Random
Disclaimer © Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata (TO-TO)
Rate K+
Friendship
…
..
.
oOo
Drabble Six
Kontak
oOo
.
..
...
:Kontak:
Near sedang asyik bermain di lantai, tengkurap dengan pesawat di tangan kiri dan perahu di tangan kanan. Ia sibuk membuat bebunyian dengan mulutnya, cuap-cuap disertai tumbukkan antar kedua benda di genggamannya.
Lalu, si bising datang.
Kegaduhan langkahnya tak digubris oleh Near yang masih menikmati ilusi yang ia ciptakan sendiri. Sebelum akhirnya si bising berjongkok di depannya, dan menatapnya lekat-lekat.
Jiiiiit
Sayang sekali, Near tidak fokus menatap lawan di depannya dan sibuk menaruh perhatiannya seratus persen pada bongkahan mainan.
"Hey, Near!" Mello—si bising itu—menepak kedua mainan di tangan Near hingga terjatuh. Dan ketika Near hendak ingin mengambil kembali, tangannya di tangkap oleh Mello, "Lihat sini bentar!" protesnya kemudian.
"..."
Near tidak menjawab. Hanya menabrakkan pandangannya pada kelereng hitam Mello yang nampak lebih kecil daripada miliknya.
Tercipta sebuah jeda—
Jiiiiiit—
"AAARRRGGGHH!"
Dan Mello pun bangkit dari jongkoknya, berlari menjauh.
Ia terus bertanya dalam hati, kenapa. Kenapa. Kenapa.
Dan Near kira, Mello mungkin sudah gila.
.
..
...
:Kontak 2:
Lima menit kemudian, Mello kembali.
Near tidak menunggu teriakan Mello yang meminta perhatian. Ia lantas menoleh dengan tangan-tangan yang sudah beralih profesi memegangi kumpulan kartu bridge yang baru saja ingin disusun.
Mello berjongkok lagi—persis di depan Near. Kedua tangannya menampar pipi sendiri, perih—sudah pasti, tapi ia abaikan dengan memejamkan mata kuat-kuat. Setelah siap mental, ia tekuk kedua tangannya yang kini berpangku pada lutut, sementara lehernya menjorok ke depan—memerhatikan Near dengan wajah yang entah-sudah-seseram apa.
Jiiiiiiiiit
Dan terjadi adu pandang season dua antara ranking satu dan ranking dua. Wammy house memanas.
Dari balik tembok-tembok, Matt dan anak-anak lain mengintip dengan napas yang tertahan. Terselip diantara jemari-jemari mereka, permen-permen dan CD game serta beberapa lembar dollar—bukan nominal yang besar sebenarnya.
Dan—
"AAARRRGHHH!"
Matt lagi-lagi mengangkat dagu, memanjangkan hidung dan tangannya yang kini terulur meminta bayaran dari anak-anak ketika Mello menjerit di tempat.
"Sudah kubilang pada kalian, Mello mungkin menang di ring tinju, tapi matanya takkan kuat menatap Near. Biji matanya itu gampang kering. Dia pasti akan berkedip cepat atau lambat."
Decihan pelan dan gerutuan muncul di mulut George dan Alfonso yang saat itu sibuk memberikan lembaran uang, permen dan CD game terbaru kepada Matt. Matt menyeringai—tidak henti sampai muncul sosok Mello yang berdiri seperti setan dengan aura gelap dan mata berkilau kekuningan dibelakangnya.
.
..
...
:Kontak 3:
Mello sibuk menggerutu. Matt sibuk mengutak atik mesin komputernya yang rusak—entah itu rusak dari luar atau dalam, yang jelas Matt sedang mengeceknya. Keduanya sama-sama membuat wajah yang rumit, dan keduanya kemudian berteriak kompak.
"GYYAAAAA!"
Terjadi lompatan dari dua tubuh bocah yang mental berlawanan arah. Terengah-engah, memegangi dada mereka—
"Kau kenapa sih! Mengagetkan saja!"
"Itu kalimatku, Mells! Kau yang mengagetkanku!"
"Aku sedang berpikir tadi! Lalu kesimpulan yang tidak menyenangkan muncul di kepalaku! Makanya aku menjerit!"
Matt menggeleng.
"Um, begini ya. Aku sedang sibuk mengurusi darlingku yang nomor 3—Tentu saja, nomor satunya Mello, dan nomor duanya konsol game," Matt terkekeh kurang penting, "Pokoknya 'dia' sekarat. Mesinnya sudah karatan, kabelnya banyak yang lapuk, butuh diganti. Dan aku tidak punya uang. Jadi yeah—kau tahulah kenapa aku menjerit, frustasi—"
"KAU MAU BILANG KALAU URUSANKU LEBIH TIDAK PENTING DIBANDINGKAN DENGAN KOMPUTER BUTUTMU?"
