Story: DAMN
Disclaimer: Naruto © Masashi Khisimoto
DAMN! © Iria-san
Rating: T+ (M untuk bahasa-bahasa vulgar yang saya gunakan~ gak naik rate beneran loh yah!)
Genre: Humor & Romance yang diragukan
Main Pairing: Uchiha Sasuke(23) & Namikaze (Uzumaki) Naruto(21).
Other Cast: Haruno Sakura (21), Umino Iruka(31) & Hatake Kakashi(34), Tsunade(50+), Uchiha Itachi(26), Namikaze Kyuubi (26), Pein/Yahiko(39) dan beberapa original character.
Warning: AU, Typo, Mistypo, super OOC for Uchiha Brothers, Incest, Boys Love, Shounen-ai, gaje, bahasa mungkin berbelit-belit dan tidak terkendali alias asal sembur, etc. . If like, you must to read it, if don't like, please read this warn before you press back button!/ngototness/
Word Count for this chapter: 8000+
Author Note: Iria-san kembali! /sembah sujud/ setelah lama tidak update karena setelah UN terserang WB. Akhirnya saya berhasil mengupdate fic ini juga~ Terima kasih banyak untuk reader sekalian yang sudah mengingatkan saya agar cepat update. Ya, silahkan menikmati Minna.
Chapter 10: DAMN! Don't Keep My Heart, PLEASE!
Naruto diam membatu. Kedua tangannya masih dengan setia mengengam kamera hitam pemberian Kyuubi. Kedua tangan Naruto mengerat, menunjukan bahwa pemuda manis itu mulai kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan emosi.
"K-kau...," Naruto terbata, dengan rasa tidak percaya mundur beberapa langkah ketika merasakan Sasuke mulai mendekat ke arahnya. "K-Kau O-Onyx Nightsky?"
Sasuke yang berada di depan Naruto, dan berjarak tidak kurang dari 5 meter tersenyum manis. Oniksnya tenggelam di antara kelopak matanya yang menyipit karena senyumannya begitu lebar. "Menurutmu?" tanyanya kemudian.
Naruto mengigit bibirnya. Ia mengengam sudut meja yang berada di belakangnya untuk menahan rasa kesalnya. "Kau Onyx Nightsky!" kali ini perkataannya bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
Sasuke terkekeh mengejek Naruto, lalu mengangkat kedua bahunya dengan wajah sangat innocent. "Kau baru menyadarinya sekarang?" Sasuke mulai melangkah, tangannya terlipat dan matanya terus menatap tajam namun menggoda ke arah Naruto. "Benar-benar Dobe."
"B-Brengsek!" Naruto berjengit lalu berteriak, ia benar-benar kesal sampai tidak mampu lagi menahan emosinya yang membeludak. "BRENGSEK!"
"Ck..ck...ck...diamlah Dobe~" Sasuke mengerak-gerakan jari telunjuknya ke arah kiri dan kanan seraya membawa ke bibirnya, gerakan untuk meminta Naruto agar mengecilkan suaranya. "Kau tidak mau orang-orang mendengarkan kita sedang berada di sini berdua, bukan?" tanyanya dengan suara menggoda. "Kau masih menggunakan pakaian wanita."
Naruto berdecak kesal, matanya menatap tajam dari balik softlens kemerahannya. "Biarkan aku pergi! Aku tidak punya urusan denganmu lagi!" Naruto berusaha melangkah maju ke arah Sasuke. Ingin mencoba melewatinya, berharap kalau dia bisa melewati aktor yang brengsek itu.
"Omong kosong, kau masih punya banyak urusan denganku Dobe." Sasuke menggeser tubuhnya, menghalangi jalan Naruto agar tidak bisa melewatinya. Terlebih lagi, tubuh Sasuke memang lebih besar dari Naruto.
Naruto berdecak. Memang mustahil untuk melewati aktor brengsek ini dengan mudah. Pemuda blond itu mulai berkacak pinggang, dia tidak ingin terlihat ketakutan. Ya, dia tidak boleh terlihat takut pada Bedebah kurang ajar di depannya ini. Dengan wajah yang menantang Naruto memelototi Sasuke. "Aku sudah tidak punya urusan denganmu, BRENGSEK!"
Sasuke mengeleng-gelengkan kepalanya, senyum meremehkan tak pernah hilang dari wajah tampannya. Dengan gerakan pelan, Sasuke membungkukan tubuhnya sedikit dan mendekatkan wajahnya pada pemuda keras kepala di depannya. "Kau masih punya banyak urusan denganku, Do-be."
"Urusan?" Naruto terkekeh, "sejauh yang aku tahu, aku sudah memberikanmu foto bugil Uchiha Sasuke, Onyx Nightsky!" balas Naruto setengah berteriak, ia sengaja agak menekan kata 'Onyx Nightsky' disebabkan rasa kesalnya yang merasa sudah dibohongi habis-habisan.
"Oh ya~?" Sasuke semakin mendekatkan wajahnya, menatap dengan puas wajah kesal pemuda manis di depannya. Tangan kanan Sasuke naik dan mencengkram salah satu tangan pemuda blond di depannya itu. Berjaga-jaga supaya ia tak bisa kabur dengan mudah. "Mungkin memang benar, kau dan Onyx Nightsky sudah tidak ada urusan lagi. Tapi... " Sasuke mengantungkan kalimatnya. "Kau masih mempunyai banyak urusan denganku. Uchiha Sasuke."
Naruto berjengit, menepis tangan Sasuke yang mencekram pergelangan tangannya. Naruto mencoba tertawa, menerima kenyataan bahwa yang dikatakan Sasuke benar. "Ya, ya. Aku memang masih mempunyai urusan denganmu, Uchiha Sasuke. Aku memang masih harus berkerja untuk pemotretan biografi-mu setidaknya sampai 4 bulan ke depan. Ya, ya~ aku mengerti..." Naruto mengangguk-angguk kepalanya dengan wajah yang mengerut-ngerut. Ia masih tertawa, tertawa dalam kestressannya.
"Jangan berpikir untuk kabur Dobe~" ujar Sasuke tiba-tiba, sudut bibirnya naik.
"Cih, aku professional Uchiha. Aku tidak akan kabur seperti seorang buronan. Setidaknya, aku akan pergi tanpa menyisakan masalah lagi. Cih, mungkin aku akan meminta surat pengunduran diri dari Tsunade-san. Dan setelah itu— kau..." Naruto menunjuk Sasuke, lalu setelah itu menunjuk dirinya, " — dan juga aku bisa menjalani hidup ini dengan tenang." Naruto tersenyum lebar, sebelum tiba-tiba merasakan tubuhnya terdorong menghantam meja yang ada di belakangnya. Pemuda pirang itu mengaduh kesakitan dalam hati dan sayup-sayup menyadari pemuda Uchiha di depannya itu telah menahan kedua tangannya dan membuatnya kehilangan tempat untuk bergerak dengan lebih leluasa.
"Lepaskan aku Brengsek! "
"Kau tidak akan mengundurkan diri, Do-be," kata Sasuke dengan wajah yang mengeras, " Kau- tidak- boleh- mengundurkan- diri!"
Naruto mengerutkan wajahnya, "GAH! Apa urusanmu Brengsek!" Naruto berteriak tepat di depan wajah Sasuke, tak peduli jika air liurnya menyembur. Dia malah bersyukur jika memang air liurnya menyembur ke wajah Sasuke."Aku harus mengundurkan diri dari pekerjaan ini segera Teme! Berkerja denganmu itu— berbahaya untukku!" maki Naruto.
Sasuke menaikan satu alisnya sedikit. Kali ini benar-benar naik karena biasanya hanya naik sekitar 0,1 milimeter. "Kau pikir aku berbahaya?" tanyanya.
"Tentu saja! K—kau itu gay!" Bentak Naruto jengkel, masih berusaha untuk melepaskan diri dari kedua tangan Sasuke yang mengungkungnya.
Sasuke menyeringai, ia semakin mendekatkan wajahnya ke arah Naruto. Seriously, Sasuke memang sangat suka menggoda pemuda cross- dress di depannya. "Ah ya~ Aku memang berbahaya," ujar Sasuke seduktif. "Seperti yang orang-orang katakan, 'berteman dengan penjual parfum akan membuatmu berbau parfum~." Sasuke menghirup wangi wig yang Naruto kenakan. Sasuke terbatul, wanginya sungguh tidak enak, seperti bau plastik yang terlalu lama terbakar matahari. Uchiha Bungsu sama sekali tidak menyukainya. Hal ini membuat Sasuke jadi penasaran, bagaimana wangi rambut asli pemuda di depannya ini. Apakah akan seharum bau lemon yang akhir-akhir ini ia sukai? Hmmm...
Sasuke semakin mengeratkan dekapannya pada pemuda di depannya, karena pemuda itu semakin gencar untuk bergerak agar bisa melepas diri darinya. "Benar kan Dobe? Aku bisa membuatmu menjadi menyimpang." Bisik Sasuke dengan suara baritone khasnya yang memabukan banyak wanita. "Kau memang sekarang tidak berurusan dengan Onyx Nighsky lagi—" Sasuke menghentikan kalimatnya sebentar saat mendengar desisan 'lepaskan aku' dari pemuda itu, dan hal seperti itu malah membuat Sasuke tidak ingin melepaskanya. Sasuke melanjutkan kalimatnya yang tertunda, kali ini dengan gesture tubuhnya yang lebih menggoda, "—tapi kau berurusan dengan Uchiha Sasuke, Dobe. Salahmu membuatku tertarik denganmu." Sasuke menelusuri leher jenjang Naruto dan menghembuskan napas basah dan hangatnya di sana.
