Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : OOC, gaje, abal, typo bertebaran, dll

Hoy hoy readers, chapter 4 sudah terbit mwehehe#plakk, oke pertama-tama saya mau berterimakasih kepada mama dan sahabat saya emiria tsubaki-chan yang mau membantu mengkoreksi cerita ini sekaligus memberi ide. Dan saya juga mau berterimakasih sama para readers yang mau membaca apalagi mereview cerita ini.

Oke deh awal kata, selamat membaca ;)

Previous

Pintu kubuka pelan, "Permisi Sasuke-sama, maaf saya—" kata-kataku terhenti ketika melihat wajah si bokong ayam.

Glek! Aku menelan saliva yang tercekat di tenggorokanku. Aku menatap wajah si bokong ayam yang terlihat sangat menyeramkan dibandingkan pembunuh-pembunuh psyco di film.

.

Ku beranikan diri untuk menutup pintu, lalu berdiri sambil menyender di pintu.

Kini aku sedang membungkuk, "maafkan aku Sasuke-sama karena sudah terlambat," ujarku. Tap-tap-tap aku mendengar langkah kaki Sasuke berjalan mendekatiku.

"Well, ternyata sekertaris pilihan ayah datang terlambat ya?" ucapnya sambil terus berjalan mendekatiku, sampai akhirnya langkah kakinya tak terdengar lagi.

Aku terus memejamkan mataku, seolah tak ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kau ingin hukuman apa nona pemalas?" tanyanya. Ku beranikan diri untuk membuka mataku lalu sedikit mendongak. Dan..

Mataku membulat seketika melihat wajahku hanya berjarak sejengkal dengan wajahnya..

"Hyaaaaa kau mau apa?!" tanyaku ketakutan.

Ia menaikkan sebelah alisnya, "mau apa? Tidak ada," jawabnya lalu kembali berdiri, berbalik lalu berjalan menuju meja kerjanya.

"Duduklah!" perintahnya sambil mengambil sesuatu di lacinya.

Aku menuruti perintahnya, dan duduk di balik meja kerja yang sudah di siapkan untukku.

Dan baru saja aku duduk tiba-tiba brukk! aku melihat tiga tumpuk map tertumpuk manis di meja kerjaku. Aku hanya menatap map itu dengan tatapan kaget sekaligus bingung.

"Apa ini?" tanyaku sambil memiringkan kepalaku— bingung.

"Rapotmu. Tentu saja ini kerjaan untukmu, bodoh sekali sih!" ucapnya.

Aku hanya mendelik kesal lalu menghela nafas berat, 'sabar Hinata, kau harus sabar. Ingat, kau kerja di sini karena ingin membayar semua biaya rumah sakit yang di tanggung paman,' ujarku dalam hati. Aku hanya dapat mengelus dada mendengar ocehannya yang sebenarnya membuatku emosi.

"Jangan diam saja, cepat kau kerjakan semua ini. Sebenarnya pekerjaanmu hanya satu tumpuk saja, namun karna kau telat sepuluh menit jadi aku tambahkan menjadi tiga tumpuk,"

"He?! Mana bisa begitu?!" tanyaku, emosiku mulai naik.

"Tentu saja bisa, karna akulah bosnya," ucapnya sambil tersenyum — ah maksudku menyeringai.

Aku kembali mendelik kesal kepadanya.

—My Bad Boss—

Tuk-tuk aku mengetuk-ngetuk meja kerjaku pelan, badanku terasa pegal, dan kakiku serasa mau copot sekarang. Bagaimana tidak? Mengingat apa yang sudah si bokong ayam itu lakukan padaku. Coba saja di fikir baik-baik. Ketika aku sedang sibuk bekerja, ia menyuruhku membuat berbagai macam minuman. Mulai dari jus, kopi, susu, air putih, dan masih banyak lagi. Tapi hasilnya? Minuman itu hanya tergeletak manis di meja samping meja kerjanya dan ujung-ujungnya juga di buang.

Belum lagi ia menyuruhku membeliku macam-macam makanan yang aneh entah itu kimchi, pasta yang gak berminyak dan makanan-makanan yang lain yang jelas-jelas ia tahu keberadaannya sangat langka. Tapi kalau udah di beli juga nasibnya sama seperti minuman-minuman malang itu— alias di buang.

'Hah~ sia-sia aku membelikan semua itu.' Itulah yang ada di pikiranku melihat nasib malang makanan dan minuman itu.

Dan setelah aku selesai mengerjakan semua pekerjaanku dia malah menahanku untuk tidak pulang, katanya aku suruh menunggunya selesai bekerja. Tapi yang benar saja ini sudah jam sembilan malam, masa ia tega membiarkan perempuan pulang malam-malam?

Kesal. Itulah yang ku rasakan kepada si bokong ayam. Kalau saja aku tidak lupa kalau diriku ini manusia dan bukan zombie mungkin aku sudah memakannya dari tadi.

Aku menghela nafas berat, lalu menopang daguku dengan tangan kananku. Aku memandangnya dengan tatapan sinis.

Sepertinya ia sadar kalau aku menatapnya, karena ketika aku menatapnya dia langsung balas menatapku dengan wajah bingung.

"Ngapain ngeliatin terus? Naksir ya?" tanyanya. Sungguh pertanyaannya terdengar konyol di telingaku.

Aku memicingkan mataku ke arahnya lalu mendengus kesal.

"Apa?! Naksir? Jangan harap!" tukasku emosi, aku melemparkan pandanganku ke pemandangan di luar jendela yang sudah gelap.

