Random

Disclaimer © Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata (TO-TO)

Rate K+

Friendship

..

.

oOo

Drabble Five

Takjub

oOo

.

..

:Takjub:

L datang! L datang!

Gemuruh langkah para penghuni Wammy terdengar bagai Guntur yang bersahut-sahutan menuju ruang santai. Sementara Mello terlihat di barisan akhir, berjalan perlahan. ia tidak mau bertindak norak seperti anak-anak di depannya—meskipun nyatanya ia sangat—amat—antusias, bahkan mungkin saja melebihi anak-anak yang berteriak kegirangan saat ini.

"Fuh—"

Disampingnya ada Matt—ranking ketiga di Wammy's house. Tidak terlihat semangat atau bahkan peduli dengan kedatangan L. ia hanya terpaku menatap layar game konsol-nya, berjalan tanpa menaruh perhatian lebih sehingga beberapa kali ia tersandung-sandung bahkan menyenggol bahu anak-anak yang berlarian di sekitarnya. Tapi sekali lagi—ia tak peduli.

Di belakang Mello dan Matt, nyempil seorang anak berperawakan putih, seperti hantu kecil. Ia berjalan dengan kaki yang terseok-seok dan mata yang dikucek. Piyamanya terseret-seret di lantai, kelihatannya anak itu baru bangun tidur.

Mereka bertiga berjalan—hampir bersamaan. sama-sama menjadi yang tertinggal di belakang, bahkan hanya mereka saja yang belum menongolkan kepalanya di ambang pintu ruangan santai.

Namun—saat sebuah bayangan berkelebat seperti hendak keluar dari ambang pintu—mereka berhenti melangkah, berdegup, disusul dengan bola mata yang tak bisa dikedipkan secara tiba-tiba. Matt yang sedang konsen dengan game-nya pun ikut menaruh perhatian terhadap sosok yang berdiri di depannya saat itu.

Jeans kusam, tubuh bungkuk yang familiar, kaus putih berlengan panjang yang kendor. Lingkar hitam di bawah mata yang menonjol. Rambut awut-awutan—tak terurus namun khas. lengkung bibirnya, membentuk sebuah senyuman kecil yang singkat.

"Haloo, calon penerus L." Sebuah mimik yang agaknya datar—namun cukup menggetarkan jantung mereka sedikit lebih cepat.

Dengan kompaknya—mereka menjawab bersama-sama.

"Halo, L—" disertai dengan wajah polos ala anak-anak.

.

..

:Tukar 1:

Perayaan spesial di Wammy adalah saat dimana Roger mengumpulkan seluruh anak-anak diruangan santai dan menumpuk banyak bingkisan di depan wajah-wajah 'kelaparan' mereka. Entah apa sebutannya—yang jelas, setiap tahun, di Wammy ini selalu mengadakan acara tukar kado bersama.

Matt sudah duduk manis di barisan paling depan. wajahnya seperti anjing kecil yang patuh—kelihatan sekali bahwa Matt sangat menyukai acara tukar kado ini. Mello yang duduk disampingnya hanya mendengus—sebal dengan ekspresi wajah Matt yang terlihat konyol baginya.

"Matt—bisakah kau menghentikan tetesan liur di mulutmu itu?"

"Kau tahu Mells, tahun lalu aku dapat merchandise game konsol yang sampai saat ini kuperlakukan seperti harta karun yang jatuh dari langit!"

Matt tidak menjawab pertanyaan Mello—ia justru curhat tentang pengalaman tukar kadonya di tahun lalu. Mendengarnya berkoar tidak nyambung, Mello sedikit menaikkan alisnya,

"Lalu—?"

Ia membuat wajah yang seolah berkata 'Apa peduliku?'. Tapi justru sebaliknya, ialah yang sebenarnya sedang tidak di pedulikan oleh Matt.

"Mungkin saja hari ini aku dapat steam box—Piston, konsol keluaran terbaru—"

"Jangan ngaco deh," Mello langsung menginterupsi, "Kau tak bisa berandai yang sedikit rasional apa? Wammy's house ini bukan surga. Dan Roger bukanlah santa."

"Terserah."

Untuk pertama kalinya Matt menjawab asal kepadanya. Mello terkejut—ingin sekali ia meninju wajah bodoh temannya itu, namun suara Roger yang datang, menghentikannya.

