Hola minna! Ini dia fanfic My Bad Boss yang sempat tertunda untuk sementara, gomen telat dari perjanjian awal. Semoga kali ini para readers semua suka dengan cerita saya.
So please enjoy the story minna-san! ^_
Disclaimer : Punya om gue, yaitu Masashi Kishimoto #ngarep
Warning : Typo disana-sini, gaje, abal, OOC, dll
Previous
"K-kau m-mau ap-apa?" tanyaku, aku sangat ketakutan melihat tingkahnya yang sangat mencurigakan.
Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku sehingga hembusan hangat nafasnya terasa menggelitik telingaku.
'Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan sekarang pada bos kurang ajar ini?!'
.
"Bo-bos, jangan macam-macam ya!" ancamku tak main-main. Seluruh tubuhku bergetar hebat kala merasakan tubuhnya semakin mendekatiku.
"Hinata," panggilnya pelan, suaranya yang terkesan serak dan semakin mencurigakan membuat tanganku yang sudah siap sedia menampar Sasuke bila ia berbuat lebih dari ini.
"Hinata," panggilnya lagi namun kali ini ia menempelkan dahinya ke dahiku, dan sukses membuat empat sudut siku-siku di pelipisku. Rasanya ingin sekali ku tutup wajahnya dan ku plester mulutnya agar ia tak memperhatikanku dan memanggilku dengan suara serak seperti kodok itu.
"Hinata, aku ingin—"Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, aku mendorongnya sekuat tenaga dan 'Plak! sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Sasuke. Kini ia sedang memegang pipinya dan kudengar ringisan pelan dari bibirnya.
"Apa-apaan kau hah?!" tanya Sasuke emosi.
"Kau yang apa-apaan, seenaknya bersikap kurang ajar padaku! Memang kau pikir aku ini wanita seperti apa?! Wanita murahan yang gampang kau sentuh begitu?! Dengar ya bos super duper menyebalkan di dunia! Kau mungkin bisa menyentuh wanita manapun di dunia ini, tapi tidak denganku! Jadi jangan berani macam-macam! Atau kau habis di tanganku!" omelku panjang lebar.
"Memangnya kau pikir aku takut dengan ancaman murahanmu itu ha?! Kalau kau melakukan hal itu, aku tak segan-segan memecatmu keluar! Mengerti?!"
"Aku tak perduli dengan ancamanmu itu. Kalau kau ingin aku keluar, silahkan saja. Aku menerima dengan senang hati atas keputusanmu itu." Jawabku sambil tersenyum sinis.
"Ho? Benarkah? Tapi sayangnya untuk saat ini aku tak ingin kalau kau keluar dari kantorku," ku lihat Sasuke berjalan dengan santainya kearahku dan membuatku ingin sekali mundur menjauh darinya, tapi sayangnya langkahku terhalangi oleh tembok putih ruangan itu.
"karna yang ku inginkan adalah—" ia kembali berkata-kata, namun kata-katanya terhenti karna tiba-tiba ia..
'Srett!' menarikku lebih dekat dengannya dan..
"Menghukumu dengan caraku sendiri," ia membisikkan kata-kata itu tepat di telingaku lalu secepat kilat ia menjauhkan dirinya dariku dan menatapku dengan tatapan yang tak bisa di artikan— dapat kulihat, seringai telah terukir manis di bibirnya.
Setelah berkata begitu ia berjalan menuju pintu, namun sebelum itu..
"Ah! Aku lupa bilang padamu. Tolong belikan aku sekotak sushi dan ocha dingin, dan taruh semua itu di mejaku. Mengerti?!" itulah perintahnya sebelum akhirnya ia benar-benar keluar dari ruangannya.
Sementara di sini, aku hanya terdiam sambil terus merutukki kesialanku bekerja dengan bos bokong ayam menyebalkan itu.
'Waaaaa! Kalau dia bukan bos di sini, pasti rambutnya sudah ku buat kemoceng!' omelku dalam hati.
—My Bad Boss—
"Bos! Tunggu sebentar!" teriak seseorang yang kini tengah berjuang keras membawa barang yang sangat banyak— sebenarnya 'orang' itu adalah aku. 'sragh-sragh' suara gesekkan antara plastik dan aspal semakin jelas terdengar.