"Brengsek! AKU INI NORMAL! B-berhenti melakukan itu atau aku akan melaporkanmu ke po- Ahh~!" Naruto mendesah tertahan ketika merasakan Sasuke mengigit sedikit lehernya di bagian yang kemarin digigiti oleh Sasuke sampai membekas.
Sasuke terkikik kuda, merasa sangat lucu dengan tingkah pemuda di depannya. Ah~ bahkan tanpa mengenal nama aslinya pun Sasuke sudah sangat tertarik dengannya. "Hei, pemuda mana yang tidak gay jika mendesah ketika lelaki lain mengigit lehernya Dobe?" goda Sasuke jahil.
Wajah Naruto merah padam dikarenakan rasa malu, jijik, marah, dan kesal yang bercampur aduk dalam tubuhnya. Tangannya mengepal keras dan BUAKKKKKK! Dengan tenaga cowok yang lumayan kuat, Naruto memberikan bogem mentahnya pada pelipis aktor tampan di depannya.
"A-AKU BUKAN MAINANMU BRENGSEK!" Bentaknya keras-keras. Sudah tidak peduli lagi meskipun semisalnya mereka dipergoki oleh staf lain.
Sasuke terdorong beberapa langkah ke belakang karena tinju Naruto. Aktor itu dapat merasakan sakit yang luar biasa pada pipinya. Harapannya, semoga saja pipinya tidak membengkak. Sasuke merasa kasihan pada tubuhnya. Sudah dicakar, kemaluan ditendang, dan sekarang ia malah harus merasakan pipinya ditinju dengan sekuat tenaga oleh pemuda bertampang wanita di depannya.
"Do-be!~" Sasuke bangkit sambil menggeram layaknya singa yang terbangun dari tidurnya, "memukul wajah seorang aktor itu adalah kesalahan terbesar." ujar Sasuke tenang dan datar, tapi penuh dengan aura membunuh.
Naruto mengeraskan hati dan wajahnya, juga kepalan tangannya. "He-eh, kau ingin merasakan lagi TEME! K-KAU INGIN MERASAKAN TINJUKU LAGI?!" ancamnya sambil mengacungkan kedua telapak tangannya yang sudah terkepal.
Sasuke melipat dirinya di depan dada, harga dirinya tinggi meskipun dengan pipinya yang mulai membengkak, "Coba saja Dobe, besar kepalan tanganmu bahkan tak lebih besar dari kepalan tanganku..."
BRAKKK! Sebuah buku terlempar ke arah Sasuke, untunglah hanya buku kecil setebal 50-an halaman. Naruto menyeringai kesal, "He-eh? Tapi kau merasa kesakitan kan? Pukulan-ku sakit kan? Iya kan!? CIH!" tuntutnya.
" Memang sakit," aku Sasuke dengan wajah cool dan tenang, pipinya sudah mulai sedikit memerah karena pukulan Naruto tadi. Sasuke terdiam, seolah sedang memikirkan rencana matang-matang pada benaknya. "Tenang saja..," ujarnya pada akhirnya, "aku akan membuatmu merasakan sakit jauh melebihi ini~"
Naruto mengerutkan wajahnya, ia memegang kameranya kembali dengan erat. Takut, jangan-jangan merasakan sakit yang dimaksud oleh Sasuke adalah dengan merusak kameranya yang berharga. Jika itu terjadi, ia lebih baik mati saja daripada merasakan sakitnya melihat barang kesayangannya rusak. "Cih, aku tidak peduli TEME!" balas Naruto tak gentar. "AKU TIDAK TAKUT PADAMU TEME! KAU, BEDEBAH TENGIK, AKAN KUBUAT KAU MENYESAL KARENA TELAH MENIPUKU!"
Sasuke menggelengkan kepalanya, bersikap seolah-olah perkataan Naruto hanya semilir angin yang berlalu. "Kau ingin membuatku menyesal?" sorot mata Sasuke menajam, "kalau begitu, buat aku menyesal. Aku ingin melihat bagaimana caramu membuatku menyesal."
Naruto mengigit bibirnya, "tunggu saja~" desisnya. "Akan-kubuat-kau-menyesal!"
"Hn.. terserah~." gumam Sasuke dengan gaya sok cool-nya yang seperti biasa. Setelah itu, heening sesaat diantara pemuda itu. Atmosfer di sekitar mereka begitu berat seolah mengandung racun berbahaya. Hingga akhirnya, keheninggan terinstrupsi oleh suara manis wanita kembang gula.
"Sasuke-kun~ Kau dicari oleh Rin! Sebentar lagi, waktu pengambilan gambar akan dimulai."
Dak Dak Dak— Naruto dapat mendengar suara pintu van yang digedor. Dan seketika, darahnya mulai turun meninggalkan wajahnya—memucat.
"Kau yakin tidak ingin bersembunyi, Dobe?" tanya Sasuke sambil melipat tangannya. Menertawai wajah Naruto dari dalam hatinya.
"Sasuke-kun~" suara tersebut terdengar lagi.
Naruto terdiam, ia mulai menundukan dirinya dan mencari celah-celah di antara barang-barang Sasuke yang berantakan dan bertumpuk-tumpuk menjadi tinggi. 'Itu suara Sakura-chan!' pikir Naruto sambil masih mengedap-endap mencari tempat persembunyiannya. Wajah Naruto memerah, mungkin karena merasa cemburu sebab idola-nya begitu perhatian pada Sasuke. 'SIALAN' umpatnya dalam hati.
"Ada apa Sakura-chan?~" Sasuke menjawab dengan nada riang. Sengaja, karena biasanya Sasuke menjawab Sakura dengan ketus bahkan tidak menjawab sama sekali. Apalagi, Sasuke biasanya selalu memanggil Sakura dengan memakai nama keluarganya.
"Bo-bolehkah aku masuk? A-apa kau sudah berganti baju? Kita benar-benar harus cepat!"
"Oh, boleh saja, silahkan!" balas Sasuke, ia menyeringai dan melirik Naruto dari sudut matanya. Dia dapat melihat pemuda manis yang sedang mencari tempat persembunyian itu melotot padanya seolah mengatakan, 'Kurang ajar kau! Mau apa kau memperbolehkannya masuk?!'
Lalu, suara Sakura yang sungguh disukai Naruto berdendang kembali, "ah, tunggu sebentar Sasuke-kun. Pein memanggilku lagi~" dan suaranya pun menghilang diikuti dengan suara langkah kaki yang ringan. Langkah kaki Sakura. Sakura pergi menjauhi van dan Naruto mengelus dadanya lega.
Sasuke menghela napas panjang. Seolah kecewa jika semisalnya Sakura tidak jadi masuk ke dalam van-nya. "Ya sudahlah" gumamnya kecil, bahkan hampir tak terdengar.
Setelah itu, Sasuke dengan cepat, mulai melepaskan beberapa kancing kemeja yang sedang dikenakannya. Naruto membulatkan matanya kaget melihat kelakuan random Sasuke yang tiba-tiba malah melepas bajunya. DI DEPANNYA!
"Hei! Hei! Hei! Apa yang kau lakukan!? Kenapa kau melepaskan bajumu Brengsek!" Bentak Naruto.
Sasuke menyeringai, "He-eh? Sebab, tujuan awal aku datang ke van ini sebenarnya adalah untuk menganti baju-ku, Dobe. Kenapa?" Sasuke menaikan satu alisnya dan wajahnya jahil menggoda, "Kau horny melihatku melepas baju?"
Naruto membelalakan matanya, tak menyangka bahwa akan diberi pertanyaan seperti itu oleh orang yang baru mengetahui jati dirinya 10 menit yang lalu. 'Uchiha Brengsek! TEME! umpatnya.
"Mana mungkin! Sudah kubilang aku ini normal, tidak bernafsu dengan pria!" Naruto memalingkan wajahnya. Ia benar-benar tidak mau Sasuke bersikap terlalu percaya diri sehingga menganggap dirinya memperahatikan Sasuke. Naruto mengambil sebuah majalah playboy yang ada di dekat kakinya, ia membuka dan menggunakan majalah itu untuk menutupi mukanya. "Lihat, aku bahkan masih bernafsu membaca majalah playboy." gumam Naruto bangga dari balik majalahnya.
Dan Sasuke hanya menghela napas melihat mangsanya yang keras kepala.
Tak berapa lama, Naruto mulai mendengar langkah kaki yang sangat ringan sedang mendekat ke arah van itu. Ia menurunkan majalahnya, dan melihat Sasuke masih bertelanjang dada dengan restleting jeans yang terbuka. 'KURANG AJAR!' pekik Naruto dalam hati melihat Sasuke yang masih berpenampilan seperti itu.
"TEME!" Teriaknya dengan nada mendesis, "kenapa kau masih berpakaian seperti itu!? Sakura akan datang lagi Baka! Dan baru saja kau memperbolehkan dia masuk ke van ini!"
"Hn." jawab Sasuke ringan sambil mulai menurunkan celana jeans yang dikenakannya.
