Random
Disclaimer © Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata (TO-TO)
Rate K+
Friendship
…
..
.
oOo
Drabble two
Penasaran
oOo
.
..
…
:Penasaran:
"Watari aku mau cokelat!"
"Aku juga!"
"Tidak! Aku!"
Seluruh anak Wammy saling bersikut ria tatkala Watari datang dan hendak membagikan camilan serta manisan yang dititipkan L untuk mereka. Ada kue bolu, snack, kukis—dan sebatang cokelat yang menggiurkan.
Gerah dengan perilaku anak-anaknya—Watari meminta mereka semua untuk berbaris dengan teratur.
Dan celakanya—Mello yang sedang mengincar cokelat yang tinggal satu batang itu kedapatan baris tepat di belakang Near yang sedang memilih.
"Oi! Cepat dong!"
Suara Mello menginterupsi.
"Jangan pilih yang cokelat lho! Itu punyaku lho!"
"Aku juga mau cokelaaat!"
Anak-anak di belakang Mello pun ikut berteriak-teriak, membuat Mello yang emosi—menggonggong dengan keras di hadapan mereka—
"BERISIIIK!"
Watari tepuk jidat.
Saat itu Near sudah mengambil pilihannya—sebuah kerupuk beras khas Jepang—yang entah sejak kapan beredar di Winchester.
"Kau yakin mau itu?" tanya Watari.
Dengan sekali anggukan, Near keluar dari barisan. Riak muka Mello kelihatan gembira—bukan main. Saingannya—yang terasa menyebalkan baginya itu—untuk kali ini tidak menghalangi jalan.
"Cokelatnya buatkuuu! Horee!"
Dan Mello tidak tahu, kalau diam-diam Near memerhatikan cokelat yang di pegangnya dengan wajah penasaran—ingin mencoba.
.
..
…
:Penasaran 2:
Near sedang menyusun jigsaw puzzle-nya yang tak bergambar, seperti biasa. di tengah-tengah ruang santai, sosoknya—tentu—terlihat paling mencolok, dengan warna putih yang mendominasi dan bersinar-sinar. Hal ini tidak membuat Mello kesulitan jika ia ingin memerhatikan saingannya dari kejauhan.
Sudah lama Mello mengobservasi Near—ya lama sekali. Ia tidak hanya sekedar melihat, tapi juga menganalisa. Tiap kali Near menyusun puzzle-nya dengan kemampuan yang legit, Mello selalu menghitung berapa banyak waktu yang dibutuhkan oleh si putih itu untuk menyelesaikannya.
Dan kali ini, Near memperlihatkan perkembangannya—
"satu menit untuk seratus keping, ya?"
Dan besoknya—Mello menarik Matt untuk menemaninya pergi keluar—atau menyusup lebih tepatnya—dari Wammy dan membeli sesuatu. Matt sudah tahu, alasan kenapa ia dilibatkan, karena Mello tidak mau tertangkap sendirian saat sedang melanggar peraturan.
Yang tidak Matt mengerti adalah—alasan kenapa Mello tidak memberitahu Matt tentang apa yang sebenarnya ia beli.
"Itu apaan sih?"
"Cerewet ah. Ayo balik."
Sekarang, setiap malam ketika Matt, teman sekamar Mello sudah tepar di atas ranjangnya—sebuah set jigsaw puzzle seratus keping tak bergambar selalu tercecer di atas kasur Mello berserta stopwatch di tangan kirinya.
"Satu menit lima belas—ARGH! Jauh banget, sialan!"
.
..
…
:Penasaran 3:
Sebuah puntung rokok berdiam diri di halaman belakang—diantara rumput-rumput kecil dekat jendela bangunan Wammy bagian ruang santai yang terbuka. Dan—Near berpapasan dengan puntung rokok itu, tidak sengaja. Saat itu, ia sedang mengambil robot gundamnya yang di lempar keluar—oleh anak-anak nakal—dari arah jendela tepat dimana puntung rokok itu bersemayam, dekat.
Tadinya Near hanya berjalan melewati.
Lalu ia kembali—menatap puntung rokok itu dengan penuh arti, dan memungutnya tanpa sadar.
Ia merasa—puntung rokok itu memiliki bau yang sangat familiar.
Lalu Roger yang sedang berpatroli menangkap sosoknya yang sedang memegangi robot di tangan kiri dan rokok di tangan kanan—pria tua itu bahkan menjerit kaget.
"Demi Tuhan, Near! Apa yang sedang kau lakukan!"