"Hey Hinata berhenti menyeret plastik-plastik itu! Barang-barang di dalamnya bisa rusak kalau kau terus seperti itu!" hardik seseorang yang berada di depanku. Dia adalah bosku si bokong ayam alias Sasuke.
Sepertinya inilah yang di maksud 'hukuman dengan caranya sendiri' yang dia katakan beberapa hari yang lalu— menyuruhku menemaninya berbelanja keperluan kantor dan menyuruhku membawakkan semua barang yang di belinya.
Aku tak mengindahkan hardikkannya— aku hanya terus menyeret plastik berisi barang itu tanpa ampun sehingga menimbulkan gesekkan yang membuat emosi bosku meningkat.
"Ku bilang berhenti melakukan hal itu nona pemalas! Dengar tidak sih?!" hardiknya lagi.
"Kalau kau mau aku tak menyeret barang-barang ini, cepat kau bantu aku! Tak lihat apa barang-barang ini hampir membuat lenganku copot?!" tukasku sambil memperlihatkan barang-barang yang ku bawa.
"Kan baru hampir, sudahlah tak usah banyak mengeluh! Tinggal bawa saja, apa susahnya sih?! Lagipula salahmu sendiri menamparku seperti itu!" ucap Sasuke sambil melirik malas.
"apa susahnya? Tentu susah bos! Barang-barang ini sangat berat dan sangat banyak, lagipula aku ini kan seorang wanita. Apa kau tak kasihan padaku?"
"Kasihan padamu? Karna kau seorang wanita? Yang benar saja! Dari sisi mananya dari dirimu yang terlihat seperti seorang wanita he?" tanyanya dengan nada meledek.
"Tentu saja dari postur tubuhku dan rambut panjangku. Ah! Satu lagi, dari suaraku juga terdengar jelas bahwa aku ini seorang wanita!" jawabku setengah emosi.
"Baiklah baiklah, mungkin dari luar kau memang seorang wanita. Tapi dari dalam—" ia sengaja menggantungkan kalimatnya untuk sekedar memperhatikan setiap inci bagian tubuhku dengan sangat teliti. "— kau sama sekali tidak terlihat seperti wanita. Ayo kita pulang!" itulah yang ia katakan sebelum akhirnya ia berjalan mendahuluiku.
Kini terlihat sudah empat siku-siku di pelipisku kala aku mendengar perkataannya.
'Brakk!' aku membanting semua barang itu sehingga membuatnya menoleh kearahku, dan menatapku sedikit kaget.
"Apa-apaan kau ini," ucapnya datar tapi terdengar nada emosi di setiap katanya, perlahan namun pasti ia mulai berjalan mendekatiku. Dan langkahnya terhenti tepat di hadapanku— ia sedang jongkok di depanku sekarang.
"Lihat, semua barangnya rusak karna kau banting. Kira-kira berapa besar uang ganti rugi yang harus kau bayar ya," ucapnya pura-pura berpikir.
"Mungkin gajimu selama enam bulan," ucap Sasuke sambil menatapku dengan tatapan penuh kemenangan dan tak lupa seringai yang membuatku semakin ingin menyumpal mulutnya dengan beberapa buah cabai merah.
"Apa?! Enam bulan?!" ulangku sangat kaget dan mendapat anggukkan pasti darinya.
"Tapi mungkin aku akan memotong setengah gajimu saja, karna mengingat sifat ayahku yang tak pernah tega memotong gaji karyawannya. Dan itu artinya kau tak boleh keluar dari kantorku selama satu tahun," tukas Sasuke, dan berhasil membuatku kesal setengah mati.
'Yang benar saja! Berhutang padanya dan tidak boleh keluar kerja selama satu tahun? Hutangku dengan paman saja belum lunas, bagaimana ini? kalau begini bisa-bisa aku bisa bekerja dengannya lebih dari satu tahun! Dan itu artinya aku akan selalu bertemu dengan bos bokong ayam itu! Tidak! Aku tidak mau!' pikirku dalam hati, aku menggeleng pelan dan menghela nafas berat.
"Tidaaak!"
"Apa?" tanya Sasuke bingung ketika mendengarku perkataanku.
"Pokoknya tidak, akh! Kenapa sih Kamisama mempertemukan aku dengan bos menyebalkan sepertimu?!"
"Mana aku tahu, lagipula memangnya kau pikir aku mau dipertemukan dengan nona secerewet dirimu?"