Naruto meremas kepalanya kesal. Ia benar-benar ingin mendepak kepala aktor yang satu ini! Bisa-bisanya bersikap santai sementara hidupnya berada di ujung tanduk, dengan Sakura yang sebentar lagi akan kesini. DAN APA ITU? Sasuke hanya memakai boxer dibalik jeansnya!? Apa Sasuke berniat untuk menjadi aktor porno di sini!?
"Sa-Sasuke! Cepat pasang celanamu! Sakura! Sakura! Sakura akan datang ke si—" sebelum Naruto sempat menyelesaikan kalimatnya dan mengingatkan Sasuke bahwa Sakura akan masuk ke dalam van itu, pintu van itu terbuka dan menampilkan sebuah kepala yang dihiasi surai-surai berwarna merah jambut yang nampak lembut.
Sakura berada di ambang pintu. Dan sontak, Naruto langsung menyembunyikan tubuhnya lebih dalam ke tumpukan barang Sasuke. Tapi, Naruto mulai bertanya-tanya bagaimana reaksi Sakura jika ia menemukan Sasuke dengan penampilan bertelanjang dada dan hanya memakai boxer.
"Sasuke-kun, tadi Pein mulai memanggil kita lagi, dia menyuruh kita—KYAAAHHHH!"
Ah~ Reaksinya sungguh wanita sekali.
BRAK!
Pintu van tersebut tertutup kembali dengan cepat. Diikuti dengan Sakura yang masih berteriak-teriak. Naruto melotot kepada Sasuke, "Teme!" desisnya, "kau benar-benar kurang ajar." bentaknya tapi dengan volume suara yang kecil.
Namun, Sasuke sama sekali tidak mengubris apa yang dikatakan Naruto. Dia hanya mengangkat sudut bibirnya sambil terus memakai baju yang telah Rin siapkan untuknya. "Tidak perlu marah Dobe. Aku hanya sedikit iseng saja..." jawab Sasuke santai.
"Chk!" Dan Naruto hanya dapat berdecak kesal, kembali mengambil majalah playboy di dekatnya dan menutupi seluruh wajahnya.
.
.
.
.
"Baiklah Dobe."
Naruto melirik ke arah Sasuke yang memanggilnya, sadar bahwa aktor di depannya itu sudah berganti baju lengkap dan tidak ada bagian tubuh yang terbuka, Naruto menurunkan majalahnya. "Apa?!" tanyanya ketus.
"Aku akan keluar, kau bisa keluar dari van ini setelah semuanya aman. Hmmm~"
Naruto memalingkan wajahnya kesal, " Tidak perlu memberitahuku Bedebah! Aku sudah tahu hal itu!"
Plokk~ Naruto tersentak ketika merasakan sebuah tangan menepuk kepalanya dengan pelan. Ia berjengit dan menggeram. Uchiha benar-benar kurang ajar! Cap-nya dalam hati. "Menjauh dariku! Jangan sentuh aku!"
Sasuke terkekeh, lalu kembali berdiri dari posisinya yang tadi menunduk agar bisa mencapai kepala Naruto, "Aku hanya ingin memperingatkanmu sekali lagi agar tidak kabur Dobe..." kata Sasuke, "karena aku akan membuatmu menyesal jika kau berani kabur."
Sasuke berjalan, ia menuju ke pintu vannya dan membukanya. Aktor tampan tersebut keluar dari dalam van itu beberapa saat sebelum akhirnya kepalanya terlihat muncul kembali dari balik pintu. Sasuke tersenyum, senyum charming berkarisma-nya, "jaa ne, Dobe~"
.
.
.
Naruto terdiam, ia masih meringkuk di dalam tempat persembunyian di van itu. Pemuda itu melihat kameranya dengan tatapan nanar. Dan gengamannya mengeras.
"Sialan!" umpatnya. "Sialan! Sialan! Sialan!" kekesalannya tak terbendung, ia benar-benar kesal. Ia sungguh bodoh. Benar-benar bodoh sampai tak menyadari semuanya dari awal, Cih, mengumpat pun percuma, entah kenapa, Naruto merasakan semuanya akan bertambah lebih buruk jika ia melarikan diri dan mengundurkan diri dari pekerjaan ini sekarang. Oke! Sekarang dia harus bagaimana? Haruskah dia kabur? Atau, haruskah dia mengikuti lagi permainan yang dirancang oleh si Brengsek itu?!
Setitik air mata jatuh membasahi pipi Naruto. Ia benar-benar marah sampai tak mampu menahan sebulir air mata ini. Naruto mengusapnya dengan lembut. Lalu, entah bagaimana, tangan Naruto menurunkan letaknya menjadi ke lehernya, menyentuh kissmark dan bekas luka gigitan yang dibuat oleh Sasuke. Naruto mengigit bibirnya bawahnya. "Brengsek! Lihat saja Teme!" gerutunya, "Akan kubuat kau menyesal karena sudah menahan dan membuatku merasakan semua ini!"
Kyuubi mengoyang-goyangkan kakinya dengan bosan. Masih setengah jam lagi sampai waktu keberangkatan pesawat yang ditentukan. Dan OH MY GOD! Kalian pasti tidak tahu bagaimana bosannya Kyuubi sekarang. Bocah rubah itu begitu bosan, bosan, dan bosan. Sangat bosan sampai ia merasa ingin menyeruduk orang-orang disana saking bosannya. Berapa banyak kata bosan yang sudah muncul?
Kyuubi mengengam ponselnya. Ia terdiam beberapa saat sampai akhirnya memutuskan mengetik nomor ponsel yang dia sudah hapal di luar kepala. Ia membawa ponsel tersebut ke telinganya.
Tuuutt—Tuuuutt—Tuuuuttt—
Kyuubi mengetuk-ngetuk kakinya pada lantai bandara dengan tidak sabar katika merasakan panggilannya tersebut tidak direspon sema sekali oleh orang yang hendak dia hubungi. "The number you-re calling is not—" dan Kyuubi langsung menekan tombol merah pada ponselnya ketika nada menunggu panggilanya yang didengarnya sudah tergantikan oleh suara operator yang membuktikan bahwa orang yang ia hubungi tidak akan menyambut panggilannya.
Kyuubi menghela napas. "Naruto~" gumamnya lirih, ia sungguh gelisah dengan bagaimana keadaan adiknya sekarang. "Kau sedang apa? Dasar anak bodoh~" gerutu Kyuubi sambil mengayun-ayunkan ponselnya di udara. Menyerah, Kyuubi menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki, sekali lagi mencoba untuk tenang sambil menunggu pemberitahuan dari pihak bandara jika pesawat akan berangkat.
Bosan, Kyuubi merasa sangat bosan. Adiknya bahkan tidak menjawab panggilannya sejak tadi! Kyuubi sekali lagi menghela napasnya. Hatinya berat jika terus memikirkan permasalahan dalam hidupnya.
.
.
.
"Kau sudah menghela napas 2 kali sejak tadi. Itu artinya kau sudah membuang 2 buah kebahagian hari ini..."
Kyuubi terdiam. Ah ya, suara paling menyebalkan sepanjang masa ini terdengar lagi. Kyuubi diam, ia tidak merasa kaget ketika saat dia melirik ke arah kanannya, mendapati seorang pemuda cukup tampan berambut panjang yang diikaat asal sedang cengar-cengir ke arahnya. Ya, dia sama sekali tidak kaget karena hal ini sudah sering sekali terjadi. Biarpun begitu, tetap saja wajah Kyuubi menjadi jauh lebih muram dari yang sebelumnya.
Kyuubi berdecak, "kebahagianku sudah menghilang sejak kau ada di situ, Brengsek." gerutunya sambil mulai menggeser posisi duduknya lebih menjauh dari pemuda itu.
"Jangan terlalu pemarah seperti itu Kyuubi, nanti kulit wajahmu akan cepat kendur." canda Itachi santai sambil tertawa-tawa. "Atau jangan-jangan, kau masih marah karena kemarin malam aku membersihkan badanmu heh~" godanya.
Kyuubi memberikan tatapan sinisnya pada Itachi. Ia tidak mau menjawab, tidak mau membalas, tidak mau membicara, dan ia hanya mau meresponnya dengan tatapan 'jangan ganggu aku.'
"Ayolah Kyuu-chan~ kau masih sexy kok~ tubuhmu memang sedikit lebih coklat dari yang dahulu. " Itachi tersenyum, tetapi Kyuubi masih diam di sebelahnya, sama sekali tak menghiraukan perkataan Itachi secuil pun. Tetapi Itachi tetap tersenyum, "tenang saja, aku tidak menyentuhmu dalam hal negatif kok~". Kyuubi masih terdiam, Itachi tersenyum, ia masih tersenyum dan akan selalu tersenyum. "Percayalah padaku..."
Kyuubi melirik Itachi dari sudut matanya, tatapannya berkilat-kilat, seolah menyembunyikan arti sendiri di balik tatapan tersebut. "Urusai."
Itachi terkekeh lebar, ia begitu senang menyadari bahwa ia tidak sepenuhnya diacuhkan. Beberapa detik terlewati dengan wajah tak berekspressi milik Kyuubi dan wajah yang tersenyum lebar ala Itachi sebelum akhirnya perhatian mereka teralih oleh suara pengeras suara dari pihak bandara untuk segera memasuki pesawat jurusan Okinawa dalam waktu 20 menit lagi.