Ia berbicara sebentar, kemudian memanggil nama anak-anak satu persatu dan meminta mereka untuk mengambil kado. Ada sensasi tersendiri saat anak-anak menunggu 'gelisah' hingga giliran mereka tiba.

"Matt—"

Yang dipanggil melesat cepat—nyaris melakukan sprint. Menimbang-nimbang kado pilihannya dengan cermat, dan menarik salah satunya dengan wajah yakin. Kemudian ia kembali ke tempat duduknya dengan tangan-tangan yang ganas membuka bingkisan.

"Mello."

Mello terlonjak saat namanya disebut kemudian. Ia berjalan menuju tumpukan kado, dan mengambil asal.

"Kau tidak mau memilih-milih dulu, Mello?"

"Tidak perlu."

Ia mencari tempat yang sedikit tenang kemudian—masih di sekitar ruangan santai. Saat ia hendak merobek bungkusan kadonya—ia dengar suara jeritan Matt kemudian.

"HUAAAA! BUKU! BUKU CERITA AKU TIDAK MAUUU!"

Mello berusaha untuk tidak peduli dengan mahluk eksotik yang saat ini tengah gelitingan di lantai karena tidak terima (?). ia masih sibuk merobek—hingga akhirnya di dapatkan sebuah kotak bergambar aneh—gambar abstrak matahari dan bulan. Kotak bungkusan itu menyimpan sesuatu yang bentuknya pasti tidak beda jauh dengan kubus.

Dan—

Matanya melongo saat mendapati 5 pack kartu bridge berwarna emas cemerlang. Sebuah hadiah yang—terlalu spesifik. Hanya segelintir bahkan mungkin satu orang saja yang bermain-main dengan kartu sebanyak itu.

Ia langsung saja melirik sosok yang dimaksud

—Near.

Dan ia lebih-lebih terkejut lagi tatkala menyaksikan apa yang ada di pelukan tangan Near saat itu. Sebuah bungkusan berwarna pastel dengan pita-pita unik bertuliskan—Godiva.

.

..

:Tukar 2:

Mello gelisah.

Sejak matanya menangkap sosok Near dengan merk cokelat tersohor yang ingin sekali dicicipinya sebelum mati itu, Mello gelisah. Ia tidak henti-hentinye melirik Near, yang masih diam terpaku menatap hadiah yang didapatkannya.

Ia tidak percaya, bahwa makanan favoritnya—ditambah dengan merk mahal—bisa sampai mendarat di dalam bungkusan kado spesial untuk anak-anak Wammy. Ia masih tidak percaya!

Prek. Near mulai merobek bungkus cokelatnya. Warna cokelat yang menggoda, harum, penuh dengan cetakan huruf G yang terkesan classy, membuat jantung Mello semakin bertabuh tak beraturan. Hati kecilnya terusik. Bisa-bisa ia tidak tidur semalaman kalau melihat Near yang menggigiti cokelat Godiva di depan batang hidungnya.

Aaa. Near baru saja ingin membuka mulutnya yang mungil, namun hei, ia berhenti saat di lihatnya sosok ngos-ngosan Mello yang berdiri di hadapannya.

"N-Near—" Mello masih berusaha untuk menelan ludahnya yang tersangkut di kerongkongan, "I-itu—Godivanya—boleh, tukaran?"

Mello memperlihatkan lima pack kartu bridge yang didapatkannya kepada Near.

"Um, tidak."

Near menjawabnya singkat. ia kembali pada cokelatnya dan hendak menggigitnya. Sudah lama sekali ia penasaran dengan cokelat, dan kali ini ia tidak mau mengalah pada Mello—seperti yang ia lakukan kemarin lalu saat waktu snack.

"T-tunggu! Aku tambah dengan novel lamaku? Bagaimana? Novel dan lima pack kartu original?"

"Tidak—"

Mello frustasi.

"Kalau begitu, benda yang sedang kau inginkan." tawarnya, menggoda, "Apa yang harus kuberikan supaya kau mau menukarnya?"

Near berhenti, menatap balik mata Mello yang memohon-mohon kepadanya dengan serius. Sebenarnya—ia masih ingin mengatakan tidak—tapi Mello yang menghadapnya sekarang, benar-benar berwajah melas.