Mello keburu emosi, mencekik kerah jaket Matt, membuat si pemiliknya nyaris sekarat. Kehabisan napas.
"B-Bukan begitu, Mells—uhuk! Uhuk!" cengkeraman itu terlepas. Matt membenarkan kerah jaketnya, "Jadi, ng—memangnya kau memikirkan apa, sih?" menyerah karena tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan, akhirnya Matt memilih untuk peduli sejenak dengan urusan Mello.
Mello duduk di tepian ranjang dengan kasar, kedua tangannya melipat di depan dada, wajahnya kembali keras—
"Besok ujian final semester tiga."
Oh yeah—Matt sudah menduganya, hal yang paling penting sejagad raya menurut kawan sejawatnya itu.
"Ujian besar Matt! Ujian besar! Aku tidak bisa kalah dengan Near lagi! Terlalu banyak catatan kekalahan besarku yang sangat memalukan! ARRGH! Aku frustasi! Aku tidak suka melihat wajah terkutuk itu tersenyum mengejek karena ia selalu menang—"
Matt menghampiri Mello yang menjerit histeris, kemudian menepuk pundaknya—berlagak layaknya orang dewasa yang ingin menasehati anaknya.
"Dengar Mells. Pertama, kau harus tenang. Kedua, hentikan ilusimu—Near tidak pernah membuat wajah yang 'aneh-aneh' karena ia tidak punya ekspresi. Dan ketiga—"
Mello hampir saja melayangkan bogemnya tepat di depan bibir seksi Matt—
"—Kau tahu, kalau kau sebegitu inginnya menang dari Near, bagaimana jika kau memulai kemenangan itu dari yang kecil?"
Alis cokelat keemasan Mello terangkat.
Tidak dapat respon yang menyenangkan, cengkeraman tangannya mengeras di leher jenjang Matt, dan bogemnya nyaris aktif kembali karena ia pikir Matt sedang mencibirnya.
Bergidik, Matt memaksakan dirinya untuk bicara—
"K-kalau kau sudah merasakan kemenangan sekali—walaupun kecil—pasti kesananya kau akan punya kepercayaan diri yang lebih. Dan kemudian, menang dari Near bukanlah hal yang mustahil."
Matt tidak peduli kalimatnya nyambung atau tidak yang jelas, ia takkan membuat bibirnya berhenti bicara.
"M-Misalnya ya—Engg—"
"..."
"M-Misalnya—Err," Matt memutar otaknya yang tersumbat karena tangan Mello mencekiknya, "Adu pandang dengannya! Ya! Adu pandang!"
Ah, persetan apapun itu.
"...?"
"Kau pasti merasa puas kalau bisa membuat lawanmu berpaling, menunduk, atau bahkan terkedip karena sorot intens dari matamu yang haus darah. Bagaimana jika kau buktikan bahwa—setidaknya—matamu bisa menang melawan Near?"
Mello terdiam. Ajaibnya, ia mempertimbangkan perkataan Matt.
.
.
.
.
.
Yeah, setidaknya, sampai ketika ia tahu motif Matt yang sesungguhnya.
Mello berdiri seperti setan yang ingin menombak mangsanya dengan sorot mata yang tajam dan lidah yang mendesis seperti ular.
"MAAAAATTT!"
Matt kaget dengan jeritan dan rupa Mello yang tampak 'spektakuler' disana. Ia terjatuh dengan tubuh yang membeku seperti bongkahan es. Alfonso dan George? Mereka lari karena tidak ingin terlibat masalah.
"M-Mells?"
"Beraninya kau menggunakanku sebagai mesin pencetak uang!"
"HYAAAA! Sori Mells! Komputerku rusak—a-aku butuh mesin baru, j-jadi—GYAAA SAKIT MELLS! AMPUUN! AMPUUUN!"
Dan adegan bondage (?) pun terjadi, tak terelakkan.
.
..
...
:Kontak 4:
Wammy house di sore hari nampak lenggang. Anak laki-laki sibuk bermain bola di halaman depan. Tidak semua memang—ada beberapa yang suka menghabiskan waktu di perpustakaan, atau mengobrol santai di teras dengan temannya.
Dan sedikit—bahkan hanya satu orang yang menghabiskan sepanjang sorenya dengan berjongkok di depan pintu kamarnya—menatap langit-langit Wammy dengan mata yang mengawang. Sesekali ia selipkan batangan cokelat pada giginya, dan mengunyahnya tanpa gairah samasekali.