Itachi mengangkat suaranya. "Itu pesawat kita, Kyuu-chan~"
Kyuubi bangkit dari kursinya dengan cepat, sambil berdiri, Kyuubi mulai menyeret koper berukuran kecil miliknya dan mengeluarkan 3 lembar tiket dari dalam saku jaketnya. Yang Kyuubi pikirkan, ia harus segera pergi agar bisa menjauh dari bedebah sialan itu.
Tetapi Uchiha sulung memang adalah tipe yang selalu berkicau di keadaan apapun, "3 tiket kelas ekonomi? Ha! kau tidak berubah Kyuubi~"
"Bukan urusanmu."
Itachi terkekeh, dengan cepat, tangan pemuda yang panjang ini menarik syal Kyuubi yang terulur sehingga menahan Kyuubi untuk berjalan meninggalkannya.
"Lepaskan aku!" pinta Kyuubi pelan, namun dengan aura membunuh yang perlahan-lahan mulai menguar. Ia tidak ingin menampar Itachi di tempat umum seperti ini.
"Ne, Bukankah itu membuang-uang? Membeli 2 tiket lebih agar kursinya dapat kau pakai untuk senderan kakimu? Jika ingin fasilitas seperti itu, kenapa kau tidak memesan tiket VIP? Ber-sa-ma-ku?~" tanya Itachi sambil mengedipkan matanya. Maksud menggoda.
"Justru karena ada kau aku tidak mau..." Kyuubi menepis tangan Itachi dari syalnya. Tangan Itachi memang terlepas dari syalnya, tapi sekarang, Itachi malah ganti mengengam tangannya dengan erat,. Begitu erat bahkan sampai tangannya terasa ngilu. "Woi! Lepaskan tanganku! Aku ingin segera masuk ke dalam pesawat!"
"Kyuubi~..." Itachi memanggil dan suasana menegang seketika, Kyuubi berhenti sejenak untuk memberontak, ia lebih memilih menunggu sambil melihat Itachi dengan rasa penasaran. Keringat dingin menguncur saat Kyuubi merasakan atmosfir diantara mereka berubah seketika. Terasa lebih berat dan juga menyesakan. Perlahan, tapi pasti, Kyuubi merasakan gengaman Itachi pada pergelangannya melonggar, Kyuubi masih diam dan ia malah menjadi tidak berani untuk menarik tangannya.
"Percayalah padaku Kyuubi..." kali ini, suara Itachi terdengar lagi, tapi begitu pelan, nyaris seperti bisikan yang terbawa angin. Namun Kyuubi mampu mendengarnya, telinganya tajam. Kyuubi mengangkat wajahnya angkuh, mengeraskan hatinya dan menarik tangannya dengan cepat. "Aku mencintaimu Kyuubi."
Kyuubi mengeraskan wajahnya, menutup hati dan telinganya, membutakan matanya dari ekspresi Uchiha sulung yang tiba-tiba berubah begitu sendu, terlihat begitu terluka dan juga seperti memikul beban berat. Kyuubi adalah anak yang keras, ia menutup segala indranya dari Uchiha sulung. "Tidak." jawab Kyuubi pelan, Kyuubi berbalik, lalu kembali menyeret kopernya. Berjalan menjauhi Itachi dan tidak ingin berbalik untuk melihat ekspresi pria itu, entah kenapa, Kyuubi merasakan hal itu hanya akan membuat dadanya sakit. " Aku tidak akan percaya—kepada orang yang hampir membunuhku."
Dengan suara parau, hampir menanggis, Kyuubi berhenti berjalan sambil bergumam pelan, mungkin hanya cukup untuk terdengar dirinya sendiri. "Jika aku percaya lagi kepadamu, kau pasti akan membunuhku lagi..." Kyuubi terisak, dadanya terasa begitu sakit, seperti luka lama yang kembali dibuka dan ditaburi oleh garam. "Bodoh!" umpatnya.
Dan sekarang, Kyuubi menggalau di bandara.
Naruto berguling-guling di atas tempat tidur di dalam kamar hotelnya. Ini jam 7 malam dan ia agak bosan. Naruto sudah tak ada pekerjaan lagi sekarang. Pekerjaannya dalam memotret Sasuke baru saja selesai dan ia juga sudah mengirim data-data foto Sasuke pada agensi yang membayarnya. So, He's free now~.
Sambil terus berguling-guling, Naruto melihat langit-langit kamarnya sambil melamun, dan mulai mengangkat ponselnya ke udara. Naruto mengerucutkan bibirnya, "kenapa Kyuu-nii tidak bisa dihubungi yah?" gumam Naruto cemas, sebab ia menyadari bahwa banyak sekali miss call dari Kyuubi yang ia tidak sadari karena ia meninggalkan ponselnya, Naruto sudah mencoba untuk menghubungi balik, tapi Kyuubi yang sekarang malah tak bisa dihubungi.
"Well, mungkin nanti Kyuu-nii akan menelepon lagi..." ujar Naruto pada akhirnya, tidak mau terlalu cemas dan akhirnya melempar ponselnya begitu saja di atas ranjang. Setelah itu, entah mengapa, Naruto meraih kamera pemberian Kyuubi yang baru saja kembali ke tangannya. Lama Naruto menatap kamera tersebut, hingga Naruto membawa benda tersebut ke pelukannya dan mengecupnya bagai pacar sendiri. Ia benar-benar sayang dengan kameranya.
" Gyaaaahhh~ untunglah si Teme itu tidak merusakmu!" desah Naruto sambil terus memeluk kamera kesayangan itu dengan gemas. Naruto pun mulai melepaskan kamera tersebut dari gengamannya dan mengotak-atik kamera tersebut, dan wajah Naruto seketika membeku ketika menyadari bahwa—"ARGGHHHH! KENAPA SI TEME ITU TIDAK MENGHAPUS FOTO BUGILNYA!" Teriak Naruto histeris, wajahnya memerah melihat foto-foto yang dia ambil saat menyusup ke apartemen Sasuke. Lagipula, kenapa bisa Sasuke sama sekali tidak menghapus foto yang memalukan soal dirinya sendiri. Benar-benar orang tak normal!
Naruto bergetar melihat foto-foto Sasuke yang masih ada di dalam kameranya, perasaan gelisah mulai tumbuh dan ia merasakan badannya menghangat. 'Sialan!' batin Naruto. "Aku tidak mungkin 'turn on' karena melihat foto Sasuke telanjang!" pekiknya histeris. Jarinya dengan cepat segera menekan tombol-tombol pada kameranya untuk menghapus foto Sasuke yang menurutnya nista tersebut.
Beberapa saat kemudian...
"FUAHHHH!" Naruto merebahkan dirinya kembali pada kasurnya, setelah berkutat selama beberapa saat untuk menghapus foto bugil Sasuke yang mengerikan itu. Naruto memejamkan matanya, ia merasa matanya terasa sangat perih dan badannya masih memanas. Padahal, Naruto yakin bahhwa dia sudah mengatur suhu ruangan cukup dingin.
Naruto membuka matanya, ia menatap kameranya sebentar, lalu kembali melihat ke atas langit-langit kamar, Naruto mengusap dahinya dan merasakan bahwa ia berkeringat. Kok bisa? Yah, siapa yang tahu. Dengan cepat, Naruto bangkit dari ranjangnnya dan melompat turun, "Aishhhh! Sepertinya aku butuh udara segar!" gerutu Naruto. Ia mengambil jaket, dompet serta kamera antik pemberian Kyuubi yang sudah lama menghilang darinya.
"Yosh! Cari angin sambil memotret pemandangan di malam hari!" ujar Naruto semangat sambil menyisir rambut dengan jemarinya. Kali ini ia keluar dalam keadaan tak menyamar, dengan begitu ia bisa bebas keluar sesuka hatinya tanpa khawatir ada yang mengenalinya sebagai Akashi. "Berangkat!" Naruto berjalan menuju pintu hotel lalu keluar dari kamarnya. Wajahnya tampak semangat karena ia bisa memakai kamera kesayangannya itu lagi.
Tapi, benarkah dia akan tetap sesemangat itu ketika mengetahui apa yang akan menungguinya nanti?
Kyuubi diam menatap awan dari dalam pesawat yang ia tumpangi, kakinya dengan sangat bebas bergerak di dua kursi yang ada di sebelahnya, dan dengan gaya bak Raja itu, Kyuubi menerima tatapan sinis dan juga bingung dari para penumpang lainnya.
'Biarlah! Siapa peduli?' pikir Kyuubi santai mengacuhkan bisikan orang-orang yang mengangapnya tidak sopan dan tidak tahu biadab, toh dia juga membayar 2 buah kursi di sebelahnya ini. Kyuubi mendengus, permen karet yang ia kunyah sudah tidak ada rasanya lagi, dan waktu perjalanan masih tersisa sekitar 2 jam. Benar-benar membosankan.
Kyuubi diam kembali sambil menatap awan di luar sana. Awannya terlihat begitu empuk seperti gumpalan-gumpalan kapas yang bisa ditiduri kapan saja. Kyuubi bergumam, raut mukanya menyendu, "Kalau dari atas tanah, awan-awan ini pasti terlihat membentuk sesuatu~"
Kyuubi memejamkan matanya, ia mengingat masa-masa itu, Ya, dia bisa mengingatnya dengan jelas. Awan berbentuk hati yang terlihat dari sebuah bukit yang tinggi. Juga tawa dan—tangis? Ya, bocah berambut kemerahan itu dapat mengingatnya.
