Random
Disclaimer © Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata (TO-TO)
Rate K+
Friendship
…
..
.
oOo
Drabble Four
Emosi
oOo
.
..
…
:Emosi:
Sebuah pintu dibantingnya.
"AHH!"
Matt menghambur masuk ke dalam kamar dalam keadaan yang tunggang langgang. Mello yang sedang belajar sambil menghisap cokelat batangan pun, mencium sebuah bebauan yang tidak sedap setelah Matt melewatinya.
"MAIL JEEVAS! KAU KENTUT YA!" pekiknya marah sambil menjepit hidung dan membungkus cokelatnya cepat-cepat dengan aluminium foil—takut terkontaminasi oleh gas metan milik Matt.
"Sori! Darurat!"
Jawab Matt sambil berlarian. Ia langsung menerjang kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat. Terdengar setelahnya suara desahan penuh emosi dan jiwa dari Matt. Mello mendecak jijik. Ia keluar dari kamarnya dengan tujuan refreshing, mencari udara segar.
Namun sial, baru saja ia berjalan lima langkah—Perutnya mendadak sakit. Bukan sakit yang perih karena luka. Tapi lebih pada sakit yang melilit-lilit.
Dengan ganas ia masuk kembali ke dalam kamarnya dan menggedor-gedor pintu kamar mandi—
"Matt! Sudah selesai belum? Matt!"
Raungan di seberang pintu menyatakan bahwa Matt belum tuntas dengan urusannya. Mello pun panik. Kebanyakan makan cokelat membuat perutnya mendadak sembelit.
"Gawatgawatgawaaaat!"
Keringat dingin membanjiri dahi Mello. Ia mondar mandir di depan pintu kamarnya—berpikir. Menunggu Matt hingga selesai rasanya terlalu lama. Ah—entah kenapa ia teringat dengan seseorang.
—Near.
Mungkin ia bisa numpang melepaskan ampasnya di kamar si nomor satu itu. tapi bagaimana cara Mello untuk mengutarakannya? Ia makin panik. Namun kakinya tetap berlari menuju ke kamar si mungil berpiyama putih kedodoran itu.
"Ah sudahlah, yang penting sampai dulu. Rangkai kata-katanya bisa nanti."
Dalam sekejap, ia berhasil sampai di depan kamar Near. Kalau sedang dihadapkan dengan kondisi darurat, Mello pasti bisa menjadi pelari tercepat seantero Wammy. dengan wajah gelisah, ia ketuk pintu kamar saingannya.
"Near? Kau di dalam tidak? Cepatlah buka!"
Dan—pintu pun terbuka.
Near muncul di ambang pintu dengan robot dipelukannya. Mello masih berjingkrak-jingkrak, menahan sembelitnya setengah mati.
"Hai—"
"Bukan waktunya 'hai'!" ia menginterupsi, "Dengar—! Aku tahu kita ini bermusuhan. Kau rivalku—dan aku membencimu dan kau tahu itu. tapi meskipun begitu—aku harap kau tidak cukup jahat untuk menelantarkanku yang sedang kesusahan seperti ini—"
Near menyimaknya dengan baik,
"Ya?"
Sebuah pertanyaan yang ambigu. Mello menarik napasnya dalam-dalam, masih dengan kaki yang berjingkrakkan.
"Oke—langsung saja ke pokok permasalahannya."
Wajah Mello memerah. Ia tidak tahu, apakah meminta bantuan pada Near adalah hal yang tepat. Karena sejujurnya, Mello merasa dirinya di telanjangi dengan membiarkan Near melihat 'sisi' lemahnya.
"Sebenarnya, b-begini—"
Wajah Mello semakin merah.
"Ada apa, Mello?" tak dapat menampik kemungkinan bahwa Near pun akhirnya penasaran.
"A-aku—" ia memejamkan matanya. wajahnya seperti apel ranum—beda tipis dengan wajah orang yang ingin mengungkapkan cinta, "Bolehkan aku menggunakan toiletmu!"
Daripada di sebut sebagai minta izin, intonasi suara Mello terdengar seperti sebuah perintah.
"Um. Tentu saja—"
"OH—Tuhan! Di ujung tanduk!"
Mello tak menggubris perizinan Near. Ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar Near dan membanting pintu kamar mandinya—pertanda bahwa ia sudah sampai pada batas maksimal.
Baru saja pintu itu terbanting, Matt lewat di depan koridor, dan menghampiri Near yang berdiri di depan pintu kamarnya yang masih terbuka.
"Ng—Near, kau lihat Mello tidak?"
Dengan senyum kecilnya yang manis, Near menjawab.
"Ia baru saja menggunakan kamar mandiku untuk sesuatu."
"Sesuatu—kau bilang?"
"Ya. sesuatu."
Matt terkekeh pelan.
"Pasti wajahnya nelangsa sekali ya?"
Untuk pertama kalinya, Near tersenyum—dua mili lebih lebar daripada yang biasanya.
.
..
…
:Emosi 2:
"Kau tahu Mells. Kau hebat sekali bisa membuat Near tersenyum selebar itu!"
Matt menggebuk-gebukkan tangannya ke meja dan tertawa terpingkal-pingkal. Tentunya ia hanya bertahan sebentar sampai ia dengar suara retakan yang berasal dari tumpukan dus berisi kaset-kaset game kesayangannya itu. Dan ia tahu—jelas—siapa pelakunya.