"Hah..."
Lalu muncul, sosok putih mungil, dengan tangan yang bertautan bersama Roger, melintas di depan matanya. Mello, kaget. Fokusnya mendadak tajam ketika dihadapkan dengan sosok Near.
"Hm? apa yang sedang kau lakukan disini, Mello? Tidak menunggu seseorang untuk di bully kan?"
"Tentu saja tidak, ck."
Seperti biasa, Roger hanya tersenyum, melihat ekspresi Mello yang nampak energik saat menjawab pertanyaannya.
"Kau semangat sekali."
"SEMANGAT APANYA? SUDAH SANA! PERGI KALIAN!"
"Baiklah, baiklah—tapi kusarankan padamu untuk membuat wajah yang sedikit lembut, kalau tidak ingin tensi darahmu naik di usia tua."
"Cerewet kau! Kakek tua—"
Near melepas genggaman tangan Roger padanya. Ia berjalan mendekati Mello yang menatapnya dengan terkejut—kemudian menyipit curiga.
"Kau mau apa, pendek?"
"Ini—" Near mengaduk sesuatu dari saku celananya dan memberikannya pada Mello.
He?
He?
HE?
"Kurasa kau butuh itu."
Mello memandangi sebuah botol kecil isi cairan bening dengan label—
'obat tetes mata'.
Alisnya mengkerut—
"Sejak kemarin, matamu nampak iritasi, second."
"SECOND KAU BILANG?"
Mello sudah beranjak dari jongkoknya, menggonggong—sayang sekali Roger menahan tubuhnya. Near hanya memandangi mata berkilat Mello yang nampak merah. Ia tak menggubris perintah Roger—malah senang bermain api dengan saingannya—entahlah, mungkin Near belum sadar kalau ia sedang bersenang-senang.
"PENDEK SIALAAAAN!"
"..."
"APA LIHAT-LIHAT! SANA PERGI! KAU MAU KUCEKIK YA!"
"..."
"KAAUUU!"
Mello kehabisan kata. Napasnya ngos-ngosan karena terus berteriak. Roger yang melihat kondisi itu, bahkan tak membiarkan dirinya lengah dan melepaskan Mello begitu saja. Ia masih sayang dengan nyawa Near yang jauh lebih berbahaya ketimbang jantung Mello yang berkontraksi lebih cepat karena emosi berlebihan. Toh Mello juga takkan membuat dirinya mati karena kehabisan napas.
"Kenapa Mello melihat saya dengan mata itu?"
Near bicara, spontan. Mello mendongak dengan mata yang masih nampak tajam menghujam si kecil Near.
"Apa yang ingin kau lihat, sebenarnya?"
"..."
"Apa yang ingin kau buktikan dengan mata itu?"
"..."
"Apa Mello membenci saya?"
"..."
Pandangan itu meredup, agak sayu.
"Mello?"
Seketika saja Mello memalingkan wajahnya. Mendecih, dengan pipi yang bersemu merah.
Apakah hubungan mereka memburuk?
.
..
...
:Kontak 5:
Mello membelalak, menemukan sepasang kaki kecil Matt yang mencuat diantara timbunan puluhan buku di lantai kamar mereka. Bukan hanya itu—Matt bahkan melewati batas teritori milik Mello dan membuatnya ikut berantakan.
"MAIL JEEVAS! SIAPA YANG MEMBUNUHMU?"
Matt meraih tangan kanannya tinggi-tinggi, berusaha mencari jalan keluar diantara tumpukkan buku.
"Aku masih hidup Mells," wajahnya muncul, nampak kusut, "Darling-ku yang sudah mati. Huhuhuhu!" ia menangis sesengukkan disana.
Kacau—begitulah Matt yang Mello lihat saat ini. Puluhan buku rela ia babat habis untuk mencari solusi dari kebututan komputernya. Namun memang, nasib sial tetaplah menjadi sial. Tak ada cara lain bagi Matt selain lem biru.
"Tabunganku kurang! Roger melarangku untuk membobol bank. Dia bilang itu perilaku buruk, meskipun yang kuambil di tiap-tiap rekening cuma satu atau dua penny. Jahaaat! semua orang jahaat! Aku butuh komputer baru!"
Sekarang Matt nampak kekanakkan. Ia bergulingan di lantai—membuat Mello semakin depresi karenanya.
"Berisik sekali—"
Kepalanya terasa berat. Perlahan, ia naik ke atas ranjang dan mengabaikan teman sekamarnya yang menjerit-jerit kelabakan.
