja makan dekat Kyuubi. "Obat radang tenggorokan, minum itu! Lain kali, jika tidak tahan untuk meminum alkohol tidak usah dilakukan. Meminum alkohol tidak akan membuatmu jadi keren."

Kyuubi mendengus, cuek, meskipun dalam hati berterima kasih juga pada Iruka yang memberikan obat kepadanya. Sekarang, Iruka kembali sibuk dengan piring kotornya. Tak sampai 2 menit setelah itu, Iruka kembali berceloteh. "Ah. Kau juga harus berterimakasih pada temanmu Kyuubi! Ia sudah dengan baik hati mengantarkanmu pulang! Bayangkan bagaimana seandainya tidak ada temanmu yang mengantarmu pulang? Saat itu kau mabuk berat dan muntah hingga 2 kali setelah tiba di sini. Aku tidak yakin kau akan pulang dengan selamat tanpa temanmu!"

Kyuubi tak bergerak. Ia berhenti menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Matanya melebar. Teman? Siapa?! Bu-bukankah Kyuubi merasa ia pulang sendiri tadi malam?! Iruka pasti sedang membual. "Teman?" tanya Kyuubi dengan suara serak. "Omong kosong, bukankah aku pulang sendiri tadi malam?"

Iruka mendecih, "Sembarangan!' bentaknya. 'Kau pulang jam setengah 1 tadi malam. Diantarkan oleh temanmu itu! Dia bilang, ia menemukanmu sedang tertidur di jalan! Lalu dia mengantarkanmu pulang! Kau harus berterima kasih sekaligus meminta maaf padanya, Anak Bodoh! Bajunya kotor ketika ia membawamu di punggungnya, kau jelas memuntahi dia!"

Kyuubi tercengang, "me-memuntahi?"

Iruka menganguk, sambil menyusun piring-piring yang baru saja dicuci ke rak, ia kembali berbicara, "temanmu tampak khawatir denganmu, dia bahkan tidak marah sama sekali dengan bajunya yang penuh dengan muntahanmu! Dan jika kau ingin tahu, ia juga yang membopongmu ke kamar dan membersihkan tubuhmu! Kyuubi, bayangkan jika ayahmu tahu bahwa kau mabuk-mabukan seperti ini! Ia pasti akan memotong warisanmu sebanyak-banyaknya." ujar Iruka ketus.

Kyuubi terdiam, ia menggeram. Membersihkan tubuh!? Apa maksudnya itu!? "Iruka, bagaimana ciri-ciri 'teman' yang kau makud itu?" tanya Kyuubi ketus, bukan jasa penolongnya yang sekarang ia pikirkan, melainkan kekurangajaran penolongnya yang membuka-buka bajunya sembarangan dan hanya menyisakan celana dalam. Tapi, entah kenapa— Kyuubi dapat menebak siapa yang menolongnya itu!

"Hmm, pemuda tinggi berkulit putih dengan rambut hitam yang diikat, ada 2 buah garis tipis di hidungnya."

Triririririririt! — tepat saat Iruka menyelesaikan kalimatnya dan sebelum Kyuubi membengkokan sendok di tangannya, ponsel Kyuubi berbunyi dengan nyaring.

Kyuubi mengambil ponselnya, dan membuka flip-nya dengan kasar, ia sudah tahu siapa yang sedang meneleponnya sekarang. Dengan segera, Kyuubi beranjak dari atas kursinya dan pindah ke tempat yang lebih aman untuk marah-marah dengan orang yang menghubunginya.

[Yooo~ Kyuu-chan. Bagaimana keadaanmu? Setelah mabuk-mabukan kemarin, kau tentu tidak sakit bukan!? Berterimakasihlah Kyuu~ aku membawamu pulang ke rumahmu~]

Kyuubi mengertakan giginya, "Urusai! Aku sama sekali tidak akan berterima-kasih pada Brengsek sepertimu! Kau bahkan mengambil kesempatan dariku! BRENGSEK!" bentaknya meskipun harus memaksakan suaranya.

Kyuubi mendengar gelak tawa mengejek di sana, [Huahahahaah! Kenapa harus malu Kyuu~? Tidak apa-apa bukan? Kita sudah pernah bercinta. Jadi untuk apa kau merasa malu!?]

"Tutup mulut kurang ajarmu itu Uchiha! Lebih baik aku terdampar di jalanan seperti gelandangan daripada ditemukan olehmu! Cuih!" Kyuubi meludah dengan sembarangan.

[Ahahahaha! Terserah kau saja manis~. Ah ya, ngomong-ngomong, aku meneleponmu sebenarnya hanya karena aku ingin memberitahumu bahwa aku 3 jam lagi akan berangkat ke Okinawa. Kau mau ikut, baby?"

Kyuubi terdiam. Okinawa? Itu tempat adiknya berada sekarang!

[Aku sudah memesan 2 buah tiket VIP~ Jika kau mau kau boleh datang ke bandara xxx jam 12 nanti Sayang~ dan kita bisa pergi bersama~]

Kyuubi menggerak kesal. Uchiha benar-benar kurang ajar. "DALAM MIMPIMU UCHIHA! AKU TIDAK AKAN PERGI!"

[Khukhu, kau yakin little fox?] suara godaan itu benar-benar menyebalkan untuk Kyuubi, hingga ingin membuatnya muntah, Terlebih lagi, dengan nama panggilan yang terus berubah-ubah sejak tadi.

"APA SUARAKU MASIH KURANG MENYAKINKAN!?"

[Ahahaha, alright~ alright! Kalau begitu, bayangkan bagaimana jika aku menemukan adikmu di sana dan menyelesaikan pertaruhan kita? Kau siap untuk menjadi milikku selamanya, Kyuu-chan?!~] suara rendah nan menggoda khas Uchiha itu berdendang lagi. [Dan ah~ Coba kau bayangkan bagaimana jika adikmu berada di tengah-tengah 2 orang Uchiha yang liar. Bayangkan wajah adikmu yang mendesah dan kesakitan nanti Kyuubi~ Bayangkan—]

"BRENGSEK! TUTUP MULUTMU DAN LAKUKANLAH APA YANG INGIN KAU LAKUKAN!" —PLAK! Kyuubi menutup flip ponselnya dengan kasar. Mengakiri panggilan secara sepihak. Kesal! Kesal! Ia benar-benar kesal sekarang! Dasar Uchiha brengsek! Berani-beraninya dia menggunakan adiknnya untuk memojokannya.

Dengan cepat, Kyuubi kembali membuka flip ponselnya dan mengetikan beberapa nomor di sana, segera menghubungi nomor itu dengan wajah tidak sabar. Kyuubi mengigit jarinya ketika menunggu panggilannya diangkat, —Klek, telepon Kyuubi diangkat dengan suara lembut seorang wanita.

"Mosh-moshi." Kyuubi memberi salam, berusaha sopan, "Saya ingin memesan tiket menuju Okinawa jam 12 nanti. 3 kursi untuk kelas Ekonomi."