"Ita—chi~"
.
.
"Maaf tuan."
Spontan, Kyuubi membuka matanya dan menoleh. Melihat seorang pramugari tersenyum kaku ke arahnya. Kyuubi terdiam, menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut pramugari itu.
"Maaf, tapi tolong turunkan kaki anda dan duduk dengan posisi yang benar, anda tidak diperbolehkan mengangkat kaki di atas kursi pesawat..." ujar pramugari itu sambil tersenyum. Wajah Kyuubi mengeras, ia dapat melirik ke arah penumpang lain yang tersenyum kecil saat melihatnya ditegur seperti itu. ia mendengus.
"Kenapa begitu? Aku membayar untuk ketiga kursi ini!" jawab Kyuubi ketus. Sambil membuang mukanya angkuh, kembali menatap awan. Tapi dia masih dapat melihat raut kikuk pramugari tadi yang mungkin tidak tahu harus menjawab apa dan juga kecengoan para penumpang lain yang mendengar jawabannya. "Apa yang salah kalau aku mengangkat kaki di kursi yang sudah dibayar?" sungut Kyuubi sekali lagi, membuat pramugari tadi sukses terdiam tanpa bisa berkata-kata .
Orang kaya memang susah ditebak.
Click...click...
Naruto berkali-kali menekan shutter kameranya untuk mengambil gambar pemandangan di sepanjang jalan yang ia lewati. Apa saja yang ia lewati ia foto, mulai dari tumbuhan-tumbuhan, kelapa yang tumbuh di pinggir jalan, kawasan pertokoan, rumah-rumah penduduk, bahkan tempat pembuangan sampah pun ia foto.
Naruto tersenyum lebar melihat hasil fotonya, ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan jika ia memotret suatu objek dengna kamera pemberian kakaknya itu. Sambil memotret, kadang Naruto juga sembari memeriksa bagian-bagian seperti sekarang, Naruto memperhatikan lampu flash yang ada di kameranya, "Lampu flashnya agak redup, harus diperbaiki nanti." catat Naruto pada dirinya sendiri.
Naruto mengalihkan pandangannya pada jalan menurun yang dilewatinya, keremangan jalan dan sayup-sayup suara binatang di malam itu sama sekali tak membuat Naruto takut. Yah, setidaknya ia harus bersyukur karena tak ada preman nafsuan yang mungkin akan mencegatnya. Author masih cukup baik untuk dirinya. "Kalau tidak salah..." Naruto mengumam, mencoba mengingat-ingat wilayah Okinawa yang ia ketahui, dulu juga ia pernah beberapa kali ke Okinawa untuk urusan pekerjaan.
"Kalaau tidak salah, jalan menurun ini nanti akan menuju ke pantai..." Naruto tersenyum lebar, dalam hatinya, semangat seorang potografer kembali membeludak. "Memotret pantai di malam hari?! MENARIK!"
Naruto berjalan di pesisir pantai, rambut kuning cerahnya tertiup angin malam yang benar-benar dingin. Sampai terkadang, Naruto merinding merasakan angin itu bersemilir mengelilinginya. Meskipun begitu, ini tidak menurunkan semangat Naruto untuk terus mengambil gambar-gambar laut di malam hari, setidaknya sinar bulan dan bantuan dari flash (meskipun agak redup) kameranya cukup membantu.
Naruto menatap pasir pantai di bawahnya, kaki tanpa alas kakinya (Ya, ia meninggalkan sepatunya di pinggir pantai) dapat merasakan butiran-butiran pasir pantai yang lembut, Naruto menyengir dan—JEPRET! Ia memotret kakinya, lalu memutar tubuhnya dan memotret jejak-jejak yang ia tinggalkan di pasir dan belum tersapu oleh gelombang pantai.
Setelah puas, Naruto kembali berjalan dan menemukan sebuah kumpulan batu karang yang tinggi dan besar, saking besarnya, batu karang itu sampai seperti membelah pantai. Naruto menatap takjub dan senang melihatnya, dengan semangat, ia segera mengambil banyak gambar dari batu karang ini. Dan dengan usil, Naruto bahkan mengitari batu karang tersebut dan berusaha memanjat batu-batu yang berukuran lebih kecil.
"Oh, di balik karang ini masih ada wilayah pantai..." tanpa pantang menyerah, Naruto mencoba memanjat karang yang ada di depannya. Susah memang, selain dikarenakan permukaan karang yang licin dan berlumut karena termakan usia, ia juga harus menjaga agar kameranya tidak tertekan tubuh atau terantuk di batu. Oh, sungguh merepotkan. Mengapa ia tidak mengintari batu itu saja dan berjalan ke sisi yang satunya? Yah, namanya juga Dobe.
.
.
.
.
"Hupph~...Huph!" Naruto masih berusaha melewati batu karang tersebut, tapi kini, ia sudah berhasil memanjat batu tersebut dan sedang berusaha untuk turun ke permukaan pasir. Namun, sebelum kakinya dapat mencapai permukaan pasir dengan mulus, Naruto menemukan 2 orang yang sepertinya datang lebih dulu darinya. "Shit!" umpat Naruto, ketika melihat gerak-gerik kedua orang tersebut.
Naruto turun dari batu karang tersebut dengan kesal, ia dapat melihat kedua orang itu berciuman di tengah-tengah air pantai yang dangkal. Ya, Naruto dapat melihat sebuah punggung lebar seorang pria yang tampaknya tengah memeluk seseorang di dadanya, dan Naruto yakin mereka tengah berciuman sekarang. "Cih! Berbuat hal mesum malam-malam di sini! Merusak pemandangan saja!" umpat Naruto. Jarak Naruto dengan 2 orang itu cukup jauh, Naruto berusaha untuk bersembunyi di balik batu karang lain yang lebih kecil sambil setidaknya mengawasi kedua orang tersebut. Ia ingin keluar, tapi merasa tak enak.
Tapi, setelah beberapa saat Naruto mengamati pasangan mesra tersebut, Naruto mulai melihat kejanggalan yang terjadi. "Tu-tunggu dulu. Tunggu dulu..." Naruto menyipitkan matanya, "ssepertinya—aku mengenal model rambut itu!" Naruto mulai merasakan jantungnya kembali berdebar kencang, menyadari model rambut spike menantang langit yang begitu dikenalnya. "Jangan bilang kalau itu—U-U-Uchiha ?!"
Naruto refleks langsung benar-benar bersembunyi di batu karang itu, ia menutup mulutnya agar tidak kelepasan utnuk berteriak. Astaga! Kebetulan macam apa ini! Naruto tak habis pikir bagaimana ia bisa menemukan Sasuke berada di pantai ini juga— dan dengan terlihat mencium...seseorang?
Naruto terdiam, wajahnya memucat, pikirannya mulai tak fokus dan mulai dipenuhi dengan pertanyaan, "Siapa yang dicium oleh Sasuke?" dan tak perlu memakai waktu banyak berpikir, Naruto sudah mulai mencoba menebak-nebak, dan satu wanita yang pasti akan ia pikirkan pertama kali adalah, "Sa-Sakura? Oh! Shit!" Naruto dengan panik kembali melihat ke arah Sasuke. 'TIDAK AKAN KUBIARKAN!' pikir Naruto dalam hati. Marah.
.
.
Naruto mulai merangkak, pria yang tampaknya sangat jelas adalah Sasuke itu masih mencium orang yang berada dalam pelukannya. Naruto melihat ke sekitar, ia ingin melihat lebih dekat dan memastikan orang yang dicium oleh Sasuke itu bukan Sakura. Dan semisalnya bukan Sakura ia akan memotretnya adegan tersebut dan membuat foto itu menjadi senjata kuat agar Sasuke mau melepaskannya. Jenius!
Pemuda pirang itu dapat melihat satu lagi tumpukan batu karang yang ada di dekat Sasuke, mungkin, jika ia bisa sampai di batu karang itu, ia bisa mendapatkan sudut yang tepat agar wajah Sasuke dan wanita(atau pria, mengingat Sasuke itu gay) yang diciumnya dapat terlihat dengan jelas. 'Sempurna, cahaya bulan saja sudah cukup...' pikir Naruto licik dan mulai mematikan lampu flash kameranya. Ia tak akan gagal lagi kali ini.
Naruto merangkak dengan cukup cepat tanpa mengelurkan suara, ia sudah terlatih mengendap-endap di hutan belantara Afrika dahulu ketika ingin memotret hewan-hewan di sana. Ia tidak berani menatap ke arah Sasuke, yang ia fokuskan hanyalah batu karang yang ada di dekat Sasuke itu.
Setelah sekitar setengah menit yang sangat horror, Naruto akhirnya dapat mencapai batu karang itu dengan selamat sentosa. Sungguh, ia bersyukur karena sepertinya dewa keberuntungan berpihak kepadanya. Naruto sudah bersiap-siap dengan kameranya, sambil meneliti keadaan, Naruto mengecek keadaan Sasuke.