"TIDAKKK! Kau apakan darling-darling-ku!"
"Brengsek kau Matt!"
Matt nangis kejer—tapi lekas bungkam setelah Mello menendangnya dengan gaya 'shishi rendan' ala Sasuke Uchiha. Sungguh, kekerasan mengatur semuanya. tapi tidak—dengan Near.
"Sialan—!"
Sekarang ia hantamkan tangannya ke dinding. kesal—tanpa sadar Mello berjalan keluar dari kamar, dengan wajah yang ingin menelan Near bulat-bulat.
"Kuhabisi orang itu. akan kupatahkan lehernya!"
Ia bertekad.
Dan kini Mello sampai di ruangan santai Wammy—tempat dimana Near yang introvert itu biasa bermain sendiri dengan puzzle-nya. namun—tidak. Mello tidak bisa menemukan sosok pucat dari snowman, Near yang ingin dicekiknya itu. tak putus asa, ia pun bertanya pada Linda.
"Eh, Near? Kemana ya—dari pagi tadi ia tidak ada di sini. Ia juga tidak masuk ke kelas. Kau ingat kan? Saat Roger bilang ia sakit atau semacamnya."
Mello termenung.
Kalau begitu—ia pasti ada di kamarnya.
Tanpa membalas pernyataan Linda, ia bergegas pergi meninggalkan ruang santai. Dan—
"Mello! aku akan mengadu pada Roger kalau kau berbuat sesuatu padanya!"
Mello mendecak.
Siapa peduli, pikirnya. Ia terus berlari menuju satu ruang yang ingin sekali di kunjunginya. dan—ia datang tanpa mengetuk terlebih dahulu. Knop pintu langsung saja di putarnya dan Mello masuk dengan wajah beringas ala serigala red ridinghood.
"Neaaaar—"
Teriakannya mengambang di udara saat didapati sesosok Near yang duduk membelakanginya. Ia berjalan dengan langkah yang menggetarkan bumi. Near yang sedang menyusun menara kartu bridge-nya pun terganggu karena langkah Mello membuatnya runtuh.
Near berbalik, kemudian.
Mello siap dengan bola mata yang sudah diserutnya dengan tajam—tapi tunggu. Mimik wajah Mello berubah konstan, tatkala ia lihat sosok Near yang—sedikit berbeda.
"Celana dalam?" ucap Mello spontan nan ngawur.
Near terkejut, ia meraba sesuatu yang menutupi mata sebelah kanannya.
"Ini? Ini—perban, Mello. bukan celana dalam."
Pfft.
Mello nyaris saja memecahkan suaranya.
"Tapi bentuknya seperti celana dalam! HAHA! CELANA DALAM!" Mello menjerit makin menjadi-jadi. Kalau saja ada orang yang melihatnya, mereka mungkin akan mengira bahwa Mello orang mesum disini.
"…"
Near bisu, kembali memunggunginya. Ia merasa buang-buang waktu dengan Mello yang sibuk menertawainya. ia rapikan kartu bridge-nya dan menyusun kembali dari awal—bermain seolah-olah Mello tidak ada di kamarnya. Mello yang merasa telah di abaikan—menghentikan tawanya dan kembali ke mode asal.
Stay kul.
"Ahem. Matamu—kenapa memangnya?"
Jeda beberapa saat hingga Near akhirnya mau angkat suara.
"Tersengat—lebah."
"H-hah?" Mello kembali tergelitik. Tapi ia tahan suaranya supaya Near tak tersinggung dan berhenti berbicara dengannya. ia masih ingin mendengar informasi lebih lanjut.
"Kemarin—saya keluar ke halaman belakang. Dan—ada lebah yang menyengat saya."
"Matamu bengkak, jadinya?"
Near mengangguk.
Sekarang Mello sedang membayangkan sosok Near yang berkelopak mata besar sebelah. Imej troll versi kurcaci melintas di kepalanya. Tubuhnya kembali bergetar—Mello terpingkal-pingkal.
"J-J-Jadi kau tidak masuk k-kelas hanya karena ini?"
"Ya."
"K-pftt-Kenapa?"
Jiiiit. Near tak melepaskan pandangannya. Walau harus ia akui—Near sedikit dongkol dengan Mello yang tertawa-tawa.
"Karena—saya tidak suka dengan penampilan ini. seperti—"
"Hantu mesum dengan celana dalam di kepalanya! HAHAHA!"
"Tidak—bukan itu maksud saya."
Mello mungkin tidak melihatnya—tapi sebenarnya, ia telah sukses membuat seorang Nate River dongkol luarbiasa—lebih-lebih daripada saat ia kesal dengan Light Yagami di animenya. Dan Mello pun kini lupa—dengan alasan mengapa ia datang menghampiri Near.
Atau mungkin ia sudah tidak peduli lagi.
Yang dilakukannya saat ini hanyalah tertawa. Menganggap semuanya impas sebagai balas dendam yang manis laksana cokelat.
.
..
…
TuBiCon
A/N : ini jatohnya ga unyu. Tapi konyol banget =)) duh… maap Mello-Near, saya menistakan kalian berdua :v