"KAU BAHKAN TIDAK MENGHIBURKU AAAAA KEJAM SEKALI KAU MELLS!"
Matt berteriak semakin kencang. Mello menutup telinganya, berguling membelakangi sosok Matt yang meronta-ronta.
"HUAAAA! FILE-FILE PENTINGKU ADA DI KOMPUTER ITU SEMUAAA!"
"..."
"AKU TIDAK TAHAN HIDUP LAGI! MESKIPUN ADA PSP, TAPI—TAPI—WALAUPUN TUA, AKU MASIH SAYANG DENGAN KOMPUTERKUUU!"
"DENGAR MATT!" Mello menendang selimutnya, gemas, "Lupakan soal mesin tua itu dan segala kelebayan yang kau buat-buat! Jangan mengemis perhatian padaku, tidak akan mempan!"
Matt menatap Mello dengan pandangan ala anak anjing yang tersesat di jalan.
"Puppy eyes juga takkan mempan!"
"Kau dingin sekali Mells..."
"Tch!"
Mello mengacak surai keemasannya. Matt diam, menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Helaan napas frustasi muncul diantara keduanya.
"Dengar," Mello akhirnya prihatin, "Aku punya solusi untukmu—kurasa. Di seberang panti, ada orang yang menggelar lomba pemecahan rekor ketahanan bermain game. Juara pertama dapat netbook. Juara kedua dapat sejumlah uang. Juara tiga dapat merchandise. Kurasa untuk membeli seperangkat komputer tua, hadiah uang juara dua cukup. Atau kau bisa menjadi juara satu, dan menjual netbook-nya untuk ditukar dengan komputer baru. Kalau kau mau ikut, nanti kudaftarkan—tapi temani aku keluar karena aku tidak mau kepergok Roger melanggar peraturan sendirian."
Mello berhenti ngoceh. Matt berkedip.
Kedip.
Kedip.
Kedip.
"Oi, katakan sesuatu dong! Susah payah kujelaskan, reaksimu payah begitu—"
"MELLS! KAU MEMANG SAHABATKUUUUU!"
Dan pelukan singkat mendarat di tubuh Mello. Matt bergelayutan ditubuhnya dan menciptakan beban tersendiri.
"Ugh—sudahlah Matt." Mello memutar bola matanya.
Matt melepas pelukan mereka, menatap Mello dengan pandangan yang mirip seperti anjing patuh. Dan mereka saling pandang—
Jiiiiiiiit.
Kontak mata diantara mereka tidak lepas hingga Matt berpaling lebih dulu.
Ajaib. Mello menang.
Matanya sanggup bertahan. Tidak terasa kering samasekali. Atau gatal. Ia bisa melihat kelereng mata Matt dengan jelas, tanpa rasa malu atau takut sekalipun. Sebaliknya, Matt yang justru mengedipkan matanya berkali-kali, lalu menguceknya, setelah ia bilang matanya mendadak iritasi.
"Aneh—P-pasti karena sejak tadi aku tak berhenti membaca buku. Ha-ha-ha."
Ia tertawa canggung. Jelas sekali.
"Kenapa ya—"
Mello bertanya-tanya. Ia mendekatkan wajahnya pada Matt—untuk mengobservasi sekali lagi. Matt bergidik, tengkuknya mendadak basah karena ditatap Mello sedemikian dekat.
"M-Mells?"
"Matt—percaya atau tidak, aku bisa menatapmu lebih lama ketimbang dengan Near."
Hening.
"Dengan—Near?" Matt berpikir sebentar, "Kau masih membahas soal adu pandang itu?"
"Tentu saja!" gerutu Mello, kesal, "Kenapa ya, kalau dengan Near aku selalu kalah?"
"..."
"Seperti ada sesuatu yang membuatku tidak bisa menang!"
"Hm..."
Matt hanya bergumam.
"Menurutmu kenapa? Kalau menurutku, mata Near itu aneh. Coba saja kau tatap dengan matamu sendiri."
"Oh yeah—kalau aku yang menang, kau akan memberiku apa? Ciuman hot?" goda Matt, iseng.
Tapi rupanya, Mello serius.
"Kau boleh memerintahku seminggu penuh seperti babu."
Matt menahan napasnya.
.
..
...
:Kontak 6:
Matt menghela napas. Ia menemui Near di kamarnya langsung, malam itu. Ia ketuk pintunya perlahan dan memanggil namanya beberapa kali. Di belakangnya, Mello mengekor seperti anak ayam.