"Ah terserah kau sajalah, ku kira kau sama dengan pangeran tampan di mimpiku. Tapi sepertinya aku sa—" aku membungkam mulutku sendiri kala menyadari aku mulai mengatakan hal yang tak seharusnya ku katakan padanya.
"Pangeran impian? Siapa? Aku? Jadi kau sudah memimpikanku sebelum kau bertemu denganku? Benarkah? Itu takdir atau kebetulan yang di sengaja ya?"
"Kau menuduhku menguntitmu sebelum aku bertemu denganmu?!" tanyaku dengan nada sinis. "Mungkin saja kan?" Tanyanya balik seraya menyeringai.
"Tch! Mimpi saja sana kau tuan Uchiha!" tukasku lalu berlalu meninggalkan Sasuke yang tertawa puas. Namun tawanya terhenti kala menyadari aku telah berjalan meninggalkannya.
"Hey Hinata! Jangan pergi begitu saja! Bawa barang-barangnya!" perintah Sasuke kepadaku. Bukannya menuruti perintahnya, justru aku malah berjalan semakin menjauh darinya.
Aku bisa menebak, sekarang pasti Sasuke sedang kesal setengah mati karna aku meninggalkannya sendirian di sana dengan barang-barang yang berserakan.
Yah tapi masa bodo dengan semua itu, yang penting sekarang aku mau berendam lebih lama di kamar mandiku.
—My Bad Boss—
Gemercik air membasahi seluruh tubuhku, kadang sesekali buliran air itu jatuh ke lantai. Ku putar sedikit keran berwarna merah, sehingga membuat air yang keluar menjadi hangat.
'Tok-Tok-Tok!' terdengar ketukan keras dari luar pintu. Namun ku hiraukan ketukan itu dan melanjutkan kegiatan sakralku di pagi hari alias— membersihkan tubuhku dari segala bakteri yang ku dapat setelah aku beristirahat semalam.
'Tok-Tok-Tok!' ketukan itu kembali terdengar, namun kali ini lebih keras dan sukses membuat perhatianku teralih kearah pintu itu.
"Siapa di luar?" itulah pertanyaan yang keluar dari bibirku, namun tak ada jawaban dari si pengetuk itu. Ketukan itu kembali terdengar.
Karna rasa penasaran yang cukup tinggi, ku beranikan diri untuk memakai jubah mandiku lalu membuka pintu perlahan-lahan.
"Sia—"
"Nee-chan! Kenapa lama sekali membuka pintunya?!"
Deg! Sumpah demi apapun, suara Hanabi yang terdengar nyaring membuat jantungku serasa melompat keluar.
"Hanabi! Kau hampir membuatku mati karna jantungan tahu!" protesku dan mendapat cengiran lebar darinya.
"Maaf nee-chan, oh iya nee-chan di cariin tuh," ucap Hanabi santai.
"Siapa yang mencariku?" tanyaku penasaran.
Hanabi menggeser tubuhnya sehingga terlihatlah seorang laki-laki berbadan tinggi dan proposional tengah menyeringai ke arahku.
"Hey nona, senang bertemu denganmu lagi!" sapa laki-laki itu— pura-pura bersikap ramah, namun terkesan memaksa bagiku.
—TBC—
Sudah selesai chappy 5 nya, gimana readers? Kurang gereget atau kurang panjang? Silahkan di koment di kotak koment di bawah cerita ini. yang belum sempet koment kalian boleh koment sekarang kok, belum ada kata terlambat untuk koment ^^. Untuk yang menyukai cerita ini atau cerita2 saya yang lain, boleh kok di favorite-in ceritanya hehe (ngarep).
Saya tahu masih banyak kekurangan dalam cerita ini, jadi saya mohon kritik dan saran dari readers semua ya tapi please no FLAME. Saya masih sangat tidak kuat menerima FLAME yang begitu menusuk#gomenne ..
Say thanks to : semua readers yang udah membaca plus mereview cerita saya ini, semua silent readers yang masih gak bosen2 nungguin kelanjutan cerita saya, untuk emiria tsubaki-chan sahabat saya dan my lovely mom yang sudah mau repot2 membaca plus mengkoreksi cerita saya. Pokoknya terimakasih untuk kalian semua! :D
Sampai ketemu di chapter selanjutnya readers.. ^_
