Disclaimer : Naruto masih punya om Masashi Kishimoto kok, tapi kalo om Kishimoto mau kasih Naruto ke saya akan saya terima dengan senang hati (ngarep -,-)

Warning : Typo ada di mana-mana, gaje, abal, dll

Aloha readers-san ini dia chapter 3 sudah terbit .. yee (emang ada yang nungguin?) hah sudahlah, saya bingung mau ngomong apa. Tapi yang jelas pertama-tama saya ingin mengucapkan rasa terimakasih saya pada mama saya yang sangat baik hati mengoreksi cerita saya ini di saat ke sibukannya sebagai ibu rumah tangga, kalau boleh jujur sebenarnya tadi saya sudah mem-publish chapter ke-3 tapi saya hapus karena ada seorang author berbaik hati bernama lightning-san memberikan saya sebuah kritikan yang sangat membangun, semoga chapter 3 yang sudah di koreksi ini tidak membuat para pembaca sekalian kecewa ya :(

Ah! satu lagi, saya juga mau berterimakasih sama para readers yang mau membaca apalagi berbaik hati mereview cerita saya ini.

kalo gitu sekian cuap-cuap dari saya ini, silahkan membaca dan semoga suka .. ;)

.

Previous chapter

"Tidak, dia memang putra paman. Dan karena hal itulah paman memanggilmu kesini, paman ingin kau menjadi sekertaris direktur disini— alias sekertarisnya Sasuke, putra paman."

"APA?!" ujarku dan Sasuke bersamaan, kami begitu kaget mendengar perkataan paman Fugaku barusan.

.

.

.

"Ayah serius?" tanya Sasuke tak percaya, paman Fugaku mengangguk yakin. Dan anggukan paman Fugaku membuat mulutku menganga lebar.

"Tentu saja ayah serius, kau mau kan Hinata?" tanya paman Fugaku .

"TIDAK!" ujar kami lagi-lagi bersamaan, dan hal itu membuat kami sama-sama menoleh dan saling menatap sinis lalu memalingkan muka.

"Oh hey hey, kau kan hanya menjadi sekertarisnya Sasuke. Bukan pekerjaan berat kan?"

"Aku mengerti paman, tapi maaf aku juga punya sebuah perusahaan yang harus ku urus. Aku tak mungkin meninggalkan perusahaan itu, sekali lagi maaf paman. Permisi," ucapku sambil membungkuk lalu berlalu keluar. Kalau boleh jujur sebenarnya aku hanya berdusta pada paman, karena perusahaan ayahku telah di urus oleh kakakku.

Normal POV

Setelah kepergian Hinata, kedua laki-laki itu hanya terdiam. Sampai akhirnya ada salah satu diantara mereka memulai pembicaraan..

"Well, yah bagaimana? Sekertaris pilihan ayah pun tidak mau bekerja di sini," itu Sasuke, nadanya terdengar seperti mengejek.

"Ayah tahu, tapi jangan pernah berfikir Karin dapat menjadi sekertarismu lagi! Karena bila ayah tahu hal itu tidak hanya Karin saja tetapi kau juga akan ayah pecat sebagai anak ayah sekaligus sebagai direktur perusahaan ini!" ancamnya, setelah itu Fugaku berlalu keluar. Sementara Sasuke saat ini tengah mengepalkan tangannya dengan geram, ia kesal arena ayahnya selalu mengganggu kesenangannya.

.

Di dalam mobil, Fugaku tengah memandang pemandangan luar dengan tatapan penuh kekecewaan. Kakashi yang tengah menyetir menyadari hal itu, ia sedikit bingung melihat wajah tuannya yang biasanya diam dan tenang berubah menjadi seolah-olah seperti anak muda yang sedang jatuh cinta.

"Apa Fugaku-sama baik-baik saja?" tanya Kakashi.

"Tidak, kau tahu Kakashi sejujurnya aku sedikit kecewa dengan jawaban Hinata kalau dia menolak tawaranku sebagai sekertaris Sasuke,"

"Maaf kalau saya lancang, tapi kenapa anda sepertinya ingin sekali menjadikan Hinata-san sebagai sekertaris Sasuke?"

"Sudah ku bilang kan, Hinata itu gadis yang tangguh Kakashi. Hanya orang seperti dialah yang dapat mengendalikan sifat liar Sasuke, dan ku rasa dia adalah calon menantu yang baik," jawab Fugaku sambil tersenyum penuh arti.

"Maksud Fugaku-sama, Fugaku-sama ingin menjadikan Hinata-san sebagai menantu anda?" tanya Kakashi tak percaya.

Fugaku mengangguk lalu tersenyum simpul, "Kau cepat tanggap ya Kakashi-san, aku kagum," pujinya.

"Tapi yang masih saya bingung, calon istri untuk si—"

"Ah Kakashi tolong berhenti di sini!" potongnya,

"Apa?"

"Ku bilang tolong berhenti di sini!" perintahnya dan membuat mobil milik Fugaku berhenti.

Fugaku segera keluar dari mobil, lalu berlari menghampiri seorang gadis yang terbaring lemah di bawah pohon di temani seorang anak kecil yang menangis di sampingnya. Gadis itu bernama Hyuuga Hinata, ya Hinata lah yang terbaring lemah di bawah pohon itu.

"Hinata," panggil Fugaku panik sambil menggoyangkan bahunya, tapi tak ada respon dari Hinata.