"Shit, wajahnya tertutup kepala Sasuke!" umpat Naruto, mulai membungkuk, membawa kamera itu pada matanya dan meletakan jarinya di shutter kemeranya tersebut. Naruto mengumpat, kerena ia hanya dapat melihat setengah bagian dari wajah wanita yang dicium oleh Sasuke, dan itupun sangat tidak jelas disebabkan bayangan kepala Sasuke yang menutupinya. Tapi kabar baiknya, Naruto akhirnya tidak jadi sakit hati karena yang dicium oleh Sasuke rupanya bukanlah Sakura.
Naruto terkekeh, "Kau tidak akan bisa berkutik dengan foto ini, Teme!" dengan perlahan Naruto menekat shutter kameranya, seolah-olah dengan menekan tombol shutter itu ia akan memenangkan undian berhadiah sebesar 1 juta Yen. Ya, sang Dewi Fortuna tengah berpihak kepadanya.
—JEPRETTT! —
"..." Naruto terdiam, wajahnya memucat seketika. Oh, ternyata dia lupa mematikan suara kameranya yang membahana itu, dan ternyata juga, Dewi Fortuna memang sama sekali tidak memihaknya.
"SIAPA DI SANA!?"
BRUAKKK!
OhhSungguh Kasihan. Hanya dalam hitungan detik Naruto dapat merasakan tubuhnya tertarik paksa oleh cengkraman kuat di baju-nya dan langsung menghantam pasir dengan posisi terlentang, dan Sasuke yang mengunci kedua lengannya. Dammit.
"Siapa kau!?" Naruto mendengar suara Sasuke yang seketika langsung menusuk telinganya, dan ia mulai merasakan kesakitan ketika Sasuke semakin mengeratkan cengkaraman pada lengan-lengannya.
"AISH! AISH! SAKIT BRENGSEK! LEPASKAN AKU! Uhuk! Uhuk!" Naruto terbatuk, benar-benar sial, mata dan mulutnya kemasukan pasir.
"Tidak akan. Kau penguntit bodoh yang memotretku sembarangan." jawab Sasuke dingin, menatap datar namun penuh kemarahan pada orang yang ia tahan.
"B—uhuk! Brengsek! Lepaskan aku! Kau Teme!" Naruto mencoba memutar kepalanya dan menatap marah ke arah Sasuke. "Lepaskan aku!"
Sasuke terdiam beberapa saat melihat wajah pemuda di depannya, Meskipun warna rambut dan gayanya jelas-jelas berbeda, Sasuke sungguh mengenal mata berwarna biru langit itu, dan juga detil-detil wajah pemuda di depannya. "Kau—Akashi?"
"KAU MENCIUM BONEKA!?" Naruto tak dapat menyembunyikan kekagetannya ketika melihat sebuah boneka yang teronggok di pasir dan sekarang dibiarkan oleh Sasuke. Ia ternganga, dan melihat Sasuke yang menghadap ke arahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya masih cool dan santai. "K-kau mencium boneka!?" ulang Naruto kembali, kali ini wajahnya lebih horror dari yang sebelumnya.
"Bukan urusanmu, Dobe," jawab Sasuke ketus, mengangkat boneka seukuran manusia itu, dan menentengnya di tangan. Setelah itu, Sasuke tersenyum licik dan meninggikan kepalanya angkuh, "tak kusangka aku akan melihatmu tanpa penyamaran seperti ini, hmm...Akashi?"
Tapi Naruto sama sekali tidak mendengarkan kata-kata Sasuke yang menggodanya, ia malah semakin memperhatikan boneka yang pada awalnya ia kira sebagai seoarang wanita yang Sasuke cium. "I-itu kan se-sex doll!?" Naruto menjauh dari Sasuke, dalam pikiranya, Naruto sudah benar-benar mengangap Sasuke adalah 'aktor gay maniak yang suka mencium sex doll di tengah pantai!"
Sasuke menaikan alisnya dan mulai menggoda Naruto dengan jahil, "Lalu kenapa, hm? Manis? Tak kusangka penampilanmu yang sesungguhnya seperti ini. Kau terlihat lebih— lelaki."
Naruto mencoba menjauhkan wajahnya jijik, "Bukan itu brengsek! Kau kelainan! Untuk apa kau mencium sex doll di malam hari!? Di pantai pula!" tanya Naruto, menjaga jarak sejauh mungkin dari aktor tampan namun kelainan di depannya ini, "Ah! Dan jangan menggodaku brengsek! aku mendapatkan fotomu, dan di situ, sex doll-mu itu benar-benar terlihat seperti seorang wanita! Kau akan mendapat masalah jika aku menyebarkan fotomu itu di internet!"
Sasuke tersenyum, "dan aku tahu siapa yang harus disalahkan jika itu terjadi, benar kan? Akashi?"
Naruto membuang mukanya, ia berdecih, tak mampu membalas kata-kata Sasuke, "Ci-cih tapi— aku masih tak habis pikir kenapa kau bisa mencium sex doll di tengah pantai seperti ini!"
Sasuke tersenyum, "Haha, aku memilih sex doll karena boneka itu dibuat untuk memuaskan nafsu pria, Dobe." Sasuke menatap boneka yang ia gendong di tangannya itu,"Jadi rasa saat menciumnya terasa sama seperti mencium manusia asli~"
Naruto kembali memundurkan langkahnya, sumpah! Jadi makin ngeri aja! Segitu jablay-nya kah Sasuke sampai membeli sex doll dan menciumnya di pantai terbuka?!
'Sudah gay maniak lagi! O-orang ini benar-benar berbahaya!' Pikir Naruto jijik dalam hati, merinding mengingat ia adalah orang yang diincar oleh aktor terkenal yang baru-baru ini sudah ketahuan busuknya. 'Tak heran aku sudah membencinya sejak melihat bedebah ini tampil di televisi!'
"Tidak perlu memasang wajah seperti itu Dobe. Aku tidak akan mengigitmu~" canda Sasuke, tergoda melihat wajah ketakutan Naruto. "Jadi, siapa namamu, hmm? Tentu bukan benar-benar Akashi bukan?"
Naruto diam, wajahnya merengut dengan gesture waspada, ia membuang mukanya. Berpikir, jika semisalnya ia memberitahukan namanya, ini akan membuat identitasnya semakin diketahui oleh Sasuke dan membuatnya semakin susah untuk kabur. Tapi—sekarang Sasuke sudah melihat wajah aslinya, dan itu artinya persentase kemungkinannya untuk kabur juga sudah sangat kecil. Naruto masih tak berani membuka mulutnya.
"Tenang saja—" Naruto menoleh ke arah Sasuke, menunggu apa yang akan dikatakan selanjutnya, dan ia melihat Sasuke tersenyum lembut ke arahnya. Yah, memang tidak lembut-lembut amat seperti senyum malaikat jatuh dari khayangan. Tapi, karena Naruto sudah terbiasa dengan seringaian ala Uchiha yang selalu dikeluarkannya, maka...senyum ini memang terasa jauh lebih lembut. "Aku tidak akan menuntutmu, melaporkanmmu ke pihak berwajib, atau menekanmu. Aku hanya ingin mengetahui namamu yang sesungguhnya..."
Mungkin, sesungguhnya. Sejak awal Naruto memang tidak punya kesempatan sama sekali untuk kabur.
.
.
"Namikaze!" ucap Naruto dengan muka cemberut yang menghadap ke pasir yang ia pijak, "dan aku tidak akan memberitahukan nama kecilku."
Sasuke menatap Naruto intens, lalu terkekeh "Baiklah, aku akan memanggilmu Namikaze-san jika kita hanya berdua? Atau kau ingin tetap kupanggil Dobe? Bukankah nama itu cocok untukmu? Hmm?"
"Diam kau brengsek! Dan jangan pernah memanggilku Dobe." bentak Naruto, ia mengacak-acak rambut kekuningannya dengan ganas. Kesal. "Aishh! Setelah aku bisa kembali bersenang-senang karena bisa kembali memotret dengan kamera kesayanganku. Aku malah bertemu dengan kau di sini! Sebenarnya kau sedang apa sih!?"
"Berlatih."
Narut menautkan alisnya, "Hah? Berlatih apa kau malam-malam seperti ini dengan boneka sex doll?!"
Sasuke menatap langit malam dengan wajah berpikir, "Hmmm..."
.
.
.
Beberapa jam sebelum itu
"Apa!? Kau menolak naskah pada adegan 457!" Pein menatap sangar ke arah Sasuke. Mata merah meradang akibat iritasi karena terlalu lama menatap komputer miliknya menatap Sasuke seolah-olah ingin melemparnya ke neraka lapis tujuh.
Sasuke dengan santai dan tanpa rasa takut membalas tatapan Pein dengan mata tajamnya yang berkilat-kilat, "Aku tidak setuju dengan adanya adegan ranjang!"
Pein menggeleng, ia meletakan naskah yang dikembalikan oleh Sasuke kepadanya dengan kasar, mencoba menghirup udara sebentar dan memulai pembicaraan dengan lebih lembut, "Dengar Sasuke. Aku bukanlah sutradara film porno, tentu saja tidak akan ada adegan ranjang antara kau dan Sakura." Pein tersenyum, "Aku hanya meminta kalian berdua berakting saling bercumbu hingga pada ke atas ranjang, setelah itu scene akan berhenti di situ. Itu saja. " jelas Pein. "Ini adalah permintaan terbanyak dari penonton."