"Bagaimana jika kuminta lima pack kartu dan sepotong kecil cokelatnya?"

Mello diam. Membagi Godiva—yang sebentar lagi sah menjadi milik—nya dengan musuh bebuyutannya? Orang yang merupakan pemilik Godiva pertama?

"Kenapa—kau tidak mau buku ku?"

"Buku tidak bisa dimakan." Celoteh Near—entah ada maksud meledeknya atau bergurau dengannya.

"Hah?"

"…Saya cuma ingin mencicipi rasanya. sedikit saja."

Sepotong. Seberapa besar 'sepotong' menurut Near? Satu balok kecil cokelatnya? Atau—setengah bagian dari cokelat itu tersendiri?

"Err … seberapa yang kau inginkan?"

Near mematahkan balok kecil cokelatnya.

"Segini. Bagaimana?"

'Ooh—kecilnya' pikir Mello, tak masalah.

Ia mengangguk dan setuju dengan pertukarannya. Sebuah Godiva—terpotong sedikit—kini berada di tangannya. Sementara kartu bridge telah berpindah tuan ke tangan yang seharusnya. Mello tersenyum senang. Refleks, ia mengucapkan terimakasih dengan sukacita kepada Near. Dan akhirnya mereka melahap cokelatnya secara bersamaan.

Dari kejauhan dimana kedua anak itu sedang meresapi nikmatnya sebuah cokelat mahal—Roger yang sedang berada dalam pembicaraan di telepon hanya tersenyum kecil.

"Sepertinya kedua penerusmu, memiliki hubungan yang tak terprediksi ya."

.

..

Omake :

Sebuah pintu diketuk.

Sosok tua muncul di ambang pintu kamar yang paling ekslusif di Wammy's house.

Ia hanya berdiri, memerhatikan calon penerus L nomor satu itu dengan mata yang mengobservasi. Seperti biasa, Near selalu menyibukkan kedua tangannya dengan bermain—entah apa itu—dan kali ini ia sedang membuat menara kartu.

Sama seperti yang biasa ia lakukan—menara kartu itu berdiri kokoh, dan begitu spektakuler. Roger sendiri selalu dibuatnya mendecak, kagum dengan seberapa besar menara itu, dan seberapa banyak waktu yang diperlukan serta ketelitian yang dimiliki oleh Near untuk membangun sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak niat.

"Sudah berapa lama kau duduk membuat itu semua?"

"Lima jam." Jawabnya singkat.

"Kau tidak lelah? Sudah waktunya makan malam—"

"Jangan mendekat lebih dari ini, atau kau akan merobohkan menaranya."

Roger mengangguk terhadap Near yang memunggungi sosoknya.

"Baiklah kalau begitu. Sepertinya aku harus membawakan makananmu kesini."

"Hm. Mohon bantuannya." ucap Near tanpa menoleh.

Dan sebuah pintu berdebam, menandakan bahwa sosok Roger telah menghilang. Near menghentikan pergerakan tangannya yang nyaris meletakkan sepasang kartu terakhir diatas badan kartu-kartu yang lain. sepasang kartu yang akan menyelesaikan seluruh konstruksi menaranya yang mewah. Ia menghentikannya.

Near pandangi lekat-lekat sosok kartu yang saat ini tengah ia tekan-tekan dengn jemarinya sehingga nyaris melipat. Ia bergumam pelan.

"Kertas kartu ini—sedikit berbeda dengan pack kartu yang saya punya sebelumnya."

"…"

"Kartu-kartu yang kuat—"

"…"

Bungkusan-bungkusan balok bergambar abstrak matahari-bulan bergelimpangan tidak jauh dari tempat duduknya. Near memandangi jendela kamar spontan, dimana seonggok bulan memancar indah—membias dari kacanya.

"Matahari—Bulan ya?"

.

..

TuBiCon

A/N : Aaaa … temanya mulai ngerandom gini. Gapapa ya? ini kan fanfic random. hwahwahwa XD dan—Drabble-drabble ini lama-lama makin panjang aja -_- sekali lagi, gapapa ya? #flov

A Thanks for : Michelle Aoki, Permen Caca, dan RitsuHaru

Jaa! XD