"Ano.. paman, maafkan Rei ya. Gara-gara tolongin Rei ambil layangan di atas pohon kakak ini jadi jatuh," ujar anak kecil itu sambil menahan tangis.

Fugaku hanya tersenyum lembut lalu mengelus pucuk kepala anak itu, "Tidak apa-apa, sebaiknya kau pulanglah ibumu pasti pasti sangat mengkhawatirkanmu. Kakak ini biar paman yang urus," ucap Fugaku, anak itu mengangguk lalu berlalu.

"Kakashi-san," panggil Fugaku, Sementara Kakashi yang berada di sampingnya menoleh kearah Fugaku yang tengah jongkok.

"Ada apa Fugaku-sama?"

"Tolong bantu aku bawa gadis ini ke rumah sakit," perintahnya, Kakashi hanya mengangguk lalu membantu Fugaku membawa Hinata.

.

Hinata POV

Aku membuka mataku, dan hal pertama yang ku lihat adalah wajah paman yang menatapku dengan wajah khawatir.

"Aku di mana?" tanyaku, aku sungguh bingung dengan keadaanku saat ini.

"Kau sudah sadar Hinata?" tanya paman Fugaku, aku dapat melihat ia terlihat lega melihatku sadar.

"Ng? Paman? Kenapa aku ada di sini?" tanyaku masih bingung.

"Kau tadi pingsan di bawah pohon," tukas paman Fugaku.

Aku mencoba mengingat-ingat kejadian yang paman Fugaku bilang itu.

Seingatku setelah aku keluar dari perusahaan si bokong ayam aku berjalan melewati taman, dan ketika itu aku melihat seorang anak kecil sedang loncat-loncat untuk mengambil layangan miliknya yang tersangkut di pohon. Lalu aku menolong anak kecil itu, tapi akhirnya aku terjatuh. Tapi setelah itu.. setelah itu.. Aku coba mengingat-mengingat apa yang terjadi setelah itu, tapi hasilnya nihil— aku tak bisa mengingat apapun.

"Wah wah kok jagoan bisa jatuh?" ledek paman Fugaku kepadaku. aku hanya dapat tersenyum lebar.

"Iya tadi batang pohonnya licin paman, tapi terimakasih ya paman karena paman sudah mau repot-repot membawaku ke rumah sakit," ujarku sambil tersenyum manis.

Paman Fugaku balas tersenyum manis,"Anggap saja ini balasanku karena kau sudah menolongku waktu itu," ucapnya. ia melirik jam arlojinya sebentar.

"Ah! Kurasa ini sudah waktunya rapat, kalau begitu selamat tinggal Hinata-san. Dan kau tak perlu mengurus biaya rumah sakitmu, karena semuanya sudah paman urus," ucapnya lagi sambil tersenyum simpul. Dan ucapan paman Fugaku membuatku sedikit terkejut sekaligus tak enak hati.

"Paman, apakah tawaran paman kepadaku masih berlaku?" tanyaku, Paman Fugaku menoleh kepadaku lalu mengangguk seraya tersenyum senang.

"Tentu saja masih berlaku," jawabnya.

"Kalau begitu bolehkah aku bekerja di perusahaan paman supaya aku dapat menggantikan uang paman yang di pakai untuk membayar biaya rumah sakitku? Karena sejujurnya aku belum punya uang paman," ujarku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Paman Fugaku tersenyum lalu mengangguk, "Boleh, tentu saja boleh. Kalau begitu besok kau datang ke kantor Uchiha Corp jam delapan ya, sebisa mungkin jangat telat karna Sasuke tak suka ada anak buahnya yang telat," ucap paman Fugaku lalu berlalu.

Aku mengangguk lalu tersenyum, "Terimakasih paman,"

—My Bad Boss—

Tap-tap langkah kaki yang semakin cepat menggema di lorong perkantoran Uchiha Corp, sebenarnya itu adalah langkah kaki ku. Kini aku tengah sedikit berlari menuju ruang bosku— si bokong ayam karena aku sudah terlambat sepuluh menit.

Sesekali aku hampir tersandung karena aku tak biasa memakai sepatu peptoe yang kupinjam dari ibuku. Kalau saja itu bukan peraturan dari si bokong ayam itu mungkin aku takkan pernah memakai sepatu menyebalkan ini.

Setelah sampai di depan pintu, aku memejamkan mataku dan menggigit ujung bibirku karena rasa takut di marahi si bos bokong ayam itu.

Kalau yang di katakan paman Fugaku tentang si bokong ayam itu benar, habislah riwayatku. Fikirku dalam hati.

Pintu kubuka pelan, "Permisi Sasuke-sama, maaf saya—" kata-kataku terhenti ketika melihat wajah si bokong ayam.

Glek! Aku menelan saliva yang tercekat di tenggorokanku. Aku menatap wajah si bokong ayam yang terlihat sangat menyeramkan dibandingkan pembunuh-pembunuh psyco di film.

—TBC—

Chapter 3 sudah selesai, bagaimana? masih kurang gereget kah? kurang seru? gomen ne kalau begitu :( hem saya mau sedikit curcol, ketika saya memperbaikki cerita ini saya terus-terusan berdoa dalam hati semoga cerita yang ini masih di minati para readers sekalian. Tapi saya berharap semoga cerita ini tidak mengecewakan seperti chapter 3 yang udah saya apus. yak cukup sekian

dan RnR please ya readers.. :) sampai jumpa di chapter selanjutnya.. ;)