Aku melirik jam arlojiku. Ah! Aku baru sadar kalau sekarang sudah jam sembilan. Ujarku dalam hati.

"Sasuke-sama," panggilku dan berhasil membuatnya menoleh kearahku. "Hn." Itulah jawabannya.

"Apa aku belum boleh pulang?" tanyaku lemas, dia menggeleng cepat.

"Tidak, sudah ku bilang kau boleh pulang setelah pekerjaanku selesai kan?"

"Dasar bokong ayam menyebalkan!" umpatku. "Seharusnya kau tahu, aku ini seorang wanita. Masa seorang wanita suruh pulang larut malam, dasar cowok gak peka!" omelku, namun kali ini aku lebih memelankan suaraku.

"He? Apa kau bilang? Bokong ayam? Cowok gak peka? Tapi tunggu dulu memangnya kau perempuan?" Tanyanya dan sukses membuatku naik darah.

Brakk! Aku membanting meja kerjaku lalu menatapnya sinis, "dengar ya bos bokong ayam, aku ini perempuan. Lihat nih, rambutku panjang, aku pakai rok dan pakai sepatu menyebalkan ini. memangnya dari sudut mana yang tidak terlihat seperti perempuan ha?!" tanyaku dengan nada tinggi.

"Tingkahmu, tapi menurutku mungkin saja kau berpura-pura menjadi perempuan agar kau bisa bekerja di sini," jawabnya santai sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.

"Pura-pura menjadi perempuan? Demi bekerja di sini? Haha! imajinasimu terlalu tinggi tuan bokong ayam!" tukasku masih emosi.

"Ah sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Lebih baik kau ambilkan aku minum, berdebat denganmu membuatku haus,"

Aku hanya dapat mendecih kesal lalu berlalu menuju dapur kantor.

Setelah aku keluar, sayup-sayup aku mendengar sepertinya si bokong ayam sedang menelpon seseorang, tapi entahlah siapa yang sedang ia telpon.

.

Setelah lima belas menit berlalu kini aku telah membawa segelas air putih keruangan si bokong ayam itu, sebenarnya air putihnya itu ku berikan garam yang sangat banyak, hitung-hitung ini adalah pembalasan ku atas semua yang ia lakukan padaku.

Cklek aku membuka pintu pelan, "Sasuke-sama ini air—

"Ah Sasuke-kun kau nakal!"

Kalimatku terpotong begitu melihat pemandangan di depanku. Tampak seorang wanita yang tidak pernah kukenal sedang berada di pangkuan si bokong ayam. Mulutku menganga, aku menatap pemandangan itu dengan pandangan tak percaya. Lalu aku berbalik memunggungi mereka dan..

"BOKONG AYAM! KENAPA KAU MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU DI TEMPAT KERJA!" teriakku kencang dan sukses membuat beberapa pekerja yang lembur menoleh kearahku dan menatapku dengan ekspresi bingung.

Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang berhasil membekap mulutku dan menarikku masuk ke dalam ruangan si bokong ayam.

"Hey bodoh! Kau ingin mati ya?!" ucapnya geram.

Aku tak menghiraukan ucapannya. Aku hanya berontak dalam bekapan itu, mencoba untuk di lepaskan. Aku menggigit tangan itu dan berhasil membuat si pemilik tangan mengaduh kesakitan, dan akhirnya tangan itu tidak membekapku lagi.

"Kau apa-apaan sih! Bagaimana kalau aku mati karna kehabisan udara ha?!" omelku kepada si pemilik tangan tadi yang ternyata adalah si bos bokong ayam.

"Lebih baik kau mati kehabisan udara, dibanding ayahku mati karena malu dengan perbuatanmu ini!" tukasnya.

"Enak saja menuduh itu perbuatanku, pelaku utamanya kan kau dan wanita merah ini. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya terjadi saja, lagipula salahmu sendiri melakukan 'hal tabu' seperti itu di kantor,"

"Hal tabu?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

Ku lihat ia menangkup mulutnya dengan tangannya, sepertinya ia sedang menahan tawa. Tapi apa yang lucu?

Ku lihat si bokong ayam menoleh kearah seorang wanita berambut merah itu, lalu.. "Karin, kau boleh keluar!" perintah si bokong ayam, wanita merah yang di panggil Karin hanya mengangguk. Ia sempat melirikku sinis, lalu berlalu keluar dari ruangan itu.

Setelah kepergian wanita itu, si bokong ayam mulai berjalan mendekatiku sehingga membuatku mundur beberapa langkah untuk menjauhinya.

"Hal tabu ya?" tanyanya lagi, ia berjalan semakin mendekatiku dan pergerakannya membuatku semakin mundur dan akhirnya 'Brukk!' langkahku terhenti karna menabrak dinding. kini aku tengah diapit olehnya. Rasanya sulit sekali untuk bergerak.

"K-kau m-mau ap-apa?" tanyaku, aku sangat ketakutan melihat tingkahnya yang sangat mencurigakan.

Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku sehingga hembusan hangat nafasnya terasa menggelitik telingaku.

'Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan sekarang pada bos kurang ajar ini?!'

—TBC—

Nah selesai sudah chapter 4, gimana? Abal dan gaje kah? Gomen gomen saya akan coba perbaikki di chapter selanjutnya.

Hem.. saya bingung mau ngomong apalagi, tapi yang jelas sampai ketemu di chapter selanjutnya dan RnR please #ngedip-ngedip ;)