Pekikan Roger yang seperti orang sawan itu mudah di tebak oleh Near dan karena itulah ia berusaha untuk tidak bertindak konyol dan menjawab dengan jujur—
"Saya menemukan ini, tergeletak disini."
"O-oh, bukan milikmu?"
"Bukan."
Saat Roger berlalu—sembari meminta rokok itu karena ia ingin membuangnya—Near sempat berpikir, kenapa rokok yang ia pungut wanginya seperti cokelat.
.
..
…
:Penasaran 4:
Mello habis bermain bola—mengalahkan tim lawan dengan skor mutlak seperti biasa. ketika senja mulai tinggi dan matahari bergegas turun, anak-anak yang sedang bermain bola berhenti bermain ketika di dengar oleh mereka deringan bel di sepanjang lorong dan lapangan Wammy—yang menandakan bahwa waktu bermain telah habis.
Mello tidak langsung balik—ketika ia menemukan sebuah benda yang berselip di antara rerumputan dan mengalihkan perhatiannya. Alisnya bertaut—dengan spontan ia pungut benda itu.
"Puntung rokok? Punya Matt kah?"
Saat itu Roger yang sedang menggiring anak-anak masuk, menemukan sosok Mello yang sedang berdiri fokus menatap sebuah benda kecil yang ada di tangannya. Dan Roger pun membelalak,
"Mello!" jeritan itu membuat sosok si pirang terlonjak, kaget, "Ke ruanganku! Sekarang!"
Tanpa mempertanyakan lebih lanjut, Roger langsung membuat kesimpulan bahwa puntung rokok itu adalah miliknya.
"Ini bukan punyaku! Hoi! Roger!"
Dan satu jeweran di telinga membuat Mello histeris. Wajahnya merah dengan urat-urat di kepala yang menegang.
.
..
…
:Penasaran 5:
Near berpapasan dengan Mello yang baru saja keluar dari ruangan Roger. Mereka saling pandang—yang satu memberikan sorot mata tajam, sementara yang satunya tetap tenang.
"Selamat malam, Mello." Near menurunkan pandangannya pada tangan-tangan Mello dan mengendus adanya bau yang pernah di ciuminya saban lalu, "Kenapa tanganmu, bau abu rokok?"
"Ck! Bukan urusanmu, pendek!"
Sedikit menyinggung, tapi Near tidak keberatan.
"Saya pernah menemukan puntung rokok yang baunya sama seperti tubuhmu. Apa kau—merokok?"
Kepala Mello makin mendidih. setelah Roger—kini Near juga ikutan menuduhnya.
"Tentu saja tidak! Aku bukan orang stress yang mau bunuh diri perlahan-lahan dengan rokok!" ia menatap Near semakin tajam, "Dan bau seperti apa yang kau maksud hah! Dasar sialan!"
"Bau—cokelat."
Mello terkejut—entah karena suatu alasan ia tergelitik—namun tidak ia tampakan dari ekspresinya itu. si kuning hanya berbalik, berjalan pergi meninggalkan Near dan mengatakan,
"Konyol. Mana ada rokok yang bau cokelat."
Pemikirannya masih tetap sama—ya sama, sebelum akhirnya Matt datang. Ia melakukan loncat indah ke kasur Mello—tepat dimana pemiliknya sedang asyik membaca novel terjemahan disana.
"Mells! Lihat deh!"
Loncatan itu membuat Mello tersedak kontan—dan lipatan halaman sampai dimana ia membaca buku itu terlepas. Grr. Mello ingin sekali menendang bokong Matt karena sikapnya—dan semakin ingin menendangnya saat ia melihat sebuah benda berbalut bungkus kubus yang dipamerkan oleh teman sekamarnya itu.
"Ada rokok baru rasa cokelat lho. Kau mau coba? Coba deh. Kau kan suka cokelat pasti—"
Belum sempat Matt menyelesaikan kalimatnya—ia keburu ciuman dengan telapak kaki Mello yang terjulur indah hanya untuknya.
Jadi, gara-gara Matt-kah—ia di sembur sang predator Roger dan dianggap cokelat berjalan oleh Near?
.
..
…
TBC
A/N : ya ampun. Makin sesuatu drabble-nya :o kasian Mello, didiskriminasi mulu ama Roger. Kolkolkol! Emang susah ya, murid bermasalah—apapun pasti di pandang jelek (Mello : makanya ketik gue pake latar belakang yang bagus dong!). mengesampingkan ke-gaul-an Matt yang udah ngerokok di usia belia :v
Makasih banget buat om Rexy dan LucaBlihtIsPUCA. Ya amfun, saya suka dengan munculnya ripiu kalian XD
RnR?
-Fujisaki Fuun-