"Kau serius, tidak mau menarik janjimu?"
Mello menatap tajam.
"Aku yakin kau akan kalah, sepertiku."
"Hm, hm."
Dan pintu pun terbuka—
"Matt? Mello?"
"Oh, hai Near. Boleh kami masuk?"
Tanya Matt sembari menatap kedua bola mata Near. Warnanya gelap, dan misterius, tapi Matt tidak terlihat risih atau terganggu sama sekali. Sebaliknya, Near ikut memerhatikan warna mata Matt yang terbilang unik. Mereka saling pandang beberapa saat. Mello memerhatikan keduanya dengan jeli.
.
.
.
Hingga—
Lima belas detik terlewati.
"Kalian mau masuk atau tidak?" Near mengalihkan pandangannya, menuju pintu. Ia terlihat bosan.
Matt hanya tersenyum, sambil menggeleng. Sementara Mello wajahnya seperti habis disengat listrik.
"Ah—eh, tidak jadi deh. Aku lupa mau apa kesini. Hahaha!"
Sebuah pintu terbanting setelah Matt tertawa disana. Rupanya Near tidak suka dibuat bodoh karena ulah tamu-tamunya. Jadi ia memutuskan untuk meninggalkan Mello dan Matt diluar.
"Tapi—bagaimana bisa? Biasanya ia membalas tatapan lebih lama—daripada ini. Mungkin kau sedang b-beruntung, Mail Jeevas."
Mello melongok. Ia bahkan tidak (mau) percaya bahwa sahabatnya punya kemampuan lebih, diatasnya—setidaknya dalam hal adu pandang dengan Near.
"Beruntung atau tidak, kau tetap kalah Mells."
Bintil keringat muncul diantara pelipis Mello.
"Tapi mustahil!"
"Yah, apapun itu. intinya—kau siap untuk tugas pertamamu?"
Mello menggeram.
"KAU BERANI MEMERINTAHKU?"
Ia berspekulasi bahwa Near mungkin saja tahu soal taruhan ini—meskipun presentasinya sangat kecil. Dan ia pikir Near juga, mungkin saja sedang ingin mengerjainya—dengan cara yang entah bagaimana dan kenapa ia mau.
"I-Ingat Mells, laki-laki tidak menarik janjinya."
Matt sedikit was-was dengan tampang garang Mello. Tapi melihat Mello yang sepertinya cukup patuh dan tidak suka merusak janji, membuat Matt sedikitnya merasa diatas awang-awang. Yah—sedikit. Meskipun ia masih tidak punya nyali untuk memerintah Mello dengan perilaku yang ekstrem—
Karena Matt masih sayang nyawa...
.
..
...
TBC
A/N : Wow. Ini yang terakhir sebelum Ujian Negara. ASDFGHJKL! Makanya sedikit kupanjangin. AAAAAA! GILAAA PANIKPANIKPANIK (wOAO)w UN gimana iniiiii ASDFGHJKL! SEMPET-SEMPETNYA NGETIK FIC—Oke, saya ga kuat ngebuang napsu ngetik yang satu ini. Jadi ga bisa ditunda. Kalo ditunda—kemungkinan feelnya bakal ilang. Sigh. Maaf ya, ga bisa apdet ASAP—ga janji. Dan ini juga bakal di apdet lama lagi setelah UN -_- dan—wow. Ini fic MelloNear ato MattMelloNear sebenernya? #dihajar.
BIG THANKS TO :
Michelle Aoki (Itu juga merk cokelat dari googling. LOL. Karena cadbury terlalu mainstream #plop), Permen Caca (Yep. Chapter ini kayaknya ga serius lagi. Tapi juga ga dibuat lucu-lucu amat sih.. hm), Kazuki NightNatsu (Hai, daijoubu XD manis ya? Kalo manis-manis terus nanti obesitas :3 #plop. Ga ih, diusahakan manis-manis kok XD), Li Chylee (ciyus deh, saya terharu kamu review perchapter *tears* biasanya kan orang-orang suka meng-Qasar (?) review biar ringkas. Arigatou! I appreciate that XD Selamat menikmati chapter 6), Nakamura Hyuuga (Sankyuu. Hai XD), Sabaku No'Ruki-Chan (Wah, rejekimu nih. Chapter 6 panjang-panjang, 6 scene lagi :3), Mochamania (GYAAA! Sankyuu! Sankyu udah di fave segala, sampe mampir-mampir ke fic saya yang lain XD semoga chapter 6-nya suka), Kyoya (H-Hai.Gomen lama -_-a), Chiaki Ichirin (Hehehe. Sankyu XD)