"Aku tetap tidak setuju!" tegas Sasuke. "Aku tidak akan melakukannya." Sungguh! Sasuke rasanya benar-benar ingin menarik tindik pada pria di depannya ini satu persatu karena saking kesalnya.
Pein merengutkan mukanya marah melihat Sasuke yang masih berkeras hati. "Bersikaplah professional!"
"Aku sudah bersikap professional!" suara Sasuke meninggi, "aku memikirkan anak-anak remaja yang masih di bawah umur yang menonton dramamu ini! Apa yang kau maksud dengan permintaan terbanyak dari penonton!? Kau hanya membaca permintaan dari penonton dewasa, dan tidak memperhitungkan seberapa banyaknya penonton yang masih remaja!"
Pein terdiam. Harga dirinya memang terinjak-injak karena dibentak oleh aktor yang ia bayar dan seharusnya ia atur. Namun, dalam hati Pein yang lebih dalam, ia membenarkan juga apa yang Sasuke katakan. Pein menghela napasnya, "Baiklah." ucap Pein mengalah, "Aku akan mengubah scene ini."
Sasuke menyeringai melihat reaksi Pein. Ia menang. "Hn."
"Tetapi aku akan mengubah scene berdasarkan kritikan dan protesan terbanyak dari penonton."
"Hn?(hah?)"
Pein mengambil buku catatan kecil di dekatnya, ia membuka-buka buku catatan itu dan menemukan halaman dengan cepat, dan memperlihatkan pada Sasuke, "Banyak dari penonton berpendapat bahwa beberapa scene ciumanmu dengan Sakura hambar dan tak memiliki sensasi."
"Lalu?" tanya Sasuke cepat, ia ingin segera pergi dari situ sekarang juga.
"Karakter dari Kaito yang kau perankan adalah seorang lelaki bad boy, bukankah aneh kalau ciuman kalian datar-datar saja tanpa sensasi sama sekali!?" Kali ini suara Pein yang meninggi. "Aku sudah mengatakan padamu jika pada scene ciuman cobalah gerakan pipimu agar setidaknya kalian terlihat bergerak, tapi selama ini selalu Sakura yang menuruti kata-kataku! Kau pencium terburuk yang pernah kukenal!" tegas Pein.
Sasuke hanya menghela napas pendek sambil memutar kedua bola matanya, "Ya, lalu? Teruskan."
Pein menautkan alisnya, "Aku sudah selesai! Intinya kali ini scene ciumanmu dengan Sakura harus sehidup mungkin! Jangan datar seperti biasanya! Aku tidak bisa terus mengandalkan Sakura untuk menghidupkan ciuman kalian!"
"Hn(terserah). Aku boleh keluar?"
"Silahkan!"
.
.
.
.
"HHUUAAAHAHAHAHAHAHA! HUAHAHHAA!" Naruto tertawa terpikal-pikal sambil memegangi perutnya, "Hahahaha!" Naruto masih mencoba menghentikan tawanya, bahkan ia sampai terjongkok sambil memegangi perutnya karena tak dapat menahan tawanya, ia melepas kameranya dan menaruhnya di pasir karena saat ia berjongkok, kamera itu menekan perutnya. Sementara itu, Sasuke menatap tajam ke arah Naruto dengan tatapan marah. "Ha—hahahaha! Ka-kau payah dalam berciuman?! Huahahahahha!" Naruto memukul-mukul pasir. Ia benar-benar merasa bahwa yang diceritakan Sasuke barusan itu sangat lucu.
"Dobe, berhenti tertawa!" ucap Sasuke dengan wajah datar namun kesal. Padahal ia berharap Naruto akan menghiburnya sambil mengatakan "Biar aku membantumu berlatih."
BRASHHH!
"..." Naruto berhenti tertawa seketika ketika melihat apa yang sudah dilakukan oleh Sasuke. Ya, mungkin karena begitu kesal ditertawakan oleh Naruto, Sasuke menendang air laut yang kebetulan tengah mengalir naik ke arah kamera Naruto.
"TEMEEE! DASAR BEDEBAH! UCHIHA BRENGSEK!" Pekik Naruto histeris sambil segera mengambil kameranya dan memeluknya. Dengan panik, Naruto langsung mengelap kameranya itu dengan bajunya, berusaha menghilang jejak air yang tertinggal! "Jika ini rusak aku akan membunuhmu!" bentak Naruto marah.
Dengan segera, Naruto melepas bagian-bagian kameranya yang dapat ia lepas, dari memori, film, bahkan lensanya. "Aishh! Lensanya dan bagian dalam kameranya basah! TEMEEE! Brengsek kau!" umpat Naruto, mata birunya berkilat-kilat marah ke arah Sasuke. Sedangkan Sasuke, dengan santai berdiri di depannya dengan senyum paling licik yang pernah ada.
"Kau tahu Dobe, aku lebih suka melihatmu marah daripada tertawa mengejek seperti itu! Dan ini balasanku karena kau sudah menertawaiku." Entah kenapa, Setelah itu Sasuke tiba-tiba langsung merebut lensa kamera yang berada di tangan Naruto dan sedang Naruto coba keringkan dengan cara mengelapnya di baju.
"Ini balasan karena kau sudah menendang kemaluanku~" (Scene tendang kemaluan = chapter 2)
"Brengsek! Kembalikan!" geram Naruto marah sambil mencoba merebut lensa itu dari tangan Sasuke. Naruto bahkan mencoba memukul Sasuke namun malah tangannya sendiri yang terasa sakit.
Sasuke tertawa dalam hati, "kalau kau ingin mengambilnya—" Sasuke mengerakan tangannya dengan gersture melempar ke arah laut. Ya, Sasuke melempar lensa tersebut ke dalam air laut. "—Ambilah!"
Naruto terdiam, menatap penuh kaget dengan tingkah Sasuke yang membuang lensanya ke tengah laut. Kata-kata umpatannya bahkan tidak keluar karena ia begitu kaget! Naruto berpaling, tatapannya setajam belati yang penuh kemarahan ia hunuskan pada Sasuke. "K-kau—" pemuda pirang itu mengeram.
BUAKKKK! Dengan marah, Naruto melayangkan satu tinjuannya yang ditujukan pada wajah Sasuke, namun Sasuke berhasil mengelak dan membuat tinjuan Naruto hanya mengenai pundaknya. Dengan sigap, Sasuke segera mengambil kesempatan dengan menahan tangan Naruto. "Jangan bersantai-santai Dobe. Kau tidak mau lensamu itu hilang terbawa arus kan? Bukankah itu lensa mahal? kemarin aku mencoba mengeceknya dan aku mengetahui bahwa ternyata harga lensa itu sekitar 500.000 Yen."
Naruto berdecih, langsung menepis tangan dan pergi ke arah laut, ia berjalan, berjalan, lalu berhenti ketika air laut sudah mencapai lututnya. Ia berbalik dan berteriak. "Terserah! Tapi kalau aku mati! Aku akan menghantuimu Brengsek!". Setelah itu, Ia berjongkok dan mulai mencari, Membuat seluruh tubuhnya terendam air dan hanya menyisakan kepalanya yang berada di atas air.
"Kau tidak akan mati kalau kau bisa berenang!" Ujar Sasuke, ia berjalan mendekati Naruto yang masih berendam di air sambil meraba-raba permukaaan pantai.
Naruto berdiri, wajahnya berlipat-lipat karena kesal, sepertinya ia masih belum menemukan lensa kameranya, "Aku tidak bisa berenang!" jawabnya ketus dan pergi ke arah lain untuk kembali mencari.
"Oh. Begitu? Kalau begitu, kau mau aku bantu?" tanya Sasuke tiba-tiba menawarkan diri, ia terkekeh melihat wajah Naruto yang tampak putus asa dengan lensa kameranya yang tak juga ia temukan.
Naruto kembali berdiri, bajunya benar-benar basah kuyub. DAMN! Seharusnya ia melepaskan seluruh pakaiannya sebelum masuk ke air tadi. Tapi pertanyaannya, bagaimana ia melakukan itu sedangkan Naruto tahu bahwa ia bersama seorang gay? "Memang itu yang seharusnya kau lakukan Brengsek! Kau yang melempar lensaku! Kalau kau hanya ingin membuatku bertambah marah, lebih baik kau pergi dan— ja-jauhkan wajahmu itu bedebah!" Naruto tergagap ketika Sasuke menahan tangannya sekali lagi dan mendekatkan wajahnya ke Naruto. "Lepaskan aku!"
"Aku akan membantumu." ucap Sasuke santai sambil menyeringai. "Tapi jika aku yang menemukannya lensa itu pertama kali, kau harus mau kucium!"
Wajah Naruto memerah. Rasa kagetnya tak bisa ia sembunyikan. "A-apa!?"
"Ups~" dengan seringaian licik Uchiha, Sasuke mengeluarkan sebuah benda bersinar yang terbuat dari kaca dari dalam kantongnya, "Aku sudah menemukannya. Ternyata aku tidak melemparnya tadi. " Sasuke menyeringai mendekatkan wajahnya dengan pelan, menikmati kembali wajah pemuda di depannya. Oh~ betapa warna biru yang alami terlihat lebih indah daripada warna merah yang terbuat dari plastik. "Aku menang. Dobe."
"H-Hmmmpphhh!" Kedua mata Naruto membulat sempurna ketika kedua tangan Sasuke melingkar pada tubuhnya, dan kedua belah bibir mereka yang telah menyatu. Dengan Sekuat tenaga, Naruto menjambak dan memukul Sasuke agar melepaskan ciumannya. Namun, Sasuke tak bergeming, Sasuke terus melumat bibirnya sambil terus mencoba menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Naruto. Dan itu Sasuke lakukan dengan berbagai cara, dengan cara menghisap, mengigit bibir bawahnya, saling mengadu bibir mereka, bahkan mencoba mengelitiki tubuh Naruto dengan tangannya.
"Ukkkhhh! Errggghhhh!" Naruto menggeram! Tubuhnya terasa sangat panas, mungkin karena ganasnya ciuman Sasuke yang dilancarkan kepadanya. Naruto dapat merasakan tubuhnya yang basah kuyub juga membuat pakaian Sasuke menjadi basah. Tapi ia tak peduli, Naruto hanya ingin lepas dari ciuman super memaksa yng dilakukan Uchiha bungsu itu.
"!" Rasa kaget tak dapat Naruto sembunyikan ketika merasakan keseimbangannya goyang karena Sasuke yang terus menerus mendorongnya dan menariknya. Ciumannya dengan Sasuke terlepas, dan Naruto langsung mengambil napasnya dengan cepat, namun kembali Naruto dapat merasakan ia mulai terjatuh ke dalam air, membuat dirinya tenggelam dan justru malah tak mampu bernapas. Naruto mengelepar-ngelepar di dalama air mencoba untuk menangkap Sasuke dan menarik dirinya ke atas permukaan.
Dan dengan cepat, Naruto merasakan tubuhnya kembali diangkat ke permukaan oleh sebuah lengan yang kuat, begitu kepalanya kembali ke permukaan, Naruto terbatuk, ia sempat meminum air laut dan ada yang masuk ke dalam saluran pernapasannya. "Uhuk! Uhukk! huughhh!"
Sasuke, orang yang menarik Naruto keluar dari air pun ikut basah karena ia juga ikut terjatuh. Namun, Sasuke beruntung karena kepalanya tidak tenggelam ke dalam air seperti Naruto. Aktor tampan itu kembali memeluk Naruto yang masih nampak terbatuk-batuk dengan rambut yang sudah layu karena basah. "Aku belum selesai Dobe!"
Dan Sasuke kembali menekan kepala Naruto dan menyatukan bibir mereka. Naruto kembali melawan, dada Naruto benar-benar terasa sesak karena hidungnya kemasukan air dan ia baru saja meminum air laut. Dan sekarang, Sasuke sudah menambah masalah dengan kembali menciumnya. Kali ini, lidah Sasuke berhasil masuk ke dalam mulut Naruto dan berhasil menjelajah mulut Naruto yang terasa asin akibat air laut. "Ukkhhh! uhukkk! uhuk!" Naruto bahkan terbatuk sehingga membuat sensasi lompatan udara di antara bibir kedua pemuda itu.
Naruto benar-benar kalah. Tubuhnya melemas, sedangkan Sasuke semakin gencar menciumnya, rasa lelah dan sesak yang ia rasakan membuat pemuda pirang itu sudah tak dapat berkutik. Ia sudah menjadi mangsa dari predator ganas yang mematikan. Dan mungkin—ia memang sudah kalah dari awal cerita.
DAMN! Hanya satu yang dapat Naruto pastikan sekarang. Ciuman ini— adalah ciuman ter'basah' dalam hidupnya.
"CUT!" Pein mengangkat tangannya untuk memerintah kameramen agar berhenti mengambil gambar. Lighting dimatikan, dan Sasuke melepas Sakura yang ada di pelukannya. Beberapa saat lalu, mereka tengah beradegan scene di tengah-tengah pantai dengan setengah tubuh yang terendam lalu berciuman dengan mesra.
Sasuke keluar dari air, dan menerima handuk dari asisten-asisten yang mendatanginya. Sedangkan Sakura mengekor di belakangnya, memandang penuh merona dari balik punggung Sasuke. Kadang menyentuh bibirnya dengan lembut sambil berdesah malu.
Dengan celana yang masih basah kuyub, Sasuke mendatangi Pein yang sepertinya tengah memeriksa gambar, "Bagaimana?" tanya Sasuke.
Pein menoleh ke arah Sasuke, wajahnya datar dan ia sejak tadi bertopang dagu sambil menganguk-anguk. "Cukup bagus," komentarnya. "Kali ini kita bisa selesai dengan satu kali pengambilan gambar, dan cara menciummu bagus sekali. Aku merasa karakter bad boy yang kau perankan di sini mejadi lebih terlihat." Pein menepuk pundak Sasuke. "Good job."
Sasuke menganguk dengan wajah cool-nya, lalu segera pergi dengan dalih ingin mengganti celananya. Dalam perjalanannya ke van-nya, ia melihat Naruto sedang duduk di kursi tunggu sambil memencet-mencet kameranya, ia sudah berdandan seperti biasa dengan baju hitam-nya dan wig panjangnnya. Sasuke menyeringai, dan langsung mengubah arah tujuannya ke Naruto.
"Kau puas?" ujar Naruto ketus, wajahnya kusut dan mata ber-softlens-nya berkilat-kilat kesal menatap Sasuke. "Membuatku jadi kelinci percobaanmu!?" Ya. Naruto benar-benar marah sekarang. Menyadari dirimu dicium dengan begitu ganas oleh seorang lelaki sedangkan dirimu adalah lelaki juga bukanlah masalah yang akan mudah kau atasi. Ini lebih dari sekedar harga diri.
Sasuke terkekeh, "kau tahu, kau bukan kelinci percobaanku, Namikaze-san." ujar Sasuke dengan melucurkan tatapan menggodanya ke Naruto, "kau lebih seperti model fantasiku sekarang, saat aku berakting tadi, aku membayangkanmu."
Wajah Naruto sontak memerah, antara pencampuran rasa kesal dan malu. "Cih! Kau bedebah mengerikan!" Naruto berdiri dengan cepat. Ingin segera pergi dari depan Sasuke sekarang.
Sasuke tertawa dalam hati, "Dobe!" Sasuke memanggil Naruto saat Naruto sudah beberapa langkah darinya, dan dengan ala drama Naruto menoleh dan berhenti, wig-nya tertiup angin dengan tiba-tiba. Sasuke menatap Naruto intens, "Kau— masih mengidolakan Sakura?" tanyanya dengan cool.
Responan Naruto begitu simpel, ia berdecih dan kembali berbalik. Kembali berjalan meninggalkan Sasuke. "Tentu saja Brengsek! Sakura itu artis idolaku sepanjang masa!"
Dan Sasuke hanya memasang kembali topeng coolnya ketika Naruto sudah menghilang dari balik tenda-tenda penyimpanan barang lainnya.
Well, sepertinya ia masih harus berusaha banyak untuk memenangkan hati Dobe di depannya. Sasuke menghela napas sambil tersenyum, "Setidaknya— bibirnya adalah bibir terenak yang pernah kucium~" gumam Sasuke pada dirinya sendiri.
.
.
.
"Bibir siapa?!"
Sasuke membulatkan matanya dan tersentak kaget ketika sebuah suara berkumandang begitu dekat dengan telinganya. Ia langsung berjengit dan menjauh. Dengan wajah yang masih penuh kekagetan, Sasuke berdecak kesal pada orang yang ada di depannya.
"Chk! Aniki?" Sasuke menautkan kedua alisnya, "sedang apa kau di sini?" ujar Sasuke dengan nada suara yang terlihat sangat tak senang.
Itachi, si Uchiha Sulung hanya tersenyum penuh teka-teki. "Tidak apa-apa," ujarnya, lalu kembali menatap intens ke arah adiknya yang masih menatapnya bingung "Hanya memastikan bahwa kau baik-baik saja~"
Sasuke menatap Itachi datar, "aku selalu baik-baik saja, Aniki."
Itachi tertawa, dan senyum misteriusnya membuat wajah pemuda berwajah sebelas- dua belas dengan Sasuke ini agak seperti maniak. "Kalau 'dia' datang, kau tidak akan baik-baik saja." balas Itachi memperingatkan.
.
.
.
To Be Continued...
Author's Note: Akhirnya selesai juga /palm face/. Tahukah kalian? Menyelesaikan chapter ini sangat butuh perjuangan untukku. Kenapa? Karena saya mencoba kembali mengetik setelah sekitar 1 bulan lebih tidak membuka lagi aplikasi word. Dan lagi, setelah seharusnya bulan Mei kemarin saya mempunyai banyak waktu untuk mengetik, saya malah terkena WB dan kehilangan ide sehingga chapter ini semakin ngaret saja updatenya. Sudah berapa bulan saya tak update? Mungkin hampir 3 bulan~ orz, saya harap, kualitas tulisan saya tidak semakin memburuk. Maafkan saya yah reader sekalian~ Ah~ dan semoga chapter 11 bisa diupdate dengan cepat juga. /bungkuk/ Saran dan kritik amat ditunggu~
Ps: Maaf, saya tidak membalas review kali ini karena review di chapter kemarin pasti sudah terlalu lama untuk dibalas. Bahkan mungkin yang mengirim reviewnya saja sudah lupa~Haahaha... Semoga saya bisa membalas review kalian semua di chapter 11 nanti~
Iria-san.
